Senin, 28 September 2026
04:25 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Museum Aceh

Museum Aceh

museum di Indonesia

Museum Aceh
موسياوم اچيه
250px-Museum_Aceh_Logo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Logo Museum Aceh
250px-Museum_Aceh.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tampak bangunan Museum Aceh
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Museum_Aceh&revid=29970262&groups=_13453458d11dc70014f42af189c8cd80e0802466&parser=parsoid
Didirikan31 Juli 1915 (1915-07-31)
LokasiJl. Sultan Mahmudsyah 10, Peuniti, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh, Indonesia[1]
Koordinat5°32′55″N 95°19′15″E / 5.548634944409422°N 95.3209661225625°E / 5.548634944409422; 95.3209661225625
JenisMuseum daerah
Ukuran koleksi18.000+ items:
  • 6.038 benda bersejarah
  • 12.445 buku
PendiriStammeshaus
PemilikPemerintah Aceh
Situs webmuseum.acehprov.go.id

Museum Aceh (Aksara Jawoë : موسياوم اچيه) adalah sebuah museum etnografi dari suku bangsa asli yang mendiami Tanah Aceh.[2] Museum ini terletak di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Indonesia. Didirikan pada tahun 1915 oleh pemerintah kolonial Belanda, museum ini berfungsi sebagai pusat pelestarian dan pameran berbagai koleksi sejarah, budaya, dan adat istiadat Aceh. Museum Aceh menampilkan beragam artefak, termasuk senjata tradisional, pakaian adat, manuskrip kuno, serta rumah adat Aceh (Rumoh Aceh) yang menjadi ikon utama kawasan museum. Museum Aceh memiliki total 6.038 koleksi benda bersejarah yang diklasifikasikan ke dalam sepuluh jenis, yaitu: geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramonologika, seni rupa, serta teknologika. Museum ini juga menyimpan 12.445 buku dari berbagai judul yang mencakup aneka macam ilmu pengetahuan. [3][4]

Sejarah

Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.[5] Pemakaiannya diresmikan pada tanggal 31 Juli 1915[6] oleh Jenderal H.N.A. Swart selaku Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh.[7][8] Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus - 15 November 1914.[9]

250px-Stammeshaus_met_Polim.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
F.W. Stammeshaus (kanan), kurator pertama Museum Aceh dan kepala Museum Aceh 31 Juli 1915 s/d 1931. Foto bersama Panglima Polem.

Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besar adalah milik pribadi F.W. Stammeshaus, yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka dari pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan Paviliun yang paling lengkap koleksinya.[9]

Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum.[9]

Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh F.W. Stammeshaus sebagai kurator pertama.[9]

Setelah Indonesia Merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m². Setelah pemindahan ini pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat.[9]

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_Atjeh_Museum_in_Koetaradja_TMnr_60023674.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bangunan awal Museum Aceh berbentuk rumoh Atjeh tempo dulu

Sejalan dengan program Pemerintah tentang pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan permuseuman, sejak tahun 1974 Museum Aceh telah mendapat biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. Melalui Proyek Pelita telah berhasil direhabilitasi bangunan lama dan sekaligus dengan pengadaan bangunan-bangunan baru. Bangunan baru yang telah didirikan itu gedung pameran tetap, gedung pertemuan, gedung pameran temporer dan perpustakaan, laboratorium dan rumah dinas.[9]

Selain untuk pembangunan sarana/gedung Museum, dengan biaya Pelita telah pula diusahakan pengadaan koleksi, untuk menambah koleksi yang ada. Koleksi yang telah dapat dikumpulkan, secara berangsur-angsur diadakan penelitian dan hasilnya diterbitkan guna dipublikasikan secara luas.[9]

Sejalan dengan program Pelita dimaksud, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (BAPERIS) Pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama pada tanggal 2 september 1975 nomor 538/1976 dan SKEP/IX/1976 yang isinya tentang persetujuan penyerahan Museum kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayan untuk dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi, yang sekaligus berada di bawah tanggungjawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kehendak Pemerintah Daerah untuk menjadikan Museum Aceh sebagai Museum Negeri Provinsi baru dapat direalisasi tiga tahun kemudian, yaitu dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tanggal 28 Mei 1979, nomor 093/0/1979 terhitung mulai tanggal 28 Mei 1979 statusnya telah menjadi Museum Negeri Aceh. Peresmiannya baru dapat dilaksanakan setahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 September 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Yoesoef.[9]

Sesuai peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonomi pasal 3 ayat 5 butir 10 f, maka kewenangan penyelenggaraan Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh berada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (sekarang Provinsi Aceh).[9]

Pameran

Pameran Sumatra

Islam Dalam Budaya Sumatra 2013 Museum Aceh Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata 24 September - 7 Oktober 2013. Museum Aceh Jl. Sultan Alaiddin Mahmudsyah.

Gedung Pameran Tetap

Gedung Pameran Tetap, merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional dengan arsitektur modern. Bentuk bangunan ini merupakan modifikasi dari bentuk rumah tradisional Aceh. Pada bagian depan bangunan Gedung Pameran Tetap terdapat taman dan beberapa buah meriam besi peninggalan Belanda, yang diperkirakan berasal dari abad ke-17.

Rumoh Atjeh

Rumah Aceh dibangun menyerupai rumah tempat tinggal tradisional masyarakat Aceh.[10] Bentuk bangunannya adalah rumah panggung. Lantai bangunan ini dirancang setinggi 9 kaki atau lebih dari permukaan tanah. Bersandar pada tiang-tiang penyangga dari kayu dengan ruang kolong di bawahnya.[11]

Koleksi

Gambar

  • Krông Padé, lumbung padi dari etnis Aceh
    Krông Padé, lumbung padi dari etnis Aceh
  • Jeungki, alat penumbuk padi dari etnis Aceh
    Jeungki, alat penumbuk padi dari etnis Aceh

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Baiturrahman". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 31 Mei 2025. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=; no-break space karakter dalam |access-date= pada posisi 7
  2. ↑ MA, DR MUHAMMAD YASIR YUSUF; MA.Ek, INAYATILLAH; MA, ISNALIANA, SHI (2021-06-16). WISATA HALAL ACEH. Ar-Raniry Press. hlm. 157. ISBN 978-623-7410-94-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ "Museum Aceh". Diakses tanggal 2025-04-27.
  4. ↑ antaranews.com (2021-12-08). "Museum Aceh dikunjungi 15 ribu wisatawan selama pandemi 2021". Antara News. Diakses tanggal 2025-04-27.
  5. ↑ Sudirman (2022). Umar, Mawardi (ed.). "Atjeh Museum" (PDF). Seri Informasi Sejarah (86). Lembaran ertama.
  6. ↑ Aceh, Museum Negeri (1982). Petunjuk singkat Museum Negeri Aceh. Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. hlm. 15.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Wanti, Irini Dewi (2010). "Memaknai Tahun Kunjungan Museum 2010 (Suatu Kajian Terhadap Museum-Museum di Aceh)" (PDF). Buletin Haba (54): 5.
  8. ↑ Purwantari, Teguh (2023-08-04). Museum. Kanak. hlm. 14. ISBN 978-623-6043-30-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Museum Sejarah Aceh". Diakses tanggal 19-05-2025.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  10. ↑ Hasbullah (2011). "Melirik Peunulang Indatu untuk Kesejahteraan Anak Cucu: Beberapa Potensi Wisata Sejarah di Banda Aceh" (PDF). Buletin Haba (58): 12. ISSN 1410-3877.
  11. ↑ "MUSEUM RUMOH ACEH | Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh". 2014-12-04. Diakses tanggal 2025-05-19.
  12. ↑ Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid I. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm. 2. ISBN 978-979-8250-66-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Aceh Museum.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan