Jumat, 30 Oktober 2026
06:56 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Agalmatofilia

Agalmatofilia

Bagikan:
Agalmatofilia
Nama lainPigmalionisme
250px-Sandy_sex_doll_or_poseable_mannequin.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Boneka seks yang didudukkan di atas kursi
SpesialisasiPsikologi, Psikiatri, Seksologi, Fetisisme
GejalaDaya tarik seksual terhadap patung, maneken, atau boneka
KomplikasiIsolasi sosial, disfungsi, implikasi hukum (dalam kasus yang jarang terjadi)
JenisSeksualitas objek, Erotic target location error
PenyebabTidak diketahui; teori mencakup imprinting awal, keterikatan fantasi
Faktor risikoDapat terjadi bersamaan dengan parafilia lain atau ciri autoseksualitas
Diagnosis bandingObjektofilia, fetisisme robot, autoginefilia
Dinamai dari(daribahasa Yunani Kunoἄγαλμα (ágalma), artinya "patung",danφιλία (philía), artinya "cinta")

Agalmatofilia (daribahasa Yunani Kunoἄγαλμα (ágalma), artinya "patung",danφιλία (philía), artinya "cinta") adalah sebuah parafilia yang melibatkan daya tarik seksual terhadap patung, boneka (fetisisme boneka),[1] maneken, atau objek figuratif serupa lainnya. Agalmatofilia merupakan salah satu bentuk seksualitas objek.[2]

Daya tarik tersebut dapat mencakup keinginan untuk melakukan kontak seksual secara nyata dengan objek tersebut, fantasi melakukan hubungan seksual (atau non-seksual) dengan wujud bernyawa atau tidak bernyawa dari objek yang disukai, tindakan menyaksikan hubungan antara objek-objek tersebut, atau kenikmatan seksual yang diperoleh dari pikiran untuk diubah atau mengubah orang lain menjadi objek yang disukai.

Tergantung pada objek keinginannya, penderita agalmatofilia dapat menunjukkan pigmalionisme, yaitu rasa cinta terhadap objek hasil buatannya sendiri, yang dinamai menurut mitos Pigmalion, ketika seorang pria jatuh cinta pada patung wanita idaman yang dibuatnya sendiri.[3][4] Penyair Inggris Edmund Spenser menulis tentang pigmalionisme seksual dalam beberapa karyanya.[5]

Agalmatofilia dapat disertai dengan jenis fetisisme lain seperti BDSM atau lateks.[6]

Sejarah

Meskipun telah ada kisah-kisah yang berkaitan dengan agalmatofilia sejak zaman kuno, kondisi ini hanya dirujuk di bawah label yang samar "contra naturam" (har. "melawan alam").[7] Kondisi ini pertama kali dideskripsikan secara medis dalam patologi psikoseksual Prancis abad kesembilan belas dengan nama amour des êtres inanimés atau azoophilie (meskipun istilah-istilah ini mencakup semua benda mati, bukan hanya patung) yang dianggap lebih umum terjadi pada kaum muda dan diperkirakan berkaitan dengan hiperseksualitas serta, yang lebih jarang terjadi, nekrofilia.[7] Setelah itu, kondisi ini dirujuk dengan banyak nama yang berbeda; pygmalionisme oleh Joris-Karl Huysmans pada tahun 1891, baik Venus statuaria maupun Statuenliebe oleh Iwan Bloch pada tahun 1907, dan Statuophilie pada tahun 1910.[7] Kemunculan paling awal dari nama modernnya adalah penggunaan istilah agalmatofilia dalam filologi Italia tahun 1930.[7]

Pada tahun 1877, seorang tukang kebun tercatat jatuh cinta pada patung Venus de Milo, dan ketahuan mencoba melakukan koitus dengannya.[8]

Mitologi

Mitos paling terkenal yang berkaitan dengan ketertarikan pada patung adalah kisah Pigmalion, sebagaimana disebutkan di atas.[4] Pigmalion dikatakan merasa jijik dengan wanita manusia dan memahat patung dari gading yang ia anggap sebagai wanita idaman.[4] Ia kemudian berdoa kepada dewi Venus, yang mengubah patung tersebut menjadi wanita sejati.[4]

Mitos tentang Laodamia berkisah tentang dirinya yang membuat patung perunggu suaminya, Protesilaos, setelah sang suami tewas dalam Perang Troya.[4] Patung ini kemudian dihancurkan oleh ayahnya, Akastos, ketika ia mendapati Laodamia sedang melakukan persetubuhan dengannya.[4]

Referensi

  1. ↑ Tondu, Bertrand (2021). "Sex Robots: Auto-erotic Devices, Fetishes or New Form of Transitional Object for Adults?". Dalam Li, Haizhou; Ge, Shuzhi Sam; Wu, Yan; Wykowska, Agnieszka; He, Hongsheng; Liu, Xiaorui; Li, Dongyu; Perez-Osorio, Jairo (ed.). Social Robotics. Lecture Notes in Computer Science (dalam bahasa Inggris). Vol. 13086. Cham: Springer International Publishing. hlm. 130–141. doi:10.1007/978-3-030-90525-5_12. ISBN 978-3-030-90525-5.
  2. ↑ Aggrawal, Anil (2008-12-22). Forensic and Medico-legal Aspects of Sexual Crimes and Unusual Sexual Practices (dalam bahasa Inggris). CRC Press. hlm. 122. ISBN 978-1-4200-4309-9.
  3. ↑ Ellis, 1927.
  4. 1 2 3 4 5 6 Weddle, Polly (2006). The secret life of statues; ancient agalmatophilia narratives (Masters thesis). Durham University.
  5. ↑ Gregerson, L.; Barton, A.; Orgel, S. (1995). The Reformation of the Subject: Spenser, Milton, and the English Protestant Epic. Cambridge Studies in Renaissance Literature and Culture. Cambridge University Press. hlm. 144. ISBN 978-0-521-46277-8. Diakses tanggal 2023-02-27.
  6. ↑ Vorreyer, Thomas (2018-07-05). "We Spent a Day With a 'Human Rubber Doll'". Vice (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-06-21.
  7. 1 2 3 4 Janssen, Diederik (Desember 2020). "From Libidines nefandæ to sexual perversions". Hist Psychiatry. 31 (4): 421–439. doi:10.1177/0957154X20937254. PMC 7534020. PMID 32605397.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Kick, 2005.
Daftar pustaka
  • Alexandre, Elisabeth (2005). Des poupées et des hommes. Enquête sur l'amour artificiel (Dolls and Men - Investigation into Artificial Love). La Musardine. ISBN 2-84271-252-8.
  • Dorfman, Elena (2005). Still Lovers. Channel Photographics. ISBN 0-9766708-1-X.
  • Ellis, Havelock (1927). Studies in the Psychology of Sex. "Volume V: Erotic Symbolism; The Mechanism of Detumescence; The Psychic State in Pregnancy". ISBN 1-4375-0927-4.
  • Gross, Kenneth (1992). The Dream of the Moving Statue. Cornell University Press. ISBN 0-8014-2702-9.
  • Kick, Russ (2005). Everything You Know about Sex Is Wrong. The Disinformation Company. ISBN 1-932857-17-6. pp.122-123
  • Krafft-Ebing, Richard von (1906). Psychopathia Sexualis, with Special Reference to the Antipathic Sexual Instinct: A Medico-Forensic Study. ISBN 1-55970-425-X.
  • Plumb, Suzie (Editor) (2005). Guys and Dolls: Art, Science, Fashion and relationships. Royal Pavilion, Art Gallery & Museums. ISBN 0-948723-57-2.
  • Scobie A, Taylor J. (January 1975). Journal of the History of the Behavioral Sciences: Vol 11, Issue 1: "Agalmatophilia, the statue syndrome." Wiley Periodicals, Inc.
  • Simmons, Laurence (2006). Freud's Italian Journey. Rodopi. ISBN 90-420-2011-3.
  • Wenk, Silke (1989). "Pygmalions Wahlverwandtschaften. Die Rekonstruktion des Schöpfermythos im nachfaschistischen Deutschland" IN: Konstruktionen von Männlichkeit und Weiblichkeit in Kunst und Kunstgeschichte. Berlin.
  • White, M. J. (November 1978). Journal of Sex Research; Vol. 14, Issue 4: "The Statue Syndrome: Perversion? Fantasy? Anecdote?".

Pranala luar

Aksi atau kondisi
Anggota tubuh
Pakaian
Benda mati
Kontroversial/Ilegal
Budaya / media
Ras
Topik terkait
Lihat juga
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan