Rabu, 07 Oktober 2026
00:13 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Jouhatsu

Jouhatsu

Bagikan:
250px-Jouhatsu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para Jouhatsu terkadang menghilang dari kehidupan mereka untuk menghindari tekanan dari masyarakat

Jouhatsu (Jepang: 蒸発, Hepburn: Jōhatsu, secara harfiah "penguapan") atau johatsu merujuk pada orang-orang di Jepang yang dengan sengaja menghilang dari kehidupan mapan mereka tanpa jejak.[1] Fenomena ini dapat dilihat di seluruh dunia, seperti Amerika Serikat, Britania Raya, dan Jerman.[1][2] Namun, tampaknya lebih umum di Jepang mengingat faktor budaya tertentu.[2][3]

Latar belakang

Diperkirakan bahwa budaya kerja keras di Jepang serta kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat telah berkontribusi pada peningkatan jouhatsu di Jepang.[2] Ditambah lagi, berhenti dari perusahaan dianggap memalukan dalam budaya Jepang.[2] Bunuh diri, mati akibat kerja (karoshi), dan menjadi jouhatsu merupakan dampak yang mungkin terjadi.[2] Hal itu juga dapat menyelamatkan keluarga dari biaya tinggi yang dapat dikaitkan dengan bunuh diri (seperti hutang, biaya pembersihan, dan biaya gangguan layanan dalam konteks melompat dari ketinggian).[2]

Tekanan sosial serupa diperkirakan berkontribusi pada peningkatan hikikomori dan angka bunuh diri yang relatif tinggi.[3]

Sejarah

Istilah jouhatsu mulai digunakan pada tahun 1960-an.[1] Pada saat itu, istilah ini digunakan dalam konteks seseorang yang memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahan yang tidak bahagia daripada menjalani proses perceraian formal.[1]

Selama tahun 1990-an, kejatuhan ekonomi Jepang, menyebabkan peningkatan dalam jouhatsu dan bunuh diri karena banyaknya karyawan yang kehilangan pekerjaan dan/atau memiliki hutang yang menumpuk.[4]

Prevalensi

Di Jepang, topik jouhatsu merupakan pantangan dalam percakapan biasa, seperti topik bunuh diri.[2] Diperkirakan 100.000 orang Jepang menghilang setiap tahun.[2] Namun, kemungkinan jouhatsu tidak dilaporkan dalam jumlah resmi.[2] Pada tahun 2015, Badan Kepolisian Nasional Jepang telah mencatat 82.000 orang hilang, dan 80.000 orang ditemukan pada akhir tahun.[2] Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, Britania Raya memiliki 300.000 panggilan untuk melaporkan orang hilang, meskipun memiliki sekitar setengah dari populasi Jepang.[2] Selain itu, pangkalan data untuk orang hilang tidak tersedia di Jepang.[3]

Asosiasi Dukungan Pencarian Orang Hilang Jepang, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk mendukung keluarga jouhatsu, memperkirakan ratusan ribu orang hilang setiap tahun.[2]

Motivasi

Seseorang memutuskan menjadi jouhatsu karena sejumlah alasan, termasuk depresi, kecanduan, ketidakpantasan seksual, dan keinginan untuk terisolasi.[2] Terkadang, digunakan untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga, hutang perjudian, sekte agama, penguntit, atasan, dan situasi keluarga yang sulit.[2][3] Rasa malu akibat kehilangan pekerjaan, perceraian, bahkan kegagalan dalam ujian juga dapat memotivasi seseorang untuk menghilang.[4][5] Dalam beberapa kasus, menjadi jouhatsu adalah cara untuk memulai awal yang baru.[2] Ketika mereka menghilang, mereka dapat meninggalkan tempat tinggal, pekerjaan, keluarga, nama, bahkan penampilan mereka sebelumnya.[2]

Industri

Bisnis yang membantu jouhatsu disebut yonige-ya, yang berarti "toko pelarian di malam hari".[2] Tempat-tempat ini relatif mudah diakses dan memiliki situs web sendiri.[2] Salah satu yonige-ya tertentu dapat mengenakan biaya antara ¥50.000 ($450) sampai ¥300.000 ($2.600) untuk layanannya, yang bergantung pada sejumlah faktor.[2] Faktor-faktor ini meliputi: jumlah harta, jarak, kemungkinan bergegas di malam hari, kemungkinan termasuk anak-anak, dan kemungkinan klien menghindar dari penagih hutang.[2] Terkadang, seseorang menghilang dengan sendirinya tanpa bantuan yonige-ya.[2] Terdapat panduan yang diterbitkan yang dapat membantu seseorang menjadi jouhatsu.[2]

Agensi detektif terkadang digunakan untuk menemukan orang yang telah menjadi jouhatsu.[2] Terkadang, orang tersebut ditemukan sedang menghabiskan waktu di tempat pachinko dan kamar hotel murah, dan di lain waktu, ditemukan telah bunuh diri.[2] San'ya, sebuah perkampungan jembel di Tokyo yang sebelumnya menampung ribuan pekerja harian, dilaporkan sebagai tempat persembunyian jouhatsu.[2] Kamagasaki di Osaka adalah tempat lain yang memungkinkan untuk hidup tanpa ID dan juga digemari.[4] Tempat ini merupakan pertahanan Yakuza, sejak mereka memiliki pekerjaan yang dibayar tunai.[3][4] Sering kali, terutama dalam aturan undang-undang privasi Jepang yang ketat, jouhatsu tidak dapat ditemukan.[2][4] Sebagian besar kasus pengadilan jouhatsu adalah kasus perdata, dan data pribadi tidak mudah diakses.[4] Polisi tidak akan ikut campur selama bukan kejahatan atau kecelakaan.[1]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Lufkin, Bryan (3 September 2020). "The companies that help people vanish". BBC Worklife.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Hincks, Joseph (2 Mei 2017). "Japan's Missing People: On the Trail of the Johatsu". Time.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 5 Scull, J. C. (16 Juni 2020). "The Johatsu: The Evaporated People of Japan". Owlcation. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-08-17. Diakses tanggal 2022-03-05.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 5 6 Simone, Alina (25 April 2017). "Japan's 'evaporated people' have become an obsession for this French couple". The World from PRX.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Mauger, Léna; Remael, Stéphane; Phalen, Brian (2016). The vanished: the "evaporated people" of Japan in stories and photographs. ISBN 978-1-5107-0826-6. OCLC 936533868.[halaman dibutuhkan]

Bacaan lebih lanjut

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan