Sabtu, 31 Oktober 2026
14:25 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Dunia Melayu

Dunia Melayu

istilah geo-politik dan sosiolinguistik yang digunakan di Malaysia

Bagikan:
500px-Malay_World_and_areas_influenced_by_Malay_culture_map.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Negara-negara dengan warna merah adalah yang paling sering dianggap sebagai bagian dari dunia Melayu; daerah di mana orang Melayu adalah etnis mayoritas atau minoritas yang signifikan, atau di mana bahasa dan budaya Melayu telah mendominasi (Malaysia, Singapura, Brunei, Indonesia Barat, dan Thailand Selatan)
250px-Malay_%26_Islamic_World_Museum.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Museum Dunia Melayu dan Islam di Melaka, Malaysia.

Dunia Melayu atau Alam Melayu (Jawi: دنيا ملايو atau عالم ملايو) adalah sebuah konsep atau ungkapan yang telah digunakan oleh penulis dan kelompok yang berbeda dari waktu ke waktu untuk menunjukkan beberapa pengertian yang berbeda, yang berasal dari beragam interpretasi mengenai Kemelayuan, baik sebagai kelompok rasial, sebagai suatu kelompok linguistik, atau sebagai kelompok kultural politik. Penggunaan istilah "Melayu" di sejumlah besar konseptualisasi terutama didasarkan pada pengaruh budaya Melayu lazim, yang terwujud secara khusus melalui penyebaran bahasa Melayu di Asia Tenggara seperti yang diamati oleh kekuatan kolonial yang berbeda selama Zaman Penjelajahan.[1]

Konsep ini dalam jangkauan teritorial terluasnya dapat diterapkan untuk suatu kawasan yang identik dengan Austronesia, tanah air bagi suku bangsa Austronesia, yang membentang dari Pulau Paskah di timur ke Madagaskar di Barat.[2] Gambaran seperti itu berasal dari pengenalan istilah ras Melayu pada akhir abad ke-18 yang telah dipopulerkan oleh orientalist untuk menggambarkan suku bangsa Austronesia. Dalam arti yang lebih sempit, dunia Melayu telah digunakan sebagai Sprachraum, mengacu pada negara dan wilayah berbahasa Melayu di Asia Tenggara, di mana standar bahasa Melayu yang berbeda adalah bahasa nasional, atau variasinya adalah bahasa minoritas yang penting. Istilah tersebut dalam pengertian ini mencakup Brunei, Indonesia Barat, Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan, dan kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan konsep "Kepulauan Melayu" dan "Nusantara".[3]

Sebagai alternatif, para sarjana modern memperbaiki gagasan dunia Melayu yang diperluas ini, alih-alih mendefinisikannya sebagai suatu area politik dan budaya. Dalam konteks ini, dunia Melayu direduksi menjadi suatu kawasan yang merupakan tanah air bagi orang-orang Melayu, yang secara historis diperintah oleh kesultanan-kesultanan Melayu yang berbeda, di mana berbagai dialek bahasa Melayu dan nilai budayanya adalah dominan. Daerah ini meliputi Semenanjung Malaya, daerah pesisir Sumatra dan Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di antaranya.[4][5][6]

Penggunaan konsep ini yang paling menonjol adalah pada awal abad ke-20, yang dianut dengan gaya iredentis, oleh para nasionalis Melayu dalam bentuk "Indonesia Raya (politik)" (Melayu Raya), sebagai aspirasi untuk perbatasan "alami" atau yang diinginkan dari sebuah bangsa modern bagi ras Melayu. Istilah "Alam Melayu" tidak ada sebelum abad ke-20. Sastra-sastra Melayu klasik seperti Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah tidak menyebutkan istilah semacam ini. Istilah ini baru berkembang setelah tahun 1930, dengan contoh pertama yang tercatat berasal dari Majalah Guru, sebuah majalah bulanan negeri Malaya, dan koran Saudara, yang diterbitkan di Penang dan beredar di seluruh Negeri-Negeri Selat. Istilah "Alam Melayu" berkembang dan menjadi populer setelah munculnya gerakan nasionalisme Melayu pada perempat kedua abad ke-20.[7][8]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Ooi 2009, hlm. 181
  2. ↑ Farrer 2009, hlm. 26
  3. ↑ Amin Sweeney 2011, hlm. 295
  4. ↑ Milner 1982, hlm. 112
  5. ↑ Benjamin & Chou 2002, hlm. 7
  6. ↑ Wee 1985, hlm. 61–62
  7. ↑ Roff 1974, hlm. 153
  8. ↑ Roff 1974, hlm. 212–221

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan