Selasa, 03 November 2026
17:35 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Jeffrey Sachs

Jeffrey Sachs

Bagikan:
Jeffrey Sachs
250px-Jeffrey_D._Sachs_-_World_Economic_Forum_on_East_Asia_2011.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jeffrey Sachs di Jakarta, Indonesia, 2011
Lahir5 November 1954 (umur 71)
InstitusiUniversitas Columbia
BidangEkonomi politik, pembangunan internasional
MazhabEkonomi Keynes[1]
Alma materUniversitas Harvard
DipengaruhiPaul Samuelson, John Maynard Keynes[1][2]
KontribusiMillennium Villages Project

Jeffrey David Sachs (/ˈsæks/; lahir 5 November 1954) adalah ekonom Amerika Serikat dan direktur The Earth Institute di Universitas Columbia. Ia dikenal sebagai salah satu pakar pembangunan ekonomi dunia dan pemberantasan kemiskinan.

Sachs merupakan Dosen Pembangunan Berkelanjutan Quetelet di Columbia's School of International and Public Affairs dan dosen kebijakan dan manajemen kesehatan di Columbia's School of Public Health. Ia menjabat sebagai penasihat khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-Moon untuk bidang Millennium Development Goals. Ia sebelumnya memegang jabatan yang sama di bawah kepemimpinan Kofi Annan. Ia adalah pendiri dan kepala strategiwan Millennium Promise Alliance, organisasi nirlaba yang bertujuan mengakhiri kemiskinan ekstrem dan kelaparan. Pada tahun 2002 sampai 2006, ia menjabat sebagai direktur Millennium Development Goals dalam United Nations Millennium Project. Ia juga menjabat sebagai direktur UN Sustainable Development Solutions Network. Sejak 2010, ia menjabat komisaris Broadband Commission for Digital Development, organisasi yang mengutamakan teknologi pita lebar untuk pembangunan sosial dan ekonomi.[3] Selain itu, Saacs juga pernah mengemban jabatan sebagai penasehat khusus Sekretaris Jenderal PBB di masa Kofi Annan (2001-2007), Ban Ki-moon (2008-2016), dan Antonio Gutteres (2017-2018).

Sachs telah menulis tiga buku New York Times Bestseller: The End of Poverty (2005), Common Wealth (2008), dan The Price of Civilization (2011). Buku terbarunya berjudul The Age of Sustainable Development (2015). Ia terdaftar dalam Time Magazine's "100 Most Influential People in the World" tahun 2004 dan 2005, dan dianugerahi Blue Planet Prize tahun 2015 atas kontribusinya terhadap solusi permasalahan lingkungan global.[4]

Karya

Sachs telah menulis ratusan jurnal ilmiah dan sejumlah buku, termasuk tiga New York Times Bestseller: The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time (Penguin, 2005), Common Wealth: Economics for a Crowded Planet (Penguin, 2008), dan The Price of Civilization: Reawakening American Virtue and Prosperity (Random House, 2011).

Ia menulis kolom kebijakan luar negeri setiap bulan untuk Project Syndicate, asosiasi nirlaba surat kabar dunia yang diterbitakn di 145 negara.[5] Ia juga merupakan kontributor aktif di Financial Times,[6][7] Scientific American, Time Magazine, dan The Huffington Post.

Karya pilihan

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 "Janet Shan, "Keynesian Economist, Jeffrey Sachs Says President Obama's Stimulus has Failed", June 7, 2010". Hinterlandgazette.com. 2010-06-07. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-04-13. Diakses tanggal 2014-02-19. [sumber tepercaya?]
  2. ↑ Simon Zadek, "Sustainable finance is the way out of crisis", 29 August 2011 Diarsipkan 2014-08-26 di Wayback Machine at openDemocracy.net [sumber tepercaya?]
  3. ↑ Diarsipkan(Tanggal hilang) di broadbandcommission.org (Galat: URL arsip tidak diketahui)
  4. ↑ "ブループラネット賞英米2経済学者に" (dalam bahasa Japanese). SciencePortal (Japan Science and Technology Agency). 2015-06-19. Diakses tanggal 2015-08-09.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. ↑ Project Syndicate, 2014
  6. ↑ i.e. ft.com April 29, 2013: Austerity exposes the global threat from tax havens
  7. ↑ "List of articles". Search.ft.com. 2013-12-02. Diakses tanggal 2014-02-19.

Pranala luar

Ide utama
Isu
Global
Lainnya
Teori
Pakar
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan