Selasa, 27 Oktober 2026
01:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Hipotesis Kurgan

Hipotesis Kurgan

Bagikan:
250px-IE_expansion.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta migrasi Indo-Eropa dari sekitar tahun 4000 hingga 1000 SM menurut model Kurgan.
Artikel ini adalah bagian dari seri:
Topik Indo-Eropa
250px-Indo-European_migrations.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Hipotesis Kurgan (juga dikenal dengan nama teori Kurgan atau model Kurgan) adalah usulan tanah air Proto-Indo-Eropa yang paling diterima oleh para ahli. Dari tanah air ini, rumpun bahasa Indo-Eropa menyebar ke seluruh Eropa dan sebagian wilayah Asia.[note 1] Menurut hipotesis ini, orang-orang yang berasal dari kebudayaan Kurgan di stepa Pontus di sebelah utara Laut Hitam kemungkinan besar menuturkan bahasa Proto-Indo-Eropa. Istilah ini berasal dari bahasa Rusia kurgan (курган), yang berarti tumulus atau gundukan penguburan.

Hipotesis Kurgan pertama kali dirumuskan pada tahun 1950-an oleh Marija Gimbutas. Ia menggunakan istilah ini untuk mengelompokkan berbagai kebudayaan, termasuk kebudayaan Yamna dan pendahulu-pendahulunya. Sementara itu, David Anthony menggunakan kebudayaan Yamna dan hubungannya dengan kebudayaan-kebudayaan lain sebagai titik acuan.

Menurut Marija Gimbutas, kebudayaan Kurgan terdiri dari empat periode: yang paling awal (Kurgan I) mencakup kebudayaan Samara dan Seroglazovo di wilayah Dnieper-Volga pada Zaman Tembaga (awal milenium ke-4 SM). Orang-orang yang berasal dari kebudayaan tersebut merupakan kelompok peternak nomaden, dan menurut model ini mereka telah tersebar di stepa Pontus-Kaspia dan Eropa Timur pada awal milenium ke-3 SM.[3]

Tiga penelitian genetik yang dilakukan pada tahun 2015 telah memperkuat teori Kurgan yang diajukan oleh Gimbutas. Menurut penelitian-penelitian tersebut, haplogrup R1b dan R1a yang merupakan haplogrup paling umum di Eropa (R1a juga umum ditemukan di Asia Selatan) telah menyebar dari stepa Rusia bersamaan dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa; mereka juga menemukan komponen autosomal yang ada pada orang-orang Eropa modern tetapi tidak ada pada orang-orang Eropa pada masa Neolitikum, yang kemungkinan besar dibawa oleh garis keturunan paternal R1b dan R1a.[4][5][6]

Catatan

  1. ↑ Lihat:
    • Mallory: "The Kurgan solution is attractive and has been accepted by many archaeologists and linguists, in part or total. It is the solution one encounters in the Encyclopædia Britannica and the Grand Dictionnaire Encyclopédique Larousse."[1]
    • Strazny: "The single most popular proposal is the Pontic steppes (see the Kurgan hypothesis)..."[2]

Referensi

  1. ↑ Mallory 1989, hlm. 185. sfn error: tanpa target: CITEREFMallory1989 (bantuan)
  2. ↑ Strazny 2000, hlm. 163. sfn error: tanpa target: CITEREFStrazny2000 (bantuan)
  3. ↑ Gimbutas (1985) page 190.
  4. ↑ Massive migration from the steppe is a source for Indo-European languages in Europe, Haak et al, 2015
  5. ↑ Population genomics of Bronze Age Eurasia, Allentoft et al, 2015
  6. ↑ "Eight thousand years of natural selection in Europe, Mathieson et al, 2015". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-03. Diakses tanggal 2017-08-19.

Bacaan lanjut

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik bahasa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan