Jumat, 09 Oktober 2026
11:05 WIB
TERKINI
Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP

Ibrahim Yaakob

Bagikan:
Ibrahim bin Yaakob
Lahir(1911-11-27)27 November 1911
Meninggal8 Maret 1979(1979-03-08) (umur 67)
Jakarta, Indonesia
Nama lainIskandar Kamel Agastya
PekerjaanPolitikus, nasionalis
OrganisasiKesatuan Melayu Muda
Dikenal karenaMendirikan dan memimpin Kesatuan Melayu Muda (KMM)
GerakanMelayu Raya, Indonesia Raya

Ibrahim bin Yaakob (27 November 1911 – 8 Maret 1979) adalah seorang politikus dan nasionalis Malaya. Sebagai penentang pemerintah kolonial Inggris, ia adalah presiden dan pendiri Kesatuan Melayu Muda (KMM).[1] Selama Perang Dunia II, ia mendukung Jepang selama pendudukan mereka di Malaya[1] dan memimpin Tentara Sukarelawan Malaya. Ditangkap oleh pemerintah kolonial Inggris, Jepang membebaskannya pada Februari 1942, dan ia kemudian menyelamatkan ratusan tentara Malaya dari pembunuhan selama pendudukan; hal ini kemudian menyelamatkannya dari penangkapan oleh Pasukan 136 setelah perang.[2] Ia meninggal di Jakarta pada 8 Maret 1979.[3]

Pertemuan dengan Soekarno dan Hatta dan Gagasan Indonesia Raya

Lapangan Terbang Payalebar, Singapore, 8 Agustus 1945

Pemimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta sedang transit dalam perjalanan ke Dalat (sekarang Saigon/Ho Chi Minh City), Vietnam untuk menemui panglima AD Jepang Grup Ekspedisi Selatan yg membawahi Asia Tenggara, Gensui (FieldMarshall) Hisaichi Terauchi. Tujuan kedua tokoh Indonesia tersebut menemui Terauchi adalah membicarakan persiapan kemerdekaan Indonesia.

Pada saat transit, kedua tokoh pejuang Indonesia tersebut disambut oleh massa yg mengibarkan bendera merah putih, yg dipimpin oleh Ibrahim Yacoob dan Dr. Burhanuddin al-Hilmi, tokoh-tokoh KRIS (Kesatoean Ra'jat Indonesia Semenandjoeng). KRIS ini memang dibentuk untuk menyongsong rencana proklamasi kemerdekaan negara baru bernama Indonesia di tanah Semenanjung Malaya dan Singapore!

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, kedua tokoh puak Melayu Malaya tersebut menyampaikan aspirasi rakyat Malaya bahwa tanah Semenanjung bagian tak terpisahkan dari Indonesia Raya dan harus ikut dibicarakan dalam agenda pertemuan dengan penguasa militer Jepang di Dalat.

Taiping, Perak, 13 Agustus 1945

Sekembali dari Dalat, Soekarno dan Hatta singgah di Taiping, Perak pada 13 Agustus 1945. Di sana ia bertemu kembali Ibrahim Yaacob dkk. Dalam kesempatan itu, Ibrahim Yaacob kembali menyampaikan bahwa kemerdekaan Malaya tercakup dalam Kemerdekaan Indonesia. Konon, mendengar keinginan Ibrahim Yaacob itu, Soekarno pun berkata, “Mari kita ciptakan satu tanah air bagi seluruh tumpah darah Indonesia.” Ibrahim kemudian menjawab, “Kami orang Melayu akan setia menciptakan ibu negeri dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami orang- orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia.” Proklamasi kemerdekaan Indonesia direncanakan pada 24 Agustus 1945 di Jakarta.

Kepergian ke Indonesia dan Terlibat Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949)

Namun, Indonesia memproklamirkan kemerdekannya tanggal 17 Agustus 1945, tanpa mengikutkan Semenanjung Malaya. Banyak anggota KMM di Malaya yang kecewa. Di bulan Agustus juga, Ibrahim Yacoob dan sejumlah petinggi KMM terbang ke Jakarta untuk menemui Soekarno dan para pemimpin Republik lainnya, menagih janji Soekarno dan Muhammad Hatta yg mereka temui di Taiping, Perak, 13 Agustus 1945.

Namun karena situasi belum aman, Soekarno dan Hatta memutuskan untuk menunda pembicaraan penyatuan Malaya tersebut. Yacoob pun diminta Soekarno untuk tidak kembali ke Malaya untuk sementara waktu, mengingat situasi di Malaya sedang chaos dan tentara Inggris sudah lebih dulu mendarat di sana untuk memulihkan keamanan di tanah jajahannya itu. Yacoob yang seorang Letnan Kolonel dan komandan Gyugun Malaya, milisi bentukan Jepang tentunya akan jadi target operasi keamanan yang digelar pasukan kolonial yang sedang euforia kemenangan perang itu. Sementara pemimpin KMM lainnya nekat kembali ke tanah airnya.

Pada 19 Oktober 1945, Ibrahim dan keluarga tiba di Yogyakarta, berganti nama jadi Iskandar Kamel Agastja, dan segera bergabung dengan MBT TKR (Markas Besar Tentara - Tentara Keamanan Rakyat), diperintahkan membentuk Badan Intelijen SOI Seksi E (Luar Negeri) dengan pangkat Letnan Kolonel. Tugas utamanya:

Pada Agresi Militer II 19 Desember 1948, Ibrahim bergerilya di daerah Karanganyar dan Merapi, hingga kembali ke Yogyakarta pada Agustus 1949.

Kiprah Politik pada Masa Orde Lama (1949 - 1967)

Setelah pengakuan kedaulatan RI, Ibrahim alias Iskandar Kamel memutuskan mengundurkan diri dari ketentaraan dan bergabung ke Kementerian Luar Negeri hingga Maret 1951. Saat bertugas di Kementerian Luar Negeri, Ibrahim membentuk KEMAM (Kesatuan Malaya Merdeka) yg berjuang untuk kemerdekaan Malaya dari Indonesia. Di kancah politik, Ibrahim menjadi anggota pimpinan PNI (Partai Nasional Indonesia) cabang Jakarta Raya sampai tahun 1958. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Ibrahim sempat menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) mewakili Riau.

Pertemuan dengan Tunku Abdul Rahman

November 1955, tokoh Malaya Tunku Abdul Rahman berkunjung ke Jakarta atas undangan Soekarno. Ketika itu, Tunku Abdul Rahman dipertemukan dengan Ibrahim Yacoob. Namun ternyata kedua tokoh Malaya ini tetap tidak mau berkompromi, Tunku Abdul Rahman ingin Malaya merdeka di bawah naungan Persemakmuran Inggris/Commonwealth of Nations, sedangkan Ibrahim ingin Malaya bergabung dalam naungan Indonesia Raya. Ibrahim semakin larut dalam perjuangan di negeri leluhurnya.

Sikap Anti Komunis pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959 - 1967)

Dalam kampanye TRIKORA (Tri Komando Rakyat) Ibrahim menjadi Bendaraha Kongres Rakjat Indonesia pada tahun 1958-1960. Tahun 1959, Ibrahim bergabung dgn Partindo (Partai Indonesia), tetapi partai itu kemudian dibekukan karena menolak asas NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) yang dipaksakan oleh Presiden Soekarno pada 1963. Pada kampanye DWIKORA (Dwi Komando Rakyat), Ibrahim kembali memimpin KEMAM, ikut mengatur pengiriman pasukan ke Malaya dan Borneo Utara hingga tahun 1964 diangkat sebagai Staf KOTI diperbantukan kepada Kepala Staf KOTI (Komando Operasi Tinggi) Letnan Jenderal Ahmad Yani.

G30S dan Perubahan Haluannya kepada Soeharto

Pada peristiwa G30S, selaku Staf KOTI dan Pimpinan KEMAM, Ibrahim menyatakan mendukung tindakan militer yg diambil oleh Pangkostrad (Panglima Komando Cadangan Strategis TNI-AD) Mayor Jenderal Soeharto karena sikapnya yg memang sangat anti komunis. Setelah peristiwa berdarah itu, Ibrahim ditugaskan sebagai anggota KOTI-KOGAM (Komando Ganyang Malaysia) di bawah Letnan Jendral Soeharto pada 1966 sampai dengan 1967. Pada jabatan itu, Ibrahim ditugaskan mengambil alih tampuk kepemimpinan Partindo dan membersihkannya dari unsur-unsur komunis. Setelah menonaktifkan Partindo, Ibrahim bergabung dan menjadi Ketua III Partai Murba pada tahun 1967.

Dalam pemilihan umum (Pemilu) 1971, Ibrahim mencalonkan diri sebagai anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dari daerah pemilihan Jawa Barat melalui Partai Murba. Gagal menduduki kursi parlemen, pada tahun 1976 Ibrahim menjadi anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) di Partai Demokrasi Indonesia (PDI), partai hasil fusi partai-partai berhaluan nasionalis dan non-Islam usai Pemilu 1971.

Belakangan Ibrahim mengundurkan diri dari politik dan terjun ke dunia bisnis sebagai komisaris Bank Pertiwi. Hingga akhir hayatnya Ibrahim Yaacob bermukim di Jakarta, Indonesia dengan nama Iskandar Kamel Agastya dan wafat pada 8 Maret 1979. Jenazah Ibrahim Yaacob dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dia mendapatkan pangkat Letnan Kolonel purnawirawan TNI-AD, NRP 26217.

Di nisannya tertulis:
Drs. Iskandar Kamel (IBHY)
Letnan Kolonel Inf. NRP 26217
Purn. TNI-AD
(IBHY = akronim dari Ibrahim Yacoob atau Yaakob)

Rujukan

  • (Inggris)The Japanese Occupation of Malaya, 1941-45: Ibrahim Yaacob and the Struggle for Indonesia Raya. Cheah Boon Kheng, Vol. 28, Okt. 1979, hal. 84-120

Pranala luar

  1. 1 2 "Malaysia Today: MT-Book Section: Introduction". Malaysia-Today.net. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2007. Diakses tanggal 21 April 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Bartleby.com: Great Books Online". Bartleby.com. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Desember 2002. Diakses tanggal 21 April 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Cheah, Boon Kheng (Oktober 1979). "The Japanese Occupation of Malaya, 1941–45: Ibrahim Yaacob and the Struggle for Indonesia Raya". Indonesia. 28: 84–120. JSTOR 3350886.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan