Rabu, 23 September 2026
10:25 WIB
TERKINI
Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis
Narasinga

Narasinga

Narasinga
Awatara Wisnu berwujud manusia berkepala singa,
Dewa perlindungan, pembasmi kejahatan dan ketakutan
Anggota Dasawatara
250px-Narasimha_killed_Hiranyakashipu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dewanagariनरसिंह
IASTNarasiṃha
Genderpria
Afiliasi
KediamanWaikunta, Ksirasagara
SenjataCakra Sudarsana, Kaumodaki, kuku
Pemujaan
KepercayaanHindu India
AliranWaisnawa
PerayaanNarasimha Jayanti, Holi
Suksesi Dasawatara
SebelumnyaWaraha
BerikutnyaWamana
Keluarga
IstriLaksmi[1]

Narasinga (Dewanagari: नरसिंह; ,IAST: Narasiṃha, नरसिंह) adalah awatara (inkarnasi/penjelmaan) Wisnu yang turun ke dunia, berwujud manusia dengan kepala singa, berkuku tajam seperti pedang, dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata.[2] Narasinga merupakan simbol dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya.[3][4][5]

Dalam ikonografi Hindu, Narasinga sering digambarkan dalam posisi sedang membantai raksasa Hiranyakasipu. Penggambaran tersebut merupakan salah satu bentuk hukuman sadis dari Wisnu. Di India, Narasinga sangat terkenal.[6] Dalam festival tradisional India, kisah ini berhubungan dengan perayaan Holi, salah satu perayaan terpenting di India.[7] Di India Selatan, Narasinga sering dituangkan ke dalam bentuk seni pahatan dan lukisan. Narasinga merupakan awatara yang paling terkenal setelah Rama dan Kresna.[8]

Mitologi

Latar belakang

Menurut kitab Purana, pada menjelang akhir zaman Satyayuga (zaman kebenaran), seorang raja asura (raksasa) yang bernama Hiranyakasipu membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Dewa Wisnu, dan dia tidak senang apabila di kerajaannya ada orang yang memuja Wisnu. Sebab, adiknya yang bernama Hiranyaksa dibunuh oleh Waraha, awatara (penjelmaan) Wisnu.

Agar menjadi sakti, dia melakukan tapa yang sangat berat, dan hanya memusatkan pikirannya pada Dewa Brahma. Setelah Brahma berkenan untuk muncul dan menanyakan permohonannya, Hiranyakasipu meminta agar dia diberi kehidupan abadi, lepas dari ancaman kematian. Namun Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta agar dia tidak bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun dewa; tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam; tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara; tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah; dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Brahma mengabulkannya.[7]

Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para dewa―yang dipimpin oleh Dewa Indra―menyerbu rumahnya. Seorang resi pengelana bernama Narada ikut serta pada kesempatan tersebut untuk menyelamatkan istri Hiranyakasipu yang sedang hamil, bernama Kayadu (Lilawati). Narada meramalkan bahwa anak yang dilahirkan Kayadu akan menjadi orang saleh. Kayadu pun tinggal bersama Narada untuk beberapa lama, sampai anaknya lahir dan diberi nama Prahlada. Anak itu dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, mengajarinya untuk memuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan ayahnya.

Kemunculan Narasinga

Mengetahui para dewa melindungi istrinya, Hiranyakasipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Wisnu, dan anaknya sendiri, Prahlada yang kini menjadi pemuja Wisnu. Namun, dia gagal setiap kali berusaha membunuh Prahlada, karena putranya memperoleh perlindungan dari Wisnu. Namun dia tidak mampu menyaksikan Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung.

Prahlada menyatakan bahwa Wisnu hadir di mana pun. Mendengar pernyataan itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan pilar rumahnya. Pada saat itulah Wisnu sebagai Narasinga muncul dari pilar yang dihancurkan Hiranyakasipu. Narasinga datang untuk menyelamatkan Prahlada sekaligus membunuh Hiranyakasipu. Namun―atas anugerah dari Brahma―Hiranyakasipu tidak bisa mati apabila tidak dibunuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tepat.[7]

Narasinga membunuh Hiranyakasipu dengan cara merobek-robek perutnya. Anugerah Brahma tidak berlaku karena Hiranyakasipu dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau dewa. Dia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, atau malam, tetapi senja hari. Dia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah, melainkan di ambang pintu. Dia dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tetapi di pangkuan Narasinga. Dia dibunuh bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.[3][9]

Ajaran

Menurut agama Hindu, kisah Narasinga memberi contoh bahwa Tuhan berada di mana-mana.[10] Rasa bakti yang tulus dari Prahlada menunjukkan bahwa sikap seseorang bukan ditentukan dari golongannya, ataupun bukan karena berasal dari keturunan yang jelek, melainkan dari sifatnya. Meskipun Prahlada seorang keturunan asura, tetapi dia juga seorang penyembah Wisnu yang taat.[11]

Lihat pula

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Narasinga.

Referensi

  1. Mallik, Anupama; Chaudhury, Santanu; Chandru, Vijay; Srinivasan, Sharada (2018-03-31). Digital Hampi: Preserving Indian Cultural Heritage (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 183. ISBN 978-981-10-5738-0.
  2. Blurton, T. Richard (1993). Hindu art. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. hlm. 123. ISBN 0-674-39188-8. OCLC 25833896.
  3. 1 2 George M. Williams (2008). Handbook of Hindu Mythology. Oxford University Press. hlm. 223. ISBN 978-0-19-533261-2.
  4. Gavin D. Flood (1996). An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press. hlm. 111. ISBN 978-0-521-43878-0.
  5. "Trisandhya Path". Bhavishya Malika.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. "Narasimha God Story: The Powerful Tale of Goodness Triumphing Over Evil". Old World Gods.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. 1 2 3 Roshen Dalal (2010). The Religions of India: A Concise Guide to Nine Major Faiths. Penguin Books. hlm. 148. ISBN 978-0-14-341517-6.
  8. Verghese, Anila (1995). Religious Traditions at Vijayanagara, as Revealed Through Its Monuments (dalam bahasa Inggris). Manohar. hlm. 39. ISBN 978-81-7304-086-3.
  9. Dalal, Roshen (2010). The Religions of India: A Concise Guide to Nine Major Faiths (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. ISBN 978-0-14-341517-6.
  10. Steven J. Rosen, Narasiṁha Avatar, The Half-Man/Half-Lion Incarnation, p5
  11. Roshen Dalal (2010). The Religions of India: A Concise Guide to Nine Major Faiths. Penguin Books. hlm. 148. ISBN 978-0-14-341517-6.

Pranala luar

Narasinga
Sebelumnya:
Waraha
Awatara Wisnu
ke-4
Berikutnya:
Wamana
Dasawatara
Wisnu
Awatara lainnya
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan