Minggu, 20 September 2026
15:45 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Chagatai Khan

Chagatai Khan

Chagatai Khan
Patung pria berjubah sedang duduk
Patung Chagatai Khan di Mongolia
Khan Kekhanan Chagatai
Berkuasa1227 – 1242
PenerusQara Hülëgü
Lahirca1184
Meninggal1242
AyahJenghis Khan
IbuBörte
Permaisuri
  • Yesülün
  • Tögen
  • lain-lain
Keturunan
WangsaBorjigin

Chagatai Khan (ᠴᠠᠭᠠᠲᠠᠶ;[a] ca1184 – 1242) adalah putra Jenghis Khan, tokoh penting pada masa awal Kekaisaran Mongol, serta khan pertama Kekhanan Chagatai. Sebagai putra kedua dari istri Jenghis Börte, Chagatai dikenal berkat pengetahuan mendalamnya terhadap hukum dan adat Mongol, yang sangat ia patuhi, dan temperamennya yang keras. Karena Jenghis merasa bahwa Chagatai terlalu kaku, terutama karena Chagatai tidak pernah mengakui keabsahan status kakaknya, Jochi, Jenghis pun mencoret Chagatai dari garis suksesi takhta Mongol. Walaupun begitu, Chagatai merupakan tokoh kunci dalam mewujudkan stabilitas di kekaisaran pasca kematian Jenghis dan selama masa pemerintahan dari adiknya Ögedei Khan.

Chagatai memegang komando militer bersama para saudaranya selama penaklukan dinasti Jin oleh Mongol pada tahun 1211 dan invasi Kekaisaran Khwarazmia pada tahun 1219. Selama invasi Kekaisaran Khwarazmia, Chagatai ditunjuk untuk memegang peran penting dalam mengatur logistik, selain tetap bertanggung jawab di medan tempur. Namun, Chagatai kemudian dikecam setelah berselisih dengan Jochi selama Pengepungan Gurganj. Setelah kampanye tersebut, Chagatai mendapatkan wilayah taklukan yang luas di Asia Tengah, yang ia pimpin hingga meninggal. Ia kemudian berselisih dengan para pejabat sipil seperti Mahmud Yalavach mengenai masalah yurisdiksi dan menasihati Ögedei terkait tata kelola pemerintahan. Chagatai meninggal tidak lama setelah Ögedei meninggal pada tahun 1242. Keturunannya kemudian memerintah wilayah tersebut sebagai Kekhanan Chagatai, yang dinamai menurut namanya.

Kehidupan awal dan kepribadian

Ibu dari Chagatai, Börte, lahir pada suku Onggirat, yang tinggal di sepanjang pegunungan Khingan Raya di selatan Sungai Ergüne, yang kini berada di Mongolia Dalam.[2] Börte kemudian menikahi pemimpin Mongol[b] bernama Temüjin ca1178 setelah bertunangan selama tujuh tahun.[4] Setelah melahirkan seorang putri bernama Qojin, Börte diculik dan dirudapaksa oleh anggota dari suku Merkit—ayah kandung dari anak berikutnya, seorang putra bernama Jochi, pun tidak pernah diketahui, meskipun Temüjin mengakuinya sebagai putra yang sah.[5] Chagatai, yang lahir pada akhir tahun 1183 atau 1184, dengan demikian menjadi putra pertama yang dipastikan sebagai anak kandung Temüjin.[6] Chagatai memiliki enam adik kandung, yakni dua adik laki-laki bernama Ögedei dan Tolui, serta empat adik perempuan bernama Checheyigen, Alaqa, Tümelün, dan Al Altan.[7]

Pada tahun 1206, setelah menyatukan suku-suku Mongolia, Temüjin mengadakan sebuah rapat besar yang disebut sebagai kurultai di mana ia diangkat sebagai "Jenghis Khan".[8] Temüjin kemudian menata kembali bangsa barunya, dengan membaginya ke para anggota dari dinastinya. Chagatai mendapat wilayah di dekat Pegunungan Altai yang sebelumnya dikuasai oleh suku Naiman. Chagatai juga mendapat 4.000 atau 8.000 pengikut yang berasal dari suku Jalayir, Barlas, Suldus, Sonit, dan Dughlat.[9] Dua istri utama dari Chagatai adalah wanita Onggirat bernama Yesülün dan Tögen, putri dari sepupu Börte yang bernama Qata. Yesülün adalah istri yang paling ia sayang dan ibu dari putra yang paling ia sayang Mutukan.[10] Putra-putra Chagatai lainnya yang tercatat namanya meliputi Mochi Yaba, putra dari salah satu pelayan Yesülün, sehingga dipandang sebelah mata oleh Chagatai, serta Balgashi, Sarban, Yesu-Mongke, dan Baidar, yang ibunya tidak diketahui.[11]

Chagatai dikenal berkat keahliannya dalam adat dan hukum Mongol, terutama dalam mematuhi kehendak sang khan.[12] Menurut sejumlah sumber, Jenghis memercayai Chagatai dan saudara angkatnya Shigi Qutuqu untuk mengelola kitab hukum yang dikenal sebagai Yasa.[13] Penulis sejarah abad pertengahan seperti Juzjani pun mencatat ketegasan Chagatai dalam menafsirkan hukum serta wataknya yang keras.[14]

Kampanye militer

Bersama saudaranya, Jochi dan Ögedei, Chagatai memimpin sayap kanan dalam invasi tahun 1211 terhadap dinasti Jin Tiongkok. Pasukan Mongol bergerak ke arah selatan dari markas kampanye Jenghis di wilayah yang kini berada di Mongolia Dalam pada bulan November 1211. Awalnya mereka menyerang kota-kota di wilayah antara Hohhot dan Datong. Mereka kemudian menyusuri Pegunungan Taihang untuk menuju ke Shanxi, yang mereka jarah pada musim gugur tahun 1213, dan merebut padang rumput cadangan kavaleri musuh.[15] Selama invasi Kekaisaran Khwarazmia tahun 1219, Chagatai ditugaskan untuk membangun jembatan dan memelihara jalan untuk mempercepat pergerakan pasukan Mongol serta menjaga agar jalur komunikasi tetap terbuka. Dalam menjalankan tugas tersebut, ia dibantu oleh pengikutnya, Zhang Rong (1158–1230).[16]

330px-Otrar_aerial_view-Aug-2018.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
330px-Turabek_Khanum%2C_from_the_south.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Reruntuhan Otrar (kiri) dan Gurganj (kanan), dua kota yang direbut oleh Chagatai

Ia dan Ögedei lalu ditugaskan untuk mengepung kota Otrar, yang gubernurnya, Inalchuq, memicu invasi tersebut, sementara ayah dan saudara-saudara mereka melanjutkan pergerakan. Penduduk kota tersebut melawan dengan sengit selama lima bulan, tetapi kemudian dilemahkan oleh pembelotan dari seorang jenderal terkemuka, yang dieksekusi mati oleh Ögedei dan Chagatai karena ketidaksetiaannya. Kota tersebut akhirnya berhasil direbut pada bulan Februari 1220, dengan Inalchuq tetap bertahan selama satu bulan di benteng sebelum akhirnya berhasil ditangkap.[17] Untuk membalas tindakan Inalchuq, pasukan Mongol membunuh atau memperbudak seluruh penduduk Otrar, serta menjarah dan menghancurkan kota itu.[18] Chagatai dan Ögedei lalu menyerahkan Inalchuq kepada ayah mereka di pengepungan Samarkand. Inalchuq kemudian dieksekusi mati secara terbuka.[19]

Chagatai dan Ögedei kemudian dikirim untuk bergabung dengan Jochi dalam Pengepungan Gurganj, ibu kota dari Kekaisaran Khwarazmia.[20] Pengepungan tersebut berlangsung lama, antara empat hingga tujuh bulan, dan sangat keras. Pasukan Khwarazmia memaksa pasukan Mongol untuk terlibat dalam perang perkotaan dari rumah ke rumah, dengan sebagian besar kota akhirnya hancur akibat pembakaran nafta atau banjir dari bendungan yang jebol.[21] Setelah kota tersebut berhasil direbut pada bulan April 1221, penduduknya dibantai atau diperbudak.[22] Narasi umum terkait pengepungan tersebut menuturkan bahwa Jochi dan Chagatai berselisih mengenai cara terbaik untuk menangani kota tersebut, karena Jochi menganggap bahwa kota yang kaya tersebut akan menjadi bagian dari wilayah kekuasaannya dan tidak ingin menghancurkannya. Di sisi lain, Chagatai tidak merasa segan sedikit pun. Setelah mendengar mengenai perselisihan tersebut, Jenghis memerintahkan agar Ögedei diangkat untuk memimpin para saudaranya.[23] Namun, sejarawan Christopher Atwood berpendapat bahwa narasi tersebut merupakan rekaan pada masa berikutnya yang dirancang untuk memperkuat hak dari Ögedei untuk memimpin kekaisaran tersebut dan bahwa Jochi pada kenyataannya tetap memegang kepemimpinan utama sepanjang pengepungan tersebut.[24]

Chagatai kembali mendampingi ayahnya selama pengepungan Taliqan, yang akhirnya berhasil direbut pada musim panas tahun 1221.[20] Tanpa sepengetahuan Chagatai, putra kesayangannya, Mutukan, meninggal saat mengepung Bamiyan, yang penduduknya kemudian dibantai oleh pasukan Mongol atas permintaan janda Mutukan. Jenghis murka atas kegagalan Chagatai merebut Gurganj tanpa menimbulkan banyak korban di pihak Mongol. Jenghis pun memutuskan untuk memberi pelajaran kepada Chagatai mengenai pengendalian diri. Jenghis memanggil Chagatai ke tendanya dan menuduhnya tidak mengikuti perintah. Chagatai lalu menjawab bahwa ia lebih baik dieksekusi mati daripada tidak patuh. Jenghis kemudian memberi tahu tentang kematian Mutukan dan memerintahkan agar Chagatai tidak berduka. Chagatai pun dapat mengendalikan diri dan baru menangisi kematian Mutukan setelah menyendiri.[25] Chagatai lalu hadir saat kekalahan pangeran Khwarazmia Jalal al-Din dalam Pertempuran Indus pada bulan November 1221, dan memimpin barisan belakang selama kampanye terakhir ayahnya melawan negara Xia Barat.[26]

Pertanyaan suksesi

500px-Bapt%C3%AAme_de_Tchaghata%C3%AF.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Miniatur awal abad ke-15 dari bagian Marco Polo pada manuskrip Livre des merveilles. Miniatur tersebut menggambarkan Chagatai dibaptis menjadi Kristen. Namun, tidak terdapat bukti bahwa ia pernah menjadi penganut Kristen.[27]

Suku-suku stepa Mongol tidak memiliki sistem suksesi tetap, dan cenderung memilih suksesor melalui kurultai yang diadakan pasca kematian pemimpin, dan kurultai tidak diwajibkan untuk mengikuti keinginan dari pemimpin sebelumnya[28][29] Meskipun sejumlah orang Mongol berpendapat bahwa sifat-sifat Chagatai akan menjadikannya suksesor yang sangat baik, Jenghis merasa bahwa Chagatai terlalu kaku dan berpikiran sempit, yang mencerminkan kekakuan watak yang membuatnya tidak cocok menjadi penguasa.[30] Jenghis juga khawatir dengan kebencian mendalam Chagatai terhadap Jochi, yang dianggap oleh Chagatai sebagai anak haram. Pada suatu rapat keluarga, Chagatai diberitakan menyebut Jochi sebagai "anak haram Merkit" dan mulai berkelahi fisik dengan Jochi di depan ayah mereka. Atas alasan tersebut, Jenghis pun mengecualikan Chagatai dari daftar suksesi takhta. Jochi juga dikecualikan, karena ia dirumorkan sebagai anak haram, walaupun Jenghis sebenarnya tidak mempermasalahkannya. Adik mereka, Ögedei, lah yang akhirnya dipilih sebagai suksesor.[31]

Pasca kematian Jenghis Khan pada tahun 1227, Chagatai memainkan peran penting dalam menstabilisasi kekaisaran sebelum Ögedei naik takhta pada tahun 1229. Tolui, yang menjabat sebagai pemangku takhta dan juga sempat menjadi calon penerus, sempat mempertimbangkan untuk merebut kekuasaan bagi dirinya sendiri. Chagatai, yang memegang wewenang sebagai putra tertua Jenghis setelah kematian Jochi ca1225, bersama banyak orang lainnya tetap setia pada keinginan dari Jenghis, dan mencegah perebutan kekuasaan. Chagatai memimpin upacara penobatan tersebut bersama Tolui dan paman mereka, Temüge; Chagatai sendiri tetap menjadi pendukung setia Ögedei sepanjang masa pemerintahannya.[32] Sebagai balasannya, Ögedei sering meminta nasihat dari Chagatai dan mengutus putra sulungnya Güyük untuk bertugas sebagai salah satu pengawal Chagatai.[33] Meskipun demikian, Chagatai tetap menegur Ögedei karena terlalu banyak minum alkohol dan membuat Ögedei setuju untuk membatasi jumlah cangkir alkohol yang ia minum. Ögedei lalu mengakali pembatasan tersebut dengan mencari cangkir yang sangat besar.[34]

Penguasa di Asia Tengah

Peta Asia Tengah dengan wilayah dan kota Kekhanan Chagatai yang ditandai
Peta Kekhanan Chagatai pada akhir dekade 1200-an, membentang dari kota Bukhara dan Samarkand di Transoxiana hingga ke wilayah Almaliq di Xinjiang

Pasca berakhirnya kampanye Khwarazmia, Chagatai mendapat wilayah di Asia Tengah, yang membentang dari bekas wilayah Uighur dekat Almaliq, yang menjadi ibu kota serta padang penggembalaan musim panasnya, hingga ke Sungai Amu Darya di Transoxiana, yang menjadi padang penggembalaan musim dinginnya.[35] Wilayah tersebut, yang kini meliputi Uzbekistan, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan bagian selatan, dan sebagian dari Xinjiang di Tiongkok, dipimpin oleh negara Qara Khitai selama akhir dekade 1100-an, dan dihuni oleh campuran masyarakat nomaden dan menetap. Chagatai dan keturunannya sebagian besar tetap nomaden dalam tradisi Mongol dan sering berselisih dengan gubernur dari permukiman di Transoxiana, yang bukan merupakan perwakilan dari klan Chagatai, tetapi perwakilan dari penguasa kekaisaran.[36]

Ketegangan segera timbul antara Chagatai dan salah satu pejabat perwakilan tersebut, yang bernama Mahmud Yalavach. Pada tahun 1238, penduduk Bukhara, yang dipimpin oleh seorang pembuat ayakan, memberontak terhadap tuntutan pajak. Pemberontakan tersebut pun mendapat dukungan luas dan berujung pada pengusiran garnisun Mongol. Chagatai tidak membantu dan menyerahkan pemberontakan tersebut kepada Ögedei, yang pasukannya kemudian meredam pemberontakan tersebut dengan cepat. Penduduk kota tersebut sempat terancam dibantai habis, tetapi akhirnya diampuni setelah Mahmud berargumen bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang terlibat. Chagatai kemungkinan memanfaatkan situasi tersebut untuk merugikan Mahmud, meskipun rincian pastinya tidak diketahui.[37]

Tidak lama kemudian, Chagatai menyerahkan sebagian wilayah kekuasaan Mahmud kepada salah satu pengikutnya. Mahmud lalu mengeluh kepada Ögedei, yang kemudian menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban dari Chagatai. Setelah menerima permintaan maaf, Ögedei menyelesaikan ketegangan tersebut dengan menyetujui keputusan Chagatai, memindahkan Mahmud ke sebuah jabatan penting di Tiongkok bagian utara, dan mempromosikan putra dari Mahmud untuk memerintah di wilayahnya dengan kekuasaan yang sama seperti ayahnya.[38] Chagatai juga sempat berselisih dengan Körgüz, gubernur yang ditunjuk saudaranya di wilayah Khorasan.[39]

Kematian dan warisan

250px-Fun%C3%A9railles_de_Tchaghata%C3%AF.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penggambaran pemakaman Chagatai Khan, dari sebuah manuskrip abad ke-15 pada Jami' al-tawarikh

Pasca kematian Ögedei akibat alkoholisme pada bulan Desember 1241, Chagatai pun menjadi penentu suksesi takhta de facto. Istri kesayangan Ögedei, Möge, awalnya memegang kendali, tetapi Töregene, ibu dari Güyük, berniat untuk menjadi pemangku takhta, sehingga Töregene pun berupaya meyakinkan Chagatai bahwa ia cocok untuk menjadi wali raja. Chagatai kemudian benar-benar mengangkat Töregene sebagai wali raja.[40] Chagatai akhirnya meninggal pada tahun 1242. Kedudukan Chagatai sebagai pangeran tertua dari dinasti Jenghis Khan pun digantikan oleh putra dari Jochi, Batu.[41] Yesülün lalu menuduh salah satu pengawal dari Chagatai, seorang Uighur dari Tiongkok Utara bernama Vajir, telah meracuni Chagatai, sehingga Vajir kemudian dieksekusi mati. Di Asia Tengah, Chagatai digantikan oleh Qara Hülegü, putra dari Mutukan, tetapi Qara kemudian digulingkan oleh pamannya yang pemabuk, Yesü-Möngke, antara tahun 1246 dan 1250, sehingga memicu ketidakstabilan berkepanjangan di wilayah yang kelak dikenal sebagai Kekhanan Chagatai.[42]

Walaupun kesetiaan Chagatai terhadap adat nomaden berarti bahwa ia hanya membangun kolam untuk unggas air, gudang, dan desa-desa kecil di wilayah kekuasaannya, ia adalah seorang pemimpin handal yang merekrut para pakar terpelajar dari bangsa asing dan pejabat Uighur lokal untuk membantu mengelola wilayah kekuasaannya.[43] Karena Chagatai sangat menjunjung tinggi hukum Mongol tradisional, yang melarang berbagai unsur dari hukum Syariah Islam, seperti tata cara penyembelihan hewan, ritual penyucian diri (bersuci), atau salat di ruang publik, ia pun mendapat reputasi sebagai sosok anti-Muslim.[44] Seorang penulis Muslim kontemporer mengklaim bahwa Chagatai mendorong Ögedei untuk membantai semua Muslim di kekaisaran. Sejarawan modern seperti Michael Hope dan Peter Jackson berpendapat bahwa klaim tersebut kemungkinan tidak benar. Mereka pun menyoroti keberadaan sejumlah pejabat dan bangsawan Muslim berpengaruh di istana Chagatai yang sangat ia andalkan, sehingga mustahil ia mencari masalah atau musuhi tanpa alasan. Teori yang lebih masuk akal adalah bahwa Chagatai melarang penerapan sistem hukum non-Mongol.[45] Meskipun demikian, reputasi anti-Islam dan pro-Yasa dari Chagatai sangat memengaruhi keturunannya, yang prosesnya jauh lebih lambat dalam memeluk Islam dibandingkan para penguasa di kekhanan Mongol lainnya, yakni Gerombolan Emas dan Ilkhanat.[46]

Referensi

Catatan

  1. Juga diterjemahkan menjadi Cha'adai, Chaghatai, Chagaday, Chagatay, Ca'adai, Chaghadai, Chagatay, atau Tsagaadai.[1]
  2. Pada saat itu, kata "Mongol" hanya digunakan untuk menyebut suatu suku di timur laut Mongolia. Karena suku tersebut memainkan peran penting dalam pembentukan Kekaisaran Mongol, nama dari suku tersebut kemudian digunakan untuk menyebut seluruh suku.[3]

Kutipan

  1. Atwood 2004, hlm. 81; May 2017, hlm. 138; Allsen 1993, hlm. 124; Biran 2023, hlm. 46; Batbayar 2000, hlm. 28.
  2. Atwood 2004, hlm. 456.
  3. Atwood 2004, hlm. 389–391.
  4. Broadbridge 2018, hlm. 49–50, 57; Ratchnevsky 1991, hlm. 20–21, 31; May 2018, hlm. 23–28.
  5. Broadbridge 2018, hlm. 58–63; May 2017, hlm. 162.
  6. Atwood 2004, hlm. 81; Broadbridge 2018, hlm. 67.
  7. Broadbridge 2018, hlm. 67; May 2018, hlm. 51.
  8. Atwood 2004, hlm. 98–99.
  9. Dunnell 2023, hlm. 30; May 2017, hlm. 138; Hope 2022, hlm. 298.
  10. Broadbridge 2018, hlm. 119; May 2017, hlm. 138–139.
  11. May 2017, hlm. 138–139.
  12. May 2017, hlm. 139.
  13. Morgan 1986, hlm. 84–86; Ratchnevsky 1991, hlm. 166.
  14. Biran 2023, hlm. 47; Dunnell 2023, hlm. 63.
  15. May 2017, hlm. 138; Dunnell 2023, hlm. 35; Atwood 2004, hlm. 278; Atwood 2017, hlm. 36.
  16. Atwood 2004, hlm. 81; May 2017, hlm. 138.
  17. Ratchnevsky 1991, hlm. 130; Dunnell 2023, hlm. 42.
  18. Dunnell 2023, hlm. 42; Atwood 2004, hlm. 307.
  19. Dunnell 2023, hlm. 42; Atwood 2004, hlm. 431.
  20. 1 2 May 2017, hlm. 138.
  21. Atwood 2017, hlm. 51; Barthold 1992, hlm. 434–437.
  22. Ratchnevsky 1991, hlm. 131; Atwood 2004, hlm. 81; Atwood 2017, hlm. 51.
  23. Atwood 2017, hlm. 52–53; Dunnell 2023, hlm. 44; Barthold 1992, hlm. 435; Ratchnevsky 1991, hlm. 136–137.
  24. Atwood 2017, hlm. 53–54.
  25. May 2017, hlm. 139; Ratchnevsky 1991, hlm. 161–163.
  26. Ratchnevsky 1991, hlm. 133–134.
  27. Bernadini 2008.
  28. Fitzhugh, Rossabi & Honeychurch 2009, hlm. 109.
  29. Togan 2016, hlm. 408–409; May 2018, hlm. 68.
  30. Atwood 2004, hlm. 81; May 2017, hlm. 139; May 2018, hlm. 69, 102.
  31. Atwood 2004, hlm. 81, 278, 416; May 2017, hlm. 138; May 2018, hlm. 69.
  32. Atwood 2004, hlm. 81; Biran 2009, hlm. 47–48; May 2017, hlm. 138; Dunnell 2023, hlm. 54–55.
  33. Dunnell 2023, hlm. 63.
  34. Morgan 1986, hlm. 100–101; Atwood 2004, hlm. 81.
  35. Atwood 2004, hlm. 81; Dunnell 2023, hlm. 53.
  36. Biran 2009, hlm. 46–48; Dunnell 2023, hlm. 54; May 2018, hlm. 257–258.
  37. Allsen 1993, hlm. 124; Biran 2009, hlm. 48; Dunnell 2023, hlm. 63.
  38. Allsen 1993, hlm. 124–124; Biran 2009, hlm. 48; Dunnell 2023, hlm. 62–63.
  39. Biran 2009, hlm. 48.
  40. Atwood 2004, hlm. 81; Broadbridge 2018, hlm. 169–170; May 2017, hlm. 138.
  41. May 2018, hlm. 122.
  42. Atwood 2004, hlm. 81; Biran 2009, hlm. 48–49.
  43. Atwood 2004, hlm. 87; Hope 2022, hlm. 298–299.
  44. Jackson 2011; Morgan 1986, hlm. 208; May 2018, hlm. 102–103.
  45. Jackson 2011; Hope 2022, hlm. 299.
  46. Atwood 2004, hlm. 87, 253; Biran 2023, hlm. 386.

Sumber

Didahului oleh:
Kekhanan Chagatai dibentuk
Khan Kekhanan Chagatai
1225–1242
Diteruskan oleh:
Qara Hülëgü
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan