Selasa, 27 Oktober 2026
09:20 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Pemberontakan Ra Kuti

Bagikan:
Pemberontakan Ra kuti
Tanggal1319
Lokasi
Hasil Kemenangan Majapahit
Pihak yang terlibat
Majapahit Pasukan Dharmaputra
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Jayanegara
Gajah Mada
Ra Kuti †

Pemberontakan Ra Kuti terjadi pada masa pemerintahan Jayanagara, raja ke-2 Majapahit, tepatnya tahun 1241 Saka atau 1319 Masehi. Aksi Ra Kuti yang dianggap berbahaya bagi Kerajaan Majapahit ini akhirnya dapat ditumpas oleh Gajah Mada.[1]

Latar Belakang

Pemberontakan Ra Kuti didasari rasa tidak puas atas keputusan raja. Ra Kuti dan beberapa Dharmaputra lainnya menilai Jayanagara berkarakter lemah dan mudah dipengaruhi. Pararaton menyebut Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah” atau “jahat”. Asal-usul Jayanagara diduga juga menjadi alasan ketidaksukaan para Dharmaputra, terhadap sang raja. Meskipun ditunjuk sebagai putra mahkota, Jayanagara bukanlah anak Raden Wijaya dari istri permaisuri, melainkan dari istri selir. Ibunda Jayanagara adalah Dara Petak, putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera. Putri ini dibawa dari Ekspedisi Pamalayu, suatu upaya operasi penaklukan oleh Kerajaan Singasari pada 1275 hingga 1286 M. Terlebih, Jayanegara berdarah campuran, bukan turunan murni dari Kertanagara.[2][3]

Pemberontakan

Dalam menjalankan aksinya, Ra Kuti berhasil mengajak beberapa anggota Dharmaputra lainnya untuk berusaha mendongkel takhta Jayanagara, yakni Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Yuyu, Ra Pangsa dan Ra Wedeng. Saat pemberontakan Ra Kuti terjadi, Gajah Mada belum menjabat sebagai mahapatih yang nantinya turut mengantarkan Majapahit ke masa kejayaan. Posisi Gajah Mada saat itu adalah anggota pasukan pengamanan raja alias Bhayangkara. Aksi pemberontakan Ra Kuti membuat ibu kota Kerajaan Majapahit porak-poranda dan Jayanagara berada dalam situasi berbahaya. Di sinilah peran Gajah Mada disebut-sebut sangat penting dalam upaya penyelamatan takhta Majapahit.[4]

Pemberontakan yang dilakukan oleh para Dharmaputra jelas mengancam nyawa Jayanagara. Maka, sang raja harus diselamatkan. Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara mengamankan Raja Jayanagara ke desa bernama Badander. Ada referensi yang menyebut bahwa Badander berada di wilayah Bojonegoro, tetapi ada pula yang meyakini desa itu terletak di Jombang.[2] Setelah memastikan Jayanagara aman di Badander, dengan pengawalan sebagian anggota Bhayangkara, Gajah Mada kembali ke pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, di istana yang terletak di Trowulan (Mojokerto), Gajah Mada menjalankan taktik jitunya untuk memastikan bahwa rakyat tidak mendukung pemberontakan Ra Kuti.[5][6]

Gajah Mada mengumpulkan para pejabat di rumah tumenggung amancanegara (semacam wali kota) dan mengabarkan kalau Jayanagara telah "meninggal" di pengungsian. Para warga yang mendengar kabar itu menangis, sedih. Dari sinilah Gajah Mada yakin bahwa rakyat mencintai Jayanagara dan tidak senang dengan gerakan kudeta yang dilakukan oleh Ra Kuti. Setelah menjelaskan bahwa raja sebenarnya selamat, Gajah Mada segera menyusun strategi untuk menumpas pemberontakan. Hingga akhirnya, dalam tempo yang tidak terlalu lama, istana dapat direbut kembali oleh pasukan pimpinan Gajah Mada dari penguasaan kawanan pemberontak. Ra Kuti tewas dalam pergolakan itu.[2][7]

Referensi

  1. ↑ Hariadi, Langit Kresna (2008). Gajah Mada: Bergelut dalam kemelut takhta dan angkara. Tiga Serangkai. hlm. 33. ISBN 978-979-3301-90-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 3 https://tirto.id/sejarah-pemberontakan-ra-kuti-di-majapahit-yang-ditumpas-gajah-mada-f978
  3. ↑ Muljana, Slamet (1979). Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya. Bhratara Karya Aksara.
  4. ↑ Komandoko, Gamal (2015-01-01). Gajah Mada. Media Pressindo.
  5. ↑ Wiratmoko, Y. P. B. (2004). Cerita R Tengger. Grasindo. ISBN 978-979-732-860-3.
  6. ↑ Abdullah, Muhlis (2020). HURU-HARA MAJAPAHIT DAN BERDIRINYA KERAJAAN ISLAM DI JAWA. Araska Publisher. ISBN 978-623-7537-49-6.
  7. ↑ Achmad, Sri Wintala (2019). SEJARAH RAJA-RAJA MAJAPAHIT. Araska Publisher. ISBN 978-623-7145-97-4.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan