| Putroe Phang | |
|---|---|
| Putri Pahang | |
| Lahir | Putri Kamaliah Kesultanan Pahang, Semenanjung Melayu |
| Meninggal | Kesultanan Aceh |
| Pemakaman | Tidak diketahui |
| Pasangan | Sultan Iskandar Muda |
| Wangsa | Pahang |
| Agama | Islam |
Putri Kamaliah, lebih dikenal di Aceh sebagai Putroe Phang (bahasa Aceh:Putroë Phang, secara harfiah "Putri Pahang"), adalah seorang putri dari keluarga kerajaan Kesultanan Pahang yang menjadi salah seorang istri Sultan Iskandar Muda, penguasa Kesultanan Aceh pada 1607–1636. Ia dibawa ke Aceh setelah penaklukan Pahang oleh pasukan Aceh pada 1618 dan kemudian dikenal di lingkungan Aceh dengan sebutan Putroe Phang karena berasal dari Pahang.[1][2]
Dalam historiografi dan tradisi Aceh, Putroe Phang dikenang sebagai seorang perempuan istana yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan sosial dan adat. Namanya diabadikan dalam ungkapan terkenal Qanun bak Putroe Phang dan dalam nama Taman Putroe Phang di Banda Aceh. Ia juga sangat erat dikaitkan dengan Gunongan, bangunan monumental dalam kompleks taman kerajaan Aceh yang menurut tradisi dibangun untuk menghiburnya ketika merindukan negeri Pahang.[3]
Putroe Phang tidak boleh disamakan dengan Putroe Tsani atau Putri Sani Ratna Indra, putri Maharaja Lela Daeng Mansur atau Teungku Chik di Reubee yang merupakan istri Iskandar Muda dan ibu Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. Putroe Tsani telah menjadi pasangan Iskandar Muda sebelum kedatangan Putroe Phang dari Pahang.[4]
Nama
Putroe Phang merupakan sebutan dalam bahasa Aceh yang menunjukkan asal-usul tokoh tersebut.
Kata putroe berarti putri atau perempuan bangsawan, sedangkan Phang merupakan bentuk Aceh untuk Pahang. Dengan demikian, Putroe Phang secara harfiah berarti "Putri Pahang".
Nama pribadinya dalam tradisi Aceh dan Pahang adalah Putri Kamaliah. Pemerintah Negeri Pahang secara eksplisit mengidentifikasi Puteri Kamaliah sebagai putri keluarga kerajaan Pahang yang dibawa ke Aceh dan kemudian dikenal sebagai Putroe Phang.[1]
Sumber-sumber modern juga menggunakan beberapa variasi nama, seperti:
- Puteri Kamaliah;
- Putri Kamaliah;
- Siti Kamaliah;
- Putroe Phang;
- Putro Phang; dan
- Puteri Pahang.
Dalam sumber sejarah dekat dengan tradisi abad ke-17, ia sering tidak disebut dengan nama pribadi, melainkan sebagai seorang putri Pahang yang kemudian menjadi istri Sultan Iskandar Muda.[2]
Asal-usul
Putroe Phang berasal dari keluarga kerajaan Kesultanan Pahang di Semenanjung Melayu.
Pada awal abad ke-17, Pahang menjadi salah satu kerajaan Melayu yang terlibat dalam persaingan politik antara Aceh, Johor dan Portugis di kawasan Selat Malaka.
Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh melakukan serangkaian ekspedisi militer ke Semenanjung Melayu. Setelah menyerang Johor pada 1613, Aceh menaklukkan Pahang pada 1618.[2]
Setelah penaklukan tersebut, sejumlah anggota keluarga kerajaan Pahang dan penduduknya dibawa ke Aceh. Salah seorang di antaranya adalah Putri Kamaliah, yang kemudian dikenal sebagai Putroe Phang.
Pemindahan penduduk dari wilayah taklukan merupakan salah satu kebijakan Iskandar Muda untuk memperkuat pusat Kesultanan Aceh dengan tenaga terampil, penduduk dan elite dari berbagai wilayah yang ditaklukkan.[2]
Silsilah
Hubungan genealogis Putroe Phang dengan keluarga kerajaan Pahang tidak sepenuhnya seragam dalam berbagai sumber.
Pemerintah Negeri Pahang menyebut Puteri Kamaliah sebagai anggota keluarga kerajaan Pahang dan menghubungkannya dengan Sultan Ahmad serta Raja Mughal, yang kelak menjadi Sultan Iskandar Thani.[1]
Dalam versi tersebut, Puteri Kamaliah disebut sebagai saudara Sultan Ahmad dan dengan demikian merupakan bibi Raja Mughal/Iskandar Thani.
Sementara itu, kajian Jajat Burhanudin yang merujuk kepada Bustan al-Salatin menyebut seorang putri Pahang yang menjadi istri Iskandar Muda sebagai saudara perempuan Sultan Bungsu, yaitu tokoh yang kemudian dikenal sebagai Iskandar Thani.[2]
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa rincian silsilah keluarga kerajaan Pahang yang dibawa ke Aceh pada 1618 belum sepenuhnya dapat direkonstruksi secara pasti.
Perkawinan dengan Iskandar Muda
Setelah dibawa ke Aceh, Putri Kamaliah menjadi salah seorang istri Sultan Iskandar Muda.[2]
Dalam historiografi dan tradisi Aceh kemudian, ia sering disebut sebagai permaisuri Sultan Iskandar Muda. Namun, penggunaan istilah "permaisuri" perlu dibedakan dari kedudukan Putroe Tsani atau Putri Sani Ratna Indra sebagai permaisuri pertama Iskandar Muda.
Putroe Tsani merupakan putri Maharaja Lela Daeng Mansur atau Teungku Chik di Reubee dan merupakan ibu Sultanah Safiatuddin Tajul Alam.[5]
Secara kronologis, Putroe Tsani telah menjadi pasangan Iskandar Muda sebelum Putroe Phang tiba dari Pahang pada 1618.
Karena itu, lebih tepat menyebut Putroe Phang sebagai salah seorang istri atau permaisuri Iskandar Muda daripada sebagai satu-satunya permaisuri.
Hubungan dengan Iskandar Thani
Salah satu tokoh Pahang lain yang dibawa ke Aceh setelah penaklukan 1618 adalah seorang pangeran muda yang dalam sumber disebut Sultan Bungsu atau Raja Mughal.
Pangeran tersebut kemudian diangkat atau diperlakukan sebagai anak oleh Iskandar Muda dan dinikahkan dengan putri Iskandar Muda, Putri Sri Alam.
Setelah Iskandar Muda meninggal pada 1636, Raja Mughal naik takhta dengan gelar Sultan Iskandar Thani.[2]
Hubungan darah Putroe Phang dengan Iskandar Thani berbeda menurut sumber. Sebagian menyebutnya sebagai saudara perempuan Iskandar Thani, sedangkan historiografi Pahang menyebutnya sebagai bibinya.
Hubungan dengan Safiatuddin
Putroe Phang sering dikaitkan dengan keluarga Sultanah Safiatuddin Tajul Alam, tetapi ia bukan ibu Safiatuddin.
Ibu Safiatuddin dalam historiografi Aceh adalah Putroe Tsani atau Putri Sani Ratna Indra, putri Maharaja Lela Daeng Mansur.[6]
Safiatuddin kemudian menikah dengan Iskandar Thani, anggota keluarga kerajaan Pahang yang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Putroe Phang.
Dengan demikian, Putroe Phang mempunyai posisi penting dalam jaringan hubungan dinasti antara Aceh dan Pahang meskipun bukan ibu langsung Safiatuddin.
Keturunan
Tidak terdapat sumber sezaman yang secara pasti menjelaskan apakah Putroe Phang mempunyai anak dari Sultan Iskandar Muda.
Sejumlah cerita populer menyebut Meurah Pupok sebagai anak Putroe Phang. Namun, publikasi sejarah dan tradisi Aceh lainnya menyebut Meurah Pupok sebagai putra Iskandar Muda dari seorang putri Linge atau Gayo.[7] Karena itu, hubungan Putroe Phang sebagai ibu Meurah Pupok tidak dapat dinyatakan sebagai fakta yang pasti.
Peran dalam istana
Tradisi sejarah Aceh menggambarkan Putroe Phang sebagai perempuan yang cerdas dan memiliki pengaruh dalam kehidupan istana.
Dalam historiografi abad ke-20, ia dikaitkan dengan pengaturan adat, rumah tangga, perkawinan, perlindungan perempuan dan pembentukan aturan kerajaan.
Peranan tersebut kemudian dirangkum dalam ungkapan adat Aceh:
- Adat bak Poteu Meureuhom,
- Hukom bak Syiah Kuala,
- Qanun bak Putroe Phang,
- Reusam bak Laksamana.
Secara umum ungkapan tersebut berarti bahwa adat berada pada otoritas sultan, hukum agama pada ulama, qanun pada Putroe Phang, dan reusam pada laksamana.
Namun, ungkapan tersebut tidak dapat diperlakukan secara harfiah sebagai struktur pemerintahan pada masa Iskandar Muda.
Syiah Kuala, misalnya, baru aktif di lingkungan istana Aceh beberapa dasawarsa setelah masa awal pemerintahan Iskandar Muda.
Karena itu, formula tersebut lebih tepat dipahami sebagai hasil pembentukan memori hukum dan adat Aceh yang berkembang kemudian.
Qanun Putroe Phang
Istilah Qanun Putroe Phang digunakan dalam tradisi Aceh untuk menyebut berbagai aturan adat yang dikaitkan dengan perlindungan perempuan, keluarga dan kehidupan rumah tangga.
Putroe Phang sering digambarkan sebagai tokoh yang menyarankan agar perempuan memiliki perlindungan ekonomi dan tempat tinggal yang layak.
Salah satu kisah paling populer menceritakan pembagian warisan dalam sebuah keluarga.
Menurut kisah tersebut, seorang anak laki-laki menerima rumah keluarga sedangkan saudara perempuannya menerima sawah. Putroe Phang kemudian berpendapat bahwa rumah sebaiknya diberikan kepada perempuan karena laki-laki masih dapat tinggal di meunasah, sementara perempuan memerlukan tempat tinggal yang aman.
Tradisi ini kemudian dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Aceh memberikan rumah atau bagian rumah kepada anak perempuan.[8]
Namun, belum ditemukan satu naskah hukum abad ke-17 yang secara keseluruhan dapat dibuktikan sebagai teks asli bernama Qanun Putroe Phang yang disusun langsung olehnya.
Karena itu, istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai tradisi hukum adat yang dinisbatkan kepada Putroe Phang.
Gunongan
Putroe Phang sangat erat dikaitkan dengan Gunongan, salah satu peninggalan arsitektur Kesultanan Aceh yang masih berdiri di Banda Aceh.
Menurut tradisi populer Aceh, Putroe Phang merindukan bentang alam Pahang yang berbukit setelah tinggal di Aceh.
Sultan Iskandar Muda kemudian disebut membangun sebuah gunung buatan di taman istana untuk menghiburnya. Bangunan tersebut kemudian dikenal sebagai Gunongan.
Cerita tersebut telah menjadi bagian utama dari tradisi sejarah Putroe Phang hingga masa kini.[3]
Namun, hubungan tersebut tidak sepenuhnya dapat dipastikan melalui sumber abad ke-17.
Bustan al-Salatin karya Nuruddin ar-Raniri menggambarkan sebuah bangunan bernama Gegunungan Menara Permata di dalam Taman Ghairah, tetapi tidak menyebut secara eksplisit bahwa bangunan itu dibuat untuk Putroe Phang.[3]
Robert Wessing bahkan menunjukkan kemungkinan bahwa sebagian pembangunan kompleks taman yang digambarkan dalam Bustan al-Salatin berkaitan dengan pemerintahan Sultan Iskandar Thani.
Karena itu, cerita bahwa Gunongan dibangun khusus untuk Putroe Phang sebaiknya dipahami sebagai tradisi historis yang kuat tetapi bukan fakta arsitektural yang sepenuhnya terverifikasi.
Taman Ghairah
Pada masa Kesultanan Aceh terdapat sebuah taman kerajaan besar yang dikenal sebagai Taman Ghairah.
Nuruddin ar-Raniri menggambarkan taman tersebut dalam Bustan al-Salatin sebagai kawasan yang dilengkapi sungai, kolam, balai, taman bunga, gunung buatan dan berbagai bangunan istana.
Gunongan merupakan salah satu struktur yang berada dalam kompleks taman tersebut.
Sebagian kawasan bekas taman kerajaan kini dikenal sebagai Taman Putroe Phang.
Pinto Khop
Pinto Khop merupakan sebuah gerbang kecil berbentuk kubah di dekat Gunongan.
Menurut tradisi lokal, Pinto Khop merupakan jalur yang digunakan perempuan-perempuan istana menuju kawasan taman dan pemandian kerajaan.
Putroe Phang sering dikaitkan dengan penggunaan gerbang tersebut dalam tradisi masyarakat Banda Aceh.
Gunongan dan Pinto Khop kemudian menjadi peninggalan fisik utama dari kompleks taman kerajaan Aceh abad ke-17.
Hubungan Aceh dan Pahang
Putroe Phang merupakan salah satu tokoh yang paling kuat melambangkan hubungan sejarah antara Aceh dan Pahang.
Penaklukan Pahang oleh Aceh pada 1618 mengakibatkan dibawanya sejumlah anggota keluarga kerajaan dan penduduk Pahang ke Aceh.
Dalam historiografi Pahang disebutkan bahwa sejumlah besar penduduk dipindahkan ke Aceh setelah ekspedisi tersebut.[1]
Sebagian dari mereka kemudian menetap dan menjadi bagian dari masyarakat Aceh.
Hubungan itu tidak hanya bersifat politik dan militer, tetapi juga berkembang menjadi hubungan dinasti melalui perkawinan Putroe Phang dengan Iskandar Muda serta perkawinan Iskandar Thani dengan Safiatuddin.
Ketika Iskandar Thani naik takhta pada 1636, seorang anggota keluarga kerajaan Pahang bahkan menjadi Sultan Aceh.
Kematian dan makam
Tidak diketahui secara pasti kapan Putroe Phang meninggal.
Lokasi makamnya juga belum berhasil diidentifikasi secara meyakinkan.
Berbagai tradisi lokal pernah menghubungkan beberapa situs makam di sekitar Banda Aceh dengan Putroe Phang, tetapi tidak ditemukan bukti epigrafi atau arkeologi yang cukup kuat untuk menentukan makamnya secara pasti.
Majelis Adat Aceh juga mencatat bahwa lokasi kuburan Putroe Phang masih menjadi salah satu persoalan dalam tradisi sejarah Aceh.[9]
Historiografi
Riwayat Putroe Phang terdiri atas campuran antara fakta yang didukung sumber sejarah, historiografi kemudian dan tradisi lisan.
Beberapa unsur yang relatif kuat adalah:
- ia berasal dari keluarga kerajaan Pahang;
- nama pribadinya dikenal dalam tradisi sebagai Putri Kamaliah;
- ia dibawa ke Aceh setelah penaklukan Pahang;
- ia menjadi salah seorang istri Sultan Iskandar Muda; dan
- ia memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Pahang yang kemudian menghasilkan Sultan Iskandar Thani.
Sementara itu, sejumlah unsur lain terutama berkembang dalam tradisi kemudian, seperti:
- rincian perannya sebagai penyusun qanun;
- kisah pembagian rumah kepada perempuan;
- pembangunan Gunongan secara khusus untuk mengobati kerinduannya;
- identitas anak-anaknya; dan
- lokasi makamnya.
Karena itu, biografi Putroe Phang perlu membedakan antara informasi yang berasal dari sumber dekat-sezaman dan tradisi yang ditulis beberapa abad kemudian.
Putri Kamaliah dan Putroe Phang
Identifikasi Putri Kamaliah dengan Putroe Phang diterima dalam historiografi Aceh dan Pahang modern.
Pemerintah Negeri Pahang secara eksplisit menyebut Puteri Kamaliah sebagai putri Pahang yang dibawa ke Aceh dan kemudian dikenal di Aceh sebagai Putroe Phang.[1]
Sumber-sumber pemerintah dan kebudayaan Aceh juga menggunakan kedua nama tersebut untuk tokoh yang sama.
Dengan demikian, Putri Kamaliah dan Putroe Phang bukan dua perempuan yang berbeda.
Perbedaan dengan Putroe Tsani
Putroe Phang juga harus dibedakan dari Putroe Tsani atau Putri Sani Ratna Indra.
Putroe Tsani adalah putri Maharaja Lela Daeng Mansur dan merupakan istri Iskandar Muda yang telah berada di istana sebelum kedatangan Putroe Phang.
Ia merupakan ibu Putri Sri Alam, yang kemudian menjadi Sultanah Safiatuddin Tajul Alam.[10]
Karena Putroe Phang baru dibawa dari Pahang setelah penaklukan 1618, ia bukan ibu Safiatuddin yang telah lahir beberapa tahun sebelumnya.
Warisan
Putroe Phang menjadi salah satu perempuan paling terkenal dalam ingatan sejarah Kesultanan Aceh.
Namanya digunakan untuk berbagai tempat dan lembaga di Aceh, antara lain:
- Taman Putroe Phang di Banda Aceh;
- Jalan Putroe Phang;
- berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaan;
- kegiatan seni dan budaya; dan
- istilah Qanun Putroe Phang dalam kajian adat Aceh.
Dalam masyarakat Aceh modern, ia sering dipandang sebagai simbol:
- kecerdasan perempuan;
- perlindungan terhadap perempuan dan keluarga;
- kedudukan perempuan dalam adat;
- hubungan antara adat dan qanun; dan
- hubungan sejarah Aceh dengan Pahang.
Dalam budaya populer
Riwayat Putroe Phang telah menjadi bahan berbagai karya sastra, cerita rakyat, buku anak dan pertunjukan budaya.
Pada 2017, Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi menerbitkan buku Kisah Putroe Phang dari Aceh karya Syamsiah Ismail dan Arya Perkasa.[11]
Kisah hubungan Putroe Phang dan Iskandar Muda juga menjadi salah satu narasi utama dalam promosi sejarah Gunongan dan Taman Putroe Phang di Banda Aceh.
Lihat pula
- Iskandar Muda dari Aceh
- Putroe Tsani
- Iskandar Thani dari Aceh
- Taj ul-Alam
- Meurah Pupok
- Kesultanan Aceh
- Kesultanan Pahang
- Gunongan
- Pinto Khop
- Taman Putroe Phang
- Taman Ghairah
- Bustan al-Salatin
- Hadih maja
- Hukum adat Aceh
Referensi
- 1 2 3 4 5 "Kesultanan Melayu Pahang". Kerajaan Negeri Pahang. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 Burhanudin, Jajat (2021). "Islamic Turn in Malay Historiography: Bustān al-Salāṭīn of 17th Century Aceh". Studia Islamika. 28 (3): 569–594. doi:10.36712/sdi.v28i3.21259.
- 1 2 3 Wessing, Robert (1988). "The Gunongan in Banda Aceh, Indonesia: Agni's Fire in Allah's Paradise?". Archipel. 35: 157–194. doi:10.3406/arch.1988.2423.
- ↑ "Komplek Makam Putroe Sani (Putroe Sandi Ratna Indra)". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Komplek Makam Putroe Sani (Putroe Sandi Ratna Indra)". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Komplek Makam Putroe Sani (Putroe Sandi Ratna Indra)". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Pelajaran dari Kisah Meurah Pupok. Seri Informasi Sejarah. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh. 2013.
- ↑ Yusuf, Yunisrina Qismullah; Mansur, Teuku Muttaqin; Muthalib, Kismullah Abdul (2024). "Language to Contest Legitimacy: The Acceptability of Qanun Putroe Phang in Light of the Acehnese Discourse". Training, Language and Culture. 8 (3): 52–61. doi:10.22363/2521-442X-2024-8-3-52-61.
- ↑ "Tragedi Putra Mahkota dan Misteri Kuburan Putroe Phang". Majelis Adat Aceh. 6 Februari 2023. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Komplek Makam Putroe Sani (Putroe Sandi Ratna Indra)". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ismail, Syamsiah; Perkasa, Arya (2017). Kisah Putroe Phang dari Aceh. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi. ISBN 9786026477408.
Bacaan lebih lanjut
- Burhanudin, Jajat (2021). "Islamic Turn in Malay Historiography: Bustān al-Salāṭīn of 17th Century Aceh". Studia Islamika. 28 (3): 569–594. doi:10.36712/sdi.v28i3.21259.
- Wessing, Robert (1988). "The Gunongan in Banda Aceh, Indonesia: Agni's Fire in Allah's Paradise?". Archipel. 35: 157–194. doi:10.3406/arch.1988.2423.
- ""Putro Phang": Tinjauan Sekilas Peran dan Pengaruhnya dalam Kerajaan Aceh". Haba (60). Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. 2011.
- Yusuf, Yunisrina Qismullah; Mansur, Teuku Muttaqin; Muthalib, Kismullah Abdul (2024). "Language to Contest Legitimacy: The Acceptability of Qanun Putroe Phang in Light of the Acehnese Discourse". Training, Language and Culture. 8 (3): 52–61. doi:10.22363/2521-442X-2024-8-3-52-61.
- Zainuddin, H.M. (1957). Singa Atjeh: Biographi Seri Sultan Iskandar Muda. Medan: Pustaka Iskandar Muda.
- Ismail, Syamsiah; Perkasa, Arya (2017). Kisah Putroe Phang dari Aceh. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi. ISBN 9786026477408.