Senin, 19 Oktober 2026
18:45 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Peristiwa Cikini

Peristiwa Cikini

upaya pembunuhan terhadap Presiden Indonesia Soekarno di Jakarta pada 1957

Bagikan:
Peristiwa Cikini
Potret seluruh badan seorang pria berjas yang berdiri di depan pilar.
Soekarno pada tahun 1952
osm-intl,6,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Peristiwa_Cikini&revid=30046294&groups=_1a114ccf595bf450aa93ce39bb738f3d152939eb&parser=parsoid
LokasiPerguruan Cikini, Jakarta, Indonesia
TanggalNovember 30, 1957;68 tahun lalu (1957-11-30)
20.55 WIB (WIB; UTC+07:00)
SasaranSoekarno
Jenis serangan
Upaya pembunuhan dengan granat
SenjataGranat tangan
Tewas9–11[a]
Pelaku
  • Saadon bin Mohammed
  • Tasrif bin Hussein
  • Jusuf Ismail
  • Moh. Tasin bin Abubakar

Peristiwa Cikini, juga dikenal di Indonesia sebagai Tragedi Cikini, adalah sebuah upaya pembunuhan terhadap Presiden Indonesia Soekarno. Pada 30 November 1957, Soekarno menghadiri perayaan hari jadi ke-15 Perguruan Cikini di Cikini, Jakarta, bersama putranya Guntur dan putrinya Megawati. Setelah perayaan selesai, anak-anak masuk ke dalam gedung sekolah sementara Soekarno berjalan menuju mobil limosinnya. Saat ia berada di tengah perjalanan menuju kendaraannya, lima buah granat dilemparkan oleh sejumlah individu yang bersembunyi di dalam kerumunan masyarakat yang mengelilingi Soekarno. Ajudannya, Sudarto, dengan sigap menjatuhkan Soekarno ke tanah, lalu bekerja sama dengan dua pengawal lainnya untuk segera membawa Soekarno berlindung ke sebuah gedung di seberang jalan.

Soekarno lolos dari serangan tersebut tanpa luka dan menyampaikan pidato singkat tak lama setelahnya. Namun, ledakan granat-granat tersebut menewaskan sejumlah orang di sekitar lokasi dan melukai puluhan orang lainnya; sebagian besar korban merupakan anak-anak. Militer Indonesia menangkap lebih dari tujuh puluh orang hingga akhir Desember, dengan empat di antaranya —Saadon bin Mohammed, Tasrif bin Hussein, Jusuf Ismail, dan Moh. Tasin bin Abubakar —dinyatakan bersalah dalam persidangan pada tahun 1958. Setelah serangan ini, sejumlah anggota partai Islam Masyumi melarikan diri dari Jakarta menuju Sumatra, pemerintah menghentikan perundingan dengan kelompok-kelompok penentang, dan sentimen anti-Belanda meningkat. Soekarno, yang memimpin Indonesia hingga tahun 1967, di kemudian hari meyakini bahwa Central Intelligence Agency (CIA) turut mendalangi upaya pembunuhan terhadap dirinya.

Latar belakang

Soekarno menjadi Presiden Indonesia pada 17 Agustus 1945, hari ketika ia memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia memimpin Indonesia melewati revolusi nasional selama empat tahun melawan kembalinya pasukan kolonial Belanda, yang berakhir pada Desember 1949 dengan pengakuan resmi atas kedaulatan Indonesia.[1] Negara ini menerapkan sistem demokrasi parlementer, dan pada tahun 1955, Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum legislatif pertamanya.[2] Soekarno tetap menjabat sebagai presiden, kendati ia menghadapi kritik yang kian meningkat.[1]

Pada saat yang sama, pemerintah pusat menghadapi berbagai tantangan terhadap kekuasaannya. Kelompok-kelompok kedaerahan seperti Dewan Banteng dan Dewan Gajah di Sumatra mengecam perlakuan pemerintah terhadap wilayah-wilayah yang kurang berkembang di luar Jawa.[2] Sementara itu, pemberontakan DI/TII terus terlibat dalam konflik bersenjata dengan pasukan pemerintah sepanjang dekade 1950-an dalam upayanya mendirikan negara Islam.[3] Untuk menjamin kestabilan negara, Soekarno berupaya mencapai kompromi dengan kelompok-kelompok penentang,[4] meskipun ia juga merancang konsep "Demokrasi Terpimpin" yang ditujukan untuk menyatukan partai-partai politik yang saling berselisih di bawah kepemimpinan tunggalnya.[1]

Serangan

Tampak depan sebuah mobil dengan pelat nomor bertuliskan "Indonesia"
Indonesia 1, tempat granat ketiga meledak

Pada 30 November 1957, Presiden Soekarno menghadiri perayaan hari jadi ke-15 Perguruan Cikini di Jalan Cikini No. 76 di Cikini, Jakarta,[5] sebuah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama terpadu yang populer di kalangan elit di kota tersebut.[6] Saat berbicara dengan Cindy Adams pada dekade 1960-an, ia mengingat bahwa lebih dari lima ratus tamu undangan hadir, bersama dengan para guru, anak-anak, dan ribuan penonton.[7] Perayaan sekolah tersebut meliputi sejumlah bentuk hiburan termasuk permainan dan petunjukan panggung,[8] dan Soekarno duduk bersama anak-anaknya, Guntur dan Megawati, yang bersekolah di sana,[9] sebelum kemudian menyampaikan pidato.[4] Anak ketiganya, Rachmawati, juga terdaftar sebagai siswi di sekolah tersebut tetapi tidak hadir karena sakit.[10]

Setelah Soekarno menyampaikan sebuah pidato,[4] Guntur dan Megawati masuk kembali ke dalam gedung sekolah untuk menonton film,[11] sementara Soekarno beranjak meninggalkan lokasi. Dikelilingi oleh kerumunan warga, ia berjalan menuju mobil limosinnya,[8] sebuah Chrysler Imperial yang dikenal sebagai Indonesia 1.[12] Pada pukul 20.55 Waktu Indonesia Barat (WIB), Soekarno berada di tengah perjalanan menuju mobilnya.[13] Tak lama setelah komandan pengawalnya berseru "Hormat!",[7] terdengar suara yang awalnya dikira sebagai letusan tembakan.[14] Sebuah granat segera menyusul, menjadi yang pertama dari lima granat yang dilemparkan oleh individu-individu yang bersembunyi di tengah kerumunan.[12] Di tengah kepanikan yang terjadi, ditambah oleh sejumlah murid yang keluar dari gedung sekolah,[15] Soekarno ditarik oleh pengawalnya, Ajun Inspektur Polisi Sudio.[16]

Sebuah granat kedua dilemparkan ke arah Soekarno dari jarak dekat.[13] Sang presiden kemudian dijatuhkan ke tanah dan dilindungi oleh tubuh ajudannya, Mayor Sudarto.[17] Bersama dua orang pengawal, Sudarto kemudian memegang Soekarno dan menariknya melewati Indonesia 1, sesaat sebelum ledakan ketiga menghancurkan bagian dalam mobil tersebut. Granat keempat dan kelima menyusul, di mana granat yang terakhir melukai Sudarto dan salah satu pengawal.[18] Saat diwawancarai oleh surat kabar Sin Min seusai peristiwa tersebut, Sudarto mengenang, "Saya berpendapat tidak ada jalan lain menyelamatkan jiwa Presiden dari bahaya maut itu kecuali mengorbankan diri terlebih dahulu. ... Kami —Ajun Inspektur Polisi Sudio, anggota polisi Oding [Suhendar], dan saya sendiri —sebagai perisai terakhir."[12]

Soekarno dibawa menyeberangi jalan. Awalnya, ia mencari perlindungan di rumah seorang warga berdarah Indonesia-Belanda sebelum kemudian berpindah ke tempat aman lainnya. Soekarno di kemudian hari mengenang, "Jangan sampai Presiden Indonesia menghadap Sang Pencipta di wilayah Belanda, maka saya bergegas keluar dan mencari tempat perlindungan lain."[19] Saat Soekarno bersembunyi, Sudarto memerintahkan pengawal lainnya untuk menembak siapapun yang mendekat. Karena jaringan telepon sedang mati, mereka tak dapat meminta bantuan.[20] Sebuah mobil cadangan tiba untuk menjemput Soekarno pada sekitar pukul 22.00 WIB.[19] Karena tidak dapat langsung menuju Istana Merdeka akibat palang pintu perlintasan kereta api yang ditutup, sang presiden dan para ajudannya memutari jalanan Jakarta terlebih dahulu.[12] Sementara itu, Guntur dan Megawati berhasil dievakuasi dari sekolah langsung menuju istana, tempat mereka menunggu kabar mengenai Soekarno.[11]

Buntut

Korban

250px-Victims_of_the_Cikini_Attack%2C_Suara_Merdeka_%281957-12-03%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para korban serangan Cikini di rumah sakitl

Soekarno tidak mengalami luka, demikian pula anak-anaknya.[9] Awalnya, dilaporkan bahwa 7 korban tewas di antara warga yang berada di lokasi, serta 47 lainnya mengalami luka-luka.[9] Di antara korban yang tewas terdapat dua anggota Pengawal Presiden, seorang wanita hamil, dan beberapa anak-anak.[21] Paha Oding mengalami luka robek terbuka, sementara Sudarto dirawat di rumah sakit akibat cedera pada kakinya;[18] ia kemudian menerima kenaikan pangkat atas tindakannya tersebut.[22]

Pada tengah malam, lebih dari tujuh puluh orang telah dirawat di Rumah Sakit Pusat (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) dan Rumah Sakit Cikini.[23] Pemerintah Indonesia menghimbau para dokter yang bertugas untuk segera menghampiri para korban,[4] termasuk Menteri Kesehatan Abdul Azis Saleh.[24] Palang Merah Indonesia menyerukan donor darah guna membantu para korban luka,[9] dengan himbauan serupa juga dikeluarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).[25] Bantuan medis lanjutan turut disediakan oleh kedutaan besar Uni Soviet.[26]

Jumlah korban meningkat menjadi 9 orang tewas dan 137 orang luka-luka pada 1 Desember, dengan kebanyakan korban adalah anak-anak. Lima puluh orang sisanya masih ada di rumah sakit.[27] Laporan jumlah korban berikutnya bervariasi, dengan jumlah korban tewas berkisar antara sembilan hingga sebelas orang.[a] Sementara itu, laporan mengenai korban luka-luka berkisar antara 30[32] hingga 167 orang.{{efn|Angka lainnya meliputi 48,[21] 146,[33] dan 167.[b][28]

Tanggapan pemerintah

Beberapa jam setelah serangan tersebut, Soekarno menyampaikan pidato melalui Radio Republik Indonesia, menginterupsi siaran pertunjukan wayang. Dalam pidato singkatnya,[34] ia memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan dirinya, mengimbau ketenangan dan rasa simpati terhadap para korban, serta mendesak persatuan Indonesia.[4] Para perwakilan dari berbagai partai politik Indonesia, termasuk partai politik Islamis Masyumi dan PKI, menyatakan simpati mereka terhadap Soekarno dan para korban serangan.[35] Kala berpidato dalam pertemuan kabinet pada 3 Desember 1957, mantan wakil presiden Mohammad Hatta menyatakan ketidakyakinannya bahwa sebuah serangan semacam itu dapat dialami oleh sebuah bangsa yang percaya akan Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan, seraya berkata "Apabila kita cinta kepada demokrasi, marilah kita berusaha sekuat tenaga supaya metode fasis ini terkikis dari bumi sakti kita."[36] Para pemimpin mancanegara, termasuk Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dari India, Marsekal Kliment Voroshilov dari Uni Soviet, dan Presiden Dwight D. Eisenhower dari Amerika Serikat, mengirim telegram yang menyatakan dukacita mereka terhadap para korban dan ucapan selamat atas pelarian Soekarno.[37]

Gambar hitam-putih dua pria berkumpul di sekitar tempat tidur tempat seorang anak terbaring. Pria di sebelah kanan meletakkan tangannya di atas kepala sang anak.
Soekarno (kanan) menjenguk seorang penyintas serangan

Usai serangan, keamanan ditingkatkan untuk mantan wakil presiden Mohammad Hatta dan para anggota kabinet Soekarno.[38] dengan pengawalan tambahan dikerahkan di kantor-kantor pemerintahan dan tempat-tempat berpotensi rentan lainnya.[39] Di tempat lain, arus lalu lintas yang meninggalkan Jakarta diperiksa.[40] Militer Indonesia menunda seluruh cuti dan mewajibkan para anggotanya kembali ke pos-pos mereka.[41] Menteri Pendidikan Prijono memerintahkan agar seluru8h sekolah mengibarkan bendera setengah tiang pada 2 Desember 1957 sebagai bagian dari hari berkabung.[42] Sekolah Cikini masih ditutup pada masa setelahnya, dengan halamannya dijaga ketat.[43]

Soekarno tidak tampil di hadapan publik hingga 4 Desember, saat ia menjenguk para korban luka di rumah sakit,[44] serta menunda rencana kunjungannya ke Amerika Latin.[45] Ia terguncang oleh upaya pembunuhan tersebut;[46] menurut Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja, ia menjadi "lelah secara fisik dan mental"[47] sehingga kehilangan konsentrasi atau kelanjutan ucapannya di tengah kalimat.[48] Soekarno mengambil cuti selama sebulan mulai akhir Desember. Selama periode ini, Sartono menjabat sebagai pejabat presiden,[46] yang sempat memicu rumor yang kemudian terbantahkan bahwa Soekarno telah digulingkan.[47]

Penyelidikan

Pada awalnya, tidak ada tersangka yang dilaporkan.[4] Militer Indonesia melancarkan pencarian secara luas dan meluncurkan berbagai penyerbuan.[38] Pada tanggal 2 Desember, mereka mengumumkan bahwa dua orang telah ditangkap terkait serangan tersebut,[9] disusul gelombang penangkapan lainnya pada keesokan harinya.[49] Menjelang akhir Desember 1957, militer Indonesia melaporkan bahwa 71 orang ditangkap, termasuk sejumlah warga asing.[50] Empat pemuda berhasil diidentifikasi sebagai pelaku penyerangan: Saadon bin Mohammed, Tasrif bin Hussein, Jusuf Ismail, dan Moh. Tasin bin Abubakar.[51] Para penyerang ini, yang sebagian besar berasal dari Bima atau Sumbawa, ditemukan menginap di sebuah asrama di dekat sekolah Cikini.[52] Semuanya merupakan anggota Gerakan Anti-Komunis (GAK),[52] dan diyakini telah terpengaruh oleh gerakan Darul Islam.[21]

Ketika diinterogasi, para pemuda tersebut menyatakan bahwa mereka telah memulai persiapan beberapa bulan sebelumnya. Awalnya mereka menduga Soekarno akan mencari perlindungan di dalam limosinnya, sehingga mereka menargetkan kendaraan tersebut dan lambat bereaksi terhadap situasi yang berkembang.[12] Menurut keterangan mereka, Soekarno dijadikan sasaran karena ia dianggap mendukung Partai Komunis Indonesia, yang mereka nilai merugikan kelompok-kelompok Muslim.[21] Persidangan dimulai pada April 1958.[52] Tasrif, salah satu terdakwa, mengecam Soekarno sebagai "sekadar orator" dan kafir yang "harus dilenyapkan".[53] Jusuf, yang di persidangan diidentifikasi sebagai perencana serangan,[21] menyebut Soekarno sebagai "pelindung utama kaum Komunis".[54] Rekan sesama terdakwa, Saadon, berpendapat bahwa kekerasan akan mewujudkan tujuannya lebih cepat daripada menunggu parlemen.[54] Para pemuda tersebut juga menyatakan bahwa mereka telah melancarkan beberapa serangan sebelumnya demi mewujudkan negara Islam dan telah merencanakan serangan lanjutan terhadap para pemimpin nasional lainnya. Sejarawan asal Amerika Serikat, Audrey Kahin, menulis bahwa kesaksian mereka di pengadilan kemungkinan besar diarahkan oleh pemerintah.[55]

Gambar hitam-putih sebuah ruangan dengan beberapa meja yang disusun membentuk huruf "U". Di tengahnya, seorang pemuda berpakaian putih duduk di kursi kayu, menghadap panel yang terdiri dari empat pria berjas.
Tasrif bin Hussein (tengah) di persidangan, ca Juni 1958

Persidangan ini diliput secara luas oleh pers Indonesia, dengan kesaksian-kesaksian dicetak secara verbatim.[54] Keempat terdakwa dinyatakan bersalah.[56] Saadon, Tasrif, dan Jusuf dijatuhi hukuman mati. Setelah banding mereka ditolak, mereka dieksekusi oleh regu tembak pada 28 Mei 1960.[57] Terdapat perbedaan di antara sumber-sumber yang ada mengenai nasib Tasin. Jurnalis Arnold Brackman menyebutkan bahwa ia dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara;[26] sejarawan Audrey dan George McTurnan Kahin menulis bahwa penyerang terakhir tersebut dijatuhi hukuman penjara seumur hidup;[56] sementara Ensiklopedia Sejarah Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan mencatat bahwa keempat penyerang tersebut dieksekusi mati.[21]

Pemerintah Indonesia mengidentifikasi pendiri GAK Zulkifli Lubis, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai direktur pertama Badan Intelijen Negara, sebagai dalang di balik peristiwa Cikini,[58] dan surat perintah penangkapan pun dikeluarkan pada 22 Januari 1958.[59] Rekan Lubis, Saleh Ibrahim, juga turut diburu. Kedua pria tersebut tidak kunjung tertangkap, dan keduanya melarikan diri ke Sumatra Barat.[c][61]

Dampak dan warisan

Selama penyelidikan berlangsung, partai politik Islam Masyumi sempat dicurigai.[62] Banyak di antara para pelaku merupakan anggota sayap pemudanya, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, dan mobil milik seorang anggota partai tersebut telah digunakan dalam serangan itu.[63] Pada akhir Desember 1957, sejumlah pemimpin terkemuka partai, seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, dituduh terlibat dalam peristiwa Cikini oleh surat kabar yang terafiliasi dengan Partai Komunis atau Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno. Kampanye anti-Masyumi yang gencar dan meluas menyebabkan anggota partai diancam melalui telepon, tanpa adanya intervensi dari pemerintah Indonesia. Alhasil, banyak pimpinan partai tersebut melarikan diri ke Sumatra[59] karena mengkhawatirkan keselamatan nyawa mereka.[64] Tokoh-tokoh ini meliputi Burhanuddin Harahap dan Sjafruddin pada Desember 1957 serta Natsir pada Januari 1958.[59]

250px-Indonesian_soldiers_guarding_KPM_office_after_seizure%2C_Angkatan_Darat_%281958-01%29%2C_p31.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para prajurit Indonesia menjaga markas besar Koninklijke Paketvaart-Maatschappij setelah penyitaannya. Di tengah-tengah sentimen anti-Belanda yang menyusul sengketa Papua Barat dan Peristiwa Cikini, usaha-usaha milik Belanda disita oleh Indonesia.

Karena peristiwa Cikini terjadi tidak lama setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa gagal meloloskan resolusi Indonesia terkait sengketanya yang sedang berlangsung dengan Belanda atas Irian Barat,[65] pers Indonesia mengaitkan insiden itu dengan krisis yang tengah terjadi. Sebuah editorial di surat kabar Suluh Indonesia, misalnya, berpendapat bahwa serangan tersebut "memperkuat keyakinan bahwa anasir-anasir perusak ingin membinasakan Republik Indonesia".[66] Sehari setelah serangan, pemerintah melarang publikasi berbahasa Belanda dan mencabut hak pendaratan maskapai penerbangan Belanda, KLM.[26] Dalam hitungan pekan, di tengah gelombang sentimen anti-Belanda, perusahaan-perusahaan milik Belanda disita oleh PKI dan PNI sebelum akhirnya beralih ke bawah kendali militer, sementara 46.000 warga negara Belanda diusir.[65]

Segera setelah Peristiwa Cikini, Indonesia menghentikan perundingan yang tengah berjalan dengan kelompok-kelompok penentang.[67] Pada bulan-bulan berikutnya, pemerintah mengubah pendekatannya dalam menangani penentangan, dengan memandang bahwa kompromi tidak lagi dimungkinkan. Ketika sekelompok perwira militer yang terafiliasi dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) menuntut pengunduran diri Soekarno pada tahun 1958, pemerintah menanggapinya dengan memberikan pemberhentian tidak dengan hormat serta menuduh mereka terlibat dalam pemberontakan dan upaya pembunuhan tersebut.[68] Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia turut dilarang pada tahun 1960 setelah dituduh mendukung PRRI.[69] Pemerintah mengeksekusi Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam, pada tahun 1962;[70] Soekarno menulis bahwa ingatan tentang Cikini membayangi pikirannya saat ia menandatangani surat perintah hukuman mati Kartosoewirjo.[19]

Peristiwa Cikini merupakan yang pertama dari beberapa upaya pembunuhan terhadap Soekarno,[29] yang juga meliputi serangan udara terhadap Istana Bogor pada tahun 1960[71] serta serangan granat di Makassar pada tahun 1962.[72] Ia tetap menjabat sebagai presiden Indonesia hingga tahun 1967,[1] meresmikan konsep "Demokrasi Terpimpin"-nya dalam pidato tanggal 17 Agustus 1959[73] dan menjadi semakin otoriter.[74] Menurut penulis biografi asal Australia, John D. Legge, keberhasilan Soekarno yang berulang kali lolos dari berbagai upaya pembunuhan memicu keyakinan publik bahwa dirinya kebal.[71]

Setelah Indonesia menemukan bukti bahwa Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat telah memberikan dukungan kepada para penentang di Sumatra dan Sulawesi,[75] pemerintah mulai menuduh badan tersebut turut mendukung peristiwa Cikini.[32] Soekarno terus meyakini bahwa CIA menginginkan kematiannya hingga tahun 1965, ketika ia mengatakan kepada staf Gedung Putih Michael Forrestal bahwa lembaga tersebut sudah "di luar kendali".[76] Pada tahun 1975, Senator Amerika Serikat Frank Church memimpin penyelidikan atas dugaan keterlibatan CIA dalam berbagai upaya pembunuhan di seluruh dunia; laporan akhirnya mengindikasikan bahwa CIA sempat mempertimbangkan rencana pembunuhan terhadap Soekarno dan memiliki seorang aset di kawasan tersebut, kendati tidak memberikan rincian lebih lanjut.[62] Dokumen yang dideklasifikasi pada tahun 2015 memperlihatkan kesaksian Richard M. Bissell Jr. bahwa rancangan operasi CIA tersebut melibatkan skenario di mana Soekarno dipikat oleh seorang agen wanita untuk kemudian dilumpuhkan.[77] Hingga tahun 2020, pihak CIA belum mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam serangan Cikini.[48]

Catatan

  1. 1 2 Sumber yang menyebutkan sembilan korban tewas meliputi Louis Fischer[13] dan Arnold Brackman.[26] Sumber yang menyebutkan sepuluh korban tewas meliputi Time,[28] Edelweis Lararenjana,[29] dan Cindy Adams.[19] Sumber yang menyebutkan sebelas korban tewas meliputi The New York Times,[30] Angus McIntyre[11] serta Audrey dan George McTurnan Kahin.[31]
  2. ↑ Jumlah lainnya meliputi 48 (Amaruli), 146 (The Waco Times-Herald 1957, hlm. 7), dan 150 (Brackman 1963, hlm. 242).
  3. ↑ Di Sumatra, Lubis bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Ia berhasil menghindari penangkapan hingga setelah Soekarno digulingkan.[60] Meskipun ia mengakui pernah bertemu dengan para pelaku, ia membantah terlibat dalam serangan tersebut, dan dakwaan terhadapnya kemudian dicabut.[21]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Hanna 2026.
  2. 1 2 Maslan 2024.
  3. ↑ Dijk 1981, hlm. 1–3.
  4. 1 2 3 4 5 6 The Journal Star 1957, hlm. 1.
  5. ↑ Adryamarthanino & Nailufar 2021; The Age 1957, hlm. 1
  6. ↑ Nugroho 2013, hlm. 4.
  7. 1 2 Sukarno & Adams 1966, hlm. 272.
  8. 1 2 Nugroho 2013, hlm. 10.
  9. 1 2 3 4 5 The Age 1957, hlm. 1.
  10. ↑ McIntyre 2005, hlm. 142; Nugroho 2013, hlm. 5
  11. 1 2 3 McIntyre 2005, hlm. 142.
  12. 1 2 3 4 5 Chandra 2015.
  13. 1 2 3 Fischer 1959, hlm. 227.
  14. ↑ The Age 1957, hlm. 1; Battle Creek Enquirer 1957
  15. ↑ Nugroho 2013, hlm. 6.
  16. ↑ Nugroho 2013, hlm. 12.
  17. ↑ Democrat and Chronicle 1957, hlm. 2.
  18. 1 2 Fischer 1959, hlm. 228.
  19. 1 2 3 4 Sukarno & Adams 1966, hlm. 273.
  20. ↑ Nugroho 2013, hlm. 53–54.
  21. 1 2 3 4 5 6 7 Amaruli.
  22. ↑ Poulgrain 2020, hlm. 95.
  23. ↑ Nugroho 2013, hlm. 21.
  24. ↑ Nugroho 2013, hlm. 22.
  25. ↑ Nugroho 2013, hlm. 23.
  26. 1 2 3 4 Brackman 1963, hlm. 242.
  27. ↑ Nugroho 2013, hlm. 25.
  28. 1 2 Time 1957, hlm. 32.
  29. 1 2 Lararenjana 2021.
  30. ↑ The New York Times 1960, hlm. 6.
  31. ↑ Kahin & Kahin 1995, hlm. 112.
  32. 1 2 McIntyre 2005, hlm. 45.
  33. ↑ The Waco Times-Herald 1957, hlm. 7.
  34. ↑ Tempo 1984, hlm. 14.
  35. ↑ Nugroho 2013, hlm. 56.
  36. ↑ Nugroho 2013, hlm. 37.
  37. ↑ Nugroho 2013, hlm. 41.
  38. 1 2 Pewarta Soerabaia 1957a, hlm. 1.
  39. ↑ Nugroho 2013, hlm. 31.
  40. ↑ Nugroho 2013, hlm. 34.
  41. ↑ Nugroho 2013, hlm. 66.
  42. ↑ Nugroho 2013, hlm. 29.
  43. ↑ Nugroho 2013, hlm. 49.
  44. ↑ The Macon News 1957, hlm. 1.
  45. ↑ O'Sullivan 1994, hlm. 6–7.
  46. 1 2 Kahin & Kahin 1995, hlm. 118–119.
  47. 1 2 The Washington Daily News 1957, hlm. 4.
  48. 1 2 Poulgrain 2020, hlm. 189.
  49. ↑ Intelligencer Journal 1957, hlm. 25.
  50. ↑ Pewarta Soerabaia 1957b, hlm. 1.
  51. ↑ Adryamarthanino & Nailufar 2021.
  52. 1 2 3 Kahin 1999, hlm. 204.
  53. ↑ dikutip dalam Fischer (1959, hlm. 228)
  54. 1 2 3 Fischer 1959, hlm. 229.
  55. ↑ Kahin 1999, hlm. 205.
  56. 1 2 Kahin & Kahin 1995, hlm. 113.
  57. ↑ Adryamarthanino & Nailufar 2021; The New York Times 1960, hlm. 6
  58. ↑ The Buffalo News 1957, hlm. 2; The Waco Times-Herald 1957, hlm. 7; Kahin & Kahin 1995, hlm. 225
  59. 1 2 3 Kahin & Kahin 1995, hlm. 118.
  60. ↑ Tirto.id.
  61. ↑ Kahin & Kahin 1995, hlm. 113; Kahin 1999, hlm. 204
  62. 1 2 Kahin & Kahin 1995, hlm. 114.
  63. ↑ Kahin 1999, hlm. 204; Lararenjana 2021
  64. ↑ Fischer 1959, hlm. 230.
  65. 1 2 Ricklefs 1981, hlm. 249.
  66. ↑ Lewis 1963, hlm. 77.
  67. ↑ Nadhirianto 2024, hlm. 26.
  68. ↑ Ricklefs 1981, hlm. 249–250.
  69. ↑ Ricklefs 1981, hlm. 61.
  70. ↑ Ricklefs 1981, hlm. 262.
  71. 1 2 Legge 1972, hlm. 293.
  72. ↑ Madera Tribune 1962, hlm. 1.
  73. ↑ Ricklefs 1981, hlm. 255.
  74. ↑ Hanna 2026; Kahin & Kahin 1995, hlm. 118–119
  75. ↑ Kahin 1993, hlm. 163.
  76. ↑ Kahin & Kahin 1995, hlm. 225.
  77. ↑ Trenta 2024, hlm. 35, 43.

Works cited

Keluarga
Orang tua
Istri
Generasi ke-2
Generasi ke-3
Generasi ke-4
120px-Presiden_Sukarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Almamater
Kekuasaan Soekarno
Budaya populer
Jabatan baru
Digantikan: Soeharto →
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan