Kamis, 29 Oktober 2026
18:12 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Benteng Duurstede

Benteng Duurstede

bangunan benteng di Indonesia

Bagikan:
Benteng Duurstede
Fort Duurstede
Benteng Duurstede
Pintu masuk
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Benteng_Duurstede&revid=29798958&groups=_c8054545f35c18b40ca747274d4fa01ae7153607&parser=parsoid
Peta interaktif area Benteng Duurstede
EtimologiDiambil dari nama kota Wijk bij Duurstede di Belanda
Informasi umum
JenisBenteng
LokasiIndonesia Saparua, Maluku Tengah, Indonesia
PemilikBalai Pelestarian Kebudayaan Maluku
osm-intl,13,-3.9976723,127.872577,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Benteng_Duurstede&revid=29798958&groups=_6fb1ce18eda2213a5fe129cfeeb81ff8daac0a3a&parser=parsoid
Peta interaktif Benteng Duurstede
40px-Logo_Direktorat_Pelestarian_Cagar_Budaya_dan_Permuseuman.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Cagar budaya IndonesiaBenteng Duurstede
PeringkatNasional
KategoriBangunan
No. RegnasCB.101
Lokasi
keberadaan
Kabupaten Maluku Tengah, Maluku
No. SK
  • SK Menteri No.013/M/1999
  • SK Menteri No.246/M/2015
Tanggal SK
  • 12 Januari 1999
  • 21 Desember 2015
Pemilik Indonesia
PengelolaBalai Pelestarian kebudayaan Wilayah XX
Koordinat3°59′52″S 127°52′21″E / 3.9976723°S 127.872577°E / -3.9976723; 127.872577
Benteng Duurstede di Maluku
Benteng Duurstede
Lokasi Benteng Duurstede di Saparua, Maluku Tengah, Maluku
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Benteng Duurstede adalah suatu benteng Belanda abad ke-17 yang berlokasi di Saparua, Maluku, Indonesia.[1][2] Benteng ini awalnya melindungi Desa Saparoea. Panduan navigasi dari tahun 1878 menyatakan: "terdapat pelabuhan yang bagus di dekat benteng ini di musim angin barat sekitar 12 fathom."[3] Benteng ini terbuka untuk umum dan telah banyak dipulihkan.[1]

Sejarah

330px-Meriam_Besi%2C_Benteng_Duurstede.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Meriam Besi, Benteng Duurstede

Benteng Duurstede pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1676, sebelum akhirnya direbut dan dibangun kembali oleh Gubernur Ambon, Nicolaas Schaghen, pada 1691. Selama masa kolonial, benteng ini berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan VOC di wilayah Saparua.

Pada 15 Mei 1817, rakyat Saparua di bawah pimpinan Thomas Matulessy menyerbu benteng ini. Seluruh penghuninya tewas, kecuali Jean Lubbert van den Berg, putra sang residen. Jatuhnya Duurstede ke tangan rakyat Maluku mengguncang kedudukan Hindia Belanda di Ambon hingga Batavia. Berbagai upaya dilakukan Hindia Belanda untuk merebut kembali benteng tersebut, namun serangan mereka selalu gagal.

Menghadapi situasi yang sulit, Komisaris van Middelkoop bertindak agresif dengan meminta bantuan militer dari Batavia Laksamana Muda Buyskes tiba di Kota Ambon pada 30 September 1817 dengan Kapal Perang yang sangat besar ''Prins Frederik' di bawah komando Kapten van Senden. Kapal Perang yang dilengkapi 40 meriam besar membawa bala bantuan sebanyak 250 prajurit infanteri dari Batavia, kekuatan tempur tersebut diperkuat dengan tambahan 160 prajurit dari Ambon, sehingga total kekuatan yang dikerahkan mencapai 410 personel.

Buyskes menerapkan strategi pengepungan dengan menguasai pulau-pulau di sekitar Saparua sebelum masuk ke wilayah pertahanan Pattimura. Strategi ini berhasil mendesak pasukan Pattimura ke hutan sagu dan pegunungan. Akhirnya, Kapitan Pattimura bersama ke empat panglimanya tertangkap dan dijatuhi hukuman gantung di Benteng Nieuw Victoria.

Galeri

  • Sketsa Benteng Duurstede
    Sketsa Benteng Duurstede
  • Sketsa Benteng Duurstede
    Sketsa Benteng Duurstede
  • Benteng Duurstede di Saparua, karya Charles William Meredith van de Velde, 1844.
    Benteng Duurstede di Saparua, karya Charles William Meredith van de Velde, 1844.
  • Pemandangan Baru, Benteng duurstede
    Pemandangan Baru, Benteng duurstede
  • Meriam Besi, Benteng Duurstede
    Meriam Besi, Benteng Duurstede
  • Tulisan di gerbang masuk, Benteng Duurstede
    Tulisan di gerbang masuk, Benteng Duurstede
  • Benteng Duurstede difoto dari atas
    Benteng Duurstede difoto dari atas

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Benteng Duurstede.

Referensi

  1. 1 2 "Saparua: The Centre of the Lease Islands". East-Indonesia.info. 2014. Diakses tanggal 3 Juli 2014.
  2. ↑ Anonyme. CONNAISSANCE DES TEMPS ou DES MOUVEMENTS CÉLESTES, A L'USAGE DES ASTRONOMES ET DES NAVIGATEURS, POUR L'AN 1891 [KNOWLEDGE OF CELESTIAL TIME or MOVEMENTS, FOR THE USE ASTRONOMERS and MARINERS FOR THE YEAR 1891 (Online at BNF Gallica)] (dalam bahasa French). Paris: LE BUREAU DES LONGITUDES. Diakses tanggal 3 Juli 2014. Saparoua, fort Duurstede 3.34.37 S. 126.18.40 8.25.14,7 Bur. hydr. hollandais.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  3. ↑ Findlay, Alexander George (1878). A directory for the navigation of the Indian Archipelago, China, and Japan ... London: Richard Holmes Laurie. hlm. 828. Diakses tanggal 3 Juli 2014.

Pranala luar

Cagar budaya peringkat nasional di Indonesia
Benda
Bangunan
Struktur
Situs
Kawasan
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan