Minggu, 20 September 2026
15:05 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Inses

Inses

aktivitas seksual antara anggota keluarga atau kerabat dekat

Artikel ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait, atau pranala luar, tetapi sumbernya belum jelas karena belum menyertakan kutipan pada kalimat. Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan memasukkan rujukan yang lebih mendetail bila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini berisi tentang istilah sosiologi. Untuk istilah dalam konsep biologi, lihat Perkawinan sekerabat.
250px-W.Clerke_table.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Daftar kekerabatan yang dilarang untuk kawin dalam The Trial of Bastardie karya William Clerke. London, 1594.
Seks dan hukum
120px-Scale_of_justice_2.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Isu sosial
Pelanggaran tertentu
(Dapat bervariasi sesuai dengan yurisdiksi)

Inses[1] (bahasa Inggris:incest), yang juga disebut hubungan sedarah atau hubungan sumbang, adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara sepihak. Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis.

Penjelasan biologis dan sosial

Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.

Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam rumah yang tidak memungkinkan orang tua, anak, atau sesama saudara pisah kamar. Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga menoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik atau kemurnian ras.

Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Di dalam aturan agama Islam (fikih), misalnya, dikenal konsep mahram yang mengatur hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan orang tua, kakek atau nenek, saudara kandung, saudara sepihak (bukan saudara angkat atau saudara tiri), saudara dari orang tua, kemenakan, serta cucu. Di dalam Alkitab Kristen (Imamat 18) tertulis larangan hubungan sedarah antara kekerabatan tertentu.

Contoh-contoh hubungan sumbang dalam kebudayaan

Pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Gorontalo, Sulawesi, praktik hubungan sumbang banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.

Kalangan bangsawan Mesir Kuno, khususnya pasca invasi Alexander Agung, melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsinoé. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudarinya, Dewi Isis.

Dalam mitologi Yunani kuno, Dewa Zeus kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.

Folklor Indonesia juga mengenal hubungan sumbang. Hubungan sumbang antara Sangkuriang dan ibunya sendiri (Dayang Sumbi) dalam dongeng masyarakat Sunda atau antara Prabu Watugunung dan ibunya (Dewi Sinta), yang menghasilkan 28 anak — kisahnya diabadikan dalam pawukon — adalah contoh-contohnya.

Pada masa jahiliah, orang Arab terbiasa menikahi dua perempuan bersaudara sekaligus dan menikahi istri almarhum ayahnya. Praktik ini kemudian dilarang oleh Islam.[2]

Inses di Indonesia

Inses di Indonesia merujuk pada hubungan seksual atau pernikahan antara individu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, baik darah (sedarah/senasab) maupun semenda (karena perkawinan). Praktik ini secara umum dilarang keras oleh hukum positif dan mayoritas ajaran agama yang diakui di Indonesia, serta ditolak oleh norma sosial dan budaya masyarakat.

Meskipun Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia tidak secara eksplisit mendefinisikan inses sebagai tindak pidana tunggal, perbuatan inses sering kali masuk dalam kategori pelanggaran kesusilaan atau, lebih serius, sebagai pelecehan atau kekerasan seksual jika terdapat unsur paksaan, ancaman, atau melibatkan anak di bawah umur. Berbagai undang-undang, seperti Undang-Undang Perkawinan, secara tegas melarang pernikahan antar kerabat sedarah atau semenda dalam tingkatan tertentu, menjadikannya tidak sah secara hukum.

Secara agama, Islam, sebagai agama mayoritas, memiliki ketentuan mahram yang sangat jelas, melarang hubungan pernikahan dan seksual dengan kerabat tertentu. Demikian pula, agama-agama lain seperti Kristen dan Hindu memiliki ajaran yang melarang keras praktik inses berdasarkan prinsip moral dan etika.

Inses membawa dampak sosial dan psikologis yang sangat merusak bagi korbannya, sering kali menyebabkan trauma mendalam, masalah kejiwaan, dan kesulitan adaptasi sosial. Selain itu, terdapat risiko genetik yang signifikan pada keturunan dari hubungan inses.

Fenomena seperti grup fantasi sedarah di media sosial telah menjadi perhatian serius, karena dapat menyebarkan ide-ide menyimpang dan berpotensi memfasilitasi terjadinya praktik inses atau pelecehan seksual di dunia nyata. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, Kominfo, dan aparat penegak hukum, telah mengambil sikap tegas untuk memblokir konten dan menindak individu yang terlibat dalam penyebaran ideologi atau praktik inses, menegaskan bahwa inses adalah praktik yang dilarang mutlak.[3]

Lihat pula

Daftar pustaka

  • Bixler, Ray H. (1982) "Comment on the Incidence and Purpose of Royal Sibling Incest," American Ethnologist, 9(3), August, pp. 580–582.
  • Leavitt, G. C. (1990) "Sociobiological explanations of incest avoidance: A critical claim of evidential claims", American Anthropologist, 92: 971–993.
  • Potter, David Morris (2007). Emperors of Rome. Englewood Cliffs, N.J: Quercus. ISBN 978-1-84724-166-5.
  • Sacco, Lynn (2009). Unspeakable: Father–Daughter Incest in American History. Johns Hopkins University Press. 351 ISBN978-0-8018-9300-1
  • Indrajit Bandyopadhyay (29 October 2008). "A Study In Folk "Mahabharata": How Balarama Became Abhimanyu's Father-in-law". Epic India: A New Arts & Culture Magazine
  • Đõ, Quý Toàn; Iyer, Sriya; Joshi, Shareen (2006). The Economics of Consanguineous Marriages. World Bank, Development Research Group, Poverty Team.
  • Ska, Jean Louis (2009). The Exegesis of the Pentateuch: Exegetical Studies and Basic Questions. Mohr Siebeck. hlm. 30–31, 260. ISBN 978-3-16-149905-0. link pp. 30–31
  • Ska, Jean Louis (2006). Introduction to Reading the Pentateuch. Eisenbrauns. ISBN 978-1-57506-122-1.

Referensi

  1. KBBI: Inses
  2. Ali, Jawwad (2019) [1956-1960]. Kurnianto, Fajar (ed.). كتاب المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام [Sejarah Arab Sebelum Islam–Buku 5: Politik, Hukum, dan Tata Pemerintahan]. Diterjemahkan oleh Ali, Jamaluddin M.; Hendiko, Jemmy. Tangerang Selatan: PT Pustaka Alvabet. hlm. 327. ISBN 978-602-6577-28-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-08-08. Diakses tanggal 2020-09-27.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)
  3. "Ramai Soal Grup Fantasi Sedarah di Facebook, Kemenag: Dilarang Mutlak!".

Pranala luar

Fenomena hubungan
seksual
Dinamika seksual
Hukum
Lihat juga
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan