Minggu, 01 November 2026
14:47 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Soekarno Djojonegoro

Soekarno Djojonegoro

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke 2

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Soekarno Djojonegoro" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Soekarno Djojonegoro
250px-Police_chief_Soekarno_Djojonagoro%2C_Sekilas_Lintas_Kepolisian_Republik_Indonesia%2C_p17.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menteri / Kepala Staf Angkatan Kepolisian Republik IndonesiaKe-2 [a]
PresidenSoekarno
Menteri Pertahanan dan KeamananAbdul Haris Nasution
Kepala Staf Angkatan BersenjataAbdul Haris Nasution
Pendahuludiri sendiri
(sebagai Menteri Kepolisian)
PenggantiSoetjipto Danoekoesoemo
Menteri Kepolisian Negara Republik IndonesianKe-2
PresidenSoekarno
Perdana MenteriSoekarno
Pendahuludiri sendiri
(Sebagai Menteri Muda Kepolisian)
Penggantidiri sendiri
(sebagai Menteri Kepala Staf Angkatan Kepolisian)
Menteri Muda Kepolisian Negara Republik IndonesiaKe-2
Masa jabatan
15 Desember 1959 –6 Maret 1962
PresidenSoekarno
Perdana MenteriSoekarno
PendahuluSoekanto Tjokrodiatmodjo
Penggantidiri sendiri
(sebagai Menteri Kepolisian)
Anggota Konstituante
PresidenSoekarno
PendahuluRaden Moh. Basah
PenggantiTidak ada, Konstituante dibubarkan
Informasi pribadi
Lahir(1908-05-15)15 Mei 1908
Meninggal27 November 1975(1975-11-27) (umur 67)
HubunganR. Adipati Djojonagoro II (ayah)
AlmamaterOSVIA (1928)
Karier militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabang40px-Insignia_of_the_Indonesian_National_Police.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kepolisian Negara Republik Indonesia
Pangkat40px-PDU_JEN.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Jenderal Polisi

Jenderal Polisi (Purn.) Raden Soekarno Djojonegoro (15 Mei 1908 – 27 November 1975) adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (dulu bernama Kepala Kepolisian Negara) dari 15 Desember 1959 hingga 29 Desember 1963.

Soekarno Djojonegoro adalah anak keempat Bupati Banjarnegara, Raden Adipati Djojonagoro II.

Karier

Karier kepolisiannya dimulai pada tahun 1928, setelah ia menamatkan pendidikannya di OSVIA. Jabatan pertamanya adalah AIB di Jatibarang. Ia kemudian menjadi Mantri Polisi Residen Jepara Rembang (1931), Asisten Wedana Banyumas (1934), Asisten Residen Lampung (1935), Mantri Polisi Kedungwuni, Pekalongan (1936), Asisten Wedana Polisi Tegal (1941), Kepala Seksi IV Polisi Kota Semarang (1942), Kepala Polisi Salatiga (1943), Kepala Polisi Istimewa Kota Semarang (1944), Keibikatyo Kota Semarang (1944), Kepala Polisi Kendal (1945), Kepala Umum Kantor Besar Polisi Semarang (1945), Kepala Polisi Karesidenan Pekalongan (Februari 1950), Kepala Polisi Karesidenan Surabaya (Agustus 1950), Kepala Kepolisian Provinsi Jawa Timur (Desember 1950), dan Ajun Kepala Kepolisian Negara (November 1959).

Pada 15 Desember 1959, Djojonegoro dilantik menjadi Kepala Kepolisian Negara menggantikan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.

Beberapa peristiwa semasa ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara:

  • 1960 - Kepolisan Negara bergabung dalam ABRI
  • 1 Juli 1960 - empat janji prajurit kepolisian, "Catur Prasetya" diikrarkan
  • April 1961 - Catur Prasetya resmi dijadikan pedoman kerja kepolisian RI selain Tribrata sebagai pedoman hidup
  • 1962 - Kepolisian Negara Republik Indonesia berubah nama menjadi Angkatan Kepolisian RI (AKRI)

Masa kepemimpinannya ditandai konflik Irian Barat dengan Belanda dan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan PKI, DI/TII, APRA dan lain-lain, namun hal-hal tersebut ditanganinya dengan baik.

Akhir hayat

Ia digantikan Ajun Komisaris Besar Polisi Soetjipto Danoekoesoemo pada 30 Desember 1963 dan segera diangkat menjadi Menteri Penasihat Presiden untuk Urusan Dalam Negeri. Djojonegoro memasuki masa pensiun mulai 31 Juli 1966. Hari-harinya dinikmatinya dengan berkumpul bersama keluarga.

Djojonegoro meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Ia meninggalkan istrinya, R.A. Sukatinah, dan lima orang anak. Sesuai permintaannya, jenazahnya dimakamkan di makam khusus untuk pemakaman keluarga Djojonagoro, "Kuwondo Giri" di Banjarnegara.

Penghargaan

Baris ke-1 Bintang Republik Indonesia Pratama (10 Januari 1963)[1]
Baris ke-2 Bintang Mahaputera Pratama (15 Februari 1961)[2] Bintang Dharma Bintang Gerilya
Baris ke-3 Bintang Bhayangkara Utama Satyalencana Satya Dasa Warsa Satyalencana Jana Utama
Baris ke-4 Satyalancana Karya Bhakti Satyalencana Prasetya Panca Warsa Satyalancana Karya Satya Kelas I
Baris ke-5 Satyalencana Perang Kemerdekaan I Satyalencana Perang Kemerdekaan II Satyalencana G.O.M I
Baris ke-6 Satyalancana G.O.M VI Satyalancana Satya Dharma Knight Commander of the Most Noble Order of the Crown of Thailand - Thailand (1960)[3]

Referensi

  1. ↑ "Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun 1959–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-07-29. Diakses tanggal 12 Agustus 2021.
  2. ↑ "Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-08-05. Diakses tanggal 3 September 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ แจ้งความสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์

Pranala luar

Jabatan kepolisian
Didahului oleh:
Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo
Menteri/Kepala Staf Angkatan Kepolisian Republik Indonesia
1959–1963
Diteruskan oleh:
Soetjipto Danoekoesoemo
  1. ↑ sejak 1962 sampai 1999 Kepolisian dimasukan ke Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sebagai angkatan keempat yaitu Angkatan Kepolisian dan nama pimpinan nya diubah menjadi Kepala Staf Angkatan Kepolisian
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan