Senin, 19 Oktober 2026
01:58 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Jembatan Bantar

Jembatan Bantar

jembatan di Indonesia

Bagikan:
Jembatan Bantar
330px-Jembatan_Bantar_%281%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koordinat7°49′21″S 110°14′02″E / 7.822546°S 110.233774°E / -7.822546; 110.233774
Moda transportasiLalu lintas, pejalan kaki
MelintasiSungai Progo
LokalKabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
Karakteristik
Panjang total176m
Lebar5m
Tinggi maksimum25m
Sejarah
Dibuka1886 (sebagai jembatan darurat)
1916 (sebagai jembatan permanen)
Ditutup2006
Lokasi
osm-intl,13,-7.822546,110.233774,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Jembatan_Bantar&revid=29471730&groups=_21301650549dd37f799fa0cd3b2f31da3ce6dc03&parser=parsoid
Peta interaktif Jembatan Bantar

Jembatan Bantar (bahasa Jawa:꧋ꦏꦿꦺꦠꦺꦒ꧀ꦧꦤ꧀ꦠꦂ, translit. Krétég Bantar) adalah jembatan yang berada di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Dengan jarak 15 km dari Kota Yogyakarta, jembatan ini menjadi penanda batas antara Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul.

Sejarah

Pada awalnya, wilayah Kulon Progo dan Bantul hanya dihubungkan dengan jembatan kereta api, dan belum ada sarana penghubung bagi kendaraan darat untuk menyeberangi Sungai Progo. Pada akhirnya, dibangunlah jembatan darurat untuk kendaraan darat oleh kolonial Belanda pada 1886.[1]

Meningkatnya volume kendaraan yang melintas membuat pemerintah Hindia Belanda merencanakan perbaikan jembatan tersebut. Ir.Verhoog & Ir.Jurgensen West dari Burgerlijek Openbare Werken (sekarang Dinas Pekerjaan Umum) merancang sebuah jembatan gantung dengan teknologi paling modern saat itu. Jembatan gantung dipilih karena kawasan Sungai Progo yang lebar dan rawan banjir, sehingga tiang pancang jembatan cukup 2 pilar saja agar tidak bisa diterjang banjir. Pembangunan dimulai pada 1917, dan sempat terhenti karena naiknya harga baja untuk jembatan setelah Perang Dunia I. Pembangunan dilanjutkan pada 1928 dan selesai 1929. Baja-Baja tersebut didatangkan langsung dari Belanda, dibuat di pabrik "Werkspoor", Utrech.[2]

Jembatan Bantar baru diresmikan pada 17 Juni 1929 oleh Gubernur Yogyakarta, J.E. Jasper dan diberi nama Gouverneur Jasperbrug. Biaya total pembangunan jembatan disebutkan sebesar 455.000 Gulden, yang mana dibagi rata antara Pemerintah Kolonial Belanda dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.[2]

Jembatan Bantar juga menjadi medan pertempuran antara pihak Indonesia yang diwakili oleh pasukan gerilya Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo dengan pihak Belanda pada saat Agresi Militer II pada 1948. Pasukan gerilya Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo membentuk kantong perlawanan untuk menyerang berbagai pos Belanda, dengan sasaran utama Jembatan Bantar yang digunakan Belanda sebagai markas komando. Pasukan gerilya memasang bom di sepanjang jembatan menuju arah Yogyakarta. Pertempuran di Jembatan Bantar tersebut terus berlangsung hingga 1949, dengan akhir dimenangkan oleh pihak Indonesia karena berhasil mengikat pasukan Belanda yang bermarkas di Jembatan Bantar, sehingga tidak dapat membantu pasukan Belanda yang diserang di Kota Yogyakarta.[3]

Jembatan ini juga pernah Dibangun ulang oleh Djawatan Kereta Api pada 1957 dengan kontruksi baru.[4] Kini, jembatan asli yang dibangun oleh Hindia Belanda sudah tidak digunakan, dan sebagai gantinya dibangun jembatan baru di sisi selatan jembatan lama pada 2006.

Pemanfaatan

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo berencana untuk memanfaatkan keberadaan jembatan Bantar lama sebagai wisata sejarah. Sebelumnya, kawasan jembatan ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat kalurahan Banguncipto, kapanewon Sentolo secara swadaya sebagai tempat wisata dengan nama "Towilfiest".[5]

Jembatan Bantar juga dijadikan sebagai Monumen perjuangan pada 1995 oleh Menko Polkam RI pada waktu itu, Jenderal (Purn) Soesilo Soedarman, selaku Ketua Umum Paguyuban Wehrekreise III. [5]

Budaya Populer

Salah satu aparatur sipil pemerintahan Kabupaten Kulon Progo membuat lagu bertemakan jembatan ini, dengan judul "Jembatan Bantar". Lagu tersebut berisi tentang keindahan jembatan Bantar sekaligus menjadi ajakan untuk menjaga dan merawat keaslian jembatan Bantar agar tetap lestari.[6]

Referensi

  1. ↑ "Jembatan Bantar, Sebuah Saksi Perjuangan". dpu.kulonprogokab.go.id. Anonim. Diakses tanggal 28 November 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 "Telan Biaya 455 Ribu Gulden, Begini Sejarah Panjang Pembangunan Jembatan Bantar". krjogja.com. Agus. Diakses tanggal 28 November 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Cahyanto, Irfandi. 2017. "Upaya Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulonprogo dalam Pertempuran Mempertahankan Jembatan Bantar Sentolo 1948-1949". Jurnal. Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta
  4. ↑ "Jembatan Bantar, Riwayatmu Kini". pikiranrakyat.com. Adham, Azam Sauki. Diakses tanggal 28 November 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 "Pemanfaatan Jembatan Bantar sebagai Destinasi Wisata Terganjal Kewenangan". harianjogja.com. Suprobo, Hafid Yudi. Diakses tanggal 28 November 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Pak Ndut Ciptakan Lagu Jembatan Bantar". pemberdayaan.kulonprogokab.go.id. Anonim. Diakses tanggal 28 November 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Jembatan pejalan kaki
Jembatan jalan raya
Jembatan jalan tol
Jembatan laut
Jembatan kereta api
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan