| Kaisar Xuande 宣德帝 | |||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Lukisan potret istana pada gulungan gantung | |||||||||||||||||||||||
| Kaisar Dinasti Ming | |||||||||||||||||||||||
| Berkuasa | 29 Mei 1425 – 31 Januari 1435 | ||||||||||||||||||||||
| Penobatan | 27 Juni 1425 | ||||||||||||||||||||||
| Pendahulu | Kaisar Hongxi | ||||||||||||||||||||||
| Penerus | Kaisar Yingzong | ||||||||||||||||||||||
| Lahir | 16 Maret 1399 Beijing, Dinasti Ming | ||||||||||||||||||||||
| Meninggal | 31 Januari 1435(1435-01-31) (umur 35) Istana Kemurnian Surgawi, Kota Terlarang, Beijing, Dinasti Ming | ||||||||||||||||||||||
| Pemakaman | Mausoleum Jing, Makam Ming, Beijing | ||||||||||||||||||||||
| Ayah | Kaisar Hongxi | ||||||||||||||||||||||
| Ibu | Permaisuri Zhang | ||||||||||||||||||||||
| Pasangan | |||||||||||||||||||||||
| Keturunan Detail | |||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||
| Wangsa | Zhu | ||||||||||||||||||||||
| Dinasti | Ming | ||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||
Kaisar Xuande (16 Maret 1399 – 31 Januari 1435), nama pribadi Zhu Zhanji,[d] adalah kaisar kelima dari Dinasti Ming di Tiongkok, yang bertakhta dari tahun 1425 hingga 1435. Ia menggantikan ayahnya, Kaisar Hongxi.
Kaisar Xuande memiliki kegemaran terhadap puisi dan sastra, serta dikenal atas keterampilannya dalam melukis dan seni peperangan. Setelah naik takhta, ia mengambil keputusan untuk membatalkan rencana ayahnya yang ingin memindahkan ibu kota kembali dari Beijing ke Nanjing. Pamannya, Zhu Gaoxu, memberontak melawan kaisar muda tersebut tetapi pada akhirnya tidak berhasil. Dengan bimbingan para penasihat yang cakap, Kaisar Xuande memimpin langsung pasukannya melawan sang paman dan mengalahkannya dengan mudah.
Pada awal masa pemerintahan Kaisar Xuande, perang berkepanjangan di Đại Việt (sekarang Vietnam utara), yang saat itu dikelola oleh Ming sebagai Provinsi Jiaozhi, berakhir dengan kekalahan pihak Ming dan dipulihkannya kemerdekaan bangsa Viet. Meskipun demikian, masa pemerintahannya ditandai oleh periode perdamaian yang relatif stabil, tanpa konflik baik internal maupun luar negeri yang besar. Hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara tetap berlangsung damai. Komunikasi terus berlanjut dengan Korea, dan hubungan diplomatik didirikan dengan Jepang pada tahun 1432. Wilayah utara menghadapi ancaman Mongol yang minimal, dengan dibentuknya hubungan bersama bangsa Mongol Timur dan bangsa Oirat Barat. Kaisar Xuande mengizinkan pelayaran terakhir Zheng He ke Samudra Hindia pada tahun 1431–1433. Selama masa kekuasaan Kaisar Xuande, para kasim istana memperoleh pengaruh yang kian besar, terutama dalam kepolisian rahasia. Sang Kaisar berupaya menegakkan ketertiban melalui pembersihan di Sensorat dan reformasi wajib militer pada tahun 1428, tetapi langkah-langkah ini tidak sepenuhnya mengatasi ketidakefisienan dan rendahnya moral di kalangan prajurit turun-temurun. Setelah kematiannya, para sejarawan menganggap masa pemerintahannya sebagai zaman keemasan dinasti tersebut.
Pemerintahan Kaisar Xuande berupaya mempromosikan penggunaan uang kertas serta mengurangi penggunaan koin dan logam mulia, tetapi upaya ini pada akhirnya tidak berhasil dan uang kertas pun menghilang dari peredaran. Di masa lalu, pajak yang tinggi di prefektur-prefektur berbeban pajak berat, khususnya di wilayah Jiangnan, telah menyebabkan para petani meninggalkan kegiatan ekonomi. Sang Kaisar menurunkan pajak dan mengutus "koordinator agung" ke provinsi-provinsi untuk meningkatkan kinerja otoritas lokal. Para koordinator ini bertanggung jawab menangani masalah ketidakadilan dan korupsi di antara para pengumpul pajak, serta menilai kondisi satuan-satuan militer.
Kehidupan awal
Zhu Zhanji, kelak Kaisar Xuande, lahir pada tanggal 16 Maret 1399[1] sebagai putra sulung Zhu Gaochi dan Nyonya Zhang. Ayahnya merupakan putra sulung dan ahli waris Zhu Di, Pangeran Yan.[3] Keponakan Zhu Di, Kaisar Jianwen, saat itu bertakhta sebagai kaisar kedua Dinasti Ming Tiongkok. Zhu Di memberontak melawan Kaisar Jianwen pada musim panas tahun 1399, mengalahkannya dalam perang saudara selama tiga tahun, dan menjadi Kaisar Yongle pada tahun 1402.[4]
Sejak usia muda, Zhu Zhanji merupakan cucu kesayangan kakeknya, Kaisar Yongle,[5] yang bersamanya berbagi kegemaran berburu dan menunggang kuda.[6] Sang Kaisar mengizinkan cucunya mendampinginya dalam perjalanan berburu dan inspeksi militer. Pada tahun 1414, ia membawa sang pangeran bersamanya dalam kampanye militer melawan bangsa Mongol.[3] Di kemudian hari, saat menjadi kaisar, Zhu Zhanji secara pribadi berpartisipasi dalam bentrokan dengan bangsa Mongol di perbatasan utara. Dalam salah satu pertempuran tersebut, ia menunjukkan keterampilannya memanah dengan menembak beberapa prajurit Mongol.[5]
Pada tahun 1411, Zhu Zhanji diangkat sebagai Cucu Kekaisaran Ahli Waris (皇太孫; Huang Taisun), sementara ayahnya telah menjadi ahli waris takhta (皇太子; Huang Taizi) sejak tahun 1404.[7] Sekretaris Agung Hu Guang mengawasi pendidikan Zhu Zhanji dalam ajaran-ajaran Konfusian dan tata cara pemerintahan. Zhu Zhanji juga mendedikasikan dirinya untuk mempelajari ekspedisi militer.[3] Dalam intrik-intrik istana, ia secara konsisten membela ayahnya dari adik-adik sang ayah, Zhu Gaoxu dan Zhu Gaosui. Hal ini memicu kebencian mereka terhadapnya. Paman-paman Zhu Zhanji juga merasa khawatir dengan ketegasannya, kepopulerannya di mata Kaisar Yongle, serta kerja samanya yang erat dengan para sekretaris agung. Mereka takut posisi mereka sendiri akan terancam jika Zhu Zhanji kelak naik takhta.[3]
Awal masa pemerintahan
Kenaikan takhta

Pada bulan Agustus 1424, Kaisar Yongle meninggal dunia akibat strok saat kembali dari kampanye militer Mongol kelima di Stepa Mongolia. Ayah Zhu Zhanji naik takhta sebagai Kaisar Hongxi pada awal bulan September.[8] Pada tanggal 1 November 1424, ia menamai Zhu Zhanji sebagai ahli waris takhta. Pada bulan April 1425, ia mengutus sang pangeran ke Nanjing untuk melakukan persiapan pemindahan ibu kota dari Beijing. Namun, kesehatan Kaisar Hongxi memburuk dan ia memanggil sang pangeran kembali, tetapi meninggal sebelum putranya sempat kembali.[3]
Pada tanggal 27 Juni 1425, Zhu Zhanji secara resmi naik takhta kekaisaran di Beijing,[6] menjadi kaisar kelima Dinasti Ming. Ia memilih untuk membatalkan pemindahan ibu kota ke Nanjing karena keakrabannya dengan Beijing, tempat ia dibesarkan, serta keprihatinannya yang sama dengan Kaisar Yongle terhadap keamanan perbatasan utara.[9] Ia mengadopsi nama era Xuande, yang berarti "pemberitaan kebajikan".[10]
Setelah kenaikan takhtanya, para pejabat kaisar dari baru tersebut menyambutnya dengan tenang, karena ia memiliki kebijakan konservatif idealis yang sama dengan ayahnya. Ia tidak hanya seorang penulis yang terampil, tetapi juga seorang pelindung seni, dan masa pemerintahannya ditandai oleh pencapaian budaya serta politik yang signifikan.[11] Meskipun mudah marah, ia terbuka terhadap masukan.[12] Ia adalah penguasa yang bersungguh-sungguh dan berupaya menyeimbangkan pengaruh berbagai faksi di dalam elite Ming—termasuk pejabat sipil, kasim istana, dan para jenderal. Meskipun ia mampu membuat keputusan-keputusan tegas bila diperlukan, ia biasanya mengandalkan usulan-usulan dari para sekretaris agung dan menteri saat mengeluarkan dekret kekaisaran.[6] Sejarawan Frederick W. Mote menyatakan bahwa, tidak seperti para pendahulunya, Sang Kaisar menjalani kehidupan yang penuh kemewahan dan foya-foya, serta ribuan wanita dibebaskan dari istana kekaisaran setelah kematiannya.[13]
Terlepas dari hal tersebut, Kaisar Xuande berhasil menyelesaikan masalah-masalah besar selama dua tahun pertama masa pemerintahannya, termasuk pemberontakan pamannya, Zhu Gaoxu, serta perang di Đại Việt (sekarang Vietnam utara). Di bawah kekuasaannya, perbatasan utara relatif stabil, dan hubungan damai dapat dipertahankan dengan negara-negara tetangga di Asia Tengah, Timur, dan Tenggara.[11] Stabilitas ini memungkinkan berlangsungnya reformasi-reformasi internal.[3]
Pemberontakan Zhu Gaoxu
Zhu Gaoxu menentang kenaikan takhta keponakannya, tetapi tidak seperti perampasan takhta oleh Kaisar Yongle, upayanya tersebut tidak berhasil. Kaisar Yongle menyukai Zhu Gaoxu karena ketangkasan militer yang dimilikinya.[14] Zhu Gaoxu terbukti menjadi komandan yang cakap dan energik selama perang saudara tahun 1399–1402, tetapi keangkuhan dan sikap memandang rendah yang ia tunjukkan terhadap kakaknya, Kaisar Hongxi, menimbulkan ketegangan.[5] Zhu Gaoxu menjadi sakit hati ketika ia tidak ditunjuk sebagai penerus takhta pada tahun 1404. Pembangkangannya pada akhirnya berujung pada pembuangannya ke kota terpencil Le'an di Prefektur Qingzhou, Shandong.[14] Meyakini bahwa ia adalah ahli waris takhta yang sah pada tahun 1424 alih-alih kakaknya yang sakit-sakitan, ia mulai merencanakan kudeta setelah kematian kakaknya.[5] Tidak lama setelah kenaikan takhta Kaisar Xuande pada tanggal 2 September 1425, Zhu Gaoxu berupaya mengikuti jejak Kaisar Yongle dengan memberontak melawan Sang Kaisar.[14] Ia menuduh Kaisar Xuande menyalahgunakan kekuasaannya dengan mengangkat individu-individu bergelar bangsawan ke jabatan sipil serta menunjuk individu-individu yang tidak layak.[15] Karena meremehkan keponakan mudanya sebagai lawan yang tangguh, ia juga gagal menyadari kekuatan pemerintah, yang telah berfungsi secara efektif selama ketidakhadiran Kaisar Yongle dalam kurun waktu lama saat melancarkan kampanye militer di Mongolia. Lebih lanjut, ia tidak memperhitungkan penurunan signifikan atas pengaruh para pangeran yang telah dicapai oleh Kaisar Yongle. Oleh karena itu, ia berada dalam posisi yang jauh lebih lemah dibandingkan dengan posisi ayahnya pada tahun 1399.[5]
Sang Kaisar awalnya ragu-ragu, tetapi pada akhirnya tunduk pada desakan dari Sekretaris Agung Yang Rong dan penasihat lainnya, hingga akhirnya memimpin langsung ekspedisi penghukuman tersebut pada tanggal 9 September. Pasukan pelopor berkekuatan 20.000 prajurit di bawah komando Jenderal Xue Lu (薛祿; 1358–1430) mengepung Le'an pada tanggal 21 September. Meskipun pihak bertahan menolak untuk menyerah, pasukan kekaisaran berhasil merebut kota tersebut pada hari berikutnya. Zhu Gaoxu kemudian dibawa ke Beijing, diturunkan kedudukannya menjadi rakyat biasa, dan pada akhirnya disiksa hingga tewas. Selain itu, lebih dari 600 pengikutnya dieksekusi, sementara 2.200 orang lainnya diasingkan ke perbatasan. Sebuah penyelidikan mengungkap bahwa kerabat Kaisar lainnya, termasuk saudara Zhu Gaoxu, Zhu Gaosui, juga terlibat dalam pemberontakan tersebut, tetapi mereka tidak dihukum demi menjaga kewibawaan keluarga kekaisaran.[15]
Pemerintahan dan administrasi
Sekretaris agung, menteri, dan kasim
Kaisar Xuande mempertahankan para penasihat dan menteri ayahnya, tetapi beberapa jabatan mengalami perubahan fungsi. Reformasi paling signifikan dilakukan pada para sekretaris agung, yang pada masa pemerintahan Kaisar Yongle hanya memiliki peran penasihat untuk membaca korespondensi Kaisar dan menyusun draf balasan. Pada masa pemerintahan Kaisar Hongxi, mereka memperoleh pengaruh yang lebih besar dan kini diberi kekuasaan eksekutif nyata. Hal ini diresmikan dengan menganugerahkan mereka gelar menteri–Yang Shiqi menjadi menteri perang, Huang Huai menjadi menteri pendapatan, dan Jin Youzi (金幼孜) menjadi menteri upacara. Berkat pengabdian panjang mereka kepada negara, Kaisar Xuande sangat menghormati dan memercayai mereka.[9] Para sekretaris agung yang menjabat selama masa pemerintahannya meliputi Yang Rong, Yang Shiqi, Jin Youzi, Huang Huai, Yang Pu, Zhang Ying (張瑛), Quan Jin (權謹), dan Chen Shan (陳山).[16][17][18][e] Penasihat dekat Sang Kaisar lainnya meliputi Menteri Personalia Jian Yi (蹇義)[f] dan Menteri Pendapatan Xia Yuanji.[9][20][g] Bahkan setelah kematian Kaisar Xuande, komposisi pejabat paling berpengaruh dan para sekretaris agung tetap tidak berubah. Kelompok orang yang sama mendominasi pimpinan tertinggi pemerintahan dari tahun 1424 hingga awal dekade 1440-an.[21]
Sang Kaisar menetapkan proses baik untuk dekret-dekret rutin maupun penting, yang di dalamnya para sekretaris agung akan meninjau dan mengevaluasi usulan-usulan dari berbagai lembaga. Para sekretaris kemudian melampirkan rekomendasi mereka untuk menyelesaikan masalah pada dokumen-dokumen tersebut, yang biasanya disetujui oleh Sang Kaisar dan dikirim ke kementerian-kementerian terkait untuk dilaksanakan. Keputusan-keputusan penting pemerintah dibuat dalam pertemuan antara Sang Kaisar dan para sekretaris agung,[9] yang di dalamnya Sang Kaisar mendiskusikan dan menandatangani rancangan dekret-dekretnya. Para menteri bertanggung jawab untuk menjalankan dekret-dekret ini. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan fleksibel, karena para sekretaris tidak perlu lagi berkonsultasi dengan para menteri sebelumnya.[22]

Pada saat yang sama, pengaruh para kasim istana kian tumbuh. Kaisar pendiri Ming, Hongwu, melarang para kasim berkomunikasi dengan otoritas pemerintah, dan bahkan Kaisar Yongle mempertahankan kendali ketat atas mereka. Sebaliknya, Kaisar Xuande memberi mereka pendidikan dan lebih banyak memanfaatkan mereka dalam korespondensi rahasia.[22] Meskipun mendapat penentangan dari para pejabat, kegiatan para kasim terus berkembang pesat, yang memberi manfaat bagi proyek-proyek pribadi Sang Kaisar seperti penebangan kayu dan pembuatan kapal.[21] Dalam situasi ketika Sang Kaisar tidak menyetujui gagasan para sekretaris agung, ia akan menggunakan para kasim untuk menyampaikan perintahnya ke cabang-cabang administrasi negara yang lebih rendah. Karena para menteri tidak mempertanyakan perintah Sang Kaisar,[22] para kasim mampu memberikan perintah kepada para menteri atas nama penguasa tanpa sepengetahuan kaisar. Mereka pada akhirnya berada dalam posisi untuk mengeksploitasi kekuasaan yang secara tradisional dikhususkan bagi kaisar dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, Kaisar Xuande tetap mempertahankan kendali atas para kasim dan tidak ragu untuk mengeksekusi mereka jika mereka melampaui batas kewenangannya. Dalam jangka panjang, pendekatan ini memungkinkan para kasim untuk mengeksploitasi kekuasaan mereka jika kaisar yang kurang tegas memegang kekuasaan.[14]
Sensorat, administrasi provinsi, dan angkatan perang


Dalam hal politik dalam negeri, Sang Kaisar berfokus pada penerapan reformasi di Sensorat, administrasi lokal, dan angkatan perang. Tujuan utamanya adalah untuk menegakkan disiplin dan ketertiban dalam administrasi negara. Ia juga menaruh perhatian besar pada kasus-kasus kriminal yang menonjol dan sering kali memerintahkan peninjauan ulang atas putusan-putusan hukum, yang membuahkan keadilan bagi ribuan orang yang tidak bersalah.[23] Pada bulan Agustus 1428, ia menggantikan Liu Quan (劉觀), yang telah memimpin Sensorat sejak tahun 1415, dengan Gu Zuo (顧佐), seorang pejabat yang dikenal atas integritasnya. Dalam waktu beberapa bulan, Gu memberhentikan 43 inspektur dari kantor-kantor di Beijing dan Nanjing, dan Liu Quan sendiri dijatuhi hukuman atas berbagai penyalahgunaan kekuasaan. Sensorat mengalami reorganisasi, dengan perubahan yang dibuat pada prosedur-prosedur serta peningkatan pada wewenang para inspektur. Selain itu, komisioner-komisioner ditunjuk untuk mengawasi lahan pertanian militer, proyek-proyek konstruksi besar, dan kamp-kamp pelatihan militer di dekat Beijing, serta untuk mengelola pajak di Nanzhili. Pajak-pajak ini dikumpulkan dalam bentuk produk, utamanya beras, yang sangat penting bagi kecukupan gizi rakyat Beijing.[24]
Setelah pembersihan pada tahun 1428, para inspektur menjadi lebih efisien dan terbuka. Hal ini terlihat jelas dari pemeriksaan menyeluruh yang mereka lakukan terhadap seluruh cabang administrasi negara, baik sektor sipil maupun militer. Lebih dari 240 pejabat diberhentikan antara tahun 1424 dan 1434, yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah pemberhentian pada dekade sebelumnya.[24] Meskipun para pejabat dan inspektur yang menyalahgunakan kekuasaan mereka dijatuhi hukuman, mereka tidak dieksekusi.[24][23]
Selama masa pemerintahan Kaisar Xuande, administrasi regional menyaksikan penempatan rutin para koordinator agung (xunfu). Para pejabat ini bertanggung jawab mengoordinasikan kerja tiga kantor tingkat provinsi—sipil, militer, dan pengawasan. Praktik menempatkan koordinator dalam administrasi regional bukanlah hal baru, karena kaisar-kaisar sebelumnya juga telah mempekerjakan mereka. Sebagai contoh, Kaisar Hongwu telah mengutus ahli warisnya, Zhu Biao, untuk "berkeliling dan menenangkan", sementara Kaisar Yongle telah mengutus Kaisar Hongxi dan Kaisar Xuande ke provinsi-provinsi. Pada tahun 1421, Kaisar Yongle bahkan mengutus 26 pejabat tinggi pemerintah ke provinsi-provinsi. Kaisar Xuande memperluas praktik ini dengan mengutus para pejabat tersebut untuk tugas-tugas jangka panjang, alih-alih hanya sekali seperti para pendahulunya.[25] Sebagai contoh, pada bulan September 1425, ia mengutus dua komisioner ke Nanzhili dan Zhejiang,[26] dan pada tahun 1430, mereka diutus ke Hunan, Shanxi, dan Sichuan.[24] Mereka juga dikirim ke Jiangxi dan Shaanxi sekitar tahun 1426.[27]
Peran koordinator agung bukanlah suatu fungsi independen, melainkan mandat yang dibebankan kepada pejabat-pejabat tinggi dari otoritas pusat. Biasanya, para pejabat ini memegang pangkat wakil menteri, khususnya di bidang militer, dan di kemudian hari juga memegang posisi tinggi di Sensorat. Mereka juga memegang pangkat (ko-)pengawas urusan militer.[28] Hal ini memberi mereka wewenang untuk mengawasi kantor-kantor sipil, militer, dan pengawasan. Hasil langsung dari penerapan koordinator agung ini adalah pengalihan komando atas pasukan di provinsi-provinsi ke tangan sipil.[27] Sistem koordinator agung mencapai bentuk akhirnya selama era Zhengtong (1436–1449),[28] ketika mereka ditempatkan di seluruh provinsi kecuali Fujian dan enam dari sembilan garnisun perbatasan di perbatasan utara.[27]
Masalah-masalah yang cukup besar terus berlanjut di dalam angkatan perang selama periode ini. Para perwira korup diketahui membawa prajurit wajib militer yang miskin untuk kampanye militer, sembari mengizinkan orang-orang kaya menghindari dinas militer dengan membayar sejumlah uang. Para perwira ini juga menggelapkan gaji para prajurit dan memanfaatkan mereka sebagai pelayan pribadi.[28] Pasokan dari lahan pertanian militer juga menjadi masalah utama, karena produksinya sering kali merosot dan menyulitkan perlengkapan angkatan perang secara memadai.[29] Selain itu, para perwira yang cakap memiliki kesempatan yang terbatas untuk naik jabatan pada masa damai, sehingga angkatan perang dipimpin oleh individu-individu yang mewarisi posisi mereka tanpa berdasarkan jasa. Para komandan ini, yang tidak pernah mengalami perang secara langsung, sering kali mengabaikan pelatihan prajurit secara layak dan sebaliknya memanfaatkan mereka untuk keperluan pribadi mereka sendiri.[26] Hal ini menyebabkan penurunan disiplin, peningkatan kasus disersi, dan penurunan kekuatan angkatan perang secara keseluruhan.[28]
Sebagai upaya untuk menangani masalah-masalah ini, pejabat-pejabat inspeksi ditunjuk pada tahun 1427 untuk memverifikasi kondisi dan jumlah detasemen angkatan perang serta memulihkan disiplin, tetapi upaya mereka sebagian besar tidak efektif. Markas besar militer lokal juga berada di bawah pengawasan otoritas pengendali, tetapi hal ini juga tidak memberi dampak yang berarti.[26] Pada tahun 1429, Sang Kaisar berupaya mendongkrak moral dengan menggelar parade militer besar-besaran bersama satuan-satuan pengawal dari garnisun Beijing dan tiga kamp pelatihan yang terletak di sekitar Beijing, tetapi hal ini tidak berdampak signifikan terhadap moral angkatan perang. Tahun-tahun perdamaian telah menyebabkan penurunan kualitas pelatihan, dan kelonggaran Sang Kaisar terhadap perwira-perwira yang bersalah semakin memperburuk keadaan. Konsekuensi dari penurunan kekuatan angkatan perang ini tidak sepenuhnya disadari hingga tahun 1449, pada Pertempuran Tumu,[29] ketika bangsa Mongol mampu mengalahkan pasukan Ming yang dipimpin oleh Kaisar Yingzong dan bahkan menawan Sang Kaisar.[26]
Kebijakan ekonomi
Keuangan dan mata uang
Pada akhir dekade 1420-an, pemerintahan Kaisar Xuande menghadapi tantangan keuangan yang signifikan. Perang yang sedang berlangsung di Đại Việt menguras sejumlah besar sumber daya, dan hilangnya kekayaan mineral di kemudian hari semakin memperburuk situasi. Penetapan pajak dan pungutan yang tinggi memberikan beban yang sangat berat bagi perekonomian wilayah-wilayah kaya di Tiongkok, yang berujung pada penurunan pendapatan pemerintah.[30] Sebagai contoh, Suzhou, pusat perekonomian Tiongkok, menunggak pembayaran pajaknya selama tiga tahun pada akhir dekade 1420-an.[31] Selain itu, profitabilitas tambang perak dan tembaga merosot pada awal dekade 1430-an.[30] Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini, pemerintah berupaya mempromosikan penggunaan uang kertas, mengurangi dan mereformasi pajak, serta membatasi pengeluaran pemerintah.[31]
Kaisar Hongwu menetapkan uang kertas, yang dikenal sebagai uang kertas baochao, sebagai bentuk mata uang utama. Untuk transaksi yang lebih kecil, koin tembaga juga digunakan, yang diedarkan bersamaan dengan uang kertas negara selama era Yongle.[32] Namun, baik koin maupun tembaga yang digunakan untuk membuatnya berada dalam pasokan yang terbatas. Sebaliknya, pemerintah mencetak uang kertas dalam jumlah besar, yang menyebabkan nilainya merosot dengan cepat. Pada tahun 1425, uang kertas baochao hanya bernilai 2% dari nilai nominalnya.[32] Dalam upaya yang tidak berhasil untuk mempromosikan mata uang kertas, Kaisar Hongxi menutup tambang-tambang logam mulia, tetapi pemerintah Xuande mengizinkan pemulihan sebagian aktivitas pertambangan.[33]
Kaisar Xuande dan para penasihatnya menerapkan berbagai tindakan dalam upaya mendukung perekonomian negara. Salah satu tindakan tersebut adalah penekanan terhadap penggunaan koin tembaga, yang dianggap sebagai saingan bagi uang kertas. Koin tembaga hampir sepenuhnya ditarik dari peredaran.[32] Selain itu, Menteri Pendapatan Xia Yuanji mengusulkan solusi untuk mengatasi penurunan nilai uang kertas pemerintah dengan menaikkan pajak usaha dan hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas pemerintah, tetapi pendekatan ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan.[34] Pemerintah kemudian beralih ke strategi yang lebih berhati-hati, yaitu menjual lisensi perdagangan garam yang dibayar dengan uang kertas negara. Langkah ini juga gagal meningkatkan nilai uang kertas negara tersebut.[35] Pemerintah memperkenalkan biaya perdagangan dan bea cukai baru di Terusan Besar, yang hanya dapat dibayar dengan uang kertas, tetapi biaya-biaya ini berdampak negatif terhadap perdagangan.[32] Terdapat penentangan keras terhadap biaya-biaya ini dan pada akhirnya dihapuskan setelah beberapa tahun. Terlepas dari upaya pemerintah, langkah-langkah ini tidak secara efektif mendukung perekonomian negara.[36] Nilai uang kertas terus merosot.[34] Pada dekade 1430-an, uang kertas tidak lagi digunakan dalam peredaran umum dan hanya digunakan secara terbatas untuk membayar gaji pegawai. Uang kertas juga ditarik sebagai bentuk pembayaran wajib untuk biaya perdagangan. Perubahan-perubahan ini nyaris tidak berdampak pada perekonomian negara.[37]
Ketidakpercayaan yang meluas terhadap mata uang kertas serta kelangkaan koin menyebabkan berkembangnya perdagangan menggunakan perak. Meskipun pemerintah menentang penggantian koin tembaga dan mata uang kertas dengan perak, upaya-upaya untuk melarang penggunaan perak dalam transaksi komersial tidak berhasil,[38] tetapi perak saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Perak utamanya digunakan untuk pembayaran berskala besar dan pembayaran pajak, sementara koin tembaga tetap menjadi mata uang pilihan untuk transaksi-transaksi yang lebih kecil di kawasan perkotaan.[37]
Pada tahun 1433, pemerintah Xuande menutup tempat-tempat pencetakan koin, yang menyebabkan gangguan di seluruh kawasan mulai dari Jepang hingga Jawa. Penghentian produksi koin ini memicu lonjakan koin palsu dan penimbunan logam mulia.[39] Meskipun para pejabat di Beijing merasa tidak puas, mereka tidak mampu menekan peredaran koin yang diproduksi oleh pengusaha swasta, tetapi mereka juga tidak mengambil keputusan untuk memulihkan kembali produksi koin oleh negara.[37] Menjelang akhir era Xuande, pemerintah mulai mentoleransi penggunaan perak. Pada tahun 1433, Gubernur Nanzhili Zhou Chen (周忱) mulai mengumpulkan pajak tanah dalam bentuk perak di prefektur-prefektur terbeban paling berat di Jiangnan.[35]
Perpajakan di Jiangnan dan kekaisaran
Salah satu bidang yang menjadi fokus reformasi Sang Kaisar adalah kebijakan fiskal, khususnya di Jiangnan. Wilayah ini, yang mencakup prefektur-prefektur seperti Suzhou, Hangzhou, Songjiang, Jiaxing, dan Zhenjiang, menyumbang porsi signifikan dari pajak tanah kekaisaran, yaitu mencapai seperempat dari jumlah keseluruhan[40] (meskipun Dinasti Ming memiliki hampir 160 prefektur). Di Prefektur Suzhou saja, bahkan setelah pengurangan tarif pajak pada tahun 1393, pajak tanah masih menyumbang hampir sepersepuluh dari total kuota pajak kekaisaran, setara dengan 2,81 juta dan beras (dengan 1 dan setara dengan 107,4 liter). Selain itu, Prefektur Songjiang menyumbang 4,14% dari total kuota pajak.[41]
Selama masa pemerintahan Kaisar Yongle, negara mengalami peningkatan pendapatan pajak tanah sebesar 10 persen, yang kemungkinan didistribusikan secara merata di seluruh negeri. Namun, peningkatan pajak ini terbukti terlalu berat bagi para petani di Suzhou dan Songjiang, yang berujung pada meningkatnya tunggakan pajak. Seolah belum cukup, bencana alam melanda menjelang akhir era Yongle, menyebabkan semakin banyak petani yang meninggalkan tanah mereka. Pada tahun 1422–28, jumlah tunggakan pajak telah mencapai beberapa juta dan beras setiap tahunnya.[41] Hal ini mengancam secara serious pasokan bagi Beijing, yang bergantung pada beras pajak yang dikirim dari Jiangnan melalui Terusan Besar. Dalam upaya untuk mempertahankan pasokan beras yang stabil, pemerintah memutuskan untuk mengurangi pajak dan mengampuni sebagian tunggakan. Pada bulan Agustus 1426, komisioner kekaisaran Zhou Gan (周干) ditugaskan untuk menyelidiki situasi di lapangan. Ia mengusulkan rencana untuk mengurangi pajak, memberantas korupsi dalam pengumpulan pajak, dan meningkatkan administrasi lokal dengan bantuan para ahli yang dikirim dari kantor pusat, yang dipimpin oleh seorang komisioner khusus.[41] Meskipun para sekretaris agung mendukung pengurangan pajak, Kementerian Pendapatan berhasil menunda pelaksanaannya selama empat tahun. Akhirnya, pada bulan Mei 1430, dekret kekaisaran yang relevan pun dikeluarkan.[42]
Pada bulan Oktober 1430, Sang Kaisar mengutus sekelompok pejabat tinggi (zongdu) untuk mengawasi pengumpulan pajak. Di antara mereka adalah Wakil Menteri Kiri Pekerjaan Umum Zhou Chen, yang dikirim ke Nanzhili. Bersama dengan Kuang Zhong (况钟), prefek Suzhou sejak bulan Juni 1430, mereka memainkan peranan penting dalam menerapkan reformasi perpajakan di Jiangnan. Selama kunjungan mereka, mereka menyaksikan dampak dari migrasi berskala besar dari wilayah tersebut, dengan beberapa daerah kehilangan hingga 90 persen dari populasi petani mereka. Rumah tangga yang tersisa dibebani dengan jumlah total pajak yang sama. Untuk mengatasi masalah ini, Zhou Chen memperkenalkan lima langkah utama:
- penyatuan ukuran dan timbangan untuk mencegah para pengumpul pajak melakukan kecurangan;
- di setiap kabupaten, gudang-gudang dibangun untuk mengumpulkan beras pajak; sebelumnya, beras disimpan di lumbung-lumbung oleh kapitan pajak (tuan tanah yang bertanggung jawab mengangkut beras dari desa-desa ke lokasi yang ditentukan, seperti ibu kota);[42]
- pemerintah memperkenalkan pajak tambahan yang diperuntukkan untuk menutup biaya transportasi di sepanjang Terusan Besar menuju Beijing, sehingga meringankan beban para pembayar pajak yang kini hanya mengangkut beras hingga ke terusan, alih-alih sampai ke Beijing;
- di setiap kabupaten, memulihkan lumbung-lumbung penyokong tempat hasil panen surplus disimpan pada tahun-tahun subur untuk mengantisipasi bencana kelaparan;
- memperkenalkan pengumpulan sebagian pajak bukan dalam bentuk beras, melainkan perak[h] dan kain, yang menguntungkan baik bagi pembayar pajak maupun pemerintah, serta di wilayah-wilayah selatan kekaisaran, hal ini memicu monetisasi perekonomian dan industri tekstil.[43]
Istana pada umumnya menyetujui usulan-usulan Zhou Chen dan Kuang Zhong, tetapi Kementerian Pendapatan memblokirnya. Baru pada tahun 1433 mereka menerima persetujuan kekaisaran untuk mengurangi pajak di Suzhou sebesar seperempat. Reformasi-reformasi lain dengan arah yang sama berlanjut setelah tahun 1436.[43]
Selama bencana alam dan wabah penyakit, pemerintah Xuande bertindak cepat untuk membantu rakyat. Komisioner yang ditunjuk secara khusus mengawasi pembagian bahan pangan dari persediaan pemerintah, serta menerapkan pengurangan pajak tanah sebesar 20–40% dan mengampuni pajak-pajak lainnya untuk jangka waktu satu hingga dua tahun. Tindakan-tindakan ini mendapat pujian tinggi dan dicatat dalam sejarah resmi dinasti tersebut.[44]
Jika dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya, pendapatan pajak tanah selama era Xuande turun menjadi 30 juta dan beras, yaitu 8% lebih rendah daripada era Hongxi dan 5% lebih rendah daripada era Yongle. Tren ini berlanjut pada era Zhengtong (1436–1449) dengan pengurangan lebih lanjut sebesar 10–15%. Pada akhir masa Dinasti Ming, pajak tanah tetap berada di angka 25–28 juta dan.[44] Pengurangan pengeluaran ini memungkinkan negara untuk mempertahankan anggaran yang seimbang selama era Xuande, suatu pencapaian yang tidak selalu berhasil diraih pada era-era setelahnya.[44]
Kebijakan luar negeri
Đại Việt
Pada tahun-tahun awal era Xuande, sebuah masalah utama adalah perang yang sedang berlangsung di Đại Việt, yang saat itu dikelola oleh Ming sebagai Provinsi Jiaozhi, yang telah dimulai sejak tahun 1408. Pada tahun 1425, pasukan Ming, yang dipimpin oleh komandan yang baru ditunjuk Li An (李安) dan Chen Zhi, menderita beberapa kekalahan di tangan bangsa Viet, yang dipimpin oleh Lê Lợi. Sang Kaisar menunjuk komandan baru, Wang Tong (王通), dan kepala administrasi sipil yang baru, Menteri Chen Qia (陳洽),[45] pada bulan Mei 1426. Ketika berkonsultasi dengan para penasihatnya, Sang Kaisar mengungkapkan kecenderungannya untuk mengakhiri konflik dan memberikan pemerintahan mandiri kepada bangsa Viet,[15] mengingat kembali larangan Kaisar Hongwu untuk menginvasi Đại Việt atau tujuan awal Kaisar Yongle untuk memulihkan Dinasti Trần. Menteri Jian Yi dan Xia Yuanji mengusulkan penggunaan kekuatan militer untuk menumpas perlawanan Viet, sementara para sekretaris agung Yang Shiqi dan Yang Yong menyarankan penarikan diri dari Đại Việt, tetapi karena adanya perbedaan pendapat, pertemuan tersebut berakhir tanpa keputusan.[46]
Pada musim dingin tahun 1426, pasukan Ming menderita kerugian besar berupa 20.000–30.000 prajurit akibat serangan-serangan Viet.[46] Untuk menghadapi ancaman ini, Sang Kaisar mengeluarkan perintah pada bulan Januari 1427 kepada Mu Sheng, komandan pasukan Yunnan, untuk menghimpun angkatan perang di Yunnan dan membawanya ke Đại Việt. Selain itu, Liu Sheng (柳升) ditugaskan untuk memimpin angkatan perang kedua dari Guangxi. Huang Fu (黃福) yang berpengalaman—sebelumnya mengelola provinsi tersebut dari tahun 1407 hingga 1424—ditunjuk untuk mengawasi administrasi sipilnya. Sementara itu, Lê Lợi terus memperluas operasinya ke Lembah Sungai Merah, memicu ancaman bagi ibu kota provinsi Đông Quan (sekarang Hanoi).[45] Meskipun demikian, garnisun Ming berhasil bertahan dari serangan di Đông Quan, tetapi akibat ketidakmampuan Wang Tong, pasukan Ming gagal memanfaatkan keberhasilan mereka, sehingga memungkinkan bangsa Viet bersiap menghadapi kedatangan pasukan bantuan.[47]
Pada tanggal 30 September 1427, pasukan Liu Sheng mencapai perbatasan, tempat Lê Lợi secara tak terduga mengusulkan penyerahan kekuasaan kepada Trần Cảo, seorang keturunan Dinasti Trần. Usulan ini diajukan dengan syarat bahwa Trần Cảo akan memerintah di bawah pertuanan Tiongkok. Namun, Lê Lợi memiliki niat tersembunyi dan segera memancing pasukan Liu Sheng ke dalam jebakan, yang berujung pada kekalahan telak. Pasukan Tiongkok menderita kerugian berat, dengan sekitar 70.000 prajurit tewas. Setelah bencana ini, Wang Tong, tanpa sepengetahuan Sang Kaisar, menerima usulan Lê Lợi dan mulai menarik mundur pasukan dari Đại Việt pada tanggal 12 November.[46] Mu Sheng telah mencapai hulu Sungai Merah dan mulai membangun kapal-kapal untuk bergerak maju ke hilir. Setelah mengetahui penarikan mundur Wang Tong, ia mundur kembali ke Tiongkok.[47]
Pada tanggal 16 November 1427, Kaisar Xuande diberi tahu mengenai tawaran Lê Lợi. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di antara para penasihatnya, Sang Kaisar dengan cepat memutuskan untuk menerima usulan tersebut pada tanggal 20 November. Sebuah delegasi segera dikirim ke Đại Việt untuk menegosiasikan rinciannya.[46] Langkah ini dipandang sebagai bentuk penyerahan diri oleh pihak Ming setelah kekalahan mereka dalam pertempuran, yang memperkokoh wibawa Lê Lợi. Berupaya mendapatkan pengakuan sebagai raja, Lê Lợi memberi tahu para negosiator bahwa Trần Cảo telah meninggal dunia, dan bersamanya berakhirlah garis keturunan kerajaan Trần. Ia juga menolak memulangkan para tawanan dan pejabat Tiongkok.[48] Namun, Kaisar Xuande menolak untuk mengakui Lê Lợi sebagai penguasa Đại Việt dan menuntut dikembalikannya Dinasti Trần. Ia hanya menunjuk Lê Lợi sebagai administrator negara pada tahun 1431 setelah Lê Lợi mengiriminya surat yang rendah hati. Pemerintah Beijing secara resmi mengakui putra Lê Lợi dan memberinya gelar kerajaan pada bulan November 1436, setelah kematian Kaisar Xuande.[46]
Penarikan diri Ming dari Đại Việt merupakan pukulan bagi harga diri dan wibawa mereka, tetapi hal ini juga memberikan keringanan keuangan yang sangat dibutuhkan.[24] Bagi bangsa Viet, ini adalah kemenangan signifikan yang meninggalkan dampak bertahan lama bagi kebudayaan dan negara mereka. Kekuasaan dan pendidikan Ming selama dua dekade mengubah Đại Việt. Peperangan jangka panjang ini juga menghasilkan angkatan perang Viet yang kuat dan efisien, di mana kekuatannya memberikan dampak besar bagi kerajaan Champa di selatan pada dekade-dekade berikutnya.[49]
Asia Tenggara dan Samudra Hindia

Utusan dari negara-negara Asia Tenggara, seperti Champa, Jawa, Ayutthaya, dan Sumatra, secara teratur mengunjungi Beijing,[50] tetapi tidak ada utusan dari pesisir Samudra Hindia.[51] Larangan perdagangan tanpa izin dan perjalanan ke luar negeri bagi para kawula negara masih berlaku, tetapi tidak ditegakkan secara efektif.[50] Pejabat-pejabat pemerintah[i] sangat menentang pelayaran jarak jauh dan memengaruhi Sang Kaisar untuk membatalkan program pembuatan kapal pada tahun 1429, yang dipimpin oleh para kasim Kaisar.[51] Beberapa bulan kemudian, setelah kematian salah seorang penentang utama pelayaran tersebut, Xia Yuanji, Sang Kaisar mengubah pikirannya. Ekspedisi besar terakhir Zheng He berlangsung pada tahun 1430–33, yang kemungkinan bertujuan untuk memulihkan wibawa kekaisaran setelah penarikan diri mereka dari Đại Việt.[50] Zheng He membawa utusan-utusan dari Sri Lanka, Kochi, Kalikut, Hormuz, Aden, pesisir Afrika Timur, dan negara-negara lain ke Tiongkok, yang menyenangkan hati Sang Kaisar.[51]
Setelah kematian Kaisar Xuande, pihak Ming tidak lagi melakukan ekspedisi jarak jauh lainnya. Ekspedisi-ekspedisi ini hanya didukung oleh para kasim istana, karena para pejabat Konfusian sangat menentangnya. Dengan dibukanya kembali Terusan Besar, kebutuhan untuk mengangkut beras melalui jalur laut ke utara menghilang, sehingga mendorong para pejabat untuk memandang ekspedisi angkatan laut sebagai petualangan kekaisaran yang mahal dan tidak perlu.[51] Dalam jangka panjang, keputusan ini memperlemah moral dan kekuatan armada Ming, yang membuat mereka di kemudian hari tidak mampu menangani bajak laut wokou secara efektif.[51] Selain itu, hal tersebut berdampak negatif pada pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara dan Samudra Hindia.[50] Berakhirnya periode Ming awal menandai berakhirnya dominasi Tiongkok selama 300 tahun di lautan Asia Timur.[51]
Mongolia
Selama era Xuande, terdapat ketenangan yang relatif di perbatasan utara. Suku Jurchen, yang tinggal di kawasan Manchuria saat ini, mengakui kedaulatan Ming dan tidak menentang ekspedisi-ekspedisi yang dipimpin oleh kasim Yishiha. Ekspedisi-ekspedisi ini bahkan mencapai muara Sungai Amur.[52] Toghon memimpin bangsa Oirat Mongol Barat. Arughtai memerintah bangsa Mongol Timur tetapi tidak mendapatkan pengakuan dari bangsa Mongol Uriankhai di bagian tenggara Mongolia. Oleh karena itu, ia mempertahankan hubungan baik dengan Dinasti Ming dan melakukan perdagangan, menukarkan kuda dengan sutra dan teh.[53]
Pada bulan Oktober 1428, orang-orang Uriankhai diketahui sesekali menyerbu wilayah perbatasan, tetapi mereka berhasil dihalau selama inspeksi yang di dalamnya 3.000 prajurit mendampingi Sang Kaisar. Pada bulan Mei 1430, pihak Tiongkok telah memperkuat kota-kota di sepanjang perbatasan antara Tiongkok dan stepa (di sepanjang wilayah yang kelak menjadi Tembok Besar Tiongkok) di sebelah selatan Kaiping (sebelumnya merupakan ibu kota Yuan, Shangdu, dan garnisun terakhir Ming di stepa) dan kemudian menarik diri dari sana. Hal ini memperpendek garis perbatasan dan memberikan kelegaan bagi pasukan yang kelelahan, tetapi di kemudian hari dikritik oleh para sejarawan. Pergeseran perbatasan ke arah selatan ini serta hilangnya pangkalan di stepa membuat pihak Tiongkok jauh lebih sulit untuk melancarkan serangan terhadap bangsa Mongol.[54]
Pemerintah Ming berharap bahwa bangsa Mongol Timur akan mampu mengalahkan bangsa Oirat, tetapi bangsa Oirat terbukti lebih kuat dan melancarkan serangan berulang kali terhadap bangsa Mongol Timur. Pada bulan September 1434, bangsa Oirat berhasil mengalahkan dan membunuh Arughtai. Setelah kemenangan ini, Toghon mempertahankan hubungan yang baik dengan Dinasti Ming.[54]
Jepang dan Korea
Kaisar Xuande berulang kali berupaya menjalin hubungan dengan Jepang, tetapi shogun Ashikaga Yoshimochi (m. 1394–1428) menolak keras komunikasi apa pun.[55] Namun penerusnya, Yoshinori (m. 1429–1441), sangat tertarik pada perdagangan dengan Tiongkok. Pada tahun 1432, melalui perantara raja Kepulauan Ryukyu, utusan Ming tiba di istana shogun.[j] Delegasi Jepang pertama tiba di Tiongkok pada bulan Juni 1433, membawa kuda, baju zirah, pedang, dan barang-barang lainnya.[55] Mereka juga membawa 2,6 ton tembaga.[56] Pemerintah Ming membayar barang-barang ini dengan uang kertas (baochao), dan pihak Jepang segera menukarkan seperlima dari uang kertas tersebut dengan sutra dan sisanya dengan koin tembaga.[57]
Otoritas Ming hanya menerima pedagang Jepang di pelabuhan Ningbo.[21] Setelah tahun 1433, delegasi Jepang yang tiba di Tiongkok utamanya terdiri dari agen-agen tuan tanah feodal, biara, dan kuil yang sangat ingin mengakses pasar Tiongkok. Bersama dengan barang-barang mewah, mereka khususnya tertarik pada koin tembaga Tiongkok.[58] Perdagangan ini terbukti sangat menguntungkan bagi pihak Jepang, yang mengarah pada hubungan yang bertahan lama antara kedua negara hingga tahun 1529. Namun, sering terjadi perselisihan mengenai penilaian harga barang-barang Jepang, dan pemerintah Ming kerap mengeluhkan ketidakmampuan pemerintah Jepang dalam mengendalikan pembajakan.[21] Meskipun demikian, para shogun tidak mampu bertindak secara efektif melawan para bajak laut karena kurangnya sumber daya.[55]
Hubungan dengan Korea pada umumnya damai, dengan delegasi rutin yang bepergian di antara kedua ibu kota.[59] Menurut catatan-catatan Tiongkok, Sang Kaisar sering meminta kuda dari orang-orang Korea, sembari meminta mereka untuk tidak mengirimkan emas, perak, atau hadiah-hadiah tidak biasa lainnya yang tidak diproduksi di negara mereka. Selain itu, Sang Kaisar menolak permohonan untuk menerima murid-murid Korea ke Universitas Kekaisaran di Beijing, dan sebagai gantinya mendonasikan sekumpulan karya klasik Konfusianisme dan literatur sejarah kepada Korea. Sementara deskripsi resmi Tiongkok mengenai hubungan tersebut menekankan penghormatan bersama, catatan-catatan Korea menyoroti motif pribadi Sang Kaisar atas permintaan-permintaannya—termasuk keinginan akan wanita,[k] burung alap-alap, anjing pemburu, harimau, juru masak, dan kasim.[59]
Sang Kaisar sebagai seniman
Kaisar Xuande menggabungkan keutamaan seorang kesatria dan cendekiawan Tiongkok.[13] Ia adalah seorang seniman dan penyair berbakat, serta sering kali lebih menikmati seni dan waktu luang daripada tugas-tugasnya sebagai penguasa.[6] Ia dikenal atas keterampilannya dalam kaligrafi, puisi, penulisan, dan seni lukis. Ia melukis pemandangan alam, tokoh, "rumput dan serangga", serta sangat menyukai genre "bunga dan burung".[60] Ia sangat terampil dalam menggambarkan hewan, khususnya anjing.[13] Ia menimba inspirasi dari teknik dan gaya para pelukis terpelajar pada zamannya, khususnya Xia Chang.[61] Ia biasanya menggunakan tinta tanpa menggunakan warna, memilih subjek-subjek dengan makna simbolis dan alegoris.[60] Ia dianggap sebagai pelukis terbaik di antara kaisar-kaisar Tiongkok sejak Kaisar Huizong dari Song (m. 1100–1126).[13]
Beberapa karya Kaisar Xuande disimpan oleh lembaga-lembaga bergengsi seperti Museum Istana Nasional di Taipei, Museum Istana di Beijing, dan sebelumnya di Museum Arthur M. Sackler (sebuah divisi dari Museum Seni Harvard) di Cambridge, Massachusetts. Pada tahun 2007, Robert D. Mowry, kurator Koleksi Seni Tiongkok di Museum Arthur M. Sackler, mendeskripsikannya sebagai "satu-satunya kaisar Ming yang menunjukkan bakat dan minat seni yang sejati".[62] Orientalis Belanda Robert van Gulik (1910–1967) memuji salah satu lukisan Kaisar Xuande, Gibbons at play, sebagai karya yang "dilukis dengan mahir" meskipun "bukanlah karya yang indah". Lukisan-lukisan yang bernyawa tersebut menunjukkan bahwa Sang Kaisar melukis dari hewan-hewan asli (termasuk anjing, owa, dan kucing), yang kemungkinan dipelihara di taman-taman istana.[63][64]
Kaisar tidak hanya berkecimpung dalam dunia seni, tetapi ia juga secara aktif mendukung dan memengaruhi tren artistik pada zamannya. Ia menilai secara pribadi karya-karya pelukis yang melamar posisi di istana dan bertujuan untuk mengangkat lukisan istana ke tingkat puncak kebudayaan era Song pada awal abad ke-12.[60] Ia juga mendukung secara finansial beberapa kaligraf dan pelukis, seperti Shang Xi, dengan menunjuk mereka sebagai perwira Pengawal Kekaisaran.[65] Masa pemerintahannya juga terkenal atas kerajinan tangan yang luar biasa pada perunggu dan porselen, khususnya porselen biru dan putih Jingdezhen yang terkenal.[13]
- Lukisan-lukisan Kaisar Xuande
- Tikus dan Batu (苦瓜鼠圖; 1427), Museum Istana, Beijing
- Dua Anjing Saluki (猎犬圖; 1427), Museum Seni Harvard, Amerika Serikat
- Tiga Yang [Kambing], Awal yang Baik (三陽開泰; 1429), Museum Istana Nasional
- Tiruan Kekaisaran atas Lukisan Bunga dan Burung Karya Huang Quan (御臨黃筌花鳥; 1429), Museum Istana Nasional
- Peoni Kekayaan dan Kemakmuran dalam Pot (壺中富貴圖; 1429), Museum Istana Nasional
Kematian dan suksesi
Pada musim gugur dan musim dingin tahun 1434, Sang Kaisar memimpin suatu detasemen militer dalam sebuah tur di perbatasan utara, tetapi sekembalinya ke Beijing, ia jatuh sakit.[67] Ia sakit selama hampir dua bulan,[12] hingga meninggal dunia secara mendadak pada tanggal 31 Januari 1435.[68] Ia meninggal dunia di Istana Kemurnian Surgawi, Kota Terlarang.[69] Ia dianugerahi nama anumerta Kaisar Zhang (章帝; 'Kaisar Termasyhur') dan nama kuil Xuanzong (宣宗; 'Leluhur yang Tajam Pemikirannya').[68] Ia dimakamkan di Makam Jing di kompleks Makam Dinasti Ming di dekat Beijing.[69]
Penerus Kaisar Xuande adalah putra sulungnya, Zhu Qizhen, yang telah ditunjuk sebagai ahli waris takhta pada bulan Mei 1428.[68] Ia menjadi kaisar pada usia delapan tahun, tetapi aturan-aturan yang ditetapkan oleh Kaisar Hongwu tidak mengantisipasi kenaikan takhta seorang kaisar belia, sehingga tidak memungkinkan untuk menunjuk seorang wali raja guna memerintah negara menggantikan penguasa di bawah umur.[12] Kaisar Xuande memutuskan agar para pejabat senior berkonsultasi mengenai urusan-urusan pemerintahan dengan nenek kaisar muda tersebut, Ibu Suri Agung Zhang, yang secara efektif memerintah kekaisaran.[68] Melalui kerja samanya dengan para sekretaris agung, kebijakan negara tetap konsisten hingga awal dekade 1440-an.[67]
Warisan

Kaisar Xuande adalah seorang penguasa yang cakap, aktif, dan terampil. Beberapa pejabat sipil mengkritik kebiasaannya yang kerap mengutus para kasim ke provinsi-provinsi selatan untuk mencari penghibur dan perawan bagi haremnya, serta kepercayaannya dalam memberikan wewenang yang lebih besar kepada para kasim—yang menimbulkan masalah bagi para penerusnya.[12] Ia memandang dirinya sebagai seorang kesatria dan, seperti halnya Kaisar Yongle, memimpin secara pribadi kampanye-kampanye militer, tetapi tindakan-tindakannya relatif berskala kecil (seperti menumpas pemberontakan pamannya) atau tidak signifikan (seperti bentrokan dengan bangsa Mongol di perbatasan utara).[27] Kaisar Xuande merupakan kaisar Ming terakhir yang berpartisipasi secara aktif dalam mengelola negara dan tetap bersikap tidak memihak terhadap berbagai kelompok yang membentuk elite pemegang kekuasaan. Ia mengandalkan pejabat sipil, tetapi juga kerap memanfaatkan para kasim dan komandan militer. Sebaliknya, kaisar-kaisar Ming di kemudian hari mengabaikan peran mereka sebagai figur penyeimbang dan justru larut dalam kesenangan istana, menyerahkan roda pemerintahan ke tangan para pejabat yang sering kali terpecah ke dalam faksi-faksi yang saling bersaing atau, yang lebih umum, para kasim istana.[67] Generasi pejabat berikutnya memandang era Xuande sebagai zaman keemasan tata kelola pemerintahan yang ideal, berbanding terbalik dengan konflik faksional dan kemunduran institusional pada zaman mereka sendiri.[60][67]
Para sejarawan secara luas menganggap era Xuande sebagai puncak kejayaan Dinasti Ming, yang ditandai oleh stabilitas dan perdamaian.[5] Hal ini berbanding terbalik secara tajam dengan pembersihan administrasi yang kejam pada era Hongwu dan perang saudara pada era Jianwen.[13] Para menteri dan pejabat yang cakap serta sering kali menjabat dalam jangka waktu lama, di bawah kepemimpinan "Tiga Yang" (Yang Shiqi, Yang Rong, dan Yang Pu), mengelola negara dengan tingkat keberlanjutan dan keandalan yang unik untuk era Ming, sesuai dengan cita-cita Konfusianisme mengenai pemerintahan menteri yang bijaksana di bawah pimpinan seorang penguasa yang cakap.[13] Pemerintah juga mengupayakan perbaikan taraf hidup rakyatnya, menghentikan ekspansi di Đại Việt, serta menerapkan reformasi administrasi. Meskipun Sang Kaisar mungkin bersikap keras terhadap para pejabat dan lunak terhadap para perwira tinggi, hal ini tidak berdampak signifikan terhadap karakter pemerintahan secara keseluruhan.[13]
Pemberontakan paman Sang Kaisar menegaskan kepada Sang Kaisar dan para pejabat bahwa keputusan untuk mencabut pengaruh anggota keluarga kekaisaran atas militer adalah keputusan yang tepat. Kegagalan perang di Đại Việt dan kekalahan selanjutnya di Tumu menjadi argumen yang terus-menerus digunakan oleh para pejabat untuk menentang petualangan militer,[26] yang berpotensi mengembalikan kekuasaan ke tangan para jenderal dan mengganggu pengukuhan dominasi pejabat dalam pemerintahan Dinasti Ming. Elite Dinasti Ming yang awalnya beragam, termasuk para jenderal, anggota keluarga kekaisaran, pejabat Konfusian, dan para kasim, menyaksikan dua kelompok pertama kehilangan pengaruh mereka atas tata kelola negara. Selama era Xuande, para pejabat Konfusian memperoleh supremasi atas kelompok-kelompok lainnya dan mempertahankannya hingga akhir Dinasti Ming, yang menandai berakhirnya periode Ming awal pada dekade 1430-an. Meskipun terjadi peningkatan populasi dan perekonomian yang signifikan, institusi militer dan politik Ming relatif tidak berubah hingga akhir dinasti tersebut.[70]
Keluarga

Kaisar Xuande memiliki dua orang putri tetapi tidak memiliki putra dari istri pertamanya, Nyonya Hu, yang ia nikahi pada tahun 1417.[71] Salah seorang gundik Sang Kaisar, Nyonya Sun, melahirkan seorang putri lagi baginya[72] dan seorang putra, Zhu Qizhen, yang kelak menjadi Kaisar Yingzong. Pada tahun 1428, setelah kelahiran Zhu Qizhen, Kaisar Xuande memakzulkan Permaisuri Hu dan menobatkan Nyonya Sun sebagai permaisuri yang baru.[73] Putra kedua Sang Kaisar, Zhu Qiyu, lahir dari gundik Nyonya Wu dan di kemudian hari naik takhta sebagai Kaisar Jingtai.[74]
- Permaisuri Gongrangzhang (恭讓章皇后) dari klan Hu (胡氏; 1402–1443), nama pribadi Shanxiang (善祥)[75]
- Permaisuri Xiaogongzhang (孝恭章皇后) dari klan Sun (孫氏; 1399–1462)[78]
- Putri Changde (常德公主; m. 1470), putri ketiga. Menikah pada tahun 1440 dengan Xue Huan (薛桓).[72]
- Zhu Qizhen (朱祁鎮), Kaisar Yingzong (英宗; 1427–1464), putra pertama[79]
- Selir Rongsixian (榮思賢妃) dari klan Wu (吳氏; 1397–1462)[74]
- Zhu Qiyu (朱祁鈺), Kaisar Jingtai (景泰帝; 1428–1457), putra kedua[80]
- Selir Agung Duanjing (端靜貴妃) dari klan He (何氏; m. 1435)[81]
- Selir Shu (淑妃) dari klan Liu (劉氏)[82]
- Selir Chunjingxian (純靜賢妃) dari klan Zhao (趙氏; m. 1435)[81]
- Selir Zhenshunhui (貞順惠妃) dari klan Wu (吳氏; m. 1435)[81]
- Selir Zhuangjingshu (莊靜淑妃) dari klan Jiao (焦氏; m. 1435)[81]
- Selir Zhuangshunjing (莊順敬妃) dari klan Cao (曹氏; m. 1435)[81]
- Selir Zhenhuishun (貞惠順妃) dari klan Xu (徐氏; m. 1435)[81]
- Selir Gongdingli (恭定麗妃) dari klan Yuan (袁氏; m. 1435)[81]
- Selir Zhenjinggong (貞靜恭妃) dari klan Zhu (諸氏; m. 1435)[81]
- Selir Gongshunchong (恭順充妃) dari klan Li (李氏; m. 1435)[81]
- Selir Suxicheng (肅僖成妃) dari klan He (何氏; m. 1435)[81]
- Nyonya Gongshen (恭慎夫人) dari klan Han Cheongju asal Korea[83][m]
- Gundik Zhen'ai (貞哀國嬪) dari klan Guo (郭氏; m. 1428), nama pribadi Ai (愛)[84]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Hanzi: 宣德; Pinyin: Xuāndé
- ↑ Hanzi sederhana: 宪天崇道英明神圣钦文昭武宽仁纯孝章皇帝; Hanzi tradisional: 憲天崇道英明神聖欽文昭武寬仁純孝章皇帝 (dianugerahkan oleh Kaisar Yingzong pada tahun 1435)[2]
- ↑ Hanzi: 宣宗; Pinyin: Xuānzōng
- ↑ Hanzi: 朱瞻基; Pinyin: Zhū Zhānjī
- ↑ Yang Rong menjabat sebagai sekretaris agung dari tahun 1402 hingga 1440; Yang Shiqi dari tahun 1402 hingga 1444; Jin Youzi dari tahun 1402 hingga 1431; Huang Huai dari tahun 1402 hingga 1414 dan sekali lagi dari tahun 1424 hingga 1427; Yang Pu dari tahun 1424 hingga 1446; Zhang Ying dari tahun 1426 hingga 1429; Quan Jin pada tahun 1425; dan Chen Shan dari tahun 1427 hingga 1429.[16][17][18] Dari tahun 1424 hingga 1444, Yang Shiqi menjabat sebagai kepala Sekretariat Agung.[19]
- ↑ Menjabat 1402–1422 dan 1423–1435.[20]
- ↑ Menjabat 1402–1421 dan 1424–1430.[20]
- ↑ Apa yang disebut sebagai "perak bunga emas".[43]
- ↑ Berada di barisan terdepan penentang pelayaran jarak jauh adalah Sekretaris Agung Yang Shiqi dan Menteri Pendapatan Xia Yuanji.[50]
- ↑ Misi ini dipimpin oleh kasim Chai Shan (柴山).[51]
- ↑ Setelah kematian Sang Kaisar, pemerintah Ming mengizinkan 53 wanita Korea untuk kembali ke tanah air mereka.[59] Beberapa ribu wanita Tionghoa juga dibebaskan dari tugas di Kota Terlarang.[13]
- ↑ Wu Hou adalah gelar dari Zhuge Liang (181–234), seorang pemimpin militer pada periode Tiga Negara.[66]
- ↑ Ia adalah saudara perempuan dari Selir Kanghuizhuangshuli pasangan Kaisar Yongle.[83]
Referensi
Sitasi
- 1 2 Goodrich & Fang (1976), hlm. xxi.
- ↑ Moule (1957), hlm. 107.
- 1 2 3 4 5 6 Chan (1988), hlm. 285.
- ↑ Chan (1988), hlm. 196–201.
- 1 2 3 4 5 6 Mote (2003), hlm. 623.
- 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 226.
- ↑ Li, Yang. "Timeline of the Ming & Qing Palace Events. The Yongle Emperor (r. 1403-1424)". Beijing: Museum Istana. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Mei 2021. Diakses tanggal 23 Desember 2020.
- ↑ Mote (2003), hlm. 622.
- 1 2 3 4 Chan (1988), hlm. 286.
- ↑ Wang (2020), hlm. 207.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 284.
- 1 2 3 4 Mote (2003), hlm. 626.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Mote (2003), hlm. 625.
- 1 2 3 4 Chan (1988), hlm. 288.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 289.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 208–209.
- 1 2 Dreyer (1982), hlm. 222, 224, 235.
- 1 2 Goodrich & Fang (1976), hlm. 666.
- ↑ Chan (1988), hlm. 210.
- 1 2 3 Tsai (2002), hlm. 93–94.
- 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 234.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 287.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 304.
- 1 2 3 4 5 Chan (1988), hlm. 291.
- ↑ Chan (1988), hlm. 291–292.
- 1 2 3 4 5 Dreyer (1982), hlm. 230.
- 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 231.
- 1 2 3 4 Chan (1988), hlm. 293.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 294.
- 1 2 Atwell (2002), hlm. 91.
- 1 2 Huang (1997), hlm. 181.
- 1 2 3 4 Von Glahn (1996), hlm. 74.
- ↑ Atwell (2002), hlm. 86.
- 1 2 Li (2007), hlm. 121–122.
- 1 2 Von Glahn (1996), hlm. 75.
- ↑ Von Glahn (1996), hlm. 74–75.
- 1 2 3 Von Glahn (1996), hlm. 83.
- ↑ Atwell (2002), hlm. 86–87.
- ↑ Atwell (2002), hlm. 97.
- ↑ Von Glahn (1996), hlm. 73.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 295.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 296.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 297.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 298.
- 1 2 Dreyer (1982), hlm. 227.
- 1 2 3 4 5 Chan (1988), hlm. 290.
- 1 2 Dreyer (1982), hlm. 228.
- ↑ Dreyer (1982), hlm. 229.
- ↑ Wade (2004), hlm. 35.
- 1 2 3 4 5 Chan (1988), hlm. 302.
- 1 2 3 4 5 6 7 Dreyer (1982), hlm. 233.
- ↑ Goodrich & Fang (1976), hlm. 685–686.
- ↑ Chan (1988), hlm. 298–299.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 299.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 300.
- ↑ Von Glahn (1996), hlm. 90–91.
- ↑ Von Glahn (1996), hlm. 91.
- ↑ Von Glahn (1996), hlm. 90.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 301.
- 1 2 3 4 "From the Brush of Xuande: Painting and Calligraphy of the Ming Emperor Xuanzong : Introduction". Taipei: National Palace Museum. Diarsipkan dari asli tanggal 6 April 2012. Diakses tanggal 6 Januari 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Fong & Watt (1996), hlm. 338–339.
- ↑ Mowry, Robert (Mei–Juni 2007). "Imperial Salukis. Speedy hounds, portrayed by a Chinese emperor". Harvard magazine.
- ↑ Gulik (1967), hlm. 94–95.
- ↑ Geissmann (2008), hlm. 3.
- ↑ "Shang Xi". cultural-china.com. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Mei 2012. Diakses tanggal 2 Januari 2012.
- ↑ Theobald, Ulrich. "Persons in Chinese History - Zhuge Liang 諸葛亮". Chinaknowledge - a universal guide for China studies. Diakses tanggal 7 Februari 2013.
- 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 236.
- 1 2 3 4 Chan (1988), hlm. 303.
- 1 2 "Zhu Zhanji - Emperor Xuanzong of the Ming Dynasty". Cultural China. 2007–2010. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Oktober 2012. Diakses tanggal 14 Februari 2013.
- ↑ Dreyer (1982), hlm. 237.
- ↑ Lee & Wiles 2014, hlm. 134.
- 1 2 3 Sejarah Ming, jilid. 121, hlm. 3671.
- ↑ Goodrich & Fang (1976), hlm. 289.
- 1 2 Wong (1997), hlm. 92.
- ↑ Wong (1997), hlm. 86.
- ↑ Li & Xie (2011), hlm. 361.
- ↑ Xianzong Shilu, jilid. 293, hlm. 4977.
- ↑ Wong (1997), hlm. 89.
- ↑ Sejarah Ming, jilid. 10, hlm. 127.
- ↑ Sejarah Ming, jilid. 11, hlm. 141.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Wong (1997), hlm. 97.
- ↑ Wong (1997), hlm. 96.
- 1 2 Wong (1997), hlm. 98.
- ↑ Sejarah Ming, jilid. 113, hlm. 3515.
Karya yang dikutip
- Atwell, William S (2002). "Time, Money, and the Weather: Ming China and the "Great Depression" of the Mid-Fifteenth Century". The Journal of Asian Studies. 61 (1). ISSN 0021-9118.
- Chan, Hok-lam (1988). "The Chien-wen, Yung-lo, Hung-hsi, and Hsüan-te reigns". Dalam Mote, Frederick W.; Twitchett, Denis C (ed.). The Cambridge History of China Volume 7: The Ming Dynasty, 1368–1644, Part 1. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 182–304. ISBN 0521243327.
- Dreyer, Edward L. (1982). Early Ming China: A Political History. Stanford: Stanford University Press. ISBN 0-8047-1105-4.
- Fong, Wen; Watt, James C. Y (1996). Possessing the Past: Treasures from the National Palace Museum, Taipei. New York: Metropolitan Museum of Art. ISBN 9780810964945.
- Goodrich, L. Carington; Fang, Chaoying (1976). Dictionary of Ming Biography, 1368-1644. Vol. 1, A–L. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-03801-1.
- Gulik, Robert van (1967). The gibbon in China. An essay in Chinese animal lore. Leiden, Nizozemsko: E.J. Brill.
- Geissmann, Thomas (2008). "Gibbon paintings in China, Japan, and Korea: Historical distribution, production rate and context" (PDF). Gibbon Journal (4): 1–39. ISSN 1661-707X. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 17 Desember 2008. Diakses tanggal 17 Desember 2008.
- Huang, Ray (1997). China: a macro history. Armonk, NY: M. E. Sharpe. ISBN 1-56324-730-5.
- History Office (1491). Xianzong Shilu 憲宗實錄 [Veritable Records of Xianzong] (dalam bahasa Literary Chinese).
- Lee, Lily Xiao Hong; Wiles, Susan (2014). Biographical Dictionary of Chinese Women, Volume II: Tang Through Ming 618 - 1644. Routledge. ISBN 978-0765643162.
- Li, Kangying (2007). "A study on the Song, Yuan and Ming monetary policies within the context of worldwide hard currency flows during the 11th-16th centuries and their impact on Ming institutions". Dalam Schottenhammer, Angela (ed.). The East Asian maritime world 1400-1800: its fabrics of power and dynamics of exchanges. Wiesbaden: Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 99–136. ISBN 9783447054744.
- Li, Hengfa; Xie, Huaying (2011). Jining lidai muzhi ming 济宁历代墓志铭 [Epitaphs from Successive Dynasties in Jining] (dalam bahasa Tionghoa). Jinan: Qilu Press. ISBN 978-7-5333-2484-1.
- Mote, Frederick W (2003). Imperial China 900-1800. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0674012127.
- Moule, Arthur Christopher (1957). The rulers of China, 221 B.C. – A.D. 1949; chronological tables. New York: F. A. Praeger.
- Tsai, Shih-Shan Henry (2002). Perpetual Happiness: The Ming Emperor Yongle. Seattle, Wash.; Chesham: University of Washington Press; Combined Academic. ISBN 0295981245.
- Von Glahn, Richard (1996). Fountain of Fortune: money and monetary policy in China, 1000–1700. Berkeley, California: University of California Press. ISBN 0-520-20408-5.
- Wade, Geoffrey (2004). "Ming China and Southeast Asia in the 15th Century: A Reappraisal". Working Paper Series (28). Diarsipkan dari asli tanggal 9 Januari 2014. Diakses tanggal 19 Agustus 2011.
- Wang, Yuan (2020). Space and Time as Context and Device: Dialogue and Contention in Early Luso-Chinese Interactions (PDF) (Ph.D. (Portuguese) tesis). Madison, Wisconsin: University of Wisconsin-Madison.
- Wong, Nai-kwan (1997). Ming dai huang shi yan jiu 明代皇室研究 [A Study of the Imperial Family of the Ming Dynasty] (MPhil tesis) (dalam bahasa Tionghoa). Pokfulam, Hong Kong: The University of Hong Kong. doi:10.5353/th_b3122010. hdl:10722/33933.
- Zhang, Tingyu (1974) [1739]. Ming Shi 明史 [Sejarah Ming] (dalam bahasa Literary Chinese). Beijing: Zhonghua Book. ISBN 7101003273.
Bacaan lanjutan
- Dreyer, Edward L (2007). Zheng He : China and the Oceans in the Early Ming Dynasty, 1405-1433 (Edisi Library of World Biography Series). New York: Pearson Longman. ISBN 978-0321084439.
- Levathes, Louise L (1994). When China ruled the seas: the treasure fleet of the Dragon Throne, 1405-1433. Kota New York: Simon & Schuster. ISBN 0671701584.
Pranala luar
- "明宣宗書畫展 / From the Brush of Xuande: Painting and Calligraphy of the Ming Emperor Xuanzong : Introduction". Taipei: National Palace Museum. Diarsipkan dari asli tanggal 7 April 2012. Diakses tanggal 6 Januari 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Li, Yang. "Timeline of the Ming & Qing Palace Events. The Reign of the Xuande Emperor (approx. 1426–1435)". Beijing: The Palace Museum. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Desember 2018. Diakses tanggal 5 Desember 2018.
Kaisar Xuande Lahir: 25 Februari 1398 Meninggal: 31 Januari 1435 | ||
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Kaisar Hongxi |
Kaisar Dinasti Ming 29 Mei 1425 – 31 Januari 1435 |
Diteruskan oleh: Kaisar Yingzong (Kaisar Zhengtong) |
| Keluarga Aisin Gioro | ||
| Lowong Terakhir dijabat oleh Zhu Yunwen |
Cucu pewaris takhta kekaisaran dari dinasti Ming 1411–1424 |
Tidak ada |
| Lowong Terakhir dijabat oleh Zhu Gaochi |
Putra Mahkota Dinasti Ming 1 November 1424 – 29 Mei 1425 |
Lowong Selanjutnya dijabat oleh Zhu Qizhen |