| Kaisar Hongxi 洪熙帝 | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Potret istana pada lukisan gulung | |||||||||||||||
| Kaisar Dinasti Ming | |||||||||||||||
| Berkuasa | 12 Agustus 1424 – 29 Mei 1425 | ||||||||||||||
| Naik takhta | 7 September 1424 | ||||||||||||||
| Pendahulu | Kaisar Yongle | ||||||||||||||
| Penerus | Kaisar Xuande | ||||||||||||||
| Lahir | 16 Agustus 1378 | ||||||||||||||
| Meninggal | 29 Mei 1425(1425-05-29) (umur 46) Aula Kedamaian Kekaisaran, Kota Terlarang, Beijing, Dinasti Ming | ||||||||||||||
| Pemakaman | Makam Xian, Makam Dinasti Ming, Beijing, Tiongkok | ||||||||||||||
| Ayah | Kaisar Yongle | ||||||||||||||
| Ibu | Permaisuri Xu | ||||||||||||||
| Pasangan | |||||||||||||||
| Keturunan Detail | |||||||||||||||
| |||||||||||||||
| Wangsa | Zhu | ||||||||||||||
| Dinasti | Ming | ||||||||||||||
| |||||||||||||||
Kaisar Hongxi (16 Agustus 1378 – 29 Mei 1425), nama pribadi Zhu Gaochi,[d] adalah kaisar keempat Dinasti Ming di Tiongkok, yang bertakhta dari tahun 1424 hingga 1425. Ia merupakan putra sulung dari Kaisar Yongle dan naik takhta setelah kematian ayahnya. Masa pemerintahannya berlangsung kurang dari satu tahun.
Sebagai pangeran, Kaisar Hongxi menerima pendidikan Konfusianis tradisional dan dikenal karena kemampuan sastranya. Ia menjabat sebagai wali raja baik di Nanjing maupun Beijing selama kampanye militer Kaisar Yongle ke Mongolia. Setelah naik takhta, ia menghentikan pelayaran harta karun Zheng He serta menghentikan perdagangan teh untuk kuda dengan negara-negara Asia. Ia mengampuni para pejabat yang telah dijatuhi hukuman oleh rezim sebelumnya dan merestrukturisasi pemerintahan dengan mengangkat penasihat-penasihat tepercayanya ke posisi-posisi kunci. Ia juga memperkuat wewenang Sekretariat Agung, badan pemerintahan tertinggi saat itu. Ia meninggalkan kebijakan militeristik ayahnya yang tidak populer, mereformasi sistem keuangan dan perpajakan, serta mendorong kembalinya para petani yang terlantar, khususnya di wilayah hilir Sungai Yangtze. Upayanya dalam mempromosikan cita-cita Konfusianisme memengaruhi gaya kepemimpinan pemerintahan selama abad berikutnya.
Kaisar Hongxi memutuskan untuk memindahkan kembali ibu kota ke Nanjing, tetapi ia meninggal pada bulan Mei 1425, yang dilaporkan akibat serangan jantung. Putranya yang berusia 26 tahun, Zhu Zhanji, naik takhta sebagai Kaisar Xuande dan melanjutkan kebijakan-kebijakan progresif ayahnya yang memberikan pengaruh jangka panjang. Sejarawan di kemudian hari mencatat kepatuhan Kaisar Hongxi terhadap cita-cita Konfusianisme serta memuji upayanya dalam mengatasi kekurangan-kekurangan pada era Yongle.
Kehidupan awal
Zhu Gaochi, calon Kaisar Hongxi, lahir pada 16 Agustus 1378 pada masa pemerintahan kakeknya, Kaisar Hongwu, pendiri Dinasti Ming Tiongkok. Ayahnya, Zhu Di, merupakan putra keempat Kaisar dan bergelar Pangeran Yan. Ibunya adalah istri Zhu Di, Nyonya Xu.[4] Orang tua Zhu Gaochi memiliki dua putra lainnya,[5] yaitu Zhu Gaoxu pada tahun 1380[6] dan Zhu Gaosui pada tahun 1383.[7] Zhu Gaochi menerima pendidikan tradisional dalam bidang militer dan studi Konfusianisme; karena kesehatannya yang buruk, ia terutama berfokus pada membaca dan berdiskusi dengan para tutornya.[4] Ia tidak tertarik pada urusan militer, tetapi mahir dalam memanah.[8] Ia mengelilingi dirinya dengan para cendekiawan seperti Yang Shiqi, Yang Rong, Yang Pu, dan Huang Huai. Kemampuan sastra dan administratif Zhu Gaochi mengesankan Kaisar Hongwu, tetapi Zhu Di lebih menyukai putra-putranya yang lebih muda karena ketertarikan mereka pada bidang militer.[4]
Setelah Kaisar Hongwu meninggal pada tahun 1398, Zhu Di melancarkan perang saudara melawan keponakannya, Kaisar Jianwen, yang baru saja naik takhta. Konflik tersebut, yang dikenal sebagai Kampanye Jingnan, berakhir dengan Zhu Di naik takhta sebagai Kaisar Yongle pada tahun 1402. Sementara ayah dan adik-adiknya terlibat dalam perang, Zhu Gaochi mengelola wilayah kekuasaan ayahnya.[9] Pada akhir tahun 1399, selama pengepungan Beijing, Zhu Gaochi berhasil mempertahankan wilayah kepangeranan ayahnya dengan sekitar 10.000 prajurit melawan pasukan kekaisaran yang jauh lebih besar pimpinan jenderal Li Jinglong.[10] Zhu Di mengakui peran putra sulungnya dalam pertahanan Beijing, tetapi tetap lebih menyukai putra-putranya yang lebih muda.[8]
Pada bulan Mei 1404, atas desakan para sekretaris agung Xie Jin dan Huang Huai, Kaisar Yongle menetapkan Zhu Gaochi sebagai putra mahkota. Selama Kampanye militer Kaisar Yongle ke Mongolia, Zhu Gaochi memerintah kekaisaran sebagai wali raja saat ayahnya absen[10] dan menjadi asing dengan kebijakan-kebijakan ayahnya.[8] Ia juga menghadapi permusuhan dari adik-adiknya. Pada bulan September 1414, ketika ayah mereka kembali dari Mongolia, Zhu Gaochi dituduh oleh adiknya, Zhu Gaoxu, telah mengabaikan tugas-tugasnya. Kaisar kemudian memenjarakan dua penasihat terdekat Zhu Gaochi, yaitu Yang Pu dan Huang Huai. Pengasingan Zhu Gaoxu ke Shandong pada tahun 1417 menyingkirkannya sebagai ancaman langsung bagi Zhu Gaochi,[10] tetapi hubungan Kaisar dengan putra mahkotanya tetap merenggang.[8]
| Silsilah keluarga ringkas para kaisar awal Dinasti Ming[11] | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Naik takhta
Kaisar Yongle meninggal pada 12 Agustus 1424 saat kembali dari kampanye militer kelimanya ke Mongolia.[12][10] Zhu Gaochi secara resmi menjadi kaisar pada 7 September 1424,[12] dan mengadopsi nama era Hongxi, yang berarti "sangat cemerlang". Beberapa hari sebelumnya, ia telah mengamankan ibu kota dan mengutus Wang Jinghong, seorang kasim senior, ke Nanjing sebagai komandan agung.[e] Ia juga membebaskan menteri Xia Yuanji dan Wu Zhong (吳中), yang telah dipenjara sejak tahun 1421, lalu memulihkan jabatan menteri mereka pada 8 September.[10][12]
Kaisar Hongxi mereorganisasi Sekretariat Agung dua hari setelah penobatannya, serta mengangkat Huang Huai dan Yang Pu sebagai sekretaris agung. Keduanya telah dipenjarakan oleh Kaisar Yongle sejak tahun 1414. Kaisar mempromosikan Yang Shiqi menjadi sekretaris agung senior, serta mempertahankan posisi Yang Rong dan Jin Youzi (金幼孜) sebagai sekretaris agung. Kaisar memberi para sekretaris agung peringkat wakil menteri, sehingga meningkatkan status formal mereka agar setara dengan pengaruh nyata mereka.[12] Belakangan, mereka dianugerahi status tingkat pertama dan diberi gelar menteri tambahan—Yang Shiqi menjadi menteri perang, Yang Rong menteri pekerjaan umum, dan Huang Huai menteri pendapatan—yang memungkinkan mereka berpartisipasi langsung dalam urusan pemerintahan. Kaisar berkolaborasi dengan para sekretaris agung dan menteri, serta mendorong diskusi terbuka selama rapat. Mereka mencapai keputusan melalui musyawarah bersama, yang berujung pada pembatalan kebijakan-kebijakan Kaisar Yongle yang tidak populer.[13]
Pada 29 Oktober, Kaisar menetapkan istrinya, Nyonya Zhang, sebagai permaisuri. Tiga hari kemudian, ia menetapkan putra sulungnya, Zhu Zhanji, sebagai putra mahkota dan menganugerahkan gelar pangeran kepada putra-putranya yang lain. Ia juga menaikkan pendapatan para anggota keluarga kekaisaran, tetapi tetap melarang keterlibatan mereka dalam urusan negara.[14] Adik Kaisar yang pembangkang, Zhu Gaoxu, turut diuntungkan oleh peningkatan pendapatan ini, dan putra-putranya menerima gelar kepangeranan.[10]
Kebijakan dalam dan luar negeri

Pada akhir tahun 1424, para pejabat yang dianggap oleh Kaisar Hongxi berlebihan, tidak kompeten, atau berusia lanjut telah diberhentikan, sementara pejabat-pejabat yang mampu dipromosikan.[13][12] Para sensor diutus ke seluruh penjuru kekaisaran untuk menyelidiki penyalahgunaan kekuasaan serta korupsi, sekaligus mencari individu-individu yang mumpuni untuk mengisi posisi yang kosong.[15] Pada 18 Oktober 1424, Kaisar memberi para sekretaris agung Yang Shiqi, Yang Rong, dan Jin Youzi, bersama dengan Menteri Personalia Jian Yi (蹇義), wewenang untuk melaporkan secara rahasia setiap pelanggaran oleh pejabat lain kepada penguasa. Ia menganugerahkan hak istimewa ini kepada Sekretaris Agung Xia Yuanji pada akhir tahun tersebut. Beberapa pejabat yang dituduh melakukan korupsi tetap dipertahankan pada jabatannya, termasuk Liu Quan (劉觀), kepala sensor.[14]
Pada bulan Februari 1425, Kaisar mengangkat laksamana kasim Zheng He sebagai komandan agung Nanjing, tetapi para kasim secara umum tetap diawasi secara ketat. Reformasi ini juga berdampak pada ujian dinas sipil, mengingat lebih banyak kandidat berasal dari provinsi-provinsi selatan dibandingkan provinsi-provinsi utara, karena wilayah selatan memiliki jumlah penduduk dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kaisar memutuskan bahwa 40% dari kandidat yang lulus dalam ujian ibu kota harus berasal dari utara untuk meningkatkan keterwakilan wilayah utara dalam dinas sipil. Para penerusnya mempertahankan kebijakan ini, dan Dinasti Qing kemudian mengadopsinya.[15]
Kaisar Hongxi berupaya memperbaiki kegagalan-kegagalan peradilan pada masa pemerintahan Yongle. Kaisar Yongle telah mengeksekusi banyak pejabat karena kesetiaan mereka kepada keponakan sekaligus pendahulunya, Kaisar Jianwen. Pada akhir tahun 1424, pemerintah telah memulihkan nama baik keluarga para pejabat tersebut dan mengembalikan harta benda mereka yang sempat disita. Kaisar Hongxi juga membatalkan beberapa keputusannya sendiri, seraya mengakui bahwa ia telah mengeluarkannya dalam keadaan marah tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi secara matang.[14][15]
Kaisar Hongxi sangat menaruh perhatian pada kesulitan keuangan rakyatnya, yang kian memburuk pada masa pemerintahan ayahnya.[16] Pada hari penobatannya, ia secara resmi menghentikan pelayaran jarak jauh ke seberang laut yang dipimpin oleh Zheng He, yang telah ditangguhkan selama beberapa tahun, serta perdagangan teh untuk kuda di perbatasan barat dan utara, ekspedisi penebangan kayu di Yunnan, dan misi pencarian emas serta mutiara ke Yunnan dan Jiaozhi (sekarang bagian utara Vietnam).[12][10] Pemerintahannya mendorong para tunawisma dan gelandangan untuk kembali ke rumah mereka dan menetap. Banyak orang telah meninggalkan rumah mereka karena beratnya pajak negara dan tuntutan pemerintahan Yongle. Kaisar Hongxi menjanjikan pembebasan pajak dan kewajiban kerja selama dua tahun bagi mereka yang kembali. Ia juga mengutus komisi penyelidik khusus, yang dipimpin oleh Zhou Gan (周干), ke Jiangnan (tempat pengungsian penduduk marak terjadi). Berdasarkan laporan mereka, penerus Kaisar Hongxi, yaitu Kaisar Xuande, mengampuni tunggakan pajak dan mengurangi jumlah pajaknya.[16]
Selama masa pemerintahannya yang singkat, Kaisar Hongxi memerintah sesuai dengan prinsip-prinsip Konfusianisme.[14] Ia membebaskan pajak bagi daerah-daerah yang terdampak bencana dan mengawasi pembagian bahan pangan dari cadangan pemerintah. Dalam situasi-situasi ini, ia juga meringankan beban pajak dan retribusi bagi rakyat, serta menghapuskan pajak tambahan atas sumber daya seperti kayu, emas, dan perak.[16] Ia menegur para pejabat yang tidak menunjukkan upaya yang cukup dalam membantu masyarakat.[14]
Segera salurkan itu [pangan] sebagai bantuan! Apa yang bisa dicapai oleh pinjaman! Meringankan kemiskinan rakyat harus ditangani seolah-olah seseorang sedang menyelamatkan mereka dari kobaran api atau bahaya tenggelam. Seseorang tidak boleh ragu-ragu.
— Perintah Kaisar Hongxi kepada para pejabat untuk memberikan pangan kepada rakyat selama kelaparan[17]
Kaisar Hongxi menghentikan kampanye militer ke Mongolia, berfokus pada penguatan pos-pos terdepan utara kekaisaran,[16] serta menjaga hubungan normal dengan negara-negara lain, seperti negara-negara di Asia Tengah. Perhatian militer utama pemerintahannya adalah perang yang sedang berlangsung di Jiaozhi (sekarang wilayah utara Vietnam). Kaisar menarik kembali kepala pemerintahan Jiaozhi, Huang Fu (黃福), yang menjabat sejak tahun 1407, dan menggantikannya dengan Chen Zhi (陳智), Bo Yongchang. Namun, pasukan tidak diperkuat dan pemberontakan Bangsa Việt terus berlanjut. Para sejarawan memandang pemanggilan kembali Huang Fu secara negatif dan menganggapnya sebagai alasan utama kekalahan Dinasti Ming, mengingat ia sangat berpengalaman dan dihormati di provinsi tersebut.[18]
Satu bulan sebelum kematiannya, Kaisar Hongxi memutuskan untuk memindahkan kembali ibu kota ke Nanjing. Keputusan ini terutama dipengaruhi oleh Xia Yuanji dan pejabat-pejabat tinggi lainnya karena pertimbangan keuangan. Kaisar sendiri lebih menyukai Nanjing dibandingkan wilayah utara. Pada 16 April 1425, ia menyatakan otoritas Beijing sebagai status "sementara" (行在, xingzai) dan dua minggu kemudian, ia mengutus putra mahkotanya, Zhu Zhanji, ke Nanjing. Kematian kaisar menghentikan proyek tersebut, karena penerusnya membatalkan rencana tersebut lantaran lebih sejalan dengan kebijakan-kebijakan Kaisar Yongle dan tidak sependapat dengan ketidaksetujuan Kaisar Hongxi terhadap fokus pemerintahan di wilayah utara.[18]
Kematian dan warisan
Kaisar Hongxi meninggal secara mendadak di Beijing pada 29 Mei 1425, yang dilaporkan akibat serangan jantung, menurut kepala kasim. Penjelasan ini dinilai lebih masuk akal mengingat masalah obesitas dan kakinya, dibandingkan spekulasi belakangan yang melibatkan sambaran petir, keracunan, dan aktivitas seksual berlebihan.[19] Ia diberi nama anumerta Kaisar Zhao (昭帝; 'Kaisar Cemerlang') dan nama kuil Renzong (仁宗; 'Leluhur yang Pemurah'). Makamnya, Makam Xian, yang terletak di dekat Beijing, dibangun dengan gaya yang sederhana dan bersahaja, yang ditafsirkan oleh sejarawan Chan Hok-lam sebagai cerminan dari karakter pemerintahannya.[19]
Tujuan utama Kaisar Hongxi adalah mengakhiri tindakan-tindakan pemerintahan Yongle yang ia anggap tidak tepat dan tidak sesuai dengan ajaran Konfusius. Ia bertujuan untuk membentuk pemerintahan Konfusianis yang dapat menjadi panutan, dengan seorang kaisar yang bermoral lurus di puncaknya serta menteri-menteri yang bijaksana dan berbudi luhur. Pemindahan ibu kota ke Nanjing juga merupakan indikasi jelas dari penyimpangan terhadap pendekatan ekspansionis Kaisar Yongle yang agresif, yang berfokus berat pada perbatasan utara.[20]
Setelah kematian Kaisar Hongxi, kekaisaran tetap diperintah oleh para sekretaris agung dan menteri yang telah ia tunjuk. Mereka mengabdi hingga awal tahun 1440-an di bawah putranya, Kaisar Xuande, dan jandanya, Permaisuri Zhang.[20] Karena kematiannya yang prematur, Kaisar Hongxi tidak mampu mewujudkan tujuannya secara penuh. Para pejabat berpendidikan Konfusionis gagal mendapatkan dukungan penuh di antara kelompok elite Ming lainnya[21] dan tidak mampu membubarkan lembaga-lembaga independen milik para kasim atau mencegah pertumbuhan berlanjut dari lembaga tersebut di bawah Kaisar Xuande dan para penerusnya. Kendati demikian, mereka tetap menjadi faksi dominan dalam pemerintahan Ming, mengelola urusan harian negara hingga akhir dinasti tersebut.[20] Penulisan sejarah mengaitkan masa pemerintahan Kaisar Hongxi dengan cita-cita politik Konfusianisme, khususnya ketergantungannya pada pejabat-pejabat terpelajar.[21] Tidak ada penerusnya yang berupaya mengembalikan ibu kota ke Nanjing, dan kebijakan tersebut secara resmi ditinggalkan pada tahun 1441.[20]
Kaisar Hongxi dipuji dalam historiografi Tiongkok sebagai monarki Konfusianis tercerahkan yang, dengan mengikuti cita-cita kesederhanaan, kebaikan, dan kesungguhan, berupaya memperkuat kekaisaran serta meringankan kebijakan-kebijakan ekonomi era Yongle yang keras dan tidak populer.[19] Meskipun sesekali menghadapi kritik karena impulsivitasnya dalam menghukum pejabat yang tidak berkenan di hatinya, ia mampu mengakui kesalahan-kesalahannya dan meminta maaf atas hal tersebut. Kekurangan-kekurangannya terimbangi oleh karakternya sebagai kaisar yang manusiawi serta upaya-upaya tulusnya dalam memastikan kesejahteraan umum.[21]
Keluarga
Kaisar memiliki sepuluh putra dan tujuh putri, tetapi hanya sembilan putra dan empat putri yang bertahan hidup hingga dewasa. Putra sulung, Zhu Zhanji, menjadi putra mahkota sejak bulan November 1424. Ibunya adalah Permaisuri Zhang. Ia menggantikan ayahnya sebagai Kaisar Xuande. Permaisuri Zhang merupakan tokoh berpengaruh dalam keluarga kekaisaran dan istana selama masa pemerintahan suami dan putranya. Ia hidup lebih lama daripada keduanya dan belakangan menjadi wali raja bagi cucunya, Kaisar Yingzong, serta memainkan peran penting dalam pemerintahan pada tahun-tahun awal masa pemerintahannya.[19] Ia dianugerahi penghormatan secara anumerta sebagai Permaisuri Chengxiaozhao.[22]
- Permaisuri Chengxiaozhao (誠孝昭皇后) dari klan Zhang (張氏; 1379–1442)[22]
- Zhu Zhanji (朱瞻基), Kaisar Xuande (宣德帝; 1399–1435), putra pertama[23]
- Zhu Zhanyong (朱瞻墉), Pangeran Jing dari Yue (越靖王; 1405–1439), putra ketiga[24]
- Zhu Zhanshan (朱瞻墡), Pangeran Xian dari Xiang (襄憲王; 1406–1478), putra kelima[25]
- Putri Jiaxing (嘉興公主; wafat 1439), putri pertama. Menikah pada tahun 1428 dengan Jing Yuan (井源; wafat 1449).[26]
- Selir Agung Gongsu (恭肅貴妃) dari klan Guo (郭氏; wafat 1425)[27]
- Selir Gongjingxian (恭靜賢妃) dari klan Li (李氏; wafat 1452)[29]
- Zhu Zhanjun (朱瞻埈), Pangeran Jing dari Zheng (鄭靖王; 1404–1466), putra kedua[30]
- Zhu Zhanyin (朱瞻垠), Pangeran Xian dari Qi (蘄獻王; 1406–1421), putra keempat[24]
- Zhu Zhan'ao (朱瞻墺), Pangeran Jing dari Huai (淮靖王; 1409–1446), putra ketujuh[31]
- Putri Zhending (真定公主; wafat 1450), putri ketujuh. Menikah pada tahun 1429 dengan Wang Yi (王誼).[26]
- Selir Zhenjingshun (貞靜順妃) dari klan Zhang (張氏)[32]
- Zhu Zhangang (朱瞻堈), Pangeran Xian dari Jing (荊憲王; 1406–1453), putra keenam[33]
- Selir Gongyihui (恭懿惠妃) dari klan Zhao (趙氏)[29]
- Putri Qingdu (慶都公主; wafat 1440), nama pribadi Yuantong (圓通), putri kedua. Menikah pada tahun 1428 dengan Jiao Jing (焦敬).[26]
- Selir Zhenhuishu (貞惠淑妃) dari klan Wang (王氏; wafat 1425)[34]
- Selir Hui'anli (惠安麗妃) dari klan Wang (王氏; wafat 1425)[34]
- Selir Gongxishun (恭僖順妃) dari klan Tan (譚氏; wafat 1425)[35]
- Selir Gongjingchong (恭靖充妃) dari klan Huang (黃氏; wafat 1425)[36]
- Selir Daoxili (悼僖麗妃) dari klan Li (李氏)[37]
- Selir Zhenjingjing (貞靜敬妃) dari klan Zhang (張氏)[38]
- Tidak diketahui
Lihat pula
Catatan
- ↑ Hanzi: 洪熙; Pinyin: Hóngxī
- ↑ Hanzi sederhana: 敬天体道纯诚至德弘文钦武章圣达孝昭皇帝; Hanzi tradisional: 敬天體道純誠至德弘文欽武章聖達孝昭皇帝; har. 'Yang Menghormati Langit, Perwujudan Jalan Kebenaran, Murni dalam Ketulusan, Sempurna dalam Kebajikan, Luas dalam Kebudayaan, Unggul dalam Keperkasaan, Tolok Ukur Keagungan, Sempurna dalam Bakti, Kaisar yang Cemerlang'[2] (dianugerahkan oleh Kaisar Xuande pada tahun 1425)[3]
- ↑ Hanzi: 仁宗; Pinyin: Rénzōng
- ↑ Hanzi sederhana: 朱高炽; Hanzi tradisional: 朱高熾; Pinyin: Zhū Gāochì
- ↑ Hanzi sederhana: 南京守备; Hanzi tradisional: 南京守備; harfiah: 'Komandan Agung Nanjing', peringkat 4a
Referensi
Sitasi
- ↑ Goodrich & Fang (1976), hlm. xxi.
- ↑ Hucker (1998), hlm. 17.
- ↑ Moule (1957), hlm. 107.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 277.
- ↑ Tsai (2002), hlm. 98.
- ↑ Veritable Records of Taizu, jilid 134, hlm. 2132.
- ↑ Veritable Records of Taizu, jilid 150, hlm. 2369.
- 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 221.
- ↑ Chan (1988), hlm. 277–278.
- 1 2 3 4 5 6 7 Chan (1988), hlm. 278.
- ↑ Tsai (2002), hlm. 23, 30, 98.
- 1 2 3 4 5 6 Dreyer (1982), hlm. 222.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 279.
- 1 2 3 4 5 Dreyer (1982), hlm. 223.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 280.
- 1 2 3 4 Chan (1988), hlm. 281.
- ↑ Paludan (1998), hlm. 167.
- 1 2 Chan (1988), hlm. 282.
- 1 2 3 4 Chan (1988), hlm. 283.
- 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 225.
- 1 2 3 Chan (1988), hlm. 284.
- 1 2 History of Ming, jilid 113, hlm. 3511.
- ↑ History of Ming, jilid 9, hlm. 115.
- 1 2 History of Ming, jilid 119, hlm. 3626, 3628.
- ↑ History of Ming, jilid 119, hlm. 3626, 3629.
- 1 2 3 4 5 6 7 History of Ming, jilid 121; hlm. 3671.
- ↑ Wong (1997), hlm. 68.
- 1 2 3 History of Ming, jilid 119, hlm. 3626, 3634.
- 1 2 Wong (1997), hlm. 70.
- ↑ History of Ming, jilid 119; hlm. 3626.
- ↑ History of Ming, jilid 119, hlm. 3626, 3633.
- ↑ Wong (1997), hlm. 71.
- ↑ History of Ming, jilid 119, hlm. 3626, 3631.
- 1 2 Wong (1997), hlm. 75.
- ↑ Wong (1997), hlm. 78.
- ↑ Wong (1997), hlm. 76.
- ↑ Wong (1997), hlm. 72.
- ↑ Wong (1997), hlm. 73.
Karya yang dikutip
- Chan, Hok-lam (1988). "The Chien-wen, Yung-lo, Hung-hsi, and Hsüan-te reigns". Dalam Mote, Frederick W.; Twitchett, Denis C (ed.). The Cambridge History of China Volume 7: The Ming Dynasty, 1368–1644, Part 1. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 182–304. ISBN 0521243327.
- Dreyer, Edward L. (1982). Early Ming China: A Political History. Stanford: Stanford University Press. ISBN 0-8047-1105-4.
- Goodrich, L. Carington; Fang, Chaoying (1976). Dictionary of Ming Biography, 1368-1644. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-03801-1.
- History Office (1418). Taizu Shilu 太祖實錄 [Veritable Records of Taizu] (dalam bahasa Literary Chinese).
- Hucker, Charles O (1998). "Ming government". Dalam Twitchett, Denis C; Mote, Frederick W. (ed.). The Cambridge History of China. Volume 8: The Ming Dynasty, 1368–1644, Part II. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 9–105. ISBN 0521243335.
- Moule, Arthur Christopher (1957). The rulers of China, 221 B.C. – A.D. 1949; chronological tables. New York: F. A. Praeger.
- Paludan, Ann (1998). Chronicle of the Chinese Emperors: The Reign-By-Reign Record of the Rulers of Imperial China. London: Thames & Hudson. ISBN 0-500-05090-2.
- Tsai, Shih-Shan Henry (2002). Perpetual Happiness: The Ming Emperor Yongle. Seattle, Wash.; Chesham: University of Washington Press; Combined Academic. ISBN 0295981245.
- Wong, Nai-kwan (1997). Ming dai huang shi yan jiu 明代皇室研究 [A Study of the Imperial Family of the Ming Dynasty] (MPhil tesis) (dalam bahasa Tionghoa). Pokfulam, Hong Kong: The University of Hong Kong. doi:10.5353/th_b3122010. hdl:10722/33933.
- Zhang, Tingyu (1974) [1739]. Ming Shi 明史 [Sejarah Dinasti Ming] (dalam bahasa Literary Chinese). Beijing: Zhonghua Book. ISBN 7101003273.
Kaisar Hongxi Lahir: 16 Agustus 1378 Meninggal: 29 Mei 1425 | ||
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Kaisar Yongle |
Kaisar Dinasti Ming 12 Agustus 1424 – 29 Mei 1425 |
Diteruskan oleh: Kaisar Xuande |
| Keluarga Aisin Gioro | ||
| Lowong Terakhir dijabat oleh Zhu Wenkui |
Putra Mahkota Dinasti Ming 12 Mei 1404 – 12 Agustus 1424 |
Lowong Selanjutnya dijabat oleh Zhu Zhanji |