Agnostisisme adalah pendirian yang mempertanyakan keberadaan Tuhan atau hal-hal ilahi. Pada tingkat psikologis, agnostisisme merupakan sikap pribadi yang menunda penilaian, yaitu menahan baik kepercayaan maupun ketidakpercayaan. Dalam filsafat, agnostisisme sering kali diperlakukan sebagai klaim umum yang menyatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Dalam arti terluas, agnostisisme tidak terbatas pada teologi dan dapat pula mengekspresikan sikap skeptis terhadap klaim-klaim non-agama.
Agnostisisme berlawanan dengan teisme, yang menegaskan keberadaan Tuhan, dan ateisme, yang menolaknya.[a] Sikap ini sering kali dipahami sebagai jalan tengah netral di antara keduanya, atau sebagai penolakan terhadap asumsi bersama mereka bahwa pengetahuan dapat dicapai. Agnostisisme umumnya dicirikan sebagai keragu-raguan berdasar dari seseorang yang telah merenungkan persoalan tersebut tetapi belum mencapai kesimpulan, yang membedakan seorang agnostik dari mereka yang tidak pernah memikirkan persoalan tersebut. Agnostisisme berkaitan dengan skeptisisme dan falibilisme, yang menolak gagasan bahwa pengetahuan atau kepastian mutlak itu mungkin terjadi.
Argumen yang mendukung dan menentang agnostisisme dibahas dalam literatur akademis. Para pendukungnya biasanya berpandangan bahwa bukti mengenai keberadaan Tuhan tidak konklusif dan bahwa kerendahan hati intelektual menuntut penundaan penilaian. Berbagai kelompok kritikus berpendapat bahwa terdapat bukti tegas yang mendukung atau menentang keberadaan Tuhan, atau bahwa ketiadaan bukti tegas menjadikan ketidakpercayaan, dan bukannya penundaan penilaian, sebagai sikap dasar. Agnostisisme sering kali dikaitkan dengan gaya hidup sekuler yang secara praktis menyerupai ateisme, tetapi tidak selalu menutup kemungkinan terhadap agama. Sebagai contoh, penganut teisme agnostik percaya kepada Tuhan sembari menolak gagasan bahwa pengetahuan sejati tentang Yang Ilahi itu mungkin diperoleh.
Istilah agnostisisme dicetuskan pada abad ke-19 oleh Thomas Henry Huxley, yang menolak kesimpulan teologis dan metafisis yang bersifat spekulatif tanpa bukti yang memadai. Meskipun demikian, para pendahulu dan akar teoretisnya dapat ditelusuri hingga zaman kuno, termasuk gagasan-gagasan yang ditemukan dalam pemikiran Yunani Kuno dan India.
Definisi

Agnostisisme adalah sikap yang mempertanyakan keberadaan Tuhan atau hal-hal ilahi. Sikap ini merupakan posisi netral ketika seseorang tidak menegaskan ataupun menolak keberadaan Tuhan. Sebaliknya, mereka menunda penilaian dan tetap terbuka terhadap kedua kemungkinan tersebut. Agnostisisme biasanya dipertentangkan dengan kepercayaan dan ketidakpercayaan, serta dipahami baik sebagai ketiadaan dari keduanya maupun sebagai sikap tersendiri, seperti keragu-raguan yang telah mantap.[2] Kriteria yang sering dibahas adalah bahwa seorang agnostik telah mempertimbangkan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan tetapi belum mencapai kesimpulan positif atau negatif. Dalam pengertian ini, seseorang yang tidak memahami pertanyaan tersebut atau tidak pernah memikirkannya, seperti bayi, tidak terhitung sebagai seorang agnostik.[3][b] Para agnostik sering kali didorong oleh gagasan bahwa bukti yang ada tidak konklusif, sehingga lebih memilih untuk menahan persetujuan sebagai bentuk kerendahan hati intelektual daripada mengambil sikap dogmatis.[5]
Para filsuf sering kali mendefinisikan agnostisisme dalam arti yang lebih kuat sebagai teori bahwa keberadaan Tuhan itu tidak dapat diketahui. Sikap ini melampaui penundaan kepercayaan dengan menerima klaim bahwa kognisi manusia terlalu terbatas untuk mengakses atau memverifikasi informasi ini.[6] Dalam arti terluasnya, agnostisisme tidak terbatas pada pertanyaan-pertanyaan keagamaan, melainkan dapat diterapkan pada bidang apa pun. Sebagai contoh, seseorang dapat bersikap agnostik mengenai kebenaran teori dawai atau keberadaan kehendak bebas jika mereka tidak mampu mencapai keputusan mengenai isu-isu tersebut.[7]
Agnostisisme sering kali dipertentangkan dengan teisme dan ateisme, serta diperlakukan baik sebagai jalan tengah di antara keduanya maupun sebagai penolakan terhadap asumsi bersama mereka bahwa pengetahuan tentang Tuhan dapat dicapai. Beberapa pendekatan mengelompokkan agnostisisme bersama ateisme sebagai sikap ireligius tanpa adanya kepercayaan kepada Tuhan.[8] Para agnostik tidak selalu menentang agama dan dapat terlibat dalam beberapa praktik serta tradisi keagamaan, sembari tetap tidak menyatakan komitmen mengenai keberadaan Tuhan.[9][c]
Kata agnostisisme berasal dari istilah Yunani Kuno ἀ- (a-), yang berarti 'tidak, tanpa', dan γνῶσις (gnōsis), yang berarti 'pengetahuan'. Istilah ini dicetuskan oleh Thomas Henry Huxley dalam sebuah pidato di Metaphysical Society pada tahun 1869 untuk menggambarkan pandangan bahwa manusia tidak memiliki kapasitas kognitif untuk mencapai pengetahuan pasti tentang Tuhan dan hal-hal terkait.[11][d] Agnostisisme dibahas dalam beberapa bidang kajian, termasuk teologi, filsafat agama, psikologi agama, studi agama, dan ilmu sosial.[13]
Jenis
Beberapa jenis agnostisisme dibahas dalam literatur akademis dan dibedakan berdasarkan jenis sikap, bentuk penyelidikan, serta cakupan subjeknya.[14]
Berdasarkan sikap
Agnostisisme psikologis atau doksastik merupakan penundaan penilaian. Dalam pengertian ini, seseorang bersikap agnostik jika mereka telah mempertimbangkan keberadaan Tuhan, tetapi tidak memercayai ataupun tidak memercayainya. Agnostisisme psikologis menggambarkan keadaan mental seseorang tanpa mengisyaratkan bahwa keadaan ini rasional atau dituntut oleh ketiadaan bukti secara umum. Sikap ini berlawanan dengan agnostisisme epistemologis atau kognitif, yang menegaskan bahwa keberadaan Tuhan tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Agnostisisme epistemologis berargumen bahwa manusia tidak mampu memperoleh informasi semacam ini atau bahwa bukti yang ada tidak cukup untuk mencapai keputusan pasti. Beberapa versi berpendapat bahwa tidak ada bukti yang tersedia; versi lainnya menyatakan bahwa bukti yang mendukung dan menentang bersifat bercampur atau seimbang. Dalam kedua kasus tersebut, agnostisisme epistemologis berkaitan dengan apa yang seharusnya atau tidak seharusnya diyakini seseorang, bukan apa yang sebenarnya mereka yakini. Oleh karena itu, sikap ini menolak baik teisme maupun ateisme karena mengeklaim lebih dari apa yang diizinkan oleh bukti.[15] Agnostisisme epistemologis terkadang ditafsirkan sebagai skeptisisme terhadap Tuhan karena fokusnya pada keterbatasan pengetahuan.[16]
Pembedaan terkait berfokus pada tingkat komitmen. Agnostisisme lemah adalah sikap pribadi dari seseorang yang tidak memercayai ataupun menolak suatu gagasan. Sikap ini merupakan ketiadaan keyakinan ketika seorang individu tidak berkomitmen pada salah satu pilihan, tanpa menggeneralisasi sikap ini menjadi klaim universal tentang apa yang dapat atau tidak dapat diketahui oleh orang lain. Sebaliknya, agnostisisme kuat menganut posisi yang lebih tegas bahwa pengetahuan tentang keberadaan Tuhan tidak mungkin dicapai.[17] Perbedaan antara agnostisisme lemah dan kuat terkadang dibingkai sebagai klaim mengenai hal yang masuk akal untuk diyakini. Dalam pengertian ini, agnostisisme lemah berpandangan bahwa menunda penilaian tentang Tuhan adalah hal yang rasional. Pandangan ini tidak menganggap teisme dan ateisme irasional; pandangan ini hanya memperlakukan penundaan penilaian sebagai pilihan yang diizinkan. Sebaliknya, agnostisisme kuat melibatkan klaim lebih luas bahwa agnostisisme merupakan satu-satunya pilihan yang layak. Hal ini berarti klaim mengenai keberadaan atau ketiadaan Tuhan tidak memiliki pembenaran yang cukup sehingga harus ditahan.[18][e]
Berdasarkan penyelidikan
Serangkaian pembedaan lain menargetkan penyelidikan yang terlibat dalam sikap agnostik. Agnostisisme berdasar adalah hasil dari penyelidikan serius: seseorang telah mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada, berusaha mengumpulkan bukti, serta merenungkan baik argumen yang mendukung maupun yang menentang. Setelah memperhitungkan segalanya, mereka menyimpulkan bahwa baik kepercayaan maupun ketidakpercayaan tidak dibenarkan secara pasti, sehingga membawa mereka untuk melihat persoalan tersebut sebagai hal yang tidak dapat diselesaikan. Sebaliknya, agnostisisme tidak berdasar menunda penilaian tanpa terlibat dalam penyelidikan substantif. Dalam kasus ini, orang tersebut memahami persoalan dan memiliki gagasan dasar tentang bagaimana penyelidikan dapat berjalan, tetapi belum menjalankannya, misalnya karena mereka tidak menganggap persoalan tersebut cukup penting.[20] Istilah agnostisisme tersimpan (stored agnosticism) terkadang digunakan untuk bentuk yang bahkan lebih lemah ketika seseorang tidak memiliki pendapat karena tidak pernah mempertimbangkan persoalan tersebut. Masih menjadi kontroversi apakah sikap ini harus dianggap sebagai bentuk agnostisisme sejati mengingat tidak ada penilaian secara sengaja yang terlibat atas persoalan tersebut.[21]
Pembedaan lainnya adalah antara agnostisisme optimistis, pesimistis, dan ragu-ragu, yang sepakat mengenai ketiadaan pengetahuan saat ini, tetapi tidak sepakat mengenai prospek penyelidikan di masa depan. Menurut agnostisisme optimistis, yang juga disebut agnostisisme sementara dalam praktiknya (temporary agnosticism in practice), masalah tersebut dapat diputuskan di masa depan. Dalam kasus ini, seseorang menunda penilaian, tetapi tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa penemuan di masa depan dapat memberikan bukti tegas yang mendukung salah satu dari kedua kemungkinan tersebut. Agnostisisme pesimistis, atau agnostisisme permanen secara prinsip, menolak kemungkinan ini. Sikap ini berpandangan bahwa pertanyaan tersebut pada dasarnya tidak dapat diselesaikan, artinya sebanyak apa pun penyelidikan tidak akan mampu menyelesaikan masalah tersebut. Agnostisisme ragu-ragu tidak mengambil keputusan baik mengenai isu itu sendiri maupun mengenai prospek penyelidikan di masa depan. Oleh karena itu, sikap ini tidak yakin apakah penyelidikan lebih lanjut dapat memberikan bukti atau apakah rintangan terhadap pengetahuan tidak dapat diatasi.[22]
Bentuk-bentuk agnostisisme pesimistis memiliki perbedaan pendapat mengenai apakah permasalahannya terletak pada bukti yang tersedia atau pada fakta yang mendasarinya. Menurut pandangan berbasis bukti, bukti yang tersedia tidak cukup untuk menyelesaikan masalah tersebut. Satu pendapat berpandangan bahwa tidak ada bukti serius dan bahwa semua argumen yang diajukan tidak memenuhi standar rasionalitas. Pendapat lain mengakui keberadaan bukti, tetapi menegaskan bahwa pertimbangan yang mendukung dan menentang keberadaan Tuhan saling meniadakan, sehingga keseimbangan seluruh alasan tidak memihak kepada salah satu sisi. Pandangan berbasis fakta menegaskan bahwa tidak ada penyelidikan di masa depan yang dapat menyelesaikan isu tersebut karena tidak ada fakta yang pasti mengenai hal itu. Menurut pandangan ini, pernyataan "Tuhan itu ada" tidak benar dan tidak pula salah, melainkan indeterminat.[23][f]
Lainnya
Para peneliti juga membedakan jenis-jenis agnostisisme berdasarkan subjek yang penilaiannya ditunda. Agnostisisme biasanya dikaitkan dengan keberadaan Tuhan, tetapi dapat diterapkan pada topik-topik lain. Sebagai contoh, seseorang dapat bersikap agnostik tentang keberadaan kehidupan cerdas di luar bumi atau kemungkinan adanya Teori Medan Terpadu dalam fisika. Oleh karena itu, seseorang bersikap agnostik tentang pernyataan keagamaan atau non-keagamaan apa pun jika mereka menunda penilaian tentang hal tersebut atau berpandangan bahwa hal itu tidak dapat diketahui. Sikap semacam ini merupakan agnostisisme lokal atau parsial yang terbatas pada domain tertentu: seseorang dapat bersikap agnostik tentang Tuhan tanpa harus bersikap agnostik tentang kehidupan di luar bumi. Sebaliknya, agnostisisme global atau lengkap merupakan sikap yang lebih luas yang berupaya menunda penilaian tentang segala hal, dengan berargumen bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat diketahui. Sikap ini serupa dengan skeptisisme radikal atau filosofis, yang mempertanyakan segala hal. Mengingat implikasinya yang sangat luas dan kecenderungannya yang merusak diri sendiri, agnostisisme global jarang dipertahankan sebagai posisi yang serius dalam filsafat kontemporer.[26]
Agnostisisme sekuler dan religius dibedakan berdasarkan hubungannya dengan sikap dan praktik keagamaan. Agnostisisme biasanya dikaitkan dengan pandangan sekuler atau ateistis yang meragukan keberadaan Yang Ilahi dan kebenaran kitab-kitab suci, sehingga menghasilkan gaya hidup non-religius yang menghindari peribadatan tradisional dan lebih menyukai penjelasan-penjelasan naturalistis. Penganut ateisme agnostik secara langsung menggabungkan kedua alur ini, dengan membenarkan ketiadaan kepercayaan mereka melalui argumen bahwa pengetahuan tidak dapat dicapai. Namun, tidak semua bentuk agnostisisme menentang agama. Sebagai contoh, seseorang mungkin menunda penilaian hanya pada aspek-aspek doktrin tertentu sembari menerima aspek lainnya dan terlibat dalam praktik-praktik keagamaan. Beberapa tradisi keagamaan secara eksplisit menganut bentuk agnostisisme, seperti teisme agnostik dan agnostisisme Kristen. Pendekatan semacam ini dapat didorong oleh gagasan bahwa pengetahuan sejati tentang Yang Ilahi tidak mungkin dicapai dan bahwa pengabdian agama seharusnya dibimbing oleh iman alih-alih akal.[27] Sebagai contoh, fideisme mempertentangkan iman dengan akal serta menegaskan bahwa iman lebih baik dalam mencapai kebenaran-kebenaran agama.[28] Teologi negatif, mazhab pemikiran lainnya, berpendapat bahwa Yang Ilahi melampaui konsep dan bahasa manusia, yang berarti seseorang hanya dapat menggambarkannya dalam pengertian negatif dengan menyatakan apa yang bukan diri-Nya.[29]
Agnostisisme metodologis adalah pendekatan dalam studi agama yang menunda penilaian tentang kebenaran doktrin-doktrin agama. Dengan mengikuti pendekatan ini, para peneliti mendeskripsikan, menganalisis, dan membandingkan kepercayaan, pengalaman, serta praktik tradisi-tradisi keagamaan dan para penganutnya tanpa mendukung ataupun mengkritik klaim kebenaran mereka. Motivasi utamanya adalah untuk memastikan netralitas akademis dan memeriksa fenomena keagamaan berdasarkan kerangkanya sendiri tanpa memasukkan asumsi-asumsi naturalistis atau supernaturalistis pribadi peneliti.[30]
Pandangan terkait
Teisme dan ateisme
Agnostisisme biasanya dipertentangkan dengan teisme dan ateisme, tetapi hubungan tepat di antara ketiganya bergantung pada bagaimana pandangan-pandangan ini didefinisikan.[32] Teisme adalah pandangan bahwa Tuhan atau sejenis dewa itu ada. Dewa atau Tuhan adalah entitas tertinggi atau gaib, yang biasanya diyakini memiliki kekuatan luar biasa untuk menciptakan, menopang, atau memerintah alam semesta.[g] Monoteisme berpandangan bahwa hanya ada satu Tuhan, suatu pandangan yang menjadi pusat bagi agama-agama Abrahamik. Politeisme menegaskan bahwa terdapat banyak dewa, seperti dalam panteon Mesir Kuno, yang mencakup Ra, Osiris, dan Anubis.[34]
Ateisme dapat didefinisikan secara sempit ataupun luas. Dalam arti sempit, ateisme adalah pandangan bahwa tidak ada Tuhan. Dalam arti luas, ateisme adalah ketiadaan kepercayaan kepada Tuhan. Pembedaan ini penting bagi hubungan antara ateisme dan agnostisisme. Menurut definisi sempit, keduanya merupakan posisi yang terpisah. Menurut definisi luas, agnostisisme adalah bentuk ateisme negatif yang menahan kepercayaan dengan menunda penilaian. Sikap ini berlawanan dengan ateisme positif, yang menganut ketidakpercayaan dengan menegaskan ketiadaan Tuhan.[35] Beberapa bentuk ateisme hanya menolak konsep atau pemahaman spesifik mengenai Tuhan; bentuk lainnya menolak keberadaan dewa apa pun, terlepas dari konsepsi khas tradisi tertentu.[36]
Menurut satu kerangka kerja yang diajukan oleh filsuf Graham Oppy, terdapat empat sikap yang saling pilah terhadap keberadaan Tuhan: penganut teisme percaya, penganut ateisme tidak percaya, penganut agnostisisme menunda penilaian, dan orang lugu belum mempertimbangkan isu tersebut.[37] Kerangka kerja ini diperumit oleh definisi alternatif agnostisisme, yang mencirikannya bukan sebagai penundaan penilaian, melainkan sebagai pandangan bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidak dapat dicapai. Berdasarkan definisi ini, agnostisisme dapat digabungkan dengan teisme dan ateisme: penganut teisme agnostik percaya kepada Tuhan dan penganut ateisme agnostik tidak percaya, tetapi keduanya sepakat bahwa pengetahuan itu tidak mungkin dicapai.[38] Fideisme adalah pandangan yang sering kali sejalan dengan teisme agnostik. Pandangan ini berpendapat bahwa akal tidak memadai ataupun tidak diperlukan untuk membenarkan kepercayaan agama, dan sebaliknya menegaskan iman sebagai jalan yang lebih unggul menuju kebenaran agama.[39]
Skeptisisme dan falibilisme
Agnostisisme tumpang-tindih dalam beberapa hal dengan skeptisisme, yang meragukan klaim-klaim pengetahuan. Dalam bentuknya yang paling kuat, skeptisisme radikal adalah pandangan bahwa pengetahuan itu tidak mungkin dicapai. Pandangan ini menolak tidak hanya pengetahuan tentang Tuhan, melainkan juga bentuk pengetahuan apa pun, termasuk kepercayaan akal sehat bahwa terdapat orang lain atau bahwa terdapat dunia luar di luar pikiran seseorang. Skeptisisme radikal sering kali didasarkan pada gagasan bahwa tidak pernah mungkin untuk menyingkirkan semua keraguan dan mencapai kepastian mutlak. Bentuk-bentuk skeptisisme yang lebih sempit membatasi keraguan pada domain-domain spesifik. Sebagai contoh, skeptisisme moral menolak pengetahuan tentang masalah-masalah moral, seperti pernyataan mengenai tindakan apa yang benar atau salah secara etis. Dalam pengertian ini, agnostisisme dapat ditafsirkan sebagai bentuk skeptisisme agama atau teologis yang menantang pengetahuan tentang keberadaan Tuhan.[40]
Falibilisme, suatu pandangan terkait, sependapat dengan skeptisisme bahwa kepastian mutlak tidak mungkin dicapai. Meskipun demikian, pandangan ini menolak kesimpulan bahwa pengetahuan tidak dapat dicapai, dan sebaliknya berargumen bahwa seseorang dapat mengetahui sesuatu meskipun mereka tidak dapat menyingkirkan semua kemungkinan keraguan.[41] Oleh karena itu, penganut teisme falibilis dan penganut ateisme falibilis dapat mempertahankan posisi mereka melawan skeptisisme dan agnostisisme, dengan berargumen bahwa baik kepercayaan maupun ketidakpercayaan dibenarkan bahkan tanpa adanya bukti yang konklusif. Meskipun demikian, mereka lebih dekat dengan agnostisisme dibandingkan padanan mereka yang non-falibilis karena mereka tetap lebih terbuka terhadap posisi-posisi yang berlawanan dengan tidak menyingkirhkannya secara penuh.[42]
Pandangan lainnya
Seperti halnya agnostisisme, apateisme dan ignostisisme merupakan sikap terhadap topik tentang Tuhan. Apateisme adalah sikap ketidakpedulian: sikap ini tidak memedulikan apakah Tuhan itu ada. Penganut apateisme tidak tertarik pada isu tersebut karena mereka berpandangan bahwa hal itu tidak relevan dengan urusan sehari-hari. Sebaliknya, ignostisisme, atau igteisme, menargetkan konsep dan bukannya keberadaan Tuhan. Pandangan ini berpendapat bahwa konsep tersebut tidak terdefinisi dengan baik sehingga klaim mengenai keberadaan Tuhan tidak benar dan tidak pula salah, melainkan tidak bermakna.[43]
Pandangan-pandangan filosofis lain sering kali diangkat dalam konteks agnostisisme, termasuk naturalisme, fisikalisme, empirisme, dan positivisme. Pandangan-pandangan ini terkadang dikaitkan dengan para agnostik, tetapi pandangan tersebut tidak bersifat esensial, dan seseorang dapat bersikap agnostik tanpa harus mendukungnya. Naturalisme adalah pandangan bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum dan kekuatan alam, dengan mengecualikan pengaruh entitas supernatural seperti dewa-dewi. Pandangan ini berkaitan erat dengan fisikalisme, yaitu pandangan bahwa segala sesuatu yang ada bersifat fisik, sehingga mengisyaratkan ketiadaan entitas mental atau spiritual yang tidak dapat direduksi. Empirisme berargumen bahwa semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari pengalaman indrawi, dengan menolak kemungkinan adanya pengetahuan teologis atau metafisis yang melampaui bukti empiris. Pandangan ini sejalan dengan positivisme, yang menekankan pendekatan berbasis sains dan verifikasi melalui metode-metode ilmiah. Beberapa penganut agnostisisme mendasarkan pandangan mereka pada positivisme logis, dengan menolak pernyataan-pernyataan teologis yang tidak dapat diverifikasi secara empiris.[44]
Agnostisisme sering kali dikaitkan dengan sekularisme—pandangan bahwa kehidupan publik seharusnya bebas dari pengaruh agama. Meskipun pandangan ini berupaya meminimalkan peran nilai-nilai keagamaan, pandangan tersebut tidak harus mendukung nihilisme dan dapat mempromosikan nilai-nilai lain, seperti nilai moral atau humanisme.[45]
Argumen

