Sabtu, 07 November 2026
16:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Negeri-Negeri Selat

Negeri-Negeri Selat

bekas negara di Asia Tenggara

Bagikan:
Negeri-Negeri Selat
1826–1946
Bendera Negeri-Negeri Selat
Bendera
(1925–1946)
Lambang Negeri-Negeri Selat
Lambang
Lagu kebangsaan: "God Save the King"
(1826–1837; 1901–1942; 1945–1946)
"God Save the Queen" (1837–1901)
330px-British_Malaya_circa_1922_en.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Malaya pada tahun 1922:
  Negara-negara Melayu Tak Berfederasi: Johor, Kedah, Kelantan, Perlis, Terengganu
  Negara-negara Federasi Melayu: Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, Perak
  Negeri-Negeri Selat: Melaka, Penang, Singapura, Dinding
Status
Ibu kotaGeorge Town
(1826–1832)[1]
Singapura
(1832–1946)[2]
Bahasa resmiInggris
Bahasa umum
PemerintahanMonarki
Monarki 
• 1826–1830 (first)
George IV
• 1936–1946 (last)
George VI
Gubernur 
• 1826–1830 (first)
Robert Fullerton
• 1934–1946 (last)
Shenton Thomas
Era SejarahImperium Britania Raya
17 Maret 1824
• Didirikan di bawah kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania Raya
1826
• Dikonversi menjadi koloni kerajaan
1 April 1867
• Labuan tergabung
1 Januari 1907
8 Desember 1941
15 Februari 1942
• Penyerahan resmi Jepang kepada Pemerintahan Militer Inggris
12 September 1945
• Digabungkan ke dalam Uni Malaya dan Koloni Singapura
1 April 1946
• Labuan ke Koloni Borneo Utara
15 Juli 1946
Mata uangDolar Selat (1898–1939)
Dolar Malaya (1939–1946)
Didahului olehDigantikan oleh
kslKesultanan
Kedah
Tahun-tahun berdirinya Singapura modern
Melaka Belanda
Manjung
Kesulatanan Johor
Kesulatanan Perak
Uni Malaya
Koloni Singapura
Koloni Melaka
Koloni Penang
Kepresidenan Benggala
Kesulatanan Perak
Sekarang bagian dariMalaysia
Singapura

Negeri-Negeri Selat (bahasa Inggris:Straits Settlements) adalah sekelompok bekas wilayah kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania yang diberikan status pemerintahan sebagai jajahan mahkota sejak tahun 1826. Negeri-Negeri Selat ini terdiri dari negeri Penang, Melaka dan Singapura. Ketiga negeri ini di bawah jajahan Britania.

Selepas Perjanjian Britania-Belanda 1824, Penang diperintah oleh Wakil Gubernur, sementara Melaka dan Singapura diatur oleh seorang Residen. Pada tahun 1826, ketiga negeri tersebut digabungkan untuk membentuk Negeri-Negeri Selat. Penggabungan itu bertujuan untuk menyeragamkan serta menghemat anggaran pemerintahan. Pemindahan administrasi ke London dilakukan karena Perusahaan Hindia Timur Britania di India tidak berpihak kepada kepentingan Negeri-Negeri Selat, desakan saudagar-saudagar yang tidak berpuas hati dengan kebijakan Kantor Tanah Jajahan Britania di India, rencana Perusahaan Hindia Timur Britania untuk menghapus taraf pelabuhan bebas Singapura mengancam kemajuan perdagangan. Masuknya imigran dari Republik Rakyat Tiongkok secara tidak terkawal menyebabkan terjadinya kekacauan akibat pendirian kongsi gelap. Penduduk juga membangkang terhadap tindakan Kantor Tanah Jajahan Inggris di India yang menjadikan Singapura sebagai tempat pembuangan tahanan dari India.

Lihat pula

  1. ↑ Andaya & Andaya 1982, hlm. 121. sfn error: tanpa target: CITEREFAndayaAndaya1982 (bantuan)
  2. ↑ Andaya & Andaya 1982, hlm. 123. sfn error: tanpa target: CITEREFAndayaAndaya1982 (bantuan)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan