Rabu, 04 November 2026
01:50 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Migrasi Indo-Eropa

Migrasi Indo-Eropa

Bagikan:
250px-IE_expansion.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Skema migrasi Indo-Eropa migrasi sejak k. 4000-1000 SM menurut hipotesis Kurgan
  Asumsi lokasi Urheimat (budaya Samara, budaya Sredny Stog) serta budaya Yamna selanjutnya.
  Daerah yang kemungkinan dihuni hingga k. 2500 SM.
  Daerah yang dihuni hingga 1000 SM.[1]
Artikel ini adalah bagian dari seri:
Topik Indo-Eropa
250px-Indo-European_migrations.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Migrasi Indo-Eropa adalah migrasi dari kelompok-kelompok penggembala berbahasa Proto-Indo-Eropa, yang berpindah dari wilayah Yamnaya dan stepa Pontus–Kaspia yang terkait secara budaya, yang sejak kira-kira tahun 4000 SM. Mereka menyebar ke seantero Eropa dan Asia, dan membentuk budaya baru bersama berbagai kelompok budaya yang ditemui dalam perpindahan tersebut, antara lain dengan kelompok budaya Tembikar Bertanda Tali di Eropa Utara dan kelompok budaya Weda di India.

Pengetahuan modern mengenai migrasi ini diperoleh berdasarkan data linguistik, arkeologi, antropologi dan genetika. Ilmu linguistik menjelaskan persamaan antara berbagai bahasa, serta aturan linguistik yang berlaku dalam perubahan bahasa-bahasa tersebut. Data arkeologi menjelaskan penyebaran dari bahasa dan budaya Proto-Indo Eropa dalam beberapa tahap, dari wilayah asal Eurasia masyarakat Proto-Indo-Eropa di stepa Pontus–Kaspia, hingga ke Eropa Barat serta Asia Tengah dan Selatan,[2][3] melalui berbagai migrasi, yang disertai pergeseran bahasa akibat masuknya kelompok elit tertentu dalam masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian antropologi.[2] Penelitian genetik mutakhir semakin besar peranannya dalam memahami bagaimana hubungan masa lalu antara berbagai budaya tersebut.

Bahasa dan budaya Indo-Eropa tersebar dalam berberapa tahapan. Migrasi awal pada k. 4200-3000 SM membawa budaya Proto-Indo-Eropa kuno ke dataran rendah lembah Donau,[2] Anatolia,[2][4][web 1] dan wilayah Altai.[5] Budaya Pra-Keltik dan Pra-Italia kemungkinan tersebar ke Eropa setelah munculnya gelombang migrasi-migrasi selanjutnya ke Lembah Donau,[6][2] sedangkan budaya Pra-Jermanik dan Pra-Balto-Slavia berkembang di sebelah timur pegunungan Carpathia, yaitu wilayah Ukraina saat ini,[2] kemudian bergerak ke utara dan tersebar bersama budaya Tembikar Bertanda Tali di Eropa Tengah (yaitu pada milenium ketiga SM).[6][2][web 2][7][web 3][web 4]

Bahasa dan Budaya Indo-Iran yang muncul pada budaya Sintashta (k. 2100-1800 SM) di sebelah timur dari perbatasan budaya Yamna dan budaya Tembikar Bertanda Tali,[2] kemudian bertumbuh menjadi budaya Andronovo (k. 1800-800 SM). Masyarakat Indo-Arya lalu berpindah ke Kompleks Arkeologi Baktria–Margiana (k. 2300-1700 SM) dan tersebar hingga ke Levant (Mitanni), India utara (masyarakat Weda, k. 1500 SM), dan Tiongkok (Wusun).[3] Bahasa-bahasa Iran tersebar di seluruh stepa melalui bangsa Skitia, dan ke Iran melalui bangsa-bangsa Media, Partia dan Persia sejak k. 800 SM.[3]

Referensi

  1. ↑ Beckwith 2009, hlm. 30.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 Anthony 2007.
  3. 1 2 3 Beckwith 2009.
  4. ↑ Parpola 2015. sfn error: tanpa target: CITEREFParpola2015 (bantuan)
  5. ↑ Mallory & Adams 1997.
  6. 1 2 Mallory 1999.
  7. ↑ Haak 2015.

Web

  1. ↑ "Anatolian languages". Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 1 Mei 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Baldia, Maximilian O. (2006). "The Corded Ware/Single Grave Culture". Diarsipkan dari asli tanggal 2002-01-31.
  3. ↑ "A massive migration from the steppe brought Indo-European languages to Europe". Max Planck Gesellschaft.
  4. ↑ Ewen Callaway (12 Februari 2015). "European languages linked to migration from the east. Large ancient-DNA study uncovers population that moved westwards 4,500 years ago". Nature.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Sumber

Fonologi
Morfologi
Tata bahasa
Referensi utama
Asal
Komposisi buatan
lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan