Universitas (daribahasa Latin universitas, artinya "keseluruhan") adalah suatu lembaga pendidikan tinggi dan penelitian yang memberikan gelar akademik dalam berbagai disiplin akademik.[1] University berasal dari frasa Latin universitas magistrorum et scholarium, yang secara kasar berarti "komunitas guru dan cendekiawan".[2] Universitas biasanya menawarkan program sarjana dan pascasarjana.
Universitas pertama berkembang di Eropa dari sekolah-sekolah yang dikelola oleh Gereja untuk mendidik para imam.[3][4][5][6][7]
Ciri-ciri berikut umum ditemukan pada universitas-universitas tertua:
- Menggunakan kata universitas (yang diciptakan ketika pendiriannya).
- Menerima mahasiswa dari berbagai tempat (bukan hanya dari distrik atau wilayah setempat).
- Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang melampaui pengajaran Tujuh Seni Liberal, serta memiliki setidaknya salah satu fakultas tingkat tinggi (Teologi, Hukum atau Kedokteran).
- Memberikan gelar melalui acara lisan dan terbuka yang dikelola oleh serikat para magister.
- Memiliki tingkat otonomi tertentu dari otoritas gerejawi.
- Menikmati kebebasan akademik.
- Memberikan gelar sekuler maupun nonsekuler.[8][9][10][11][12]
Universitas tertua berdasarkan kriteria tersebut adalah Universitas Bologna, Universitas Paris, Universitas Oxford, Universitas Cambridge dan Universitas Palencia.
Sejarah

Definisi
Kata Latin asli universitas secara umum merujuk pada "sejumlah orang yang tergabung dalam satu badan, masyarakat, perusahaan, komunitas, serikat, korporasi, dan sebagainya".[13][halaman dibutuhkan] Seiring berkembangnya kehidupan kota dan serikat abad pertengahan, perkumpulan khusus mahasiswa dan guru dengan hak hukum kolektif (hak-hak ini biasanya dijamin oleh piagam yang dikeluarkan oleh pangeran, prelat, atau kota mereka) mulai disebut dengan istilah umum ini. Seperti serikat lainnya, mereka mengatur diri sendiri dan menentukan kualifikasi anggotanya.[14]
Dalam penggunaan modern, kata ini berarti "lembaga pendidikan tinggi yang memberikan pengajaran terutama dalam bidang nonkejuruan dan biasanya memiliki kewenangan untuk memberikan gelar".[15] Penekanan sebelumnya pada organisasi korporatnya tidak lagi menjadi ciri utama yang digunakan untuk mengenali universitas modern.[16]
Kata Latin asli tersebut merujuk pada lembaga pendidikan pemberi gelar di Eropa Barat dan Eropa Tengah, tempat bentuk organisasi hukum ini lazim digunakan dan dari sanalah lembaga tersebut menyebar ke seluruh dunia.[17]

Kebebasan akademik
Gagasan penting dalam definisi universitas adalah konsep kebebasan akademik. Bukti dokumenter pertama mengenai hal ini berasal dari masa awal Universitas Bologna, yang mengadopsi piagam akademik, Constitutio Habita,[18] pada tahun 1155 atau 1158,[19] yang menjamin hak seorang cendekiawan yang bepergian untuk memperoleh perjalanan tanpa hambatan demi kepentingan pendidikan. Saat ini, hal tersebut dianggap sebagai asal mula "kebebasan akademik".[20] Pada 18 September 1988, 430 rektor universitas menandatangani Magna Charta Universitatum,[21] menandai peringatan 900 tahun pendirian Bologna. Terdapat perdebatan mengenai sejauh mana kebebasan akademik di universitas yang didanai publik harus tunduk pada akuntabilitas atas penggunaan sumber daya publik; yaitu, apakah penelitian dan pengajaran akademisi harus mendukung kepentingan publik seperti keadilan sosial atau apakah terdapat pula hak istimewa untuk mengejar pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri.[22]
Pendahulu

Sekolah Aleksandria didirikan pada abad ke-2 M. Selain mata pelajaran seperti teologi, filsafat Kristen dan Alkitab, ilmu pengetahuan, matematika, sastra Yunani dan Romawi, logika, serta seni juga diajarkan. Metode komentar tanya jawab bermula di sana, dan siswa tunanetra di sekolah tersebut menggunakan teknik ukiran kayu untuk membaca dan menulis. Tokoh-tokoh awal Gereja di Mesir merupakan cendekiawan, bukan uskup, yaitu para direktur Sekolah Kateketik Aleksandria: Klemens (160–215) dan Origenes (185–251).[23]
Pada tahun 425 M, Kaisar Romawi Theodosius II mendirikan Pandidakterion, yang kemudian dikenal sebagai Universitas Konstantinopel.[24] Lembaga tersebut mengajarkan lebih dari sekadar hukum dan filsafat, termasuk geografi, musik, astronomi, retorika, tata bahasa, dan pidato.[9] Guru-guru terkemuka antara lain Michael Psellos, John Xiphilinos, John Italos, Eustratius of Nicaea, Michael of Ephesus dan John Mauropous, serta tokoh-tokoh lainnya.[9]
Nalanda mahavihara didirikan oleh Kaisar Kumaragupta I dari Kekaisaran Gupta sekitar tahun 427 M dan menjadi pusat pembelajaran Buddhis utama yang menarik cendekiawan seperti Xuanzang. Lembaga tersebut dihancurkan pada tahun 1202 M oleh Bakhtiyar Khilji.[25][26] Penggambaran Nalanda sebagai "universitas" dalam pengertian modern diperdebatkan oleh para sejarawan. Mereka berpendapat bahwa meskipun Nalanda tidak diragukan lagi merupakan pusat pembelajaran besar, membandingkannya secara langsung dengan universitas modern tidaklah tepat secara historis.[27][28]
Pada masa dan setelah misi Santo Agustinus ke Inggris, sekolah-sekolah katedral didirikan seiring pembentukan keuskupan-keuskupan baru (misalnya Canterbury 597, Rochester 604, York 627). Sekolah katedral berkembang di kota-kota besar seperti Chartres, Orléans, Paris, Laon, Reims atau Rouen di Prancis dan Utrecht, Liège, Köln, Metz, Speyer, Würzburg, Bamberg, Magdeburg, Hildesheim atau Freising di Jerman. Speyer terkenal karena memasok diplomat bagi Kekaisaran Romawi Suci.[29] Istana Henry I dari Inggris memiliki hubungan dengan sekolah katedral Laon.[30]
Pusat-pusat pembelajaran ditemukan di Spanyol pada abad ke-7, baik di biara-biara besar maupun di pusat-pusat keuskupan. Para siswa di biara Santo Kosmas dan Damianus, di Agali dekat Toledo, mempelajari bidang-bidang ilmiah seperti kedokteran dan dasar-dasar astronomi.[31] Pada masa kejayaan sekolah-sekolah monastik pada abad ke-9 dan ke-10, ajaran para cendekiawan penting seperti Alkuin, Hrabanus Maurus, Heiric of Auxerre dan Notker Balbulus meningkatkan prestise biara-biara mereka dan menarik murid dari tempat jauh untuk mengikuti kursus mereka.[32]
Salah satu lembaga awal adalah Madrasa Harran, yang didirikan pada akhir abad ke-8.[33] Para cendekiawan terkadang menyebut Universitas al-Qarawiyyin (nama yang diberikan pada tahun 1963), yang didirikan sebagai masjid oleh Fatima al-Fihri pada tahun 859 M, sebagai sebuah universitas,[34][35][36][37] meskipun Jacques Verger [fr] menulis bahwa hal ini dilakukan demi kemudahan akademis.[38] Beberapa cendekiawan menganggap al-Qarawiyyin didirikan[39][40] dan dikelola[41][42] sebagai madrasah hingga setelah Perang Dunia II. Mereka menempatkan perubahan madrasah al-Qarawiyyin menjadi universitas pada reorganisasi modernnya pada tahun 1963.[43][44][41] Setelah reformasi tersebut, al-Qarawiyyin secara resmi berganti nama menjadi "Universitas Al Quaraouiyine" dua tahun kemudian.[43]
Beberapa cendekiawan, termasuk George Makdisi, berpendapat bahwa universitas abad pertengahan awal dipengaruhi oleh madrasah di Al-Andalus, Keamiran Sisilia, dan Timur Tengah selama Perang Salib.[45][46][47] Norman Daniel, bagaimanapun, menilai argumen ini terlalu berlebihan.[48] Universitas dan madrasah memiliki beberapa perbedaan utama.[49] Pada tahun 2013, Roy Lowe dan Yoshihito Yasuhara menyatakan bahwa pengaruh keilmuan dari dunia Islam terhadap universitas-universitas Eropa Barat perlu dipertimbangkan kembali dalam perkembangan pendidikan tinggi, dengan mengalihkan perhatian dari struktur kelembagaan lokal menuju pertimbangan yang lebih luas dalam konteks global.[50]
Eropa abad pertengahan

Meskipun memiliki pendahulu, universitas modern umumnya dianggap sebagai lembaga formal yang berasal dari tradisi Kristen abad pertengahan.[53][54] Pendidikan tinggi Eropa telah berlangsung selama ratusan tahun di sekolah katedral dan sekolah monastik (scholae monasticae), tempat biarawan dan biarawati mengajar. Bukti mengenai pendahulu langsung universitas di kemudian hari di berbagai tempat dapat ditelusuri hingga abad ke-6.[55] Di Eropa, kaum muda melanjutkan ke universitas setelah menyelesaikan studi trivium—seni persiapan tata bahasa, retorika, dan dialektika atau logika—serta kuadrivium: aritmetika, geometri, musik, dan astronomi.
Universitas-universitas paling awal berkembang di bawah naungan Gereja Latin melalui bulla kepausan sebagai studia generalia, dan mungkin berasal dari sekolah-sekolah katedral. Namun, perkembangan sekolah katedral menjadi universitas kemungkinan cukup jarang terjadi, dengan Universitas Paris sebagai pengecualian.[56] Kemudian universitas juga didirikan oleh para raja—dengan persetujuan kepausan terlebih dahulu—(Universitas Naples Federico II, Universitas Charles di Praha, Universitas Jagiellonian di Kraków) atau pemerintahan kota (Universitas Cologne, Universitas Erfurt). Sebagian besar universitas awal pada Abad Pertengahan Tinggi didirikan dari sekolah-sekolah yang telah ada sebelumnya, biasanya ketika sekolah tersebut dianggap telah menjadi tempat utama pendidikan tinggi. Beberapa sejarawan menyatakan bahwa universitas dan sekolah katedral merupakan kelanjutan dari minat terhadap pembelajaran yang dipromosikan oleh biara.[57] Paus Gregorius VII berperan penting dalam mempromosikan dan mengatur konsep universitas modern, karena Dekret Kepausan 1079 miliknya memerintahkan pendirian sekolah katedral secara teratur yang kemudian berkembang menjadi universitas Eropa pertama.[58]

Tiga universitas pertama di Eropa yang memiliki bentuk struktur korporasi/serikat adalah Universitas Bologna (ca 1180–1190),[59] Universitas Paris (ca 1208–1210,[60] yang kemudian dikaitkan dengan Sorbonne), dan Universitas Oxford (ca 1200–1214).[61] Universitas Bologna bermula sebagai sekolah hukum yang mengajarkan ius gentium atau hukum Romawi bagi masyarakat, yang dibutuhkan di seluruh Eropa oleh mereka yang membela hak negara-negara yang baru muncul terhadap kekaisaran dan gereja. Universitas Bologna, atau Alma Mater Studiorum, secara luas diakui sebagai universitas tertua yang independen dari otoritas langsung mana pun, seperti raja, kaisar, atau organisasi keagamaan. Klaim Bologna sebagai universitas tertua didasarkan pada karakteristik uniknya, seperti otonomi dan kemampuannya memberikan gelar.[62][63]
Tanggal konvensional dimulainya pengajaran di Bologna adalah 1088, atau 1087 menurut beberapa sumber,[64] yang mencatat saat Irnerius mulai mengajarkan kodifikasi Kaisar Justinianus mengenai hukum Romawi pada abad ke-6, yaitu Corpus Iuris Civilis, yang baru ditemukan kembali di Pisa. Mahasiswa awam datang ke kota tersebut dari berbagai negeri untuk memperoleh pengetahuan ini berdasarkan suatu kontrak, dan pada akhirnya mengorganisasi diri menjadi Nationes, yang terbagi antara Cismontanes dan Ultramontanes. Para mahasiswa "memiliki seluruh kekuasaan ... dan mendominasi para magister".[65][66]
Di seluruh Eropa, para penguasa dan pemerintah kota mulai mendirikan universitas untuk memenuhi dahaga masyarakat Eropa akan pengetahuan, serta keyakinan bahwa masyarakat akan memperoleh manfaat dari keahlian ilmiah yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga tersebut. Para pangeran dan pemimpin pemerintahan kota melihat manfaat potensial dari memiliki keahlian ilmiah yang dikembangkan dengan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah sulit dan mencapai tujuan yang diinginkan.[67]
Pemulihan karya-karya Aristoteles—lebih dari 3.000 halaman yang akhirnya diterjemahkan—mendorong semangat penyelidikan terhadap proses alamiah yang telah mulai muncul pada abad ke-12. Beberapa cendekiawan menganggap karya-karya tersebut sebagai salah satu penemuan dokumen terpenting dalam sejarah intelektual Barat.[68] Richard Dales, misalnya, menyebut penemuan karya-karya Aristoteles sebagai "titik balik dalam sejarah pemikiran Barat".[69] Setelah Aristoteles muncul kembali, komunitas cendekiawan, yang terutama berkomunikasi dalam bahasa Latin, mempercepat proses dan praktik untuk mencoba mendamaikan pemikiran Yunani kuno, terutama gagasan mengenai pemahaman dunia alamiah, dengan pemikiran gereja. Upaya skolastisisme ini berfokus pada penerapan logika Aristotelian dan gagasan mengenai proses alamiah pada bagian-bagian Alkitab serta berusaha membuktikan kelayakan bagian-bagian tersebut melalui akal. Hal ini menjadi misi utama para pengajar dan harapan para mahasiswa.

Budaya universitas berkembang secara berbeda di Eropa utara dan selatan, meskipun universitas utara (terutama Jerman, Prancis dan Britania Raya) serta universitas selatan (terutama Italia) memiliki banyak unsur yang sama. Bahasa Latin menjadi bahasa universitas, digunakan untuk semua teks, kuliah, disputasi, dan ujian. Para profesor mengajar buku-buku Aristoteles mengenai logika, filsafat alam, dan metafisika; sementara Hippokrates, Galen, dan Ibnu Sina digunakan dalam kedokteran. Di luar kesamaan tersebut, perbedaan besar memisahkan utara dan selatan, terutama dalam bidang studi. Universitas Italia berfokus pada hukum dan kedokteran, sedangkan universitas utara berfokus pada seni dan teologi. Kualitas pengajaran dalam berbagai bidang studi berbeda-beda, bergantung pada fokus universitas. Hal ini menyebabkan para cendekiawan melakukan perjalanan ke utara atau selatan berdasarkan minat dan kemampuan mereka. Universitas juga memberikan berbagai jenis gelar. Universitas Inggris, Prancis dan Jerman umumnya memberikan gelar sarjana, dengan pengecualian gelar teologi, yang lebih umum berupa doktor. Universitas Italia terutama memberikan gelar doktor. Perbedaan tersebut dapat dikaitkan dengan tujuan pemegang gelar setelah lulus—di utara, fokus cenderung pada memperoleh posisi mengajar, sedangkan di selatan mahasiswa lebih sering melanjutkan ke posisi profesional.[70] Struktur universitas utara cenderung mengikuti sistem tata kelola fakultas yang dikembangkan di Universitas Paris. Universitas selatan cenderung mengikuti model yang dikendalikan mahasiswa yang dimulai di Universitas Bologna.[71] Di antara universitas selatan, terdapat perbedaan lebih lanjut antara universitas di Italia utara, yang mengikuti pola Bologna sebagai "korporasi cendekiawan yang mengatur diri sendiri dan independen", dan universitas Italia selatan serta Iberia, yang "didirikan melalui piagam kerajaan dan kekaisaran untuk melayani kebutuhan pemerintahan".[72]
Universitas awal modern

Selama Zaman modern awal (sekitar akhir abad ke-15 hingga 1800), universitas-universitas Eropa mengalami pertumbuhan, produktivitas, dan penelitian inovatif yang sangat besar. Pada akhir Abad Pertengahan, sekitar 400 tahun setelah universitas Eropa pertama didirikan, terdapat 29 universitas di seluruh Eropa. Pada abad ke-15, 28 universitas baru didirikan, dan 18 lainnya ditambahkan antara tahun 1500 dan 1625.[75] Laju ini terus berlanjut hingga pada akhir abad ke-18 terdapat sekitar 143 universitas di Eropa, dengan konsentrasi tertinggi di Kekaisaran Romawi Suci (34), negara-negara Italia (26), Prancis (25), dan Spanyol (23)—hampir 500% peningkatan dibandingkan jumlah universitas menjelang akhir Abad Pertengahan. Jumlah tersebut tidak mencakup banyak universitas yang menghilang atau lembaga yang bergabung dengan universitas lain selama periode ini.[76] Identifikasi suatu lembaga sebagai universitas tidak selalu jelas pada awal zaman modern, karena istilah tersebut diterapkan pada semakin banyak lembaga. Istilah "universitas" juga tidak selalu digunakan untuk menyebut lembaga pendidikan tinggi. Di negara-negara Laut Tengah, istilah studium generale masih sering digunakan, sedangkan "Akademi" umum digunakan di negara-negara Eropa Utara.[77]
Penyebaran universitas tidak selalu merupakan perkembangan yang stabil, karena abad ke-17 dipenuhi berbagai peristiwa yang berdampak buruk terhadap perluasan universitas. Banyak perang, terutama Perang Tiga Puluh Tahun, mengganggu lanskap universitas di seluruh Eropa pada waktu yang berbeda. Perang, wabah, kelaparan, pembunuhan raja, dan perubahan kekuasaan serta struktur keagamaan sering berdampak buruk terhadap masyarakat yang mendukung universitas. Konflik internal di dalam universitas sendiri, seperti perkelahian mahasiswa dan ketidakhadiran profesor, juga berfungsi melemahkan lembaga-lembaga tersebut. Universitas enggan meninggalkan kurikulum lama, dan ketergantungan berkelanjutan pada karya-karya Aristoteles bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan seni pada masa itu.[78] Era ini juga dipengaruhi oleh bangkitnya negara-bangsa. Ketika universitas semakin berada di bawah kendali negara, atau dibentuk di bawah naungan negara, model tata kelola fakultas (yang dimulai oleh Universitas Paris) menjadi semakin dominan. Meskipun universitas lama yang dikendalikan mahasiswa masih ada, secara perlahan mereka mulai bergerak menuju organisasi struktural tersebut. Kendali universitas tetap cenderung independen, meskipun kepemimpinan universitas semakin banyak ditunjuk oleh negara.[71]
Meskipun model struktural yang diberikan Universitas Paris, yang mengatur mahasiswa melalui para "magister" fakultas, menjadi standar bagi universitas, penerapan model tersebut setidaknya memiliki tiga bentuk berbeda. Ada universitas yang memiliki sistem fakultas dengan pengajaran yang membahas kurikulum sangat spesifik; model ini cenderung melatih spesialis. Ada model kolegial atau tutorial yang didasarkan pada sistem Universitas Oxford, yang pengajaran dan organisasinya terdesentralisasi serta pengetahuan lebih bersifat generalis. Ada pula universitas yang menggabungkan kedua model tersebut, menggunakan model kolegial tetapi memiliki organisasi terpusat.[79]

Universitas awal modern pada mulanya melanjutkan kurikulum dan penelitian Abad Pertengahan: filsafat alam, logika, kedokteran, teologi, matematika, astronomi, astrologi, hukum, tata bahasa, dan retorika. Aristoteles tetap dominan dalam kurikulum, sedangkan kedokteran juga bergantung pada Galen dan keilmuan Arab.[80] Pentingnya humanisme dalam mengubah keadaan ini tidak dapat diremehkan. Setelah profesor humanis bergabung dengan fakultas universitas, mereka mulai mengubah studi tata bahasa dan retorika melalui studia humanitatis. Profesor humanis berfokus pada kemampuan mahasiswa untuk menulis dan berbicara dengan baik, menerjemahkan dan menafsirkan teks klasik, serta menjalani kehidupan yang terhormat.[81] Cendekiawan lain di universitas turut dipengaruhi pendekatan humanis terhadap pembelajaran dan keahlian linguistik mereka terhadap teks-teks kuno, serta ideologi yang mengadvokasi pentingnya teks-teks tersebut secara mutlak.[82] Profesor kedokteran seperti Niccolò Leoniceno, Thomas Linacre dan William Cop sering dididik dan mengajar dari perspektif humanis, serta menerjemahkan teks-teks kedokteran kuno yang penting. Pola pikir kritis yang diberikan humanisme sangat penting bagi perubahan di universitas dan keilmuan. Misalnya, Andreas Vesalius dididik secara humanis sebelum menghasilkan terjemahan karya Galen, yang gagasannya kemudian ia verifikasi melalui pembedahan sendiri. Dalam hukum, Andreas Alciatus memasukkan perspektif humanis ke dalam Corpus Juris, sementara tulisan humanis Jacques Cujas menjadi bagian penting dari reputasinya sebagai ahli hukum. Philipp Melanchthon mengutip karya Erasmus sebagai panduan yang sangat berpengaruh untuk menghubungkan kembali teologi dengan teks-teks asli, yang penting bagi reformasi di universitas-universitas Protestan.[83] Galileo Galilei, yang mengajar di Universitas Pisa dan Padua, serta Martin Luther, yang mengajar di Universitas Wittenberg (demikian pula Melanchthon), juga memperoleh pendidikan humanis. Tugas kaum humanis adalah secara perlahan meresap ke universitas; meningkatkan kehadiran humanisme dalam jabatan profesor dan kursi akademik, silabus dan buku teks, sehingga karya-karya yang diterbitkan menunjukkan cita-cita humanistik mengenai ilmu pengetahuan dan keilmuan.[84]

Meskipun fokus awal para cendekiawan humanis di universitas adalah menemukan, menjelaskan, dan memasukkan teks serta bahasa kuno ke dalam universitas, dan gagasan-gagasan teks tersebut ke dalam masyarakat secara umum, pengaruh mereka pada akhirnya cukup progresif. Kemunculan teks-teks klasik membawa gagasan baru dan menghasilkan suasana universitas yang lebih kreatif. Fokus pada pengetahuan yang berasal dari diri sendiri, dari manusia, memiliki implikasi langsung terhadap bentuk-bentuk baru keilmuan dan pengajaran, serta menjadi dasar bagi apa yang umumnya dikenal sebagai humaniora. Sikap terhadap pengetahuan ini tidak hanya diwujudkan dalam penerjemahan dan penyebaran teks kuno, tetapi juga dalam adaptasi dan pengembangannya. Misalnya, Vesalius sangat penting dalam mendukung penggunaan Galen, tetapi ia juga memperkaya teks tersebut melalui eksperimen, perbedaan pendapat, dan penelitian lebih lanjut.[85] Penyebaran teks-teks ini, terutama di dalam universitas, sangat dibantu oleh kemunculan mesin cetak dan awal penggunaan bahasa vernakular, yang memungkinkan pencetakan teks yang relatif panjang dengan harga terjangkau.[86]
Menelaah pengaruh humanisme terhadap para cendekiawan dalam bidang kedokteran, matematika, astronomi, dan fisika dapat menunjukkan bahwa humanisme dan universitas merupakan pendorong kuat revolusi ilmiah. Walaupun hubungan antara humanisme dan penemuan ilmiah mungkin bermula di dalam lingkungan universitas, hubungan tersebut secara umum dianggap terputus akibat perubahan sifat ilmu pengetahuan selama Revolusi Ilmiah. Sejarawan seperti Richard S. Westfall berpendapat bahwa tradisionalisme universitas yang terbuka menghambat upaya untuk mengonseptualisasikan kembali alam dan pengetahuan, serta menimbulkan ketegangan yang tidak terhapuskan antara universitas dan ilmuwan.[87] Penolakan terhadap perubahan dalam ilmu pengetahuan ini mungkin menjadi faktor penting yang mendorong banyak ilmuwan meninggalkan universitas dan mencari patron pribadi, biasanya di istana para pangeran, serta bergabung dengan perkumpulan ilmiah yang baru terbentuk.[88]
Sejarawan lain menemukan ketidaksesuaian dalam gagasan bahwa tempat sebagian besar cendekiawan yang memengaruhi revolusi ilmiah memperoleh pendidikan mereka juga merupakan tempat yang menghambat penelitian dan kemajuan ilmu pengetahuan mereka. Bahkan, lebih dari 80% ilmuwan Eropa antara tahun 1450 dan 1650 yang tercantum dalam Dictionary of Scientific Biography pernah mengenyam pendidikan universitas, dan sekitar 45% di antaranya menduduki jabatan di universitas.[89] Fondasi akademik yang diwarisi dari Abad Pertengahan tetap stabil dan memang menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan serta perkembangan yang cukup besar. Universitas menunjukkan keengganan untuk meninggalkan simetri dan kelengkapan yang diberikan sistem Aristotelian, yang efektif sebagai sistem koheren untuk memahami dan menafsirkan dunia. Namun, profesor universitas tetap memiliki otonomi tertentu, setidaknya dalam ilmu pengetahuan, untuk memilih landasan epistemologis dan metode. Misalnya, Melanchthon dan para pengikutnya di Universitas Wittenberg berperan penting dalam mengintegrasikan konstruksi matematika Copernicus ke dalam perdebatan dan pengajaran astronomi.[90] Ada pula contoh mengenai penerimaan epistemologi dan metodologi Cartesian yang relatif singkat tetapi cukup cepat di universitas-universitas Eropa, serta perdebatan yang mengiringi penerimaan tersebut, yang menghasilkan pendekatan lebih mekanistis terhadap masalah ilmiah dan sekaligus menunjukkan keterbukaan terhadap perubahan. Ada banyak contoh yang bertentangan dengan pandangan umum mengenai ketidakmampuan universitas untuk berubah.[91] Meskipun universitas mungkin lambat menerima ilmu dan metodologi baru ketika muncul, ketika menerimanya, universitas membantu memberikan legitimasi dan kewibawaan, serta mendukung perubahan ilmiah dengan menyediakan lingkungan yang stabil untuk pengajaran dan sumber daya material.[92]
Terlepas dari bagaimana ketegangan antara universitas, ilmuwan individual, dan revolusi ilmiah itu sendiri dipandang, terdapat dampak nyata terhadap cara pendidikan universitas dibentuk. Epistemologi Aristotelian menyediakan kerangka koheren bukan hanya bagi pengetahuan dan konstruksi pengetahuan, tetapi juga bagi pelatihan para cendekiawan dalam lingkungan pendidikan tinggi. Penciptaan konstruksi ilmiah baru selama revolusi ilmiah dan tantangan epistemologis yang melekat di dalamnya memunculkan gagasan mengenai otonomi ilmu pengetahuan sekaligus hierarki disiplin. Alih-alih memasuki pendidikan tinggi untuk menjadi "cendekiawan umum" yang menguasai seluruh kurikulum, muncul jenis cendekiawan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai prioritas dan memandangnya sebagai suatu profesi tersendiri. Perbedaan antara mereka yang berfokus pada ilmu pengetahuan dan mereka yang masih berpegang pada gagasan cendekiawan umum memperburuk ketegangan epistemologis yang sebelumnya mulai muncul.[93]
Ketegangan epistemologis antara ilmuwan dan universitas juga diperkuat oleh realitas ekonomi penelitian pada masa itu, ketika ilmuwan individual, perkumpulan, dan universitas bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas. Persaingan juga datang dari pembentukan kolese baru yang didanai patron pribadi dan dirancang untuk memberikan pendidikan gratis kepada masyarakat, atau didirikan oleh pemerintah daerah untuk memberikan alternatif bagi masyarakat yang haus pengetahuan terhadap universitas tradisional.[94] Bahkan ketika universitas mendukung usaha ilmiah baru dan menyediakan pelatihan dasar serta kewenangan bagi penelitian dan kesimpulan, universitas tidak mampu menyaingi sumber daya yang tersedia melalui patron pribadi.[95]
Pada akhir zaman modern awal, struktur dan orientasi pendidikan tinggi telah berubah dengan cara yang sangat mudah dikenali dalam konteks modern. Aristoteles tidak lagi menjadi kekuatan yang memberikan fokus epistemologis dan metodologis bagi universitas, dan orientasi yang lebih mekanistis mulai berkembang. Posisi hierarkis pengetahuan teologis sebagian besar telah tergeser, humaniora telah menjadi unsur tetap, dan keterbukaan baru mulai muncul dalam konstruksi serta penyebaran pengetahuan yang kelak menjadi penting bagi pembentukan negara modern.
Universitas modern

Universitas modern merupakan sistem serikat atau semacam serikat. Aspek sistem universitas ini tidak berubah karena kedudukannya yang periferal dalam ekonomi industri; ketika perdagangan berkembang antarkota di Eropa selama Abad Pertengahan, sementara serikat-serikat lain menghambat perkembangan perdagangan dan akhirnya dihapuskan, serikat para cendekiawan tetap bertahan. Menurut sejarawan Elliot Krause, "Universitas dan serikat cendekiawan mempertahankan kekuasaan mereka atas keanggotaan, pelatihan, dan tempat kerja karena kapitalisme awal tidak tertarik pada hal tersebut."[96]
Pada abad ke-18, universitas menerbitkan jurnal penelitian mereka sendiri, dan pada abad ke-19 muncul model universitas Jerman dan Prancis. Model Jerman, atau model Humboldt, dirancang oleh Wilhelm von Humboldt dan didasarkan pada gagasan liberal Friedrich Schleiermacher mengenai pentingnya kebebasan, seminar, dan laboratorium di universitas. Model universitas Prancis melibatkan disiplin dan kendali ketat atas setiap aspek universitas.
Hingga abad ke-19, agama memainkan peran penting dalam kurikulum universitas; namun, peran agama dalam universitas penelitian menurun selama abad tersebut. Pada akhir abad ke-19, model universitas Jerman telah menyebar ke seluruh dunia. Universitas berfokus pada ilmu pengetahuan pada abad ke-19 dan ke-20 dan menjadi semakin dapat diakses oleh masyarakat luas. Di Amerika Serikat, Universitas Johns Hopkins merupakan universitas pertama yang mengadopsi model universitas penelitian (Jerman) dan menjadi pelopor penerapan model tersebut oleh sebagian besar universitas Amerika. Ketika Johns Hopkins didirikan pada tahun 1876, "hampir seluruh fakultasnya pernah belajar di Jerman".[97] Di Inggris, peralihan dari Revolusi Industri menuju modernitas menyaksikan munculnya kolese universitas sipil baru dengan penekanan pada ilmu pengetahuan dan teknik pada akhir abad ke-19, yang kemudian menjadi universitas redbrick pada awal abad ke-20.[98] Di Skotlandia, Andersonian Institute, yang didirikan pada akhir abad ke-18 dengan penekanan serupa, menjadi Universitas Strathclyde pada 1960-an sebagai universitas baru pertama di Skotlandia sejak Edinburgh pada abad ke-16.[99] Inggris juga mendirikan universitas di seluruh dunia, dan pendidikan tinggi menjadi tersedia bagi masyarakat luas, bukan hanya di Eropa.
Pada tahun 1963, Laporan Robbins mengenai universitas di Britania Raya menyimpulkan bahwa lembaga-lembaga tersebut harus memiliki empat "tujuan utama yang penting bagi sistem yang seimbang: pengajaran keterampilan; pengembangan kemampuan umum pikiran agar menghasilkan bukan sekadar spesialis melainkan laki-laki dan perempuan yang berbudaya; mempertahankan penelitian dalam keseimbangan dengan pengajaran, karena pengajaran tidak boleh dipisahkan dari kemajuan pembelajaran dan pencarian kebenaran; serta menyampaikan budaya bersama dan standar kewarganegaraan bersama."[100]

Pada awal abad ke-21, muncul kekhawatiran mengenai meningkatnya manajerialisasi dan standardisasi universitas di seluruh dunia. Dalam konteks ini, model manajemen neoliberal dikritik karena menciptakan "universitas korporat (di mana) kekuasaan dialihkan dari fakultas kepada manajer, pembenaran ekonomi mendominasi, dan 'hasil akhir' yang sudah dikenal mengalahkan persoalan pedagogis atau intelektual".[101] Pemahaman akademisi mengenai waktu, kesenangan pedagogis, panggilan, dan kolegialitas disebut sebagai cara yang mungkin untuk mengurangi masalah tersebut.[102]
Universitas nasional

Universitas nasional umumnya merupakan universitas yang didirikan atau dijalankan oleh negara nasional, tetapi pada saat yang sama merupakan lembaga otonom negara yang berfungsi sebagai badan yang sepenuhnya independen di dalam negara yang sama. Beberapa universitas nasional memiliki hubungan erat dengan aspirasi budaya, agama, atau politik nasional, misalnya National University of Ireland, yang sebagian terbentuk dari Universitas Katolik Irlandia yang didirikan hampir segera dan secara khusus sebagai tanggapan terhadap universitas non-denominasi yang didirikan di Irlandia pada tahun 1850. Pada tahun-tahun menjelang Pemberontakan Paskah, dan sebagian besar sebagai akibat kebangkitan para pemikir Romantisisme Gaelik, NUI mengumpulkan banyak informasi mengenai bahasa Irlandia dan budaya Irlandia. Reformasi di Argentina merupakan hasil dari Reformasi Universitas tahun 1918 dan reformasi selanjutnya dengan memasukkan nilai-nilai yang mengupayakan sistem pendidikan tinggi yang lebih setara dan sekuler.
Universitas antarpemerintah
Universitas yang dibentuk melalui perjanjian bilateral atau multilateral antarnegara merupakan organisasi antarpemerintah. Contohnya adalah Academy of European Law, yang menawarkan pelatihan hukum Eropa kepada pengacara, hakim, barrister, solicitor, penasihat hukum internal, dan akademisi. EUCLID (Pôle Universitaire Euclide, Euclid University) didirikan sebagai universitas dan organisasi payung yang didedikasikan untuk pembangunan berkelanjutan di negara-negara penandatangan, sedangkan Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa terlibat dalam upaya menyelesaikan masalah global mendesak yang menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa, masyarakatnya, dan negara-negara anggotanya. Institut Universitas Eropa merupakan universitas pascasarjana yang mengkhususkan diri dalam ilmu-ilmu sosial dan secara resmi merupakan organisasi antarpemerintah yang didirikan oleh negara-negara anggota Uni Eropa.
Organisasi

Meskipun setiap lembaga diorganisasikan secara berbeda, hampir semua universitas memiliki dewan pengawas; seorang presiden, kanselir, atau rektor; setidaknya satu wakil presiden, wakil kanselir, atau wakil rektor; dan dekan dari berbagai divisi. Universitas umumnya dibagi menjadi sejumlah departemen akademik, sekolah, atau fakultas. Mereka meninjau permintaan keuangan dan usulan anggaran, kemudian mengalokasikan dana untuk setiap universitas dalam sistem tersebut. Mereka juga menyetujui program pengajaran baru dan membatalkan atau mengubah program yang sudah ada. Selain itu, mereka merencanakan pertumbuhan dan pengembangan terkoordinasi lebih lanjut dari berbagai lembaga pendidikan tinggi di negara bagian atau negara tersebut. Banyak universitas di dunia memiliki tingkat otonomi keuangan, penelitian, dan pedagogis yang cukup besar. Universitas swasta didanai secara pribadi dan umumnya memiliki independensi yang lebih luas dari kebijakan negara.
Di seluruh dunia

Pendanaan dan organisasi universitas sangat bervariasi antarnegara di seluruh dunia. Di beberapa negara, universitas sebagian besar didanai oleh negara, sementara di negara lain pendanaan dapat berasal dari donor atau biaya yang harus dibayar oleh mahasiswa yang mengikuti universitas tersebut. Di beberapa negara, sebagian besar mahasiswa berkuliah di universitas yang berada di kota tempat tinggal mereka, sedangkan di negara lain universitas menarik mahasiswa dari seluruh dunia dan dapat menyediakan akomodasi universitas bagi mahasiswa.[103]
Klasifikasi

Definisi universitas sangat bervariasi, bahkan di dalam beberapa negara. Jika terdapat ketentuan yang jelas, biasanya ditetapkan oleh lembaga pemerintah. Misalnya:
Di Australia, Tertiary Education Quality and Standards Agency (TEQSA) merupakan regulator nasional independen sektor pendidikan tinggi Australia. Hak-hak mahasiswa di universitas juga dilindungi oleh Education Services for Overseas Students Act (ESOS).
Di Amerika Serikat tidak terdapat definisi nasional yang terstandardisasi untuk istilah university, meskipun istilah tersebut secara tradisional digunakan untuk menunjuk lembaga penelitian dan pernah dicadangkan bagi lembaga penelitian yang memberikan gelar doktor. Beberapa negara bagian, seperti Massachusetts, hanya akan memberikan suatu sekolah "status universitas" jika sekolah tersebut memberikan setidaknya dua gelar doktor.[104]
Di Britania Raya, Privy Council bertanggung jawab menyetujui penggunaan kata university dalam nama suatu lembaga, berdasarkan ketentuan Further and Higher Education Act 1992.[105]

Di India, telah dibuat penetapan baru berupa universitas yang dianggap setara untuk lembaga pendidikan tinggi yang bukan universitas tetapi bekerja pada standar yang sangat tinggi dalam bidang studi tertentu ("Suatu Lembaga Pendidikan Tinggi, selain universitas, yang bekerja pada standar sangat tinggi dalam bidang studi tertentu, dapat dinyatakan oleh Pemerintah Pusat atas nasihat University Grants Commission sebagai suatu Lembaga (Dianggap sebagai universitas). Lembaga yang 'dianggap sebagai universitas' menikmati status akademik dan hak istimewa universitas.[107] Melalui ketentuan ini, banyak sekolah yang bersifat komersial dan didirikan hanya untuk memanfaatkan permintaan pendidikan tinggi telah bermunculan.[108]
Di Kanada, college umumnya mengacu pada lembaga dua tahun yang tidak memberikan gelar, sedangkan university mengacu pada lembaga empat tahun yang memberikan gelar. Universitas dapat diklasifikasikan lagi (seperti dalam peringkat Macleans) menjadi universitas penelitian besar dengan banyak program pemberi gelar PhD dan sekolah kedokteran (misalnya McGill University); universitas "komprehensif" yang memiliki beberapa program PhD tetapi tidak berorientasi pada penelitian (seperti Waterloo); dan universitas yang lebih kecil, terutama untuk pendidikan sarjana (seperti St. Francis Xavier).
Di Jerman, universitas merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki kewenangan untuk memberikan gelar sarjana, magister, dan PhD. Lembaga tersebut secara eksplisit diakui sebagai universitas berdasarkan hukum dan tidak dapat didirikan tanpa persetujuan pemerintah. Istilah Universität (istilah Jerman untuk universitas) dilindungi oleh hukum dan setiap penggunaan tanpa persetujuan resmi merupakan tindak pidana. Sebagian besar merupakan lembaga publik, meskipun terdapat beberapa universitas swasta. Universitas-universitas tersebut selalu merupakan universitas penelitian. Selain universitas tersebut, Jerman memiliki lembaga pendidikan tinggi lainnya (Hochschule, Fachhochschule). Fachhochschule berarti lembaga pendidikan tinggi yang mirip dengan politeknik dalam sistem pendidikan Inggris sebelumnya; istilah bahasa Inggris yang digunakan untuk lembaga-lembaga Jerman tersebut biasanya adalah university of applied sciences. Lembaga tersebut dapat memberikan gelar magister tetapi tidak dapat memberikan gelar PhD. Lembaga tersebut mirip dengan model universitas pengajaran dengan penelitian yang lebih sedikit dan penelitian yang dilakukan sangat praktis. Hochschule dapat merujuk pada berbagai jenis lembaga, yang sering kali mengkhususkan diri dalam bidang tertentu (misalnya musik, seni rupa, bisnis). Mereka mungkin memiliki atau tidak memiliki kewenangan untuk memberikan gelar PhD, tergantung pada peraturan pemerintah masing-masing. Jika memberikan gelar PhD, peringkatnya dianggap setara dengan universitas biasa (Universität); jika tidak, peringkatnya setara dengan universitas ilmu terapan.
Penggunaan sehari-hari
Dalam penggunaan sehari-hari, istilah universitas dapat digunakan untuk menggambarkan suatu tahap dalam kehidupan seseorang: "Ketika saya kuliah di universitas..." (di Amerika Serikat dan Irlandia, istilah college sering digunakan sebagai gantinya: "Ketika saya kuliah..."). Di Irlandia, Australia, Selandia Baru, Kanada, Britania Raya, Nigeria, Belanda, Spanyol, dan negara-negara berbahasa Jerman, university sering disingkat menjadi uni. Di Ghana, Selandia Baru, Bangladesh, dan Afrika Selatan, istilah ini terkadang disebut "varsity" (meskipun penggunaan istilah ini telah menjadi tidak umum di Selandia Baru dalam beberapa tahun terakhir). "Varsity" juga merupakan istilah yang umum digunakan di Britania Raya pada abad ke-19.[butuh rujukan]
Biaya
Di banyak negara, mahasiswa diwajibkan membayar biaya kuliah. Banyak mahasiswa berusaha memperoleh hibah mahasiswa untuk menanggung biaya universitas. Pada tahun 2016, rata-rata saldo pinjaman mahasiswa yang masih harus dibayar per peminjam di Amerika Serikat adalah US$30.000.[109] Di banyak negara bagian AS, biaya yang harus ditanggung mahasiswa diperkirakan akan meningkat akibat berkurangnya pendanaan negara untuk universitas negeri.[110] Banyak universitas di Amerika Serikat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengajukan beasiswa keuangan guna membantu membayar biaya kuliah berdasarkan prestasi akademik.
Terdapat beberapa pengecualian utama terhadap biaya kuliah. Di banyak negara Eropa, mahasiswa dapat menempuh pendidikan tanpa biaya kuliah. Universitas negeri di negara-negara Nordik sepenuhnya bebas biaya kuliah hingga sekitar tahun 2005. Denmark, Swedia, dan Finlandia kemudian menerapkan biaya kuliah bagi mahasiswa asing. Warga negara anggota UE dan EEA serta warga negara Swiss tetap dibebaskan dari biaya kuliah, sementara jumlah hibah publik yang diberikan kepada mahasiswa asing berprestasi ditingkatkan untuk mengimbangi sebagian dampaknya.[111] Situasi di Jerman serupa; universitas negeri biasanya tidak mengenakan biaya kuliah selain biaya administrasi yang kecil. Namun, untuk program gelar pascasarjana tingkat profesional, terkadang dikenakan biaya kuliah. Sebaliknya, universitas swasta hampir selalu mengenakan biaya kuliah.
Lihat pula
- Universitas alternatif
- Alumni
- Sekolah seni
- Universitas Katolik
- Peringkat perguruan tinggi dan universitas
- Universitas korporat
- Universitas internasional
- Universitas hibah tanah
- Perguruan tinggi seni liberal
- Daftar disiplin akademik
- Daftar ujian masuk perguruan tinggi dan universitas
- Daftar universitas dan perguruan tinggi
- Universitas abad pertengahan
- Universitas kepausan
- Kuadrivium
- Wisata sains
- Retensi mahasiswa universitas
- Sistem universitas
- Universitas perkotaan
Referensi
- ↑ "3.1". WordNet Search. Diakses tanggal 30 Agustus 2023.
- ↑
"Universities" . Encyclopædia Britannica (Edisi 11). 1911. - ↑ Den Heijer, Alexandra (2011). Managing the University Campus: Information to Support Real Estate Decisions. Academische Uitgeverij Eburon. ISBN 9789059724877. Many of the medieval universities in Western Europe were born under the aegis of the Catholic Church, usually as cathedral schools or by papal bull as Studia Generali.
- ↑ A. Lamport, Mark (2015). Encyclopedia of Christian Education. Rowman & Littlefield. hlm. 484. ISBN 9780810884939. All the great European universities-Oxford, to Paris, to Cologne, to Prague, to Bologna—were established with close ties to the Church.
- ↑ B M. Leonard, Thomas (2013). Encyclopedia of the Developing World. Routledge. hlm. 1369. ISBN 9781135205157. Europe established schools in association with their cathedrals to educate priests, and from these emerged eventually the first universities of Europe, which began forming in the eleventh and twelfth centuries.
- ↑ Gavroglu, Kostas (2015). Sciences in the Universities of Europe, Nineteenth and Twentieth Centuries: Academic Landscapes. Springer. hlm. 302. ISBN 9789401796361.
- ↑ GA. Dawson, Patricia (2015). First Peoples of the Americas and the European Age of Exploration. Cavendish Square Publishing. hlm. 103. ISBN 9781502606853.
- ↑ "The University from the 12th to the 20th century - University of Bologna". www.unibo.it. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 April 2021. Diakses tanggal 23 Maret 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Top Universities Diarsipkan 17 Januari 2009 di Wayback Machine World University Rankings Diakses 6 Januari 2010
- ↑ Paul L. Gaston (2010). The Challenge of Bologna. Stylus. hlm. 18. ISBN 978-1-57922-366-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Maret 2021. Diakses tanggal 7 Juli 2016.
- ↑ Hunt Janin: "The university in medieval life, 1179–1499", McFarland, 2008, ISBN0-7864-3462-7, hlm. 55f.
- ↑ de Ridder-Symoens, Hilde: A History of the University in Europe: Volume 1, Universities in the Middle Ages Diarsipkan 13 Desember 2021 di Wayback Machine, Cambridge University Press, 1992, ISBN0-521-36105-2, hlm. 47–55
- ↑ Lewis, Charlton T.; Short, Charles (1966) [1879], A Latin Dictionary, Oxford: Clarendon Press
- ↑ Colish, Marcia L. (1997). Medieval Foundations of the Western Intellectual Tradition, 400-1400. New Haven, Connecticut, USA: Yale University Press. hlm. 267.
- ↑ "university, n.", OED Online (Edisi 3rd), Oxford: Oxford University Press, 2010, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2021, diakses tanggal 27 Agustus 2013
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "university, n.", OED Online (Edisi 3rd), Oxford: Oxford University Press, 2010, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2021, diakses tanggal 27 Agustus 2013, ...In the Middle Ages: a body of teachers and students engaged in giving and receiving instruction in the higher branches of study ... and regarded as a scholastic guild or corporation.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Bandingkan "University", Oxford English Dictionary (Edisi 2nd), Oxford: Oxford University Press, 1989, The whole body of teachers and scholars engaged, at a particular place, in giving and receiving instruction in the higher branches of learning; such persons associated together as a society or corporate body, with definite organization and acknowledged powers and privileges (esp. that of conferring degrees), and forming an institution for the promotion of education in the higher or more important branches of learning.... - ↑ Ridder-Symoens, Hilde de (1992). A History of the University in Europe (dalam bahasa Inggris). Vol. 1: Universities in the Middle Ages. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-54113-8.
- ↑ Malagola, C. (1888), Statuti delle Università e dei Collegi dello Studio Bolognese. Bologna: Zanichelli.
- ↑ Rüegg, W. (2003). "Chapter 1: Themes". Dalam De Ridder-Symoens, H. (ed.). A History of the University in Europe. Vol. 1. Cambridge University Press. hlm. 4–34. ISBN 0-521-54113-1.
- ↑ Watson, P. (2005), Ideas. London: Weidenfeld and Nicolson, hlm. 373
- ↑ "Magna Charta delle Università Europee". .unibo.it. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2010. Diakses tanggal 28 Mei 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Metz, Thaddeus (2010). "A Dilemma Regarding Academic Freedom and Public Accountability in Higher Education: Academic Freedom and Public Accountability". Journal of Philosophy of Education. 44 (4): 529–549. doi:10.1111/j.1467-9752.2010.00776.x. Diakses tanggal 31 Maret 2026.
- ↑ "The School of Alexandria - Part I - An Introduction to the School of Alexandria". www.copticchurch.net. Retrieved 2017-09-17.
- ↑ "The Formation of the Hellenic Christian Mind" oleh Demetrios Constantelos, ISBN0-89241-588-6: "The fifth century marked a definite turning point in Byzantine higher education. Theodosios ΙΙ founded in 425 a major university with 31 chairs for law, philosophy, medicine, arithmetic, geometry, astronomy, music, rhetoric and other subjects. Fifteen chairs were assigned to Latin and 16 to Greek. The university was reorganized by Michael III (842–867) and flourished down to the fourteenth century".
- ↑ Smith, F Harold (2013). The Buddhist Way of Life. Routledge. hlm. 111–112. ISBN 978-1-135-02930-2.
- ↑ Chandra, Satish (2004). Volume 1 of Medieval India: From Sultanat to the Mughals. Har-Anand Publications. hlm. 41. ISBN 978-81-241-1064-5.
- ↑ Bhattacharya, Debaditya (3 September 2018). The Idea of the University: Histories and Contexts (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-0-429-81428-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lowe, Roy; Yasuhara, Yoshihito (4 Oktober 2016). The Origins of Higher Learning: Knowledge networks and the early development of universities (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 46. ISBN 978-1-317-54327-5.
- ↑ Geschichte der Stadt Speyer. Vol 1, Kohlhammer Verlag, Stuttgart 1982, ISBN3-17-007522-5
- ↑ C. Warren Hollister, Henry I (Yale English Monarchs), 2001 hlm. 25.
- ↑ Riché 1978, hlm. 296–7 harv error: tanpa target: CITEREFRiché1978 (bantuan)
- ↑ Kottje 1999 harv error: tanpa target: CITEREFKottje1999 (bantuan)
- ↑ Frew, Donald (1999). "Harran: Last Refuge of Classical Paganism". The Pomegranate: The International Journal of Pagan Studies. 13 (9): 17–29. doi:10.1558/pome.v13i9.17.
- ↑ Verger, Jacques: "Patterns", dalam Ridder-Symoens, Hilde de (ed.): A History of the University in Europe. Vol. I: Universities in the Middle Ages, Cambridge University Press, 2003, ISBN978-0-521-54113-8, hlm. 35–76 (35)
- ↑ Esposito, John (2003). The Oxford Dictionary of Islam. Oxford University Press. hlm. 328. ISBN 978-0-1951-2559-7.
- ↑ Joseph, S, dan Najmabadi, A. Encyclopedia of Women & Islamic Cultures: Economics, education, mobility, and space. Brill, 2003, hlm. 314.
- ↑ Swartley, Keith. Encountering the World of Islam. Authentic, 2005, hlm. 74.
- ↑ A History of the University in Europe. Vol. I: Universities in the Middle Ages. Cambridge University Press, 2003, 35
- ↑ Petersen, Andrew: Dictionary of Islamic Architecture, Routledge, 1996, ISBN978-0-415-06084-4, hlm. 87 (entri "Fez"):
Masjid Quaraouiyine, didirikan pada tahun 859, merupakan masjid paling terkenal di Maroko dan terus menerima investasi dari para penguasa Muslim.
- ↑ Lulat, Y. G.-M.: A History Of African Higher Education From Antiquity To The Present: A Critical Synthesis Studies in Higher Education, Greenwood Publishing Group, 2005, ISBN978-0-313-32061-3, hlm. 70.
- 1 2 Belhachmi, Zakia: "Gender, Education, and Feminist Knowledge in al-Maghrib (North Africa) – 1950–70", Journal of Middle Eastern and North African Intellectual and Cultural Studies, Vol. 2–3, 2003, hlm. 55–82 (65).
- ↑ Shillington, Kevin: Encyclopedia of African History, Vol. 2, Fitzroy Dearborn, 2005, ISBN978-1-57958-245-6, hlm. 1025.
- 1 2 Lulat, Y. G.-M.: A History Of African Higher Education From Antiquity To The Present: A Critical Synthesis, Greenwood Publishing Group, 2005, ISBN978-0-313-32061-3, hlm. 154–157
- ↑ Park, Thomas K.; Boum, Aomar: Historical Dictionary of Morocco, ed. ke-2, Scarecrow Press, 2006, ISBN978-0-8108-5341-6, hlm. 348.
- ↑ Nuria Sanz, Sjur Bergan (1 Januari 2006). The heritage of European universities, Volume 548. Council of Europe. hlm. 28. ISBN 9789287161215. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 September 2015.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Makdisi, George (April–Juni 1989). "Scholasticism and Humanism in Classical Islam and the Christian West". Journal of the American Oriental Society. 109 (2): 175–182 [175–77]. doi:10.2307/604423. JSTOR 604423.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Goddard, Hugh (2000). A History of Christian-Muslim Relations. Edinburgh University Press. hlm. 99. ISBN 978-0-7486-1009-9.
- ↑ Daniel, Norman (1984). "Review of "The Rise of Colleges. Institutions of Learning in Islam and the West by George Makdisi"". Journal of the American Oriental Society. 104 (3): 586–8. doi:10.2307/601679. JSTOR 601679. Professor Makdisi argues that there is a missing link in the development of Western scholasticism, and that Arab influences explain the "dramatically abrupt" appearance of the "sic et non" method. Many medievalists will think the case overstated, and doubt that there is much to explain.
- ↑ Kuru, Ahmet T. (2019). Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison. New York, NY: Cambridge University Press. hlm. 161. ISBN 978-1-108-41909-3.
- ↑ Lowe, Roy; Yasuhara, Yoshihito (2013), "The origins of higher learning: time for a new historiography?", dalam Feingold, Mordecai (ed.), History of Universities, vol. 27, Oxford: Oxford University Press, hlm. 1–19, ISBN 9780199685844, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 September 2015
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Storia d'Italia. Vol. 4. Torino: UTET. 7 Agustus 1981. hlm. 122. ISBN 88-02-03568-7.
- ↑ Delle Donne, Fulvio (2010). Storia dello Studium di Napoli in età sveva (dalam bahasa Italia). Mario Adda Editore. hlm. 9–10. ISBN 978-8880828419.
- ↑ Rüegg, Walter: "Foreword. The University as a European Institution", dalam A History of the University in Europe. Vol. 1: Universities in the Middle Ages, Cambridge University Press, 1992, ISBN0-521-36105-2, hlm. XIX–XX
- ↑ Verger, Jacques. "The Universities and Scholasticism," dalam The New Cambridge Medieval History: Volume V c. 1198–c. 1300. Cambridge University Press, 2007, 257.
- ↑ Riché, Pierre (1978): "Education and Culture in the Barbarian West: From the Sixth through the Eighth Century", Columbia: University of South Carolina Press, ISBN0-87249-376-8, hlm. 126–127, 282–298
- ↑ Gordon Leff, Paris and Oxford Universities in the Thirteenth and Fourteenth Centuries. An Institutional and Intellectual History, Wiley, 1968.
- ↑ Johnson, P. (2000). The Renaissance: a short history. Modern Library chronicles (Modern Library ed.). New York: Modern Library, hlm. 9.
- ↑ Thomas Oestreich (1913). "Pope St. Gregory VII". Dalam Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.
- ↑ Jacques Verger (16 Oktober 2003). "Patterns". Dalam Hilde de Ridder-Symoens; Walter Rüegg (ed.). A History of the University in Europe. Vol. 1, Universities in the Middle Ages. Cambridge University Press. hlm. 48. ISBN 9780521541138.
- ↑ Jacques Verger (16 Oktober 2003). "Patterns". Dalam Hilde de Ridder-Symoens; Walter Rüegg (ed.). A History of the University in Europe. Vol. 1, Universities in the Middle Ages. Cambridge University Press. hlm. 51. ISBN 9780521541138.
- ↑ Jacques Verger (16 Oktober 2003). "Patterns". Dalam Hilde de Ridder-Symoens; Walter Rüegg (ed.). A History of the University in Europe. Vol. 1, Universities in the Middle Ages. Cambridge University Press. hlm. 52–53. ISBN 9780521541138.
- ↑ Makdisi, G. (1981), Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West. Edinburgh: Edinburgh University Press.
- ↑ Daun, H. dan Arjmand, R. (2005), Islamic Education, hlm. 377–388 dalam J. Zajda, editor, International Handbook of Globalisation, Education and Policy Research. Netherlands: Springer.
- ↑ Huff, T. (2003), The Rise of Early Modern Science. Cambridge University Press, hlm. 122
- ↑ Kerr, Clark (2001). The Uses of the University. Harvard University Press. hlm. 16 and 145. ISBN 978-0674005327.
- ↑ Rüegg, W. (2003), Mythologies and Historiography of the Beginnings, hlm. 4–34 dalam H. De Ridder-Symoens, editor, A History of the University in Europe; Vol 1, Cambridge University Press. hlm. 12
- ↑ Grendler, P. F. (2004). "The universities of the Renaissance and Reformation". Renaissance Quarterly, 57, hlm. 2.
- ↑ Rubenstein, R. E. (2003). Aristotle's children: how Christians, Muslims, and Jews rediscovered ancient wisdom and illuminated the dark ages (1st ed.). Orlando, Florida: Harcourt, hlm. 16–17.
- ↑ Dales, R. C. (1990). Medieval discussions of the eternity of the world (Vol. 18). Brill Archive, hlm. 144.
- ↑ Grendler, P. F. (2004). "The universities of the Renaissance and Reformation". Renaissance Quarterly, 57, hlm. 2–8.
- 1 2 Scott, J. C. (2006). "The mission of the university: Medieval to Postmodern transformations". Journal of Higher Education. 77 (1): 10–13. doi:10.1353/jhe.2006.0007. S2CID 144337137.
- ↑ Pryds, Darleen (2000), "Studia as Royal Offices: Mediterranean Universities of Medieval Europe", dalam Courtenay, William J.; Miethke, Jürgen; Priest, David B. (ed.), Universities and Schooling in Medieval Society, Education and Society in the Middle Ages and Renaissance, vol. 10, Leiden: Brill, hlm. 84–85, ISBN 9004113517
- ↑ "University League Tables 2021". thecompleteuniversityguide.co.uk (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Mei 2021.
- ↑ "The best UK universities 2021 – rankings". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 5 September 2020. Diakses tanggal 2 Mei 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Grendler, P. F. (2004). The universities of the Renaissance and Reformation. Renaissance Quarterly, 57, hlm. 1–3.
- ↑ Frijhoff, W. (1996). Patterns. Dalam H. D. Ridder-Symoens (Ed.), Universities in early modern Europe, 1500-1800, A history of the university in Europe. Cambridge [England]: Cambridge University Press, hlm. 75.
- ↑ Frijhoff, W. (1996). Patterns. Dalam H. D. Ridder-Symoens (Ed.), Universities in early modern Europe, 1500-1800, A history of the university in Europe. Cambridge [England]: Cambridge University Press, hlm. 47.
- ↑ Grendler, P. F. (2004). The universities of the Renaissance and Reformation. Renaissance Quarterly, 57, hlm. 23.
- ↑ Frijhoff, W. (1996). Patterns. Dalam H. D. Ridder-Symoens (Ed.), Universities in early modern Europe, 1500-1800, A history of the university in Europe. Cambridge [England]: Cambridge University Press, hlm. 65.
- ↑ Ruegg, W. (1992). Epilogue: the rise of humanism. Dalam H. D. Ridder-Symoens (Ed.), Universities in the Middle Ages, A history of the university in Europe. Cambridge [England]: Cambridge University Press.
- ↑ Grendler, P. F. (2002). The universities of the Italian renaissance. Baltimore: Johns Hopkins University Press, hlm. 223.
- ↑ Grendler, P. F. (2002). The universities of the Italian renaissance. Baltimore: Johns Hopkins University Press, hlm. 197.
- ↑ Ruegg, W. (1996). Themes. Dalam H. D. Ridder-Symoens (Ed.), Universities in Early Modern Europe, 1500-1800, A history of the university in Europe. Cambridge [England]: Cambridge University Press, hlm. 33–39.
- ↑ Grendler, P. F. (2004). The universities of the Renaissance and Reformation. Renaissance Quarterly, 57, hlm. 12–13.
- ↑ Bylebyl, J. J. (2009). Disputation and description in the renaissance pulse controversy. Dalam A. Wear, R. K. French, & I. M. Lonie (Eds.), The medical renaissance of the sixteenth century (1st ed., hlm. 223–245). Cambridge University Press.
- ↑ Füssel, S. (2005). Gutenberg and the Impact of Printing (English ed.). Aldershot, Hampshire: Ashgate Pub., hlm. 145.
- ↑ Westfall, R. S. (1977). The construction of modern science: mechanisms and mechanics. Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 105.
- ↑ Ornstein, M. (1928). The role of scientific societies in the seventeenth century. Chicago, IL: University of Chicago Press.
- ↑ Gascoigne, J. (1990). A reappraisal of the role of the universities in the Scientific Revolution. Dalam D. C. Lindberg & R. S. Westman (Eds.), Reappraisals of the Scientific Revolution, hlm. 208–209.
- ↑ Westman, R. S. (1975). "The Melanchthon circle:, rheticus, and the Wittenberg interpretation of the Copernicantheory". Isis. 66 (2): 164–193. doi:10.1086/351431. S2CID 144116078.
- ↑ Gascoigne, J. (1990). A reappraisal of the role of the universities in the Scientific Revolution. Dalam D. C. Lindberg & R. S. Westman (Eds.), Reappraisals of the Scientific Revolution, hlm. 210–229.
- ↑ Gascoigne, J. (1990). A reappraisal of the role of the universities in the Scientific Revolution. Dalam D. C. Lindberg & R. S. Westman (Eds.), Reappraisals of the Scientific Revolution, hlm. 245–248.
- ↑ Feingold, M. (1991). Tradition vs novelty: universities and scientific societies in the early modern period. Dalam P. Barker & R. Ariew (Eds.), Revolution and continuity: essays in the history and philosophy of early modern science, Studies in philosophy and the history of philosophy. Washington, D.C.: Catholic University of America Press, hlm. 53–54.
- ↑ Feingold, M. (1991). Tradition vs novelty: universities and scientific societies in the early modern period. Dalam P. Barker & R. Ariew (Eds.), Revolution and continuity: essays in the history and philosophy of early modern science, Studies in philosophy and the history of philosophy. Washington, D.C.: Catholic University of America Press, hlm. 46–50.
- ↑ See; Baldwin, M (1995). "The snakestone experiments: an early modern medical debate". Isis. 86 (3): 394–418. doi:10.1086/357237. PMID 7591659. S2CID 6122500.
- ↑ Krause, Elliot (1996). Death of Guilds:Professions, States, and The Advance of Capitalism, 1930 to The Present. Yale University Press, New Haven and London.
- ↑ Menand, Louis; Reitter, Paul; Wellmon, Chad (2017). "General Introduction". The Rise of the Research University: A Sourcebook. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 2–3. ISBN 9780226414850. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2017. Diakses tanggal 25 Januari 2017.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link) - ↑ Egiins, Heather (2010). Access and Equity, Comparative Perspectives. Rotterdam, Netherlands: Sense. hlm. 11–12. ISBN 978-94-6091-184-2.
- ↑ Oxford Dictionary of National Biography (Edisi elektronik). Oxford University Press.
{{cite encyclopedia}}:|title=tidak ada atau kosong berlangganan atau keanggotan Perpustakaan Umum Britania Raya diperlukan - ↑ Anderson, Robert (Maret 2010). "The 'Idea of a University' today". History & Policy. United Kingdom. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Maggie Berg & Barbara Seeber. The Slow Professor: Challenging the Culture of Speed in the Academy, hlm. x. Toronto: Toronto University Press. 2016.
- ↑ Maggie Berg & Barbara Seeber. The Slow Professor: Challenging the Culture of Speed in the Academy. Toronto: Toronto University Press. 2016. (passim)
- ↑ "Basic Classification Technical Details". Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching. Diakses tanggal 20 Maret 2007.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Massachusetts Board of Education: Degree-granting regulations for independent institutions of higher education" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2010. Diakses tanggal 28 Mei 2010.
- ↑ "Higher Education". UKOOA. Privy Council Office. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Februari 2009. Diakses tanggal 6 Desember 2007.
- ↑ "La UBA, la mejor en el ranking de América Latina". Página 12 (dalam bahasa Spanyol). 5 Juni 2024. Diakses tanggal 19 September 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Deemed University". mhrd.gov.in. MHRD.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ — Peter Drucker. "'Deemed' status distributed freely during Arjun Singh's tenure - LearnHub News". Learnhub.com. Diakses tanggal 29 Juli 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Students are graduating with $30,000 in loans". 18 Oktober 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 21 September 2017. Diakses tanggal 21 September 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Students at Public Universities, Colleges Will Bear the Burden of Reduced Funding for Higher Education". Time. 25 Januari 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2013. Diakses tanggal 14 Januari 2013.
- ↑ "Studieavgifter i högskolan" Diarsipkan 15 Mei 2013 di Wayback Machine SOU 2006:7 (dalam bahasa Swedia)
Bacaan lebih lanjut
- Aronowitz, Stanley (2000). The Knowledge Factory: Dismantling the Corporate University and Creating True Higher Learning. Boston: Beacon Press. ISBN 978-0-8070-3122-3.
- Barrow, Clyde W. (1990). Universities and the Capitalist State: Corporate Liberalism and the Reconstruction of American Higher Education, 1894–1928. Madison, Wis: University of Wisconsin Press. ISBN 978-0-299-12400-7.
- Diamond, Sigmund (1992). Compromised Campus: The Collaboration of Universities with the Intelligence Community, 1945–1955. New York, NY: Oxford Univ. Press. ISBN 978-0-19-505382-1.
- Pedersen, Olaf (1997). The First Universities: Studium Generale and the Origins of University Education in Europe. Cambridge: Cambridge Univ. Press. ISBN 978-0-521-59431-8.
- Ridder-Symoens, Hilde de, ed. (1992). A History of the University in Europe. Vol. 1: Universities in the Middle Ages. Rüegg, Walter (general ed.). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-36105-7.
- Ridder-Symoens, Hilde de, ed. (1996). A History of the University in Europe. Vol. 2: Universities in Early Modern Europe (1500–1800). Rüegg, Walter (general ed.). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-36106-4.
- Rüegg, Walter, ed. (2004). A History of the University in Europe. Vol. 3: Universities in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries (1800–1945). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-36107-1.
- Segre, Michael (2015). Higher Education and the Growth of Knowledge: A Historical Outline of Aims and Tensions. New York: Routledge. ISBN 978-0-415-73566-7.
Pranala luar
"Universities" . Encyclopædia Britannica (Edisi 11). 1911.