Jumat, 06 November 2026
06:20 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Karōshi

Karōshi

Bagikan:
250px-Nomorekaroshi-shimbashiprotest-june-13-2018.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah aksi protes yang bertuliskan "No More Karoshi" di Tokyo pada tahun 2018.

Karōshi (過労死), dapat diterjemahkan menjadi "kematian terlalu banyak bekerja", merupakan peristiwa kematian yang disebabkan jam kerja yang berlebih.[1] Fenomena ini terjadi di negara Jepang; serta (sampai batas tertentu) di negara-negara Asia lainnya, terutama Tiongkok, Korea Selatan, dan India. Pola kerja yang tiada henti membuat para pekerja stres dan mengakibatkan penyakit jantung dan stroke. Tetsunojo Uehata, seorang ahli medis Jepang mengartikan Karōshi sebagai kondisi seseorang yang menjalani pola kerja yang secara psikologis tidak sehat dan mengganggu pola hidup.[butuh rujukan]

Sejarah

Karōshi pertama kali muncul pada tahun 1969, yakni seorang pria berusia 29 tahun yang bekerja di Departemen Surat kabar terbesar di Jepang mendadak meninggal terserang stroke.[2] The Workers Compensation Bureau of Japan’s Ministry of Labor menganggap kematian pria tersebut akibat kerja yang berlebih.[3] Pada bulan Juli 2013, Karōshi kembali merenggut nyawa. Miwa Sado, seorang jurnalis politik NHK Jepang ditemukan meninggal di apartemen nya. Miwa diketahui bekerja selama 159 jam sebulan dan hanya mendapatkan libur selama dua hari.[4]

Pada tahun 2015, Departemen Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang mengungkapkan jumlah kematian yang diakibatkan Karoshi di Jepang mencapai 1456 kasus dalam kurun 1 tahun.[5] Hasil investigasi Pemerintah Jepang pada tahun 2016 menyatakan jika 12 persen staf di Perusahaan Jepang bekerja lebih dari 100 jam selama sebulan.

Kebijakan

Untuk mengatasi fenomena Karōshi yang semakin meningkat, Pemerintah Jepang meluncurkan sebuah kampanye "Jumat Premium" yang berisi agar para karyawan pulang lebih awal setiap Jumat terakhir di tiap bulannya[6][7] dan membatasi jam lembur, yakni maksimal 30 jam dalam satu bulan.[5]

Referensi

  1. ↑ "Case Study: Karoshi: Death from overwork". International Labour Organization (dalam bahasa Inggris). 2013-04-23. Diakses tanggal 2025-07-30.
  2. ↑ Pfeffer, Jeffrey (2018). "5". Dying for a Paycheck: How Modern Management Harms Employee Health and Company Performance--And What We Can Do about It (Edisi 1st ed). Erscheinungsort nicht ermittelbar: HarperCollins Publishers. hlm. 63. ISBN 978-0-06-280092-3.{{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahanPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ "Di Jepang Banyak Pekerja Meninggal Akibat Kerja Berlebih". National Geographic Indonesia. 2013-12-17. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-29. Diakses tanggal 2018-04-29.
  4. ↑ Ferida, Khairisa. Yulianingsih, Tanti; Ferida, Khairisa; Suro, Ezri Tri (ed.). "Karoshi, Fenomena Mengerikan yang Menghantui Karyawan di Jepang". Liputan6.com. Diakses tanggal 2018-04-29.
  5. 1 2 Muliana, Vina A. Wahyuni, Nurseffi Dwi (ed.). "6 Fakta Fenomena Karoshi di Jepang, Kerja Tanpa Cuti Sampai Mati". Liputan6.com. Diakses tanggal 2018-04-29.
  6. ↑ Lane, Edwin (2017-06-03). "Cerita kaum muda Jepang yang bekerja keras sampai tewas". BBC News Indonesia (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2018-04-29.
  7. ↑ Araki, Shunichi; Iwasaki, Kenji (2005). "Death Due to Overwork (Karoshi): Causation, health service, and life expectancy of Japanese males" (PDF). Japan Medical Association Journal. hlm. 92–98. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 Januari 2016. Diakses tanggal 2025-07-30.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan