Selasa, 13 Oktober 2026
08:15 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Singa batu

Singa batu

Bagikan:
250px-Forbidden_City_Imperial_Guardian_Lions.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sepasang singa batu di Kota Terlarang

Singa batu (hanzi: 石狮子; pinyin: shíshīzi) adalah patung batu berbentuk mirip singa yang merupakan hiasan bagi bangunan dengan arsitektur tradisional Tionghoa. Sepasang singa batu biasanya diletakkan di depan pintu gerbang istana kaisar, kuil Buddha, vihara, pagoda, makam kaisar, kantor dan kediaman pejabat tinggi, hingga sebagai penghias jembatan, taman, hotel, dan rumah makan.

Patung singa batu dibuat dalam berbagai ukuran, bisa dipahat dari marmer atau granit, dibuat dari keramik, atau teknik cor menggunakan besi atau perunggu. Singa batu jantan diletakkan di sebelah kiri, sedangkan singa batu betina diletakkan di sebelah kanan. Bentuknya sering tidak mirip dengan singa, melainkan lebih menyerupai hewan legenda Tionghoa.

Singa batu jantan digambarkan membawa sebuah bola dengan kaki depan sebelah kanan. Sementara itu, singa batu betina digambarkan sedang mengasuh anaknya di kaki depan sebelah kiri. Kadang-kadang, singa batu betina digambarkan dengan mulut tertutup. Sebaliknya, mulut singa jantan digambarkan terbuka seperti sedang mengucapkan aksara "Aum" yang melambangkan konsep suci agama Hindu.

Di Tibet, singa batu disebut Gangs Senge (singa salju) yang melambangkan binatang imajiner dari langit. Di Okinawa, patung serupa disebut Shisa. Di Myanmar, singa batu disebut Chinthe dan dipercaya sebagai pelindung kuil dan pagoda.

Sejarah

250px-Female_Chinese_Lion_Statue.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Singa batu sebelah kanan melambangkan kekuatan Yin, wanita (betina), negatif, menerima, membawa seekor anak singa. Sanggar Agung Surabaya, Indonesia.
250px-Male_Chinese_Lion_Statue.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Singa batu sebelah kiri melambangkan kekuatan Yang, pria (jantan), positif, memberi, membawa sebuah bola. Sanggar Agung Surabaya, Indonesia.

Dalam kebudayaan kuno seperti di Romawi, Yunani, Assyria, dan Mesopotamia, raja dan kalangan bangsawan berburu singa untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari singa. Kedudukannya sebagai "raja hutan" dan "raja margasatwa" menjadikan singa dipakai sebagai lambang negeri, simbol keberanian, kekuasaan, dan kebangsawanan. Singa populer sebagai motif hiasan kursi raja untuk memberi kesan raja yang duduk di atasnya lebih kuat dari seekor singa.

Dalam kebudayaan di anak benua India, singa juga merupakan hewan yang dihormati. Patung Manjusri digambarkan sedang menunggang seekor Singa Asia. Selanjutnya singa dipakai sebagai motif hiasan pada tempat duduk Bodhisattva. Sepasang patung singa juga mulai diletakkan sebagai pelindung Bodhisattva.

Di Tiongkok, patung singa mulai dikenal sejalan dengan masuknya agama Buddha melalui Jalur Sutra. Singa dan hewan langka lainnya mulai didatangkan sebagai hewan peliharaan istana pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Han.[1] Di istana kaisar, patung singa diletakkan di depan bangunan istana dan makam sebagai dewa pelindung. Walaupun orang Tionghoa sudah mengetahui bentuk fisik singa yang sebenarnya, pembuat singa batu mencampur desain singa batu dengan desain Qilin atau hewan-hewan lain dalam legenda Tionghoa hingga menjadi model singa batu seperti sekarang.[1]

Singa batu Jepang

250px-ItsukushimaKomainu7374.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koma-inu di Kuil Itsukushima

Di Jepang, singa batu disebut koma-inu (狛犬, anjing dari Koma) karena diperkirakan dibawa masuk ke Jepang lewat Jalan Sutra melalui Koma (Koryo). Walaupun demikian, kebudayaan Korea tidak mengenal patung yang mirip singa batu di Tiongkok atau Jepang, dan "koma" juga berarti "negeri asing".

Berbeda dengan singa batu Tionghoa, koma-inu jantan mulutnya hampir selalu digambarkan terbuka, sedangkan mulut betina selalu digambarkan tertutup. Keduanya juga hampir tidak pernah membawa bola atau mengasuh anak.

Sejarah

Di Jepang, singa batu awalnya diletakkan di istana kaisar. Literatur tertua yang menyebut tentang hiasan singa batu di istana adalah Ruijūzōyōshō (protokol istana dan keluarga sesshō dan kampaku) dari sekitar tahun 1126-1130 (zaman Heian). Sewaktu baru dikenal di Jepang, singa batu disebut shishi koma-inu (獅子・狛犬). Shishi yang mulutnya terbuka diletakkan di sebelah kiri, sedangkan koma-inu yang mulutnya tertutup diletakkan di sebelah kanan. Kedua singa batu ini akhirnya hanya disebut koma-inu. Hingga singa hidup dibawa masuk ke Jepang pada tahun 1266, orang Jepang hanya mengenal bentuk fisik singa dari patung dan lukisan singa.[1]

Sejak zaman Kamakura, orang mulai meletakkan koma-inu di belakang Nio dengan maksud sebagai penjaga gerbang kuil Buddha. Koma-inu di Tōdai-ji, Nara adalah singa batu yang tertua di Jepang. Batunya dibawa dari Dinasti Song.[1] Setelah pemisahan agama Buddha dan Shinto pada zaman Meiji, koma-inu tidak lagi diletakkan di kuil Buddha, dan hanya bisa dijumpai di kuil Shinto. Sebaliknya, Nio hanya bisa dijumpai di kuil Buddha.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Uesugi, Chisato (November 2001). Komainu jiten, Komainu Encyclopedia (狛犬事典). Ebisukosyo. ISBN 4-9009-0120-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Chinese lions.
Elemen-elemen arsitektural Jepang
Gaya
Sekuler
Agamis
Shinto
Buddha
model gerbang khas tradisional Jepang
Torii, model gerbang khas tradisional Jepang.
Jenis bangunan
Sekuler
Agamis
Shinto
Buddha
Gaya atap
Struktural dan spasial
  • Gerbang
  • Pintu
Ruang
Perabotan
Sekat
Benda tempat terbuka
Satuan pengukuran
Organisasi
Topik terkait
Pusaka Nasional
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan