Sabtu, 07 November 2026
12:50 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Sirait

salah satu marga Batak Toba

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Siahaan atau Siagian. Ketiganya merupakan marga yang berbeda tanpa hubungan kekerabatan.
Untuk kegunaan lain, lihat Sirait (disambiguasi).
Sirait
Aksara Batak
Nama margaSirait
Nama/penulisan alternatifSRT
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadijae
5Raja Narasaon
6Raja Mangatur
7Toga Sirait
Nama lengkap tokohRaja Toga Sirait
Nama istriManotalan boru Limbong
Nama anak (putra)
  • 1. Sirait Sihahaan
  • 2. Sirait Sianggian
Genealogi
Induk margaRaja Narasaon
KlanParsadaan Nai Rasaon
(keturunan Tuan Sorbadijae melalui garis Raja Narasaon)
Marga sekerabat
Turunan
  • Lumban Sihahaan
  • Lumban Gambiri
Mataniari binsarLimbong
Asal
SukuBatak
Etnis
LahirPardamean Sibisa, Toba
Daerah asalAjibata, Toba
Persebaran dengan populasi signifikan
  1. Pardamean Sibisa
  2. Pardomuan Ajibata
  3. Parsaoran Ajibata
  4. Pardamean Ajibata
  5. Motung
  1. Hatinggian
  2. Huta Namora
  3. Sionggang Utara
  4. Lintong Julu
  5. Pasar Lumban Julu
  1. Tiga Raja
  2. Sipangan Bolon
  3. Parapat
  1. Garoga
  1. Patane I
  1. Harungguan
  2. Sibadihon
  1. Tiga Balata
  2. Bah Sampuran
  1. Manik Hataran
  2. Manik Maraja
  1. Tiga Dolok
  1. Bangun Pane
Monumen
Lokasi tambak (makam)
osm-intl,10,2.5944951,98.9732763,200x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Sirait&revid=30157634&groups=_9ec2fb711507934cb5612dc9f37d2a5e6863a3a1&parser=parsoid
Map
Paguyuban
Organisasi paguyubanPPRTSB (Parsadaan Pomparan Raja Toga Sirait dohot Boru)

Sirait (Surat Batak: ᯘᯪᯒᯤᯖ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Desa Pardamean Sibisa di Ajibata, Toba. Leluhur dari marga Sirait adalah Toga Sirait yang merupakan keturunan dari Raja Narasaon.[1]

Latar belakang

Silsilah
250px-Tarombo_Toga_Sirait_-_Sirait_Sihahaan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah tua Tarombo (tahun 1968) Raja Toga Sirait - Sirait Sihahaan, hasil dari tim peneliti yang dibentuk oleh pomparan Ompu Raja Sirait / Br Naibaho.
250px-Tarombo_Sirait_%282%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah tua Tarombo (tahun 1979) Raja Toga Sirait - Sirait Sianggian, hasil dari tim peneliti yang dibentuk oleh pomparan Raja Ompu Metur Sirait / Br Ambarita.
— Bagan Struktur Silsilah Marga Sirait —

Sirait merupakan salah satu marga keturunan Tuan Sorbadijae yang bergelar Nai Rasaon atau dikenal juga sebagai Datu Pejel. Dengan kata lain, marga Sirait merupakan salah satu marga yang tergabung dalam perkumpulan Parsadaan Nai Rasaon. Tuan Sorbadijae memiliki seorang putra, yaitu: Raja Narasaon, Raja Narasaon memiliki dua orang putra yang kembar dalam satu balutan (disebut sebagai: linduat sabalutan atau dongan sahali tubu) yang mana hal ini menyebabkan ketidakpastian tentang siapa yang lebih tua dan lebih muda di antara keduanya. Kedua orang putra tersebut, yaitu: Raja Mangarerak dan Raja Mangatur.

  • Raja Mangarerak menikah dengan Hutahot boru Borbor, dan memiliki seorang putra, yaitu: (1) Raja Toga Manurung yang menurunkan marga Manurung. Raja Mangarerak juga memiliki seorang putri bernama Boru Similing-iling.
  • Raja Mangatur menikah dengan Deak Bintang Harugasan boru Sagala, dan memiliki tiga orang putra, yaitu: (1) Toga Raja Sitorus yang menurunkan marga Sitorus, (2) Raja Toga Sirait yang menjadi leluhur dari marga Sirait, dan (3) Raja Toga Butarbutar yang menurunkan marga Butarbutar.
Toga Sirait
Boru Limbong
Sirait Sihahaan
Boru Limbong
Sirait Sianggian
Boru Simaibang

Raja Toga Sirait menikah dengan Manotalan boru Limbong dari Huta Limbong; mereka bermukim, berketurunan, dan membuka perkampungan baru di Pardamean Sibisa. Terdapat dua permukiman di tempat yang kemudian dikenal sebagai Lumban Sihahaan dan Lumban Gambiri. Toga Sirait dan istrinya, Boru Limbong, kemudian memperoleh dua orang putra, yaitu:

  1. Sirait Sihahaan
  2. Sirait Sianggian

Sirait Sihahaan menikah dengan Lamtio boru Limbong dari Huta Limbong, bermukim di Lumban Sihahaan dan memiliki tiga orang putra, yaitu:

  1. Ompu Raja menikah dengan Ramin Nauli boru Naibaho, bermukim di Pardamean Sibisa dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
    1. Ompu Saurlan (Ama ni Raja) menikah dengan Moi Nauli boru Nainggolan Parhusip, putri dari Girsang Doriangin Nainggolan Parhusip, bermukim di Lumban Sihahaan dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
      1. Ompu Luhung menikah, bermukim di Pardamean Sibisa
      2. Baik Raja menikah, bermukim di Lumban Sihahaan
      3. Pangulu Raja menikah, bermukim di Lumban Sihahaan
    2. Ompu Tombak menikah dengan Pinta Nauli boru Sinaga Porti, bermukim di Lumban Sihahaan dan memiliki empat orang putra, yaitu:
      1. Ompu Toga Dolok menikah dengan Boru Sinaga, bermukim di Ajibata, Toba
      2. Ompu Baringin menikah dengan Boru Sinaga, bermukim di Pardamean Sibisa
      3. Batu Nahot Raja menikah, bermukim di Pardamean Sibisa
      4. Halisung Raja menikah dengan Boru Silalahi, bermukim di Ajibata, Toba
    3. Raja Mardobur menikah dengan Pausaga Passamotan boru Nababan, putri dari Datu Pamona Mangambit Tua Nababan, bermukim di Sirait Holbung dan memiliki lima orang putra, yaitu:
      1. Guru Mallonging menikah dengan Nauli boru Sinaga Porti dan Boru Manurung, bermukim di Lintong Julu, Lumban Julu
      2. Raja Situatua menikah dengan Antang Namora boru Sitorus, bermukim di Sirait Holbung
      3. Raja Sapalatua menikah dengan Sanggul Haomasan boru Manurung dan Pausaga boru Sitompul, bermukim di Sibadihon Toruan, Bonatua Lunasi dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
        1. Ompu Laban menikah dengan Boru Manurung, bermukim di Sibadihon, Bonatua Lunasi
        2. Ompu Saha menikah dengan Boru Daulay, bermukim di Sibadihon, Bonatua Lunasi
        3. Raja Sahalana menikah dengan Paradongan boru Manurung, bermukim di Sibadihon, Bonatua Lunasi
      4. Raja Solotan Tua menikah dengan Boru Nainggolan Parhusip, putri dari Ompu Pangarahoda Nainggolan Parhusip, bermukim di Sirait Uruk
      5. Ompu Tombak Mataniari menikah dengan Pintauli boru Manurung, bermukim di Porsea, Toba
  2. Datu Ronggur menikah dengan Boru Sagala dan Boru Limbong, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
    1. Ompu Batu Holing menikah dengan Boru Limbong Sihole, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
      1. Ompu Sorbanibanua (Raja Ajibata) menikah dengan Boru Limbong, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
        1. Raja Niangkola menikah dengan Boru Limbong Sihole, bermukim di Pardamean Ajibata
        2. Ompu Tuan Lobu (Raja Huta) menikah dengan Boru Sihaloho; Boru Sidabalok, putri dari Ompu Mulana Sidabalok; dan Boru Sinaga, bermukim di Parsaoran Ajibata
        3. Ompu Paruma menikah, bermukim di Parapat, Simalungun
      2. Ompu Guba yang pergi ke Tanah Jawa, Simalungun dan di sana ia diangkat menjadi marga Sinaga, keturunannya ada yang tetap bermarga Sinaga, serta ada yang kembali bermarga Sirait.
      3. Ompu Lantas menikah dengan Boru Damanik, bermukim di Pardomuan Ajibata dan memiliki seorang putra, yaitu:
        1. Ompu Marleang Niaji menikah dengan Boru Damanik, bermukim di Sipolha Horison, Simalungun
  3. Guru Solomoson menikah dengan Boru Manurung, putri dari Raja Sijambang Manurung Hutagurgur; Nai Limbong Monang boru Nainggolan Parhusip, putri dari Lindi Niaek Nainggolan Parhusip; dan Boru Manurung, putri dari Raja Siarsam Manurung Simanoroni, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki empat orang putra, yaitu:
    1. Ompu Tadiri menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Pande Raja menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba
    2. Ompu Tualang menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Ompu Barita Namora menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
        1. Ama ni Barita Namora menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba
        2. Ompu Sotompion menikah, bermukim di Parapat, Simalungun
        3. Raja Manampolak menikah dengan Boru Manurung, bermukim di Sirait Uruk
    3. Guru Marisi menikah dengan Boru Simbolon, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Ompu Sotaralo menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba
    4. Ompu Batu Julu menikah, bermukim di Lintong Julu, Lumban Julu dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Ama ni Batu Julu menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba

Sirait Sianggian menikah dengan Boru Simaibang dari Nagori Sipangan Bolon, bermukim di Lumban Gambiri dan memiliki dua orang putra, yaitu:

  1. Guru Tahan Niaji menikah dengan Boru Borbor, bermukim di Pardamean Sibisa dan memiliki seorang putra, yaitu:
    1. Guru Tahan Diaji menikah dengan Boru Sihaloho, bermukim di Pardamean Sibisa dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Guru Pantang Diaji menikah dengan Boru Limbong dan Boru Malau, bermukim di Lumban Gambiri dan memiliki dua orang putra, yaitu:
        1. Raja Ompu Metur menikah dengan Boru Ambarita, bermukim di Lumban Gambiri
        2. Ompu Monang menikah dengan Boru Nadapdap, bermukim di Sipangan Bolon, Simalungun
  2. Guru Tumindi menikah dengan Boru Sinaga dan Boru Gultom, bermukim di Sipangan Bolon, Simalungun dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
    1. Guru Tinopot menikah, bermukim di Sigapiton, Ajibata
    2. Guru Manahan menikah, bermukim di Horsik, Ajibata
    3. Guru Manduppas menikah, bermukim di Sipangan Bolon, Simalungun

Tentang Padan:

Marga Sirait tercatat tidak memiliki padan (ikrar janji) dengan marga lain, berbeda dengan ketiga kerabatnya yang masing-masing memiliki padan.

Kontroversi tahun 2014—2020:

Beberapa pihak mengklaim bahwa Raja Toga Sirait memiliki dua orang istri dan tiga orang putra. Menurut klaim tersebut, anak ketiga dari Toga Sirait bernama Sirait Nalomloman, yang merupakan hasil pernikahan dengan istri kedua, Boru Naibaho dari Pangururan. Mereka juga mengklaim bahwa Raja Mardobur bukan anak dari Ompu Raja, melainkan anak dari Sirait Nalomloman. Namun, klaim yang beredar pada tahun 2014 hingga 2020 ini tidak diterima oleh sebagian besar keturunan Sirait lantaran tidak adanya verifikasi yang baik serta tidak berbasis data.[2][3]

Berdasarkan literatur yang diterima secara umum, Raja Toga Sirait memiliki dua anak laki-laki, yakni Sirait Sihahaan dan Sirait Sianggian,​[4][5] dan tidak memiliki anak perempuan. Pada peresmian pemugaran Tambak Raja Toga Sirait tahun 1984, dari pihak marga Limbong (sebagai Hula-hula/Tulang) telah memberikan pernyataan dan kesaksian bahwa Toga Sirait hanya beristrikan Boru Limbong dan memiliki dua anak laki-laki. Dan pada pesta peresmian Tugu Parsadaan Limbong Mulana di Sarimarrihit pada 23 Juli 2023 secara khusus memberi ulos kepada marga Sirait sebagai Boru Sihabolonan/Pamoruon marga Limbong.

250px-Desa_Singapiton_02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemandangan alam di Sigapiton, Ajibata, Toba. Leluhur marga Sirait menempati wilayah Ajibata dan merupakan Raja Bius Sigapiton, yang dikenal sebagai Raja Naopat atau Raja Paropat bersama marga Manurung, Butarbutar, Nadapdap.[6][7] Raja Bius Motung terdiri dari marga Sirait, Manurung, Butarbutar, Saragi, Ambarita, Silalahi, Nadapdap.[8] Raja Bius Ajibata terdiri dari marga Sirait dan Manik.[8]

Sirait di Simalungun

Pada awalnya, leluhur marga Sirait bermukim di Sibisa. Generasi berikutnya kemudian menyebar dan membuka perkampungan baru. Pada masa berdirinya kerajaan-kerajaan Simalungun, populasi marga Sirait yang menyebar di Simalungun berafiliasi dengan marga Sinaga. Marga Sirait pada dasarnya berlatar belakang budaya Batak Toba, adapun sebagian dari populasinya juga tersebar di Simalungun dengan kebudayaan Batak Simalungun.[9][10]

Huta Sirait

«« Daftar ini belum tentu lengkap »»

Berikut adalah daftar tanah ulayat/huta marga Sirait:

250px-Peta_Bius-Bius_di_Samosir.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bius Sirait di Samosir yang kini secara administratif masuk dalam Kecamatan Nainggolan.[a]
  1. Huta Sirait, Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Bona Pasogit Sirait)
    (terdiri dari: Sibisa, Lumban Sihahaan, Lumban Gambiri)
  2. Huta Sirait, Parsaoran Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Tambak Raja Toga Sirait)
    (terdiri dari: Sibisa, Onan Sampang)
  3. Sirait Uruk (Patane I), Porsea, Toba[11]
  4. Lumban Sirait di Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  5. Huta Sirait di Huta Namora, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
  6. Sirait Holbung di Harungguan, Kecamatan Bonatua Lunasi, Kabupaten Toba
  7. Lumban Rang di Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
  8. Huta Sirait di Lintong Julu, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
  9. Huta Sirait, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir
  10. Barisan Sirait di Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi
  11. Lumban Sirait di Pardomuan Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  12. Lumban Sirait di Pardamean Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  13. Huta Sirait, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun
  14. Lumban Sirait di Maduma, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir
  15. Lumban Sirait di Motung, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  16. Lumban Sirait Gu, Parmaksian, Toba
  17. Lumban Sirait di Parsaoran Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  18. Huta Sirait di Horsik, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba

Peninggalan

Terdapat beberapa peninggalan leluhur marga Sirait yang teridentikasi keberadaannya.

Dalam sejarah marga Sirait, khususnya riwayat Sirait Sihahaan, ketika ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia mewariskan benda pusaka sebagai simbol kesejahteraan dan pertanda. Ompu Raja menerima Piso Pusaka, Datu Ronggur menerima Hujur Siringis, dan Guru Solomoson menerima Sapa Bolon. Mengenai keberadaan fisiknya, benda-benda pusaka tersebut masih ada hingga saat ini di mana leluhur tersebut bermukim.

Dua benda pusaka peninggalan Ompu Raja Sirait, yakni Pagar Silintong Boru-boru serta Pagar Silintong Tunggal yang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya,
berikut penjelasannya:

Pagar Silintong Boru-boru atau dikenal juga dengan nama Batu Sidogor-dogor adalah benda pusaka milik Ompu Raja. Berdasarkan penuturan keturunan Ompu Raja, Pagar Silintong Boru-boru merupakan benda pusaka yang diyakini sebagai pangulubalang. Dikisahkan, pada masa lampau Pagar Silintong Boru-boru sangat berperan dalam menjaga huta (wilayah) Ompu Raja dan dipercaya dapat berbicara untuk memberitahukan jika ada musuh atau pencuri yang datang, melalui seruan: "Musu! Musu! Musu!". Namun kini, kesaktian Pagar Silintong Boru-boru dikabarkan sudah hilang karena tidak lagi lengkap dengan pasangannya, yakni Pagar Silintong Tunggal yang dibawa pergi oleh Raja Mardobur. Meski demikian, benda pusaka tersebut masih ada hingga saat ini di tambak (makam) Ompu Raja Sirait di Pardamean Sibisa.

Pagar Silintong Tunggal adalah benda pusaka milik Ompu Raja, nama Pagar Silintong Tunggal abadi sebagai benda pusaka yang mengiringi riwayat Raja Mardobur. Saat beranjak dewasa Raja Mardobur berniat untuk merantau, seiring waktu ia mulai merantau dari Pardamean Sibisa ke Lintong Julu hingga tiba di Harungguan, kemudian ia menikah, bermukim, dan berketurunan, serta membuka perkampungan baru di sana yang bernama Sirait Holbung. Kala itu, ia pergi sembari membawa Pagar Silintong Tunggal yang telah diwariskan oleh ayahandanya, Ompu Raja, sebagai sebuah pertanda baginya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Pagar Silintong Tunggal adalah batu sakti yang sudah diberikan kekuatan magis, yang dipercaya berfungsi sebagai penangkal racun dan bisa hewan. Bentuk fisik pasti dari Pagar Silintong Tunggal kini tidak dapat diidentifikasi. Selain itu, keberadaan benda pusaka tersebut juga sudah tidak diketahui lagi.[12][13]

Tokoh

Beberapa tokoh yang bermarga Sirait, di antaranya adalah:

Galeri

Catatan

Referensi

  1. ↑ Vergouwen, Jacob Cornelis (1964). The social organisation and customary law of the Toba-Batak of northern Sumatra. Internet Archive. The Hague, Martinus Nijhoff.
  2. ↑ "Suara Tapian |". www.suaratapian.com. Diakses tanggal 2026-06-08.
  3. ↑ "Berita Hukum". www.beritahukum.com. Diakses tanggal 2026-06-08.
  4. ↑ J.C. Vergouwen 2009, hlm. 11. sfn error: tanpa target: CITEREFJ.C._Vergouwen2009 (bantuan)
  5. ↑ W.M. Hutagalung 1991, hlm. 194-195. sfn error: tanpa target: CITEREFW.M._Hutagalung1991 (bantuan)
  6. ↑ "Badan Registrasi Wilayah Adat". www.brwa.or.id. Diakses tanggal 2026-04-15.
  7. ↑ "TanahKita.Id". www.tanahkita.id. Diakses tanggal 2026-08-04.
  8. 1 2 Basyral Hamidy Harahap, Hotman Siahaan 2006.
  9. ↑ "Sirait di Simalungun | Ditulis oleh pakar". www.wordpress.com. Diakses tanggal 2026-04-15.
  10. ↑ "Afiliasi marga Sirait di Simalungun". www.scribd.com. Diakses tanggal 2026-07-28.
  11. ↑ "Sirait Uruk". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-07-11.
  12. ↑ "Ebatak | Kisah dan Silsilah Raja Mardobur Sirait". www.ebatak.com. Diakses tanggal 2022-03-05.
  13. ↑ "Riwayat Raja Mardobur Sirait | Ditulis oleh pakar". www.bloggspot.com. Diakses tanggal 2026-04-15.
  14. ↑ "Charles Bonar Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
  15. ↑ "Linton Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-02.
  16. ↑ "Marintan Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-02.
  17. ↑ "Maruarar Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
  18. ↑ "Tokoh.id | Midian Sirait". www.tokoh.id. Diakses tanggal 2023-04-25.
  19. ↑ "Sabam Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.

Daftar pustaka

Raja Narasaon
  • Raja Mangarerak
  • Raja Mangatur
Raja Mangarerak
Raja Toga Manurung
Manurung
  • Raja Hutagurgur
  • Raja Hutagaol
  • Raja Simanoroni
Raja Mangatur
  • Toga Raja Sitorus
  • Raja Toga Sirait
  • Raja Toga Butarbutar
Sitorus
Sirait
  • Sirait Sihahaan
  • Sirait Sianggían
Butarbutar
  • Raja Simananduk
  • Raja Hutagorat
  • Raja Simananti
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan