Senin, 21 September 2026
02:52 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Negeri-Negeri Selat

Negeri-Negeri Selat

bekas negara di Asia Tenggara

Negeri-Negeri Selat
1826–1946
Bendera Negeri-Negeri Selat
Bendera
(1925–1946)
Lambang Negeri-Negeri Selat
Lambang
Lagu kebangsaan: "God Save the King"
(1826–1837; 1901–1942; 1945–1946)
"God Save the Queen" (1837–1901)
330px-British_Malaya_circa_1922_en.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Malaya pada tahun 1922:
  Negara-negara Melayu Tak Berfederasi: Johor, Kedah, Kelantan, Perlis, Terengganu
  Negara-negara Federasi Melayu: Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, Perak
  Negeri-Negeri Selat: Melaka, Penang, Singapura, Dinding
Status
Ibu kotaGeorge Town
(1826–1832)[1]
Singapura
(1832–1946)[2]
Bahasa resmiInggris
Bahasa umum
PemerintahanMonarki
Monarki 
 1826–1830 (first)
George IV
 1936–1946 (last)
George VI
Gubernur 
 1826–1830 (first)
Robert Fullerton
 1934–1946 (last)
Shenton Thomas
Era SejarahImperium Britania Raya
17 Maret 1824
 Didirikan di bawah kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania Raya
1826
 Dikonversi menjadi koloni kerajaan
1 April 1867
 Labuan tergabung
1 Januari 1907
8 Desember 1941
15 Februari 1942
 Penyerahan resmi Jepang kepada Pemerintahan Militer Inggris
12 September 1945
 Digabungkan ke dalam Uni Malaya dan Koloni Singapura
1 April 1946
 Labuan ke Koloni Borneo Utara
15 Juli 1946
Mata uangDolar Selat (1898–1939)
Dolar Malaya (1939–1946)
Didahului olehDigantikan oleh
kslKesultanan
Kedah
Tahun-tahun berdirinya Singapura modern
Melaka Belanda
Manjung
Kesulatanan Johor
Kesulatanan Perak
Uni Malaya
Koloni Singapura
Koloni Melaka
Koloni Penang
Kepresidenan Benggala
Kesulatanan Perak
Sekarang bagian dariMalaysia
Singapura

Negeri-Negeri Selat (bahasa Inggris:Straits Settlements) adalah sekelompok bekas wilayah kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania yang diberikan status pemerintahan sebagai jajahan mahkota sejak tahun 1826. Negeri-Negeri Selat ini terdiri dari negeri Penang, Melaka dan Singapura. Ketiga negeri ini di bawah jajahan Britania.

Selepas Perjanjian Britania-Belanda 1824, Penang diperintah oleh Wakil Gubernur, sementara Melaka dan Singapura diatur oleh seorang Residen. Pada tahun 1826, ketiga negeri tersebut digabungkan untuk membentuk Negeri-Negeri Selat. Penggabungan itu bertujuan untuk menyeragamkan serta menghemat anggaran pemerintahan. Pemindahan administrasi ke London dilakukan karena Perusahaan Hindia Timur Britania di India tidak berpihak kepada kepentingan Negeri-Negeri Selat, desakan saudagar-saudagar yang tidak berpuas hati dengan kebijakan Kantor Tanah Jajahan Britania di India, rencana Perusahaan Hindia Timur Britania untuk menghapus taraf pelabuhan bebas Singapura mengancam kemajuan perdagangan. Masuknya imigran dari Republik Rakyat Tiongkok secara tidak terkawal menyebabkan terjadinya kekacauan akibat pendirian kongsi gelap. Penduduk juga membangkang terhadap tindakan Kantor Tanah Jajahan Inggris di India yang menjadikan Singapura sebagai tempat pembuangan tahanan dari India.

Lihat pula

  1. Andaya & Andaya 1982, hlm. 121.
  2. Andaya & Andaya 1982, hlm. 123.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan