Sabtu, 24 Oktober 2026
10:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Haiden (Shinto)

Haiden (Shinto)

Bagikan:
250px-Izumo-shrine_Haiden01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Haiden Izumo Taisha

Dalam arsitektur kuil Shinto, haiden (拝殿) adalah ruang ibadah atau oratorium. Ruang tersebut umumnya ditempatkan di bagian depan biara utama (honden) dan biasanya dibangun pada skala yang lebih besar ketimbang biara itu sendiri. Haiden sering kali terhubung dengan honden oleh sebuah heiden, atau ruang persembahan. Meskipun honden merupakan tempat untuk pemujaan kami dan terbatas untuk masyarakat umum, haiden menyediakan ruang untuk upacara dan pemujaan kami.[1][2] Dalam beberapa kasus, contohnya Kuil Ōmiwa di Nara, honden dapat dihilangkan dan diganti dengan ruang halaman keramat.[2] Dalam kasus tersebut, haiden adalah bangunan kompleks palinf berpengaruh.

Tata Cara Beribadah[3]

Doa di kuil Shinto merupakan rangkaian tindakan ritual yang bertujuan menunjukkan rasa hormat, penyucian diri, serta permohonan kepada roh atau dewa dalam kepercayaan Shinto. Tata cara ini dilakukan secara tertib dan penuh dengan kesadaran. Berikut adalah urutan tata cara nya :

  1. Memberikan persembahan (saisen) Pengunjung memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak persembahan (saisen-bako) yang terletak di depan aula pemujaan (haiden).
  2. Membunyikan bel (suzu) Setelah memberikan persembahan, pengunjung menarik tali untuk membunyikan lonceng kuil. Bunyi lonceng dipercaya memanggil perhatian kami sekaligus mengusir energi yang tidak murni sebelum doa dipanjatkan.
  3. Membungkuk dua kai (ni-rei) Pengunjung berdiri tegak lalu membungkuk dalam-dalam sebanyak dua kali, dengan punggung lurus dan membungkuk dari pinggul. Gerakan ini menandakan penghormatan formal kepada kami.
  4. Tepuk tangan dua kali (ni-hakushu) Kedua tangan ditepukkan sebanyak dua kali di depan dada.
  5. Memanjatkan doa (inori) Setelah menepukkan tangan, pengunjung merapatkan kedua telapak tangan dan memanjatkan doa secara hening.
  6. Membungkuk sekali lagi (ichi-rei) Sebagai penutup, pengungjung melakukan satu kali bungkukan dalam-dalam untuk mengakhiri penghormatan. Secara keseluruhan, rangkaian ini sering diringkas sebagai pola “dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, satu kali membungkuk” (ni-rei, ni-hakushu, ichi-rei), yang merupakan bentuk standar penghormatan dalam praktik keagamaan Shinto di Jepang.[3]

Referensi

  1. ↑ Mori, Mizue (2005-06-02). "Haiden". Encyclopedia of Shinto (Edisi β1.3). Tokyo: Kokugakuin University. Diakses tanggal 2009-11-16.
  2. 1 2 "haiden". JAANUS - Japanese Architecture and Art Net User System. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-02-15. Diakses tanggal 2009-11-08.
  3. 1 2 ""Haiden": The Hall of Worship". nippon.com (dalam bahasa Inggris). 2016-08-02. Diakses tanggal 2026-02-08.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Haiden.


Ikon rintisan

Artikel bertopik Shinto ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan