Senin, 02 November 2026
07:30 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Scylla paramamosain

Scylla paramamosain

Sejenis kepiting bakau dari Jawa Tengah

Bagikan:
Scylla paramamosain
250px-Scyl_param_180225-5311823_mrd.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kepiting bakau hijau, Scylla paramamosain
dari Segarajaya, Tarumajaya, Bekasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Subfilum:
Kelas:
Ordo:
Infraordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
S. paramamosain
Nama binomial
Scylla paramamosain
Sinonim
  • Scylla serrata var. paramamosain Estampador, 1949[1] (basionym)
  • Scylla oceanica Serène, 1952
  • Scylla serrata Holthuis, 1978
Artikel takson sembarang

Scylla paramamosain atau yang juga dikenal sebagai kepiting-bakau hijau (green mangrove crab, green mud crab) adalah sejenis kepiting bakau yang menyebar luas di Asia Tenggara, khususnya di bagian utara pesisir Laut Tiongkok Selatan dan sebagian wilayah Jawa.[2]

Pengenalan

250px-Scyl_param_180225-5311850_mrd.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ciri-ciri untuk pengenalan

Kepiting bakau berukuran besar, lebar karapas maksimum (hewan jantan) sekitar 20 cm dengan bobot mencapai 2 kg. Lengan sepit (chelipeds) besar dan kukuh, dengan dua duri runcing di belakang jari penjepit; satu duri tumpul serupa tonjolan berada di sisi luar carpus (ruas kedua, dihitung dari pangkal). Sisi muka karapas (frontal margin, di antara dua mata) biasanya dengan gerigi yang tajam.[2]

Tatkala hidup, umumnya karapasnya berwarna hijau hingga hijau terang; lengan sepit (capit) berwarna hijau sampai biru kehijauan, sisi bawahnya biasa dengan warna kuning pucat hingga jingga kekuningan.[2]

Agihan dan ekologi

250px-Scyl_param_180225-5311872_mrd.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bagian mulut
250px-Scyl_param_180225-5311863_mrd.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Taju kelamin hewan jantan

Scylla paramamosain tercatat keberadaannya di Jepang, Taiwan, Tiongkok (termasuk Hong Kong), Vietnam, Kamboja, Singapura dan Indonesia.[3] Kepiting ini sekarang juga dihasilkan dari pemeliharaan akuakultur di Vietnam bagian selatan.[4] Di Indonesia, kepiting bakau ini diketahui menghuni paparan lumpur dangkal dan tambak-tambak dekat estuaria di pesisir Laut Jawa; khususnya di pantai utara Jawa Tengah dan sekitar Banjarmasin, Kalsel.[5]

Habitat kepiting-bakau hijau terutama adalah pantai berbatu, dekat terumbu karang, dan hutan bakau.[2]

Lokalitas tipe adalah Timbulsloko.[5]

Taksonomi

250px-Scyl_param_180225-5311828_mrd.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Betina (kiri) dan jantan (kanan)

Scylla paramamosain pertama kali dideskripsi oleh Eulogio P. Estampador pada tahun 1949, sebagai salah satu subspesies dari Scylla serrata.[6][7] Kini diketahui bahwa kepiting-kepiting bakau yang sebelumnya diidentifikasi sebagai S. serrata di Tiongkok kebanyakan adalah S. paramamosain.[8]

Catatan kaki

  1. ↑ Estampador, EP. 1949. "Studies on Scylla (Crustacea: Portunidae) I. Revision of the genus. Philipp. J. Sci. 78(1): 95-108. pls. 1-3
  2. 1 2 3 4 Carpenter, Kent E. & Volker H. Niem. 2001. FAO Species Identification Guide: The Living Marine Resources of The Western Pacific. Vol. 2: 1128. Rome:Food and Agriculture Organization.
  3. ↑ "Scylla paramamosain Estampador, 1949". Crabs of Japan. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-27. Diakses tanggal Juni 18, 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Stig M. Christensen, Donald J. Macintosh & Nguyen T. Phuong. "Pond production of the mud crabs Scylla paramamosain (Estampador) and S. olivacea (Herbst) in the Mekong Delta, Vietnam, using two different supplementary diets". Aquaculture Research. 35 (11): 1013–1024. doi:10.1111/j.1365-2109.2004.01089.x.
  5. 1 2 Keenan, CP., PJF. Davie & DL. Mann. 1998. "A revision of the genus Scylla de Haan, 1833 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Portunidae)". Raffles Bulletin of Zoology 46: 217-45. (1998)
  6. ↑ W. Stephenson & B. Campbell (1960). "The Australian Portunids (Crustacea: Portunidae). IV. Remaining Genera". Australian Journal of Marine and Freshwater Research. 11 (1): 73–122. doi:10.1071/MF9600073.
  7. ↑ Jesse D. Ronquillo, Zandro V. Pura & Rex M. Traifalgar. ""Seedling" production and pond culture of hatchery-produced juveniles of the mud crab Scylla oceanica Dana, 1852". Dalam Frederick R. Schram & J. C. von Vaupel Klein (ed.). Crustaceans and the Biodiversity Crisis: Proceedings of the Fourth International Crustacean Congress, Amsterdam, the Netherlands, July 20-24, 1998 (PDF). Crustacean Issues. Vol. 12. Brill Publishers. hlm. 999–1011. ISBN 978-90-04-11387-9. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-03-23. Diakses tanggal 2015-09-11.
  8. ↑ Ling-Bo Ma, Feng-Ying Zhang, Chun-Yan Ma & Zhen-Guo Qiao (2006). "Scylla paramamosain (Estampador) the most common mud crab (Genus Scylla) in China: evidence from mtDNA". Aquaculture Research. 37 (16): 1694–1698. doi:10.1111/j.1365-2109.2006.01603.x.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
Krustasea yang dapat dimakan
Udang
Lobster
Kepiting
Udang karang
Lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan