Minggu, 18 Oktober 2026
09:00 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Pranāma

Bagikan:

Pranāma (Sanskerta: प्रणाम, alih aksara: praṇāma, har. '"penghormatan, sujud atau membungkuk ke depan"') adalah bentuk gestur hormat atau penghormatan (atau membungkuk hormat) di hadapan sesuatu atau orang lain (biasanya kepada orang yang lebih tua, pasangan, atau guru) serta siapa pun yang sangat dihormati seperti dewa. Gestur ini dipraktikan dalam budaya India dan tradisi Hindu, Buddha, Jain, dan Sikh.

Pranāma juga dikenal sebagai isyarat tangan permintaan maaf dan digunakan sebagai permintaan maaf dalam situasi tertentu.

Etimologi

Pranāma berasal dari kata gabungan dalam bahasa Sanskerta, yakni "pra" (Sanskerta: प्र) dan "ānama" (Sanskerta: आनम); "pra" sebagai awalan berarti "maju, di depan, sebelum, sangat, atau sangat sekali", sedangkan "ānama" berarti "membungkuk atau meregangkan".[1] Gabungan kata pranāma dapat diartikan sebagai "gestur membungkuk, membungkuk ke depan" atau "membungkuk sekali" atau "sujud". Dalam konteks budaya, pranāma dipahami sebagai "salam hormat" atau "membungkuk dengan penuh hormat" di hadapan orang lain, biasanya orang tua atau guru atau seseorang yang sangat dihormati seperti dewa.[2]

Jenis

250px-Pranama.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gestur yang memperagakan Pranāma Ashtanga (kiri) and Pranāma Dandavat (kanan).

Pranāma umum dipraktikan dalam tradisi Hindu dan budaya India.[3] Pranāma sendiri dapat dibedakan berdasarkan gestur tubuh yang ditampilkan:[4]

  • Ashtanga (Sanskerta: अष्टाङ्, har. '"delapan bagian"'), juga dikenal sebagai "Ashtanga Dandavat": gestur dengan delapan bagian tubuh menyentuh tanah secara bersamaan, yakni Uras (Dada), Shiras (Kepala), Drishti (Mata), Manas (Perhatian), Vachana (Bicara), Pada (Kaki), Kara (Tangan), dan Jahnu (Lutut).
  • Shashthanga (Sanskerta: षष्ठाङ्, har. '"enam bagian"'), juga dikenal sebagai "Shashthanga Dandavat": gestur dengan enam bagian tubuh menyentuh tanah secara bersamaan, yakni jari kaki, lutut, tangan, dagu, hidung, dan pelipis.
  • Panchanga (Sanskerta: पञ्चाङ्ग, har. '"lima bagian"'), juga dikenal sebagai "Panchanga Dandavat": gestur dengan lima bagian tubuh menyentuh tanah secara bersamaan, yakni lutut, dada, pipi, pelipis, dan dahi.
  • Dandavat (Sanskerta: दण्डवत्, har. '"menyentuh"'): gestur dengan empat bagian tubuh menyentuh tanag secara bersamaan. Gestur ini mirip dengan gestur sujud, dengan dahi, tangan, kaki, dan lutut menyentuh tanah.
  • Namaskara (Sanskerta: नमस्कार, har. '"penyembahan"'): gestur dengan tangan terlipat menyentuh dahi sambil berdiri atau duduk. Ini adalah bentuk salam dan ucapan salam yang lebih umum yang diungkapkan antar orang.[4][5]Bandingkan pula dengan gestur sembah dalam tradisi Hindu Bali dan Wai dalam budaya Thailand, yang keduanya didasarkan pada Namaskara.
  • Abhinandana (Sanskerta: अभिनन्दन, har. '"selamat'): gestur dengan tubuh membungkuk ke depan dengan tangan terlipa menyentuh dada.

Sebagai bentuk permintaan maaf

Pranāma juga dipraktikkan sebagai kebiasaan masyarakat Hindu India untuk meminta maaf dengan gerakan tangan kanan ketika kaki seseorang secara tidak sengaja menyentuh buku atau bahan tertulis apa pun (yang dianggap sebagai perwujudan dewi pengetahuan Saraswati), uang (yang dianggap sebagai perwujudan dewi kekayaan Laksmi) atau kaki orang lain. Orang yang bersalah pertama-tama menyentuh benda tersebut dengan ujung jari, kemudian meletakannya ke dahi dan/atau dadanya.[6]

Gestur terkait

Salah satu gestur yang terkait dengan Pranāma adalah Charanasparsha (Sanskerta: चरणस्पर्श, har. '"menyentuh kaki"') di mana seseorang membuat gestur membungkuk yang dikombinasikan dengan menyentuh kaki, sebagai tanda penghormatan. Hal ini umumnya dilakukan Kuil Hindu saat melakukan darsana (melihat dewa untuk memberi penghormatan). Gestur ini umum dilakukan dalam budaya Hindu India, yang juga dilakukan menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua seperti orang tua, kakek-nenek, kerabat yang lebih tua, guru, sadu, dan sanyasa[7]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ Apte Dictionary, See: pra, aanama
  2. ↑ "Word Meaning - (praNAma)". KST (Online Sanskrit Dictionary). Sanskrit.Today. Diakses tanggal 22 Mei 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Sivaya Subramuniyaswami. Loving Ganesha. Himalayan Academy Publications. hlm. 481. ISBN 978-1-934145-17-3.
  4. 1 2 Chatterjee, Gautam (2001), Sacred Hindu Symbols, Google books, hlm. 47–48, ISBN 9788170173977.
  5. ↑ Bhatia, S., & Ram, A. (2009). Theorizing identity in transnational and diaspora cultures: A critical approach to acculturation. International Journal of Intercultural Relations, 33(2), pp 140–149
  6. ↑ de Bruyn, Pippa; Bain, Keith; Allardice, David; Joshi, Shonar (2010). Frommer's India. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-470-64580-2. Diakses tanggal 26 April 2013.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Why Do Indians Touch the Feet of Their Elders?, theculturetrip, 21 dec 2022.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pranama.
Gestur ramah tamah
Gestur penghormatan
Pemberian hormat
Gestur perayaan
Menghitung jari
Gestur cabul/kasar
Ejekan
Gerakan kepala
Gestur lainnya
Artikel terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan