Senin, 21 September 2026
04:59 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Digoksin

Digoksin

senyawa kimia

60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Artikel ini bukan mengenai Dioksin atau Digitoksin.
Digoksin
330px-Digoxin.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
330px-Digon_ball-and-stick.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Data klinis
Pengucapan/dɪˈɒksɪn/[1]
Nama dagangFargoxin, Lanoxin, lainnya
AHFS/Drugs.commonograph
MedlinePlusa682301
Kategori
kehamilan
Rute
pemberian
melalui mulut, intravena
Kode ATC
Status hukum
Status hukum
Data farmakokinetika
Bioavailabilitas60 hingga 80% (melalui mulut)
Pengikatan protein25%
Metabolismehati (16%)
Waktu paruh eliminasi36 hingga 48 jam
(fungsi ginjal normal)
3,5 hingga 5 hari
(fungsi ginjal terganggu)
Ekskresiginjal
Pengenal
  • 4-[(3S,5R,8R,9S,10S,12R,13S,14S)-3-[(2S,4S,5R,6R)-5-[(2S,4S,5R,6R)-5-[(2S,4S,5R,6R)-4,5-dihidroksi-6-metil-oksan-2-il]oksi-4-hidroksi-6-metil-oksan-2-il]oksi-4-hidroksi-6-metil-oksan-2-il]oksi-12,14-dihidroksi-10,13-dimetil-1,2,3,4,5,6,7,8,9,11,12,15,16,17-tetradekahidrosiklopenta[a]fenantren-17-il]-5H-furan-2-ona
Nomor CAS
PubChem CID
IUPHAR/BPS
DrugBank
ChemSpider
UNII
KEGG
ChEBI
ChEMBL
CompTox Dashboard (EPA)
ECHA InfoCard100.040.047 Sunting di Wikidata
Data sifat kimia dan fisik
RumusC41H64O14
Massa molar780,95 g·mol−1
Model 3D (JSmol)
Titik leleh2.493 °C (4.519 °F)
Kelarutan dalam air0,0648 mg/mL (20 °C)
  • O=C\1OC/C(=C/1)[C@H]2CC[C@@]8(O)[C@]2(C)[C@H](O)C[C@H]7[C@H]8CC[C@H]6[C@]7(C)CC[C@H](O[C@@H]5O[C@H](C)[C@@H](O[C@@H]4O[C@@H]([C@@H](O[C@@H]3O[C@@H]([C@@H](O)[C@@H](O)C3)C)[C@@H](O)C4)C)[C@@H](O)C5)C6
  • InChI=1S/C41H64O14/c1-19-36(47)28(42)15-34(50-19)54-38-21(3)52-35(17-30(38)44)55-37-20(2)51-33(16-29(37)43)53-24-8-10-39(4)23(13-24)6-7-26-27(39)14-31(45)40(5)25(9-11-41(26,40)48)22-12-32(46)49-18-22/h12,19-21,23-31,33-38,42-45,47-48H,6-11,13-18H2,1-5H3/t19-,20-,21-,23-,24+,25-,26-,27+,28+,29+,30+,31-,33+,34+,35+,36-,37-,38-,39+,40+,41+/m1/s1 checkY
  • Key:LTMHDMANZUZIPE-PUGKRICDSA-N checkY
  (verify)

Digoksin, dijual di bawah nama merek Lanoxin di antara nama lainnya, adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi jantung. Obat ini paling sering digunakan untuk fibrilasi atrium, geletar atrium, dan gagal jantung. Digoksin dikonsumsi melalui mulut atau diinjeksikan ke dalam vena.[2]

Efek samping umum dari penggunaan obat ini adalah pembesaran payudara (ginekomastia) dan efek samping lain yang terjadi pada dosis berlebihan.[2][3] Efek samping ini dapat termasuk hilang nafsu makan, mual, kesulitan melihat, bingung, dan detak jantung takberaturan.[3] Perhatian lebih besar diperlukan pada lansia dan pada orang dengan fungsi ginjal buruk.[3] Tidak jelas apakah ketika hamil aman digunakan.[4] Digoksin termasuk ke dalam famili obat glikosida jantung.[2]

Digoksin pertama kali diisolasi pada 1930 dari tumbuhan Digitalis lanata.[5][6] Obat ini termasuk ke dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia, memuat obat paling efektif dan aman yang dibutuhkan dalam sistem kesehatan.[7] Harga grosir obat ini di negara berkembang sekitar AS$0,21 hingga $6,60 sebulan.[8] Di Amerika Serikat, obat ini pada umumnya berharga kurang dari $25 per bulan, per 2015.[9] Pada 2016, obat ini merupakan obat ke-145 paling banyak diresepkan di Amerika Serikat dengan lebih dari 4 juta resep obat.[10]

Penggunaan medis

Detak jantung takberaturan

Indikasi paling umum dari digoksin adalah fibrilasi atrium dan geletar atrium dengan respons ventrikel cepat.[11][12]

Terdapat bukti sementara bahwa digoksin dapat meningkatkan risiko kematian,[13] walaupun metaanalisis lain pada 2015 melaporkan tidak ada perubahan pada mortalitas.[14]

Gagal jantung

Digoksin tidak lagi menjadi pilihan pertama untuk gagal jantung; obat ini tidak lagi disetujui untuk penderita gagal jantung karena dapat meningkatkan risiko kematian.[13] Saat ini, pengobatan yang direkomendasikan untuk gagal jantung adalah terapi rangkap tiga berupa inhibitor ACE, penyekat beta, dan antagonis mineralokortikoid. Digoksin merupakan terapi baris ketiga.[15]

Aborsi

Digoksin juga digunakan secara intrafetal atau amniotik ketika aborsi pada akhir trimester kedua dan trimester ketiga kehamilan. Obat ini biasanya menyebabkan kematian janin (diukur dengan berhentinya aktivitas jantung) dalam beberapa jam setelah pemberian obat.[16]

Efek samping

Informasi lebih lanjut: Keracunan digoksin

Kejadian reaksi obat menyimpang umum terjadi karena sempitnya indeks terapeutik (margin antara efektivitas dan toksisitas obat). Ginekomastia (pembesaran jaringan payudara) disebutkan di banyak buku teks sebagai efek samping, diperkirakan sebagai akibat moietas steroid serupa estrogen dari molekul digoksin,[17] tetapi ketika pencarian secara sistematis dilakukan, bukti perkiraan tersebut diragukan per 2005.[18] Gabungan peningkatan aritmogenesis (atrium) dan inhibisi konduksi atrioventrikel (AV) (sebagai contoh takikardia atrium paroksismal dengan sekatan AV – disebut "PAT dengan sekatan") dikatakan patognomonik (yaitu, diagnostik) dari toksisitas digoksin.[19]

Overdosis

Pada kasus overdosis dibutuhkan penilaian pendukung biasa. Jika aritmia terbukti mengganggu, atau terjadi hiperkalemia parah (peningkatan kadar kalium tidak dapat dihindarkan akibat paralisis pada pompa Na/K bergantung ATPase terikat membran sel), akan diberikan antidot khusus, yaitu antidigoksin (fragmen antibodi yang melawan digoksin, dengan nama merek Digibind dan Digifab).[per 2004][20]

Lihat juga

Referensi

  1. "digoxin". Lexico.com. Oxford University Presc. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-10-27. Diakses tanggal 18 Juli 2019.
  2. 1 2 3 "Digoxin". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Desember 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2016.
  3. 1 2 3 WHO Model Formulary 2008 (PDF). World Health Organization. 2009. hlm. 270. ISBN 9789241547659. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. "Digoxin Use During Pregnancy | Drugs.com". www.drugs.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Desember 2016. Diakses tanggal 14 Desember 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. Cartwright, Anthony C. (2016). The British Pharmacopoeia, 1864 to 2014: Medicines, International Standards and the State (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 183. ISBN 9781317039792. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-09-08.
  6. Hollman, A. (6 April 1996). "Drugs for atrial fibrillation. Digoxin comes from Digitalis lanata". BMJ (Clinical Research Edition). 312 (7035): 912. doi:10.1136/bmj.312.7035.912. PMC 2350584. PMID 8611904.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. "Digoxin". International Drug Price Indicator Guide. Diakses tanggal 8 Desember 2016.
  9. Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. hlm. X. ISBN 9781284057560.
  10. "The Top 300 of 2019". clincalc.com. Diakses tanggal 22 Desember 2018.
  11. Sticherling, C.; Oral, H.; Horrocks, J.; et al. (November 2000). "Effects of digoxin on acute, atrial fibrillation-induced changes in atrial refractoriness". Circulation. 102 (20): 2503–2508. doi:10.1161/01.CIR.102.20.2503. PMID 11076824.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. Hallberg, P.; Lindbäck, J.; Lindahl, B.; Stenestrand, U.; Melhus, H. (Oktober 2007). "Digoxin and mortality in atrial fibrillation: a prospective cohort study". European Journal of Clinical Pharmacology. 63 (10): 959–971. doi:10.1007/s00228-007-0346-9. PMID 17684738.
  13. 1 2 Vamos, M.; Erath, J. W.; Hohnloser, SH (4 Mei 2015). "Digoxin-associated mortality: a systematic review and meta-analysis of the literature". European Heart Journal. 36 (28): 1831–1838. doi:10.1093/eurheartj/ehv143. PMID 25939649.
  14. Ziff, Oliver J.; Lane, Deirdre A.; Samra, Monica; Griffith, Michael; Kirchhof, Paulus; Lip, Gregory Y. H.; Steeds, Richard P.; Townend, Jonathan; Kotecha, Dipak (30 Agustus 2015). "Safety and efficacy of digoxin: systematic review and meta-analysis of observational and controlled trial data". BMJ. 351: h4451. doi:10.1136/bmj.h4451. PMC 4553205. PMID 26321114.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  15. Ezekowitz, Justin A.; O'Meara, Eileen; McDonald, Michael A.; Abrams, Howard; Chan, Michael; Ducharme, Anique; Giannetti, Nadia; Grzeslo, Adam; Hamilton, Peter G. (2017). "2017 Comprehensive Update of the Canadian Cardiovascular Society Guidelines for the Management of Heart Failure". Canadian Journal of Cardiology. 33 (11): 1342–1433. doi:10.1016/j.cjca.2017.08.022. PMID 29111106.
  16. Paul, Maureen; Lichtenberg, Steve; Borgatta, Lynn; Grimes, David A.; Stubblefield, Phillip G.; Creinin, Mitchell D. (24 Agustus 2011). Management of Unintended and Abnormal Pregnancy: Comprehensive Abortion Care (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 9781444358476. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-09-08.
  17. Moscovitz, T.; Aldrighi, J. M.; Abrahanshon, P. A.; et al. (April 2005). "Repercussions of digoxin, digitoxin and estradiol on the endometrial histomorphometry of oophorectomized mice". Gynecology and Endocrinology. 20 (4): 213–220. doi:10.1080/09513590400021219. PMID 16019364.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. Thompson, D. F.; Carter, J. R. (1993). "Drug-induced gynecomastia". Pharmacotherapy. 13 (1): 37–45. doi:10.1002/j.1875-9114.1993.tb02688.xtidak aktif 2019-06-07. PMID 8094898.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juni 2019 (link)
  19. Doering, W.; König, E.; Sturm, W. (1977). "(title in German)" [Digitalis intoxication: specificity and significance of cardiac and extracardiac symptoms. Part I: Patients with Digitalis-induced arrhythmias]. Zeitschrift für Kardiologie (dalam bahasa German). 66 (3): 121–128. PMID 857452.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  20. Flanagan, R. J.; Jones, A. L. (2004). "Fab Antibody Fragments: Some Applications in Clinical Toxicology". Drug Safety. 27 (14): 1115–1133. doi:10.2165/00002018-200427140-00004. PMID 15554746. Diakses tanggal 2019-07-19.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan