Minggu, 11 Oktober 2026
18:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Perang Pattimura (1817)

Bagikan:
Perang Pattimura (1817)
Bagian dari Peperangan Inggris-Belanda
Tanggal1817
Lokasi
Hasil
  • Pemberontakan ditumpaskan
Pihak yang terlibat
Pejuang Maluku
40px-British_East_India_Company_flag.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Perusahaan Hindia Timur Britania Raya
Belanda
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Pattimura Dihukum mati
Anthony Rhebok Dihukum mati
Philip Latumahina Dihukum mati
Sayyid Perintah Dihukum mati
Lucas Selano
Aaron Lisapaly
Melchior Kesaulya  Dihukum mati
Martha Christina Tiahahu
Paulus Tiahahu Dihukum mati
Johannes Rudolf van der berg †
Mayor Pioner Beetjes †
Gubernur van Middelkoop
Komisaris Nicolaas Engelhard
Korban jiwa dan kerugian
Tidak diketahui 543 tewas (termasuk warga sipil eropa)[1]

Perang Pattimura adalah perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Thomas Matulessy terhadap kolonialisme Belanda yang berada di Kepulauan Maluku.

Latar belakang

Artikel utama: Invasi Maluku

Inggris menduduki wilayah Hindia Belanda pada 1810-1811. Namun, kemenangan Inggris dalam perang melawan aliansi Prancis-Belanda menyebabkan Inggris harus mengembalikan wilayah Hindia Belanda kepada Belanda melalui Konvensi London pada tahun 1814. tujuanya untuk menjadikan Belanda negara yang kuat di dataran Eropa. Di Hindia Belanda, realisasi baru terjadi pada tahun 1816. Bahkan di Maluku peralihan baru terjadi pada tahun 1817.[2]

Khusus untuk wilayah Maluku, penyerahan kekuasaan baru terlaksana pada 24 Maret 1817 di Benteng Victoria, Kota Ambon. Administrasi Maluku diserahkan oleh Residen Inggris di Ambon, William Bisset Martin, kepada Gubernur Belanda yang baru, Jacobus Ariën van Middelkoop. Bersamaan dengan transisi tersebut, pemerintah Belanda menunjuk Johannes Rudolph van den Berg sebagai Residen Saparua yang baru untuk menempati pos di Benteng Duurstede.[3]

Tiga kapal Belanda melepas jangkar di Teluk Ambon. Kapal Evertsen dibawa Komando Kapten Laut Nicolaas Hermanus Dietz yang meninggal 24 Maret 1817 sehingga digantikan Letnan Laut Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell . Kapal Nassau dibawa Komando Kapten Laut Sloterdijk dan Kapal Maria Reigersbergen dibawa Komando Letnan Laut Groot.[3]

Perubahan penguasa ini berdampak pada perubahan kebijakan pada masa sebelumnya Pemerintah Inggris di Maluku. Hal ini memicu ketidakpuasan di Maluku, terutama di kawasan Kepulauan Lease dan sekitarnya. Residen Honimoa (Saparua) dijabat Johannes Rudolph van den Berg sejak Maret 1817.[4]

250px-Banda1810Cole.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Perjuangan melawan Belanda

Penyerangan ke Benteng Duurstede

Pada 15 Mei 1817, operasi penyerangan pos-pos dan benteng Belanda di Saparua dimulai oleh Kapiten Pattimura bersama Anthone Rhebok, Philips Latumahina, Lucas Selanno, Aron Lisapaly, Melchior Kesaulya, Sayyid Perintah, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu. Operasi yang dikenal dengan Perang Saparua tersebut berhasil merebut benteng Duurstede dan menewaskan Residen Saparua, istri dan kedua dari ketiga anaknya beserta pasukannya.

Jean Lubbert van den Berg, putra Residen Saparua berusia lima tahun, menjadi satu-satunya orang Belanda yang selamat dalam penyerangan Benteng Duurstede pada 16 Mei 1817. Meski massa menuntutnya dibunuh, Thomas Matulessy memerintahkan agar nyawa anak itu diselamatkan.

Ekspedisi Beetjes

Belanda juga melancarkan serangan balik dengan mengerahkan 300 prajurit dari Ambon yang dipimpin oleh Mayor Beetjes untuk merebut kembali benteng Duurstede yang kemudian disebut dengan ekspedisi Beetjes. Upaya Mayor Beetjes tersebut nyatanya dapat dipatahkan ia mati bersama pasukannya.

Menurut Ben van Kaam, dalam bukunya, Ambon door de eeuwen diterbitkan pada tahun 1977 di Baarn, Belanda. Ekspedisi Mayor Beetjes yang membawa 300 prajurit dan pelaut tersebut gagal total. Sebanyak 241 prajurit tewas, termasuk Mayor Beetjes sendiri. Sementara itu, 59 orang yang selamat segera mundur menyelamatkan diri; sebagian kembali ke ambon, sedangkan sisanya berlindung di Pulau Haruku dan Negeri Suli.

Pengkhianatan & Penangkapan Pattimura

Pasukan Belanda mengalami kewalahan dalam menghadapi perlawanan Rakyat Pattimura hingga pada bulan Juli 1817 - September 1817, Belanda mendatangkan Pasukan Kompeni dari Ambon yang dipimpin oleh Kapten Lisnet. Pada bulan Oktober 1817, Pasukan Belanda mulai menyerang Rakyat Maluku secara besar-besaran hingga dapat memadamkan perlawanan Rakyat Maluku dan merebut kembali Benteng Duurstede.

Belanda mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menghadapi Pattimura Untuk membalas dan merebut kembali Perlawanan rakyat di saparua Belanda mendatangkan bala bantuan berupa kapal perang yang dilengkapi dengan meriam-meriam. Benteng Duurstede yang dikuasai oleh Pattimura dihujani meriam-meriam yang ditembakkan dari laut. Akhimya benteng Duurstede berhasil direbut kembali oleh Belanda. Sedikit demi sedikit pasukan Pattimura terdesak.

Selama berkuasa di Maluku, Pemerintah Belanda sempat dibuat repot selama Berbulan-bulan oleh kecerdikan Kapitan Pattimura yang pandai meramu strategi Perang. Kompeni itu bahkan hampir menyerah jika bala bantuan dari Batavia tidak datang dengan cepat. Bahkan Belanda akan memberikan Hadiah sebesar 1.000 Gulden kepada pihak yang berhasil menangkap Pattimura.

11 November 1817 Akibat pengkhianatan yang dilakukan seorang warga, Belanda mengetahui tempat persembunyian Thomas Matulessy dan Pemerintah Belanda memerintahkan Pasukan Letnan Veerman untuk menangkap Thomas Matulessy.

Malam 12 November 1817, Thomas Matulessy dan Pasukannya ditangkap

Tidak disebutkan apakah warga tersebut mendapat imbalan atas pengkhianatannya itu. namun warga tersebut menjual informasi kepada Belanda karena dendam setelah Pattimura menurunkan posisinya sebagai Pemimpin Rakyat.

Pattimura dan sejumlah Pejuang yang tertangkap dikurung di benteng Victoria. Selama di dalam penjara, mereka diinterogasi oleh Tentara Belanda. Namun Pattimura menutup rapat-rapat mulutnya sehingga tidak banyak informasi yang didapat Belanda.

Memasuki bulan 16 Desember 1817, Para Tahanan dihadapkan di depan Ambonsche Raad van Justitie (Dewan Pengadilan Kota Ambon). Setelah melalui beberapa Sidang, Vonis pun dijatuhkan. Kapitan Pattimura, Anthone Rhebok, Sayyid Perintah, Melchior Kesaulya dan Philips Latumahina mendapat hukuman paling berat sebagai Pemimpin Perang, yakni Hukuman Gantung. Sementara tahanan lainnya diasingkan ke Pulau Jawa.

Referensi

Daftar pustaka

  • Setyaningrum, Puspasari (20 Juli 2022). "Sejarah Perang Pattimura: Tokoh, Penyebab, Kronologi, dan Dampak". Kompas.com. PT. Kompas Cyber Media. Diakses tanggal 03 Februari 2024.
  • "Kisah Heroik Kapitan Pattimura: Melawan Belanda Digantung, dan Makam Misterius". Kumparan News. PT. Dynamo Media Network. 05 Juli 2022. Diakses tanggal 03 Februari 2024.
  • Notosusanto, Nugroho: Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional
  • Hanna, Williard. 1996. Ternate dan Tidore. Jakarta: PT Penebar Swadaya http://www.warnetgadis.com/2015/10/makalah-perlawanan-thomas- matulessy.html
Sejarah konflik di Nusantara
Pra-kolonial
Kolonial Portugis
Kolonial VOC
Kolonial Belanda
Pendudukan Jepang
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan