Gresik | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Masjid Jami' Gresik | |||||
| Koordinat: 7°09′33″S 112°39′08″E / 7.1592°S 112.6522°E / -7.1592; 112.6522 | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Gresik | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Jalesvie Triyatmoko, S.S. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 80.005 jiwa | ||||
| Kode pos | 61111 - 61119 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.25.16 | ||||
| Kode BPS | 3525100 | ||||
| Luas | 5,54 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 21 | ||||
| |||||
Gresik (atau sering disebut Gresik Kota) adalah kecamatan yang menjadi ibu kota dari Kabupaten Gresik. Walaupun berstatus ibu kota, pusat pemerintahan yang sekarang telah dipindah ke Kecamatan Kebomas. Namun, Kecamatan Gresik tetap menjadi pusat ekonomi kabupaten dengan kepadatan penduduk tertinggi serta infrastruktur yang lengkap. Di kecamatan ini terdapat alun-alun, masjid besar, pasar, hingga Pelabuhan Gresik. Pelabuhan tersebut berfungsi untuk penyeberangan dan barang, salah satunya untuk menyeberang ke Pulau Bawean yang masuk wilayah Gresik. Kecamatan Gresik juga merupakan pusat industri dengan adanya pabrik-pabrik besar seperti PT Petrokimia Gresik, PT Wilmar Nabati, dan unit pembangkitan PT PLN Nusantara Power.
Selama ratusan tahun, wilayah Gresik dikenal sebagai kota pelabuhan yang ramai dengan lokasi yang strategis di pesisir utara Jawa sekaligus Selat Madura. Pelabuhan Gresik menjadi saksi sejarah Gresik yang pernah menjadi pusat perdagangan dan islamisasi di Pulau Jawa. Gresik sudah menjadi pelabuhan utama sejak zaman Majapahit dan mencapai masa kejayaan pada masa Islam ketika dikuasai Giri Kedaton. Salah satu tokoh penyebar Islam terkenal dari masa itu adalah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) yang merupakan salah satu Walisongo. Pelabuhan Gresik mengalami kemunduran akibat kebijakan kolonial Belanda yang memilih untuk mengembangkan Surabaya, dan bahkan menggabungkan Gresik ke Kabupaten Surabaya. Gresik mulai mengalami kemajuan kembali ketika ibu kota Kabupaten Surabaya dipindah ke Gresik dan pabrik-pabrik mulai berdiri. Puncaknya adalah perubahan nama kabupaten menjadi Kabupaten Gresik pada tahun 1974.[1][2]
Geografi

Gresik adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Gresik. Kecamatan ini berbatasan dengan laut (Selat Madura) dan memiliki pelabuhan terbesar di Kabupaten Gresik. Gresik merupakan kecamatan tersempit tetapi penduduknya terpadat. Kecamatan ini adalah pusat perkotaan Gresik yang didominasi oleh kawasan urban. Urbanisasi di Kecamatan Gresik juga meluas ke kecamatan sekitar seperti Kebomas dan Manyar. Gresik merupakan kecamatan yang maju, karena selain terdapat pelabuhan besar, juga dekat dengan Kota Surabaya dan menjadi bagian dari aglomerasi Gerbangkertosusila.
Batas wilayah Kecamatan Gresik adalah sebagai berikut:[3]
| Utara | Kecamatan Manyar |
|---|---|
| Timur | Selat Madura |
| Selatan | Kecamatan Kebomas |
| Barat | Kecamatan Kebomas |
Sejarah

Gresik sebagai kota pelabuhan sudah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini karena Gresik memiliki lokasi strategis yang menghubungkan lautan di pesisir utara Pulau Jawa dengan wilayah pedalaman melalui sungai seperti Bengawan Solo. Gresik dan kota-kota lainnya di pesisir utara Jawa dilintasi jalur perdagangan yang ramai karena terletak di antara Selat Malaka dengan Maluku yang terkenal akan rempah-rempahnya. Tidak hanya itu, Pelabuhan Gresik juga mengekspor beras dan hasil bumi lainnya dari pedalaman Jawa. Selain sebagai pusat perdagangan, Gresik juga menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa. Salah satu tokoh pentingnya adalah Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim yang merupakan salah satu Walisongo dan sekarang dimakamkan di wilayah Gresik Kota. Selain menyebarkan Agama Islam, Maulana Malik Ibrahim juga diberi jabatan sebagai syahbandar atau kepala pelabuhan Gresik pada masa Majapahit (sekitar akhir abad ke-14).[4]

Gresik semakin pesat perkembangannya pada masa Giri Kedaton yang didirikan oleh Sunan Giri. Kerajaan tersebut berdiri di abad ke-15 di lokasi yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Kebomas. Berdirinya Kerajaan Giri Kedaton inilah yang diperingati tiap tahunnya sebagai Hari Jadi Kabupaten Gresik. Pengaruh Giri Kedaton semakin melemah pada abad ke-17, dengan adanya ekspansi Kesultanan Mataram yang satu persatu menguasai pelabuhan di pesisir utara Jawa. Mataram memutus kekuasaan Giri atas Gresik, dan sebagai gantinya Mataram mendirikan kabupaten di Gresik yang dipimpin oleh Bupati. Bupati pertama di Gresik adalah Tumenggung Pusponegoro yang menjabat pada tahun 1669. Kemudian pada abad ke-18, Kesultanan Mataram dikuasai oleh VOC dan sejak saat itu Gresik berada di bawah pengaruh kolonial.[4]
Kejayaan Gresik mengalami kemunduran akibat kebijakan pemerintah kolonial di abad ke-19. Pemerintah mencanangkan program tanam paksa. Pemerintah kolonial menanami daerah pedalaman Pulau Jawa dengan komoditas bernilai ekspor tinggi seperti gula, kopi, dan teh. Komoditas tersebut kemudian diekspor melalui Pelabuhan Surabaya. Pelabuhan Gresik (atau saat itu ditulis Grissee) semakin dilupakan karena wilayah pedalamannya tidak cocok untuk ditanami komoditas tersebut. Surabaya berkembang pesat dan menggeser Gresik sebagai kota pelabuhan terbesar di Jawa bagian timur.[1] Bahkan pada tahun 1934, Kabupaten Gresik dihapuskan dan dilebur ke Kabupaten Surabaya dengan pusat pemerintahan di daerah Genteng Kali. Statusnya turun dari kabupaten menjadi kawedanan (daerah pembantu bupati). Kawedanan Grissee membawahi Kecamatan Gresik, Kebomas, dan Manyar. Sedangkan kecamatan lainnya berada di bawah kawedanan lain seperti Kawedanan Tjerme, Sidajoe, dan Goenoeng-kendeng..[5] Kondisi ini bertahan hingga tahun 1950, ketika ibu kota Kabupaten Surabaya dipindahkan ke Gresik.[6] Dan akhirnya pada tahun 1974, Kabupaten Surabaya berganti nama menjadi Kabupaten Gresik.[7]
Galeri
- Prasasti Pusponegoro
- Masjid Jami' Gresik (1930)
- Sebuah hotel di Gresik
- Jalan di Kampung Arab
- Pengawal Bupati Gresik
Daftar kelurahan dan desa
Kecamatan Gresik terdiri dari 16 kelurahan dan 5 desa yang dibagi menjadi beberapa rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT), yakni sebagai berikut:[8]
| No. | Nama Wilayah | Tipe | Jumlah RW / RT | Jumlah Penduduk (2024) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Bedilan | Kelurahan | 4 / 20 | 2.888 |
| 2 | Gapurosukolilo | Desa | 2 / 10 | 2.473 |
| 3 | Karangpoh | Kelurahan | 3 / 19 | 2.737 |
| 4 | Karangturi | Kelurahan | 3 / 29 | 4.777 |
| 5 | Kebungson | Kelurahan | 3 / 10 | 2.248 |
| 6 | Kemuteran | Kelurahan | 2 / 13 | 1.728 |
| 7 | Kramatinggil | Desa | 3 / 13 | 2.883 |
| 8 | Kroman | Kelurahan | 3 / 19 | 4.206 |
| 9 | Lumpur | Kelurahan | 3 / 22 | 6.776 |
| 10 | Ngipik | Kelurahan | 2 / 7 | 1.667 |
| 11 | Pekauman | Kelurahan | 2 / 7 | 1.796 |
| 12 | Pekelingan | Kelurahan | 2 / 7 | 1.910 |
| 13 | Pulopancikan | Desa | 6 / 14 | 4.599 |
| 14 | Sidokumpul | Kelurahan | 9 / 45 | 11.998 |
| 15 | Sidorukun | Desa | 8 / 32 | 4.888 |
| 16 | Sukodono | Kelurahan | 2 / 8 | 1.220 |
| 17 | Sukorame | Kelurahan | 6 / 21 | 5.613 |
| 18 | Tlogobendung | Desa | 4 / 15 | 2.180 |
| 19 | Tlogopatut | Kelurahan | 4 / 12 | 2.951 |
| 20 | Tlogopojok | Kelurahan | 6 / 20 | 6.956 |
| 21 | Trate | Kelurahan | 3 / 18 | 3.511 |
Tempat terkenal


- Alun-alun Gresik
- Masjid Jami' Gresik
- Pelabuhan Gresik
- Terminal Gubernur Suryo
- KHAS Hotel Gresik
- Wahana Ekspresi Poeponegoro
- PT Petrokimia Gresik
- PT Wilmar Nabati
- unit pembangkitan PT PLN Nusantara Power
- Universitas Gresik
Peninggalan sejarah

- Makam Sunan Gresik / Maulana Malik Ibrahim - salah satu Walisongo dan tokoh penting penyebar Islam di Gresik
- Makam Pusponegoro - bupati pertama Gresik yang menjabat sekitar tahun 1669
- Bandar Grissee - wisata kota tua dengan salah satu ikonnya adalah menara Gardu Suling[9]
Pusat perbelanjaan
- Pasar Baru Gresik
- Ramayana Gresik
- Sarikat Jaya Gresik
- Tempat pelelangan ikan (TPI) Gresik di Desa Lumpur
Fasilitas kesehatan
- RS Muhammadiyah Gresik
- RS Petrokimia Gresik
- RS Semen Gresik
- RS Grha Husada
- Puskesmas Alun-alun
- Puskesmas Industri
- Puskesmas Nelayan
Galeri
- Ekowisata Mangrove Sidorukun
- Kelenteng Kiem Hien Kiong
- Stasiun Gresik yang kini nonaktif
Referensi
- 1 2 Firman Ari Hidayat (2016). "PERGESERAN PELABUHAN GRESIK DARI BANDAR DAGANG KE PELABUHAN LOKAL TAHUN 1484-1830". AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah. 4 (3). Universitas Negeri Surabaya.
- ↑ Noor Fatia Lastika Sari, R. Achmad Sunjayadi, R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa (2025). Permata di Pesisir Utara Jawa: Gresik dalam Jaringan Perdagangan Maritim Nusantara. Satu Jengkal Indonesia.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - ↑ "Kabupaten Gresik Dalam Angka 2019". BPS Kabupaten Gresik. 2019-09-23.
- 1 2 Muhadi & Artono (2018). "GRESIK SEBAGAI BANDAR DAGANG DI JALUR SUTRA AKHIR ABAD XV HINGGA AWAL ABAD XVI (1513 M)". AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah. 6 (2). Universitas Negeri Surabaya.
- ↑ [Administratieve indeling van Java en Madoera] - sheet 3 (Oost Java). Leiden University Libraries Digital Collections. 1936.
- ↑ "UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1950 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN DI DJAWA TIMUR".
- ↑ Nanang Purwono (2025-03-02). "Jejak Kabupaten Surabaya di Kota Surabaya". RAJAPATNI.
- ↑ Kecamatan Gresik Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Gresik. 2025-09-26.
- ↑ Jemmi Purwodianto (2023-05-21). "Gardu Suling Saksi Bisu Pejuang Gresik Usir Penjajah yang Tak Lagi Berbunyi". DETIK JATIM.
| Kecamatan | ||
|---|---|---|
Lihat juga: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Gresik | ||
| Kelurahan | |
|---|---|
| Desa | |
| Keresidenan Besuki | ||
|---|---|---|
| Keresidenan Bojonegoro | ||
| Keresidenan Kediri | ||
| Keresidenan Madiun | ||
| Keresidenan Madura | ||
| Keresidenan Malang | ||
| Keresidenan Surabaya | ||
+) Ibu kota tersebut bukan merupakan satuan daerah yang berbentuk Kecamatan. | ||
