
Mono no aware (物の哀れ),[a] terj. har. 'patos segala sesuatu', juga diterjemahkan sebagai 'empati terhadap segala sesuatu' atau 'kepekaan terhadap hal-hal fana', adalah ungkapan bahasa Jepang untuk apresiasi estetis atas ketidakkekalan (無常, mujō) atau sifat fana dari segala hal, serta kesedihan lembut yang sementara (atau kesenduan) atas berlalunya hal-hal tersebut maupun kesedihan lembut yang lebih dalam dan bertahan lama bahwa keadaan ini merupakan kenyataan hidup.[2]
Asal-usul dan analisis
Ungkapan[3] mono no aware berasal dari sastra zaman Heian, tetapi diangkat dan digunakan oleh sarjana kebudayaan Jepang abad ke-18 pada zaman Edo, Motoori Norinaga, dalam kritik sastranya terhadap Kisah Genji, yang kemudian juga diterapkannya pada karya-karya penting Jepang lainnya termasuk Man'yōshū. Konsep ini menjadi inti dari filsafat sastranya; ia menganggapnya sebagai tema utama Kisah Genji.[3] Penjelasannya merupakan hasil dari pembacaan puitis yang telah mapan atas Kisah Genji, dan konsep tersebut menjadi sangat penting dalam pemikirannya sendiri; Genji memiliki "peran penting" dalam pengukuhan istilah ini.[4][5] Menurut Norinaga, "memahami" mono no aware berarti memiliki pemahaman yang tajam dan pertimbangan mendalam tentang realitas serta berbagai peristiwa yang terjadi; tersentuh oleh keindahan bunga sakura dan mengapresiasinya adalah contoh dari pemahaman ini yang diberikan oleh Norinaga.[3][4][6]
Sarjana kebudayaan Jepang Kazumitsu Kato menulis bahwa memahami mono no aware pada zaman Heian "hampir menjadi suatu keharusan bagi seorang terpelajar dalam masyarakat aristokrat", suatu masa ketika konsep ini sangat menonjol.[3] Donald Richie menulis bahwa istilah tersebut memiliki "penekanan yang hampir bersifat Buddhis terhadap pengakuan atas perubahan abadi dalam kehidupan di bumi ini. Ini adalah sikap autentik masyarakat Jepang terhadap kematian dan bencana".[7] Berbagai pakar lainnya juga telah membahas istilah ini.[3]
Etimologi
Frasa ini berasal dari kata bahasa Jepang mono(物), yang berarti 'benda' atau 'sesuatu', partikel no, yang berarti 'dari', dan kata aware(哀れ), yang merupakan ungkapan terukur untuk menyatakan kekaguman atau kejutan pada zaman Heian (mirip dengan 'ah' atau 'oh'), yang diterjemahkan secara kasar sebagai 'patos', 'kesenduan', 'perasaan mendalam', 'kepekaan', atau 'kesadaran'.[butuh rujukan] Mono no aware telah memiliki beberapa terjemahan, seperti 'patos segala sesuatu' dan 'kepekaan terhadap segala sesuatu'; frasa bahasa Latin lacrimae rerum juga pernah dikaitkan dengannya.[6] Karena pengaruh Agama Buddha di Jepang, ungkapan ini juga dikaitkan dengan Anicca, salah satu dari tiga corak keberadaan dalam agama Buddha yang mewakili ketidaktetapan.
Kesadaran akan fana atau tidak tetapnya segala sesuatu mempertinggi apresiasi terhadap keindahannya, serta membangkitkan kesedihan lembut saat hal-hal tersebut berlalu.[butuh rujukan] Norinaga memandang keadaan aware sebagai kondisi mendasar dari konsep ini.[3]
Makna istilah ini mengalami perubahan secara bertahap, meskipun "sejak awal istilah ini mewakili perasaan jenis khusus: 'bukan lonjakan hasrat yang kuat, melainkan emosi yang mengandung keseimbangan...'".[8]
Dalam budaya kontemporer
Mono no aware merupakan "salah satu konsep paling terkenal dalam kritik sastra tradisional di Jepang".[4] Yasunari Kawabata adalah pendukung modern utama dari mono no aware.[8] Norinaga menegaskan bahwa perasaan mono no aware bisa sangat mendalam sehingga kiasan terhadap pancaindra, yang menyoroti "suara angin atau jangkrik, [...] warna bunga atau salju", menjadi satu-satunya ungkapan yang tepat.[6]
Komikus manga terkemuka yang menggunakan gaya penceritaan mono no aware meliputi Hitoshi Ashinano, Kozue Amano, dan Kaoru Mori. Dalam anime, baik Only Yesterday karya Isao Takahata maupun Mai Mai Miracle karya Sunao Katabuchi menekankan berlalunya waktu dengan nada yang lembut serta menampilkan alur cerita utama yang sejajar dengan alur cerita dari masa lalu.
Pada dekade 1970-an, mono no aware telah diadopsi dalam kritik film berbahasa Jepang dan Inggris dengan perhatian khusus terhadap sutradara Jepang Yasujirō Ozu.[8] Ozu terkenal karena kemampuannya menciptakan nuansa mono no aware, yang sering kali mencapai puncaknya ketika seorang tokoh dengan sangat tenang mengatakan "Ii tenki desu ne?"(いい天気ですね, 'Cuaca yang cerah, bukan?'), setelah terjadinya pergeseran paradigma keluarga dan masyarakat, seperti pernikahan seorang anak perempuan, dengan latar belakang Jepang yang berubah cepat. Ozu sering kali mengekspresikan perasaan dengan menampilkan wujud benda alih-alih wajah aktor. Beberapa contohnya mencakup dua orang ayah yang merenungkan bebatuan di taman "lanskap kering", serta cermin yang memantulkan ketiadaan anak perempuan yang baru saja meninggalkan rumah setelah menikah.[9]
Cerita pendek karya penulis fiksi ilmiah Ken Liu, Mono no Aware, memenangkan Penghargaan Hugo untuk Cerita Pendek Terbaik pada tahun 2013.[10] Terinspirasi oleh karya-karya seperti manga fiksi ilmiah Yokohama Kaidashi Kikou, Liu berusaha membangkitkan "estetika yang utamanya berorientasi pada penciptaan empati dalam diri pembaca terhadap berlalunya segala sesuatu yang tidak dapat dihindari", serta mengakui "pentingnya ingatan dan kesinambungan dengan masa lalu".[11]
Film I Live in Fear karya Akira Kurosawa dan Black Rain karya Shohei Imamura sama-sama dikaitkan dengan istilah ini.[7]
Dalam Rampart Trilogy karya Mike Carey, "Monono Aware" adalah nama panggung seorang bintang pop Jepang yang kepribadian dan ingatannya dilisensikan sebagai konten untuk DreamSleeve ciptaan Sony, sebuah pemutar musik berbasis kecerdasan buatan yang dirilis sebelum runtuhnya peradaban manusia.
Lihat pula
- Melankolia
- Vanitas
- Semua ini akan berlalu, sebuah pepatah Timur Tengah mengenai sifat fana
- Han
- Lacrimae rerum
- Ubi sunt
- Mottainai
- Wabi-sabi
- Weltschmerz
- Sehnsucht
- Saudade
Catatan
- ↑ Ejaan kana historis: もののあはれ, Penggunaan kana modern: もののあわれ. Bentuk kana lama tetap lebih disukai dalam penggunaan modern.
Referensi
- ↑ "Men dancing to samisen music, from the series Shokoku meibutsu". Museum of New Zealand - Te Papa Tongarewa. Diakses tanggal Februari 9, 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Macdonald, Fiona (Januari 25, 2019). "Seven words that can help us be a little calmer". bbc.com. Diakses tanggal 14 Juli 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 Kato, Kazumitsu (1962). "Some Notes on Mono no Aware". Journal of the American Oriental Society. 82 (4): 558–559. doi:10.2307/597529. ISSN 0003-0279. JSTOR 597529.
- 1 2 3 Yoda, Tomiko (1999). "Fractured Dialogues: Mono no aware and Poetic Communication in The Tale of Genji". Harvard Journal of Asiatic Studies. 59 (2): 523–557. doi:10.2307/2652721. ISSN 0073-0548. JSTOR 2652721.
- ↑ Frühstück, Sabine; Linhart, Sepp, ed. (1998). The Culture of Japan as Seen through Its Leisure. State University of New York Press. hlm. 220. ISBN 9780791437926.
- 1 2 3 Saito, Yuriko (1985). "The Japanese Appreciation of Nature". The British Journal of Aesthetics (dalam bahasa Inggris). 25 (3): 239–251. doi:10.1093/bjaesthetics/25.3.239. ISSN 0007-0904.
- 1 2 Feleppa, Robert (2004). "Black Rain: Reflections on Hiroshima and Nuclear War in Japanese Film". CrossCurrents. 54 (1): 106–119. ISSN 0011-1953. JSTOR 24460747.
- 1 2 3 Standish, Isolde (2012). "The ephemeral as transcultural aesthetic: A contextualization of the early films of Ozu Yasujirō". Journal of Japanese and Korean Cinema. 4 (1): 3–14. doi:10.1386/jjkc.4.1.3_1. S2CID 143760145.
- ↑ "2. Mono no aware: the Pathos of Things". plato.stanford.edu. 10 Oktober 2011. Diakses tanggal 29 November 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "2013 Hugo Awards". 22 Desember 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-09-06.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mamatas, Nick. "Q/A With Ken Liu (and the return of Intern Kathleen)". Haikasoru. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Mei 2013. Diakses tanggal 7 April 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
- "Lecture notes". Diarsipkan dari asli tanggal 9 Oktober 2012.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) from a Japanese culture class at Ohio State University