| Gunung Halau-halau | |
|---|---|
| Titik tertinggi | |
| Ketinggian | 1.901 m (6.313 kaki) |
| Geografi | |
![]() | |
| Letak | Kalimantan Selatan, Indonesia |
| Pegunungan | Pegunungan Meratus |
| Geologi | |
| Jenis gunung | Bukan gunung api (non vulkanik) |
Gunung Halau-Halau, yang juga dikenal sebagai Gunung Besar, adalah sebuah gunung yang terletak di perbatasan tiga kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Tanah Bumbu.[1]
Geografi
Gunung Halau-Halau merupakan puncak tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Gunung ini merupakan bagian dari Pegunungan Meratus yang membentang di wilayah Kalimantan Selatan. Kawasan tersebut memiliki bentang alam yang meliputi perbukitan, hutan tropis, lembah, dan aliran sungai. Dengan ketinggian sekitar 1.901 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Halau-Halau menjadi salah satu tujuan pendakian di kawasan Pegunungan Meratus.[2]
Jalur Pendakian
Salah satu jalur pendakian Gunung Halau-Halau dimulai dari Desa Kiyu, Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jalur ini melewati sejumlah pos pendakian, di antaranya Peniti Ranggang, Sungai Karuh, Jumantir, dan Penyaungan sebelum mencapai puncak. Jalur pendakian lainnya melalui kawasan Kadayang di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kondisi jalur bervariasi, mulai dari jalan menanjak, turunan, penyeberangan sungai, hingga medan tanah dan akar pohon yang dapat menjadi licin ketika hujan.[3]
Waktu yang diperlukan untuk mencapai puncaknya bervariasi, bergantung pada kondisi fisik pendaki, jalur yang ditempuh, serta kecepatan perjalanan. Pendakian dapat memerlukan waktu sekitar enam hari lima malam dengan tempo perjalanan santai atau tiga hari dua malam dengan tempo perjalanan yang lebih cepat.[4]
Bentang alam dan keanekaragaman hayati
Gunung Halau-Halau merupakan bagian dari ekosistem hutan Pegunungan Meratus yang memiliki beragam vegetasi dan menjadi habitat bagi flora dan fauna hutan tropis. Kawasan ini juga memiliki bentang alam berupa hutan lebat dan pemandangan hamparan awan yang dapat terlihat dari area puncak.[5]
Salah satu objek alam yang dikenal di jalur pendakian Gunung Halau-Halau adalah pohon kariwaya. Pohon ini memiliki batang dan akar berukuran besar yang membentuk struktur menyerupai gerbang menuju puncak gunung.[6]
Nilai budaya
Gunung Halau-Halau memiliki nilai budaya bagi masyarakat Dayak Meratus. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, gunung ini dianggap sebagai tempat yang sakral. Sebagian masyarakat meyakini bahwa arwah orang yang telah meninggal berkumpul di gunung tersebut. Kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi dan pandangan spiritual masyarakat setempat.[7]
Pohon kariwaya juga memiliki makna dalam kepercayaan lokal. Keberadaan pohon tersebut dikaitkan dengan kepercayaan terhadap makhluk gaib. Sejumlah pantangan adat, seperti menjaga perilaku, tidak berkata kasar, dan menjaga kelestarian hutan, turut menjadi bagian dari aturan yang dihormati ketika memasuki kawasan tersebut.[8]
Lihat pula
Referensi
- ↑ "Gunung Halau-Halau: 1.901 mdpl, Jalur & Panduan Pendakian". Gunung Indonesia. Diakses tanggal 2026-10-21.
- ↑ "Gunung Halau Halau: Menaklukkan Atap Kalimantan Selatan di Jantung Meratus". Traveloka. Diakses tanggal 2026-10-21.
- ↑ "Jalur Pendakian Halau-Halau (Meratus) via Kadayang". muncak.id. Diakses tanggal 2026-10-21.
- ↑ "Tak Bisa Mendaki Gunung Halau-Halau, Ini Penyebab dan Waktu Penutupannya". Rada Banjarmasin. Diakses tanggal 19 Mei 2024.
- ↑ "Membentang Sepanjang 600 Kilometer, Intip 3 Hal Menarik dari Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan Ini". Kementerian Pariwisata. 2024-12-22. Diakses tanggal 2026-10-21.
- ↑ udin, khair (2015-08-15). "Gunung halau-halau gunung tertinggi kalimantan selatan". Good News from Indonesia. Diakses tanggal 2026-10-21.
- ↑ "Hayak Bamara: Jurnal Pengabdian Masyarakat". ppis.ulm.ac.id. Diakses tanggal 2026-10-21.
- ↑ Setyaningrum, Puspasari (2023-07-04). "Gunung Halau-halau, Puncak Tertinggi di Kalimantan Selatan yang Memiliki Pohon Keramat". Kompas. Diakses tanggal 2026-10-21.
Artikel bertopik gunung di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |

