Senin, 02 November 2026
02:10 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Tugu Muda

Tugu Muda

monumen di Indonesia

Bagikan:
Tugu Muda
330px-Tugu_Muda_Landscape.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemandangan Tugu Muda
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Tugu_Muda&revid=30001870&groups=_b75cc64a6c4cab022e6828381249920f01089789&parser=parsoid
Peta interaktif area Tugu Muda
Informasi umum
LokasiSemarang, Jawa Tengah
AlamatJalan Pemuda
Nasional 20 di {{Rute/Kode daerah Jalan Pandanaran
Nasional 20 di {{Rute/Kode daerah Jalan Mgr. Sugiyopranoto
Mulai dibangun10 November 1951
Selesai dibangun20 Mei 1953
Tinggi53 meter
Desain dan konstruksi
ArsitekSalim Sastrodiwiryo

Tugu Muda (bahasa Jawa:ꦠꦸꦒꦸꦩꦸꦢ) adalah monumen batu di Semarang, Jawa Tengah, yang didirikan untuk memperingati perjuangan kemerdekaan oleh pemuda Indonesia.[1] Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1953 untuk memperingati Pertempuran Lima Hari yang berlangsung antara pemuda Semarang dan batalion Jepang yang dipimpin oleh Mayor Kido dari 14 hingga 19 Oktober 1945.

Pasukan Jepang mengusir Belanda dari Indonesia sebagai "saudara tua Asia"; namun, pasukan Jepang lebih kejam terhadap para pembangkang daripada pasukan Belanda.[2]

Monumen batu terdiri dari fondasi, badan, dan kepala. Salah satu sisi monumen dihiasi dengan relief, dengan kolam hias dan taman mengelilinginya.

Deskripsi

Tugu Muda berbentuk seperti lilin yang mengandung makna semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam. Bentuk Tugu muda merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pada sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu.

Untuk mempercantik Tugu Muda, dibangunlah sebuah taman yang mengelilingi Tugu Muda. Di taman ini di beri beberapa ornamen supaya tugu muda dapat dijadikann sebagai taman kota, antara lain ada air mancur, lampu-lampu warna putih dan kuning yang akan menambah kesan anggun di malam hari. Pada taman terdapat pohon cemara, duplikasi senjata bambu runcing yang tegak berdiri berjajar sebanyak 5 (lima) buah yang menggambarkan Pertempuran lima hari di Semarang dengan bersenjatakan bambu runcing.

Pada bagian kaki tugu terdapat relief dengan lima buah sangga pilar,yang kecuali dipergunakan untuk menggambarkan berbagai macam relief,juga dimaksudkan sebagai lambang Pancasila. Pada tiap-tiap sangga terdapat hiasan-hiasan yang berbeda satu dengan yang lain yaitu:[3]

  • Relief Hongerodeem
Menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang yang sangat tertindas dan banyak yang menderita kelaparan,hingga hongerodeem atau penyakit busung lapar merajalela di kalangan masyarakat.
  • Relief Pertempuran
Menggambarkan betapa besar gelora semangat serta keberanian para pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan negara dan bangsanya.
  • Relief Penyerangan
Melambangkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak penjajahan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
  • Relief Korban
Menggambarakan bahwa dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang,banyak rakyat yang menjadi korban.
  • Relief Kemenangan
Menggambarkan hasil jerih payah dan pengorbanan yang telah membasahi bumi kota Semarang.

Sejarah pembangunan

250px-Becak_Tugu_Muda_Semarang_Central_Java.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Becak Tugu Muda Semarang

Tugu ini didirikan untuk mengenang peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang.[4] Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1945, oleh Wongsonegoro (Gubernur Jawa Tengah) pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali, tetapi karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Tahun 1951, Wali Kota Semarang Hadisoebeno Sosrowerdojo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi tempat terjadinya peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang yakni di pertemuan Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl. Pandanaran dengan Lawang Sewu seperti lokasi sekarang ini. Akhirnya pada tanggal 10 November 1951, Gubernur Jawa Tengah Raden Boedijono meletakkan batu pertama di lokasi yang baru ini.

Tugu muda diresmikan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, oleh Soekarno, Presiden Indonesia. Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendra Gunawan dan Edhi Sunarso.[5] Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari Kaliurang dan Paker.

Bangunan yang berada disekitar tugumuda adalah Lawang Sewu, Gedung Pandanaran, Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Museum Mandala Bhakti dan Katedral Semarang.

Tugu Muda berada di sebuah bundaran bertemunya jalan-jalan besar di Semarang, yaitu Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Mgr. Sugiyopranoto (lebih sering disebut Jalan Siliwangi). Dan sebuah jalan kecil yang berada di sebelah Pasar Bulu, yaitu Jalan HOS Cokroaminoto. Pada tahun 1866, lokasi ini merupakan tempat kapten dan letnan staf militer Belanda.

Catatan kaki

  1. ↑ "Tugu Muda Profil". 20 Juli 2012. Diarsipkan dari versi asli pada 13 Juli 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "History of Tugu Muda". 20 Juli 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Ngendog, Warak; Team, Warak Ngendog Tech (2023-03-20). "Tugu Muda Semarang - Sejarah, Lokasi, dan Fasilitas". Semarang. Diakses tanggal 2023-04-17.
  4. ↑ "Sejarah Monumen Tugu Muda Semarang". 13 Juli 2012.
  5. ↑ "Tugu Muda". 13 Juli 2012.

Pranala luar

Cagar budaya peringkat nasional di Indonesia
Benda
Bangunan
Struktur
Situs
Kawasan
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan