| Sirait | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Aksara Batak |
| ||||||||||||||
| Nama marga | Sirait | ||||||||||||||
| Nama/penulisan alternatif | SRT | ||||||||||||||
| Silsilah | |||||||||||||||
| Generasi dari Si Raja Batak |
| ||||||||||||||
| Nama lengkap tokoh | Raja Toga Sirait | ||||||||||||||
| Nama istri | Manotalan Boru Limbong | ||||||||||||||
| Nama anak (putra) |
| ||||||||||||||
| Kekerabatan | |||||||||||||||
| Induk marga | Raja Narasaon | ||||||||||||||
| Klan | Parsadaan Nai Rasaon (keturunan Tuan Sorbadijae melalui garis Raja Narasaon) | ||||||||||||||
| Marga sekerabat | |||||||||||||||
| Turunan |
| ||||||||||||||
| Mataniari binsar | Limbong | ||||||||||||||
| Asal | |||||||||||||||
| Suku | Batak | ||||||||||||||
| Etnis | |||||||||||||||
| Daerah asal | Ajibata, Toba | ||||||||||||||
| Persebaran dengan populasi signifikan | |||||||||||||||
| Monumen | |||||||||||||||
| Lokasi tambak (makam) | Parsaoran Sibisa 2°35′41.7″N 98°58′23.2″E / 2.594917°N 98.973111°E / 2.594917; 98.973111 | ||||||||||||||
| Paguyuban | |||||||||||||||
| Organisasi paguyuban | PPRTSB (Parsadaan Pomparan Raja Toga Sirait dohot Boru) | ||||||||||||||
Sirait (Surat Batak: ᯘᯪᯒᯤᯖ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Sibisa di wilayah Ajibata, Toba. Leluhur dari marga Sirait adalah Toga Sirait yang merupakan keturunan dari Raja Narasaon.[1]
Latar belakang
Sirait merupakan salah satu marga keturunan Tuan Sorbadijae yang bergelar Nai Rasaon atau dikenal juga sebagai Datu Pejel. Dengan kata lain, marga Sirait merupakan salah satu marga yang tergabung dalam perkumpulan Parsadaan Nai Rasaon. Tuan Sorbadijae memiliki seorang putra, yaitu: Raja Narasaon, Raja Narasaon memiliki dua orang putra yang kembar dalam satu balutan (disebut sebagai: linduat sabalutan atau dongan sahali tubu) yang mana hal ini menyebabkan ketidakpastian tentang siapa yang lebih tua dan lebih muda di antara keduanya. Kedua orang putra tersebut, yaitu: Raja Mangarerak dan Raja Mangatur.
- Raja Mangarerak menikah dengan Si Boru Hutahot, putri dari Si Raja Borbor, dan memiliki seorang putra, yaitu: (1) Toga Manurung yang menurunkan marga Manurung. dan Raja Mangarerak juga memiliki seorang putri bernama Similing-iling (Nailing) yang dinikahi oleh Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak, Dairi. Kemudian mereka memperoleh seorang putra, yaitu: Raja Tambun (Tambun Raja) yang menurunkan marga Tambun atau Tambunan.
- Raja Mangatur menikah dengan Deak Bintang Harugasan Boru Sagala, dan memiliki tiga orang putra, yaitu: (1) Toga Sitorus yang menurunkan marga Sitorus, (2) Toga Sirait yang menjadi leluhur dari marga Sirait, dan (3) Toga Butarbutar yang menurunkan marga Butarbutar.
Raja Toga Sirait menikah dengan Manotalan Boru Limbong dari Huta Limbong; mereka bermukim dan membuka perkampungan baru di Pardamean Sibisa, terdapat dua permukiman di tempat yang kemudian dikenal sebagai Lumban Sihahaan dan Lumban Gambiri. Toga Sirait dan istrinya, Boru Limbong, kemudian memperoleh dua orang putra, yaitu:
- Sirait Sihahaan
- Sirait Sianggian
Sirait Sihahaan menikah dengan Boru Limbong dari Huta Limbong, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Ompu Raja menikah dengan Ramin Nauli Boru Naibaho, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Ompu Saurlan (Ama ni Raja) menikah dengan Moi Nauli Boru Nainggolan Parhusip, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Ompu Luhung menikah, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
- Baik Raja menikah, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa
- Pangulu Raja menikah, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa
- Ompu Tombak menikah dengan Pinta Uli Boru Sinaga Porti, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki empat orang putra, yaitu:
- Ompu Toga Dolok menikah dengan Boru Sinaga, bermukim di Ajibata, Toba
- Ompu Gonup menikah, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
- Batu Nahot Raja menikah, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
- Halisung Raja menikah dengan Boru Silalahi, bermukim di Ajibata, Toba
- Raja Mardobur menikah dengan Pausaga Passamotan Boru Nababan, putri dari Datu Pamona Mangambit Tua Nababan, bermukim di Sirait Holbung dan memiliki lima orang putra, yaitu:
- Guru Mallonging menikah dengan Nauli Boru Sinaga Uruk dan Boru Manurung, bermukim di Lintong Julu, Lumban Julu
- Raja Situatua menikah dengan Antang Namora Boru Sitorus, bermukim di Sirait Holbung
- Raja Sapalatua menikah dengan Sanggul Haomasan Boru Manurung dan Pausaga Boru Sitompul, bermukim di Sibadihon, Bonatua Lunasi
- Raja Solotan Tua menikah dengan Boru Nainggolan Parhusip, putri dari Ompu Pangarahoda Nainggolan Parhusip, bermukim di Sirait Uruk
- Ompu Tombak Mataniari menikah dengan Pintauli Boru Manurung, bermukim di Porsea, Toba
- Ompu Saurlan (Ama ni Raja) menikah dengan Moi Nauli Boru Nainggolan Parhusip, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Datu Ronggur menikah dengan Boru Sagala dan Boru Limbong, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Ompu Batu Holing menikah dengan Boru Limbong Sihole, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Ompu Sorbanibanua (Raja Ajibata) menikah dengan Boru Limbong, bermukim di Ajibata, Toba
- Ompu Guba pergi ke Tanah Jawa, Simalungun; menikah serta bermukim di sana
- Ompu Lantas menikah dengan Boru Damanik, bermukim di Sipolha Horison, Simalungun
- Ompu Batu Holing menikah dengan Boru Limbong Sihole, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Guru Solomoson menikah dengan Boru Manurung, putri dari Raja Siarsam Manurung Simanoroni; Nai Limbong Monang Boru Nainggolan Parhusip, putri dari Lindi Niaek Nainggolan Parhusip; dan Boru Manurung, putri dari Raja Sijambang Manurung Hutagurgur, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki empat orang putra, yaitu:
- Ompu Taridi menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Pande Raja menikah serta bermukim
- Ompu Tualang menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Ompu Barita Namora menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu
- Guru Marisi menikah dengan Boru Simbolon, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Ompu Sotaralo menikah serta bermukim
- Ompu Batu Julu menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Ama ni Batu Julu menikah serta bermukim
- Ompu Taridi menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki seorang putra, yaitu:
Sirait Sianggian menikah dengan Boru Simaibang dari Nagori Sipangan Bolon, bermukim di Lumban Gambiri, Sibisa dan memiliki dua orang putra, yaitu:
- Guru Tahan Niaji menikah dengan Boru Borbor, bermukim di Lumban Gambiri, Sibisa dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Guru Tahan Diaji menikah dengan Boru Sihaloho, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Guru Pantang Diaji menikah dengan Boru Limbong Sihole dan Boru Malau, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
- Guru Tahan Diaji menikah dengan Boru Sihaloho, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
- Guru Tumindi menikah dengan Boru Sinaga dan Boru Gultom, bermukim di Sipangan Bolon, Simalungun dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
- Guru Tinopot menikah, bermukim di Sigapiton, Ajibata
- Guru Manahan menikah, bermukim di Horsik, Ajibata
- Guru Manduppas pergi ke Simalungun; menikah serta bermukim di sana
Tentang Padan:
Marga Sirait tercatat tidak memiliki padan (ikrar janji) dengan marga lain, berbeda dengan ketiga kerabatnya yang masing-masing memiliki padan.
Kontroversi tahun 2014—2020:
Beberapa pihak mengklaim bahwa Raja Toga Sirait memiliki dua orang istri dan tiga orang putra. Menurut klaim tersebut, anak ketiga dari Toga Sirait bernama Sirait Nalomloman, yang merupakan hasil pernikahan dengan istri kedua, Boru Naibaho dari Pangururan. Mereka juga mengklaim bahwa Raja Mardobur bukan anak dari Ompu Raja, melainkan anak dari Sirait Nalomloman. Namun, klaim yang beredar pada tahun 2014 hingga 2020 ini tidak diterima oleh sebagian besar keturunan Sirait lantaran tidak adanya verifikasi yang baik. Sebagian keturunan Sirait dengan tegas menyatakan hanya mengakui literatur yang diterima secara umum.[2][3]

Sirait di Simalungun
Pada awalnya, leluhur marga Sirait bermukim di Sibisa. Generasi berikutnya kemudian menyebar dan membuka perkampungan baru. Pada masa berdirinya kerajaan-kerajaan Simalungun, populasi marga Sirait yang menyebar di Simalungun berafiliasi dengan marga Sinaga. Marga Sirait pada dasarnya berlatar belakang budaya Batak Toba, adapun sebagian dari populasinya juga tersebar di Simalungun dengan kebudayaan Batak Simalungun.[6][7]
Huta Sirait
Keturunan Raja Toga Sirait terkenal perantau ulung, pemberani dan penolong, sehingga banyak menguasai lahan dan mendapat tanah dari upaya menolong orang, sehingga memiliki banyak tanah ulayat/huta. Huta Sirait tersebar seluas yang dijelajahi di beberapa Kabupaten Sumatera Utara, berikut daftarnya:

- Huta Sirait, Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Bona Pasogit Sirait)
(terdiri dari: Sibisa, Lumban Sihahaan, Lumban Gambiri) - Huta Sirait, Parsaoran Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Tambak Raja Toga Sirait)
(terdiri dari: Sibisa, Onan Sampang) - Sirait Uruk (Patane I), Porsea, Toba[8]
- Lumban Ginjang di Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
- Huta Sirait di Huta Namora, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
- Sirait Holbung di Harungguan, Kecamatan Bonatua Lunasi, Kabupaten Toba
- Lumban Rang di Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
- Huta Sirait di Lintong Julu, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
- Huta Sirait, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir
- Barisan Sirait di Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi
- Lumban Sirait di Pardomuan Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
- Lumban Sirait di Pardamean Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
- Huta Sirait, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun
- Lumban Sirait di Maduma, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir
- Lumban Sirait di Motung, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
- Lumban Sirait Gu, Parmaksian, Toba
- Lumban Sirait di Parsaoran Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
- Huta Sirait di Horsik, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
Peninggalan
Terdapat beberapa peninggalan leluhur marga Sirait yang teridentikasi keberadaannya.
Dalam sejarah marga Sirait, khususnya riwayat Sirait Sihahaan, ketika ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia mewariskan benda pusaka sebagai simbol kesejahteraan dan pertanda. Ompu Raja menerima piso batak (pisau tradisional batak), Datu Ronggur menerima hujur siringis (tombak tradisional batak), dan Guru Solomoson menerima sapa bolon (piring tradisional batak). Mengenai keberadaan fisiknya, beberapa sumber mengatakan bahwa benda-benda pusaka tersebut masih ada hingga saat ini di mana leluhur tersebut bermukim.
Dua benda pusaka peninggalan Ompu Raja Sirait, yakni Pagar Silintong Boru-boru serta Pagar Silintong Tunggal yang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya,
berikut penjelasannya:
Pagar Silintong Boru-boru adalah benda pusaka milik Ompu Raja Sirait. Beberapa sumber mengatakan bahwa Pagar Silintong Boru-boru adalah batu sakti yang dikenal sebagai pangulubalang. Dikisahkan, pada masa lampau Pagar Silintong Boru-boru sangat berperan dalam menjaga huta (area) Ompu Raja dan dipercaya dapat berbicara untuk memberitahukan jika ada musuh atau pencuri yang datang, melalui seruan: "Musu! Musu! Musu!". Namun kini, kesaktian Pagar Silintong Boru-boru tersebut dikabarkan sudah hilang karena tidak lagi lengkap dengan pasangannya, yakni Pagar Silintong Tunggal yang dibawa pergi oleh Raja Mardobur. Meski demikian, batu tersebut masih ada hingga saat ini di tambak (makam) Ompu Raja di Pardamean Sibisa.
Pagar Silintong Tunggal adalah benda pusaka milik Ompu Raja Sirait, nama Pagar Silintong Tunggal abadi sebagai benda pusaka yang mengiringi riwayat Raja Mardobur Sirait. Saat beranjak dewasa Raja Mardobur berniat untuk merantau, seiring waktu ia mulai merantau dari Pardamean Sibisa ke Lintong Julu hingga tiba di Harungguan, kemudian ia menikah, bermukim, dan berketurunan, serta membuka perkampungan baru di sana yang bernama Sirait Holbung. Kala itu, ia pergi sembari membawa Pagar Silintong Tunggal yang telah diwariskan oleh ayahandanya, Ompu Raja, sebagai sebuah pertanda baginya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Pagar Silintong Tunggal adalah batu sakti yang sudah diberikan kekuatan magis, yang dipercaya berfungsi sebagai penangkal racun dan bisa hewan. Mengenai bentuk fisik Pagar Silintong Tunggal tersebut sudah tidak diketahui lagi di mana keberadaannya.[9][10]
Tokoh
Beberapa tokoh yang bermarga Sirait, di antaranya adalah:
- Agnes Naomi Shivapriya Sirait
- Alaska Sirait
- Andita Kezia Bulan Sirait
(Key B) - Anggiat Mangasi Liston Sirait
- Arist Merdeka Sirait
- Bigman Fredore Leonard Sirait
- Boorman Sirait
- Charles Bonar Sirait[11]
- Eduard Pesta Sirait
- Edward Sirait
(pengusaha) - Elfris Sirait
- Frans Sirait
- Jamilin Sirait[note 1]
- Kasianus Sirait
- Linton Sirait[12]
- Marintan Sirait[13]
- Maruarar Sirait[14]
- Marthella Sirait
- Maysha Jhuan Khanaya Sirait
(Ica Maysha) - Midian Sirait[note 2]
- Ningrum Natasya Sirait
- Nurmalayanti Sirait
(Pdt. GKPS) - Raden Sirait
- Rajamin Sirait
- Rico Ricardo Sirait
- Rijal Sirait
- Sabam Gunung Panangian Sirait[16]
- Sastra Joyo Sirait
- Saut Hamonangan Sirait
- Tongam Sirait
Galeri
- Monumen Ompu Raja Sirait (2°36′18.7″N 98°57′42.6″E / 2.605194°N 98.961833°E / 2.605194; 98.961833)
di Pardamean Sibisa, Ajibata (Lumban Sihahaan). - Monumen Raja Mardobur Sirait
di Harungguan, Bonatua Lunasi (Sirait Holbung). - Monumen Raja Mardobur Sirait
di Harungguan, Bonatua Lunasi (Sirait Holbung). - Potret Ompu Raja Maualu/Naualu
Kepala Negeri bius Sirait di Samosir (sekitar tahun 1915).
Catatan
- ↑ Kepala Departemen Koinonia HKBP 2008-2012
- ↑ Anggota DPR RI; 1968-1971, 1971–1977, 1977–1982. Direktur Jendral Pengawasan Obat dan Makanan 1978-1988, Guru Besar ITB[15]
Referensi
- ↑ Vergouwen, J. C. (Jacob Cornelis) (1964). The social organisation and customary law of the Toba-Batak of northern Sumatra. Internet Archive. The Hague, M. Nijhoff.
- ↑ "Suara Tapian |". www.suaratapian.com. Diakses tanggal 2026-06-08.
- ↑ "Berita Hukum". www.beritahukum.com. Diakses tanggal 2026-06-08.
- ↑ "Badan Registrasi Wilayah Adat". www.brwa.or.id. Diakses tanggal 2026-04-15.
- ↑ "TanahKita.Id". www.tanahkita.id. Diakses tanggal 2026-08-04.
- ↑ "Sirait di Simalungun | Ditulis oleh pakar". www.wordpress.com. Diakses tanggal 2026-04-15.
- ↑ "Afiliasi marga Sirait di Simalungun". www.scribd.com. Diakses tanggal 2026-07-28.
- ↑ "Sirait Uruk". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-07-11.
- ↑ "Ebatak | Kisah dan Silsilah Raja Mardobur Sirait". www.ebatak.com. Diakses tanggal 2022-03-05.
- ↑ "Riwayat Raja Mardobur Sirait | Ditulis oleh pakar". www.bloggspot.com. Diakses tanggal 2026-04-15.
- ↑ "Charles Bonar Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
- ↑ "Linton Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-02.
- ↑ "Marintan Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-02.
- ↑ "Maruarar Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
- ↑ "Tokoh.id | Midian Sirait". www.tokoh.id. Diakses tanggal 2023-04-25.
- ↑ "Sabam Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
| Raja Narasaon |
|
|---|---|
| Raja Mangarerak | Toga Manurung |
| Manurung |
|
| Raja Mangatur |
|
| Sitorus |
|
| Sirait |
|
| Butarbutar |
|