| Taman Putroe Phang | |
|---|---|
| Nama lokal تامن ڤوتروء ڤهڠ (Acehnese) | |
Gunongan, salah satu peninggalan utama kompleks Taman Ghairah | |
![]() Peta interaktif Taman Putroe Phang | |
| Jenis | Taman kerajaan dan situs arkeologi |
| Lokasi | Sukaramai, Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Indonesia |
| Koordinat | 5°32′45″N 95°18′58″E / 5.545887°N 95.316175°E / 5.545887; 95.316175 |
| Dibangun | Abad ke-17 |
| Dibangun untuk | Keluarga kerajaan Kesultanan Aceh |
Penetapan salah | |
| Ditetapkan | 12 Januari 1999 |
| No. referensi | 014/M/1999 |
Taman Putroe Phang adalah sebuah kawasan taman bersejarah dan situs peninggalan Kesultanan Aceh yang terletak di Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Kawasan ini merupakan bagian yang masih tersisa dari kompleks taman kerajaan yang dalam Bustan al-Salatin karya Nuruddin ar-Raniri disebut Taman Ghairah. Kompleks tersebut dahulu merupakan bagian dari kawasan istana Dalam Darud Dunia dan dilalui oleh Sungai Darul-'Isyki, yang sekarang umumnya diidentifikasi dengan Krueng Daroy.[1][2]
Dalam registrasi Cagar Budaya Nasional, kawasan tersebut tercatat dengan nama Kompleks Taman Sari Gunongan. Kompleks ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 014/M/1999 tanggal 12 Januari 1999.[1]
Bagian paling terkenal dari kompleks ini adalah Gunongan, sebuah bangunan berbentuk gunung buatan yang secara tradisional dikaitkan dengan Putri Kamaliah atau Putroe Phang, putri kerajaan Pahang yang menjadi salah seorang istri Sultan Iskandar Muda. Menurut tradisi Aceh, Gunongan dibangun oleh Iskandar Muda untuk menghibur Putroe Phang yang merindukan tanah kelahirannya di Pahang.[3]
Meskipun demikian, atribusi seluruh Taman Ghairah dan Gunongan kepada Iskandar Muda untuk Putroe Phang merupakan bagian dari tradisi historiografi yang masih diperdebatkan. Bustan al-Salatin, sumber abad ke-17 yang memberikan deskripsi paling rinci tentang taman tersebut, menguraikan pembangunan Taman Ghairah dalam bagian mengenai pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636–1641). Karena itu, sejumlah peneliti berpendapat bahwa taman telah mengalami beberapa tahap pembangunan sejak masa Iskandar Muda dan kemudian diperluas atau disempurnakan pada masa Iskandar Thani.[3][4]
Nama
Nama Taman Putroe Phang berasal dari sebutan bahasa Aceh untuk Putri Kamaliah dari Pahang. Putroe berarti putri atau perempuan bangsawan, sedangkan Phang adalah bentuk Aceh untuk Pahang. Dengan demikian, Putroe Phang secara harfiah berarti "Putri Pahang".
Nama tersebut terutama berkembang dari tradisi yang menghubungkan Gunongan dan taman kerajaan dengan Putroe Phang.
Dalam sumber abad ke-17, taman kerajaan itu sendiri disebut:
- Taman Ghairah
oleh Nuruddin ar-Raniri dalam Bustan al-Salatin.[2]
Dalam registrasi cagar budaya pemerintah, situs yang sekarang masih bertahan menggunakan nama resmi:
- Kompleks Taman Sari Gunongan.[1]
Karena itu, istilah Taman Putroe Phang, Taman Sari Gunongan, dan Taman Ghairah sering digunakan secara bergantian dalam sumber populer, meskipun secara historis pengertiannya tidak sepenuhnya identik.
Taman Ghairah merupakan keseluruhan taman istana abad ke-17 yang jauh lebih luas, sedangkan kompleks Taman Sari Gunongan dan Taman Putroe Phang sekarang merupakan sisa dari kawasan tersebut.
Sejarah
Kompleks istana Aceh
Taman Ghairah merupakan bagian dari kompleks kerajaan Aceh yang berpusat di Dalam Darud Dunia, istana utama Kesultanan Aceh di Bandar Aceh Darussalam.
Istana tersebut merupakan pusat pemerintahan sekaligus kediaman keluarga kerajaan. Di bagian belakang atau lingkungan dalam istana terdapat taman kerajaan yang digunakan sebagai tempat peristirahatan, kegiatan keluarga kerajaan, kegiatan keagamaan, dan berbagai upacara istana.
Salah satu unsur terpenting kawasan itu adalah aliran air yang dikenal sebagai Darul-'Isyki atau Darul Asyiki. Sungai tersebut umumnya diidentifikasi dengan Krueng Daroy yang masih mengalir melalui Banda Aceh sekarang.[1]
Anthony Reid menyebut bahwa Sultan Iskandar Muda mengalihkan aliran sebuah sungai ke dalam kompleks istana sekitar 1613. Aliran tersebut kemudian menjadi salah satu unsur utama dalam pengembangan taman kerajaan.[4]
Putroe Phang
Setelah ekspedisi Aceh ke Pahang pada 1618, sejumlah anggota keluarga kerajaan Pahang dibawa ke Aceh.
Salah seorang di antaranya adalah Putri Kamaliah, yang di Aceh kemudian dikenal dengan sebutan Putroe Phang. Ia kemudian menjadi salah seorang istri Sultan Iskandar Muda.
Menurut tradisi Aceh yang dicatat pada masa kemudian, Putroe Phang merasa rindu terhadap negeri Pahang yang memiliki bentang alam berbukit-bukit. Iskandar Muda kemudian memerintahkan pembangunan sebuah gunung buatan dan taman untuk menghiburnya.
Gunung buatan tersebut kemudian dikenal sebagai Gunongan.[3]
Cerita ini menjadi salah satu kisah paling populer mengenai asal-usul Taman Putroe Phang dan Gunongan.
Namun, sumber tertulis abad ke-17 tidak menyatakan secara eksplisit bahwa seluruh Taman Ghairah dibangun atas permintaan Putroe Phang.
Taman Ghairah dalam Bustan al-Salatin
Deskripsi tertulis paling rinci mengenai taman kerajaan Aceh terdapat dalam Bustan al-Salatin, karya Nuruddin ar-Raniri yang mulai ditulis pada 1047 H/1637 M pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani.[1]
Ar-Raniri menggambarkan Taman Ghairah sebagai sebuah taman kerajaan yang sangat luas, kira-kira seribu depa, dikelilingi dinding batu berlapis kapur putih dan memiliki pintu yang menghadap ke istana.[1][2]
Kajian Nurul Fakriah dan Muhammad Naufal Fadhil terhadap teks Bustan al-Salatin membagi unsur lanskap Taman Ghairah menjadi unsur alami atau vegetasi, unsur keras, serta bangunan.[2]
Taman tersebut mencakup berbagai unsur seperti:
- Sungai Darul-'Isyki;
- Pintu Biram Indera Bangsa;
- Medan Khairani;
- Gegunungan Menara Permata;
- Pulau Sangga Marmar;
- sejumlah kolam dan tempat pemandian;
- peterana atau tempat duduk batu;
- berbagai balai;
- Masjid Isyki Musyahadah;
- taman bunga;
- kebun buah-buahan; dan
- berbagai jenis pohon dan tanaman hias.[1][2]
Deskripsi tersebut menunjukkan bahwa Taman Ghairah bukan sekadar taman rekreasi pribadi seorang permaisuri, tetapi merupakan kompleks lanskap kerajaan yang luas dengan fungsi rekreasi, seremonial, religius, dan simbolis.
Persoalan pendiri
Sumber dan tradisi memberikan keterangan berbeda mengenai siapa yang membangun Gunongan dan Taman Ghairah.
Tradisi lokal serta berbagai publikasi pemerintah mengaitkan pembangunan Gunongan dengan Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang.[1]
Tradisi tersebut telah dicatat setidaknya sejak penelitian Hoesein Djajadiningrat pada awal abad ke-20. Dalam tradisi lisan yang dihimpunnya, seorang sultan Aceh membuat sebuah gunung buatan untuk menyenangkan permaisurinya yang berasal dari negeri jauh dan merindukan pegunungan di tanah kelahirannya.[5]
Namun, Bustan al-Salatin menempatkan uraian pembangunan Taman Ghairah di dalam bagian yang membicarakan Sultan Iskandar Thani.
Robert Wessing dan sejumlah peneliti kemudian mempertanyakan atribusi sederhana seluruh kompleks kepada Iskandar Muda.[3]
Rekonstruksi Anthony Reid memberi kemungkinan adanya beberapa tahap pembangunan: Iskandar Muda lebih dahulu mengalihkan sungai melalui kompleks istana pada 1613, sedangkan pada masa Iskandar Thani aliran tersebut dan kawasan sekitarnya dikembangkan lebih lanjut menjadi Taman Ghairah.[4]
Dengan demikian, pembangunan kompleks taman kemungkinan merupakan proses yang berlangsung selama lebih dari satu masa pemerintahan.
Gunongan
Gunongan merupakan struktur yang paling terkenal di kawasan Taman Putroe Phang.
Bangunan ini terbuat dari pasangan batu dan kapur, dicat putih, dan berbentuk gunung buatan bertingkat dengan lorong sempit menuju bagian atas.
Hoesein Djajadiningrat menghubungkan Gunongan yang masih berdiri dengan bangunan yang disebut Gegunungan Menara Permata dalam Bustan al-Salatin.[6]
Dalam teks tersebut, Gegunungan Menara Permata terletak di tengah Medan Khairani, sebuah lapangan luas dalam Taman Ghairah.
Bentuknya yang menyerupai gunung telah ditafsirkan secara beragam. Selain sebagai gunung buatan untuk rekreasi keluarga kerajaan, sejumlah kajian membaca Gunongan sebagai simbol kosmologis yang berkaitan dengan konsep gunung suci dan taman kerajaan dalam tradisi Asia Tenggara.[3]
Pinto Khop
Pinto Khop adalah sebuah gerbang kecil berkubah yang terletak di sebelah timur kawasan Gunongan.
Dalam tradisi setempat, gerbang tersebut merupakan pintu yang menghubungkan istana dengan taman kerajaan.[7]
Pinto Khop sering diidentifikasi dengan Pintu Biram Indera Bangsa yang digambarkan ar-Raniri sebagai pintu Taman Ghairah yang menghadap ke istana.[1]
Akibat perubahan tata kota Banda Aceh, Gunongan dan Pinto Khop saat ini tidak lagi tampak sebagai satu kesatuan ruang sebagaimana kompleks taman kerajaan pada abad ke-17.
Dalam tradisi populer, Pinto Khop juga dikaitkan dengan kegiatan Putroe Phang dan perempuan istana ketika menuju tempat pemandian.
Keterangan bahwa Pinto Khop secara khusus menjadi tempat Putroe Phang membasuh atau mengeringkan rambutnya berasal terutama dari tradisi setempat dan sumber pariwisata modern, bukan deskripsi eksplisit Bustan al-Salatin.
Peterana batu
Di dekat Gunongan terdapat sebuah struktur batu berukir yang biasanya diidentifikasi sebagai peterana batu.
Bustan al-Salatin menyebut beberapa tempat duduk atau peterana batu dalam Taman Ghairah, termasuk Kembang Lela Masyhadi dan Kembang Seroja Berkerawang.[1]
Salah satu peterana tersebut masih dapat dikenali di sekitar Gunongan.
Dalam tradisi lokal, struktur itu kemudian dikaitkan dengan tempat perempuan istana duduk dan mencuci rambut setelah mandi.
Kandang Baginda
Di sebelah Gunongan terdapat bangunan berdinding yang dikenal sebagai Kandang Baginda atau Kandang Taman Ghairah.
Bangunan tersebut berupa pelataran persegi yang dikelilingi dinding tinggi.
Tradisi dan sumber arkeologi menghubungkannya dengan makam Sultan Iskandar Thani, yang wafat pada 1641.[8]
Ekskavasi arkeologi yang dilakukan pada 1976 menemukan sebuah keranda kayu berlapis emas yang kemudian dihubungkan dengan makam Sultan Iskandar Thani.[9]
Namun terdapat pula tradisi lama yang memberikan identifikasi berbeda mengenai tokoh yang pernah dimakamkan di kawasan tersebut.[8]
Sungai Darul-'Isyki
Unsur utama Taman Ghairah adalah Sungai Darul-'Isyki atau Darul Asyiki.
Ar-Raniri menggambarkannya sebagai aliran air jernih yang melintas di tengah taman dan berasal dari kawasan pegunungan di sebelah barat istana.[1]
Sungai tersebut umumnya diidentifikasi dengan Krueng Daroy sekarang.
Aliran air mempunyai fungsi praktis sebagai sumber air, tetapi sekaligus menjadi unsur utama dalam tata lanskap taman. Di sepanjang sungai terdapat tangga, pemandian, pulau buatan, batu-batu hias dan tempat peristirahatan.[2]
Dalam penelitian arsitektur lanskap, penggunaan air tersebut dipandang sebagai salah satu unsur utama konsep taman kerajaan Aceh abad ke-17.[2]
Medan Khairani dan Gegunungan Menara Permata
Bustan al-Salatin menyebut sebuah lapangan luas di dalam taman yang bernama Medan Khairani.
Di tengah lapangan tersebut berdiri Gegunungan Menara Permata, struktur menyerupai gunung dengan sebuah tempat semayam di bagian atas.[1]
Hoesein Djajadiningrat pada 1916 mengemukakan bahwa bangunan tersebut adalah struktur yang sekarang dikenal sebagai Gunongan.[6]
Identifikasi tersebut kemudian diterima secara luas dalam kajian arkeologi dan sejarah arsitektur Aceh.
Masjid Isyki Musyahadah
Taman Ghairah juga memiliki sebuah masjid yang disebut Masjid Isyki Musyahadah.
Menurut Bustan al-Salatin, masjid tersebut merupakan salah satu dari berbagai bangunan yang terdapat di dalam taman dan dikelilingi oleh pepohonan.[1]
Bangunan masjid tersebut tidak lagi bertahan.
Keberadaannya menunjukkan bahwa Taman Ghairah tidak semata-mata mempunyai fungsi rekreasi, melainkan juga memiliki unsur religius dalam struktur ruang kerajaan.
Perubahan dan hilangnya kompleks
Taman Ghairah pada abad ke-17 mempunyai ukuran jauh lebih besar daripada kompleks yang dapat dilihat saat ini.
Perubahan politik, perang, perkembangan Kutaraja pada masa kolonial, pembangunan jalan, permukiman dan perubahan aliran sungai menyebabkan sebagian besar struktur taman menghilang.
Pada masa Perang Aceh, kawasan istana Aceh diduduki oleh tentara Belanda dan kemudian diubah menjadi bagian dari pusat administrasi kolonial Kutaraja.
Sebagian bangunan kerajaan dihancurkan atau mengalami perubahan fungsi.
Foto-foto kolonial awal abad ke-20 menunjukkan Gunongan, Kandang dan kawasan sekitarnya telah berada di tengah lingkungan kota yang berbeda dari lanskap taman abad ke-17.
Di dalam Kandang pernah pula dibangun gudang mesiu oleh militer Belanda. Foto kolonial mencatat keberadaan bangunan tersebut di sekitar Gunongan.
Akibat perkembangan kota, Pinto Khop kini terpisah secara fisik dari kawasan utama Gunongan, meskipun pada masa kerajaan keduanya merupakan bagian dari sistem ruang yang sama.
Penelitian arkeologi
Gunongan telah menarik perhatian peneliti sejak masa kolonial.
Pada 1916, Hoesein Djajadiningrat menerbitkan penelitian mengenai asal-usul Gunongan dan mencoba menghubungkan struktur yang masih bertahan dengan uraian dalam Bustan al-Salatin.[6]
Pada 1973 pemerintah Indonesia melakukan inventarisasi kepurbakalaan di Aceh.
Ekskavasi kemudian dilaksanakan di kawasan Gunongan pada 1976 di bawah pimpinan arkeolog Hasan Muarif Ambary. Penelitian tersebut antara lain menemukan keranda kayu berlapis emas di kawasan Kandang yang dihubungkan dengan makam Sultan Iskandar Thani.[10]
Pemugaran situs kemudian dilakukan melalui berbagai proyek pelestarian peninggalan purbakala.
Kajian modern terhadap Gunongan dan Taman Ghairah mencakup penelitian arkeologi, sejarah seni, antropologi, arsitektur dan arsitektur lanskap.[2]
Cagar Budaya Nasional
Kompleks ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor:
- 014/M/1999
tanggal 12 Januari 1999.[1]
Dalam sistem registrasi pemerintah, objek tersebut tercatat sebagai Situs Cagar Budaya Kompleks Taman Sari Gunongan dengan koordinat sekitar 5,545887° LU dan 95,316175° BT.[1]
Bangunan yang masih bertahan dan berkaitan dengan kompleks bersejarah tersebut terutama meliputi:
- Gunongan;
- Kandang Baginda;
- peterana batu;
- Pinto Khop; dan
- bagian aliran Krueng Daroy.
Taman Putroe Phang saat ini
Pada masa kini, Taman Putroe Phang merupakan salah satu kawasan wisata sejarah di pusat Banda Aceh.
Kawasan Gunongan telah ditata sebagai ruang terbuka dengan halaman rumput, jalur pejalan kaki dan fasilitas untuk pengunjung.
Pinto Khop berada tidak jauh dari kompleks utama dan dikelilingi oleh kolam serta taman kota.
Situs ini terletak relatif dekat dengan beberapa peninggalan dan tempat bersejarah Banda Aceh lainnya, seperti:
- Gunongan;
- Kerkhof Peutjut;
- Blang Padang;
- Museum Tsunami Aceh;
- Museum Aceh;
- Kandang Baginda;
- Masjid Raya Baiturrahman; dan
- bekas kawasan istana Kesultanan Aceh.
Taman Putroe Phang juga digunakan sebagai tempat kegiatan kebudayaan, rekreasi dan pendidikan sejarah.
Taman Ghairah dalam kajian lanskap
Sebuah penelitian mengidentifikasi unsur-unsur taman yang disebut dalam Bustan al-Salatin berdasarkan klasifikasi arsitektur lanskap.[2]
Unsur-unsur tersebut terdiri atas:
Elemen lunak
Elemen lunak meliputi berbagai jenis:
- bunga;
- tanaman hias;
- pohon buah-buahan;
- pohon kelapa;
- pinang; dan
- berbagai vegetasi taman.
Keanekaragaman tanaman yang disebut ar-Raniri menunjukkan bahwa taman dirancang bukan semata-mata sebagai ruang terbuka, melainkan sebuah lanskap kerajaan yang ditata secara intensif.
Elemen keras
Elemen keras mencakup:
- dinding taman;
- sungai berlapis batu;
- tangga;
- jembatan;
- kolam;
- batu hias;
- pulau buatan;
- medan atau pelataran; dan
- berbagai peterana.
Bangunan
Bangunan dan struktur yang disebut antara lain:
- Pintu Biram Indera Bangsa;
- Gegunungan Menara Permata;
- Masjid Isyki Musyahadah;
- berbagai balai dan tempat semayam; serta
- bangunan pemandian dan tempat peristirahatan.[2]
Deskripsi tersebut menunjukkan tingkat kompleksitas tata ruang istana Aceh pada abad ke-17 yang jauh melampaui bagian situs yang masih tersisa sekarang.
Dalam tradisi Aceh
Taman Putroe Phang dan Gunongan kemudian menjadi simbol hubungan antara Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang.
Kisah Gunongan sebagai hadiah cinta Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya tersebar luas dalam tradisi lisan, buku sejarah lokal, pendidikan dan promosi pariwisata Aceh.
Putroe Phang sendiri dikenang dalam masyarakat Aceh melalui ungkapan:
- Qanun bak Putroe Phang.
yang merupakan bagian dari formula adat:
- Adat bak Poteu Meureuhom,
- Hukom bak Syiah Kuala,
- Qanun bak Putroe Phang,
- Reusam bak Laksamana.
Walaupun usia historis formula tersebut tidak diketahui secara pasti, ungkapan itu memperlihatkan posisi Putroe Phang dalam memori kebudayaan dan hukum adat Aceh.
Taman dan Gunongan karenanya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan arsitektur, tetapi juga sebagai bagian dari memori sosial mengenai perempuan, kerajaan, adat dan hubungan sejarah Aceh–Pahang.
Galeri
- Gunongan
- Kandang Taman Ghairah
- Pinto Khop
- Gunongan dan kawasan bekas taman kerajaan, sekitar 1922–1926
- Peninggalan kompleks keraton di Kutaraja
- Gunongan dan Kandang; di dalam Kandang tampak gudang mesiu yang dibangun militer Belanda
- Gunongan dan gudang mesiu pada masa kolonial
- Gunongan pada masa Hindia Belanda
- Gunongan di Kutaraja
- Gunongan dan kompleks yang dikaitkan dengan makam Sultan Iskandar Thani
Lihat pula
- Putroe Phang
- Gunongan
- Pinto Khop
- Taman Ghairah
- Iskandar Muda dari Aceh
- Iskandar Thani dari Aceh
- Taj ul-Alam
- Bustan al-Salatin
- Dalam Darud Dunia
- Krueng Daroy
- Kerkhof Peutjut
- Blang Padang
- Sejarah Banda Aceh
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 "Kompleks Taman Sari Gunongan". Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Fakriah, Nurul; Fadhil, Muhammad Naufal (2024). "Elemen-Elemen Lansekap Taman Ghairah dalam Bustanussalatin". Jurnal Arsitektur Lansekap. 10 (2): 239–248. doi:10.24843/JAL.2024.v10.i02.p11.
- 1 2 3 4 5 Wessing, Robert (1988). "The Gunongan in Banda Aceh, Indonesia: Agni's Fire in Allah's Paradise?". Archipel. 35: 157–194. doi:10.3406/arch.1988.2423.
- 1 2 3 Reid, Anthony. Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
- ↑ Djajadiningrat, Hoesein (1916). "De Stichting van het "Goenoengan" geheeten monument te Koetaradja". Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde. 57: 561–576.
- 1 2 3 Djajadiningrat, Hoesein (1916). "De Stichting van het "Goenoengan" geheeten monument te Koetaradja". Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde. 57: 561–576.
- ↑ "Pinto Khop". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Wessing, Robert (1991). "An Enclosure in the Garden of Love". Journal of Southeast Asian Studies. 22 (1): 1–15.
- ↑ Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
- ↑ Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Bacaan lebih lanjut
- Djajadiningrat, Hoesein (1916). "De Stichting van het "Goenoengan" geheeten monument te Koetaradja". Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde. 57: 561–576.
- Wessing, Robert (1988). "The Gunongan in Banda Aceh, Indonesia: Agni's Fire in Allah's Paradise?". Archipel. 35: 157–194. doi:10.3406/arch.1988.2423.
- Wessing, Robert (1991). "An Enclosure in the Garden of Love". Journal of Southeast Asian Studies. 22 (1): 1–15.
- Iskandar, Teuku (1966). Bustanussalatin Bab II Fasal 13. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
- Lombard, Denys (2014). Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Fakriah, Nurul; Fadhil, Muhammad Naufal (2024). "Elemen-Elemen Lansekap Taman Ghairah dalam Bustanussalatin". Jurnal Arsitektur Lansekap. 10 (2): 239–248. doi:10.24843/JAL.2024.v10.i02.p11.
- Fadhil, Muhammad Naufal; Putri, A.S.; Nichols, J. (2022). "Pre-Islamic and Islamic Influences of Taman Ghairah Aceh". Heritage of Nusantara. 11 (2): 171–205.
Pranala luar
- Kompleks Taman Sari Gunongan – Registrasi Cagar Budaya Nasional