Para filsuf membahas beberapa argumen yang mendukung dan menentang agnostisisme, sering kali dengan membandingkannya dengan teisme dan ateisme. Banyak argumen berfokus pada bukti yang tersedia, baik yang mendukung maupun yang menentang keberadaan Tuhan, dengan mengandalkan berbagai prinsip mengenai hubungan antara bukti dan pengetahuan.[47] Bukti bagi suatu proposisi adalah informasi yang mendukungnya. Beberapa penganut agnostisisme mengandalkan evidensialisme—pandangan bahwa apa yang seharusnya diyakini seseorang bergantung pada bukti yang mereka miliki. Pandangan ini biasanya berpendapat bahwa suatu kepercayaan atau ketidakpercayaan dibenarkan jika didukung oleh keseimbangan bukti secara keseluruhan.[48] Sebagai contoh, tesis Locke berpendapat bahwa kepercayaan dibenarkan jika tingkat keyakinan atau buktinya cukup tinggi.[49][h] Sebaliknya, Prinsip Clifford menegaskan bahwa kepercayaan tanpa bukti yang cukup adalah salah secara moral. Mengenai agnostisisme, satu pandangan menyatakan bahwa penundaan penilaian dibenarkan jika semua bukti yang ada, baik yang mendukung maupun yang menentang, seimbang secara sempurna atau jika tidak ada pertimbangan yang memenuhi standar bukti minimal.[51][i]
Prinsip lain yang disarankan adalah beban pembuktian: kewajiban yang dibebankan kepada satu pihak dalam suatu perselisihan untuk membenarkan posisinya. Dalam konteks ini, satu posisi sering kali diperlakukan sebagai pandangan dasar, sehingga menuntut pihak lain untuk memberikan alasan-alasan yang meyakinkan guna menantang pihak yang diuntungkan tersebut. Diskusi tentang agnostisisme sering kali bergantung pada apakah salah satu pihak menanggung beban pembuktian atau apakah ketiadaan alasan yang konklusif bagi kedua belah pihak menjadikan agnostisisme sebagai posisi yang lebih dipilih.[53]
Keberhasilan berbagai argumen ini juga bergantung pada jenis agnostisisme yang dipersoalkan. Bentuk-bentuk lemah dengan sedikit komitmen teoretis biasanya lebih mudah dipertahankan, sedangkan versi yang lebih kuat memerlukan pembenaran yang lebih substansial dan lebih rentan terhadap kritik. Sebagai contoh, klaim yang lebih lemah bahwa agnostisisme dapat dibenarkan secara rasional (dengan membiarkan tetap terbuka apakah teisme dan ateisme juga dapat dibenarkan) tidak seberat klaim yang lebih kuat bahwa agnostisisme bersifat wajib (berarti baik teisme maupun ateisme tidak dapat dibenarkan).[54]
Yang mendukung
Satu argumen utama yang mendukung agnostisisme berpandangan bahwa bukti yang tersedia mengenai Tuhan tidak cukup untuk sampai pada kesimpulan yang pasti. Pandangan ini berpendapat bahwa baik teisme maupun ateisme pada prinsipnya tidak dapat disingkirkan karena keduanya masuk akal sampai batas tertentu: terdapat alasan-alasan mengapa seseorang mungkin mengadopsi salah satu dari kedua posisi tersebut. Namun, alasan-alasan ini ambigu, tidak menentukan, atau saling meniadakan: tidak ada dasar yang kukuh untuk menilai bahwa salah satu pandangan lebih unggul. Oleh karena itu, penganut agnostisisme mempertahankan bahwa kerendahan hati dan kejujuran intelektual menuntut penundaan baik kepercayaan maupun ketidakpercayaan.[55]

Serangkaian argumen terkait menegaskan bahwa, secara ketat, tidak ada bukti untuk kedua kemungkinan tersebut.[57] Sebagai contoh, penganut empirisme seperti David Hume berpandangan bahwa semua pengetahuan tentang dunia pada akhirnya berasal dari pengalaman. Berdasarkan pandangan ini, para agnostik berargumen bahwa Tuhan berada di luar jangkauan pengalaman indrawi, sehingga baik pengamatan maupun eksperimen tidak dapat mengonfirmasi ataupun membantah keberadaan Tuhan. Perspektif serupa, yang didasarkan pada Filsafat Kantian, menyatakan bahwa pengetahuan terbatas pada ranah penampakan, sementara pengetahuan tentang hal-dalam-dirinya-sendiri, termasuk Tuhan, pada prinsipnya tidak dapat diakses.[58]
Beberapa tradisi keagamaan berpendapat bahwa tidak ada bukti karena Tuhan tersembunyi. Menurut pandangan ini, Yang Ilahi secara sengaja menyembunyikan diri dari pemahaman manusia. Pandangan ini menantang kemungkinan pengetahuan tentang Tuhan karena Tuhan tetap tidak terjangkau oleh verifikasi empiris, dan biasanya menekankan bahwa iman, alih-alih bukti objektif, merupakan sikap yang tepat terhadap Tuhan.[59] Pandangan terkait berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat dijangkau oleh pemahaman manusia karena Tuhan tidak dapat dipahami melalui konsep-konsep mental. Sebagai contoh, Sir William Hamilton berargumen bahwa pengetahuan selalu membatasi subjeknya pada kondisi-kondisi tertentu, dan bahwa Tuhan, sebagai yang tak terkondisikan atau yang mutlak, tidak dapat dipahami melalui cara ini.[60]
Satu argumen berbasis sains menyerang standar-standar bukti teologis. Argumen ini berpendapat bahwa, dibandingkan dengan ketatnya bukti empiris metode ilmiah, argumen-argumen teologis sering kali terlalu lemah untuk mendukung klaim-klaim pengetahuan.[61] Argumen-argumen yang didasarkan pada perselisihan sejawat berfokus pada pendapat dan diskusi para pakar, seperti para teolog dan filsuf agama. Alur pemikiran ini berpendapat bahwa perselisihan yang mendalam dan terus-menerus di antara para otoritas yang berpengetahuan luas menunjukkan bahwa kondisi penyelidikan saat ini tidak membenarkan kepercayaan ataupun ketidakpercayaan.[62]
Argumen lain berfokus pada dampak positif dari agnostisisme. Argumen ini berpandangan bahwa keterbukaan pikiran agnostik paling sesuai bagi kemajuan intelektual dan toleransi budaya, yang dapat mendorong koeksistensi damai antara berbagai kelompok beragama dan non-agama dalam masyarakat pluralis.[63]
Yang menentang
Kritik teistis terhadap agnostisisme biasanya berupaya menunjukkan bahwa terdapat bukti tegas mengenai realitas Tuhan, sehingga menjadikan penundaan penilaian sebagai hal yang irasional.[65] Argumen sebab pertama menegaskan bahwa segala sesuatu yang dimulai memiliki sebab. Argumen ini berpendapat bahwa untuk menjelaskan keberadaan alam semesta secara keseluruhan, seseorang perlu memostulatkan Tuhan sebagai sebab pertama atau penggerak tak bergerak yang bertanggung jawab menghadirkannya ke dalam kewujudan.[66] Argumen perancangan cerdas berfokus pada keteraturan rumit yang ada di alam semesta, seperti organisme biologis yang terorganisasi secara tinggi dan kehidupan cerdas. Pandangan ini berpendapat bahwa kerumitan semacam itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya melalui kebetulan belaka, melainkan paling baik dijelaskan sebagai produk dari pencipta cerdas yang ilahi.[67] Argumen-argumen moral menegaskan bahwa otoritas moral tertinggi dan pembuat hukum merupakan penjelasan yang paling masuk akal atas keberadaan moralitas, seperti nilai-nilai dan kewajiban moral yang mengikat.[68] Alur penalaran lainnya mengacu pada pengalaman-pengalaman religius, seperti mimpi dan penglihatan tentang Yang Ilahi atau episode mistis, sebagai bukti keberadaan Tuhan.[69] Argumen-argumen khas tradisi mengeklaim bahwa teks-teks suci tertentu, seperti Alkitab, menyingkapkan realitas Tuhan.[70][j]
Terilhami oleh Alvin Plantinga, beberapa penganut teisme berpandangan bahwa kepercayaan kepada Tuhan merupakan kepercayaan dasar atau fundamental, yang berarti pembenarannya tidak bertumpu pada bukti eksternal. Dalam pengertian ini, kepercayaan kepada Tuhan beranalogi dengan kepercayaan pada persepsi seseorang: orang-orang biasanya memercayainya tanpa memerlukan bukti eksternal independen untuk memvalidasinya.[72]
Beberapa kritik ateistis terhadap agnostisisme berupaya menunjukkan bahwa terdapat bukti yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak ada, sehingga membuat netralitas tidak dapat dibedakan dari keraguan yang tidak berdasar.[65] Argumen-argumen berbasis sains berpandangan bahwa penjelasan ilmiah lebih unggul daripada penjelasan agama tanpa perlu melibatkan dewa-dewi, dengan menekankan ketatnya penyelidikan melalui hipotesis yang dapat diuji serta konfirmasi atau pembatalan empiris. Sebagai contoh, teori evolusi sering digunakan untuk menjelaskan fenomena yang oleh beberapa penganut teisme dikaitkan dengan Tuhan, termasuk kemunculan keteraturan yang rumit dan moralitas. Teori tersebut menegaskan bahwa fenomena-fenomena ini muncul melalui prinsip seleksi alam, berdasarkan mekanisme kelangsungan hidup dan reproduksi.[73] Argumen-argumen lain menargetkan konsepsi spesifik tentang Tuhan, dengan menegaskan bahwa konsepsi tersebut gagal untuk selaras dengan realitas. Argumen dari penderitaan berfokus pada keberadaan penderitaan di dunia, yang disebabkan oleh penyakit, bencana alam, perang, terorisme, kejahatan moral, dan faktor-faktor lainnya. Argumen ini berpandangan bahwa entitas yang Mahatahu, Mahapengasih, dan Mahakuasa tidak akan membiarkan penderitaan, sehingga membawa pada kesimpulan bahwa entitas semacam itu tidak mungkin ada.[74]
Keberatan ateistis lainnya berfokus pada ketiadaan bukti atas realitas Tuhan, alih-alih kehadiran bukti atas ketiadaan realitas Tuhan. Keberatan ini menegaskan bahwa beban pembuktian berada di pihak penganut teisme dan bahwa mereka tidak mampu memenuhinya, sehingga menjadikan ateisme, alih-alih agnostisisme, sebagai posisi baku. Sebagai contoh, ketiadaan bukti atas keberadaan unicorn biasanya dianggap sebagai alasan yang cukup untuk tidak percaya, alih-alih untuk menunda penilaian.[76][k] Kritik lain berpandangan bahwa jika Tuhan yang maha pengasih itu ada, Dia akan menyediakan banyak bukti tentang keberadaan-Nya untuk membebaskan manusia dari keraguan. Oleh karena itu, ketiadaan bukti tegas dianggap sebagai alasan untuk tidak percaya.[78] Argumen terkait berpendapat bahwa standar bukti para agnostik terlalu tinggi, sehingga menghasilkan skeptisisme berlebihan dan netralitas yang melumpuhkan.[79]
Suatu posisi yang terilhami oleh positivisme logis mengkritik agnostisisme bersama teisme dan ateisme. Posisi ini menegaskan bahwa pembicaraan tentang Tuhan tidak bermakna karena tidak dapat diverifikasi ataupun difalsifikasi, sehingga meruntuhkan asumsi bahwa memercayai, tidak memercayai, dan menunda penilaian merupakan alternatif-alternatif yang koheren.[80]
Beberapa kritik terhadap agnostisisme menargetkan konsekuensi praktisnya alih-alih pembenaran teoretisnya.[81] Taruhan Pascal merekomendasikan kepercayaan kepada Tuhan berdasarkan pertimbangan atas hasil-hasil yang mungkin terjadi. Taruhan ini berpandangan bahwa jika kepercayaan tersebut terbukti benar, seseorang akan diganjar kehidupan abadi yang penuh kebahagiaan di surga. Menurut Pascal, jika kepercayaan tersebut ternyata salah, kerugian akibat mengadopsi pandangan yang keliru ini sangat kecil, sehingga menjadikan kepercayaan itu sebagai taruhan yang layak diambil karena potensi manfaatnya melampaui risiko yang mungkin timbul.[82] Alur pemikiran lainnya mengeklaim bahwa agnostisisme memiliki dampak merugikan. Sebagai contoh, fokusnya pada keraguan dapat menghambat tindakan dan menyebabkan kemerosotan moral, sehingga membiarkan individu tanpa panduan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan. Keberatan lain berpendapat bahwa agnostisisme merupakan sikap yang lemah atau antiintelektual, yang disinyalir berakar dari kemalasan dalam melakukan penyelidikan dan ketidakmauan untuk menggunakan akal.[83]
Gaya hidup dan implikasi
Para filsuf dan ilmuwan sosial membahas gaya hidup mana saja yang selaras dengan agnostisisme. Agnostisisme sering kali dikaitkan dengan cara hidup nonreligius yang berpusat pada nilai-nilai sekuler, kesejahteraan duniawi, dan urusan sehari-hari. Dalam pengertian ini, penganut agnostisisme berbeda dari penganut ateisme pada tingkat teoretis, tetapi sejalan pada tingkat praktis: mereka dapat bertindak seolah-olah Tuhan tidak ada, dengan menjauhi tradisi keagamaan dan ritual berbasis iman. Alih-alih mengikuti ajaran moral keagamaan, mereka dapat mengadopsi kerangka etis sekuler, mempraktikkan keterlibatan sosial yang penuh belas kasih, atau mempromosikan kesetaraan sosial, dengan membenarkan prinsip-prinsip moral melalui rasionalitas atau ideal-ideal humanistis, dan bukan melalui perintah ilahi.[84] Para agnostik juga dapat memupuk pandangan berbasis penyelidikan yang berfokus pada ketidakpastian, keterbukaan pikiran, dan kecintaan terhadap hal yang belum diketahui. Perspektif ini memperlakukan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan sebagai misteri yang belum terpecahkan dan terus menyelidikinya, serupa dengan cara seorang detektif menangani kasus yang belum selesai dengan tetap reseptif dan mempertimbangkan berbagai dugaan. Dalam hal ini, penganut agnostisisme secara aktif mempertimbangkan berbagai kemungkinan, serta tetap menaruh minat tanpa berkomitmen pada salah satu sisi.[85]
Agnostisisme juga selaras dengan beberapa gaya hidup keagamaan. Sebagai contoh, seorang agnostik dapat terlibat dalam agama secara praktis sembari menunda penilaian secara teoretis. Oleh karena itu, mereka dapat berpartisipasi dalam praktik-praktik devosional, menjalankan adat istiadat berbasis iman, dan mengikuti ajaran-ajaran keagamaan, dibimbing oleh harapan tanpa memegang kepercayaan yang kukuh. Bentuk agnostisisme yang terkait menerima kepercayaan tetapi menolak pengetahuan: seorang agnostik dapat menegaskan keberadaan Tuhan pada tingkat pribadi sembari mengakui bahwa hal itu tidak dapat diketahui secara objektif atau dengan kepastian. Keraguan terhadap kapasitas manusia untuk memahami Yang Ilahi ini dapat digabungkan dengan penekanan pada iman sebagai lompatan melampaui bukti untuk membimbing perilaku. Selain itu, agnostisisme selaras dengan tradisi-tradisi keagamaan yang tidak memercayai dewa personal, seperti aliran-aliran tertentu dalam Buddha dan Taoisme.[86]
Pada tingkat psikologis, individu religius cenderung melaporkan kesejahteraan mental yang lebih tinggi daripada penganut ateisme dan agnostisisme, termasuk kebahagiaan dan harga diri keseluruhan yang lebih tinggi, serta tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah. Para peneliti memperdebatkan sumber dari efek ini, dengan mempertanyakan, sebagai contoh, apakah efek tersebut muncul dari kepercayaan agama itu sendiri atau dari jaringan dukungan sosial yang lebih kuat yang dikaitkan dengan pertemuan-pertemuan keagamaan rutin. Survei lebih lanjut menunjukkan bahwa penganut ateisme dan agnostisisme lebih reflektif daripada orang beriman dan lebih mengandalkan pemikiran analitis untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.[87] Penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan sifat kepribadian antara penganut agnostisisme dan ateisme: penganut agnostisisme cenderung lebih terbuka, prososial, spiritual, dan cemas, sedangkan penganut ateisme lebih condong pada penalaran analitis dan memiliki stabilitas emosional yang lebih tinggi.[88]
Pada tingkat sosial, satu alur pemikiran berpandangan bahwa agnostisisme mempromosikan toleransi budaya, sehingga membantu berbagai kelompok keagamaan dan sekuler hidup berdampingan secara damai.[63] Pandangan berbeda memperingatkan potensi efek negatif agnostisisme, dengan berargumen bahwa ketiadaan komitmen dapat melumpuhkan pengambilan keputusan dan berakibat pada kemerosotan moral.[89] Dalam beberapa masyarakat religius, penganut agnostisisme mungkin menghadapi diskriminasi karena anggota masyarakat lain mengaitkan sikap netral mereka dengan penyimpangan sosial atau sifat kepribadian yang negatif.[90]
Berbagai perkiraan mengenai prevalensi global agnostisisme telah diajukan. Perkiraan-perkiraan tersebut diperumit oleh kecenderungan para peneliti untuk mengelompokkan penganut ateisme dan agnostisisme ke dalam satu kategori tunggal, serta oleh fakta bahwa banyak negara tidak memantau identifikasi keagamaan populasi mereka secara sistematis. Menurut perkiraan tahun 2007, sekitar 7% populasi dunia merupakan penganut ateisme atau agnostisisme, dengan jumlah penganut ateisme dan agnostisisme yang kurang lebih sama.[91] Proporsi penganut agnostisisme sangat bervariasi di setiap negara. Sebuah survei tahun 2008 melaporkan angka serendah 1% di Venezuela, Cile, dan Turki, serta setinggi 19% di Jepang dan Swedia. Laki-laki lebih cenderung mengidentifikasikan diri sebagai agnostik dibandingkan perempuan.[92]
Sejarah
Zaman kuno dan abad pertengahan

Meskipun istilah agnostisisme baru dicetuskan pada abad ke-19, akar teoretisnya terletak pada zaman kuno.[94] Di Yunani Kuno, filsuf pra-Sokrates Protagoras (ca 490–ca 420 SM) merumuskan bentuk awal agnostisisme, dengan berargumen bahwa dewa-dewi terselubung dalam ketidakpastian dan mempertanyakan kemungkinan adanya pengetahuan objektif.[95] Perintis lainnya, Sokrates (ca 470–ca 399 SM), menekankan batas-batas pengetahuan manusia, serta menganjurkan kerendahan hati dan kesadaran akan ketidaktahuan diri sendiri.[96] Skeptisisme kuno merupakan pendahulu lainnya, yang biasanya menargetkan pengetahuan secara umum alih-alih secara khusus pengetahuan tentang Tuhan. Pyrron (ca 360–ca 270 SM) berpandangan bahwa manusia tidak dapat mencapai kepastian dan merekomendasikan penundaan penilaian ketimbang kepercayaan dogmatis sebagai cara untuk mencapai sebentuk ketenangan jiwa. Skeptisisme Pyrron kemudian disistematisasikan oleh Sextus Empiricus (fl. sekitar 200 M), yang memeriksa bagaimana argumen-argumen berbeda sering kali mengarah pada kesimpulan yang berlawanan, sehingga menyarankan bahwa orang-orang seharusnya tetap netral.[97]
Dalam pemikiran Hindu Kuno, gagasan-gagasan agnostik ditemukan dalam Nāsadīya Sūkta (Nyanyian Penciptaan), sebuah teks dari Regweda, yang disusun pada milenium ke-2 SM. Teks ini mempertanyakan apakah pengetahuan tentang dewa-dewi dan penciptaan itu mungkin.[98] Pada abad ke-6 SM, skeptisisme yang lebih luas, yang diajukan oleh mazhab Ajñana, menantang kemungkinan dan kegunaan pengetahuan secara umum.[99] Beberapa tema agnostik, seperti skeptisisme tentang pengetahuan mengenai realitas mutlak, juga ditemukan dalam Filsafat Buddha, suatu tradisi yang muncul kira-kira pada abad ke-5 SM,[100] serta dalam pemikiran Kongfuzi sekitar tahun 500 SM.[101]
Dalam filsafat Kristen abad pertengahan, Pseudo-Dionisius (abad ke-5 atau ke-6 M) merumuskan gagasan-gagasan kunci teologi negatif, dengan berargumen bahwa Tuhan melampaui konsep dan pemahaman manusia.[102] Teologi negatif juga memainkan peran sentral dalam filsafat Thomas Aquinas (1225–1274 M). Ia menegaskan keberadaan Tuhan, tetapi mengambil sikap agnostik terhadap pengetahuan tentang hakikat Tuhan, dengan berpandangan bahwa representasi atas sifat-sifat Tuhan tidak pernah fully memadai.[103][l] William dari Ockham (ca 1287–ca 1347 M) berargumen bahwa intelektual manusia terlalu terbatas untuk mengetahui Tuhan, dengan menegaskan bahwa iman keagamaan lebih diutamakan daripada rasio filosofis dalam masalah-masalah teologis.[105] Dalam filsafat Yahudi, Maimonides (ca 1135–1204 M) menegaskan bahwa meskipun keberadaan Tuhan dapat diketahui, esensi ilahi tetap sama sekali tidak dapat diketahui, yang berarti bahwa Tuhan hanya dapat dijelaskan dalam pengertian negatif dengan menyatakan apa yang bukan diri Tuhan.[93] Aliran-aliran tertentu dalam filsafat Islam mempertanyakan kemungkinan adanya pengetahuan agama, seperti kritik al-Razi (ca 865–ca 925 M) terhadap kenabian, tetapi biasanya tanpa meluaskan skeptisisme ini hingga ke keberadaan Allah.[106]
Modern dan kontemporer
Dalam filsafat modern awal, Blaise Pascal (1623–1662) berargumen bahwa meskipun pengetahuan pasti tentang Tuhan tidak mungkin dicapai, seseorang tetap harus memilih untuk percaya karena potensi manfaat praktis.[107] Dengan mengikuti pandangan empirisme, David Hume (1711–1776) berpendapat bahwa pengetahuan tentang dunia terbatas pada pengalaman indrawi, yang membawanya pada kesimpulan bahwa pengetahuan tentang Tuhan yang supernatural itu tidak mungkin dicapai. Terilhami oleh Hume, Immanuel Kant (1724–1804) menegaskan bahwa pemahaman manusia terbatas pada ranah penampakan dan tidak dapat meluas ke hal-dalam-dirinya-sendiri, yang mengisyaratkan bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diakses oleh pengetahuan teoretis.[56]
Sir William Hamilton (1788–1856) mengembangkan gagasan-gagasan Kant tentang hakikat pengetahuan untuk membela agnostisisme, dengan berargumen bahwa memahami sesuatu berarti membebankan batas-batas tertentu pada hal tersebut. Ia berpandangan bahwa proses ini secara niscaya keliru dalam menggambarkan Tuhan karena Tuhan tidak memiliki batas-batas semacam itu, sehingga membuat pengetahuan yang akurat tentang Yang Ilahi tidak mungkin dicapai.[60] Berdasarkan pemikiran Hamilton, Henry Longueville Mansel (1820–1871) menyimpulkan bahwa akal hanya dapat mencapai pengetahuan relatif, sementara pengetahuan tentang yang mutlak bersifat kontradiktif. Bagi Mansel, ranah teologi berada di luar penyelidikan rasional dan bergantung pada wahyu dan iman.[109] Pemikiran Hamilton juga memengaruhi Herbert Spencer (1820–1903), yang mengusahakan suatu sistem filosofis komprehensif yang mensintesiskan sains dan agama. Ia berpandangan bahwa realitas mutlak bertanggung jawab atas fenomena, sementara pengetahuan terbatas pada fenomena, dengan sains didedikasikan untuk apa yang dapat diketahui dan agama didedikasikan untuk apa yang tidak dapat diketahui.[110]
Prinsip [agnostik] dapat dinyatakan dalam berbagai cara, tetapi semuanya bermuara pada hal ini: bahwa adalah salah bagi seseorang untuk mengatakan bahwa ia yakin akan kebenaran objektif dari proposisi apa pun kecuali jika ia dapat menghasilkan bukti yang secara logis membenarkan kepastian tersebut.
Thomas Henry Huxley[111]
Perumusan teori evolusi oleh Charles Darwin (1809–1882) merupakan faktor kunci dalam popularisasi agnostisisme karena hal itu meruntuhkan ajaran-ajaran agama tradisional tentang pencipta ilahi untuk menjelaskan keanekaragaman hayati.[112] Terilhami oleh Darwin, Thomas Henry Huxley (1825–1895) mencetuskan istilah agnostisisme dalam sebuah pidato di Metaphysical Society pada tahun 1869 sebagai alternatif bagi teisme dan ateisme. Ia memahaminya sebagai prinsip epistemologis bahwa seseorang tidak seharusnya mengeklaim mengetahui sesuatu tanpa bukti yang memuaskan. Huxley menganggapnya sebagai metode penyelidikan yang menolak kesimpulan-kesimpulan spekulatif, dengan menerapkannya secara khusus pada masalah-masalah teologis dan metafisis.[113] Sebagai hasil dari skeptisisme agama yang didorong oleh karya-karya Darwin dan Huxley, agnostisisme memperoleh daya tarik budaya mulai akhir abad ke-19 dan meluas ke masyarakat umum melalui jurnal-jurnal populer, ceramah publik, dan perdebatan filosofis. Hal penting dalam popularisasi ini adalah inisiatif dari para penyunting jurnal populer, seperti Richard Holt Hutton (1826–1897) dan James Thomas Knowles (1831–1908), serta pendirian The Agnostic Annual—sebuah jurnal yang didedikasikan secara eksklusif untuk agnostisisme.[114] Robert G. Ingersoll (1833–1899), yang dijuluki "Agnostik Agung" ("Great Agnostic") oleh rekan-rekan sezamannya, berperan penting dalam memopulerkan istilah yang baru dicetuskan tersebut di Amerika Serikat sebagai penceramah keliling.[115]

Søren Kierkegaard (1813–1855) mengeksplorasi bagaimana agnostisisme dapat digabungkan dengan kepercayaan kepada Tuhan. Ia mengajukan lompatan iman, dengan berargumen bahwa hal yang penting bagi agama adalah gairah batiniah bahkan ketika tidak ada kepastian objektif.[117][m] Dalam penolakannya terhadap kepercayaan Kristen, William Kingdon Clifford (1845–1879) merumuskan Prinsip Clifford, yang menyatakan bahwa selalu salah untuk percaya tanpa bukti yang memadai. William James (1842–1910) menantang prinsip ini dari perspektif pragmatis. Ia mempertahankan pendapat bahwa terdapat alasan-alasan praktis untuk percaya dengan ketiadaan bukti yang tegas dan bahwa tujuan untuk menghindari kesalahan harus diseimbangkan dengan risiko melewatkan kebenaran-kebenaran penting.[108] Leslie Weatherhead (1893–1976) mengajukan suatu bentuk agnostisisme Kristen sebagai tanggapan atas pertentangan antara doktrin kitab suci dan realitas kehidupan modern.[119] Terilhami oleh Huxley, Hu Shih (1891–1962) menafsirkan Konfusianisme dari perspektif agnostik, dengan menolak aspek-aspek keagamaannya sembari membela Konfusianisme non-religius.[120]
Bertrand Russell (1872–1970) membela suatu bentuk agnostisisme yang condong pada ateisme, dengan berpandangan bahwa tidak ada bukti tegas yang mendukung ataupun menentang keberadaan Tuhan. Menanggapi gagasan-gagasan Russell, Richard Dawkins (lahir 1941) berargumen bahwa ketiadaan bukti menuntut ketidakpercayaan alih-alih penundaan penilaian. Ia mengajukan Ateisme Baru yang berfokus pada ketatnya kajian ilmiah.[121] Pada gilirannya, para penulis seperti J. L. Schellenberg (lahir 1959) dan Robin Le Poidevin (lahir 1962) merumuskan "agnostisisme baru" yang dapat ada berdampingan dengan iman dan praktik keagamaan.[122][n]
Berargumen dari perspektif positivisme logis, A. J. Ayer (1910–1989) mempertahankan pendapat bahwa pernyataan-pernyataan tentang Tuhan tidak bermakna. Akibatnya, ia menyerang teisme, ateisme, dan agnostisisme atas asumsi bersama mereka bahwa ketiganya berselisih pendapat mengenai isu yang substantif.[80] Ludwig Wittgenstein (1889–1951) mencirikan iman sebagai bentuk kehidupan alih-alih kesimpulan teoretis, yang berarti bahwa iman tidak terutama berkaitan dengan merepresentasikan realitas secara akurat atau melacak bukti.[124]
Dipengaruhi oleh Aquinas, Anthony Kenny (lahir 1931) merumuskan pembelaan komprehensif atas agnostisisme, dengan berfokus pada ketiadaan bukti yang kuat, cacat dalam argumen-argumen tentang keberadaan Tuhan, elemen-elemen yang kontradiktif dalam sifat-sifat ilahi, serta ketakbermaknaan bahasa agama.[46] Alvin Plantinga (lahir 1932) mengemukakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan mungkin merupakan kepercayaan fundamental yang tidak memerlukan pembenaran melalui bukti eksternal, serupa dengan cara orang-orang biasanya memercayai persepsi mereka tanpa menuntut verifikasi eksternal lebih lanjut.[64]
Catatan
- ↑ Ateisme terkadang didefinisikan secara lebih luas sebagai ketiadaan kepercayaan, bukannya kehadiran ketidakpercayaan; lihat § Teisme dan ateisme.
- ↑ Para filsuf membahas pemahaman mengenai bagaimana agnostisisme melibatkan suatu pertanyaan. Sebagai contoh, Jane Friedman menggambarkannya sebagai sikap berorientasi pertanyaan dengan isi berupa pertanyaan, sehingga secara struktural menyerupai suatu bentuk penyelidikan. Sebaliknya, Avery Archer memahaminya sebagai sikap mempertanyakan yang berisikan proposisi dan bersikap skeptis terhadap nilai kebenarannya, dengan menekankan kemiripan struktural antara agnostisisme, kepercayaan, dan ketidakpercayaan.[4]
- ↑ Berbeda dari agama-agama terorganisasi, agnostisisme bukanlah lembaga terkodifikasi serta tidak memiliki kitab suci kanonik ataupun keanggotaan formal.[10]
- ↑ Istilah agnostisisme bukanlah kebalikan langsung dari gnostisisme, yang merujuk pada sekelompok agama Helenistik yang berkembang pesat pada abad ke-1 dan ke-2 M.[12]
- ↑ Konsepsi lain menyamakan pembedaan antara agnostisisme lemah dan kuat dengan pembedaan antara agnostisisme sementara dan permanen. Konsepsi tersebut berpandangan bahwa agnostisisme lemah membuka kemungkinan untuk mencapai pengetahuan di masa depan, hal yang ditolak oleh agnostisisme kuat.[19]
- ↑ Pembedaan lainnya adalah antara agnostisisme eksistensial, agnostisisme kebenaran, dan agnostisisme semantik, yang berkaitan dengan jenis fenomena yang dipertanyakan. Agnostisisme eksistensial mempertanyakan pengetahuan tentang keberadaan suatu entitas spesifik, seperti Tuhan, atau sekelompok entitas, seperti fakta moral. Agnostisisme kebenaran mempertanyakan pengetahuan tentang kebenaran suatu proposisi spesifik, seperti mengetahui apakah tim sepak bola favorit seseorang akan memenangkan pertandingan berikutnya. Agnostisisme semantik juga berkaitan dengan suatu proposisi, dengan menargetkan bukan kebenaran itu sendiri, melainkan kondisi kebenaran, seperti keraguan tentang kondisi saat pernyataan "pembunuhan itu salah" bernilai benar.[24] Agnostisisme semantik terkadang dipertentangkan dengan agnostisisme metalinguistik, yang menunda penilaian tentang apakah bahasa agama bertujuan untuk melaporkan kebenaran.[25]
- ↑ Definisi tepat dan kekuatan ilahi yang dikaitkan dengan dewa-dewi sangat bervariasi di antara tradisi-tradisi, yang tercermin dalam perbedaan antara dewa-dewi Hindu, Yunani, Skandinavia, Jepang, dan Aztek.[33]
- ↑ Tesis Locke terkadang digabungkan dengan Bayesianisme, yang mengonseptualisasikan tingkat keyakinan sebagai angka antara 0 dan 1, dengan 0 berpadanan dengan ketidakpercayaan pasti, 1 berpadanan dengan kepercayaan pasti, dan 0,5 berpadanan dengan netralitas sempurna.[50]
- ↑ Pedoman perubahan kepercayaan mencakup prinsip konservatisme, yang menyatakan bahwa seseorang dibenarkan untuk terus percaya jika mereka tidak menemukan alasan khusus yang menentangnya, dan prinsip penumpasan positif (positive undermining), yang menyatakan bahwa seseorang harus berhenti percaya setelah menyadari bahwa alasan-alasan yang mendukung kepercayaan tersebut tidak baik.[52]
- ↑ Argumen lainnya membandingkan jumlah dunia yang mungkin dengan dan tanpa pencipta. Argumen tersebut berpandangan bahwa untuk setiap dunia yang tidak diciptakan, terdapat tak terhingga dunia yang diciptakan, sehingga sangat mungkin bahwa dunia nyata diciptakan oleh sesosok tuhan.[71]
- ↑ Teko teh Russell adalah eksperimen pikiran serupa yang mengilustrasikan bagaimana beban pembuktian berada di pihak mereka yang membuat klaim-klaim yang tidak dapat difalsifikasi. Eksperimen ini mempertimbangkan hipotesis bahwa sebuah teko teh mengorbit Matahari di antara Bumi dan Mars—sebuah benda yang terlalu kecil untuk dideteksi dalam skala Tata Surya. Bertrand Russell berargumen bahwa ketidakpercayaan, alih-alih agnostisisme, merupakan sikap yang tepat meskipun tidak ada bukti tegas yang menentang hipotesis tersebut.[77]
- ↑ Pandangan yang sebanding juga ditemukan dalam pemikiran Meister Eckhart (ca 1260–ca 1328 M).[104]
- ↑ Sebaliknya, John Stuart Mill (1806–1873), George Eliot (1819–1880), dan Leslie Stephen (1832–1904) menantang doktrin Kristen ortodoks dari perspektif naturalisme ilmiah, dan sebaliknya mengadopsi pandangan agnostik.[118]
- ↑ Menanggapi Schellenberg, James Elliott mengajukan ietsisme (secara harfiah 'sesuatuisme') sebagai teori bahwa terdapat sesuatu yang tidak ditentukan yang layak mendapatkan komitmen keagamaan.[123]
Referensi
- ↑
- Chuman 2000
- Cotter & Lee 2020, § Agnosticism Defined
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 7–8
- Cliteur 2010, hlm. 57–58
- ↑
- Rowe 1998, Bagian pembuka, § 1. Degrees of Agnosticism
- Wagner 2022, hlm. 671–672, 694
- Archer 2024, hlm. 1–2, 6, 203–204
- Oppy 2018, hlm. 1–5
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 4
- Ferrari & Incurvati 2022, hlm. 368–369
- Archer 2024, hlm. 2, 7–8
- Wagner 2022, hlm. 673–674
- ↑
- Archer 2022, hlm. 1–5
- Friedman 2013, hlm. 145–146
- ↑
- Archer 2024, hlm. 1–2
- Chuman 2000
- Dixon 2005, § The Philosophical Sources of Agnosticism
- O'Neal et al. 2007
- ↑
- Rowe 1998, Bagian pembuka
- Lightman 1987, hlm. 5
- Dixon 2005, § The Philosophical Sources of Agnosticism
- ↑
- Archer 2024, hlm. 1
- Le Poidevin 2010, hlm. 10–11
- Schellenberg 2019, hlm. 86–87
- ↑
- Chuman 2000
- Oppy 2018, hlm. 50–51
- Le Poidevin 2010, hlm. 8–9
- ↑
- Le Poidevin 2020, hlm. 39
- Flew 2026, § Religious Agnosticism
- Shanahan 1907, § Exposition
- ↑ O'Neal et al. 2007
- ↑
- Shanahan 1907, § Exposition
- Cotter & Lee 2020, § Agnosticism Defined
- Rowe 1998, § 1. Degrees of Agnosticism
- Holloway 2003, Bagian pembuka
- ↑
- Moore, Bagian pembuka
- Rudolph 2013, § i. In the Pre-Islamic Iranian World
- ↑
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 1, 21–22
- Draper 2022, § 2. Definitions of 'Agnosticism'
- O'Neal et al. 2007, § The Nineteenth Century to the Present
- Le Poidevin 2010, hlm. 24, 85, 91
- Martin 2018, hlm. 53–55
- ↑
- Ferrari & Incurvati 2022, hlm. 365–366
- Draper 2022, § 2. Definitions of 'Agnosticism'
- Shanahan 1907, § Exposition
- ↑
- Draper 2022, § 2. Definitions of 'Agnosticism'
- Moser 2008, Bagian pembuka
- Rowe 1998, Bagian pembuka, § 1. Degrees of Agnosticism
- ↑
- Flew 2026, Bagian pembuka
- Draper 2022, § 2. Definitions of 'Agnosticism'
- ↑
- Rowe 1998, § 1. Degrees of Agnosticism
- Le Poidevin 2010, hlm. 9–10
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 5
- ↑ Oppy 1994, hlm. 147–148
- ↑ Fallon & Hyman 2020, hlm. 5
- ↑
- Ferrari & Incurvati 2022, hlm. 373–374
- Ferrari & Susanna 2025, hlm. 128–129
- ↑
- McGrath 2021, hlm. 12
- Ferrari & Incurvati 2022, hlm. 368–369
- Oppy 2018, hlm. 4, 19
- ↑
- Ferrari & Incurvati 2022, hlm. 374–375
- Ferrari & Susanna 2025, hlm. 125–129
- Le Poidevin 2010, hlm. 16–17
- ↑
- Ferrari & Susanna 2025, hlm. 129–130
- Le Poidevin 2010, hlm. 83–85
- Le Poidevin 2020, hlm. 34–37
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 5
- ↑
- Le Poidevin 2020, hlm. 32–33
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 14–15
- Palmqvist 2024, § 2. Semantic Agnosticism
- ↑ Palmqvist 2024, § 3. Meta-Linguistic Agnosticism
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 10–13
- Shanahan 1907, § Exposition, § Total Agnosticism Self-refuting
- Watkins 1995, hlm. 33–34
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 10–13
- Alican 2025, hlm. 45–46
- Flew 2026, § Religious agnosticism
- Vernon 2007, hlm. 121–125
- Holloway 2003, § Kinds of Agnosticism
- ↑
- Shook 2011, hlm. 18–20
- Alican 2025, hlm. 45–46
- ↑ Le Poidevin 2010, hlm. 10–13
- ↑
- Martin 2018, hlm. 53–55
- Porpora 2006, hlm. 57–85
- ↑ Oppy 2018, hlm. 50–51
- ↑
- Chuman 2000
- Oppy 2018, hlm. 50–51
- Le Poidevin 2010, hlm. 8–9
- Shanahan 1907, § Exposition
- ↑ Oppy 2018, hlm. 4–5
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 4–7
- Schneider 2007, hlm. 19–21
- Hart 2005, hlm. 1–7
- ↑
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 5–6
- Draper 2022, § 1. Definitions of 'Atheism'
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 4–7
- Draper 2022, § 3. Global Atheism Versus Local Atheisms
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 4, 19
- Oppy 2006, hlm. 37–39
- Jonbäck 2023, hlm. 35
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 8–9
- Alican 2025, hlm. 45–46
- ↑
- Amesbury 2022, Bagian pembuka
- Alican 2025, hlm. 45–46
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 14
- Hookway 2005, hlm. 838
- Cohen 1998, § Article Summary
- Draper 2022, § 2. Definitions of 'Agnosticism'
- Neufeld 2019, § Introduction
- ↑
- Hetherington, Bagian pembuka, § 9. Implications of Fallibilism: Knowing Fallibly?
- Rescher 1998, § Article Summary
- ↑
- Oppy 2006, hlm. 15, 34–35
- Corlett 2010, hlm. 46
- Murray 2010, hlm. 25–26
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 8–9, 17–18
- Archer 2024, hlm. 203
- Andrews 2010, hlm. 93
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 13–14
- Lightman 1987, hlm. 17–18, 28
- Dixon 2005, § Thomas Huxley and the Coining of Agnostic, § Agnosticism in the Twentieth Century
- Hepburn 2006, hlm. 92–94
- ↑
- Oppy 2018, hlm. 14
- Lightman 1987, hlm. 1–2
- O'Neal et al. 2007, § Influences of Agnosticism and Atheism
- Chuman 2000
- 1 2 O'Grady 2020, hlm. 167–170
- ↑
- Hepburn 2006, hlm. 92–93
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- Le Poidevin 2010, hlm. 116–118
- ↑
- Blaauw & Pritchard 2005, hlm. 50–51
- DiFate, Bagian pembuka, § 1. The Nature of Evidence: What Is It and What Does It Do?
- Kelly 2016, Bagian pembuka, § 1. Evidence as That Which Justifies Belief
- Draper 2022, § 2. Definitions of 'Agnosticism'
- ↑
- Hawthorne 2009, hlm. 49–50, 73
- Draper 2022, § 7. An Argument against Agnosticism
- ↑
- Hawthorne 2009, hlm. 49–50, 73
- Hartmann & Sprenger 2011, hlm. 609–611
- Leitgeb 2017, hlm. 135
- ↑
- Oppy 2006, hlm. 416–417, 419
- Le Poidevin 2010, hlm. 116–118
- Oppy 1994, hlm. 147–148, 159–160
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 116–118
- Oppy 1994, hlm. 159–160
- ↑
- Draper 2022, § 6.2 The Low Priors Argument
- Dore 1982, hlm. 505–506
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 11
- ↑
- Draper 2022, § 7. An Argument against Agnosticism
- Oppy 1994, hlm. 147–148, 160
- Archer 2024, hlm. 4
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 76, 116–118
- Draper 2022, § 4. An Argument for Agnosticism
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 5
- Oppy 1994, hlm. 148
- 1 2
- Flew 2026, § Antecedents of Religious Agnosticism
- Hepburn 2006, hlm. 92–93
- ↑ Fallon & Hyman 2020, hlm. 5
- ↑
- Hepburn 2006, hlm. 92–93
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- Holloway 2003, § Empiricism, § Kantianism
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 73–75
- Huff 2021, hlm. 50
- Vasady 2025, hlm. 30
- 1 2
- Hepburn 2006, hlm. 92–93
- Holloway 2003, § Theory of the Unconditioned
- ↑
- Hepburn 2006, hlm. 93
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- ↑
- Oppy 2006, hlm. 414
- Archer 2024, hlm. 4, 172
- 1 2
- Le Poidevin 2010, hlm. 118
- Batchelor 2017, hlm. 155
- 1 2
- Fallon 2020, hlm. 84–86
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- Le Poidevin 2010, hlm. 87–91
- 1 2 Oppy 1994, hlm. 163–164
- ↑
- Oppy 2006, hlm. 99–100
- Plantinga 1998, Bagian pembuka, § 1. Cosmological Arguments
- ↑
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- Le Poidevin 2010, hlm. 57–63
- Plantinga 1998, Bagian pembuka, § 4. Teleological Arguments
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 63–67
- Oppy 2006, hlm. 352–354
- Plantinga 1998, Bagian pembuka, § 6. Other Theistic Arguments
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 67–73
- Oppy 2006, hlm. 345–346
- Swinburne 2004, hlm. 293–294
- ↑
- Oppy 2006, hlm. 343–344
- Dawkins 2006, hlm. 92–94
- ↑ Oppy 1994, hlm. 162–163
- ↑
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- Le Poidevin 2010, hlm. 87–91
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 57–63
- Dawkins 2006, hlm. 113–119
- McCormick, § 4g. Atheistic Naturalism
- ↑
- Oppy 2006, hlm. 259–262
- Le Poidevin 2010, hlm. 73–74
- McCormick, § 4c. Problem of Evil
- ↑
- Cliteur 2010, hlm. 62–63
- Vernon 2007, hlm. 133–134
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 40–43, 46–47
- Wainwright 2020, hlm. 75–76
- Hanson 2020, hlm. 308
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 40–43
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 11
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 76
- Teeninga, Bagian pembuka
- ↑ Le Poidevin 2010, hlm. 5
- 1 2
- Hepburn 2006, hlm. 94
- Le Poidevin 2010, hlm. 78–82
- ↑
- Dore 1982, hlm. 503–505
- Rowe 1998, § 2. Justifications for Agnosticism
- Le Poidevin 2010, hlm. 91–96
- Archer 2024, hlm. 3–4
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 102–103
- Fallon 2020, hlm. 88–89
- Handa 2022, hlm. 185
- ↑
- Oppy 1994, hlm. 164–165
- Oppy 2018, hlm. 50
- Le Poidevin 2010, hlm. 4–5
- Jonbäck 2023, hlm. 38–41
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 97–107
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 4–7
- Engelhardt 2006, hlm. 175–177
- Chuman 2000
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 103–104
- Fallon 2020, hlm. 83–84, 92–95, 101–103
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 97–107
- Flew 2026, § Religious Agnosticism
- Schellenberg 2019, hlm. 102, 112–115
- Fallon 2020, hlm. 81–84, 92–95, 101–103
- O'Neal et al. 2007, Bagian pembuka
- ↑
- Hayward et al. 2016, § Abstract, § Introduction, § Discussion
- Pennycook et al. 2016, § Introduction
- Zuckerman, Galen & Pasquale 2016, hlm. 128–130, 144–145
- ↑
- Karim & Saroglou 2023, hlm. 118–119
- Karim & Saroglou 2024, hlm. 248–249
- ↑
- Oppy 1994, hlm. 164–165
- Oppy 2018, hlm. 50
- Le Poidevin 2010, hlm. 4–5
- ↑ Oppy 2018, hlm. 1–3
- ↑
- Keysar & Navarro-Rivera 2013, hlm. 553–554
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 2
- ↑ Keysar & Navarro-Rivera 2013, hlm. 563–564
- 1 2
- Flew 2026, § Antecedents of Religious Agnosticism
- O'Grady 2020, hlm. 170, 175
- ↑ Huff 2021, hlm. xxiii–xxiv
- ↑
- Vernon 2007, hlm. 18
- Cliteur 2010, hlm. 55–57
- ↑
- Vernon 2007, hlm. 12, 18–21, 125–126
- Flew 2026, § Antecedents of Secular Agnosticism
- ↑
- Le Poidevin 2010, hlm. 13, 35–37
- Lightman 1987, hlm. 19–20
- ↑
- Sober & Velasco 2025, § 8 Different Kinds of Agnosticism
- Tull 1989, hlm. 145
- ↑
- Fountoulakis 2021, hlm. 23
- Warder 1998, hlm. 43–44
- Fletcher et al. 2020, hlm. 46
- Chakravarty 2022, hlm. 93–97
- ↑
- Horwitz 2011, hlm. 112
- Almond 1988, hlm. 99–100
- Siderits 2026, Lead section, § 1. Buddha as Philosopher
- Huff 2021, hlm. 1
- ↑ Huff 2021, hlm. 1
- ↑
- Corrigan & Harrington 2023, § 3.4 Mystical Theology, § 4.1 Sources, Ideas, and Terms, § 4.2 Character of Writing
- O'Grady 2020, hlm. 166–167
- ↑
- O'Grady 2020, hlm. 163–167
- Buijs 1988, hlm. 723, 729–731
- ↑ O'Grady 2020, hlm. 163–167
- ↑
- Charlesworth 1972, hlm. 89–90
- Holloway 2003, § Nominalism
- ↑
- Dilek 2017, hlm. 67–69
- Straface 2011, § Abstract
- Burns 2019, hlm. 95
- ↑
- Cliteur 2010, hlm. 62–63
- Vernon 2007, hlm. 133–134
- Nyman 2024, hlm. 1–4
- 1 2
- Le Poidevin 2010, hlm. 91–96
- Oppy 2006, hlm. 416–425
- ↑
- Dixon 2005, § The Philosophical Sources of Agnosticism
- Hepburn 2006, hlm. 92–93
- Lightman 1987, hlm. 32–39
- ↑
- Dixon 2005, § Victorian Agnosticism
- Hepburn 2006, hlm. 92–93
- Lightman 1987, hlm. 71–73, 82–87
- ↑ Huxley 1899
- ↑
- Lightman 1987, hlm. 3, 15, 156–157
- Huff 2021, hlm. 60–63
- ↑
- Chuman 2000
- Cotter & Lee 2020, § Agnosticism Defined
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 7–8
- Cliteur 2010, hlm. 57–58
- Draper 2022, § Definitions of 'Agnosticism'
- Ferrari & Incurvati 2022, hlm. 365
- ↑ Le Poidevin 2010, hlm. 1–2, 6, 21–26
- ↑ Huff 2021, hlm. 125–126
- ↑
- Cliteur 2010, hlm. 57–58
- Le Poidevin 2010, hlm. 41–43
- Vernon 2016, hlm. 43
- ↑
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 6
- Rowe 1998, § 1. Degrees of Agnosticism
- ↑
- Chuman 2000
- Newton 2018, hlm. 52–53
- ↑ Huff 2021, hlm. 3
- ↑
- ↑
- Cliteur 2010, hlm. 57–58
- Le Poidevin 2010, hlm. 41–43
- Vernon 2016, hlm. 43
- Feldmeier 2022, hlm. 117
- ↑ Fallon & Hyman 2020, hlm. 14
- ↑ Leech 2020, hlm. 117–119
- ↑
- Fallon & Hyman 2020, hlm. 6, 20
- Fallon 2020, hlm. 82
Sumber
- Alican, Necip Fikri (2025). The Devil's Advocate versus God's Honest Truth: A Dialectical Inquiry into the Rationality of Religion (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-71485-4.
- Almond, Philip C. (1988). The British Discovery of Buddhism (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-35503-2.
- Amesbury, Richard (2022). "Fideism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal April 17, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Andrews, John (2010). Book of Isms (dalam bahasa Inggris). Profile Books. ISBN 978-1-84765-179-2.
- Archer, Avery (2022). "The Questioning-Attitude Account of Agnosticism". Synthese. 200 (6) 498. doi:10.1007/s11229-022-03971-w.
- Archer, Avery (2024). The Attitude of Agnosticism (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-009-21476-6.
- Batchelor, Stephen (2017). Secular Buddhism: Imagining the Dharma in an Uncertain World (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. ISBN 978-0-300-22758-1.
- Blaauw, Martijn; Pritchard, Duncan (2005). Epistemology A–Z. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-2213-9.
- Buijs, Joseph A. (1988). "The Negative Theology of Maimonides and Aquinas". The Review of Metaphysics. 41 (4): 723–738. ISSN 0034-6632.
- Burns, Kevin (2019). Eastern Philosophy: The Greatest Thinkers and Sages from Ancient to Modern Times (dalam bahasa Inggris). Arcturus Publishing. ISBN 978-1-78950-851-2.
- Chakravarty, Anish (2022). "6. Sañjaya's Ajñānavāda and Mahāvīra's Anekāntavāda: From Agnosticism to Pluralism". Dalam Pathak, Krishna Mani (ed.). Quietism, Agnosticism and Mysticism: Mapping the Philosophical Discourse of the East and the West (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 93–108. ISBN 978-981-16-3223-5.
- Charlesworth, Max (1972). Philosophy of Religion: The Historic Approaches (dalam bahasa Inggris). Macmillan. ISBN 978-1-349-00201-6.
- Chen, Yong (2012). Confucianism as Religion: Controversies and Consequences (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-24373-6.
- Chi, Wen-Shun (1992). Ideological Conflicts in Modern China: Democracy and Authoritarianism (dalam bahasa Inggris). Transaction Publishers. ISBN 978-0-88738-054-9.
- Chuman, Joseph (2000). "Agnosticism". Dalam Roof, Wade Clark (ed.). Contemporary American religion. Macmillan. ISBN 978-0-02-864928-3.
- Cliteur, Paul (2010). The Secular Outlook: In Defense of Moral and Political Secularism (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-9044-5.
- Cohen, Stewart (1998). "Scepticism". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. doi:10.4324/9780415249126-P045-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diakses tanggal Juli 31, 2024.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Corlett, J. Angelo (2010). The Errors of Atheism (dalam bahasa Inggris). Continuum. ISBN 978-1-4411-5893-2.
- Corrigan, Kevin; Harrington, L. Michael (2023). "Pseudo-Dionysius the Areopagite". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal April 27, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Cotter, Christopher R.; Lee, Lois (2020). "Agnosticism". The SAGE Encyclopedia of the Sociology of Religion. Sage. doi:10.4135/9781529714401.n16. ISBN 978-1-4739-4220-2.
- Dawkins, Richard (2006). The God Delusion. Bantam Press. ISBN 978-0-593-05548-9.
- DiFate, Victor. "Evidence". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal Agustus 20, 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dilek, Oğuz (2017). "Agnosticism". Dalam Çakmak, Cenap (ed.). Islam: A Worldwide Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury. hlm. 67–69. ISBN 978-1-61069-217-5.
- Dixon, Thomas (2005). "Agnosticism". Dalam Horowitz, Maryanne Cline (ed.). New Dictionary of the History of Ideas. Vol. 1. Thomson Gale. hlm. 35–38. ISBN 978-0-684-31379-5.
- Dore, Clement (1982). "Agnosticism". Religious Studies. 18 (4): 503–507. doi:10.1017/S0034412500014396.
- Draper, Paul (2022). "Atheism and Agnosticism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal April 10, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Eber, Irene (1968). "Hu Shih and Chinese History: The Problem of Cheng-Li Kuo-Ku". Monumenta Serica. 27 (1): 169–207. doi:10.1080/02549948.1968.11731054.
- Engelhardt, H. Tristram (2006). "8. Public Discourse and Reasonable Pluralism: Rethinking the Requirements of Neutrality". Dalam Guinn, David E. (ed.). Handbook of Bioethics and Religion (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 169–198. ISBN 978-0-19-517873-9.
- Fallon, Francis (2020). "3. If Agnosticism, Then What?". Dalam Fallon, Francis; Hyman, Gavin (ed.). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 81–106. ISBN 978-0-19-260296-1.
- Fallon, Francis; Hyman, Gavin (2020). "Introduction". Dalam Fallon, Francis; Hyman, Gavin (ed.). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 1–28. ISBN 978-0-19-260296-1.
- Feldmeier, Peter (2022). "7. Agnosticism, Atheism, and Naturalism's Imaginaire: A Defense of God and Religion". Dalam Pathak, Krishna Mani (ed.). Quietism, Agnosticism and Mysticism: Mapping the Philosophical Discourse of the East and the West (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 109–126. ISBN 978-981-16-3223-5.
- Ferrari, Filippo; Incurvati, Luca (2022). "The Varieties of Agnosticism". The Philosophical Quarterly. 72 (2): 365–380. doi:10.1093/pq/pqab038. hdl:11585/898981.
- Ferrari, Filippo; Susanna, Gioia (2025). "7. The Normative Profile of Agnosticism: Some Case Studies in the Philosophy of Mathematics". Dalam Wagner, Verena; Zinke, Alexandra (ed.). Suspension in Epistemology and Beyond (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 125–143. ISBN 978-1-040-34131-5.
- Fletcher, Robert; Romero, Paola; Talbot, Marianne; Warburton, Nigel; Whiston, Amna (2020). Philosophy: A Visual Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Dorling Kindersley Limited. ISBN 978-0-241-50422-2.
- Flew, Antony Garrard Newton (2026). "Agnosticism". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica, Inc. Diakses tanggal April 10, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Fountoulakis, Konstantinos N. (2021). Psychiatry: From Its Historical and Philosophical Roots to the Modern Face (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-030-86541-2.
- Friedman, Jane (2013). "Question-directed Attitudes". Philosophical Perspectives. 27 (1): 145–174. doi:10.1111/PHPE.12026.
- Handa, Mansi (2022). "11. Connection Between Faith and Reason in Religious Mysticism". Dalam Pathak, Krishna Mani (ed.). Quietism, Agnosticism and Mysticism: Mapping the Philosophical Discourse of the East and the West (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 177–196. ISBN 978-981-16-3223-5.
- Hanson, Norwood Russell (2020). What I Do Not Believe, and Other Essays (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-94-024-1739-5.
- Hart, George (2005). The Routledge Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2nd). Routledge. ISBN 978-0-415-34495-1.
- Hartmann, Stephan; Sprenger, Jan (2011). Bernecker, Sven; Pritchard, Duncan (ed.). The Routledge Companion to Epistemology (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 609–620. ISBN 978-1-136-88201-2.
- Hawthorne, James (2009). "The Lockean Thesis and the Logic of Belief". Dalam Huber, Franz; Schmidt-Petri, Christoph (ed.). Degrees of Belief. Synthese Library (dalam bahasa Inggris). Vol. 342. Springer. hlm. 49–74. doi:10.1007/978-1-4020-9198-8_3. ISBN 978-1-4020-9197-1.
- Hayward, R. David; Krause, Neal; Ironson, Gail; Hill, Peter C.; Emmons, Robert (2016). "Health and Well-Being Among the Non-religious: Atheists, Agnostics, and No Preference Compared with Religious Group Members". Journal of Religion and Health. 55 (3): 1024–1037. doi:10.1007/s10943-015-0179-2. PMID 26743877.
- Hepburn, Ronald W. (2006). Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Vol. 1 (Edisi 2.). Thomson Gale, Macmillan Reference. hlm. 92–95. ISBN 978-0-02-865781-3.
- Hetherington, Stephen. "Fallibilism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal Juli 31, 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Holloway, M. R. (2003). "Agnosticism". New Catholic Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Thomson Gale. ISBN 978-0-7876-4005-7.
- Hookway, C. J. (2005). "Scepticism". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. hlm. 838–840. ISBN 978-0-19-926479-7.
- Horwitz, Paul (2011). The Agnostic Age: Law, Religion, and the Constitution (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-987630-3.
- Huff, Peter A. (2021). Atheism and Agnosticism: Exploring the Issues (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury. ISBN 978-1-4408-7083-5.
- Huxley, Thomas Henry (1899). "Agnosticism and Christianity". Collected Essays V. hlm. 309–365.
- Jonbäck, Francis (2023). "Sceptical Agnosticism". International Journal for the Study of Skepticism. 13 (1): 31–43. doi:10.1163/22105700-bja10026.
- Karim, Moise; Saroglou, Vassilis (2023). "Being Agnostic, Not Atheist: Personality, Cognitive, and Ideological Differences". Psychology of Religion and Spirituality. 15 (1): 118–127. doi:10.1037/rel0000461. hdl:2078.1/254855.
- Karim, Moise; Saroglou, Vassilis (2024). "'I Am Agnostic, Not Atheist': The Role of Open-minded, Prosocial, and Believing Dispositions". Self and Identity. 23 (3–4): 248–267. doi:10.1080/15298868.2024.2357845.
- Kelly, Thomas (2016). "Evidence". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal Agustus 20, 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Keysar, Ariela; Navarro-Rivera, Juhem (2013). Bullivant, Stephen; Ruse, Michael (ed.). A World of Atheism. Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780199644650.013.011. ISBN 978-0-19-964465-0.
- Le Poidevin, Robin (2010). Agnosticism: A Very Short Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-161454-5.
- Le Poidevin, Robin (2020). "1. The New Agnosticism". Dalam Fallon, Francis; Hyman, Gavin (ed.). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 29–46. ISBN 978-0-19-260296-1.
- Leech, David (2020). "4. 'New Agnosticism', Imaginative Challenge, and Religious Experience". Dalam Fallon, Francis; Hyman, Gavin (ed.). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 107–139. ISBN 978-0-19-260296-1.
- Leitgeb, Hannes (2017). The Stability of Belief: How Rational Belief Coheres with Probability (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-873263-1.
- Lightman, Bernard (1987). The Origins of Agnosticism: Victorian Unbelief and the Limits of Knowledge (dalam bahasa Inggris). Johns Hopkins University Press. ISBN 978-0-8018-3375-5.
- Martin, Craig (2018). "Incapacitating Scholarship: Or, Why Methodological Agnosticism Is Impossible". Dalam Blum, Jason N. (ed.). The Question of Methodological Naturalism. Brill. hlm. 53–73. doi:10.1163/9789004372436_004. ISBN 978-90-04-37243-6.
- McCormick, Matt. "Atheism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal April 20, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - McGrath, Matthew (2021). "Being neutral: Agnosticism, inquiry and the suspension of judgment". Noûs. 55 (2): 463–484. doi:10.1111/nous.12323.
- Moore, Edward. "Gnosticism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal Desember 20, 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Moser, Paul K. (2008). "Agnosticism". Dalam Darity, William A. (ed.). International Encyclopedia of the Social Sciences (Edisi 2nd). Macmillan. ISBN 978-0-02-865965-7.
- Murray, Malcolm (2010). The Atheist's Primer (dalam bahasa Inggris). Broadview Press. ISBN 978-1-55111-962-5.
- Neufeld, Dane (2019). Scripture, Skepticism, and the Character of God: The Theology of Henry Mansel (dalam bahasa Inggris). McGill-Queen's University Press. ISBN 978-0-7735-5826-7.
- Newton, K. M. (2018). George Eliot for the Twenty-First Century: Literature, Philosophy, Politics (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-91926-3.
- Nyman, Bill (2024). "Pascal's Wager and Its Postmodern Counterpart". Koers - Bulletin for Christian Scholarship. 89 (1) 2505. doi:10.19108/KOERS.89.1.2505.
- O'Grady, Paul (2020). "6. Aquinas and Agnosticism". Dalam Fallon, Francis; Hyman, Gavin (ed.). Agnosticism: Explorations in Philosophy and Religious Thought (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 163–186. ISBN 978-0-19-260296-1.
- O'Neal, Michael; Jones, J. Sydney; Schlager, Neil; Weisblatt, Jayne (2007). "Agnosticism and Atheism". World Religions. Thomson Gale. ISBN 978-1-4144-0226-0.
- Oppy, Graham (1994). "Weak Agnosticism Defended". International Journal for Philosophy of Religion. 36 (3): 147–167. doi:10.1007/bf01316921.
- Oppy, Graham (2006). Arguing about Gods (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-45889-4.
- Oppy, Graham (2018). Atheism and Agnosticism (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-63843-2.
- Palmqvist, Carl-Johan (2024). "Taking Issue with Le Poidevin's New Agnosticism". Philosophia. 52 (3): 699–715. doi:10.1007/s11406-024-00762-0.
- Pennycook, Gordon; Ross, Robert M.; Koehler, Derek J.; Fugelsang, Jonathan A. (2016). "Atheists and Agnostics Are More Reflective than Religious Believers: Four Empirical Studies and a Meta-Analysis". PLOS ONE. 11 (4) e0153039. Bibcode:2016PLoSO..1153039P. doi:10.1371/journal.pone.0153039. PMC 4824409. PMID 27054566.
- Plantinga, Alvin (1998). "God, Arguments for the Existence of". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. doi:10.4324/9780415249126-K029-1. ISBN 978-0-415-25069-6.
- Porpora, Douglas V. (2006). "Methodological Atheism, Methodological Agnosticism and Religious Experience". Journal for the Theory of Social Behaviour. 36 (1): 57–75. doi:10.1111/j.1468-5914.2006.00296.x.
- Rescher, Nicholas (1998). "Fallibilism". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. doi:10.4324/9780415249126-P019-1. ISBN 978-0-415-25069-6.
- Rowe, William L. (1998). "Agnosticism". Routledge Encyclopedia of Philosophy (Edisi 1). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-K001-1. ISBN 978-0-415-25069-6.
- Rudolph, Kurt (2013). "Gnosticism". Encyclopaedia Iranica. Encyclopædia Iranica Foundation. Diakses tanggal Juni 19, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Schellenberg, J. L. (2019). Religion After Science (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-49903-3.
- Schneider, Laurel (2007). Beyond Monotheism: A Theology of Multiplicity (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-94782-8.
- Shanahan, E. (1907). "Agnosticism". Catholic Encyclopedia. Robert Appleton Company.
- Shook, John R. (2011). The God Debates: A 21st Century Guide for Atheists and Believers (and Everyone in Between) (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-14673-6.
- Siderits, Mark (2026). "Buddha". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 19 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Sober, Elliott; Velasco, Joel (2025). Core Questions in Philosophy (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-040-66029-4.
- Straface, Antonella (2011). "Abū Bakr al-Rāzī, Muḥammad ibn Zakarīyāʾ (Rhazes)". Encyclopedia of Medieval Philosophy (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 6–10. doi:10.1007/978-1-4020-9729-4_5. ISBN 978-1-4020-9728-7.
- Swinburne, Richard (2004). The Existence Of God (Edisi 2nd). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-927167-2.
- Teeninga, Luke. "Divine Hiddenness Argument against God's Existence". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal April 21, 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Tull, Herman W. (1989). The Vedic Origins Of Karma. SUNY Press. ISBN 978-0-7914-0094-4.
- Vasady, Bela (2025). The Main Traits of Calvin's Theology (dalam bahasa Inggris). Wipf and Stock. ISBN 979-8-3852-6521-3.
- Vernon, M. (2007). Science, Religion, and the Meaning of Life (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-01341-4.
- Vernon, Mark (2016). How To Be An Agnostic (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-0-230-30144-3.
- Wagner, Verena (2022). "Agnosticism as Settled Indecision". Philosophical Studies. 179 (2): 671–697. doi:10.1007/s11098-021-01676-3.
- Wainwright, William J. (2020). "5. The Burden of Proof and the Presumption of Theism". Dalam Wallace, Stan W. (ed.). Does God Exist?: The Craig-Flew Debate (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 75–84. ISBN 978-1-351-94315-4.
- Warder, Anthony Kennedy (1998). A Course in Indian Philosophy (Edisi 2). Motilal Banarsidass Publishers. ISBN 978-81-208-1482-0.
- Watkins, John (1995). "Epiphenomenalism and Human Freedom". Dalam Jarvie, I. C.; Laor, Nathaniel (ed.). Critical Rationalism, Metaphysics and Science. Boston Studies in the Philosophy of Science. Vol. 161. Springer. hlm. 33–39. doi:10.1007/978-94-011-0471-5_4. ISBN 978-94-010-4211-6.
- Zuckerman, Phil; Galen, Luke W.; Pasquale, Frank L. (2016). The Nonreligious: Understanding Secular People and Societies (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-939383-1.
Pranala luar
- (Inggris) Agnosticism di Encyclopædia Britannica
- (Inggris) Atheism and Agnosticism di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- (Inggris) Protagoras di Internet Encyclopedia of Philosophy
- (Inggris) Agnosticism about God’s Existence di 1000-Word Philosophy
- (Inggris) Agnosticism oleh Thomas Henry Huxley di Wikisource
Abrahamisme · Akosmisme · Agnostisisme · Animisme · Antiagama · Ateisme · Dharmisme · Deisme · Dualisme · Esoterikisme · Teologi feminis · Gnostisisme · Henoteisme · Humanisme · Immanenke · Monisme · Monoteisme · Mistisisme · Naturalisme · Nondualisme · Pandeisme · Panteisme · Politeisme · Teologi Proses · Syamanisme · Taois · Teisme · Transenden · Zaman Baru | ||
| Kritik terhadap agama | Buddhisme · Kekristenan · Hinduisme · Islam · Jainisme · Katolik Roma · Monoteisme · Mormonisme · Scientology · Saksi-saksi Yehuwa · Yudaisme |
|---|---|
| Naskah religius | Alkitab · Al-Qur'an · Talmud · Upanishads |
| Tokoh religius | |
| Buku dan pergerakan kritis | |
| Kekerasan dan terorisme | Kekerasan · Terorisme · Penganiayaan · Perang · Neo-fasisme · Kekerasan sektarian · Kekristenan · Mormonisme · Yudaisme · Islam · India |
| Kritikus terkemuka | Joxe Azurmendi · Dan Barker · Richard Dawkins · Daniel Dennett · Denis Diderot · Epicurus · Ludwig Feuerbach · Sigmund Freud · Sam Harris · Christopher Hitchens · Baron d'Holbach · David Hume · Karl Marx · Friedrich Nietzsche · Michel Onfray · Thomas Paine · Ayn Rand · Bertrand Russell · Carl Sagan · Michael Shermer · Dave Silverman · Socrates · Mark Twain · Voltaire |
| Jenis skeptisisme | |
|---|---|
| Filsafat skeptis | |
| Filsuf skeptis | |
| Skenario skeptis | |
| Tanggapan | |
| Daftar | |
Dewa (Ketuhanan · Numen · Laki · Wanita) · Allah · Tuhan tunggal (Eksistensi · Gender) · Binitarianisme · Deisme · Disteisme · Henoteisme · Kathenoteisme · Nonteisme · Monolatrisme · Monoteisme · Mistisisme · Panenteisme · Pandeisme · Panteisme · Polideisme · Politeisme · Spiritualisme · Teopanisme | ||