Sabtu, 10 Oktober 2026
05:40 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah
Waduk Darma

Waduk Darma

salah satu danau di dunia

Bagikan:
Waduk Darma
330px-Waduk_Darma_Kuningan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
osm-intl,13,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Waduk_Darma&revid=29153785&groups=_6d41b93fb9bbe524dbea43e6cafdd3769ff93281&parser=parsoid
Peta interaktif dari Waduk Darma
Koordinat7°00′49″S 108°24′34″E / 7.013641°S 108.409550°E / -7.013641; 108.409550
TujuanIrigasi
StatusBeroperasi
Dibangun olehPemerintah Provinsi Jawa Barat[1]
Didesain olehPT Gateni
PemilikKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Bendungan dan saluran pelimpah
Jenis saluran pelimpahAmbang lebar
Kapasitas saluran pelimpah125 m3 / detik
KML DTA Waduk Darma Kuningan

Waduk Darma (aksara Sunda: ᮝᮓᮥᮊ᮪ ᮓᮁᮙ) adalah sebuah waduk yang dibangun di Darma, Kuningan untuk menampung air Sungai Cisanggarung. Sebelum dibangun jalan lingkar, Jalan Nasional Rute 14 juga melewati puncak bendungan dari waduk ini, sehingga sempat membuat bendungan miring ke arah utara.[1]

osm-intl,13,-7.016479,108.410425,300x300.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Waduk_Darma&revid=29153785&groups=_259c857e9747af91f615cf8fca3108275d7a9291&parser=parsoid
Lokasi Waduk Darma di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

Waduk ini dikelilingi oleh bukit dan lembah, serta pemandangan yang indah dengan udara yang sejuk. Waduk ini berjarak sekitar 12 km dari pusat kota Kuningan dan sekitar 37 km dari pusat kota Cirebon.

Sejarah

1920 - 1962

Pada 1920, Pabrik Gula Tersana Baru mengusulkan kepada Residen Cirebon agar membangun waduk untuk memenuhi kebutuhan air dari kebun tebu dan pabrik gula yang ada di Karesidenan Cirebon selama musim kemarau. Pada 1924, Ir. G.A. de Jengh pun mulai melakukan studi kelayakan mengenai pembangunan waduk ini. Pada 1929, atas desakan Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda, dilakukan penelitian yang lebih rinci mengenai kelayakan pembangunan waduk ini. Pada 1930, Dinas Pertanian Cirebon pun menyimpulkan bahwa pembangunan waduk ini membutuhkan biaya sebesar 1,5 juta gulden. Pabrik Gula Tersana Baru kemudian menyanggupi untuk menanggung separuh dari total biaya pembangunan waduk ini.[1]

Mulai 1935 hingga 1936, dilakukan penelitian geologi oleh A. Harting dan penelitian sifat tanah oleh Prof. Springer di lokasi pembangunan waduk ini. Pada 1939, Pemerintah Hindia Belanda memesan pintu untuk bendungan dari waduk ini di Swiss, dan dua tahun kemudian, pintu tersebut mulai dikirim ke Jakarta melalui Singapura. Pada 1942, terowongan pengelak untuk mengalihkan aliran Sungai Cisanggarung selama proses pembangunan waduk ini pun telah selesai dibangun, tetapi proses pembangunan waduk ini kemudian terhenti, karena adanya peralihan pendudukan Indonesia dari Belanda ke Jepang. Pintu untuk bendungan dari waduk ini lalu juga batal dikirim ke Jakarta, karena dialihkan ke Australia.[1]

Pada 1951, pemerintah Indonesia mulai merencanakan untuk melanjutkan kembali pembangunan waduk ini. Mulai 1956 hingga 1957, kembali dilakukan penelitian mekanika tanah di lokasi pembangunan waduk ini oleh Lembaga Penyelidikan Masalah Air. Pada 1958, pembangunan waduk ini mulai dilanjutkan kembali oleh Dinas Pekerjaan Umum Jawa Barat, dan akhirnya dapat diselesaikan empat tahun kemudian.[1]

1963 - sekarang

Setelah waduk ini mulai dioperasikan, ditemukan kebocoran yang cukup besar di dasar bendungan dari waduk ini. Rerata volume air yang bocor diperkirakan mencapai 33.137.000 m3 per tahun. Dinas Pekerjaan Umum Jawa Barat memperkirakan bahwa kebocoran tersebut terjadi akibat pemadatan urugan bendungan yang dulu dilakukan secara tergesa-gesa, karena adanya ancaman gangguan dari DI/TII. Pada 1967, dilakukan penelitian mengenai kebocoran tersebut oleh LPMA dan Pusat Reaktor Atom Bandung, yang kemudian menyimpulkan bahwa 75% kebocoran terjadi melalui badan bendungan, sementara sisanya terjadi melalui dasar bendungan.[1]

Mulai 1969 hingga 1970, dilakukan perbaikan terhadap bendungan, sehingga jumlah air yang bocor sempat berkurang, tetapi kemudian kembali meningkat pada 1971. Untuk keperluan penelitian kebocoran, kemudian dilakukan pembangunan drainase di bagian belakang bendungan oleh Pembangunan Perumahan. Pada 1972, dibangun sebuah bendung di Sungai Cilutung, agar air dari sungai tersebut dapat dialirkan ke waduk ini melalui Sungai Cinangka.[1]

Pada 1975, setelah melakukan penelitian mengenai waduk ini, DPMA menyarankan agar dilakukan perbaikan terhadap semua bagian dari waduk ini yang belum pernah diperbaiki. Berdasarkan saran tersebut, kemudian dilakukan perbaikan terhadap waduk ini, antara lain oleh Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, dan Barata Indonesia. Pada 1991, dengan bantuan dari Bank Dunia, juga dilakukan penghijauan di sekeliling waduk ini.[1]

Pemanfaatan

Waduk ini terutama dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas sekitar 22.600 ha di Kuningan dan Cirebon. Selain itu, waduk ini juga dimanfaatkan untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat Luragung, Ciawigebang, Garawangi, dan sebagian Kuningan.[1]

Waduk ini pun dimanfaatkan sebagai sarana perikanan darat oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan jala terapung. Waduk ini juga dapat dijadikan sarana rekreasi dan olahraga, terutama di sore hari. Fasilitas yang tersedia di waduk ini antara lain kawasan perkemahan, perahu wisata, penginapan, panggung hiburan, wahana permainan anak, aula, spot foto, dsb.

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sinaro, Radhi (2007). Menyimak Bendungan di Indonesia (1910-2006) (dalam bahasa Indonesia). Tangerang Selatan: Bentara Adhi Cipta. ISBN 978-979-3945-23-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Bendungan, waduk/dam dan embung di Indonesia
1
DIY
DKI
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
2
Aceh
Kepulauan Riau
Lampung
Riau
Sumatera Selatan
Sumatera Utara
3
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
4
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
5
Gorontalo
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
6
Maluku
7
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan