Minggu, 20 September 2026
21:31 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Daluang

Daluang

spesies tumbuhan

Daluang
250px-Murier.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Daun Daluang
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Rosales
Famili: Moraceae
Genus: Broussonetia
Spesies:
B. papyrifera
Nama binomial
Broussonetia papyrifera
Sinonim
  • Broussonetia elegans (K.Koch)[2]
  • Morus papyrifera (L.)
  • Papyrius papyrifera (L., Kuntze)

Daluang atau jeluang adalah sebutan untuk tumbuhan Broussonetia papyrifera maupun produknya, yang berupa lembaran dari pepagan (kulit kayu) yang dipakai sebagai bahan untuk berbagai keperluan. Pepagan daluang yang diawetkan dipakai di Jawa, di Kalimantan, serta di Polinesia sebagai semacam kulit: untuk bahan pakaian, pelapis, serta bahan tas. Penggunaan untuk busana juga ditemukan di Polinesia. Kertas yang dibuat dari kulit kayu ini digunakan sebagai pengganti media tulis dan gambar di Jawa dan beberapa pulau lain. Banyak naskah kuna Nusantara menggunakan daluang (disebut sebagai "kertas Ponoragan" atau javaansche van Panaragan papier)[3] sebagai media penulisannya di saat kertas modern belum diperkenalkan. Kertas daluang yang diperkeras dipakai dalam wayang beber sebagai media untuk menggambar.

Sejak 2014, kertas daluang maupun pakaian kulit kayu daluang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang disahkan pada tanggal 8 Oktober 2014 dengan SK Mendikbud Nomor 270/P/2014[4][5]

Tumbuhan penghasil

250px-Broussonetia_papyrifera_fruits.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buah Broussonetia papyrifera

Broussonetia papyrifera Vert., syn. Morus papyrifera L. adalah jenis tumbuhan berbunga anggota suku ara-araan atau Moraceae; masih satu kelompok dengan beringin, bodhi, loa, serta murbei (mulberry, sehingga dalam bahasa Inggris juga disebut sebagai paper mulberry). Asal alaminya dari Asia daratan,[6] mencakup Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea, Indochina, Burma, dan India.[7] Karena pemanfaatannya, tumbuhan ini telah dibudidaya ke berbagai tempat, seperti Asia Tenggara maritim (Nusantara), Polinesia, dan belakangan juga ditanam di sebagian Eropa, Amerika Utara[7] dan Afrika[8] yang iklimnya mendukung. Daluang dikenal dengan beberapa nama di Indonesia: saéh (Sunda), sepukau, dlubang (Madura), kembala (Sumba) dan malak (Seram).[9][10]. Dalam tapa cloth tree ("pohon pakaian tapa", tapa adalah nama dalam bahasa Hawaii).

Bahan pakaian daluang

Dari kulit kayu pohon yang sama dapat dibuat juga pakaian kulit kayu yang dikenakan sejumlah kelompok etnik Austronesia (misalnya masyarakat Dayak dan Polinesia). Di Polinesia bahan pakaian ini disebut kain tapa.

Di Jawa, para pendita di masa Kerajaan Medang (Mataram Hindu) mengenakan busana dari kulit kayu daluang[butuh rujukan].

Kertas daluang

Kertas daluwang (dalam bahasa Jawa, kata dluwang pernah menjadi padanan untuk kertas) adalah kertas yang dibuat dari serat-serat tanaman yang memiliki tekstur kasar. Kertas ini digunakan oleh masyarakat di Indonesia khususnya di pulau Jawa telah ada sejak abad ke-19 di Ponorogo yang kemudian berkembang pesat pada periode sejarah Islam, sebagai pengganti kertas lontar yang dulu digunakan sebagai media tulis. Kertas daluang ponoragan telah dipakai untuk menulis naskah kuno kerajaan nusantara, menulis Al-Quran di pesantren,[11] dan bahan baku wayang. Peneliti Belanda, K Heyne dalam bukunya Tumbuhan Berguna Indonesia menyatakan bahwa kulit pohon daluang juga berguna sebagai pakaian.[12]

Di Indonesia khususnya di Jawa pernah dikenal Kertas Jawa atau Kertas Dluwang/Daluwang, kertas ini, kini berkonotasi sebagai kertas daur ulang . Pada masa lalu, kertas dluwang ini digunakan sebagai media tulis menulis selain menggunakan Kertas Lontar, selain itu, kertas yang kemudian dikenal sekarang, pada masa itu diimpor baik dari Cina, Arab maupun Eropa melalui perantara para pedagang baik pedagang Belanda, Eropa, Arab dan Cina yang mengunjungi Nusantara.

Pada tahun 1950-an, daluang menjadi komoditas utama Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo sebagai bahan baku pembuatan kertas gedog yang telah ada sejak pondok Tegalsari berdiri pada era Kolonial. Kertas tersebut dijual kepada seseorang yang kemudian membawanya ke Belanda. Kertas ini dikabarkan digunakan untuk membuat uang kertas di sana.[12]


Referensi

  1. Shao, Q.; Zhao, L.; Botanic Gardens Conservation International (BGCI) & IUCN SSC Global Tree Specialist Group (2019). "Broussonetia papyrifera". IUCN Red List of Threatened Species. 2019 e.T49834580A147629611. Diakses tanggal 30 Agustus 2022.{{cite iucn}}: uses deprecated |page= identifier (help)
  2. K. Koch Dendrologie 2(2): 440 1873
  3. http://digilib.uinsby.ac.id/2472/5/Bab%202.pdf.{{cite journal}}: |title= tidak ada atau kosong; Kutipan journal memerlukan |journal=
  4. "Salinan SK Mendikbud no. 270/P/2014 tentang Warisan Budaya Takbenda" (PDF). 16 Oktober 2014. Diakses tanggal 23 Juni 2020.
  5. Anonim (27 September 2019). "Mengenal Nenek Moyang Kertas di Indonesia". indonesia.go.id. Diakses tanggal 24 Juni 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. Broussonetia papyrifera. Flora of North America.
  7. 1 2 "Broussonetia papyrifera (paper mulberry)". Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 1 Oktober 2017.
  8. "Daluang". Germplasm Resources Information Network (GRIN) online database. Diakses tanggal 17 Desember 2017.
  9. Pringgodigdo, Prof Mr Ag (1 Januari 1991). Ensiklopedi Umum. Kanisius. ISBN 978-979-413-522-8.[pranala nonaktif permanen]
  10. Pudjiastuti, Titik (2011). "Manuscripts and cultural identity". Wacana (dalam bahasa Inggris). 13 (1): 185–195. doi:10.17510/wacana.v13i1.815. ISSN 2407-6899. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Februari 2022. Diakses tanggal 7 Mei 2020.
  11. https://nasional.tempo.co/read/86858/ditemukan-al-quran-dan-buku-jawa-kuno.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  12. 1 2 Daluang, Awal Bahan Baku Kertas Nusantara. KOMPAS. Rabu, 24 Juli 2013. Hal 24.

Lihat pula

Broussonetia papyrifera
Morus papyrifera
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan