
Kesejahteraan hidup[a] adalah hal yang baik secara non-instrumental bagi seseorang. Juga disebut welfare dan kualitas hidup, konsep ini merupakan tolok ukur seberapa baik kehidupan yang dijalani seseorang. Dalam pengertian yang paling luas, kesejahteraan hidup mencakup keseimbangan dari semua aspek positif dan negatif dalam kehidupan seseorang. Dalam pengertian yang lebih sempit, istilah ini hanya merujuk pada tingkatan yang positif dan bertolak belakang dengan penderitaan (ill-being), yang menunjukkan tingkatan negatif. Dalam hal ini, kesejahteraan hidup adalah hal yang biasanya dicari oleh para egois untuk diri mereka sendiri dan yang ingin ditingkatkan oleh para altruis pada orang lain, serta berfungsi sebagai tujuan utama dari berbagai upaya individu maupun masyarakat.
Para peneliti membahas berbagai jenis kesejahteraan hidup berdasarkan bagaimana hal tersebut diukur, siapa yang memilikinya, dan ranah kehidupan mana yang dipengaruhinya. Kesejahteraan hidup subjektif merujuk pada bagaimana seseorang merasakan dan mengevaluasi kehidupannya. Kesejahteraan hidup objektif mencakup faktor-faktor yang dapat dinilai dari perspektif eksternal, seperti kesehatan, pendapatan, dan keamanan. Kesejahteraan hidup individu berkaitan dengan kualitas hidup orang tertentu, sedangkan kesejahteraan hidup komunitas mengukur seberapa baik sekelompok orang berfungsi dan berkembang. Bentuk-bentuk kesejahteraan hidup yang termasuk dalam ranah kehidupan tertentu meliputi kesejahteraan fisik, psikologis, emosional, sosial, dan ekonomi.
Teori-teori kesejahteraan hidup bertujuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri esensialnya. Hedonisme berpendapat bahwa kesejahteraan hidup pada dasarnya bergantung pada keseimbangan antara kesenangan di atas penderitaan. Teori hasrat menyatakan bahwa pemuasan hasrat adalah sumber dari kesejahteraan hidup. Teori daftar objektif menegaskan bahwa kombinasi dari elemen-elemen yang beragam merupakan faktor pembentuk kesejahteraan hidup. Faktor yang berkontribusi dan sering dibahas meliputi perasaan, emosi, kepuasan hidup, pencapaian, penemuan rasa bermakna, hubungan antarpribadi, dan kesehatan.
Kesejahteraan hidup relevan dengan banyak bidang studi. Psikologi positif mempelajari faktor dan kondisi agar manusia dapat berfungsi secara optimal. Filsafat mengkaji sifat dasar dan landasan teoretis dari kesejahteraan hidup serta perannya sebagai tujuan dari perilaku manusia. Disiplin ilmu terkait lainnya meliputi ilmu ekonomi, sosiologi, antropologi, kedokteran, pendidikan, politik, dan agama. Meskipun studi filosofis mengenai kesejahteraan hidup telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, penelitian dalam ilmu empiris baru diintensifkan sejak paruh kedua abad ke-20.
Definisi
Kesejahteraan adalah apa yang secara intrinsik atau non-instrumental baik bagi seseorang atau demi kepentingan mereka sendiri. Hal ini merupakan ukuran seberapa baik kehidupan seseorang berjalan bagi mereka.[2][b] Dalam pengertian yang paling luas, istilah ini mencakup seluruh spektrum kualitas hidup: keseimbangan dari semua aspek positif dan negatif dalam kehidupan seseorang. Dalam pengertian yang lebih sempit, kesejahteraan hanya merujuk pada tingkatan yang positif dan bertolak belakang dengan penderitaan (ill-being), yang menunjukkan tingkatan negatif.[4] Definisi pastinya masih diperdebatkan dan bervariasi di berbagai disiplin ilmu dan budaya. Beberapa karakterisasi berfokus pada elemen tunggal, seperti kebahagiaan, sementara yang lain mencakup berbagai komponen, seperti fisik dan kesehatan mental yang baik, emosi positif, gaya hidup yang aktif dan berkembang, harmoni batin, serta hubungan antarpribadi yang positif. Beberapa definisi juga memasukkan kondisi material, seperti pendapatan, keamanan, dan kualitas lingkungan.[5] Di luar konteks akademis, istilah kesejahteraan digunakan secara lebih longgar dalam beragam latar belakang sosial dan budaya, biasanya sebagai sinonim dari kesehatan dan kebahagiaan.[6] Meskipun diskusi mengenai kesejahteraan biasanya berfokus pada manusia, istilah ini juga dapat merujuk pada kualitas hidup hewan selain manusia.[7]
Sebagai nilai yang spesifik pada individu[c], kesejahteraan bertolak belakang dengan nilai impersonal, atau value simpliciter. Sesuatu memiliki nilai impersonal jika hal tersebut baik bagi dunia secara luas dengan menjadikannya tempat yang lebih baik, tanpa terbatas pada satu orang tertentu. Sebaliknya, kesejahteraan adalah hal yang baik bagi atau relatif terhadap seseorang.[9] Meskipun nilai personal dan impersonal sering kali selaras, keduanya dapat berbeda, misalnya, jika seorang individu mencari keuntungan pribadi yang berdampak buruk jika dilihat dari perspektif yang lebih luas. Hubungan pasti antara kedua jenis nilai ini masih diperdebatkan. Menurut salah satu usulan, nilai impersonal adalah jumlah dari semua nilai personal.[10]
Kesejahteraan biasanya dipahami sebagai nilai intrinsik atau akhir, yang berarti bahwa hal tersebut baik dengan sendirinya, terlepas dari faktor-faktor eksternal. Sebaliknya, hal-hal yang memiliki nilai instrumental hanya baik sebagai sarana yang mengarah pada hal-hal baik lainnya, seperti nilai uang.[11] Kesejahteraan lebih lanjut dibedakan dari nilai-nilai moral, agama, dan estetis, yang menggambarkan apa yang secara etis benar, suci, atau indah. Kesejahteraan mungkin saja tumpang tindih dengan nilai-nilai lain, atau bisa juga tidak. Sebagai contoh, menyumbangkan uang untuk amal mungkin merupakan hal yang baik secara moral, meskipun hal tersebut tidak meningkatkan kesejahteraan si penyumbang.[12]
Istilah kualitas hidup, kehidupan yang baik, kemakmuran, nilai prudensial, kebaikan pribadi, dan utilitas individu sering digunakan sebagai sinonim untuk kesejahteraan.[13] Demikian pula, kata-kata kesenangan, kepuasan hidup, dan kebahagiaan digunakan dengan cara yang tumpang tindih dengan kesejahteraan. Namun, makna pastinya berbeda dalam konteks teknis seperti filsafat dan psikologi: kesenangan merujuk pada perasaan individu mengenai apa yang menarik;[14] kepuasan hidup adalah sikap positif yang dimiliki seseorang terhadap kehidupannya secara keseluruhan; kebahagiaan terkadang diidentikkan dengan kepuasan hidup atau dipahami sebagai keseimbangan positif antara kesenangan atas penderitaan.[15][d]
Kesejahteraan merupakan tujuan penting dari banyak upaya manusia baik pada tingkat individu maupun masyarakat.[17] Hal ini menjadi objek dari berbagai sikap dan emosi, seperti kepedulian terhadap orang lain serta perasaan belas kasihan, iri hati, dan niat buruk. Kesejahteraan adalah keadaan yang dicari oleh para penganut egois untuk diri mereka sendiri, dan para penganut altruis bertujuan untuk meningkatkannya pada orang lain.[18] Banyak disiplin ilmu mengkaji atau dipandu oleh pertimbangan tentang kesejahteraan, termasuk etika, psikologi, sosiologi, ekonomi, pendidikan, kebijakan publik, hukum, dan kedokteran.[19] Kata well-being (kesejahteraan) berasal dari istilah bahasa Italia benessere. Kata ini mulai masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-16.[20]
Jenis
Karena definisi kesejahteraan mencakup beberapa dimensi, para peneliti telah mengusulkan berbagai kerangka kerja untuk menangkap bentuk-bentuknya yang berbeda. Jenis-jenis kesejahteraan dapat dikategorikan berdasarkan bagaimana hal tersebut diukur, kepada siapa penerapannya, dan ranah kehidupan mana yang dipengaruhinya. Beberapa peneliti membatasi penyelidikannya pada satu jenis tertentu, sementara yang lain menyelidiki hubungan timbal balik di antara jenis-jenis tersebut.[21]
Kesejahteraan subjektif dan objektif
Kesejahteraan subjektif adalah ukuran tentang bagaimana orang merasakan dan mengevaluasi kehidupannya, mencakup komponen afektif maupun kognitif. Seseorang memiliki kesejahteraan afektif yang tinggi jika mereka memiliki banyak pengalaman menyenangkan dan sedikit pengalaman yang tidak menyenangkan. Kesejahteraan kognitif yang tinggi terjadi ketika seseorang mengevaluasi hidupnya secara positif, membuat penilaian menyeluruh bahwa segala sesuatunya berjalan dengan baik.[22]
Kesejahteraan subjektif diukur menggunakan kuesioner di mana individu melaporkan kualitas pengalaman mereka. Pengukuran butir tunggal memberikan pendekatan yang paling sederhana, berfokus pada skala tunggal, seperti meminta peserta untuk menilai seberapa puas mereka dengan kehidupannya pada skala dari 1 hingga 10. Skala multibutir mencakup pertanyaan-pertanyaan untuk aspek-aspek berbeda dari kesejahteraan subjektif, dengan keuntungan mengurangi pengaruh kata-kata dari satu pertanyaan mana pun. Skala ini memiliki pertanyaan terpisah untuk domain-domain seperti kehadiran afek positif, ketiadaan afek negatif, dan kepuasan hidup secara keseluruhan, yang digabungkan menjadi sebuah indeks yang komprehensif.[23]
Kesejahteraan objektif mencakup faktor-faktor objektif yang menunjukkan bahwa kehidupan seseorang berjalan dengan baik. Berbeda dengan kesejahteraan subjektif, faktor-faktor ini dapat dinilai dan dikuantifikasi dari perspektif eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi aspek pribadi, sosial, ekonomi, dan lingkungan seperti kesehatan, tingkat pendidikan, pendapatan, perumahan, jumlah waktu luang, dan keamanan.[24]
Dengan mengandalkan data objektif, ukuran-ukuran kesejahteraan objektif lebih sedikit terpengaruh oleh bias budaya maupun pribadi yang dapat memengaruhi laporan diri.[25] Namun, tidak diterima secara universal bahwa kesejahteraan objektif merupakan bentuk kesejahteraan dalam arti yang paling ketat. Keraguan ini didasarkan pada gagasan bahwa kesejahteraan pada dasarnya adalah fenomena subjektif yang terikat pada pengalaman seseorang. Menurut pandangan ini, faktor-faktor objektif memengaruhi dan mengindikasikan kesejahteraan tetapi bukan merupakan bentuk dari kesejahteraan itu sendiri.[26]
Beberapa penelitian berfokus pada kesejahteraan subjektif maupun objektif saja. Penelitian lainnya menggabungkan kedua perspektif tersebut untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan mengimbangi kekurangan masing-masing. Meskipun kesejahteraan subjektif dan objektif sering kali selaras, hal ini tidak selalu terjadi. Sebagai contoh, seseorang yang mendapat skor rendah pada ukuran objektif, seperti berpendapatan rendah dan kesehatan yang rentan, mungkin saja bahagia secara subjektif.[27]
Kesejahteraan individu dan komunitas
Perbedaan antara kesejahteraan individu dan komunitas berperan penting dalam memahami bagaimana masyarakat berkembang pada berbagai tingkat dan untuk mengevaluasi timbal balik dalam keputusan kebijakan. Kesejahteraan individu berkaitan dengan kualitas hidup orang tertentu dan menjadi fokus utama disiplin ilmu seperti psikologi dan beberapa aliran filsafat. Kesejahteraan komunitas menerapkan konsep kesejahteraan pada sekelompok orang. Hal ini mencakup berbagai aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya yang memengaruhi cara komunitas tersebut berfungsi dan berkembang sambil memastikan bahwa kebutuhan komunitas terpenuhi.[28]
Salah satu pandangan menganggap kesejahteraan komunitas sebagai jumlah dari tingkat kesejahteraan setiap individu, sementara pandangan lainnya menekankan bahwa hubungan antara keduanya lebih kompleks. Kesejahteraan individu dan komunitas sering kali saling mendukung. Misalnya, kesejahteraan individu yang tinggi dapat memicu seseorang untuk berkontribusi lebih banyak pada komunitasnya, dan komunitas yang berfungsi dengan baik dapat membuat anggota-anggotanya bahagia. Namun, ketegangan juga bisa terjadi, seperti ketika perubahan yang diperlukan untuk kesejahteraan komunitas berbenturan dengan kesejahteraan individu anggota tertentu.[29]
Berkaitan erat dengan kesejahteraan komunitas adalah kategori-kategori yang didefinisikan untuk kelompok demografi tertentu. Sebagai contoh, kesejahteraan anak adalah mengenai kualitas hidup anak-anak, termasuk faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, keamanan material, dan perkembangan sosial dalam lingkungan yang penuh kasih dan asuhan. Contoh-contoh lain meliputi kesejahteraan perempuan, lansia, pelajar, dan karyawan.[30]
Jenis lain
Berbagai jenis dibedakan berdasarkan ranah kehidupan yang dicakupnya. Kesejahteraan fisik berkaitan dengan ranah tubuh, termasuk kapasitas untuk melakukan aktivitas fisik serta ketiadaan penyakit dan rasa sakit pada tubuh. Hal ini mencakup pertimbangan kesehatan secara umum dan kemampuan untuk menjalankan peran sosial seseorang tanpa terhalang oleh keterbatasan fisik.[31]
Kesejahteraan psikologis, yang juga disebut kesehatan mental, adalah keadaan pikiran yang ditandai oleh keseimbangan internal.[e] Hal ini melibatkan ketiadaan atau keberhasilan dalam mengelola gangguan dan hambatan mental, bersama dengan kemampuan untuk mengatasi situasi yang menantang, mempertahankan hubungan yang positif, dan menumbuhkan perkembangan pribadi.[33] Hal ini terkait erat dengan kesejahteraan intelektual, spiritual, dan emosional. Kesejahteraan intelektual mencakup kemampuan dan sifat kognitif yang berfungsi dengan baik, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan rasa ingin tahu.[34] Kesejahteraan spiritual adalah keadaan di mana orang menemukan tujuan hidup dan memiliki kedamaian batin, kepercayaan diri, serta rasa identitas.[35] Kesejahteraan emosional melibatkan kapasitas untuk memahami, mengartikulasikan, dan mengatur emosi, bersama dengan suasana hati yang positif secara keseluruhan.[36][f]
Kesejahteraan hedonis merujuk pada kehidupan yang kaya akan pengalaman menyenangkan dan terbebas dari penderitaan. Kesejahteraan eudaimonik adalah bentuk pemenuhan pribadi di mana seorang individu berkembang dengan berjuang menuju keunggulan dan mengaktualisasikan potensi bawaannya.[38]
Kesejahteraan sosial berkaitan dengan kualitas dan kuantitas koneksi antarpribadi, termasuk seberapa baik seseorang berfungsi dalam lingkungan sosialnya dan tingkat dukungan sosial yang tersedia baginya.[39] Kesejahteraan ekonomi merujuk pada situasi ekonomi seseorang, seperti situasi pekerjaan saat ini, peluang kerja, stabilitas keuangan, serta sumber daya dan keterampilan lain yang relevan.[40] Jenis kesejahteraan lebih lanjut meliputi kesejahteraan finansial, budaya, politik, dan lingkungan.[41]
Teori-teori kesejahteraan
Teori-teori kesejahteraan bertujuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri atau komponen esensial yang sama-sama dimiliki oleh berbagai bentuk kesejahteraan. Teori-teori ini berfokus pada sifat intrinsik kesejahteraan, alih-alih penyebab eksternal atau indikator konvensional yang digunakan untuk mengukurnya. Sebagai contoh, uang dan obat-obatan dapat berkontribusi pada kesejahteraan sebagai penyebab eksternal, tetapi keduanya bukan merupakan bentuk kesejahteraan itu sendiri.[42] Sebuah pendekatan yang secara tradisional berpengaruh mengategorikan teori-teori kesejahteraan ke dalam hedonisme, teori hasrat, dan teori daftar objektif. Klasifikasi ini tidak mencakup semua teori, dan kategori-kategori yang berbeda tersebut tidak selalu saling eksklusif. Dalam beberapa kasus, teori-teori yang berbeda merekomendasikan gaya hidup yang berbeda, sementara dalam kasus lain, teori-teori tersebut mendukung gaya hidup yang sama tetapi memberikan alasan yang berbeda mengapa hal itu baik.[43]
Hedonisme

Hedonisme mengenai kesejahteraan, yang juga disebut hedonisme prudensial, menyatakan bahwa kesenangan dan penderitaan adalah satu-satunya faktor kesejahteraan.[g] Teori ini menyatakan bahwa seberapa baik kehidupan seseorang berjalan sepenuhnya bergantung pada bagaimana rasanya menjalani kehidupan tersebut, yang diekspresikan sebagai keseimbangan antara kesenangan di atas penderitaan. Menurut pandangan ini, seseorang yang sering mengalami kegembiraan dan kepuasan memiliki kesejahteraan yang tinggi, sedangkan seseorang yang terus-menerus kesakitan dan menderita memiliki kesejahteraan yang rendah.[46] Salah satu pandangan menganggap kesenangan dan penderitaan sebagai sensasi tubuh, seperti kenikmatan menyantap makanan lezat dan rasa sakit akibat kaki yang terluka. Namun, kaum hedonis umumnya mengambil perspektif yang lebih luas, mengkarakterisasi kesenangan dan penderitaan secara luas sebagai pengalaman apa pun yang terasa baik atau buruk. Pemahaman yang lebih luas ini mencakup kesenangan intelektual saat membaca buku yang menarik dan kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.[47] Menurut hedonisme kuantitatif, nilai dari setiap episode kesenangan dan penderitaan hanya bergantung pada intensitas dan durasinya.[48][h] Hedonisme kualitatif, sebagai perspektif alternatif, juga mempertimbangkan faktor-faktor nonkuantitatif, dengan alasan bahwa beberapa kesenangan secara intrinsik lebih unggul daripada yang lain karena karakter kualitatifnya, meskipun memiliki intensitas dan durasi yang sama.[50]
Salah satu kritik terhadap hedonisme mengakui bahwa beberapa kesenangan memiliki nilai, tetapi menolak bahwa hal ini berlaku untuk semuanya. Menurut pandangan ini, kesenangan tertentu tidak memiliki nilai dan bahkan mungkin berakibat buruk bagi seseorang, seperti kesenangan sadis dari aktivitas menyiksa hewan.[51] Keberatan lain mempertanyakan apakah kesenangan adalah satu-satunya hal yang bernilai bagi individu, dengan mengutip hal-hal seperti kebajikan, pencapaian, persahabatan, dan pemuasan hasrat sebagai sumber yang berbeda.[52] Sebuah contoh tandingan yang berpengaruh terhadap hedonisme, yang diajukan oleh filsuf Robert Nozick (1938–2002), membayangkan sebuah mesin pengalaman yang menyimulasikan kehidupan yang penuh dengan kesenangan, yang mana akan menjadi sangat ideal dari perspektif hedonisme. Dengan menunjukkan bahwa kehidupan dalam simulasi virtual ini tidak memiliki autentisitas, Nozick berargumen bahwa kesenangan semata bukanlah satu-satunya sumber nilai.[53]
Teori hasrat
Menurut teori hasrat, pemuasan hasrat adalah satu-satunya sumber kesejahteraan. Hal ini berarti bahwa individu memiliki kesejahteraan ketika mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.[54] Hasrat adalah sikap subjektif yang diarahkan pada benda atau keadaan, seperti hasrat untuk makan keripik kentang atau menjadi terkenal. Hasrat menghadirkan kondisi yang terpenuhi atau tidak terpenuhi bergantung pada apakah keadaan yang diinginkan tersebut terwujud.[55][i] Teori hasrat memiliki beberapa tumpang tindih dengan hedonisme karena orang menginginkan kesenangan dan pemuasan hasrat biasanya menyenangkan. Namun, para ahli teori hasrat berpendapat bahwa orang mungkin menginginkan hal-hal baik lainnya selain kesenangan, yang menekankan pada keberagaman hasrat dan perbedaan individu dari satu orang ke orang lain. Sebagai contoh, beberapa orang memprioritaskan keluarga dan kesehatan, sementara yang lain terutama mencari kesuksesan karier, kekayaan, pengetahuan, atau pencerahan spiritual. Akibatnya, jalan konkret menuju kesejahteraan dapat sangat bervariasi dari orang ke orang berdasarkan preferensi subjektif mereka.[57]
Kritikus terhadap teori hasrat menunjukkan bahwa orang terkadang menginginkan hal-hal yang buruk bagi mereka.[58] Sebagai contoh, hasrat seorang anak untuk tidak makan apa pun selain permen dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius dan mengurangi kesejahteraan, alih-alih meningkatkannya. Sebagai tanggapan, beberapa versi modifikasi dari teori hasrat telah diusulkan untuk menghindari contoh tandingan ini. Mereka berpendapat bahwa hanya pemuasan hasrat yang didasari oleh informasi yang baik yang berkontribusi terhadap kesejahteraan, dengan mengecualikan hasrat di mana individu tidak sepenuhnya mempertimbangkan atau memahami konsekuensi negatifnya.[59] Keberatan lain menyatakan bahwa pemuasan hasrat hanya baik dalam arti turunan. Hal ini menegaskan bahwa seseorang menginginkan sesuatu karena mereka percaya bahwa hal itu baik, yang berarti bahwa nilainya terutama terletak pada objek yang diinginkan alih-alih pada pemuasan hasrat tersebut.[60]
Teori daftar objektif
Teori daftar objektif menyatakan bahwa kesejahteraan seseorang bergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor ini dapat mencakup komponen subjektif, seperti kesenangan dan pemuasan hasrat, tetapi juga mencakup faktor objektif yang meningkatkan kesejahteraan seseorang terlepas dari apakah mereka memedulikannya secara subjektif. Para ahli teori daftar objektif telah mengusulkan beragam daftar elemen untuk mencakup berbagai macam elemen yang berkontribusi terhadap kesejahteraan, seperti kesehatan, persahabatan, pencapaian, pengetahuan, dan otonomi.[61] Beberapa versi berpendapat bahwa setiap elemen dalam daftar tersebut bernilai dengan sendirinya, sementara versi lainnya berpandangan bahwa elemen-elemen tersebut saling melengkapi dan hanya akan meningkatkan kesejahteraan bila digabungkan.[62]
Salah satu kritik terhadap teori daftar objektif menegaskan bahwa teori tersebut mendefinisikan konsep kesejahteraan yang tidak koheren dengan memasukkan elemen-elemen beragam yang memiliki sedikit kesamaan.[63] Keberatan lain menantang objektivitas yang diusulkan oleh teori daftar objektif, dengan argumen bahwa kesejahteraan pada dasarnya adalah fenomena subjektif. Menurut pandangan ini, apa yang baik bagi seseorang bergantung pada sikap subjektifnya, dan memaksakan definisi eksternal mengenai apa yang baik akan mengarah pada alienasi.[64]
Lainnya
Salah satu kategorisasi membedakan antara teori subjektivis, objektivis, dan hibrida. Teori subjektivis memahami kesejahteraan sebagai fenomena yang murni subjektif yang dicirikan oleh perspektif, keadaan mental, dan sikap individu itu sendiri. Teori objektivis hanya mengandalkan faktor-faktor objektif dalam definisinya, seperti kesehatan dan pencapaian. Teori hibrida menggabungkan komponen subjektif maupun objektif. Sebagai contoh, satu versi menyatakan bahwa kesejahteraan terdiri dari apresiasi subjektif terhadap hal-hal baik yang objektif.[65][j]
Perbedaan lebih lanjut adalah antara teori monis dan pluralis. Teori monis berpandangan bahwa satu hal baik bertanggung jawab atas kesejahteraan, yang berarti bahwa semua jenis kesejahteraan memiliki ciri-ciri esensial yang sama. Teori pluralis melihat kesejahteraan sebagai fenomena beragam yang terwujud dalam banyak bentuk tanpa memiliki satu esensi yang menjadi karakteristik semuanya. Misalnya, teori daftar objektif merupakan pandangan pluralis, sedangkan hedonisme dan teori hasrat merupakan pandangan monis.[67]

Perfeksionisme mengidentikkan kesejahteraan dengan keunggulan dengan cara memenuhi kodrat manusia.[k] Teori ini berpandangan bahwa seseorang perlu melatih dan menguasai kemampuan utama manusia, seperti rasionalitas, pengetahuan, kesehatan, dan martabat, agar dapat hidup dengan baik. Sebagai perspektif objektivis, perfeksionisme menegaskan bahwa nilai dari hal-hal baik ini tidak bergantung pada apa yang dipikirkan seseorang tentang hal-hal tersebut.[70] Eudaimonisme adalah pandangan yang berkaitan erat, yang menegaskan bahwa seseorang memiliki kesejahteraan yang tinggi atau berkembang dalam kehidupan dengan mengaktualisasikan potensi bawaan mereka. Pandangan ini menekankan bahwa kesejahteraan bukanlah keadaan pasif melainkan proses aktif. Hal ini bermanifestasi dalam gaya hidup yang aktif, di mana individu melatih kebajikan dan mengandalkan rasionalitas praktis untuk memandu pengambilan keputusan mereka.[71]
Teori pemenuhan nilai memandang kepuasan terhadap sikap-sikap evaluatif sebagai dasar dari kesejahteraan. Teori ini mirip dengan teori hasrat, yang berfokus pada pemuasan hasrat. Namun, teori pemenuhan nilai mengadopsi perspektif yang lebih luas dengan mempertimbangkan beragam sikap evaluatif selain hasrat, seperti keyakinan, perasaan, dan penilaian mengenai apa yang baik.[72]
Sebagian besar teori mengasumsikan bahwa definisi kesejahteraan berlaku sama bagi semua orang. Variabilisme menolak asumsi ini dan berargumen bahwa konsepsi kesejahteraan yang berbeda berlaku bagi individu yang berbeda. Salah satu bentuk variabilisme menegaskan bahwa sifat kesejahteraan pada anak-anak berbeda dengan pada orang dewasa. Demikian pula, beberapa teori kesejahteraan bersifat relatif-spesies, yang mengajukan bahwa ciri-ciri esensial kesejahteraan bervariasi di antara spesies yang berbeda, contohnya, bahwa kesejahteraan manusia berbeda dengan kesejahteraan hewan selain manusia.[73]
Komponen dan faktor kontribusi
Untuk menghindari ketidaksepakatan mendalam seputar teori-teori mengenai ciri-ciri esensial kesejahteraan, beberapa peneliti meneliti komponen dan faktor kontribusi, terlepas dari apakah hal tersebut merupakan bagian integral atau penyebab eksternal. Sebagai contoh, terdapat kesepakatan luas bahwa emosi positif, pencapaian, hubungan antarpribadi, dan kesehatan biasanya berkontribusi terhadap kesejahteraan dalam bentuk tertentu, meskipun terdapat ketidaksepakatan akademis mengenai perannya secara pasti.[74]
Perasaan, emosi, dan kepuasan hidup

Kesenangan meningkatkan kesejahteraan sebagai perasaan positif mengenai apa yang menarik. Sebaliknya, penderitaan mengurangi kesejahteraan sebagai perasaan negatif mengenai apa yang tidak menyenangkan. Kesenangan dan penderitaan terkait erat dengan sistem penghargaan otak, yang memengaruhi motivasi dan perilaku dengan memperkuat tindakan yang bermanfaat dan mencegah tindakan yang berbahaya. Keduanya membentuk cara individu memandang kehidupannya dan berinteraksi dengan lingkungan sosial dan fisik mereka.[76] Kesenangan dan penderitaan umumnya dipandang sebagai dua hal berlawanan yang saling menyeimbangkan. Pandangan ini menunjukkan bahwa nilai negatif dari mengalami penderitaan yang hebat dapat dikompensasi oleh nilai positif dari mengalami kesenangan yang luar biasa. Perspektif yang berbeda berpendapat bahwa hubungan keduanya lebih kompleks karena memengaruhi pengalaman, motivasi, dan kesejahteraan dengan cara-cara berbeda yang tidak selalu simetris. Mengikuti gagasan ini, salah satu pandangan menegaskan bahwa menghindari penderitaan lebih penting daripada mencari kesenangan.[77]
Kesenangan dan penderitaan sering kali dikaitkan dengan emosi, yang merupakan keadaan ketergugahan sementara, seperti kegembiraan, harapan, kemarahan, dan ketakutan. Emosi mencakup pengalaman subjektif mengenai kesenangan dan penderitaan bersamaan dengan fenomena psikologis lainnya, seperti penilaian evaluatif terhadap suatu situasi dan kecenderungan untuk terlibat dalam jenis perilaku tertentu. Sebagai contoh, ketakutan mengevaluasi suatu situasi sebagai bahaya dan dikaitkan dengan kecenderungan perilaku untuk melarikan diri. Selain itu, emosi terkait dengan perubahan fisiologis, seperti berkeringat, dan ekspresi tubuh yang menandakan keadaan emosional kepada orang lain.[78][l] Kesejahteraan yang tinggi dikaitkan dengan emosi positif yang sering muncul dan emosi negatif yang jarang terjadi. Terlepas dari ketidaknyamanannya, emosi negatif tetap menjadi bagian integral dari fungsi yang sehat dengan membuat orang menyadari masalah dan mengarahkan perilaku agar terhindar dari hasil yang berbahaya.[80] Emosi berkaitan erat dengan suasana hati, yang biasanya berlangsung lebih lama serta memiliki asal-usul dan penilaian evaluatif yang kurang spesifik, seperti keceriaan, ketenangan, kebosanan, dan depresi. Suasana hati biasanya membentuk kesejahteraan dengan cara yang lebih halus dengan mewarnai persepsi dan motivasi seiring berjalannya waktu, sering kali tanpa menjadi fokus perhatian utama.[81]
Kepuasan hidup adalah penilaian subjektif seseorang mengenai seberapa baik kehidupannya berjalan. Sebagai evaluasi yang komprehensif, kepuasan hidup tidak terbatas pada satu ranah tertentu, seperti pekerjaan atau status keuangan. Sebaliknya, ia mempertimbangkan semua bidang kehidupan yang relevan. Demikian pula, kepuasan hidup tidak terbatas pada apa yang dirasakan seseorang saat ini, melainkan mencakup penilaian jangka panjang terhadap kehidupan seseorang secara keseluruhan melintasi waktu. Sebagai contoh, seseorang mungkin secara keseluruhan puas dengan hidupnya meskipun ia sedang mengalami sakit perut yang parah pada saat itu. Setiap individu berbeda dalam bagaimana mereka sampai pada penilaian mengenai kepuasan hidup. Misalnya, beberapa orang mengandalkan perasaan naluriah sementara yang lain melakukan refleksi yang disengaja dan sistematis. Terkadang, individu membuat penilaian yang tidak akurat dan menipu diri mereka sendiri mengenai kualitas hidup mereka yang sebenarnya, seperti kasus kebahagiaan semu.[82]
Pencapaian dan makna
Para peneliti juga mengkaji bagaimana pencapaian meningkatkan kesejahteraan, yang sering kali berfokus pada upaya berkelanjutan yang melibatkan penetapan tujuan yang dianggap bernilai dan berjuang untuk mewujudkannya. Pencapaian mengambil banyak bentuk, seperti memperoleh gelar akademik, meraih kesuksesan atletik, berkontribusi pada penelitian ilmiah, menulis novel yang diterima dengan baik, merintis perusahaan yang sukses, dan membesarkan keluarga yang bahagia.[83] Kontribusi pencapaian terhadap kesejahteraan tidak hanya bergantung pada kuantitasnya tetapi juga pada signifikansinya. Sebagai contoh, pencapaian sulit yang membantu banyak orang, seperti menemukan obat untuk kanker, dapat berkontribusi lebih besar pada kesejahteraan orang yang mencapainya daripada pencapaian sepele dan tidak berguna, seperti menentukan jumlah pasti remah-remah di dalam stoples kue.[84] Pencapaian yang tinggi biasanya memiliki pengaruh positif pada faktor-faktor kesejahteraan lainnya. Sebagai contoh, hal ini dapat membantu seseorang mendapatkan lebih banyak teman dan meningkatkan standar hidup mereka. Namun, dalam beberapa kasus, hal tersebut memiliki efek samping negatif, seperti ketika sebuah obsesi terhadap kesuksesan meningkatkan kecemasan dan menjauhkan orang-orang terkasih.[85]
Menemukan makna hidup merupakan faktor kesejahteraan yang berkaitan erat. Rasa memiliki tujuan dapat menata kehidupan dan aktivitas sehari-hari seseorang, memotivasi mereka untuk terus berjuang dalam menghadapi kesulitan, dan menghasilkan emosi positif saat mereka berproses menuju tujuan yang mereka anggap berharga. Hal ini melibatkan penilaian tentang peran dan nilai kehidupan seseorang dalam konteks yang lebih luas, tetapi karakteristik tepatnya masih diperdebatkan.[86] Kaum subjektivis berpendapat bahwa makna adalah sebuah fenomena subjektif. Mereka beranggapan bahwa manusia secara aktif menciptakan makna tersebut dan menjadikan hidup mereka bermakna dengan mendedikasikan diri pada apa yang mereka cintai. Kaum objektivis berpendapat bahwa makna tidak bergantung pada preferensi subjektif, melainkan didasarkan pada ciri-ciri objektif dari realitas. Beberapa orang mencari makna dengan mempromosikan nilai-nilai umum yang konkret, seperti kebenaran, kebaikan moral, dan keindahan. Sebagian lainnya mengejarnya melalui praktik keagamaan dengan mencoba mewujudkan tujuan yang bersifat supranatural.[87] Sumber makna lain yang disarankan meliputi altruisme, kreativitas, dan aktualisasi diri.[88] Ketidakmampuan untuk menemukan makna dalam hidup dapat mengarah pada krisis eksistensial, yang dikaitkan dengan kecemasan dan kebingungan spiritual.[89]
Persahabatan dan hubungan lainnya

Koneksi dan interaksi sosial yang positif merupakan elemen kunci kesejahteraan selanjutnya. Selain kegembiraan intrinsik saat berinteraksi dengan orang lain, jejaring sosial dapat menawarkan dukungan material dan emosional selama masa-masa sulit. Hal ini membantu orang membangun kepercayaan, berbagi nilai, mendorong pertukaran informasi, dan menyediakan akses ke peluang-peluang baru. Berbagai jenis hubungan sosial dapat memengaruhi kesejahteraan dengan cara yang berbeda-beda, seperti perbedaan antara teman, anggota keluarga, pasangan romantis, rekan kerja, dan rekan satu tim.[91][m]
Para peneliti sering kali berfokus secara khusus pada hubungan antara persahabatan dan kesejahteraan. Persahabatan adalah hubungan sosial sukarela antarmanusia yang ditandai dengan kepedulian, kepercayaan, dan dukungan timbal balik. Teman cenderung menghabiskan waktu bersama, menikmati kebersamaan, dan mengetahui fakta-fakta pribadi tentang satu sama lain. Persahabatan dapat meningkatkan dukungan emosional, rasa memiliki, harga diri, bimbingan praktis, dan berkurangnya stres.[93] Bentuk persahabatan yang berbeda dapat memengaruhi kesejahteraan dengan cara yang berbeda pula. Aspek utamanya adalah kekuatan koneksi, yang membedakan teman dekat dari teman jauh. Kekuatan ditentukan oleh faktor-faktor seperti waktu yang dihabiskan bersama, kepercayaan, intensitas emosional, dan kesiapan untuk saling mendukung di masa-masa sulit.[94][n] Jumlah teman yang dimiliki seseorang merupakan faktor relevan lainnya,[96] dan memiliki banyak teman biasanya bermanfaat. Namun, jika seseorang sudah memiliki banyak teman, menambah teman lagi mungkin tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraannya.[97] Beberapa orang lebih menyukai jaringan pertemanan yang besar dengan koneksi yang lebih longgar, sementara yang lain memiliki sedikit persahabatan tetapi kuat.[98]
Kesehatan dan disabilitas
Kesehatan dapat memainkan peran sentral dalam bagaimana orang menjalani kehidupan mereka, yang mencerminkan kondisi keseluruhan di mana suatu organisme berfungsi dengan baik, baik secara fisik maupun mental.[99] Kesehatan fisik yang baik dikaitkan dengan energi yang tinggi dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Penyakit fisik dan disabilitas dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan dengan menyebabkan rasa sakit, membatasi mobilitas, dan mengurangi kapasitas untuk terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan atau diperlukan.[100] Kesehatan mental yang baik adalah keadaan keseimbangan internal di mana kapasitas mental berfungsi sebagaimana mestinya. Gangguan mental dikaitkan dengan beberapa bentuk pelemahan psikologis: hal tersebut biasanya mengganggu keseimbangan dengan menyebabkan distres dan dapat membatasi aktivitas yang dapat diikuti seseorang.[101] Diskriminasi dapat memperkuat efek negatif dari penyakit dan disabilitas yang menerima stigma sosial.[102]
Meskipun memiliki dampak secara umum, kesehatan tidak sepenuhnya menentukan kebahagiaan, dan beberapa individu yang menderita penyakit parah dan disabilitas melaporkan tingkat kesejahteraan subjektif yang tinggi.[102] Ketersediaan layanan perawatan kesehatan dapat memitigasi efek negatif dengan menyediakan perawatan untuk memulihkan kesehatan atau mengelola dan meringankan gejala.[103] Demikian pula, menerapkan gaya hidup sehat, seperti aktivitas fisik secara teratur dan diet seimbang, dikaitkan dengan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan.[104]
Pola pikir dan pengetahuan
Pola pikir dapat memengaruhi kesejahteraan secara positif atau negatif dengan membentuk cara dunia ditafsirkan dan dialami. Sebagai contoh, pikiran negatif yang sering muncul mengenai kejadian di masa lalu dapat memicu kecemasan dan suasana hati yang depresif. Oleh karena itu, berbagai aliran pemikiran psikoterapi dan agama mengusulkan metode dan praktik untuk mempromosikan pola pikir yang kondusif bagi kesejahteraan. Misalnya, elemen kunci dari terapi perilaku kognitif adalah mengidentifikasi dan membingkai ulang pikiran negatif otomatis, sementara berbagai tradisi agama Timur, seperti Buddhisme, merekomendasikan meditasi dan kesadaran penuh.[105] Faktor mental yang terkait dengan kesejahteraan mencakup kecenderungan yang mengarahkan orang untuk bertindak bertentangan dengan kepentingan diri mereka sendiri, seperti pelemahan pengendalian diri dalam bentuk kecanduan, dan bias kognitif yang mengarah pada keputusan irasional.[106][o]
Para filsuf mengkaji bagaimana pengetahuan memengaruhi kesejahteraan, seperti ketika pengetahuan membantu orang menghindari bahaya atau memecahkan masalah. Masih menjadi kontroversi apakah semua bentuk pengetahuan berkontribusi terhadap kesejahteraan, seperti kontras antara pengetahuan sepele tentang fakta yang tidak penting dengan pengetahuan tentang diri sendiri yang relevan secara praktis atau wawasan mendalam mengenai kebenaran umum dunia.[108] Selain pengetahuan, banyak hal baik secara epistemik yang terkait juga berkontribusi terhadap kesejahteraan, seperti kecerdasan, keterampilan pemecahan masalah, kreativitas, pikiran terbuka, pemahaman, dan kebijaksanaan. Nilai dari kebaikan epistemik tercermin dalam penekanan yang diberikan pada pendidikan untuk mendorong perkembangan pikiran para siswa.[109] Pendidikan membantu individu memahami dan menguasai lingkungannya, meningkatkan kesejahteraan dengan membuka peluang baru dan meningkatkan kendali masyarakat atas kehidupan mereka.[110]
Komponen lainnya
Otonomi dan kebebasan adalah faktor kesejahteraan yang sering dibahas. Keduanya berkaitan dengan kemungkinan untuk memilih, kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan informasi tanpa paksaan, dan kapasitas untuk bertindak tanpa dibatasi oleh kekuatan eksternal.[p] Individu dengan tingkat otonomi dan kebebasan yang tinggi cenderung lebih merasa puas karena memiliki kendali atas kehidupannya. Hal ini memungkinkan mereka untuk memutuskan di antara pilihan-pilihan penting dan memilih kehidupan yang mencerminkan hasrat, preferensi, dan nilai-nilai mereka. Namun, kondisi-kondisi ini mungkin tidak secara otomatis mengarah pada kesejahteraan dan terkadang dapat memiliki konsekuensi negatif. Sebagai contoh, seseorang yang tidak memiliki kedewasaan mental dan kebijaksanaan mungkin dengan bebas terlibat dalam kesenangan jangka pendek yang memuaskan secara instan sambil mengabaikan konsekuensi negatif jangka panjangnya.[112]
Konsepsi eudaimonik mengenai kesejahteraan menekankan pentingnya sifat karakter dan kebajikan.[113] Sifat karakter adalah aspek kepribadian yang stabil dan konsisten yang memengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Sifat yang dikaitkan dengan kesejahteraan meliputi kebijaksanaan, keberanian, kebaikan hati, keadilan, kesederhanaan, dan rasa syukur.[114] Kebajikan adalah sifat karakter yang mempromosikan keunggulan etis, seperti watak untuk bertindak secara moral dan mengikuti prinsip-prinsip etika. Teori kesejahteraan berbasis kebajikan berpendapat bahwa kebajikan dapat menjadi imbalan itu sendiri, misalnya, karena menjalani kehidupan yang lurus secara moral dapat menjadi pengalaman yang memuaskan. Namun, kebajikan dan kesejahteraan juga dapat bertentangan dalam beberapa kasus, misalnya, ketika pelayanan altruistik untuk kebaikan yang lebih besar memerlukan pengorbanan pribadi.[113]

Berbagai elemen terkait pekerjaan berdampak pada kesejahteraan secara keseluruhan, seperti karakter pekerjaan yang dilakukan, pendapatan, keamanan kerja, keseimbangan kehidupan kerja, dan hubungan pribadi dengan rekan kerja serta atasan.[q] Kehilangan pekerjaan dan pengangguran dikaitkan dengan penurunan kesejahteraan karena faktor-faktor seperti tekanan keuangan yang disebabkan oleh hilangnya upah, melemahnya hubungan sosial, serta berkurangnya rasa memiliki tujuan dan status sosial.[117] Pemerintah dan situasi politik, sebagai determinan lainnya, memengaruhi kebahagiaan penduduk dengan memengaruhi keamanan, kesetaraan, layanan sosial, dan kepercayaan umum dalam masyarakat. Maka dari itu, pemerintah yang menjunjung tinggi supremasi hukum, memberikan layanan yang baik, dan mengendalikan korupsi cenderung mendorong tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Peluang untuk berpartisipasi secara demokratis dalam pengambilan keputusan politik juga dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan.[118] Demikian pula, lingkungan fisik turut berperan, dengan faktor-faktor seperti kondisi perumahan, polusi, kebisingan, dan akses ke alam serta area rekreasi.[119]
Susunan genetik dapat berdampak signifikan terhadap tingkat kesejahteraan seseorang secara umum, dengan beberapa studi yang menunjukkan bahwa pengaruh genetik dapat menjelaskan hingga sepertiga dari perbedaan dalam kesejahteraan subjektif. Sebagai contoh, kepuasan hidup anak kembar identik, yang memiliki gen yang sama, lebih mirip daripada kepuasan hidup anak kembar non-identik.[120] Faktor biologis relevan lainnya meliputi neurotransmiter dan hormon.[121]
Kesejahteraan berubah di sepanjang rentang kehidupan saat individu bertransisi dari masa kanak-kanak melalui remaja dan masa dewasa menuju lanjut usia, yang mencerminkan faktor-faktor seperti tanggung jawab pendidikan dan pekerjaan, kehidupan keluarga, stabilitas keuangan, dan kesehatan. Kesejahteraan cenderung menurun dari masa kanak-kanak hingga sekitar usia 40 tahun secara global. Terdapat perbedaan spesifik wilayah untuk paruh kedua kehidupan: beberapa wilayah mengalami penurunan lebih lanjut menuju usia lanjut, sementara di wilayah lain tingkatnya tetap stabil dan di beberapa tempat mengalami peningkatan.[122] Hanya ada sedikit perbedaan gender dalam kesejahteraan di sebagian besar negara.[123]
Teknologi digital, seperti internet dan kecerdasan buatan, memengaruhi kesejahteraan individu di berbagai area, seperti akses informasi, hubungan sosial, keseimbangan kehidupan kerja, dan kesehatan. Efeknya beragam, mencakup manfaat, seperti peluang pembelajaran baru, dan risiko, seperti kecanduan media sosial. Di banyak bidang, pemahaman yang tepat mengenai kegunaan dan bahaya dari suatu teknologi sangat penting untuk menghindari potensi efek berbahayanya.[124]
Model

Model-model kesejahteraan merupakan kerangka kerja untuk memahami dan mengukur kesejahteraan. Model-model ini memperjelas sifat dasarnya dan berupaya menunjukkan bagaimana berbagai komponen dan faktor kontribusinya berinteraksi.[126] Model tripartit dari psikolog Ed Diener mengidentifikasi tiga komponen esensial dari kesejahteraan subjektif: kehadiran afek positif, ketiadaan afek negatif, dan evaluasi positif terhadap kehidupan seseorang secara keseluruhan.[125] Psikolog Carol Ryff mengusulkan model enam faktor kesejahteraan psikologis. Model ini menyatakan bahwa elemen utamanya adalah penerimaan diri, pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, otonomi, dan hubungan positif dengan orang lain.[127] Dengan berfokus pada kesejahteraan sosial, sosiolog Corey Keyes mengembangkan model lima komponen yang didasarkan pada integrasi sosial, kontribusi sosial, koherensi sosial, aktualisasi sosial, dan penerimaan sosial.[128]
Menurut teori PERMA dari Martin Seligman, kesejahteraan memiliki lima elemen: emosi positif, keterlibatan dengan mengikuti minat seseorang, hubungan antarpribadi, menemukan makna hidup, dan pencapaian dalam mengejar kesuksesan dan penguasaan.[129] Psikolog Michael Bishop mengembangkan model jaringan kesejahteraan, yang mencakup komponen-komponen seperti perasaan, emosi, sikap, sifat, dan interaksi dengan lingkungan seseorang. Model ini menekankan bahwa berbagai komponen tersebut membentuk jaringan kausal dengan memengaruhi dan memperkuat satu sama lain dengan cara yang kompleks.[130]
Dalam berbagai bidang
Sebagai tujuan utama dari banyak upaya individu dan masyarakat, kesejahteraan relevan dengan banyak bidang studi. Dikelompokkan di bawah istilah payung ilmu kesejahteraan, beberapa disiplin ilmu menyelidiki sifat dasar dan komponen kesejahteraan secara langsung, sementara disiplin ilmu lainnya mempelajari penyebab, efek, atau korelasinya dalam ranah kehidupan tertentu.[131] Motivasi utama dari penyelidikan akademis adalah keyakinan bahwa kesejahteraan dapat ditingkatkan melalui langkah-langkah yang tepat. Beberapa dari langkah ini berfokus pada perubahan gaya hidup individu. Langkah lainnya mengambil bentuk intervensi masyarakat untuk mengubah cara institusi ekonomi, medis, pendidikan, tempat kerja, dan politik berfungsi.[132]
Psikologi positif
Psikologi positif adalah cabang dari psikologi yang didedikasikan untuk mempelajari kesejahteraan dan fenomena terkait, seperti kebahagiaan dan kemakmuran. Cabang ini mengkaji faktor dan kondisi agar manusia dapat berfungsi secara optimal. Penyelidikan ini berfokus pada faktor individu, seperti pengalaman atas kesenangan dan penderitaan serta peran dari sifat karakter, maupun pada faktor sosial, seperti bagaimana institusi sosial memengaruhi kesejahteraan manusia.[133]
Pada tingkat emosional, para psikolog positif mengkaji berbagai jenis emosi positif, seperti kegembiraan, hiburan, dan cinta. Mereka berusaha memahami kondisi di mana emosi positif muncul, bagaimana emosi tersebut berkontribusi terhadap kesejahteraan secara keseluruhan, dan bagaimana emosi tersebut berbeda dari emosi negatif.[134] Pada tingkat kognitif, psikologi positif mempelajari bagaimana kecerdasan, kebijaksanaan, dan kreativitas meningkatkan kualitas hidup. Disiplin ini lebih lanjut mengeksplorasi hubungan antara proses kognitif dan afektif, misalnya, bagaimana interpretasi kognitif membangkitkan emosi dan bagaimana emosi mendorong proses berpikir.[135]
Subbidang utama lainnya berkaitan dengan peran kepribadian, khususnya, bagaimana individu berbeda dalam hal sifat kepribadian dan bagaimana sifat-sifat ini berdampak pada kesejahteraan. Model VIA, sebuah kerangka kerja yang berpengaruh dalam psikologi positif, menganalisis kepribadian berdasarkan enam kebajikan utama: kebijaksanaan, keberanian, kemanusiaan, keadilan, kesederhanaan, dan transendensi.[136] Topik yang berkaitan erat berfokus pada peran diri, yang mencakup cara seseorang mengonseptualisasikan dan membayangkan diri mereka sendiri. Faktor penting bagi kesejahteraan adalah harga diri, atau bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya sendiri, dan autentisitas, atau sejauh mana perilaku seseorang secara subjektif konsisten dengan pemahaman dirinya.[137] Area selanjutnya mengeksplorasi peran keadaan sosial dan fisik. Hal ini mencakup efek kepercayaan dan kerja sama pada kesejahteraan kelompok dan dilema di mana kepentingan diri berkonflik dengan kepentingan kelompok. Memiliki hubungan yang dekat dan terlibat dalam perilaku altruistik umumnya bermanfaat bagi kesejahteraan seseorang.[138]
Selain studi tentang berbagai komponen dan penyebab kesejahteraan, para psikolog positif berusaha memahami bagaimana kesejahteraan berubah seiring waktu. Sebagai contoh, mereka meneliti efek dari peristiwa negatif yang besar, seperti kematian anak atau kebangkrutan, dan fitur psikologis yang membantu beberapa orang mempertahankan tingkat kesejahteraan mereka meskipun menghadapi kesulitan yang signifikan, seperti regulasi diri dan pandangan optimis.[139] Topik utama lainnya adalah masalah intervensi atau bagaimana merancang dan menerapkan metode untuk secara andal meningkatkan kesejahteraan. Para peneliti mengeksplorasi berbagai strategi, termasuk pembingkaian ulang kognitif, menumbuhkan rasa syukur, tindakan kebaikan hati terhadap orang lain, dan berbagai bentuk meditasi.[140] Kemungkinan untuk menciptakan peningkatan kesejahteraan jangka panjang ditantang oleh teori titik patokan—hipotesis bahwa setiap orang memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang stabil. Hipotesis ini menyarankan bahwa tingkat ini sebagian besar ditetapkan oleh faktor-faktor yang bersifat keturunan atau ditentukan di awal kehidupan, yang menyiratkan bahwa setiap perubahan pada kesejahteraan hanya bersifat sementara dan pada akhirnya akan kembali ke garis dasar individu tersebut.[141]
Filsafat
Sementara para psikolog positif berfokus pada penelitian empiris terhadap faktor-faktor tertentu, para filsuf lebih menekankan pada sifat umum, fungsi keseluruhan, dan landasan konseptual dari kesejahteraan. Mereka mengeksplorasi ciri-ciri esensialnya dengan mengembangkan dan membandingkan teori-teori kesejahteraan, seperti teori hedonistik, teori hasrat, dan teori daftar objektif.[142] Para filsuf juga menyelidiki prinsip-prinsip dasar dari studi ilmiah mengenai kesejahteraan. Mempertimbangkan bahwa kesejahteraan memiliki aspek subjektif maupun evaluatif, mereka berusaha untuk menentukan apakah objektivitas ilmiah mungkin terjadi dan sejauh mana kesejahteraan dapat dikuantifikasi dan dibandingkan antar individu.[143][r]
Beberapa filsuf menantang konsep kesejahteraan, yang dipahami sebagai apa yang pada akhirnya baik bagi seseorang. Sebagai contoh, filsuf G. E. Moore (1873–1958) menolak gagasan bahwa sesuatu bisa baik jika dikaitkan secara relatif pada seseorang, dan sebaliknya menegaskan bahwa semua nilai bersifat impersonal.[145] Kritik lainnya menunjukkan bahwa konsep kesejahteraan tidak koheren, dengan alasan bahwa konsep ini mengelompokkan elemen-elemen yang beragam tanpa sebuah esensi yang sama.[146]
Terlepas dari kritik-kritik ini, kesejahteraan memainkan peran sentral dalam etika dan teori nilai. Welfarisme adalah pandangan bahwa kesejahteraan adalah satu-satunya sumber dasar nilai. Pandangan ini menyatakan bahwa hal-hal lain, seperti kecerdasan dan perawatan kesehatan, hanya bernilai sejauh hal tersebut meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi penderitaan.[147] Penganut welfarisme murni berpendapat bahwa jumlah mentah kesejahteraan semua orang[s] adalah satu-satunya hal yang penting. Penganut welfarisme tidak murni mempertimbangkan faktor-faktor tambahan, seperti memastikan bahwa kesejahteraan didistribusikan secara setara di antara orang-orang. Modifikasi ini bertujuan untuk menghindari situasi di mana beberapa orang memiliki kehidupan yang sangat baik dengan mengorbankan orang lain yang mengalami penderitaan parah.[149][t]
Topik lainnya berkaitan dengan hubungan antara kebajikan moral dan kesejahteraan. Menurut salah satu pandangan, yang sudah dipertimbangkan dalam filsafat Yunani kuno, keduanya selalu berjalan beriringan, yang berarti merupakan kepentingan diri setiap orang untuk bertindak dengan kebajikan. Perspektif alternatif menyangkal hubungan yang erat ini, dengan menyatakan bahwa, setidaknya dalam beberapa kasus, orang yang berbudi luhur harus mengompromikan kesejahteraannya sendiri demi kebaikan yang lebih besar.[151] Para filsuf lebih lanjut mengeksplorasi hubungan antara kesejahteraan dan kematian. Salah satu posisi mempertanyakan gagasan akal sehat bahwa kematian umumnya berakibat buruk bagi seseorang. Argumennya adalah karena kematian menandai akhir dari eksistensi seseorang, tidak ada lagi hal yang dapat menguntungkan atau merugikan orang tersebut.[152] Ahli etika hewan menerapkan konsep kesejahteraan pada hewan selain manusia, dengan mengkaji apa saja yang menjadi bagian dari kesejahteraan hewan dan bagaimana hal tersebut memengaruhi kewajiban moral manusia terhadap hewan selain manusia. Faktor-faktor kesejahteraan hewan yang umum dibahas meliputi makanan yang memadai, tempat berlindung, interaksi sosial, dan pemenuhan kebutuhan spesifik spesies.[153][u]
Bidang lainnya
Ekonomi kesejahteraan mempelajari pengaruh aktivitas ekonomi terhadap kesejahteraan. Salah satu tujuan utamanya adalah mengembangkan standar untuk mengevaluasi dan memilih di antara usulan-usulan kebijakan yang bersaing berdasarkan potensi manfaatnya bagi kesejahteraan. Bidang ini menggunakan metrik seperti distribusi pendapatan, produk domestik bruto, surplus konsumen, dan variasi kompensasi. Sebagai contoh, mendistribusikan pendapatan secara lebih merata biasanya bermanfaat bagi kesejahteraan tetapi perlu diseimbangkan dengan potensi efek samping negatifnya, seperti penurunan produktivitas.[155] Ekonomi kebahagiaan, bidang yang berkaitan erat, berfokus secara khusus pada hubungan antara fenomena ekonomi dan kebahagiaan individu.[156] Salah satu temuannya adalah paradoks Easterlin: di suatu negara tertentu, orang dengan pendapatan lebih tinggi cenderung lebih bahagia daripada mereka yang berpendapatan lebih rendah, namun kebahagiaan secara keseluruhan tidak menunjukkan tren peningkatan seiring dengan naiknya pendapatan rata-rata semua orang.[157]

Meningkatnya minat akademis terhadap kesejahteraan juga tercermin dalam ranah politik, yang menantang produk domestik bruto sebagai indikator utama kesuksesan nasional. Sebagai hasilnya, indeks untuk melacak, membandingkan, dan mempromosikan kesejahteraan populasi telah dibentuk di tingkat nasional maupun internasional. Contohnya meliputi Laporan Kebahagiaan Dunia, Indeks Kehidupan yang Lebih Baik OECD, Kebahagiaan Nasional Bruto Bhutan, dan Pengukuran Kesejahteraan Nasional Inggris. Mengikuti tren ini, para pembuat kebijakan mengandalkan metrik kesejahteraan dan faktor-faktor terkait untuk menginformasikan proses pengambilan keputusan mereka.[160][w] Misalnya, mereka dapat menggunakan skala WELLBY untuk mengukur bagaimana keputusan kebijakan memengaruhi kesejahteraan populasi yang besar.[162][x] Studi mengenai kesejahteraan juga memengaruhi bidang hukum, di mana pertimbangan mengenai cara melindungi dan mempromosikan kesejahteraan dapat memengaruhi legislasi.[164]
Para sosiolog mengkaji hubungan antara kesejahteraan dan fenomena sosial, seperti ras, status sosial ekonomi, dan pendidikan. Mereka menggunakan metrik subjektif maupun objektif, dengan beberapa studi didedikasikan untuk kesejahteraan secara umum, sementara studi lainnya berfokus pada ranah spesifik, seperti pekerjaan, keluarga, dan perumahan, atau pada kelompok demografi tertentu, seperti karyawan atau lansia.[165]
Para antropolog tertarik pada konsep kesejahteraan dalam berbagai budaya. Mereka berusaha untuk memahami apa yang diasosiasikan orang-orang pada waktu dan tempat yang berbeda dengan kehidupan yang baik, seperti norma, nilai, dan praktik khusus budaya untuk mencapai kesejahteraan pribadi. Asumsi utama dalam bidang ini adalah bahwa konsep kesejahteraan melibatkan komitmen pada hal-hal yang diinginkan, yang berfungsi sebagai kerangka evaluatif untuk memandu perilaku dan menilai gaya hidup. Para antropolog membandingkan komitmen dan kerangka kerja ini di berbagai budaya, seperti perbedaan antara konsepsi kesejahteraan Barat dan non-Barat. Mereka menggambarkan persamaan dan perbedaan tersebut, biasanya tanpa mengambil posisi mengenai pandangan mana yang lebih unggul.[166][y]

Beragam perspektif mengenai kesejahteraan dapat ditemukan dalam agama dan sistem kepercayaan tradisional lainnya, di mana kesejahteraan sering kali berfungsi sebagai tujuan dari praktik spiritual. Dalam berbagai bentuk tradisional Hinduisme, jenis kesejahteraan tertinggi tidak ditentukan oleh kondisi eksternal yang objektif. Sebaliknya, hal ini terutama bergantung pada pengetahuan pengalaman tentang diri, yang dihadirkan melalui praktik-praktik seperti penyelidikan diri dan meditasi.[169] Buddhisme mengidentifikasi penderitaan sebagai aspek sentral dari seluruh eksistensi. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kesejahteraan dengan menghilangkan penyebab penderitaan, seperti hasrat dan ketidaktahuan, yang dicapai melalui praktik kebajikan Buddhis, seperti welas asih, cinta kasih, dan keseimbangan batin.[170] Dari perspektif Konfusianisme, kesejahteraan terdiri dari aktivitas yang berbudi luhur sebagai sebuah proses yang mengarah pada pencapaian manusia bijaksana dan dikaitkan dengan hubungan yang harmonis serta tanggung jawab sosial.[171] Menurut Taoisme, kehidupan dengan tingkat kesejahteraan tinggi dicirikan oleh tindakan tanpa usaha yang selaras dengan Tao—jalan alami alam semesta—dan dipandu oleh watak yang spontan.[168] Tradisi Kristen berpandangan bahwa hubungan pribadi dengan Tuhan adalah faktor sentral kesejahteraan, yang dapat terwujud dalam aktivitas kebajikan atau kontemplasi tentang Tuhan.[172] Menurut ajaran Islam, kesejahteraan dicapai dengan mendedikasikan hidup seseorang sebanyak mungkin untuk menyembah Allah dan memenuhi kehendak-Nya, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur'an.[173]
Kesejahteraan juga menjadi topik dalam berbagai ilmu biologi dengan fokus pada faktor-faktor fisiologis. Penelitian dari studi anak kembar menunjukkan bahwa komposisi genetik merupakan determinan yang berdampak kuat.[174] Faktor fisiologis lainnya meliputi neurotransmiter dan hormon yang berdampak pada perasaan positif, seperti endorfin, dopamin, serotonin, oksitosin, dan kortisol.[175] Para ahli biologi juga tertarik pada asal-usul evolusi kesejahteraan subjektif. Perspektif ini memahami kebahagiaan dan ketidakbahagiaan bukan sebagai tujuan melainkan sebagai alat untuk mengatur perilaku, yang memandunya menuju hasil yang meningkatkan kebugaran. Pandangan ini menyatakan bahwa kesejahteraan subjektif adalah produk dari seleksi alam: sifat turunan yang mendasarinya diteruskan ke generasi mendatang jika hal tersebut mendukung kelangsungan hidup dan reproduksi.[176] Dalam ilmu saraf, para peneliti mencoba mengungkap korelasi saraf kesejahteraan menggunakan teknik pencitraan saraf, seperti pencitraan resonansi magnetik fungsional.[177]
Masalah kesejahteraan memainkan peran sentral dalam kedokteran karena intervensi medis biasanya bertujuan untuk memulihkan, mengamankan, dan meningkatkan kesejahteraan pasien.[178] Pertimbangan kesejahteraan juga memengaruhi pengobatan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, seperti penyakit Parkinson. Dalam kasus-kasus seperti ini, terapi bertujuan untuk meminimalkan efek negatif, yang membantu pasien menjalani kehidupan yang produktif dan memuaskan terlepas dari penyakit mereka.[179] Namun, kesejahteraan bukanlah satu-satunya pertimbangan yang mengatur intervensi medis, dan komitmen terhadap otonomi pasien adalah prinsip inti lainnya. Hal ini dapat memicu konflik ketika pasien bertindak berlawanan dengan kepentingannya sendiri dan menolak pengobatan yang akan meningkatkan kesejahteraan mereka.[180]
Sejarah
Kuno dan abad pertengahan

Studi tentang kesejahteraan bermula pada zaman kuno, yang sering kali berwujud diskusi mengenai cara menjalani kehidupan yang baik. Sokrates (ca 470–ca 399 SM) menolak kekuasaan, ketenaran, kekayaan, dan pencarian kesenangan yang hedonistik sebagai jalan menuju kebahagiaan abadi, dengan alasan bahwa kebijaksanaan dan kebajikan adalah elemen kunci dari kesejahteraan. Ia berpandangan bahwa belajar sepanjang hayat dan refleksi filosofis menumbuhkan kehidupan yang teruji, mempromosikan keunggulan moral, dan sejalan dengan kebaikan.[182] Dipengaruhi oleh Sokrates, Aristoteles (384–322 SM) mengembangkan teori kesejahteraan yang eudaimonik. Ia meyakini bahwa kesejahteraan adalah tujuan hidup dan dicapai terutama dengan mempraktikkan kebajikan, seperti bertindak selaras dengan nalar, keadilan, keberanian, dan kesederhanaan. Aristoteles membedakan tiga faktor umum yang berkontribusi terhadap kesejahteraan: kebaikan jiwa, seperti kebajikan intelektual dan moral; kebaikan tubuh, seperti kesehatan; dan kebaikan eksternal, seperti kekayaan dan hubungan yang baik dengan orang lain.[183] Dalam filsafat Helenistik, dimulai pada abad ke-4 SM, kaum Epikurean dan Stoik menganggap kesejahteraan sebagai keadaan internal yang terlepas dari kondisi eksternal. Kaum Epikurean berpendapat bahwa kesenangan adalah satu-satunya sumber kesejahteraan dan bahwa hal itu paling baik dicapai melalui moderasi dan penanaman keadaan pikiran yang tenang. Kaum Stoik menekankan disiplin dan kebajikan rasional sebagai kunci menuju kesejahteraan.[184]

Di India kuno, berbagai ajaran tentang kesejahteraan dapat ditemukan dalam tradisi Hindu, yang dirumuskan pada dua milenium pertama SM dalam literatur Weda, Upanisad, dan Smerti. Ajaran-ajaran tersebut meliputi gagasan bahwa seseorang harus menunaikan kewajibannya sesuai dengan peran sosial dan tahap kehidupannya, dan bahwa seseorang harus memperoleh pengetahuan tentang bagaimana diri dan dunia pada akhirnya adalah satu kesatuan.[186] Elemen sentral dari konsepsi kesejahteraan Buddhis adalah menghindari penderitaan. Buddha (sekitar abad ke-6 SM) mengidentifikasi nafsu keinginan sebagai akar penyebab penderitaan, dan mengajukan serangkaian rekomendasi praktis, seperti perilaku yang benar dan kesadaran penuh, untuk mengatasinya.[187] Di Tiongkok kuno, Konfusius (abad ke-6 hingga ke-5 SM) menekankan peran kebajikan sosial dalam menjalani kehidupan yang baik, dengan fokus khusus pada kebajikan atau kemanusiaan.[188] Dalam tradisi Taoisme, Laozi (abad ke-6 SM)[z] memandang bahwa hidup selaras dengan tatanan alami alam semesta melalui tindakan yang spontan dan tanpa usaha sebagai bentuk kehidupan yang ideal.[190]
Selama abad pertengahan di Barat, para pemikir Kristen mengaitkan kesejahteraan dengan keselamatan spiritual.[191] Agustinus (354–430 M) berpendapat bahwa manusia tidak sepenuhnya memegang kendali atas kesejahteraan mereka dan justru bergantung pada rahmat ilahi. Ia meyakini bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai di akhirat.[192] Thomas Aquinas (1225–1274 M) dengan cara yang sama menekankan peran ilahi, dengan menyatakan bahwa visi beatifis tentang Tuhan adalah bentuk kesejahteraan yang paling tinggi.[193] Konsepsi kesejahteraan yang berfokus pada agama juga ditemukan dalam tradisi Islam dan ajaran Al-Qur'an, yang menegaskan bahwa kesenangan material bersifat sementara dan bahwa kesejahteraan sejati bergantung pada keyakinan agama serta dedikasi penuh kepada Allah.[194]
Modern dan kontemporer
Pada periode modern, sekularisasi dan kemajuan ilmiah menggeser fokus dari teori-teori keagamaan menuju penjelasan yang naturalistik, khususnya yang dimulai pada akhir abad ke-17 dengan Abad Pencerahan. Voltaire (1694–1778), Jean-Jacques Rousseau (1712–1778), Denis Diderot (1713–1784), Adam Smith (1723–1790), dan François-Jean de Chastellux (1734–1788) menolak fokus keagamaan pada kesejahteraan dunia lain, dan sebaliknya menekankan pada pencarian kebahagiaan duniawi melalui nalar, penyelidikan empiris, dan kemajuan sosial.[195]

Sebagai bapak utilitarianisme klasik, Jeremy Bentham (1748–1832) mengusulkan kalkulus felisifik sebagai metode untuk mengukur, membandingkan, dan mengagregasi tingkat kesenangan dan penderitaan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti intensitas dan durasinya. Ia juga menyarankan kaitan langsung antara kesejahteraan dan tindakan yang benar, dengan berargumen bahwa individu dan pemerintah harus mempromosikan "kebahagiaan terbesar bagi jumlah [orang] terbanyak". Muridnya, John Stuart Mill (1806–1873), memodifikasi gagasan Bentham, dengan mengusulkan bahwa kontribusi terhadap kesejahteraan bergantung pada kualitas kesenangan tersebut. Ia meyakini bahwa kesenangan pikiran yang lebih tinggi lebih bernilai daripada kesenangan tubuh yang lebih rendah, meskipun keduanya memiliki intensitas dan durasi yang sama.[197] Thomas Carlyle (1795–1881) menolak pencarian kebahagiaan utilitarian dan ekonomi pasar individualis yang dikaitkan dengan Adam Smith, sebaliknya berargumen bahwa rasa kebersamaan komunitas dan pekerjaan yang bermakna merupakan hal yang esensial bagi kesejahteraan.[198]
Munculnya psikologi sebagai ilmu empiris memicu penelitian terhadap faktor-faktor internal kesejahteraan, seperti penelitian introspektif William James (1842–1910) tentang hubungan antara kebahagiaan dan pengalaman religius.[199] Teori psikoanalitik dari Sigmund Freud (1856–1939) mengarakterisasi pencarian kesenangan dan pengurangan ketegangan sebagai tujuan sentral kehidupan.[200] Kolaborator awalnya, Carl Jung (1875–1961), mengeksplorasi bagaimana kesejahteraan bergantung pada individuasi sebagai bentuk pertumbuhan psikologis di mana aspek kesadaran dan ketidaksadaran diintegrasikan.[201]
Setelah Perang Dunia Kedua, para peneliti mulai melakukan survei skala besar dan mengusulkan indikator sosial yang luas untuk melacak kesejahteraan di dalam negara dan dalam perbandingan lintas negara.[202] Berdasarkan hasil penelitian mereka, Richard Easterlin (1926–2024) merumuskan paradoks Easterlin—sebuah observasi bahwa individu yang lebih kaya di suatu negara melaporkan kebahagiaan yang lebih tinggi daripada mereka yang lebih miskin, meskipun rata-rata kebahagiaan populasi tidak meningkat seiring dengan kenaikan rata-rata pendapatan negara tersebut.[203]
Berbagai model kesejahteraan diusulkan pada paruh kedua abad ke-20 dan awal abad ke-21, termasuk model tripartit kesejahteraan subjektif dari Ed Diener (1946–2021), model enam faktor kesejahteraan psikologis dari Carol Ryff (lahir 1950), dan model PERMA dari Martin Seligman (lahir 1942).[204] Derek Parfit (1942–2017) menganalisis teori-teori kesejahteraan tradisional dan memperkenalkan pembedaan yang berpengaruh antara hedonisme, teori hasrat, dan teori daftar objektif.[205]
Perkembangan kunci lainnya adalah munculnya psikologi positif pada akhir tahun 1990-an, yang berfokus pada kemakmuran manusia dan fungsi optimal yang bertolak belakang dengan penekanan tradisional dari penelitian psikologis pada penyakit dan disfungsi.[206] Abad ke-20 dan ke-21 juga menyaksikan minat yang berkembang mengenai hubungan antara kesejahteraan, ekonomi, dan kebijakan publik, seiring dengan pemerintah dan organisasi internasional yang mulai mengintegrasikan penelitian kesejahteraan ke dalam pembuatan keputusan politik.[207]
Lihat pula
- Kenyamanan
- Kemakmuran (psikologi) – ukuran seberapa baik kehidupan seseorang
- Kesejahteraan Nasional Bruto – ukuran seberapa baik kehidupan seseorang
- Pengalaman hidup – ukuran seberapa baik kehidupan seseorang
- Kemakmuran – suatu keadaan yang berkembang, berkemajuan, memiliki keberuntungan baik dan/atau memiliki status sosial yang sukses.
- Paradoks kepuasan
- Pengeluaran kesejahteraan – jenis dukungan pemerintah yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa anggota masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti makanan dan tempat tinggal
- Kesejahteraan di tempat kerja – ukuran seberapa baik kehidupan seseorang
Catatan
- ↑ juga dieja wellbeing dalam bahasa Inggris[1]
- ↑ Sebagai contoh, Guy Fletcher mendeskripsikan kesejahteraan sebagai "seberapa baik kehidupan berjalan bagi orang yang menjalaninya".[3]
- ↑ Dalam pengertian yang sedikit berbeda, istilah ini juga digunakan untuk membicarakan keadaan sekelompok orang.[8]
- ↑ Kesenangan, kepuasan hidup, dan kebahagiaan merupakan bagian sentral dari sisi subjektif dari kesejahteraan, dan beberapa teori menegaskan bahwa ketiganya merupakan satu-satunya komponen kesejahteraan.[16]
- ↑ Dalam pengertian yang sedikit berbeda, istilah ini juga digunakan sebagai sinonim untuk kesejahteraan subjektif.[32]
- ↑ Terdapat berbagai definisi alternatif tentang kesejahteraan emosional dan terkadang digunakan sebagai istilah payung yang mencakup banyak jenis kesejahteraan lainnya.[37]
- ↑ Sebagai istilah teknis, hedonisme menggambarkan posisi filosofis yang kontroversial namun dihormati. Hal ini bertolak belakang dengan makna istilah tersebut yang lebih negatif dalam bahasa sehari-hari, yang menunjukkan gaya hidup egois yang mencari kepuasan jangka pendek.[45]
- ↑ Untuk mengukur jumlah kesenangan yang terkandung dalam suatu pengalaman, istilah hedon terkadang digunakan.[49]
- ↑ Beberapa versi teori hasrat hanya tertarik pada apakah suatu hasrat terpenuhi secara objektif atau tidak, terlepas dari apakah orang tersebut mengetahuinya secara subjektif. Menurut versi lainnya, hasrat yang terpenuhi hanya bernilai jika orang tersebut percaya bahwa hasrat tersebut telah terpenuhi.[56]
- ↑ Perbedaan lainnya adalah antara teori substantif, yaitu tentang hal-hal apa saja yang baik bagi seseorang, dan teori penjelas, yang memberikan pemaparan tentang mengapa hal-hal tersebut baik bagi seseorang.[66]
- ↑ Teori-teori yang mempromosikan tujuan ini terkadang juga disebut sebagai teori pemenuhan kodrat.[69]
- ↑ Meskipun elemen-elemen ini merupakan karakteristik dari sebagian besar emosi, definisi pasti mengenai emosi masih diperdebatkan dan beberapa emosi tidak memiliki elemen-elemen tertentu.[79]
- ↑ Kategori-kategori ini tidak saling eksklusif. Sebagai contoh, seorang rekan kerja juga bisa menjadi teman pada saat yang bersamaan.[92]
- ↑ Para ahli teori juga menggunakan faktor lain untuk membedakan jenis-jenis persahabatan. Sebagai contoh, persahabatan yang didasarkan pada kenikmatan menemani satu sama lain berbeda dengan persahabatan yang didasarkan pada pencapaian tujuan bersama. Karakterisasi yang berpengaruh dari Aristoteles berpendapat bahwa dalam bentuk persahabatan yang paling tinggi, setiap teman peduli pada yang lain demi kebaikan temannya itu sendiri.[95]
- ↑ Secara lebih luas, kesejahteraan juga dapat dipengaruhi oleh pandangan dunia seseorang sebagai serangkaian keyakinan dan nilai dasar yang membentuk cara orang mengalami, memahami, dan berinteraksi dengan realitas.[107]
- ↑ Definisi pasti dari istilah-istilah ini masih diperdebatkan.[111]
- ↑ Sebaliknya, kesejahteraan pekerja juga memengaruhi produktivitas mereka: pekerja yang tidak bahagia cenderung kurang efisien dan lebih sering izin sakit, sedangkan pekerja yang bahagia lebih termotivasi dan cenderung menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang lebih tinggi.[116]
- ↑ Topik mengenai kuantifikasi juga berkaitan dengan masalah agregasi, seperti pertanyaan tentang bagaimana komponen individu dari kesejahteraan menentukan kesejahteraan secara keseluruhan, bagaimana kesejahteraan individu terkait dengan kesejahteraan kelompok, dan bagaimana kesejahteraan pada momen-momen yang berbeda digabungkan menjadi kesejahteraan selama periode yang lebih panjang.[144]
- ↑ Beberapa definisi terbatas pada kesejahteraan manusia, sementara yang lain mempertimbangkan kesejahteraan semua makhluk hidup yang memiliki kesadaran.[148]
- ↑ Diskusi yang berkaitan erat adalah antara kaum atomis dan kaum holis tentang kesejahteraan. Ketidaksepakatan mereka menyentuh pada pertanyaan seperti apakah kesejahteraan sesaat lebih mendasar daripada kesejahteraan selama periode waktu yang lebih panjang dan apakah urutan temporal dari episode-episode kesejahteraan itu penting.[150]
- ↑ Biologi kesejahteraan, bidang yang terkait, meneliti apakah semua makhluk yang memiliki kesadaran mampu merasakan kesejahteraan, di bawah kondisi apa kesejahteraan mereka positif atau negatif, dan bagaimana hal ini dapat diukur.[154]
- ↑ Gambar ini sebagian besar menunjukkan kebahagiaan yang tinggi di Eropa Utara dan Barat, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Amerika Latin dan sebagian besar Asia Timur menunjukkan tingkat kebahagiaan sedang, sementara Eropa Timur dan Timur Tengah bervariasi. Tingkat yang lebih rendah ditemukan di berbagai negara di Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan.[159]
- ↑ Upaya-upaya ini sering kali dikaitkan dengan negara kesejahteraan, yang bertujuan untuk mempromosikan kesejahteraan sosial dan ekonomi populasinya melalui langkah-langkah seperti perawatan kesehatan yang terjangkau, jaminan sosial, dan akses universal ke pendidikan.[161]
- ↑ Satu WELLBY setara dengan satu poin dalam skala 10 poin kepuasan hidup yang dilaporkan sendiri selama satu tahun. Dengan demikian, peneliti dapat mengevaluasi berbagai inisiatif kebijakan dengan membandingkan mana yang menghasilkan total WELLBY yang lebih tinggi.[163]
- ↑ Beberapa peneliti berpendapat bahwa praktik pengukuran standar bias terhadap perspektif Barat dan mengarah pada hasil yang tidak representatif secara global. Sebagai contoh, beberapa studi mengenai efek positif menghabiskan waktu di alam dikritik karena mengutamakan perspektif penduduk metropolitan Barat sambil mengabaikan kelompok lain, seperti masyarakat adat pedesaan.[167]
- ↑ Masih menjadi kontroversi apakah periode ini akurat dan beberapa peneliti berpendapat bahwa Laozi bukanlah tokoh sejarah melainkan sosok mitologi yang dirangkai dari beberapa orang bijak Tao.[189]
Referensi
Kutipan
- ↑
- Bache & Scott 2018
- Sora, Caballer & García-Buades 2021, § Introduction
- ↑
- Crisp 2021, Lead section, § 1. The Concept
- Campbell 2015, hlm. 403–404
- Lin 2022, Lead section
- Fletcher 2015, hlm. 1–2
- ↑ Fletcher 2016, hlm. 1
- ↑
- Crisp 2021, § 1. The Concept
- Headey, Holmström & Wearing 1984, hlm. 115–116
- Galtung 2005, hlm. 478
- ↑
- ↑ Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 1
- ↑
- Bradley 2015a, hlm. 9
- Rice 2015, hlm. 378–379
- Dung 2023, hlm. 1–2
- ↑
- Phillips & Wong 2016, hlm. xxix
- Dasgupta 2001, hlm. 21
- Veenhoven 2023b, hlm. 7683–7684
- ↑ Campbell 2015, hlm. 403
- ↑
- Schroeder 2021, § 1.1.1 Good Simpliciter and Good For
- Orsi 2015, hlm. 63
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 15–16
- Hurka 2006a, hlm. 719–720
- Rønnow-Rasmussen 2015, hlm. 29–30
- ↑
- Campbell 2015, hlm. 403
- Crisp 2021, § 1. The Concept
- ↑
- Campbell 2015, hlm. 403
- Hooker 2015, hlm. 15
- Lin 2022, Lead section
- ↑
- Pallies 2021, hlm. 887–888
- Katz 2016, Lead section
- Johnson 2009, hlm. 704–705
- Feldman 2001, hlm. 663–668
- Alston 2006, § Demarcation of the Topic
- Crisp 2021, § 1. The Concept
- ↑
- Norman 2005, hlm. 358–359
- Haybron 2020, § 2.1 The Chief Candidates
- Lazari-Radek 2024, hlm. 45–46
- Besser 2020, § Conclusion
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 15–16
- Western & Tomaszewski 2016, hlm. 2
- Proctor 2023, hlm. 6953
- American Psychological Association 2018
- ↑
- Estes 2017, hlm. 3
- Alatartseva & Barysheva 2015, hlm. 36–37
- Fletcher 2015, hlm. 1–2
- ↑ Campbell 2015, hlm. 404
- ↑
- ↑
- ↑
- Galvin 2018, hlm. 2
- Western & Tomaszewski 2016, hlm. 1–2
- Lee & Kim 2014, hlm. 12
- ↑
- Proctor 2023, hlm. 6953–6955
- Veenhoven 2008, hlm. 45–46
- Diener 1984, hlm. 543–544
- Busseri & Sadava 2011, hlm. 290
- Luhmann, Krasko & Terwiel 2021, hlm. 1232
- ↑
- Diener 1984, hlm. 543–546
- Busseri & Sadava 2011, hlm. 292
- Dullien et al. 2017, hlm. 191
- Smith & Clay 2010, hlm. 159
- ↑
- Voukelatou et al. 2021, hlm. 279–280
- Boelhouwer & Noll 2023, hlm. 4783–4785
- Kubzansky 2020, hlm. 222–223
- Western & Tomaszewski 2016, hlm. 1–2
- Chasco 2023, hlm. 4779–4780
- ↑ Boelhouwer & Noll 2023, hlm. 4784
- ↑
- Rojas 2017, hlm. 43–44
- Boelhouwer & Noll 2023, hlm. 4784
- Kubzansky 2020, hlm. 222–223
- ↑
- Boelhouwer & Noll 2023, hlm. 4784–4785
- Western & Tomaszewski 2016, hlm. 1–3
- Smith & Clay 2010, hlm. 158
- ↑
- Lee, Kim & Phillips 2014, hlm. 1–2
- Lee & Kim 2014, hlm. 10–11
- Crisp 2021, § 1. The Concept
- ↑
- Lee & Kim 2014, hlm. 12–16
- Dasgupta 2001, hlm. 21
- VanderWeele 2021, hlm. 421
- ↑
- Helseth & Haraldstad 2014, hlm. 746–749
- Sun & Shek 2023, hlm. 7697–7698
- Lips & Gordon 2023, hlm. 7762–7763
- Mascherini 2023, hlm. 7660–7661
- Dsouza, Chakraborty & Kamath 2023, hlm. 1–2
- ↑
- Capio, Sit & Abernethy 2023, hlm. 5179–5180
- Bharti 2024, hlm. 27
- Tavanti 2023, hlm. 443
- ↑
- Rodman & Fry 2009, hlm. 10
- Kruger 2019, § Introduction
- ↑
- Rodman & Fry 2009, hlm. 10
- Murphy, Donovan & Smart 2020, hlm. 97–99, 103–104, 112
- Tavanti 2023, hlm. 443
- ↑ Tavanti 2023, hlm. 444
- ↑
- Alorani & Alradaydeh 2018, hlm. 291
- Cordella & Poiani 2021, hlm. 42
- Tavanti 2023, hlm. 444
- ↑
- Tavanti 2023, hlm. 444
- Park et al. 2023, hlm. 13
- ↑ Park et al. 2023, hlm. 11–14
- ↑
- Niemiec 2023, hlm. 2212–2213
- Yamaguchi & Halberstadt 2011, hlm. 96
- ↑
- Cicognani 2023, hlm. 6714
- Tavanti 2023, hlm. 443
- ↑
- Krause 2016, hlm. 114
- Tavanti 2023, hlm. 443
- ↑
- Tavanti 2023, hlm. 443–444
- Volkov et al. 2023, hlm. S141
- de Oliveira Cardoso et al. 2023, hlm. 2913
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 15–16
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 602–603
- Bradley 2015a, hlm. 11, 16
- ↑
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 602–603, 606
- Crisp 2021, Lead section, § 4.2 Desire Theories
- ↑
- Feldman 2001, hlm. 665–666
- Weijers, § 2c. Epicurus
- O'Keefe 2015, hlm. 29–30
- ↑ Weijers, § 1a. Folk Hedonism
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 16–17
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 605
- Bradley 2015a, hlm. 13
- Fletcher 2016, hlm. 5
- ↑
- Katz 2016, Lead section
- Feldman 2001, hlm. 663–668
- Pallies 2021, hlm. 887–888
- Weijers, § 4b. Pleasure as Sensation, § 4d. Pleasure as Pro-Attitude
- ↑
- Tilley 2012, § III. Axiological Hedonism
- Heathwood 2013, § What Determines the Intrinsic Value of a Pleasure or a Pain?
- Bradley 2015a, hlm. 16
- ↑ Bradley 2015a, hlm. 16
- ↑
- Bradley 2015a, hlm. 23–24
- Crisp 2021, § 4.1 Hedonism
- ↑
- Bradley 2015a, hlm. 22–23
- Feldman 2004, hlm. 38–39
- Moore 2019, § 2.3.2 Insufficiency Objections
- ↑
- Bradley 2015a, hlm. 30
- Moore 2019, § 2.3.1 Non-Necessity Objections
- ↑
- Bradley 2015a, hlm. 27–28
- Heathwood 2015, hlm. 146–147
- Tiberius 2015, hlm. 163–164
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 17
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 606
- Bradley 2015a, hlm. 34, 36
- Fletcher 2016, hlm. 5
- ↑ Bradley 2015a, hlm. 34–35
- ↑ Bradley 2015a, hlm. 34–35, 46
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 17
- Bradley 2015a, hlm. 38
- Crisp 2021, § 4.2 Desire Theories
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 17
- Bradley 2015a, hlm. 39–40
- ↑
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 606
- Bradley 2015a, hlm. 39–42
- Crisp 2021, § 4.2 Desire Theories
- ↑ Crisp 2021, § 4.2 Desire Theories
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 15, 17–18
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 605–606
- Fletcher 2016, hlm. 5
- Crisp 2021, § 4.3 Objective List Theories
- ↑ Hooker 2015, hlm. 29–30
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 33
- Fletcher 2016, hlm. 5, 55–56
- ↑
- Fletcher 2016, hlm. 59–60
- Crisp 2021, § 4.3 Objective List Theories
- ↑
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 606
- Lin 2022, Lead section
- Heathwood 2021, hlm. 7–8, 16–17, 26–27
- ↑ Magnusson & Krepski 2023, hlm. 25
- ↑
- Lin 2015, hlm. 331–332
- Fletcher 2015, hlm. 50
- ↑ Besser-Jones 2015, hlm. 187–188
- ↑ Waterman 2025, hlm. 201–202
- ↑
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 606
- Bradley 2015a, hlm. 47–48, 51–52, 56–57
- Fletcher 2016, hlm. 77–79
- ↑ Besser-Jones 2015, hlm. 187–189
- ↑ Tiberius & Haybron 2022, hlm. 606
- ↑
- Crisp 2021, § 1. The Concept
- Bradley 2015a, hlm. 48–49
- ↑
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 607–609
- Hooker 2015, hlm. 15–16
- ↑ Layard & Neve 2023, hlm. 89
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 16–17
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 605
- Bradley 2015a, hlm. 13
- Fletcher 2016, hlm. 5
- OECD 2011, hlm. 266–269
- ↑
- Shriver 2014, hlm. 135–137
- Luper 2009, hlm. 102
- Marshall 2018, hlm. 103–104
- ↑
- Zelenski 2020, § Defining Emotions and Other Affective States
- American Psychological Association 2018a
- ↑ Zelenski 2020, § Defining Emotions and Other Affective States, § Positive Emotions – Summing Up
- ↑
- Tov & Diener 2013, Lead section
- Zelenski 2020, § People Are Happy Most of the Time
- ↑
- Zelenski 2020, § Defining Emotions and Other Affective States, § Glossary – Moods
- American Psychological Association 2018c, § 2
- Mitchell 2021, § 1. Introduction, § 2. Clarifying the Phenomena
- ↑
- American Psychological Association 2018b
- Zelenski 2020, § Glossary – Life Satisfaction
- Veenhoven 1996, § Concept of Life Satisfaction
- Tov & Diener 2013, Lead section
- ↑
- Bradford & Keller 2015, hlm. 271–272, 279–280
- Hooker 2015, hlm. 18, 21–22
- Seligman 2011, hlm. 18
- ↑
- Hooker 2015, hlm. 18, 21–22
- Bradford & Keller 2015, hlm. 271–272
- ↑ Hooker 2015, hlm. 21–22
- ↑
- Seligman 2011, hlm. 17–18
- Kauppinen 2015, hlm. 281–282
- Bradley 2015, hlm. 66–67
- ↑
- Kauppinen 2015, hlm. 281–286
- Bradley 2015, hlm. 66–67
- ↑ Yalom 2020, hlm. 431, 435, 437
- ↑
- Yalom 2020, hlm. 419–423
- Butenaitė, Sondaitė & Mockus 2016, hlm. 11
- ↑
- Jeske 2015, hlm. 235–237
- Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 106–109
- ↑
- OECD 2011, hlm. 23, 169–172
- Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 104–105
- Seligman 2011, hlm. 20
- ↑ Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 104–105
- ↑
- Jeske 2015, hlm. 235–237
- Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 106–109
- Mendelson & Aboud 1999, hlm. 130–132
- ↑
- Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 105
- Bradley 2015, hlm. 63–65
- Jeske 2015, hlm. 233–234
- ↑
- Jeske 2015, hlm. 233–234
- Bradley 2015, hlm. 63–65
- ↑
- Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 105–106
- Bradley 2015, hlm. 63–65
- ↑ Bradley 2015, hlm. 63–65
- ↑ Fehr & Harasymchuk 2017, hlm. 106
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 153
- Schroeder 2015, hlm. 222–223
- Rokne & Wahl 2023, hlm. 2957–2958
- ↑
- Schroeder 2015, hlm. 223–224
- Layard & Neve 2023, hlm. 161–164
- ↑
- Murphy, Donovan & Smart 2020, hlm. 97–99, 103–104, 112
- Layard & Neve 2023, hlm. 153–155
- 1 2 Schroeder 2015, hlm. 221–222
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 157–164
- Schroeder 2015, hlm. 226–227
- ↑
- Muhajarine 2023, hlm. 2976
- Toscano 2018, hlm. 300–301
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 5, 70–76
- Tirch, Silberstein & Kolts 2016, hlm. 84–85
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 66–67
- Bauer & Schmidt 2025, § Introduction
- Zulkarnain et al. 2025, § Introduction
- ↑
- Garcia & Rosenberg 2016, § Abstract, § Introduction
- Nyapati et al. 2026, hlm. 457–458, 464
- ↑
- Hazlett 2015, hlm. 259–262
- Bradley 2015, hlm. 61–62
- Hooker 2015, hlm. 18, 22–23
- McCormick 2014, hlm. 42
- Pritchard 2013, hlm. 10–11
- ↑
- Hazlett 2015, hlm. 259, 266
- Gordon, § 5. Understanding and Epistemic Value
- Kekes 2005, hlm. 959
- Degenhardt 2019, hlm. 1–6
- ↑
- OECD 2011, hlm. 146–147
- White 2023, hlm. 1–20
- ↑
- Veenhoven 2023a, hlm. 2594
- Hooker 2015, hlm. 18–19, 23–24
- ↑
- Bradley 2015, hlm. 65–66
- Hooker 2015, hlm. 18–19, 23–24
- Veenhoven 2023a, hlm. 2594–2596
- 1 2
- Bradley 2015, hlm. 62–63
- Hooker 2015, hlm. 25–26
- Rashid & Niemiec 2023, hlm. 723–725
- Baril 2015, hlm. 242–243
- ↑
- Zelenski 2020, § 4. Personality
- Seligman & Csikszentmihalyi 2000, hlm. 5, 9
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 53–55
- Miller 2011, hlm. 151
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 5, 85–90
- Rietveld et al. 2013, hlm. 9692–9693
- Ward et al. 2023, § Abstract
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 7–8
- Ocasal, Martínez & Santos 2024, § Introduction
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 7–8
- OECD 2011, hlm. 27–28, 58–60
- Fidelis & Mendonça 2021, Lead section
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 4, 10–11
- Temkin, Lara Escalante & Castellanos Cereceda 2025, § Abstract
- ↑
- OECD 2011, hlm. 3, 23–24
- Zelenski 2020, § 7. Social and Physical Environments
- Layard & Neve 2023, hlm. 6–10
- ↑
- Layard & Neve 2023, hlm. 5, 85–90
- Rietveld et al. 2013, hlm. 9692–9693
- Ward et al. 2023, § Abstract
- ↑ Dfarhud, Malmir & Khanahmadi 2014, § Abstract, § Conclusion
- ↑ Layard & Neve 2023, hlm. 104–105
- ↑ Layard & Neve 2023, hlm. 9
- ↑
- Lee & Žarnic 2024, § Abstract, § 1. Introduction and Main Findings
- Uslu 2025, § Abstract, § Introduction
- 1 2
- ↑
- ↑
- ↑
- Gallagher, Lopez & Preacher 2009, hlm. 1027
- Fisher et al. 2024, hlm. 20–22
- ↑
- Seligman 2011, hlm. 16–18
- Fisher et al. 2024, hlm. 20–22
- Barker 2019, § Psychological theories of Wellbeing
- ↑
- Bishop 2012, hlm. 1–6
- Tiberius & Haybron 2022, hlm. 609–610
- ↑
- Amichai-Hamburger 2009, hlm. 2–3
- Galvin 2018, hlm. 5–6
- Huppert, Baylis & Keverne 2005, hlm. v
- Cloninger 2004, hlm. v–vii
- Alexandrova 2017, hlm. xiii–xiv, xxx
- ↑
- Alexandrova 2017, hlm. xxvii–xxviii
- Amichai-Hamburger 2009, hlm. 3–4
- ↑
- Zelenski 2020, § 1. Describing the Science of Positive Psychology – Defining Positive Psychology
- Kaczmarek 2023, hlm. 1051
- Colman 2015, Positive Psychology
- Vittersø 2009, hlm. 473–474
- Seligman & Csikszentmihalyi 2000, hlm. 5
- ↑
- Zelenski 2020, § 2. Positive Emotions, 3. Happiness – Summing Up
- Seligman & Csikszentmihalyi 2000, hlm. 5
- Pedrotti et al. 2024, hlm. xvii–xviii, 116–119
- ↑
- Zelenski 2020, § 6. Thinking – Summing Up
- Seligman & Csikszentmihalyi 2000, hlm. 10–11
- Pedrotti et al. 2024, hlm. xvii–xviii
- ↑
- Zelenski 2020, § 4. Personality
- Seligman & Csikszentmihalyi 2000, hlm. 5, 9
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 53–55
- ↑ Zelenski 2020, § 5. The Self – Summing Up
- ↑
- Zelenski 2020, § 7. Social and Physical Environments – Summing up, § 8. Close Relationships – Summing Up
- Pedrotti et al. 2024, hlm. xvii–xviii
- ↑
- Zelenski 2020, § 9. Stability and Change – Summing Up
- Kettlewell et al. 2020, hlm. 1–2
- ↑ Cohn & Fredrickson 2010, § Abstract, § Introduction
- ↑ Headey 2007, hlm. 389–390
- ↑
- Fletcher 2015, hlm. 1–2
- Crisp 2021, Lead section, § 1. The Concept, § 4. Theories of Well-being
- O'Donohue & Kitchener 1996, hlm. xiv
- ↑
- Alexandrova 2017, hlm. xxx, 79, 106
- Bradley 2015a, hlm. 79–80
- ↑
- Bradley 2015a, hlm. 70–73
- Lee & Kim 2014, hlm. 10–12
- Raibley 2015, hlm. 342–343
- ↑
- Crisp 2021, § 3. Moore's Challenge
- Orsi 2015, hlm. 63–64
- ↑ Crisp 2021, § 3. Scanlon's Challenge
- ↑
- Crisp 2021, § 5.1 Welfarism
- Dorsey 2015, hlm. 417–418
- Bramble 2020, § What Is Welfarism?
- ↑
- Dorsey 2012, hlm. 36
- Crisp 2021, § 5.1 Welfarism
- ↑ Bramble 2020, § What Is Welfarism?
- ↑ Raibley 2015, hlm. 342–343
- ↑
- Crisp 2021, § 5.2 Well-being and Virtue
- Baril 2015, hlm. 242–243
- ↑
- Bradley 2015, hlm. 320
- Fletcher 2016, hlm. 145–147
- Bradley 2015a, hlm. 102–103
- ↑
- ↑ Ng 1995, hlm. 255–261
- ↑
- McCain 2008, hlm. 63–66
- Angner 2015, hlm. 492–494
- ↑ Graham 2012, hlm. 6–8
- ↑
- Alexandrova 2017, hlm. xvii–xviii
- Easterlin & O'Connor 2022, hlm. 1–3
- ↑ Kelly 2021, 1. Who We are
- ↑ Kelly 2021, 1. Who We are
- ↑
- Bache & Scott 2018, hlm. 1–8
- Huppert, Baylis & Keverne 2005, hlm. v
- Zelenski 2020, § 1 Describing the Science of Positive Psychology
- OECD 2023
- Kelly 2021, 1. Who We are
- OECD 2013, hlm. 18
- ↑
- McLean & McMillan 2009, § Welfare State
- Scruton 2007, hlm. 733
- ↑ Frijters et al. 2024, § Abstract, § Introduction
- ↑ Frijters et al. 2024, § Abstract, § Introduction
- ↑ Sarch 2015, hlm. 479
- ↑
- Markides 2000, hlm. 2299–2302, 2306–2307
- Desjardins 2008, hlm. 7–9
- Mascherini 2023, hlm. 7660–7661
- ↑
- Fischer & Victor 2023, hlm. 335–336, 339, 352–353
- Mathews & Izquierdo 2010, hlm. 1–2
- Bhatnagar 2023, hlm. 106–108
- ↑
- Gallegos-Riofrío et al. 2022, § 1. Introduction
- Sollis et al. 2024, § Abstract, § 1. Introduction
- 1 2 Tiwald 2015, hlm. 56–57
- ↑
- Salagame 2013, hlm. 373–374, 376–378
- Singh, Raina & Oman 2023, hlm. 195–197
- ↑
- Segall & Kristeller 2023, hlm. 211–213
- Gowans 2015, hlm. 70–73
- ↑ Kim 2015, hlm. 40
- ↑
- Hodge et al. 2023, hlm. 153–155
- Lauinger 2015, hlm. 83–87
- ↑
- Saritoprak & Abu-Raiya 2023, hlm. 182
- Joshanloo 2017, hlm. 115–118
- ↑
- Gallagher 2009, hlm. 1033
- Bjørndal et al. 2023, § Results
- ↑
- Gomez-Gomez et al. 2023, § Abstract, § 1. Introduction
- Dfarhud, Malmir & Khanahmadi 2014, § Abstract, § Conclusion
- ↑ Nesse 2005, hlm. 8–10
- ↑
- Davidson 2005, hlm. 109–110
- King 2019, § The Neuroscience of Well-being
- ↑
- Groll 2015, hlm. 504–505
- Miettinen & Flegel 2003, hlm. 311–313
- ↑
- Markides 2000, hlm. 2305
- Eatough 2018, hlm. 173–174
- ↑
- Groll 2015, hlm. 504–505
- Denier 2007, hlm. 97
- ↑
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 2
- Stoll 2014, hlm. 13–14
- ↑
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 2
- Stoll 2014, hlm. 13–14
- ↑
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 2
- Stoll 2014, hlm. 14–15
- ↑
- Stoll 2014, hlm. 15–16
- Slote 2010, hlm. 15
- Feldman 2001, hlm. 665–666
- ↑
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 21
- Estes 2017, hlm. 9
- Clark-Decès & Smith 2017, hlm. 87–88
- ↑
- Clark-Decès & Smith 2017, hlm. 89–91
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 21–22
- ↑
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 21
- Estes 2017, hlm. 9
- Clark-Decès & Smith 2017, hlm. 87–88
- ↑
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 20
- Arthur & Mair 2017, hlm. 64
- ↑ Chan 2018, Lead section, § 2. Date and Authorship of the Laozi
- ↑
- Pedrotti et al. 2024, hlm. 20–21
- Arthur & Mair 2017, hlm. 64–65
- Slingerland 2007, hlm. 77
- ↑
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 2–3
- McMahon 2013, hlm. 254–255
- ↑ McMahon 2013, hlm. 255–256
- ↑
- McMahon 2013, hlm. 255
- Wieland 2002, hlm. 59
- Zagzebski 2004, hlm. 350
- ↑ Joshanloo 2017, hlm. 115–118, 130
- ↑
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 3
- McMahon 2013, hlm. 257
- Stoll 2014, hlm. 16–18
- Michalos & Weijers 2017, hlm. 46–49
- ↑
- Stoll 2014, hlm. 18–20
- Michalos & Weijers 2017, hlm. 41, 49–51
- McMahon 2013, hlm. 260–261
- ↑
- Stoll 2014, hlm. 18–20
- Michalos & Weijers 2017, hlm. 41, 49–51
- McMahon 2013, hlm. 260–261
- ↑
- Michalos & Weijers 2017, hlm. 51
- Stoll 2014, hlm. 20
- ↑
- Stoll 2014, hlm. 22
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 3
- ↑
- Stoll 2014, hlm. 22
- Huta 2013, hlm. 203
- ↑
- Milton 2018, hlm. 154–155
- Galvin 2018, hlm. 7
- ↑ Stoll 2014, hlm. 24–24
- ↑
- Alexandrova 2017, hlm. xvii–xviii
- Easterlin & O'Connor 2022, hlm. 1–25
- Stoll 2014, hlm. 25
- ↑
- ↑
- Tiberius 2015, hlm. 167
- Smith 2020, hlm. 160–161
- ↑
- Allison 2024, hlm. 1593
- Stoll 2014, hlm. 26
- ↑
- Stoll 2014, hlm. 25–27
- Hyland, Jackson & Rothery 2025, hlm. 4
Sumber
- Alatartseva, Elena; Barysheva, Galina (2015). "Well-being: Subjective and Objective Aspects". Procedia – Social and Behavioral Sciences. 166: 36–42. doi:10.1016/j.sbspro.2014.12.479.
- Alexandrova, Anna (2017). A Philosophy for the Science of Well-being. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-930051-8.
- Allison, Scott T. (2024). "Positive Psychology and Heroism". Encyclopedia of Heroism Studies (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1593–1596. ISBN 978-3-031-48129-1.
- Alorani, Omar Ismael; Alradaydeh, Mu'taz Fuad (2018). "Spiritual Well-being, Perceived Social Support, and Life Satisfaction Among University Students". International Journal of Adolescence and Youth. 23 (3): 291–298. doi:10.1080/02673843.2017.1352522.
- Alston, William (2006). "Pleasure". Encyclopedia of Philosophy. Vol. 7 (Edisi 2nd). Macmillan Reference. hlm. 617–625. ISBN 978-0-02-865787-5.
- American Psychological Association (2018). "Subjective Well-Being (SWB)". APA Dictionary of Psychology (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association.
- American Psychological Association (2018a). "Emotion". APA Dictionary of Psychology (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association.
- American Psychological Association (2018b). "Life Satisfaction". APA Dictionary of Psychology (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association.
- American Psychological Association (2018c). "Mood". APA Dictionary of Psychology (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association.
- Amichai-Hamburger, Yair (2009). "Introduction". Dalam Amichai-Hamburger, Yair (ed.). Technology and Psychological Well-being (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 1–8. ISBN 978-0-521-88581-2.
- Angner, Erik (2015). "40. Well-Being and Economics". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 492–503. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Arthur, Shawn; Mair, Victor H. (2017). "3. East Asian Historical Traditions of Well-Being". Dalam Estes, Richard J.; Sirgy, M. Joseph (ed.). The Pursuit of Human Well-Being: The Untold Global History (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 59–82. ISBN 978-3-319-39101-4.
- Bache, Ian; Scott, Karen (2018). "Wellbeing in Politics and Policy". Dalam Bache, Ian; Scott, Karen (ed.). The Politics of Wellbeing: Theory, Policy and Practice (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–22. doi:10.1007/978-3-319-58394-5_1. ISBN 978-3-319-58394-5.
- Baril, Anne (2015). "20. Virtue and Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 242–258. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Barker, Sue (2019). "2. Mental Wellbeing". Mental Wellbeing and Psychology: The Role of Art and History in Self Discovery and Creation (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-78461-3.
- Bauer, Brian W.; Schmidt, Norman B. (2025). "Editorial Overview: Cognitive Biases and Influence Strategies in Mental Health Research". Current Opinion in Psychology. 64 102025. doi:10.1016/j.copsyc.2025.102025. PMID 40154208.
- Besser, Lorraine L. (2020). "5. Happiness as Satisfaction". The Philosophy of Happiness: An Interdisciplinary Introduction (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 58–70. ISBN 978-1-315-28367-8.
- Besser-Jones, Lorraine (2015). "15. Eudaimonism". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 187–196. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Bharti, Jaya (2024). "2. Effect of Improper Waste Disposal on Environmental, Physical, and Emotional Well-Being of Human Beings". Dalam Rajpal, Ankur; Choudhury, Moharana; Goswami, Srijan; Chakravorty, Arghya; Raghavan, Vimala (ed.). Waste Management and Treatment: Advances and Innovations (dalam bahasa Inggris). CRC Press. hlm. 26–38. ISBN 978-1-000-95217-9.
- Bhatnagar, Tithi (2023). Subjective Well-Being in the Indian Context: Concept, Measure and Index (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-99-6526-7.
- Bishop, Michael (2012). "The Network Theory of Well-Being: An Introduction". Baltic International Yearbook of Cognition, Logic and Communication. 7 (1). doi:10.4148/biyclc.v7i0.1773.
- Bjørndal, Ludvig Daae; Nes, Ragnhild Bang; Czajkowski, Nikolai; Røysamb, Espen (2023). "The Structure of Well-being: A Single Underlying Factor with Genetic and Environmental Influences". Quality of Life Research. 32 (10): 2805–2816. doi:10.1007/s11136-023-03437-7. hdl:10852/111072. PMC 10199429. PMID 37209357.
- Boelhouwer, Jeroen; Noll, Heinz-Herbert (2023). "Objective Quality of Life". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 4783–4785. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Bradford, Gwen; Keller, Simon (2015). "22. Well-Being and Achievement". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 271–280. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Bradley, Ben (2015). "26. Well-Being and Death". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 320–328. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Bradley, Ben (2015a). Well-being. Polity Press. ISBN 978-0-7456-6272-5.
- Bramble, Ben (2020). "Welfarism". Dalam LaFollette, Hugh (ed.). International Encyclopedia of Ethics (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-6707-2.
- Busseri, Michael A.; Sadava, Stan W. (2011). "A Review of the Tripartite Structure of Subjective Well-Being: Implications for Conceptualization, Operationalization, Analysis, and Synthesis". Personality and Social Psychology Review. 15 (3): 290–314. doi:10.1177/1088868310391271. PMID 21131431.
- Butenaitė, Joana; Sondaitė, Jolanta; Mockus, Antanas (2016). "Components of Existential Crisis: A Theoretical Analysis". International Journal of Psychology: A Biopsychosocial Approach. 18: 9–27. doi:10.7220/2345-024X.18.1.
- Campbell, Stephen M. (2015). "33. The Concept of Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 402–414. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Capio, Catherine M.; Sit, Cindy H. P.; Abernethy, Bruce (2023). "Physical Well-Being". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 5179–5181. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Chan, Alan (2018). "Laozi". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Mei 2023. Diakses tanggal 20 September 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Chasco, Coro (2023). "Objective Index of Quality of Life for Urban Areas". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 4779–4783. doi:10.1007/978-3-031-17299-1_1985. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Cicognani, Elvira (2023). "Social Well-Being". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 6714–6717. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Clark-Decès, Isabelle; Smith, Frederick M. (2017). "4. Well-Being in India: A Historical and Anthropological Report". Dalam Estes, Richard J.; Sirgy, M. Joseph (ed.). The Pursuit of Human Well-Being: The Untold Global History (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 83–108. ISBN 978-3-319-39101-4.
- Cloninger, C. Robert (2004). Feeling Good: The Science of Well-Being. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-505137-7.
- Cohn, Michael A.; Fredrickson, Barbara L. (2010). "In Search of Durable Positive Psychology Interventions: Predictors and Consequences of Long-Term Positive Behavior Change". The Journal of Positive Psychology. 5 (5): 355–366. doi:10.1080/17439760.2010.508883. PMC 3122474. PMID 21709728.
- Colman, Andrew M. (2015). "Positive Psychology". A Dictionary of Psychology (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-965768-1.
- Cordella, Marisa; Poiani, Aldo (2021). Fulfilling Ageing: Psychosocial and Communicative Perspectives on Ageing (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-030-60071-6.
- Crisp, Roger (2021). "Well-Being". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 15 Desember 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dasgupta, Partha (2001). Human Well-Being and the Natural Environment (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-924788-2.
- Davidson, Richard J. (2005). "Well-Being and Affective Style: Neural Substrates and Biobehavioural Correlates". Dalam Huppert, Felicia A.; Baylis, Nick; Keverne, Barry (ed.). The Science of Well-being (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 107–140. ISBN 978-0-19-856752-3.
- de Oliveira Cardoso, Nicolas; Markus, Juliana; de Lara Machado, Wagner; Guilherme, Alexandre Anselmo (2023). "Measuring Financial Well-Being: A Systematic Review of Psychometric Instruments". Journal of Happiness Studies. 24 (8): 2913–2939. doi:10.1007/s10902-023-00697-5.
- Degenhardt, M. A. B. (2019). Education and the Value of Knowledge (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 1–6. ISBN 978-1-000-62799-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 April 2023. Diakses tanggal 9 Maret 2023.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Denier, Yvonne (2007). "Autonomy in Dependence: A Defence of Careful Solidarity". Dalam Nys, Thomas; Denier, Yvonne; Vandevelde, Toon (ed.). Autonomy & Paternalism: Reflections on the Theory and Practice of Health Care (dalam bahasa Inggris). Peeters Publishers. hlm. 93–112. ISBN 978-90-429-1880-1.
- Desjardins, Richard (2008). "Editorial". European Journal of Education. 43 (1): 7–9. doi:10.1111/j.1465-3435.2007.00339.x.
- Dfarhud, Dariush; Malmir, Maryam; Khanahmadi, Mohammad (2014). "Happiness & Health: The Biological Factors - Systematic Review Article". Iranian Journal of Public Health (dalam bahasa Inggris). 43 (11): 1468–1477. PMC 4449495. PMID 26060713.
- Diener, Ed (1984). "Subjective Well-Being" (PDF). Psychological Bulletin. 95 (3): 542–575. doi:10.1037/0033-2909.95.3.542. PMID 6399758.
- Dorsey, Dale (2012). The Basic Minimum: A Welfarist Approach (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-01711-5.
- Dorsey, Dale (2015). "34. Welfarism". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 417–428. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Dsouza, Josmitha Maria; Chakraborty, Anirban; Kamath, Neetha (2023). "Intergenerational Communication and Elderly Well-being". Clinical Epidemiology and Global Health. 20 101251. doi:10.1016/j.cegh.2023.101251.
- Dullien, Sebastian; Goodwin, Neva; Harris, Jonathan; Nelson, Julie; Roach, Brian; Torras, Mariano (2017). Macroeconomics in Context: A European Perspective (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-28966-1.
- Dung, Leonard (2023). "Dimensions of Animal Wellbeing". Philosophy and the Mind Sciences. 4. doi:10.33735/phimisci.2023.9878.
- Easterlin, Richard A.; O'Connor, Kelsey J. (2022). "The Easterlin Paradox". Dalam Zimmermann, Klaus F. (ed.). Handbook of Labor, Human Resources and Population Economics (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–25. doi:10.1007/978-3-319-57365-6_184-2. ISBN 978-3-319-57365-6.
- Eatough, Virginia (2018). "'What Can't Be Cured Must Be Endured': Living with Parkinson's Disease". Dalam Galvin, Kathleen (ed.). Routledge Handbook of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 173–181. ISBN 978-1-317-53252-1.
- Estes, Richard J. (2017). "The Search for Well-Being: From Ancient to Modern Times". Dalam Estes, Richard J.; Sirgy, M. Joseph (ed.). The Pursuit of Human Well-Being: The Untold Global History (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 3–30. ISBN 978-3-319-39101-4.
- Fehr, Beverley; Harasymchuk, Cheryl (2017). "The Role of Friendships in Well-Being". Dalam Maddux, James E. (ed.). Subjective Well-Being and Life Satisfaction (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Routledge. hlm. 103–128. ISBN 978-1-351-23187-9.
- Feldman, Fred (2001). "Hedonism". Dalam Becker, Lawrence C.; Becker, Charlotte B. (ed.). Encyclopedia of Ethics (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 662–669. ISBN 978-1-135-35096-3.
- Feldman, Fred (2004). Pleasure and the Good Life: Concerning the Nature, Varieties and Plausibility of Hedonism. Clarendon Press. ISBN 978-0-19-926516-9.
- Fidelis, Ariana; Mendonça, Helenides (2021). "Well-Being of Unemployed People: Relations with Work Values and Time of Unemployment". Estudos de Psicologia (Campinas). 38 e190014. doi:10.1590/1982-0275202138e190014.
- Fischer, Edward F.; Victor, Sam (2023). "Happiness and Well-Being". Dalam Laidlaw, James (ed.). The Cambridge Handbook for the Anthropology of Ethics. Cambridge University Press. hlm. 335–358. ISBN 978-1-108-48280-6.
- Fisher, Zoe; Wilkie, Lowri; Hamill, Alexandra; Kemp, Andrew H. (2024). "Theories of Wellbeing, Practical Applications and Implications for Coaching". The Health and Wellbeing Coaches' Handbook (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Routledge. hlm. 20–37. doi:10.4324/9781003319016-4. ISBN 978-1-003-31901-6.
- Fletcher, Guy (2015). "Introduction". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 1–6. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Fletcher, Guy (2016). The Philosophy of Well-Being: An Introduction (Edisi 1st). Routledge. ISBN 978-1-138-81834-7.
- Frijters, Paul; Krekel, Christian; Sanchis, Raúl; Santini, Ziggi Ivan (2024). "The WELLBY: A New Measure of Social Value and Progress". Humanities and Social Sciences Communications. 11 (1) 736. doi:10.1057/s41599-024-03229-5.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - Gallagher, Matthew W. (2009). "Well-Being". Dalam Lopez, Shane J. (ed.). Encyclopedia of Positive Psychology. Wiley-Blackwell. hlm. 1030–1034. ISBN 978-1-4051-6125-1.
- Gallagher, Matthew W.; Lopez, Shane J.; Preacher, Kristopher J. (2009). "The Hierarchical Structure of Well-Being". Journal of Personality. 77 (4): 1025–1050. doi:10.1111/j.1467-6494.2009.00573.x. PMC 3865980. PMID 19558444.
- Gallegos-Riofrío, Carlos Andres; Arab, Hassan; Carrasco-Torrontegui, Amaya; Gould, Rachelle K. (2022). "Chronic Deficiency of Diversity and Pluralism in Research on Nature's Mental Health Effects: A Planetary Health Problem". Current Research in Environmental Sustainability. 4 100148. Bibcode:2022CRES....400148G. doi:10.1016/j.crsust.2022.100148.
- Galtung, Johan (2005). "Meeting Basic Needs: Peace and Development". Dalam Huppert, Felicia A.; Baylis, Nick; Keverne, Barry (ed.). The Science of Well-being (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 475–502. ISBN 978-0-19-856752-3.
- Galvin, Kathleen (2018). "Introduction". Dalam Galvin, Kathleen (ed.). Routledge Handbook of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 1–14. ISBN 978-1-317-53252-1.
- Garcia, Danilo; Rosenberg, Patricia (2016). "Out of Flatland: The Role of the Notion of a Worldview in the Science of Well-being". Mens Sana Monographs. 14 (1): 133–140. PMC 5179612. PMID 28031627.
- Gomez-Gomez, Alex; Martin, Blanca Montero-San; Haro, Noemí; Pozo, Oscar J. (2023). "Determination of Well-Being-Related Markers in Nails by Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry". Ecotoxicology and Environmental Safety. 267 115586. Bibcode:2023EcoES.26715586G. doi:10.1016/j.ecoenv.2023.115586. hdl:10230/61376. PMID 37897979.
- Gordon, Emma C. "Understanding in Epistemology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Agustus 2024. Diakses tanggal 20 Agustus 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Gowans, Christopher W. (2015). "6. Buddhist Understandings of Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 70–80. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Graham, Carol (2012). Happiness Around the World: The Paradox of Happy Peasants and Miserable Millionaires (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-960628-3.
- Groll, Daniel (2015). "41. Medicine and Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 504–516. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Haybron, Dan (2020). "Happiness". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 19 Oktober 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Hazlett, Allan (2015). "21. Epistemic Goods". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 259–270. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Headey, Bruce (2007). "The Set-Point Theory of Well-Being: Negative Results and Consequent Revisions". Social Indicators Research. 85 (3): 389–403. doi:10.1007/s11205-007-9134-2.
- Headey, Bruce; Holmström, Elsie; Wearing, Alexander (1984). "Well-being and Ill-being: Different Dimensions?". Social Indicators Research. 14 (2). Springer: 115–139. doi:10.1007/BF00293406.
- Heathwood, Chris (2013). "Hedonism". The International Encyclopedia of Ethics (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Wiley. doi:10.1002/9781444367072.wbiee780. ISBN 978-1-4051-8641-4.
- Heathwood, Chris (2015). "8. Monism and Pluralism About Value". Dalam Hirose, Iwao; Olson, Jonas (ed.). The Oxford Handbook of Value Theory (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 136–157. ISBN 978-0-19-022143-0.
- Heathwood, Chris (2021). Happiness and Well-Being (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-58642-9.
- Helseth, Sølvi; Haraldstad, Kristin (2014). "Child Well-Being". Dalam Michalos, Alex C. (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 830–834. doi:10.1007/978-94-007-0753-5_339. ISBN 978-94-007-0753-5.
- Hodge, Adam S.; Hook, Joshua N.; Kim, Jichan J.; Mosher, David K.; McLaughlin, Aaron T.; Davis, Don E.; Van Tongeren, Daryl R. (2023). "10. Positive Psychology and Christianity". Dalam Davis, Edward B.; Worthington, Everett L.; Schnitker, Sarah A. (ed.). Handbook of Positive Psychology, Religion, and Spirituality (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 147–162. doi:10.1007/978-3-031-10274-5_10. ISBN 978-3-031-10273-8.
- Hooker, Brad (2015). "The Elements of Well-Being". Journal of Practical Ethics. 3 (1): 15–35. ISSN 2051-655X.
- Huppert, Felicia A.; Baylis, Nick; Keverne, Barry (2005). "Preface". Dalam Huppert, Felicia A.; Baylis, Nick; Keverne, Barry (ed.). The Science of Well-being (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. v. ISBN 978-0-19-856752-3.
- Hurka, Thomas (2006a). "Intrinsic Value". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Vol. 4 (Edisi 2nd). Macmillan. hlm. 719–720. ISBN 978-0-02-866072-1.
- Huta, Veronika (2013). "16. What Makes for a Life Well Lived? Autonomy and Its Relation to Full Functioning and Organismic Wellness". Dalam David, Susan A.; Boniwell, Ilona; Ayers, Amanda Conley (ed.). The Oxford Handbook of Happiness (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 201–214. ISBN 978-0-19-175103-5.
- Hyland, Siobhan; Jackson, Paul; Rothery, Mark (2025). "Introduction". Dalam Hyland, Siobhan; Jackson, Paul; Rothery, Mark (ed.). Well-being Past and Present: The History and Contemporary Practice of a Cultural Phenomenon in Britain (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 1–12. ISBN 978-1-350-49985-0.
- Jarden, Aaron; Roache, Annalise (2023). "What Is Wellbeing?". International Journal of Environmental Research and Public Health. 20 (6): 5006. doi:10.3390/ijerph20065006. PMC 10049282. PMID 36981914.
- Jeske, Diane (2015). "19. Friendship and Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 233–241. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Johnson, Danielle (2009). "Pleasure". Dalam Lopez, Shane J. (ed.). Encyclopedia of Positive Psychology. Wiley-Blackwell. hlm. 704–707. ISBN 978-1-4051-6125-1.
- Joshanloo, Mohsen (2017). "5. Islamic Conceptions of Well-Being". Dalam Estes, Richard J.; Sirgy, M. Joseph (ed.). The Pursuit of Human Well-Being: The Untold Global History (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 109–134. ISBN 978-3-319-39101-4.
- Kaczmarek, Lukasz Dominik (2023). "Positive Psychology". Dalam Glăveanu, Vlad Petre (ed.). The Palgrave Encyclopedia of the Possible (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1050–1057. ISBN 978-3-030-90913-0.
- Katz, Leonard D. (2016). "Pleasure". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 18 Oktober 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kauppinen, Antti (2015). "23. Meaningfulness". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 281–291. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Kekes, John (2005). "Wisdom". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. hlm. 959. ISBN 978-0-19-926479-7.
- Kelly, Brendan (2021). "1. Who We Are". The Science of Happiness: The Six Principles of a Happy Life and the Seven Strategies for Achieving It (dalam bahasa Inggris). Gill Books. ISBN 978-0-7171-9009-6.
- Kettlewell, Nathan; Morris, Richard W.; Ho, Nick; Cobb-Clark, Deborah A.; Cripps, Sally; Glozier, Nick (2020). "The Differential Impact of Major Life Events on Cognitive and Affective Wellbeing". SSM – Population Health. 10 100533. doi:10.1016/j.ssmph.2019.100533. hdl:10453/139800. PMC 6939089. PMID 31909168.
- Kim, Richard (2015). "4. Well-Being and Confucianism". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 40–55. ISBN 978-1-317-40265-7.
- King, Marcie L. (2019). "The Neural Correlates of Well-Being: A Systematic Review of the Human Neuroimaging and Neuropsychological Literature". Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience. 19 (4): 779–796. doi:10.3758/s13415-019-00720-4. PMC 6713599. PMID 31062291.
- Krause, Peter (2016). "Quality of Life and Inequality". Dalam Bruni, Luigino; Porta, Pier Luigi (ed.). Handbook of Research Methods and Applications in Happiness and Quality of Life (dalam bahasa Inggris). Edward Elgar Publishing. hlm. 111–152. ISBN 978-1-78347-117-1.
- Kruger, Erika (2019). "Well-Being for Whom? Unpacking the Teacher Well-Being Discourse of the South African Department of Basic Education". South African Journal of Education. 39 (4): 1–8. doi:10.15700/saje.v39n4a1866.
- Kubzansky, Laura D. (2020). "Afterword: The Future of Well-Being". Dalam Plough, Alonzo L. (ed.). Well-Being: Expanding the Definition of Progress: Insights From Practitioners, Researchers, and Innovators From Around the Globe (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 219–226. ISBN 978-0-19-008051-8.
- Lauinger, William (2015). "7. Well-Being in the Christian Tradition". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 81–94. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Layard, Richard; Neve, Jan-Emmanuel De (2023). Wellbeing: Science and Policy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-009-29895-7.
- Lazari-Radek, Katarzyna de (2024). The Philosophy of Pleasure: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-351-60594-6.
- Lee, Seung Jong; Kim, Yunji (2014). "Searching for the Meaning of Community Well-Being". Community Well-Being and Community Development: Conceptions and Applications (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 9–24. ISBN 978-3-319-12421-6.
- Lee, Seung Jong; Kim, Yunji; Phillips, Rhonda (2014). "Exploring the Intersection of Community Well-Being and Community Development". Community Well-Being and Community Development: Conceptions and Applications (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–8. ISBN 978-3-319-12421-6.
- Lee, Matthew T.; Kubzansky, Laura D.; VanderWeele, Tyler J. (2021). "Introduction". Dalam Lee, Matthew T.; Kubzansky, Laura D.; VanderWeele, Tyler J. (ed.). Measuring Well-being: Interdisciplinary Perspectives from the Social Sciences and the Humanities (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 1–28. ISBN 978-0-19-751253-1.
- Lee, J.; Žarnic, Ž. (2024). "The Impact Of Digital Technologies On Well-Being: Main Insights From The Literature". OECD Papers on Well-Being and Inequalities (29). OECD Publishing. doi:10.1787/cb173652-en.
- Lin, Eden (2015). "27. Monism and Pluralism". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 331–341. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Lin, Eden (2022). "Well-being". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-L176-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diakses tanggal 16 Desember 2024.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Lips, Hilary; Gordon, Alynn (2023). "Women's Well-Being". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 7762–7768. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Luhmann, Maike; Krasko, Julia; Terwiel, Sophia (2021). "Subjective Well-Being as a Dynamic Construct". Dalam Rauthmann, John F. (ed.). The Handbook of Personality Dynamics and Processes (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 1232–1239. ISBN 978-0-12-813996-7.
- Luper, Steven (2009). The Philosophy of Death (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-88249-1.
- Maddux, James E. (2024). "1. Subjective Well-Being and Life Satisfaction". Dalam Maddux, James E. (ed.). Subjective Well-Being and Life Satisfaction: A Social Psychological Perspective (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 3–44. ISBN 978-1-040-18620-6.
- Magnusson, Erik; Krepski, Heather (2023). "Three Theories of Well-Being and Their Implications for School Education;". Dalam Falkenberg, Thomas (ed.). Well-Being and Well-Becoming in Schools (dalam bahasa Inggris). University of Toronto Press. hlm. 23–40. ISBN 978-1-4875-4352-5.
- Markides, Kyriakos S. (2000). "Quality of Life". Dalam Borgatta, Edgar F.; Montgomery, Rhonda J. V. (ed.). Encyclopedia of Sociology. Vol. 4 (Edisi 2nd). Macmillan Reference. hlm. 2299–2309. ISBN 978-0-02-864853-8.
- Marshall, Colin (2018). Compassionate Moral Realism (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-253756-0.
- Mascherini, Massimiliano (2023). "Well-Being at Work". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 7660–7666. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Mathews, Gordon; Izquierdo, Carolina (2010). "Introduction: Anthropology, Happiness, and Well-Being". Dalam Mathews, Gordon; Izquierdo, Carolina (ed.). Pursuits of Happiness: Well-being in Anthropological Perspective (Edisi 1st). Berghahn. hlm. 1–22. ISBN 978-1-84545-448-7.
- McCain, Roger A. (2008). "Welfare Economics". Dalam Darity, William A. (ed.). International Encyclopedia of the Social Sciences. Vol. 9 (Edisi 2nd). Macmillan Reference. hlm. 63–67. ISBN 978-0-02-866117-9.
- McCormick, Miriam Schleifer (2014). Believing Against the Evidence: Agency and the Ethics of Belief (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-68268-1.
- McLean, Iain; McMillan, Alistair (2009). The Concise Oxford Dictionary of Politics (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-101827-5.
- McMahon, Darrin M. (2013). "19. The Pursuit of Happiness in History". Dalam David, Susan A.; Boniwell, Ilona; Ayers, Amanda Conley (ed.). The Oxford Handbook of Happiness (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 252–262. ISBN 978-0-19-175103-5.
- Mendelson, Morton J.; Aboud, Frances E. (1999). "Measuring Friendship Quality in Late Adolescents and Young Adults: McGill Friendship Questionnaires". Canadian Journal of Behavioural Science / Revue canadienne des sciences du comportement. 31 (2): 130–132. doi:10.1037/h0087080.
- Michalos, Alex C.; Weijers, Daniel (2017). "2. Western Historical Traditions of Well-Being". Dalam Estes, Richard J.; Sirgy, M. Joseph (ed.). The Pursuit of Human Well-Being: The Untold Global History (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 31–59. ISBN 978-3-319-39101-4.
- Miettinen, Olli S.; Flegel, Kenneth M. (2003). "Elementary Concepts of Medicine: II. Health, Health Fields, Public Health". Journal of Evaluation in Clinical Practice. 9 (3): 311–313. doi:10.1046/j.1365-2753.2003.00415.x. PMID 12895145.
- Miller, Christian (2011). "Guilt, Embarrassment, and the Existence of Character Traits". Dalam Brooks, Thom (ed.). New Waves in Ethics (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 150–187. ISBN 978-0-230-30588-5.
- Milton, Chris (2018). "15. A Jungian Contribution to the Notion of Well-Being". Dalam Galvin, Kathleen (ed.). Routledge Handbook of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 154–162. ISBN 978-1-317-53252-1.
- Mitchell, Jonathan (2021). "Affective Shifts: Mood, Emotion and Well-Being". Synthese. 199 (5–6): 11793–11820. doi:10.1007/s11229-021-03312-3.
- Moore, Andrew (2019). "Hedonism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 30 Desember 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Muhajarine, Nazeem (2023). "Health Determinants". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 2975–2978. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Murphy, Dominic; Donovan, Caitrin; Smart, Gemma Lucy (2020). "Mental Health and Well-Being in Philosophy". Dalam Sholl, Jonathan; Rattan, Suresh I. S. (ed.). Explaining Health Across the Sciences (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 97–114. ISBN 978-3-030-52663-4.
- Nesse, Randolph M. (2005). "1. Natural Selection and the Elusiveness of Happiness". Dalam Huppert, Felicia A.; Baylis, Nick; Keverne, Barry (ed.). The Science of Well-being (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 3–34. ISBN 978-0-19-856752-3.
- Ng, Yew-Kwang (1995). "Towards Welfare Biology: Evolutionary Economics of Animal Consciousness and Suffering". Biology & Philosophy. 10 (3): 255–285. doi:10.1007/BF00852469.
- Niemiec, Christopher P. (2023). "Eudaimonic Well-Being". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 2212–2214. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Norman, Richard (2005). "Happiness". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. hlm. 358–359. ISBN 978-0-19-926479-7.
- Nyapati, Sashank; Truijens, Femke; van Os, Johannes Jacobus; Baars, Erik Wim (2026). "Classifying and Understanding Worldviews in Mental Health: A Scoping Review". Journal of Cross-Cultural Psychology. 57 (3): 457–483. doi:10.1177/00220221251406577.
- O'Donohue, William; Kitchener, Richard F. (1996). "Introduction". Dalam O'Donohue, William; Kitchener, Richard F. (ed.). The Philosophy of Psychology (dalam bahasa Inggris). Sage. hlm. xiii–xix. ISBN 978-0-7619-5305-0.
- O'Keefe, Tim (2015). "3. Hedonistic Theories of Well-Being in Antiquity". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 29–39. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Oades, Lindsay G.; Mossman, Lara (2017). "The Science of Wellbeing and Positive Psychology". Dalam Slade, Mike; Oades, Lindsay; Jarden, Aaron (ed.). Wellbeing, Recovery and Mental Health. Cambridge University Press. hlm. 7–23. ISBN 978-1-107-54305-8.
- Ocasal, Diva Liceth Mendoza; Martínez, Maira Alejandra González; Santos, Nelly Quirvan (2024). "Subjective Well-Being and Labor Productivity: A Global and Organizational Perspective". Revista de Administração de Empresas. 64 (5) e2023-0367. doi:10.1590/S0034-759020240504.
- OECD (2011). How's Life? Measuring Well-being (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. doi:10.1787/9789264121164-en. ISBN 978-92-64-12116-4.
- OECD (2013). How's Life? 2013: Measuring Well-being (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. doi:10.1787/9789264201392-en. ISBN 978-92-64-22009-6.
- OECD (2023). "UK Measures of National Well-being". OECD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 25 Desember 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - OED Staff (2024). "Well-being, n". Oxford English Dictionary Online. Oxford University Press. doi:10.1093/OED/9602520444.
- Orsi, Francesco (2015). Value Theory (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-4725-2408-9.
- Pallies, Daniel (2021). "An Honest Look at Hybrid Theories of Pleasure". Philosophical Studies. 178 (3): 887–907. doi:10.1007/s11098-020-01464-5.
- Park, Crystal L.; Kubzansky, Laura D.; Chafouleas, Sandra M.; Davidson, Richard J.; Keltner, Dacher; Parsafar, Parisa; Conwell, Yeates; Martin, Michelle Y.; Hanmer, Janel; Wang, Kuan Hong (2023). "Emotional Well-Being: What It Is and Why It Matters". Affective Science. 4 (1): 10–20. doi:10.1007/s42761-022-00163-0. PMC 10104995. PMID 37070009.
- Pedrotti, Jennifer Teramoto; Lopez, Shane J.; McDermott, Ryon C.; Snyder, C. R. (2024). Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-0718-1922-7.
- Phillips, Rhonda; Wong, Cecilia (2016). "Introduction". Dalam Phillips, Rhonda; Wong, Cecilia (ed.). Handbook of Community Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. xxix–xxxviii. ISBN 978-94-024-0878-2.
- Pritchard, Duncan (2013). What Is This Thing Called Knowledge? (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-57367-7.
- Proctor, Carmel (2023). "Subjective Well-Being (SWB)". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 6952–6956. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Raibley, Jason (2015). "28. Atomism and Holism in the Theory of Personal Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 342–354. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Rashid, Tayyab; Niemiec, Ryan M. (2023). "Character Strengths". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 723–730. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Rice, Christopher M. (2015). "31. Well-Being and Animals". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 378–388. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Rietveld, Cornelius A.; Cesarini, David; Benjamin, Daniel J.; Koellinger, Philipp D.; De Neve, Jan-Emmanuel; Tiemeier, Henning; Johannesson, Magnus; Magnusson, Patrik K. E.; Pedersen, Nancy L.; Krueger, Robert F.; Bartels, Meike (2013). "Molecular Genetics and Subjective Well-being". Proceedings of the National Academy of Sciences. 110 (24): 9692–9697. Bibcode:2013PNAS..110.9692R. doi:10.1073/pnas.1222171110. PMC 3683731. PMID 23708117.
- Rodman, George; Fry, Katherine G. (2009). "Communication Technology and Psychological Well-being: Yin, Yang, and the Golden Mean of Media Effects". Dalam Amichai-Hamburger, Yair (ed.). Technology and Psychological Well-being (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 9–33. ISBN 978-0-521-88581-2.
- Rojas, Mariano (2017). "The Subjective Object of Well-Being Studies: Well-Being as the Experience of Being Well". Dalam Brulé, Gaël; Maggino, Filomena (ed.). Metrics of Subjective Well-Being: Limits and Improvements (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 43–64. ISBN 978-3-319-61810-4.
- Rokne, Berit; Wahl, Astrid (2023). "Health". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 2957–2959. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Rønnow-Rasmussen, Toni (2015). "Intrinsic and Extrinsic Value". Dalam Hirose, Iwao; Olson, Jonas (ed.). The Oxford Handbook of Value Theory (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 29–43. ISBN 978-0-19-022143-0.
- Salagame, Kiran Kumar K. (2013). "Well-being from the Hindu/Sanātana Dharma Perspective". Dalam Boniwell, Ilona; David, Susan A.; Ayers, Amanda Conley (ed.). Oxford Handbook of Happiness. Oxford University Press. hlm. 371–383. doi:10.1093/oxfordhb/9780199557257.013.0029. ISBN 978-0-19-175103-5.
- Sarch, Alex (2015). "39. Well-Being and the Law". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 479–491. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Saritoprak, Seyma N.; Abu-Raiya, Hisham (2023). "12. Living the Good Life: An Islamic Perspective on Positive Psychology". Dalam Davis, Edward B.; Worthington, Everett L.; Schnitker, Sarah A. (ed.). Handbook of Positive Psychology, Religion, and Spirituality (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 179–194. doi:10.1007/978-3-031-10274-5_12. ISBN 978-3-031-10273-8.
- Schroeder, S. Andrew (2015). "18. Health, Disability, and Well-Being". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 221–232. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Schroeder, Mark (2021). "Value Theory". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 Agustus 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Scruton, Roger (2007). The Palgrave Macmillan Dictionary of Political Thought (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-62509-9.
- Segall, Seth Zuihō; Kristeller, Jean L. (2023). "14. Positive Psychology and Buddhism". Dalam Davis, Edward B.; Worthington, Everett L.; Schnitker, Sarah A. (ed.). Handbook of Positive Psychology, Religion, and Spirituality (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 211–226. doi:10.1007/978-3-031-10274-5_14. ISBN 978-3-031-10273-8.
- Seligman, Martin E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. ISBN 978-1-4391-9076-0.
- Seligman, Martin E. P.; Csikszentmihalyi, Mihaly (2000). "Positive Psychology: An Introduction". American Psychologist. 55 (1): 5–14. CiteSeerX 10.1.1.183.6660. doi:10.1037/0003-066x.55.1.5. PMID 11392865. S2CID 14783574.
{{cite journal}}: Kutipan menggunakan parameter usang|citeseerx= - Shriver, Adam (2014). "The Asymmetrical Contributions of Pleasure and Pain to Subjective Well-Being". Review of Philosophy and Psychology. 5 (1): 135–153. doi:10.1007/s13164-013-0171-2.
- Singh, Kamlesh; Raina, Mahima; Oman, Doug (2023). "13. Positive Psychology and Hinduism". Dalam Davis, Edward B.; Worthington, Everett L.; Schnitker, Sarah A. (ed.). Handbook of Positive Psychology, Religion, and Spirituality (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 195–210. doi:10.1007/978-3-031-10274-5_13. ISBN 978-3-031-10274-5.
- Slingerland, Edward (2007). Effortless Action: Wu-wei as Conceptual Metaphor and Spiritual Ideal in Early China (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-987457-6. Diakses tanggal Desember 19, 2023.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Slote, Michael (2010). Essays on the History of Ethics (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-539155-8.
- Smith, Nicholas Ryan (2020). "9. Well-Being, Narrative Value, and Virtue Ethics". Dalam Ulatowski, Joseph; Zyl, Liezl van (ed.). Virtue, Narrative, and Self: Explorations of Character in the Philosophy of Mind and Action (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 151–169. ISBN 978-1-000-22258-6.
- Smith, Courtland; Clay, Patricia (2010). "Measuring Subjective and Objective Well-being: Analyses from Five Marine Commercial Fisheries". Human Organization. 69 (2): 158–168. doi:10.17730/humo.69.2.b83x6t44878u4782tidak aktif 7 Mei 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Sollis, Kate; Biddle, Nicholas; Maulana, Herdiyan; Yap, Mandy; Campbell, Paul (2024). "Measuring Wellbeing Across Culture and Context – Are We Getting It Right? Evaluating the Variation in Wellbeing Conceptualisations Throughout the World". Social Indicators Research. 174 (1): 123–155. doi:10.1007/s11205-024-03382-z.
- Sora, Beatriz; Caballer, Amparo; García-Buades, M. Esther (2021). "Human Resource Practices and Employee Wellbeing From a Gender Perspective: The Role of Organizational Justice". Revista Latinoamericana de Psicología. 53: 37–46. doi:10.14349/rlp.2021.v53.5.
- Stoll, Laura (2014). "2. A Short History of Wellbeing Research". Dalam McDaid, David; Cooper, Cary L. (ed.). Wellbeing: A Complete Reference Guide, Economics of Wellbeing (dalam bahasa Inggris). Wiley-Blackwell. hlm. 13–32. ISBN 978-1-118-60838-8.
- Sun, Rachel C. F.; Shek, Daniel T. L. (2023). "Well-Being, Student". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 7697–7702. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Tavanti, Marco (2023). Developing Sustainability in Organizations: A Values-Based Approach (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-031-36907-0.
- Temkin, Benjamín; Lara Escalante, Mónica María; Castellanos Cereceda, Noé Roberto (2025). "Citizen Well-Being and Democracy: The Determinants of Objective and Subjective Well-Being, and Their Impact on Democracy Worldwide / Bienestar ciudadano y democracia: los determinantes del bienestar objetivo y subjetivo, y su impacto en la democracia en el mundo". Revista Mexicana de Ciencias Políticas y Sociales. 70 (255). doi:10.22201/fcpys.2448492xe.2025.255.87973.
- Tiberius, Valerie (2015). "Prudential Value". Dalam Hirose, Iwao; Olson, Jonas (ed.). The Oxford Handbook of Value Theory (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 158–174. ISBN 978-0-19-022143-0.
- Tiberius, Valerie; Haybron, Daniel M. (2022). "Prudential Psychology: Theory, Method, and Measurement". Dalam Vargas, Manuel; Doris, John M. (ed.). The Oxford Handbook of Moral Psychology. Oxford University Press. hlm. 600–628. ISBN 978-0-19-887171-2.
- Tilley, John J. (2012). "Hedonism". Dalam Chadwick, Ruth (ed.). Encyclopedia of Applied Ethics (PDF) (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 566–573. ISBN 978-0-12-373932-2.
- Tirch, Dennis; Silberstein, Laura R.; Kolts, Russell L. (2016). Buddhist Psychology and Cognitive-Behavioral Therapy: A Clinician's Guide (dalam bahasa Inggris). Guilford Press. ISBN 978-1-4625-3019-9.
- Tiwald, Justin (2015). "5. Well-Being and Daoism". Dalam Fletcher, Guy (ed.). The Routledge Handbook of Philosophy of Well-Being (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 56–69. ISBN 978-1-317-40265-7.
- Toscano, Walter N. (2018). "Relationshipt Between Physical Activity, Health, and Quality of Life from the Perspective of the Hippocratic Theory". Dalam Vega, Lía Rodriguez de la; Toscano, Walter N. (ed.). Handbook of Leisure, Physical Activity, Sports, Recreation and Quality of Life (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 293–302. ISBN 978-3-319-75529-8.
- Tov, William; Diener, Ed (2013). "Subjective Wellbeing". Dalam Keith, Kenneth Dwight (ed.). The Encyclopedia of Cross-cultural Psychology. Wiley-Blackwell. hlm. 1–7. ISBN 978-1-118-33989-3.
- Uslu, Osman (2025). "Understanding Digital Wellbeing: Impacts, Strategies, and the Path to Healthier Technology Practices". Discover Social Science and Health. 5 (1) 145. doi:10.1007/s44155-025-00259-5.
- VanderWeele, Tyler J. (2021). "Measures of Community Well-Being: A Template". Dalam Lee, Matthew T.; Kubzansky, Laura D.; VanderWeele, Tyler J. (ed.). Measuring Well-being: Interdisciplinary Perspectives from the Social Sciences and the Humanities (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 408–434. ISBN 978-0-19-751253-1.
- Veenhoven, Ruut (1996). "The Study of Life-Satisfaction". A Comparative Study of Satisfaction with Life in Europe (PDF). Eötvös University Press. ISBN 978-963-463-081-4.
- Veenhoven, Ruut (2008). "Sociological Theories of Subjective Well-Being". Dalam Eid, Michael; Larsen, Randy J. (ed.). The Science of Subjective Well-Being (dalam bahasa Inggris). Guilford Press. hlm. 44–61. ISBN 978-1-60623-073-2.
- Veenhoven, Ruut (2023a). "Freedom and Quality of Life". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 2593–2596. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Veenhoven, Ruut (2023b). "Well-Being of Nations". Dalam Maggino, Filomena (ed.). Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 7683–7686. ISBN 978-3-031-17298-4.
- Vittersø, Joar (2009). "Hedonics". Dalam Lopez, Shane J. (ed.). The Encyclopedia of Positive Psychology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 473–478. ISBN 978-1-118-34467-5.
- Volkov, A. D.; Tishkov, S. V.; Karginova-Gubinova, V. V.; Kolesnikov, N. G. (2023). "Environmental Well-Being of the Russian Arctic Regions: Official Data and Population Estimates". Regional Research of Russia. 13 (1): S141–S155. doi:10.1134/S2079970523600154.
- Voukelatou, Vasiliki; Gabrielli, Lorenzo; Miliou, Ioanna; Cresci, Stefano; Sharma, Rajesh; Tesconi, Maurizio; Pappalardo, Luca (2021). "Measuring Objective and Subjective Well-being: Dimensions and Data Sources". International Journal of Data Science and Analytics. 11 (4): 279–309. doi:10.1007/s41060-020-00224-2. hdl:11568/1053970.
- Ward, Joey; Lyall, Laura M.; Cullen, Breda; Strawbridge, Rona J.; Zhu, Xingxing; Stanciu, Ioana; Aman, Alisha; Niedzwiedz, Claire L.; Anderson, Jana; Bailey, Mark E. S.; Lyall, Donald M.; Pell, Jill P. (2023). "Consistent Effects of the Genetics of Happiness Across the Lifespan and Ancestries in Multiple Cohorts". Scientific Reports. 13 (1) 17262. Bibcode:2023NatSR..1317262W. doi:10.1038/s41598-023-43193-9. PMC 10570373. PMID 37828061.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - Waterman, Alan S. (2025). Flow Theory Re-Envisioned: A Conceptual Analysis and Response to Critiques (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-781345-4.
- Weijers, Dan. "Hedonism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 13 Oktober 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Western, Mark; Tomaszewski, Wojtek (2016). "Subjective Wellbeing, Objective Wellbeing and Inequality in Australia". PLOS ONE. 11 (10) e0163345. Bibcode:2016PLoSO..1163345W. doi:10.1371/journal.pone.0163345. PMC 5047468. PMID 27695042.
- White, Mathew A. (2023). "1. Where to from Here? Priorities for Wellbeing Education, Pedagogy and COVID-19 Recovery". Dalam White, Mathew A.; McCallum, Faye; Boyle, Christopher (ed.). New Research and Possibilities in Wellbeing Education (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 1–20. ISBN 978-981-99-5609-8.
- Wieland, Georg (2002). "Happiness (Ia IIae, qq. 1–5)". Dalam Pope, Stephen J. (ed.). The Ethics of Aquinas (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Kaplan, Grant. Georgetown University Press. hlm. 57–68. ISBN 978-0-87840-888-7.
- Yalom, Irvin D. (2020). Existential Psychotherapy (dalam bahasa Inggris). HarperCollins. ISBN 978-1-5416-4744-2.
- Yamaguchi, Mami; Halberstadt, Jamin (2011). "It's All About Me: Maladaptive Self-focused Attention as a Mediator of the Relationship Between Extrinsic Goals and Well-Being". Dalam Brdar, Ingrid (ed.). The Human Pursuit of Well-Being: A Cultural Approach (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 95–106. ISBN 978-94-007-1375-8.
- Zagzebski, Linda (2004). "Morality and Religion". Dalam Wainwright, William (ed.). The Oxford Handbook of Philosophy of Religion (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 344–365. ISBN 978-0-19-803158-1.
- Zelenski, John M. (2020). Positive Psychology: The Science of Well-being. Sage. ISBN 978-1-4739-0214-5.
- Zulkarnain, Zulkarnain; Nasution, Indri Kemala; Sutatminingsih, Raras; Sari, Rifka (2025). "Exploring the Role of Self-Control in the Relationship Between Happiness and Internet Addiction Among Teenagers". South African Journal of Education. 45 (Supplement 2) 2568: S1. doi:10.15700/saje.v45ns2a2568.