| Gunung Tambora | |
|---|---|
| Tomboro | |
Kaldera Gunung Tambora dilihat dari orbit Bumi | |
| Titik tertinggi | |
| Ketinggian | 2.722 m (8.930 ft)[1][2] |
| Puncak | 2.722 m (8.930 ft)[1][3] |
| Masuk dalam daftar | Ultra Ribu |
| Koordinat | 8°15′S 118°0′E / 8.250°S 118.000°E / -8.250; 118.000 |
| Geografi | |
| Letak | Bima dan Dompu, Semenanjung Sanggar, Sumbawa, Kepulauan Nusa Tenggara, Indonesia |
| Geologi | |
| Usia batuan | Pleistosen Akhir-sekarang |
| Jenis gunung | Stratovulkano trakibasaltik-trakindesitik |
| Busur vulkanik | Busur Sunda |
| Letusan terakhir | 1967[1] |
| Pendakian | |
| Rute termudah | Tenggara: Doro Mboha Barat Laut: Pancasila |
Gunung Tambora atau Tomboro adalah stratovulkano aktif di Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Terletak di Sumbawa di kawasan Kepulauan Nusa Tenggara, aktivitas vulkanis gunung ini merupakan hasil dari zona subduksi. Letusan tahun 1815 merupakan letusan terbesar dalam sejarah yang tercatat, memuntahkan hingga 150 kilometer kubik material vulkanis yang menjadikannya berskala VEI-7 pada Indeks Eksplosivitas Vulkanik. Peristiwa ini menyebabkan musim panas tahun 1816 dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas" akibat pendinginan global yang dipicu oleh letusan tersebut.[4]
Letak geografis


Gunung Tambora terletak di bagian utara Pulau Sumbawa, bagian dari Kepulauan Nusa Tenggara.[5] Gunung ini merupakan bagian dari Busur Sunda, rangkaian pulau vulkanik yang membentuk deretan selatan kepulauan Indonesia.[6] Tambora membentuk semenanjung tersendiri di Sumbawa, yang dikenal sebagai Semenanjung Sanggar. Di sebelah utara semenanjung tersebut terdapat Laut Flores[7] dan di sebelah selatannya terdapat Teluk Saleh yang memiliki panjang 86 kilometer (53 mi) dan lebar 36 kilometer (22 mi).[8] Di mulut Teluk Saleh terdapat sebuah pulau kecil bernama Mojo.[9]
Selain para seismolog dan vulkanolog yang memantau aktivitas gunung ini, Gunung Tambora juga menjadi kawasan yang menarik bagi para arkeolog dan biolog. Gunung ini juga menarik wisatawan untuk melakukan pendakian dan aktivitas alam liar,[10] meskipun dalam jumlah yang kecil.[11] Dua kota terdekat adalah Dompu dan Bima. Terdapat tiga titik konsentrasi pemukiman desa di sekitar lereng gunung. Di sebelah timur terdapat Desa Sanggar, di sebelah barat laut terdapat Desa Doro Peti dan Pesanggrahan, dan di sebelah barat terdapat Desa Calabai.[12]
Terdapat dua jalur pendakian menuju kaldera. Jalur pertama dimulai dari Desa Doro Mboha di sebelah tenggara gunung dan melewati jalan beraspal melalui perkebunan jambu mete hingga mencapai ketinggian 1.150 meter (3.770 ft). Jalan tersebut berakhir di bagian selatan kaldera, yang berada pada ketinggian 1.950 meter (6.400 ft) dan hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.[12] Lokasi ini hanya berjarak satu jam dari kaldera, dan biasanya berfungsi sebagai tempat perkemahan induk (base camp) untuk memantau aktivitas vulkanis. Jalur kedua dimulai dari Desa Pancasila di sebelah barat laut gunung dan hanya dapat diakses dengan berjalan kaki.[12] Pendakian sepanjang 16-kilometer (10 mi) dari Pancasila pada ketinggian 740 meter (2.430 ft) menuju kaldera gunung berapi ini memakan waktu sekitar 14 jam dengan beberapa pemberhentian (pos) dalam perjalanan menuju puncak. Jalur ini melewati hutan lebat dengan margasatwa seperti Elaeocarpus, biawak air Asia, sanca kembang, burung elang, gosong berkaki-jingga, kepudang-sungu bahu-pucat (Coracina dohertyi), burung isap-madu cokelat dan isap-madu mahkota-bersisik, kakatua kecil jambul kuning, kacamata wallacea, cikukua tanduk, babi hutan, rusa jawa, dan kera ekor panjang.[13]
Sejarah
Sejarah geologi
Pembentukan

Tambora terletak 340 kilometer (210 mi) di sebelah utara sistem Palung Jawa dan 180 hingga 190 kilometer (110 hingga 120 mi) di atas permukaan atas zona subduksi aktif yang miring ke utara. Pulau Sumbawa diapit di sebelah utara dan selatan oleh kerak samudra.[14] Laju konvergensi Lempeng Australia di bawah Lempeng Sunda adalah 78 sentimeter (31 in) per tahun.[15] Perkiraan awal mula aktivitas vulkanis di Gunung Tambora berkisar antara 57[8] hingga 43 ka. Perkiraan terakhir yang diterbitkan pada tahun 2012 ini didasarkan pada penanggalan argon dari aliran lava pra-kaldera yang pertama.[16] Pembentukan Tambora menguras dapur magma besar yang sebelumnya telah ada di bawah gunung tersebut. Pulau kecil Mojo terbentuk sebagai bagian dari proses ini, di mana Teluk Saleh pertama kali muncul sebagai cekungan laut sekitar 25.000 tahun yang lalu.[8]
Kerucut vulkanis yang tinggi dengan satu lubang pusat terbentuk sebelum letusan tahun 1815, dengan bentuk yang menyerupai stratovulkano.[17] Diameter pada bagian dasarnya adalah 60 kilometer (37 mi).[6] Gunung berapi ini sering memuntahkan lava yang mengalir menuruni lereng yang curam.[17] Tambora telah menghasilkan batuan trakibasalt dan trakiandesit yang kaya akan kalium. Batuan vulkanis tersebut mengandung fenokris apatit, biotit, klinopiroksen, leusit, magnetit, olivin, dan plagioklas, dengan komposisi tepat dari fenokris tersebut bervariasi di antara jenis batuan yang berbeda.[6] Ortopiroksen tidak ditemukan dalam trakiandesit Tambora.[18] Olivin paling banyak ditemukan pada batuan dengan kandungan SiO2 kurang dari 53 persen, sedangkan mineral ini tidak ada pada batuan vulkanis yang lebih kaya silika, yang ditandai dengan keberadaan fenokris biotit.[19] Seri mafik juga mengandung titanium magnetit dan trakibasalt didominasi oleh plagioklas yang kaya akan anortosit.[20] Rubidium, stronsium, dan fosforus pentoksida sangat kaya dalam lava dari Tambora, melebihi lava sejenis dari Gunung Rinjani.[21] Lava Tambora sedikit lebih kaya akan zirkon jika dibandingkan dengan lava Rinjani.[22]
Magma yang terlibat dalam letusan tahun 1815 berasal dari mantel dan lebih lanjut dimodifikasi oleh lelehan yang berasal dari sedimen yang tersubduksi, cairan dari kerak yang tersubduksi, serta proses kristalisasi di dalam dapur magma.[16] Rasio 87Sr86Sr Gunung Tambora mirip dengan rasio Gunung Rinjani, tetapi lebih rendah daripada yang diukur di Sangeang Api.[14] Kadar kalium dalam batuan vulkanis Tambora melebihi 3 persen berat, menempatkannya dalam kisaran shoshonit untuk seri alkalin.[23]
Sejak letusan tahun 1815, bagian paling bawah mengandung endapan dari urutan berlapis antara lava dan material piroklastik. Sekitar 40% dari lapisan tersebut diwakili oleh aliran lava setebal 1 hingga 4 m (3,3 hingga 13,1 ft).[17] Lapisan skoria yang tebal dihasilkan oleh fragmentasi aliran lava. Di dalam bagian atas, lava berselang-seling dengan skoria, tuf, aliran piroklastik, dan guguran piroklastik.[17] Tambora memiliki setidaknya 20 kerucut parasit[15] dan kubah lava, termasuk Doro Afi Toi, Kadiendi Nae, Molo, dan Tahe.[24] Produk utama dari lubang-lubang parasit ini adalah aliran lava basal.[15]
Sejarah letusan
Penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa Gunung Tambora telah meletus tiga kali selama kala Holosen sebelum letusan tahun 1815, tetapi besaran letusan-letusan tersebut tidak diketahui. Perkiraan waktu terjadinya adalah 3910 SM ± 200 tahun, 3050 SM, dan 740 M ± 150 tahun.[25] Kaldera yang lebih tua terisi oleh aliran lava sejak tahun 43.000 SM; dua letusan piroklastik terjadi setelahnya dan membentuk Formasi Pasir Hitam dan Tuf Cokelat, dengan formasi terakhir terbentuk antara sekitar 3895 SM dan 800 M.[16]
Pada tahun 1812, Gunung Tambora mulai sangat aktif, dengan intensitas letusan maksimum terjadi pada bulan April 1815.[25] Besarannya mencapai skala 7 pada Indeks Eksplosivitas Vulkanis (VEI), dengan total volume ejekta tefra hingga 1,8 × 1011 meter kubik, atau 180 kilometer kubik.[25] Karakteristik letusannya meliputi letusan dari lubang pusat serta letusan eksplosif, aliran piroklastik, tsunami, dan runtuhnya kaldera. Letusan ini berdampak pada iklim global. Aktivitas vulkanis berhenti pada 15 Juli 1815.[25] Aktivitas kembali berlanjut pada Agustus 1819—sebuah letusan kecil disertai "kobaran api" dan gempa susulan yang bergemuruh, yang dianggap sebagai bagian dari rangkaian letusan tahun 1815.[7] Letusan ini tercatat berskala 2 pada indeks VEI.
Sekitar tahun 1880 ± 30 tahun, letusan di Gunung Tambora yang tercatat hanya terjadi di dalam kaldera.[25] Letusan ini menghasilkan aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava; peristiwa ini tercatat berskala 2 pada indeks VEI. Letusan ini membentuk kerucut parasit Doro Api Toi di dalam kaldera.[26]
Gunung Tambora masih aktif, dan kubah serta aliran lava kecil terekstrusi di dasar kaldera selama abad ke-19 dan ke-20.[1] Letusan terakhir tercatat pada tahun 1967. Letusan tersebut merupakan letusan efusif dengan skala VEI 0, yang berarti bersifat non-eksplosif.[25][27] Letusan lain yang sangat kecil dilaporkan terjadi pada tahun 2011.[28] Pada Agustus 2011, status untuk gunung berapi ini dinaikkan dari level I menjadi level II setelah adanya laporan peningkatan aktivitas di dalam kaldera, termasuk gempa bumi dan emisi uap.[29][30]
Letusan 1815

Tambora mengalami serangkaian letusan hebat yang dimulai pada 5 April 1815, dan memuncak menjadi letusan terbesar dalam sejarah manusia yang tercatat. Dapur magma di bawah Tambora telah dikuras oleh letusan-letusan sebelumnya dan berada dalam kondisi dorman selama beberapa abad seiring terisinya kembali dapur magma tersebut. Aktivitas vulkanis mencapai puncaknya pada tahun tersebut, yang diakhiri dengan letusan eksplosif yang terdengar hingga ke Pulau Sumatra, sejauh lebih dari 2.600 kilometer (1.600 mi) away dan kemungkinan hingga lebih dari 3.350 kilometer (2.080 mi) jauhnya di Thailand dan Laos.[31] Hujan abu vulkanis yang lebat terpantau hingga sejauh Borneo, Sulawesi, Jawa, dan Kepulauan Maluku, dan ketinggian maksimum Tambora menyusut dari sekitar 4.300 hingga 2.850 meter (14.110 hingga 9.350 kaki). Perkiraan jumlah korban bervariasi, tetapi korban jiwa sedikitnya mencapai 71.000 orang.[7] Letusan ini memicu anomali iklim global pada tahun-tahun berikutnya, sementara tahun 1816 dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas" karena dampaknya terhadap cuaca di Amerika Utara dan Eropa. Di Belahan Bumi Utara, kegagalan panen terjadi dan hewan ternak mati, sehingga mengakibatkan kelaparan terburuk pada abad tersebut.
Kronologi letusan
Sebelum tahun 1815, Gunung Tambora telah berada dalam kondisi dorman selama beberapa abad, seiring dengan mendinginnya magma hidrus secara bertahap di dalam dapur magma yang tertutup.[6] Di dalam dapur magma tersebut, pada kedalaman 15 hingga 45 kilometer (9,3 hingga 28,0 mi), pendinginan dan kristalisasi parsial magma menyebabkan keluarnya fluida magmatik bertekanan tinggi. Tekanan berlebih pada dapur magma sekitar 4.000 hingga 5.000 bar (58.000 hingga 73.000 psi) terbentuk ketika suhu berkisar antara 700 hingga 850 °C (1.300 hingga 1.600 °F).[6] Pada tahun 1812, kawah gunung mulai bergemuruh dan menghasilkan awan gelap.[32]
Sebuah letusan berukuran sedang pada tanggal 5 April 1815 diikuti oleh suara dentuman menggelegar yang terdengar hingga ke Ternate di Kepulauan Maluku, sejauh 1.400 kilometer (870 mi) dari Gunung Tambora. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanis mulai jatuh di Jawa Timur, dengan suara dentuman lemah yang bertahan hingga tanggal 10 April.[32] Suara yang awalnya dikira sebagai tembakan meriam terdengar pada tanggal 10 dan 11 April di Pulau Sumatra (lebih dari 2.600 kilometer (1.600 mi) jauhnya),[33] dan kemungkinan hingga lebih dari 3.350 kilometer (2.080 mi) jauhnya di Thailand dan Laos.[31]
Letusan semakin hebat pada sekitar pukul 19.00 tanggal 10 April.[32] Tiga kolom asap membubung dan menyatu.[33] Serpihan batu apung dengan diameter hingga 20 sentimeter (7,9 in) menghujani wilayah sekitar pada sekitar pukul 20.00, diikuti oleh hujan abu pada sekitar pukul 21.00–22.00. Kolom letusan kemudian runtuh, menghasilkan aliran piroklastik panas yang menerjang menuruni gunung menuju laut di semua sisi semenanjung, serta menyapu bersih Desa Tambora. Ledakan keras terdengar hingga malam berikutnya, 11 April. Selubung abu menyebar hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, sementara bau belerang yang menyengat tercium hingga ke Batavia. Hujan lebat bercampur tefra baru mereda pada tanggal 17 April.[32] Analisis di berbagai lokasi di Gunung Tambora menggunakan radar penembus tanah mengungkapkan adanya perselingan endapan batu apung dan abu yang tertutup oleh sedimen gelombang dan aliran piroklastik dengan ketebalan yang bervariasi di setiap wilayah.[34]
Letusan ini diperkirakan berada pada skala 7 Indeks Eksplosivitas Vulkanis.[35] Energinya mencapai 4 hingga 10 kali lipat dari Letusan Krakatau 1883.[36] Diperkirakan sebanyak 100 kilometer kubik (24 cu mi) piroklastik trakiandesit terlontar, dengan perkiraan berat mencapai 1,4×1014 kg.[7] Peristiwa ini menyisakan kaldera dengan diameter 6 hingga 7 kilometer (3,7 hingga 4,3 mi) dan kedalaman 600 hingga 700 meter (2.000 hingga 2.300 ft).[32] Kepadatan abu yang jatuh di Makassar adalah 636 kg/m3.[37] Sebelum ledakan terjadi, Gunung Tambora memiliki ketinggian sekitar 4.300 meter (14.100 ft),[32] menjadikannya salah satu puncak tertinggi di kepulauan Indonesia. Setelah letusan tahun 1815, ketinggian maksimumnya berkurang menjadi 2.851 meter (9.354 ft).[38]
Letusan Tambora tahun 1815 merupakan letusan terbesar dan paling merusak yang pernah diamati dalam sejarah penulisan manusia; perbandingannya dengan letusan besar lainnya tercantum di bawah ini.[7][32][39] Ledakan terdengar sejauh 2.600 kilometer (1.600 mi) atau 3.350 kilometer (2.080 mi), dan endapan abu tercatat hingga jarak setidaknya 1.300 kilometer (810 mi). Kegelapan total terpantau hingga sejauh 600 kilometer (370 mi) dari puncak gunung selama dua hari.[32] Aliran piroklastik menyebar hingga jarak sekitar 20 kilometer (12 mi) dari puncak, dan sekitar 9,3–11,8 × 1013 g aerosol sulfat stratosfer dihasilkan oleh letusan tersebut.[40]
Dampak langsung
Seluruh vegetasi di pulau tersebut hancur seiring dengan hanyutnya pohon-pohon yang tumbang dan bercampur dengan abu batu apung ke laut, sehingga membentuk rakitan material terapung dengan diameter hingga 5 kilometer (3,1 mi).[32] Salah satu rakit batu apung ditemukan di Samudra Hindia, dekat Kalkuta, pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815.[7] Awan abu tebal masih menutupi puncak gunung pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, meskipun emisi asap masih terpantau hingga tanggal 23 Agustus. Kobaran api dan gempa susulan yang bergemuruh dilaporkan terjadi pada bulan Agustus 1819, empat tahun setelah peristiwa tersebut.
Dalam perjalanan saya menuju bagian barat pulau ini, saya melewati hampir seluruh wilayah Dompo dan sebagian besar Bima. Kesengsaraan luar biasa yang menimpa para penduduk sangat mengerikan untuk dilihat. Di tepi jalan masih terdapat sisa-sisa beberapa mayat, dan tanda-tanda tempat banyak jenazah lainnya telah dikuburkan: desa-desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah runtuh, sementara penduduk yang selamat telah berpencar untuk mencari makanan.
...
Sejak letusan terjadi, penyakit diare parah mewabah di Bima, Dompo, dan Sang'ir, yang telah merenggut nyawa banyak orang. Penduduk setempat menduga penyakit ini disebabkan oleh air minum yang telah tercemar abu; kuda-kuda juga mati dalam jumlah besar akibat keluhan yang serupa.
—Letnan Philips, yang diperintahkan oleh Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa[33]
Sebuah tsunami berkekuatan sedang menghantam pantai-pantai di berbagai pulau di kepulauan Indonesia pada tanggal 10 April, dengan gelombang mencapai 4 meter (13 ft) di Sanggar sekitar pukul 22.00. Tsunami yang menyebabkan gelombang setinggi 1 hingga 2 meter (3,3 hingga 6,6 ft) dilaporkan terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam, dan gelombang lainnya melebihi 2 meter (6,6 ft) di Kepulauan Maluku.[32] Kolom letusan mencapai stratosfer pada ketinggian lebih dari 43 kilometer (141.000 ft).[7] Partikel abu yang lebih kasar jatuh satu hingga dua minggu setelah letusan, sementara partikel yang lebih halus bertahan di atmosfer selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun pada ketinggian 10 hingga 30 kilometer (33.000 hingga 98.000 ft).[32] Terdapat berbagai perkiraan mengenai volume abu yang dikeluarkan: sebuah studi baru-baru ini memperkirakan volume setara batuan padat untuk abu tersebut sebesar 23 ± 3 kilometer kubik (5,52 ± 0,72 cu mi) dan volume setara batuan padat sebesar 18 ± 6 kilometer kubik (4,3 ± 1,4 cu mi) untuk aliran piroklastik.[41] Angin membujur menyebarkan partikel-partikel halus ini ke seluruh dunia, menciptakan fenomena optis. Antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli, serta antara tanggal 3 September dan 7 Oktober 1815, matahari terbenam dan senja yang berkepanjangan dengan warna-warna cemerlang sering terlihat di London. Warna merah muda atau ungu paling sering muncul di atas cakrawala pada waktu senja, dan warna jingga atau merah di dekat cakrawala.[32]
Korban jiwa
Jumlah korban jiwa telah diperkirakan oleh berbagai sumber sejak abad ke-19. Ahli botani Swiss Heinrich Zollinger melakukan perjalanan ke Sumbawa pada tahun 1847 dan mengumpulkan laporan saksi mata mengenai letusan Tambora tahun 1815. Pada tahun 1855, ia menerbitkan perkiraan jumlah korban yang tewas secara langsung sebanyak 10.100 jiwa, sebagian besar akibat aliran piroklastik. Sebanyak 37.825 orang lainnya meninggal akibat kelaparan di pulau Sumbawa. [42] Di Lombok, 10.000 orang lainnya meninggal akibat penyakit dan kelaparan.[43] Petroeschevsky (1949) memperkirakan bahwa masing-masing sekitar 48.000 dan 44.000 orang tewas di Sumbawa dan Lombok.[44] Beberapa penulis telah menggunakan angka Petroeschevsky, seperti Stothers (1984), yang memperkirakan total 88.000 kematian.[32] Tanguy et al. (1998) menganggap angka Petroeschevsky didasarkan pada sumber yang tidak dapat dilacak, sehingga mereka menyusun perkiraan yang semata-mata didasarkan pada dua sumber primer: Zollinger, yang menghabiskan beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan, dan catatan Sir Stamford Raffles,[33] Gubernur Jenderal Hindia Belanda selama peristiwa tersebut. Tanguy menunjukkan bahwa mungkin terdapat korban tambahan di Bali dan Jawa Timur karena kelaparan dan penyakit, serta memperkirakan 11.000 kematian akibat dampak vulkanis langsung dan 49.000 akibat kelaparan serta epidemi pascaletusan.[45] Oppenheimer (2003) memperkirakan setidaknya 71.000 kematian,[7] dan angka hingga mencapai 117.000 jiwa telah diajukan.[39]
| Gunung berapi | Lokasi | Tahun | Tinggi kolom letusan (km) | VEI | Anomali musim panas Belahan Bumi Utara (°C) | Korban jiwa |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Gunung Taupō | 181 | 51 | 7 | ? | kecil kemungkinan | |
| Gunung Paektu | 946 | 25 | 7 | ? | ? | |
| Gunung Samalas | 1257 | 38–43[46] | 7[47] | −1.2[48] | ? | |
| Letusan misterius 1452/1453 | Tidak diketahui | 1452 | ? | 7 | −0.5 | ? |
| Huaynaputina | 1600 | 46 | 6 | −0.8 | ≈1.400 | |
| Gunung Tambora | 1815 | 44[49] | 7 | −0.5 | >71.000 | |
| Krakatau | 1883 | 80 | 6 | −0.3 | 36.600 | |
| Gunung Santa María | 1902 | 34 | 6 | tidak ada anomali | 7.000–13.000 | |
| Novarupta | 1912 | 32 | 6 | −0.4 | 2 | |
| Gunung St. Helens | 1980 | 24 | 5 | tidak ada anomali | 57 | |
| El Chichón | 1982 | 32 | 5 | ? | >2.000 | |
| Nevado del Ruiz | 1985 | 27 | 3 | tidak ada anomali | 23.000 | |
| Gunung Pinatubo | 1991 | 34 | 6 | −0.5 | 1.022 | |
| Hunga Tonga–Hunga Haʻapai | 2022 | 58 | 5–6 | ? | 6 | |
| Sumber: Oppenheimer (2003),[7] dan Program Vulkanisme Global Institusi Smithsonian[50] | ||||||
Dampak global

Letusan tahun 1815 melepaskan 10 hingga 120 juta ton belerang[7] ke stratosfer, yang memicu anomali iklim global. Berbagai metode telah digunakan untuk memperkirakan massa belerang yang dilontarkan: metode petrologi, pengukuran ketebalan optis berdasarkan pengamatan anatomi, serta metode konsentrasi sulfat pada inti es kutub, yang dikalibrasi dengan sampel inti es dari Greenland dan Antartika.
Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah selubung aerosol sulfat stratosfer yang persisten, yang saat itu digambarkan sebagai "kabut kering", terpantau di bagian timur laut Amerika Serikat. Selubung ini tidak terdispersi oleh angin atau curah hujan, serta memerahkan dan meredupkan cahaya matahari hingga bintik matahari dapat dilihat dengan mata telanjang.[7] Wilayah di Belahan Bumi Utara mengalami kondisi cuaca ekstrem dan tahun 1816 kemudian dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas". Suhu rata-rata global menurun sekitar 04 hingga 07 °C (7,2 hingga 12,6 °F),[32] yang cukup untuk menimbulkan masalah pertanian yang signifikan di seluruh dunia. Setelah tanggal 4 Juni 1816, ketika terjadi embun beku di Connecticut, cuaca dingin meluas ke sebagian besar New England. Pada 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York dan Dennysville, Maine. Kondisi serupa bertahan selama setidaknya tiga bulan, sehingga merusak sebagian besar tanaman di seluruh Amerika Utara sementara Kanada mengalami dingin yang ekstrem. Salju turun hingga tanggal 10 Juni di dekat Kota Quebec, dengan akumulasi mencapai 30 sentimeter (12 in).[7]
Tahun tersebut menjadi tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak 1400,[35] sedangkan dekade 1810-an merupakan dekade terdingin yang pernah tercatat, sebagai dampak dari letusan Tambora dan peristiwa vulkanis lainnya yang diduga terjadi antara tahun 1809 dan 1810.[52] (Lihat grafik konsentrasi sulfat.) Anomali suhu permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817, dan 1818 masing-masing adalah −0,51, −0,44, dan −0,29 °C.[35] Selain musim panas yang lebih dingin, sebagian wilayah Eropa mengalami musim dingin yang lebih berbadai,[7] dan Sungai Elbe serta Sungai Ohře membeku selama dua belas hari pada bulan Februari 1816. Akibatnya, harga gandum, gandum hitam, jelai, dan oat melonjak drastis pada tahun 1817.[53]
Anomali iklim ini disebut-sebut sebagai alasan parahnya epidemi tifus tahun 1816–1819 di Eropa tenggara dan Mediterania timur.[7] Hewan ternak mati dalam jumlah besar di New England selama musim dingin 1816–1817, sementara suhu yang dingin dan hujan lebat menyebabkan kegagalan panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales menempuh perjalanan jauh sebagai pengungsi untuk meminta makanan. Kelaparan merajalela di Irlandia utara dan barat daya, menyusul kegagalan panen gandum, oat, dan kentang. Krisis ini berlangsung parah di Jerman, di mana harga pangan melonjak tajam. Demonstrasi di pasar biji-bijian dan toko roti, yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, terjadi di banyak kota di Eropa. Peristiwa ini merupakan kelaparan terburuk pada abad ke-19.[7]
Budaya

Sebuah pemukiman manusia yang musnah akibat letusan Tambora ditemukan pada tahun 2004. Pada musim panas tahun itu, sebuah tim yang dipimpin oleh Haraldur Sigurðsson bersama para ilmuwan dari Universitas Rhode Island, Universitas North Carolina di Wilmington, dan Direktorat Vulkanologi Indonesia memulai sebuah penggalian arkeologis di Tambora. Selama enam minggu, mereka menemukan bukti adanya pemukiman sekitar 25 kilometer (16 mi) di sebelah barat kaldera, jauh di dalam hutan, 5 kilometer (3,1 mi) dari pantai. Tim tersebut menggali deposit batu apung dan abu setebal 3 meter (9,8 ft).[54] Para ilmuwan menggunakan radar penembus tanah untuk menemukan sebuah rumah kecil yang terkubur, yang berisi jasad dua orang dewasa, mangkuk perunggu, pot keramik, perkakas besi, dan artefak lainnya.[54] Pengujian mengungkapkan bahwa benda-benda tersebut telah terkarbonisasi oleh panasnya magma. Sigurdsson menjuluki penemuan ini sebagai "Pompeii dari Timur",[55][56] dan laporan media menyebutnya sebagai "Kerajaan Tambora yang Hilang".[57][58] Sigurdsson bermaksud kembali ke Tambora pada tahun 2007 to mencari desa-desa lainnya, dan berharap dapat menemukan sebuah istana.[54] Banyak desa di kawasan tersebut telah memeluk agama Islam pada abad ke-17, tetapi struktur yang ditemukan sejauh ini tidak menunjukkan pengaruh Islam.[57]
Berdasarkan artefak yang ditemukan, seperti kerajinan perunggu dan porselen berhias indah yang kemungkinan berasal dari Vietnam atau Kamboja, tim tersebut menyimpulkan bahwa masyarakatnya merupakan pedagang yang berkecukupan.[57] Masyarakat Sumbawa dikenal di Hindia Timur karena kuda, madu, kayu secang (untuk menghasilkan pewarna merah), dan kayu cendana (untuk dupa dan obat-obatan) mereka. Kawasan tersebut diperkirakan sangat produktif secara pertanian.[54]
Bahasa masyarakat Tambora ikut lenyap bersama letusan tersebut. Para ahli bahasa telah memeriksa sisa-sisa materi leksikal, seperti catatan Zollinger dan Raffles, dan menetapkan bahwa bahasa Tambora bukanlah bahasa Austronesia, sebagaimana yang diperkirakan untuk kawasan tersebut, melainkan kemungkinan sebuah bahasa isolat, atau mungkin anggota dari salah satu rumpun bahasa Papua yang ditemukan 500 kilometer (310 mi) atau lebih jauh ke arah timur.[59]
Letusan ini diabadikan dalam cerita rakyat di kemudian hari, yang menjelaskan katastrofe tersebut sebagai hukuman ilahi. Seorang penguasa setempat konon telah mendatangkan murka Allah karena memberi makan daging anjing kepada seorang haji dan membunuhnya.[11] Hal ini diungkapkan dalam sebuah syair yang ditulis sekitar tahun 1830:
Bunyi bahananya sangat berjabuh |
Bunyinya bergema dengan keras |
Ekosistem


Sebuah tim yang dipimpin oleh ahli botani Swiss Heinrich Zollinger tiba di Sumbawa pada tahun 1847. Zollinger bertujuan untuk mempelajari area letusan beserta dampaknya terhadap ekosistem setempat. Ia adalah orang pertama setelah letusan yang mendaki ke puncak gunung, yang saat itu masih tertutup asap. Ketika Zollinger mendaki, kakinya beberapa kali terperosok melalui kerak permukaan yang tipis ke dalam lapisan hangat belerang yang menyerupai bubuk. Beberapa vegetasi telah tumbuh kembali, termasuk pepohonan di lereng bagian bawah. Hutan Casuarina (cemara gunung) tercatat berada pada ketinggian 2.200 hingga 2.550 meter (7.220 hingga 8.370 ft), sementara beberapa padang rumput Imperata cylindrica (alang-alang) juga ditemukan.[60] Pada bulan Agustus 2015, sebuah tim dari Georesearch Volcanedo Jerman menyusuri jalur yang digunakan oleh Zollinger dan menjelajahi rute ini untuk pertama kalinya sejak tahun 1847. Karena jauhnya jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, suhu yang terkadang sangat tinggi, serta keterbatasan air, perjalanan ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim Georesearch Volcanedo.[61]
Pemukiman kembali di kawasan ini dimulai pada tahun 1907, dan sebuah perkebunan kopi dibuka pada tahun 1930-an di Desa Pekat yang terletak di lereng barat laut.[11] Hutan hujan lebat yang didominasi oleh pohon Duabanga moluccana (benuang laki) telah tumbuh pada ketinggian 1.000 hingga 2.800 meter (3.300 hingga 9.200 ft).[11] Hutan ini mencakup area hingga seluas 80.000 hektare (200.000 ekar). Hutan hujan tersebut ditemukan oleh sebuah tim asal Belanda yang dipimpin oleh Koster dan de Voogd pada tahun 1933. Berdasarkan catatan mereka, mereka memulai perjalanan di "daerah yang cukup tandus, kering, dan panas", lalu memasuki "hutan belantara yang lebat" dengan "pohon-pohon raksasa hutan yang besar dan megah".[11] Pada ketinggian 1.100 meter (3.600 ft), pepohonan menjadi lebih jarang dan ramping. Di atas ketinggian 1.800 meter (5.900 ft), mereka menemukan tumbuhan berbunga Dodonaea viscosa (tangan-tangan) yang didominasi oleh pohon Casuarina. Di bagian puncak, terdapat tumbuhan Edelweiss (anafalika) dan Wahlenbergia yang tumbuh jarang.[11]
Sebuah survei pada tahun 1896 mencatat 56 spesies burung, termasuk kacamata berjambul.[62] Beberapa survei zoologi lainnya menyusul dan menemukan spesies burung lain, dengan lebih dari 90 spesies burung yang ditemukan pada periode ini. Di antaranya, kakatua kecil jambul kuning, burung anis dari genus Zoothera, tiong emas, ayam hutan hijau, dan perkici pelangi diburu oleh masyarakat setempat untuk perdagangan burung pekicau. Gosong berkaki-jingga diburu untuk dijadikan bahan makanan. Eksploitasi burung ini mengakibatkan penurunan populasi, dan kakatua kecil jambul kuning kini berada di ambang kepunahan di Pulau Sumbawa.[62]
Perusahaan penebangan kayu komersial mulai beroperasi di kawasan tersebut pada tahun 1972, sehingga mengancam kelestarian hutan hujan.[11] Perusahaan tersebut memegang konsesi penebangan kayu untuk area seluas 20.000 hektare (49.000 ekar), atau 25% dari total luas kawasan.[11] Bagian lain dari hutan hujan tersebut digunakan sebagai lokasi berburu. Di antara lokasi berburu dan area penebangan kayu terdapat kawasan suaka margasatwa yang ditetapkan sebagai tempat hidup bagi rusa, kerbau, babi hutan, kelelawar, kalong, serta berbagai spesies reptil dan burung.[11] Pada tahun 2015, kawasan konservasi yang melindungi ekosistem gunung ini ditingkatkan statusnya menjadi taman nasional.[63][64]
Eksplorasi dasar kaldera
Zollinger (1847), van Rheden (1913), dan W. A. Petroeschevsky (1947) hanya dapat mengamati dasar kaldera dari pinggiran kawah. Pada tahun 2013, sebuah tim peneliti asal Jerman (Georesearch Volcanedo Jerman) untuk pertama kalinya melakukan ekspedisi yang lebih lama ke dalam kaldera sedalam sekitar 1.300 meter (4.300 ft) ini. Dengan bantuan tim lokal, mereka menuruni dinding kaldera bagian selatan dan berhasil mencapai dasar kaldera di tengah kondisi yang ekstrem. Tim tersebut tinggal di dalam kaldera selama sembilan hari. Manusia hanya pernah mencapai dasar kaldera dalam beberapa kasus langka karena perjalanan menuruni dinding yang curam sangat sulit dan berbahaya, serta rawan terhadap gempa bumi, tanah longsor, dan batu runtuh. Selain itu, sebelumnya mereka hanya dapat tinggal dalam waktu yang relatif singkat di dasar kaldera karena kendala logistik, sehingga studi yang ekstensif tidak memungkinkan untuk dilakukan. Program penelitian Georesearch Volcanedo di dasar kaldera mencakup penyelidikan dampak letusan-letusan kecil yang terlihat yang terjadi sejak tahun 1815, pengukuran gas, studi flora dan fauna, serta pengukuran data cuaca. Hal yang sangat mencolok adalah aktivitas Doro Api Toi ("Gunung Api Kecil") yang relatif tinggi di bagian selatan kaldera serta gas yang keluar dengan tekanan tinggi di dinding bagian timur laut bawah. Selain itu, tim tersebut menemukan sebuah kubah lava di dekat Doro Api Toi yang belum pernah disebutkan dalam studi ilmiah sebelumnya. Tim menamai penemuan baru ini "Adik Api Toi". Belakangan, kubah lava ini disebut oleh masyarakat Indonesia sebagai "Doro Api Bou" ("gunung api baru"). Kubah lava ini kemungkinan muncul pada tahun 2011/2012 saat terjadi peningkatan aktivitas seismik dan kemungkinan aktivitas vulkanis di dasar kaldera (tidak ada informasi pasti mengenai dasar kaldera pada waktu tersebut). Pada tahun 2014, tim peneliti yang sama melakukan ekspedisi lanjutan ke dalam kaldera dan mencetak rekor baru: penyelidikan tahun 2013 dilanjutkan kembali selama lebih dari 12 hari.[61]

Pemantauan
Populasi Indonesia telah meningkat pesat sejak letusan tahun 1815. Pada tahun 2020, jumlah penduduk negara ini mencapai 270 juta jiwa, dengan 56% di antaranya terkonsentrasi di Pulau Jawa.[65] Peristiwa besar seperti letusan tahun 1815 akan berdampak pada sekitar delapan juta orang.[66]
Aktivitas seismik di Indonesia dipantau oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dengan pos pengamatan Gunung Tambora terletak di Desa Doro Peti.[67] Pemantauan tersebut berfokus pada aktivitas seismik dan tektonik menggunakan seismograf. Tidak ada peningkatan aktivitas seismik yang signifikan sejak letusan tahun 1880. Pemantauan terus dilakukan di dalam kaldera, dengan fokus pada kerucut parasit Doro Api Toi.[68]
Direktorat tersebut menyusun peta mitigasi bencana untuk Gunung Tambora, yang menetapkan dua zona dampak letusan: zona bahaya dan zona waspada.[67] Zona bahaya mengidentifikasi wilayah yang akan terdampak langsung oleh aliran piroklastik, aliran lava, atau guguran piroklastik. Zona ini mencakup area kaldera dan sekitarnya dengan luas mencapai 587 kilometer persegi (145.000 ekar), di mana pemukiman dilarang. Zona waspada terdiri dari kawasan yang mungkin terdampak secara tidak langsung, baik oleh aliran lahar maupun lontaran batu apung lainnya. Luas zona waspada ini adalah 185 kilometer persegi (46.000 ekar), dan mencakup Desa Pasanggrahan, Doro Peti, Rao, Labuan Kenanga, Gubu Ponda, Kawindana Toi, dan Hoddo. Sebuah sungai bernama Guwu di bagian selatan dan barat laut gunung juga termasuk ke dalam zona waspada.[67]
Peningkatan aktivitas terbaru
Sejak pertengahan tahun 2025, gejala peningkatan aktivitas vulkanis berupa gempa bumi dalam mengalami peningkatan. Pada tanggal 10 Maret 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status tingkat aktivitas Gunung Tambora dari level 1 ke level 2 karena meningkatnya jumlah gempa vulkanik dalam. Masyarakat diimbau untuk berada setidaknya 3 km dari Tambora. Aktivitas tersebut juga meliputi: seismisitas tektonik, seismisitas vulkanik dalam (Tipe A), serta seismisitas vulkano-tektonik (VT).[69] PVMBG lebih lanjut menjelaskan bahwa pada bulan Januari 2026, tercatat sebanyak 267 kali gempa vulkanik dalam. Pada bulan Februari, jumlah gempa meningkat secara signifikan menjadi 453 kali. Hal ini ditafsirkan sebagai pergerakan magma yang semakin mendekati permukaan. Aktivitas gempa tetap tinggi pada bulan Maret. Antara tanggal 1 hingga 9 Maret, sebanyak 88 gempa tercatat bersamaan dengan runtuhan batuan. Tidak ada emisi asap yang terlihat, namun cuaca terkadang menghalangi pengamatan visual.[70]
Panorama
Lihat pula
Referensi
Catatan
- 1 2 3 4 "Tambora". Global Volcanism Program. Institusi Smithsonian.
- ↑ "Gunung Tambora". Peakbagger. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Maret 2007. Diakses tanggal 21 Desember 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Gunung Tambora". Peakbagger. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Maret 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Mount Tambora Volcano, Sumbawa Island, Indonesia". www.earthobservatory.nasa.gov (dalam bahasa Inggris). Nasa. 19 Juli 2009. Diakses tanggal 1 November 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Mount Tambora". Mount Tambora (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2021. Diakses tanggal 2021-03-04.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Foden, J. (1986). "The petrology of Tambora volcano, Indonesia: A model for the 1815 eruption". Journal of Volcanology and Geothermal Research. 27 (1–2): 1–41. Bibcode:1986JVGR...27....1F. doi:10.1016/0377-0273(86)90079-X.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Oppenheimer, Clive (2003). "Climatic, environmental and human consequences of the largest known historic eruption: Tambora volcano (Indonesia) 1815". Progress in Physical Geography. 27 (2): 230–259. Bibcode:2003PrPG...27..230O. doi:10.1191/0309133303pp379ra. S2CID 131663534.
- 1 2 3 Degens, E.T.; Buch, B. (1989). "Sedimentological events in Saleh Bay, off Mount Tambora". Netherlands Journal of Sea Research. 24 (4): 399–404. Bibcode:1989NJSR...24..399D. doi:10.1016/0077-7579(89)90117-8.
- ↑ Dekov, V.M.; Van Put, A.; Eisma, D.; Van Grieken, R. (Maret 1999). "Single particle analysis of suspended matter in the Makassar Strait and Flores Sea with particular reference to tin-bearing particles". Journal of Sea Research. 41 (1–2): 45. Bibcode:1999JSR....41...35D. doi:10.1016/S1385-1101(98)00035-5.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Hobi Mendaki Gunung – Menyambangi Kawah Raksasa Gunung Tambora". Sinar Harapan. 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Januari 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 de Jong Boers, B. (1995). "Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and its Aftermath". Indonesia. 60 (60): 37–59. doi:10.2307/3351140. hdl:1813/54071. JSTOR 3351140. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Nasution, Aswanir. "Tambora, Nusa Tenggara Barat". Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation, Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 September 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Febriyanto, Erwin (18 Oktober 2015). "Potensi Gunung Tambora". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juni 2019. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Foden, J.; Varne, R. (1980). "The petrology and tectonic setting of Quaternary—Recent volcanic centres of Lombok and Sumbawa, Sunda arc". Chemical Geology. 30 (3): 201–206. Bibcode:1980ChGeo..30..201F. doi:10.1016/0009-2541(80)90106-0.
- 1 2 3 Sigurdsson, H.; Carey, S. (1989). "Plinian and co-ignimbrite tephra fall from the 1815 eruption of Tambora volcano". Bulletin of Volcanology. 51 (4): 243–270. Bibcode:1989BVol...51..243S. doi:10.1007/BF01073515. S2CID 132160294.
- 1 2 3 Gertisser, R.; Self, S.; Thomas, L.E.; Handley, H.K.; Van Calsteren, P.; Wolff, J.A. (1 Februari 2012). "Processes and Timescales of Magma Genesis and Differentiation Leading to the Great Tambora Eruption in 1815". Journal of Petrology. 53 (2): 271–297. Bibcode:2012JPet...53..271G. doi:10.1093/petrology/egr062.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 "Geology of Tambora Volcano". Vulcanological Survey of Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Oktober 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Foden, 1979, p. 49
- ↑ Foden, 1979, p. 50
- ↑ Foden, 1979, p. 51
- ↑ Foden, 1979, p. 56
- ↑ Foden, 1979, p.60
- ↑ Fiorentini, Marco L.; Garwin, Steve L. (2010). "Evidence of a mantle contribution in the genesis of magmatic rocks from the Neogene Batu Hijau district in the Sunda Arc, South Western Sumbawa, Indonesia". Contributions to Mineralogy and Petrology. 159 (6): 826. Bibcode:2010CoMP..159..819F. doi:10.1007/s00410-009-0457-7. S2CID 129804058.
- ↑ "Tambora: Synonyms & Subfeatures". Global Volcanism Program. Institusi Smithsonian.
- 1 2 3 4 5 6 "Tambora: Eruptive History". Global Volcanism Program. Institusi Smithsonian.
- ↑ "Tambora Historic Eruptions and Recent Activities". Vulcanological Survey of Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Volcanic Explosivity Index (VEI)". Global Volcanism Program. Smithsonian National Museum of Natural History. Diarsipkan dari asli tanggal 10 November 2011. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wood, Gillen D'Arcy (2014). Tambora: The Eruption That Changed the World. Princeton University Press. hlm. 1–312. ISBN 9780691168623.
- ↑ "Peningkatan Status G. Tambora dari Normal ke Waspada". Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation, Indonesia. 30 Agustus 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 8 September 2011. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wunderman, Richard (2011). "Report on Tambora (Indonesia)". Bulletin of the Global Volcanism Network. 36 (8). doi:10.5479/si.GVP.BGVN201108-264040.
- 1 2 Goldrick, Richard. "Tambora's Rumblings in The Annals of Lang Xang".
{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan|journal= - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Stothers, Richard B. (1984). "The Great Tambora Eruption in 1815 and Its Aftermath". Science. 224 (4654): 1191–1198. Bibcode:1984Sci...224.1191S. doi:10.1126/science.224.4654.1191. PMID 17819476. S2CID 23649251.
- 1 2 3 4 Raffles, S. (1830). Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles, F.R.S. &c., particularly in the government of Java 1811–1816, and of Bencoolen and its dependencies 1817–1824: with details of the commerce and resources of the eastern archipelago, and selections from his correspondence (PDF). London: John Murray. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2018. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Cited by Oppenheimer (2003) - ↑ Abrams, Lewis J.; Sigurdsson, Haraldur (2007). "Characterization of pyroclastic fall and flow deposits from the 1815 eruption of Tambora volcano, Indonesia using ground-penetrating radar" (PDF). Journal of Volcanology and Geothermal Research. 161 (4): 352–361. Bibcode:2007JVGR..161..352A. doi:10.1016/j.jvolgeores.2006.11.008. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 4 Agustus 2020. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Briffa, K.R.; Jones, P.D.; Schweingruber, F.H.; Osborn, T.J. (1998). "Influence of volcanic eruptions on Northern Hemisphere summer temperature over the past 600 years". Nature. 393 (6684): 450–455. Bibcode:1998Natur.393..450B. doi:10.1038/30943. S2CID 4392636.
- ↑ Blast from the Past Diarsipkan 15 March 2022 di Wayback Machine.; article; [July, 2002]; By Robert Evans; Smithsonian Magazine, online; accessed September 10, 2020
- ↑ Stothers, Richard B. (2004). "Density of fallen ash after the eruption of Tambora in 1815". Journal of Volcanology and Geothermal Research. 134 (4): 343–345. Bibcode:2004JVGR..134..343S. doi:10.1016/j.jvolgeores.2004.03.010.
- ↑ Monk, K.A.; Fretes, Y.; Reksodiharjo-Lilley, G. (1996). The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 60. ISBN 978-962-593-076-3.
- 1 2 Cao, S.; Li, Y.; Yang, B. (2012). "Mt. Tambora, Climatic Changes, and China's Decline in the Nineteenth Century". Journal of World History. 23 (3): 587–607. doi:10.1353/jwh.2012.0066. S2CID 145137831.
- ↑ Self, S.; Gertisser, R.; Thordarson, T.; Rampino, M.R.; Wolff, J.A. (1 Oktober 2004). "Magma volume, volatile emissions, and stratospheric aerosols from the 1815 eruption of Tambora" (PDF). Geophysical Research Letters. 31 (20): L20608. Bibcode:2004GeoRL..3120608S. doi:10.1029/2004GL020925. hdl:20.500.11820/6925218f-d09e-4f9d-9f2e-3ab8419b223f. S2CID 56290102. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 26 April 2019. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kandlbauer, J.; Sparks, R.S.J. (Oktober 2014). "New estimates of the 1815 Tambora eruption volume". Journal of Volcanology and Geothermal Research. 286: 93–100. Bibcode:2014JVGR..286...93K. doi:10.1016/j.jvolgeores.2014.08.020.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Haeseler, Susanne (2016). "Der Ausbruch des Vulkans Tambora in Indonesien im Jahr 1815 und seine weltweiten Folgen, insbesondere das "Jahr ohne Sommer" 1816" (PDF) (dalam bahasa Jerman). Deutscher Wetterdienst. hlm. 1–18. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2020. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Zollinger (1855): Besteigung des Vulkans Tamboro auf der Insel Sumbawa und Schiderung der Eruption desselben im Jahren 1815, Winterthur: Zurcher and Fürber, Wurster and Co., cited by Oppenheimer (2003).
- ↑ Petroeschevsky, W.A. (1949). "A contribution to the knowledge of the Gunung Tambora (Sumbawa)". Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap. 2 (66): 688–703., cited by Oppenheimer (2003).
- ↑ Tanguy, J.-C.; Scarth, A.; Ribière, C.; Tjetjep, W. S. (1998). "Victims from volcanic eruptions: a revised database". Bulletin of Volcanology. 60 (2): 137–144. Bibcode:1998BVol...60..137T. doi:10.1007/s004450050222. S2CID 129683922.
- ↑ Vidal, CélineM.; Komorowski, Jean-Christophe; Métrich, Nicole; Pratomo, Indyo; Kartadinata, Nugraha; Prambada, Oktory; Michel, Agnès; Carazzo, Guillaume; Lavigne, Franck; Rodysill, Jessica; Fontijn, Karen (8 Agustus 2015). "Dynamics of the major plinian eruption of Samalas in 1257 A.D. (Lombok, Indonesia)". Bulletin of Volcanology. 77 (9): 73. Bibcode:2015BVol...77...73V. doi:10.1007/s00445-015-0960-9. S2CID 127929333.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Whelley, Patrick L.; Newhall, Christopher G.; Bradley, Kyle E. (22 Januari 2015). "The frequency of explosive volcanic eruptions in Southeast Asia". Bulletin of Volcanology. 77 (1): 1–11. Bibcode:2015BVol...77....1W. doi:10.1007/s00445-014-0893-8. PMC 4470363. PMID 26097277.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Guillet, Sébastien; Corona, Christophe; Stoffel, Markus; Khodri, Myriam; Lavigne, Franck; Ortega, Pablo; Eckert, Nicolas; Sielenou, Pascal Dkengne; Daux, Valérie; (Sidorova), Olga V. Churakova; Davi, Nicole; Edouard, Jean-Louis; Zhang, Yong; Luckman, Brian H.; Myglan, Vladimir S.; Guiot, Joël; Beniston, Martin; Masson-Delmotte, Valérie; Oppenheimer, Clive (2017). "Climate response to the Samalas volcanic eruption in 1257 revealed by proxy records" (PDF). Nature Geoscience. 10 (2): 123–128. Bibcode:2017NatGe..10..123G. doi:10.1038/ngeo2875. S2CID 133586732. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 April 2019. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Tambora, Sumbawa, Indonesia". volcano.oregonstate.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Juni 2017. Diakses tanggal 2019-02-26.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Large Holocene Eruptions". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Mei 2013. Diakses tanggal 7 November 2006.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dai, J.; Mosley-Thompson, E.; Thompson, L.G. (1991). "Ice core evidence for an explosive tropical volcanic eruption six years preceding Tambora" (PDF). Journal of Geophysical Research: Atmospheres. 96 (D9): 17361–17366. Bibcode:1991JGR....9617361D. doi:10.1029/91JD01634. S2CID 8384563. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-08-02. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cole-Dai, Jihong; Ferris, David; Lanciki, Alyson; Savarino, Joël; Baroni, Mélanie; Thiemens, Mark H. (1 November 2009). "Cold decade (AD 1810–1819) caused by Tambora (1815) and another (1809) stratospheric volcanic eruption" (PDF). Dynamic Research Letters. 36 (22): L22703. Bibcode:2009GeoRL..3622703C. doi:10.1029/2009GL040882. S2CID 10579910. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 Desember 2019. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Brázdil, Rudolf; Řezníčková, Ladislava; Valášek, Hubert; Dolák, Lukáš; Kotyza, Oldřich (2016). "Climatic effects and impacts of the 1815 eruption of Mount Tambora in the Czech Lands". Climate of the Past. 12 (6): 1361–1374. Bibcode:2016CliPa..12.1361B. doi:10.5194/cp-12-1361-2016.
- 1 2 3 4 "URI volcanologist discovers lost kingdom of Tambora" (Rilis pers). University of Rhode Island. 27 Februari 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Juli 2006. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite press release}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "'Pompeii of the East' discovered". BBC News. 28 Februari 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Desember 2006. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Indonesian Volcano Site Reveals 'Pompeii of the East' (Update1)". Bloomberg Asia. 28 Februari 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 30 September 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Roach, John (27 Februari 2006). ""Lost Kingdom" Discovered on Volcanic Island in Indonesia". National Geographic. Diarsipkan dari asli tanggal 14 November 2006. Diakses tanggal 9 Oktober 2006.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "'Lost kingdom' springs from the ashes". International Herald Tribune. 1 Maret 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Maret 2006. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Donohue, Mark (2007). "The Papuan Language of Tambora" (PDF). Oceanic Linguistics. 46 (2): 520–537. doi:10.1353/ol.2008.0014. JSTOR 20172326. S2CID 26310439. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 Agustus 2018. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Zollinger (1855) cited by Trainor (2002).
- 1 2 "Volcanedo". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Desember 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Trainor, C.R. (2002). "Birds of Gunung Tambora, Sumbawa, Indonesia: effects of altitude, the 1815 catalysmic volcanic eruption and trade" (PDF). Forktail. 18: 49–61. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 Februari 2012. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Fardah (15 April 2015). "Mount Tambora National Park Transformed Into New Ecotourism Destination". Antara News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2017. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rahmad, Rahmadi (14 Mei 2015). "Geckos, moths and spider-scorpions: Six new species on Mount Tambora, say Indonesian researchers". Mongabay. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2017. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Penduduk Migran Seumur Hidup". Indonesian Central Statistics Bureau. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2010. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Simpson, Alanna; Johnson, R. Wally; Cummins, Phil (1 Mei 2011). "Volcanic threat in developing countries of the Asia–Pacific region: probabilistic hazard assessment, population risks, and information gaps". Natural Hazards. 57 (2): 162. Bibcode:2011NatHa..57..151S. doi:10.1007/s11069-010-9601-y. S2CID 129040686.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 "Tambora Hazard Mitigation". Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation. Diarsipkan dari asli tanggal 29 September 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Tambora Geophysics". Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation, Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 September 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Tambora Volcano (Indonesia) activity update Mar 10, 2026 - Unrest". 11 Maret 2026. Diakses tanggal 21 Maret 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Report on Tambora (Indonesia) — 5 March-11 March 2026" (dalam bahasa Inggris). 12 Maret 2026. Diakses tanggal 21 Maret 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bibliografi
- Foden, J.D. (1979). The petrology of some young volcanic rocks from Lombok and Sumbawa, Lesser Sunda Islands (PDF) (PhD thesis). University of Tasmania. hlm. 1–306. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Gunung Tambora pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Berita dari Wikinews | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Buku dari Wikibuku | |
- "Indonesia Volcanoes and Volcanics". Cascades Volcano Observatory. USGS. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Tambora, Sumbawa, Indonesia". Volcano World. Department of Geosciences at Oregon State University. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Juli 2007. Diakses tanggal 2 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - WikiSatellite view at WikiMapia
- google/docs
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Geografis | |
| Lain-lain | |