Kamis, 01 Oktober 2026
17:23 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Gunung Gede

Gunung Gede

gunung di Indonesia

Bagikan:
Untuk taman nasional, lihat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Untuk layanan kereta api yang pernah beroperasi, lihat Kereta api Argo Gede.
Gunung Gede
Blaauwberg
330px-Mount_Gede_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisi selatan Gunung Gede dilihat dari Kabupaten Sukabumi
Titik tertinggi
Ketinggian2.962 m (9.718 ft)[1]
Puncak401 m (1.316 ft)
Koordinat6°47′S 106°59′E / 6.78°S 106.98°E / -6.78; 106.98[1]
Penamaan
Nama lokalᮌᮥᮔᮥᮀ ᮌᮨᮓᮦ
Geografi
Gunung Gede di Jawa
Gunung Gede
Gunung Gede
Tampilkan peta Jawa
Gunung Gede di Provinsi Jawa Barat
Gunung Gede
Gunung Gede
Gunung Gede (Provinsi Jawa Barat)
Tampilkan peta Provinsi Jawa Barat
DTA / DAS huluDAS Citarum
Geologi
Jenis gunungStratovolcano
Letusan terakhir13 Maret 1957[1]
Pendakian
Pendakian pertama1815 oleh Raffles
Rute termudahCibodas
Rute normalCipanas
Salabintana

Gunung Gede (Aksara Sunda Baku: ᮌᮥᮔᮥᮀ ᮌᮨᮓᮦ, Gunung Gedé, Gunung Gumuruh, bahasa Belanda:Blaauwberg[2]) merupakan sebuah gunung berapi kerucut tipe A yang berada di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini berada di tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bogor, dengan ketinggian 1.000 - 2.962 mdpl, dan terletak pada garis lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Terdapat tiga kawasan urban yang mengelilingi gunung ini yaitu Bogor, Cianjur, dan Sukabumi yang masing-masing terletak di barat laut, timur, dan selatan di mana sekitar 4 juta jiwa menghuni ketiga kawasan urban tersebut.

Gunung ini merupakan Gunung ketiga tertinggi di Jawa Barat setelah Gunung Ceremai dan Gunung Pangrango. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango sekitar 80 km sebelah selatan Jakarta, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.

Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan, yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.

Geologi dan Vulkanologi

Gunung Gede merupakan bagian dari sabuk alpida yang membentang sepanjang wilayah tengah dan selatan Jawa Barat. Gunung ini diperkirakan mulai terbentuk di Zaman Kuarter sekitar 3 juta tahun yang lalu.[3] Saat ini terdapat tujuh kepundan dimiliki oleh Gunung Gede, yaitu Kawah Baru, Gumuruh (2,927 m), Lanang (2,800 m), Leutik, Ratu (2,800 m, terbesar), Sela (2,709 m) and Wadon (2,600 m).

Gunung Gede dan Gunung Pangrango merupakan satu kesatuan komplek vulkanis, dengan Puncak Gede (yang sedikit lebih rendah) berada di sebelah tenggara dari puncak Gunung Pangrango. Kedua gunung ini dihubungkan oleh punggung gunung yang dinamakan Kandang Badak, di mana terdapat juga pos basis kemah disana yang digunakan pendaki dalam perjalanan menuju kedua puncak gunung.

Sejarah Letusan

Letusan 1747

Letusan Gunung Gede pertama kali tercatat di tahun 1747. Letusan pertama ini memiliki skala ledak VEI-3 dan menyebabkan 2 aliran lava bergerak dan terlihat dari kawah lanang. Lalu letusan yang lebih kecil terjadi kembali di tahun 1761, 1780, dan 1832.[4]

Letusan 1840

Pada 2 November 1840, Gunung Gede kembali meletus setelah hampir 100 tahun setelah letusan pertama, letusan tersebut berada pada skala ledak VEI-3 di jam 3 dini hari. Guncangannya terasa sangat hebat sampai membangunkan warga yang tertidur pulas. Letusan kedua tercatat sebagai letusan yang terbesar dan baru benar-benar berhenti pada Maret 1841.[5][6]

Letusan 1853

Letusan di tahun 1853 merupakan letusan besar yang berskala VEI-3, di mana letusan ini memporakporandakan Cianjur yang saat itu berstatus sebagai ibu kota dari Keresidenan Priangan. Sebagai dampak dari letusan ini, pemerintah Hindia Belanda lalu mulai perlahan-lahan memindahkan pusat pemerintahan ke Bandung, di mana Bandung di tahun 1864 secara resmi menjadi ibu kota karesidenan di bawah Residen van der Moor.[7][8]

Letusan 1957

Pada tahun 1900an, Gunung Gede kembali terjadi letusan-letusan kecil sebanyak 24 kali, di mana letusan ini cukup membahayakan untuk warga sekitar yang tinggal berdekatan dengan Gunung Gede. Letusan besar terakhir dari gunung ini tercatat pada tahun 1957 dengan skala ledak VEI-2.

Potensi letusan di masa depan

Jika terjadi letusan kembali di gunung ini, maka daerah kaki gunung sebelah utara seperti Cipanas dan Pacet diperkirakan akan terkena dampak terbesar. Banyaknya populasi di dekat kaki Gunung Gede yang dihuni oleh sekitar 4 juta penduduk, dapat berpotensi menimbulkan kerusakan parah jika benar-benar terjadi letusan besar.[9]

Rute Pendakian

Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari jalur Cibodas dan Cipanas (Gunung Putri) di utara serta jalur Salabintana di arah selatan yang tidak begitu banyak dilalui pendaki. Untuk mencapai lokasi pintu masuk Taman Nasional Gede Pangrango bisa ditempuh melalui rute Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 80 km) menggunakan mobil, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89 km), dan Bogor-Sukabumi-Salabintana dengan waktu 2 jam (62 km).

Sejarah Pendakian

Gunung Gede mempunyai keadaan alam yang khas dan unik, hal ini menjadikan Gunung Gede sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.

Tercatat pada Februari 1815, Gubernur Jenderal Stamford Raffles berhasil mencapai puncak Gunung Gede,[10] lalu di tahun 1819, Caspar Reinwardt tercatat sebagai orang Belanda pertama yang mencapai puncak Gunung Gede, kemudian disusul oleh Franz Junghuhn (1839-1861), Johannes Teijsmann (1839), Alfred Wallace (1861), Sijfert Koorders (1890), Melchior Treub (1891), Willem van Leeuwen (1911); dan Cornelis van Steenis (1920-1952) yang telah membuat koleksi tumbuhan dari gunung ini sebagai sumber dasar penyusunan buku The Mountain Flora of Java yang diterbitkan tahun 1972.[11]

Iklim

Suhu rata-rata di puncak gunung Gede adalah 13 °C di siang hari dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, Pada musim kemarau suhunya bisa mencapai -1 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 - 4.000 mm/tahun.[12]

Hidrologi DAS

Kompleks gunung Gede merupakan daerah tangkapan air hujan, menyerap dan melepaskannya secara bertahap ke banyak anak sungai dan sumber mata air di sekitarnya. Kawasan tersebut menjadi penunjang sumber air tanah bagi wilayah Cianjur, dan Sukabumi. Gunung Gede juga merupakan bagian dari Taman Nasional Gede-Pangrango dengan hutan hujan tropis pegunungan yang memiliki fungsi penting dalam siklus hidrologi. Selain itu, hutan juga memiliki fungsi ekologis seperti penyedia oksigen, penyerap karbon dioksida, dan pelestarian keanekaragaman hayati.[13]

Gunung Gede menjadi pembatas antara DAS Citarum di sebelah timur dengan DAS Cimandiri di sebelah selatan.[14]

DAS Citarum (lereng timur)

  • melalui sub-DAS Cikundul, alirannya masuk ke wilayah Cipanas dan bermuara di waduk Cirata melalui sungai Cikundul.
  • melalui sub-DAS Cisokan, alirannya masuk ke wilayah Cianjur, bermuara di waduk Cirata melalui sungai Cisokan.

DAS Cimandiri (lereng selatan)

Flora dan Fauna

Gunung Gede juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari formasi-formasi hutan submontana, montana, subalpin; serta ekosistem danau, rawa, dan sabana.

Gunung Gede terkenal kaya akan berbagai jenis burung penghuninya yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis burung yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis di antaranya merupakan burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan celepuk jawa (Otus angelinae).

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977,[15] dan sebagai Sister Park (taman saudari) dengan Hutan Rekreasi Alam Yumyeongsan di Korea Selatan di tahun 2007.[16]

Objek Pariwisata

Gunung Gede sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Gede Pangrango juga menyajikan objek-objek wisata alam yang menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun internasional.

Beberapa lokasi/objek yang menarik untuk dikunjungi

  • Telaga Biru. Danau kecil berukuran lima hektare (1.575 meter dpl.) terletak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.
  • Air terjun Cibereum (I). Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter terletak sekitar 2,8 km dari Cibodas. Di sekitar air terjun tersebut pengunjung dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di daerah Jawa Barat.
  • Air terjun Cibereum (II). Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 60 meter dan terletak sekitar 2,5 km dari Perbawati, Sukabumi. Terletak di antara jalur pendakian via Salabintana.
  • Sumber Air Panas Cibodas. Terletak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas, berada di jalur pendakian via Cibodas.
  • Kandang Batu dan Kandang Badak. Tempat singgah untuk kegiatan berkemah dan pengamatan flora/fauna. Berada di ketinggian 2.220 mdpl dengan jarak 7,8 km atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.
  • Puncak dan Kepundan Gunung Gede. Panorama berupa pemandangan matahari saat terbenam/terbit, hamparan Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas ketika cuaca cerah, dengan atraksi geologi yang menarik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kepundan. Di puncak ini terdapat tiga kepundan yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu, dan Wadon. Puncak Gunung Gede berada pada ketinggian 2.962 mdpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.
  • Alun-Alun Suryakencana. Dataran lembah seluas 50 hektare yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 mdpl dengan jarak 11,8 km atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.

Legenda Rakyat

Sejarah dan legenda yang dipercayai oleh masyarakat setempat terutama Cianjur yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakancana. Suryakancana adalah putra dari Dalem Cikundul atau Raden Aria Wira Tanu I, pendiri dan bupati pertama dari Cianjur, di mana Suryakencana adalah hasil dari pernikahannya dengan putri jin. Masyarakat percaya bahwa Eyang Suryakencana yang notabenenya adalah bangsa jin, masih bermukim di sekitar Gunung Gede, dan menjadi penguasa bangsa jin di gunung tersebut. Pada saat tertentu, banyak orang khususnya penganut agama Sunda Wiwitan masuk ke goa-goa di sekitar Gunung Gede untuk semadi, bertapa maupun melakukan upacara religius.

Galeri

  • Litografi karya Junghuhn tahun 1856
    Litografi karya Junghuhn tahun 1856
  • Litografi karya A. J. Bik tahun 1828
    Litografi karya A. J. Bik tahun 1828
  • Tampilan drone dari arah selatan
    Tampilan drone dari arah selatan
  • Kepundan aktif Gunung Gede (kiri) dari arah Megamendung
    Kepundan aktif Gunung Gede (kiri) dari arah Megamendung
  • Puncak Gunung Gede dilihat dari Alun-Alun Suryakencana
    Puncak Gunung Gede dilihat dari Alun-Alun Suryakencana
  • Kepundan Gunung Gede terlihat yang diapit dari belakang Gunung Pangrango dilihat dari arah Villa Cisarua
    Kepundan Gunung Gede terlihat yang diapit dari belakang Gunung Pangrango dilihat dari arah Villa Cisarua
  • Sisi barat Gunung Gede (kanan) dan Gunung Pangrango (kiri) dari Cicurug, Sukabumi
    Sisi barat Gunung Gede (kanan) dan Gunung Pangrango (kiri) dari Cicurug, Sukabumi
  • Tanda larangan merusak atau memetik edelweiss di Suryakencana
    Tanda larangan merusak atau memetik edelweiss di Suryakencana
  • Kepundan Gunung Gede dilihat dari jalan pendakian rute Cibodas
    Kepundan Gunung Gede dilihat dari jalan pendakian rute Cibodas
  • Gunung Gede (kiri) dan Gunung Pangrango (kanan) dari basis kemah pendakian Cibodas
    Gunung Gede (kiri) dan Gunung Pangrango (kanan) dari basis kemah pendakian Cibodas
  • Peta relief dari Gunung Pangrango (kiri) dan Gunung Gede (kanan)
    Peta relief dari Gunung Pangrango (kiri) dan Gunung Gede (kanan)
  • Gunung Pangrango dan Gede dilihat dari Lereng Gunung Salak
    Gunung Pangrango dan Gede dilihat dari Lereng Gunung Salak
  • Pemandangan dari Karangtengah, Cibadak, Sukabumi
    Pemandangan dari Karangtengah, Cibadak, Sukabumi

Lihat pula

Rujukan

  1. 1 2 3 "Gede". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-05-03. Diakses tanggal 2006-12-19.
  2. ↑ de Wilde, A. (2023). Priangan. Bandung: Dunia Pustaka Jaya. hlm. 15. ISBN 9786232218840.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Rudianto 2020, hlm. 3.
  4. ↑ Sastha, Harley Bayu (2007). Mountain climbing for everybody: panduan mendaki gunung. Hikmah. ISBN 978-979-1141-47-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-30. Diakses tanggal 2023-07-30.
  5. ↑ Imran, Dede. "Pertama Meletus 1747, Berikut Sejarah Aktivitas Vulkanik Gunung Gede - Sukabumi Update". Pertama Meletus 1747, Berikut Sejarah Aktivitas Vulkanik Gunung Gede - Sukabumi Update. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-30. Diakses tanggal 2023-07-30.
  6. ↑ "Gede-Pangrango". www.volcanodiscovery.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-06-09. Diakses tanggal 2023-07-30.
  7. ↑ Patria, Teguh Amor (2014). Telusur Bandung. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 10. ISBN 978-602-02-3198-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-10. Diakses tanggal 2022-04-17.
  8. ↑ Caturwati, Endang (2000). R. Tjetje Somantri, 1892-1963: Tokoh Pembaharu Tari Sunda. Tarawang. hlm. 27.
  9. ↑ Tri Yogatama, Author (2012). "Risiko bencana letusan Gunung Gede di kecamatan Cipanas = Disaster of risk eruption of Mt. Gede in Cipanas district". Universitas Indonesia Library (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-02. Diakses tanggal 2023-07-30.{{cite web}}: |first= memiliki nama generik
  10. ↑ Glendinning, Victoria (2012-11-01). Raffles: And the Golden Opportunity (dalam bahasa Inggris). Profile. ISBN 978-1-84765-824-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-27. Diakses tanggal 2023-07-27.
  11. ↑ Steenis, Cornelis Gijsbert Gerrit Jan (2006). The Mountain Flora of Java (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-15347-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-30. Diakses tanggal 2023-07-30.
  12. ↑ "Gunung Gede: Sejarah Letusan dan Kondisi Terkini". Diakses tanggal 2025-09-27.
  13. ↑ Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (2018). Wiharisno, J., dan Mahyar, A. (ed.). "Ayo ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango" (PDF). Sistem Informasi Manajemen Daerah Penyangga Kawasan Konservasi dan Kemitraan Konservasi. hlm. 10. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-06-27. Diakses tanggal 2023-06-20.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link)
  14. ↑ "Peta Interaktif SIGAP Kementerian LHK". Geoportal MenLHK. Diakses tanggal 2025-07-13.
  15. ↑ S.Pd, Eko Titis Prasongko (2020-03-26). Gunung Berapi di Indonesia. Alprin. ISBN 978-623-263-084-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-30. Diakses tanggal 2023-07-30.
  16. ↑ antaranews.com (2007-07-02). "Menhut RI Peroleh Penganugerahan Gelar Honoris Causa Bidang Kehutanan dari Kangwon National Universi". Antara News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-30. Diakses tanggal 2023-07-30.

Daftar pustaka

Pranala luar

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Bengkulu
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Lampung
Kepulauan
Bangka Belitung
Jakarta
tidak ada
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Bali
NTB
NTT
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan