Minggu, 20 September 2026
21:14 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Indeks Eksplosivitas Vulkanik

Indeks Eksplosivitas Vulkanik

330px-VEIfigure_en.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Korelasi VEI dan volume ejekta

Indeks Eksplosivitas Vulkanik (bahasa Inggris:Volcanic Explosivity Index, disingkat VEI) adalah sebuah skala yang digunakan untuk mengukur besaran letusan gunung berapi eksplosif. Skala ini digagas oleh Christopher G. Newhall dari Survei Geologi Amerika Serikat dan Stephen Self pada tahun 1982.

Volume produk letusan, ketinggian awan erupsi, dan pengamatan kualitatif (menggunakan rentang istilah dari "ringan" hingga "mega-kolosal") digunakan untuk menentukan nilai daya ledak. Skala ini bersifat terbuka, dengan letusan-letusan terbesar dalam sejarah diberikan magnitudo 8. Nilai 0 diberikan untuk letusan non-eksplosif, yang didefinisikan sebagai kurang dari 10.000 m3 (350.000 cu ft) tefra yang terlontar; dan nilai 8 mewakili letusan supervulkanik yang mampu melontarkan 1,0×1012 m3 (240 mil kubik) tefra dan memiliki ketinggian kolom awan lebih dari 20 km (66.000 ft). Skala ini bersifat logaritmik, di mana setiap interval pada skalanya mewakili peningkatan kriteria ejekta teramati hingga sepuluh kali lipat, terkecuali untuk rentang antara VEI-0, VEI-1, dan VEI-2.[1]

Klasifikasi

Dengan indeks mulai dari 0 hingga 8, nilai VEI yang dikaitkan dengan suatu letusan bergantung pada seberapa banyak material vulkanik yang dilontarkan, ketinggiannya, dan berapa lama letusan tersebut berlangsung. Skala ini bersifat logaritmik dari VEI-2 ke atas; peningkatan 1 indeks menunjukkan letusan yang 10 kali lebih kuat. Oleh karena itu, terdapat ketidaksinambungan dalam definisi VEI antara indeks 1 dan 2. Batas bawah volume ejekta meloncat seratus kali lipat, dari 10.000 hingga 1.000.000 m3 (350.000 hingga 35.310.000 cu ft), sedangkan faktor kelipatannya adalah sepuluh di antara seluruh indeks yang lebih tinggi. Pada tabel berikut, frekuensi dari masing-masing VEI menunjukkan perkiraan frekuensi letusan-letusan baru dari VEI tersebut atau yang lebih tinggi.

VEI Volume
ejekta
(curah)
Klasifikasi Deskripsi Kepulan Periodisitas Injeksi
troposfer
Injeksi
stratosfer[2]
Contoh
0 < 104 m3HawaiiEfusif< 100 mkonstandapat diabaikantidak ada
Kīlauea, Mawson Peak (saat ini), Fagradalsfjall (2021-2023), Mauna Loa (1975, 1984, 2022), Piton de la Fournaise (saat ini)
1 > 104 m3Hawaii / StromboliRingan100 m – 1 kmharianminortidak ada
Yakedake (1995), Kompleks Vulkanik Dieng (1964, 1979, 2017), Gunung Bawah Laut Havre (2012), Sundhnúkur (2023-2025)
2 > 106 m3Stromboli / VulkanoEksplosif1–5 km2 minggusedangtidak ada
Gunung Etna, Stromboli (sejak 1934), Unzen (1792), Pulau Ritter (1888), White Island (2019), Marapi (2023)
3 > 107 m3Stromboli / Vulkano / Pelée / Sub-PliniusParah3–15 km3 bulansubstansialmungkin terjadi
Surtsey (1963-1967), Nevado del Ruiz (1985), Redoubt (1989-1990), Ontake (2014), Kanlaon (2024)
4 > 0,1 km3Pelée / Plinius / Sub-Plinius / VulkanoKatastrofik> 10 km18 bulansubstansialpasti terjadi
Bandai (1888), Pelée (1902), Lamington (1951), Eyjafjallajökull (2010), Merapi (2010), Semeru (2021)
5 > 1 km3Pelée / PliniusKataklismik> 20 km12 tahunsubstansialsignifikan
Vesuvius (79), Fuji (1707), Tarawera (1886), St. Helens (1980), Puyehue (2011), Hunga Tonga–Hunga Haʻapai (2022)
6 > 10 km3Plinius / Ultra-PliniusKolosal> 30 km50–100 tahunsubstansialsubstansial
Danau Ilopango (450), Paektu (946), Huaynaputina (1600), Krakatau (1883), Santa Maria (1902), Novarupta (1912), Pinatubo (1991)
7 > 100 km3Ultra-PliniusSuper-kolosal> 40 km500–1.000 tahunsubstansialsubstansial
Campi Flegrei (37 rb thn), Danau Crater (6000 SM ~ 4000 SM), Danau Kurile (6400 SM), Kikai (4300 SM), Kaldera Taal (~4000 SM), Cerro Blanco (2300 SM), Santorini (1600 SM), Taupo (232), Samalas (1257), Tambora (1815)
8 > 1.000 km3Ultra-PliniusMega-kolosal> 50 km> 50.000 tahun[3][4]masifmasif
Wah Wah Springs (30 jtl), La Garita (26,3 jtl), Yellowstone (2,1 jtl, 640 rb thn), Toba (74 rb thn), Taupō (26,5 rb thn)

Sekitar 40 letusan dengan magnitudo VEI-8 dalam 132 juta tahun terakhir (jtl) telah teridentifikasi, dengan 30 di antaranya terjadi dalam kurun 36 juta tahun terakhir. Mengingat frekuensi perkiraannya berada pada kisaran sekali setiap 50.000 tahun,[3] kemungkinan masih banyak letusan-letusan semacam itu dalam 132 jtl terakhir yang belum diketahui. Berdasarkan statistik yang tidak lengkap, para penulis lainnya berasumsi bahwa setidaknya telah ada 60 letusan VEI-8 yang teridentifikasi.[5][6] Yang paling baru adalah Letusan Oruanui di Danau Taupō, lebih dari 27.000 tahun yang lalu, yang berarti belum pernah ada satupun letusan ber-VEI 8 pada masa Holosen.[5]

Setidaknya telah terjadi 10 letusan berskala VEI-7 dalam 11.700 tahun terakhir. Terdapat pula 58 letusan Plinius, dan 13 letusan pembentuk kaldera, dengan magnitudo yang besar namun belum diketahui nilainya. Pada tahun 2010, Program Vulkanisme Global dari Institusi Smithsonian telah mengkatalogkan penetapan VEI terhadap 7.742 letusan gunung berapi yang terjadi selama kurun waktu Holosen (11.700 tahun terakhir), yang mana mencakup sekitar 75% dari total letusan yang diketahui selama Holosen. Dari 7.742 letusan ini, sekitar 49% memiliki VEI 2 atau lebih rendah, dan 90% memiliki VEI 3 atau lebih rendah.[7]

Keterbatasan

Di bawah klasifikasi VEI, abu, lava, bom lava, dan ignimbrit semuanya diperlakukan setara. Densitas dan vesikularitas (gelembung gas) dari produk vulkanik yang bersangkutan tidak diperhitungkan. Sebagai gantinya, nilai DRE (setara batuan padat) terkadang dihitung untuk memberikan jumlah aktual dari magma yang diletuskan. Kelemahan lainnya dari VEI adalah indeks ini tidak memperhitungkan keluaran daya dari suatu letusan, yang membuat nilai VEI sangat sulit ditentukan untuk letusan-letusan prasejarah atau letusan yang tidak teramati.

Meskipun VEI cukup sesuai untuk mengklasifikasikan besaran eksplosif suatu letusan, indeks ini tidak sesignifikan emisi belerang dioksida dalam mengkuantifikasi dampaknya terhadap atmosfer dan iklim.[8]

Daftar letusan penting

960px-Volcanic_eruption_map.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta gambar letusan gunung berapi terbesar yang dapat diklik menurut Masehi
Sumber: Survei Geologi Amerika Serikat.

Lihat pula

Referensi

  1. Newhall, Christopher G.; Self, Stephen (1982). "The Volcanic Explosivity Index (VEI): An Estimate of Explosive Magnitude for Historical Volcanism" (PDF). Journal of Geophysical Research. 87 (C2): 1231–1238. Bibcode:1982JGR....87.1231N. doi:10.1029/JC087iC02p01231. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal Desember 13, 2013.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "Volcanic Explosivity Index (VEI)". Global Volcanism Program. Smithsonian National Museum of Natural History. Diarsipkan dari asli tanggal November 10, 2011. Diakses tanggal Agustus 21, 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Dosseto, A. (2011). Turner, S. P.; Van-Orman, J. A. (ed.). Timescales of Magmatic Processes: From Core to Atmosphere. Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4443-3260-5.
  4. Rothery, David A. (2010), Volcanoes, Earthquakes and Tsunamis, Teach Yourself
  5. 1 2 Mason, Ben G.; Pyle, David M.; Oppenheimer, Clive (2004). "The size and frequency of the largest explosive eruptions on Earth". Bulletin of Volcanology. 66 (8): 735–748. Bibcode:2004BVol...66..735M. doi:10.1007/s00445-004-0355-9. S2CID 129680497.
  6. Bryan, S.E. (2010). "The largest volcanic eruptions on Earth" (PDF). Earth-Science Reviews. 102 (3–4): 207–229. Bibcode:2010ESRv..102..207B. doi:10.1016/j.earscirev.2010.07.001.
  7. Siebert, L.; Simkin, T.; Kimberly, P. (2010). Volcanoes of the World (Edisi 3rd). University of California Press. hlm. 28–38. ISBN 978-0-520-26877-7.
  8. Miles, M. G.; Grainger, R. G.; Highwood, E. J. (2004). "Volcanic Aerosols: The significance of volcanic eruption strength and frequency for climate" (PDF). Quarterly Journal of the Royal Meteorological Society. 130 (602): 2361–2376. Bibcode:2004QJRMS.130.2361M. doi:10.1256/qj.03.60. S2CID 53005926.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan