Minggu, 01 November 2026
02:00 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pollice verso

Pollice verso

Bagikan:
Isyarat ibu jari yang digunakan dalam pertarungan gladiatorTemplat:SHORTDESC:Isyarat ibu jari yang digunakan dalam pertarungan gladiator
Untuk lukisannya, lihat Pollice Verso (Gérôme).
500px-Jean-Leon_Gerome_Pollice_Verso.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pollice Verso, lukisan tahun 1872 karya Jean-Léon Gérôme (Museum Seni Phoenix), pernah menjadi subjek perdebatan besar mengenai keakuratan sejarahnya
250px-Musee-romanite-medaillon-cavillargues_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Medali Cavillargues (ca 200 M) menggambarkan ēditor (penyelenggara pertunjukan) yang memperlihatkan kepalan tangan dengan ibu jari terlipat menyelimuti kepalan, yang berarti "ampuni dia."

Pollice verso atau verso pollice (Classical Latin:[ˈpɔlːɪkɛˈu̯ɛrs̠oː]) adalah frasa Latin yang berarti "dengan ibu jari yang diputar", yang digunakan dalam konteks pertarungan gladiator. Frasa ini merujuk pada gestur tangan atau isyarat ibu jari yang digunakan oleh penonton Roma Kuno untuk memberikan keputusannya terhadap gladiator yang kalah seusai pertarungan di koloseum.

Gestur secara pasti yang dijelaskan oleh frasa pollice verso, beserta maknanya, masih menjadi subjek perdebatan di kalangan akademisi.

Menurut Anthony Corbeill, seorang profesor studi klasik yang telah meneliti praktik ini secara mendalam, acungan jempol ke atas justru merupakan isyarat untuk membunuh gladiator, sedangkan "kepalan tangan dengan ibu jari yang terlipat menyelimuti kepalan" berarti mengampuninya.[1][2]

Ahli zoologi Desmond Morris menjelaskan bahwa gestur manusia jenis ini dipengaruhi oleh faktor budaya dan diwariskan dari waktu ke waktu.[3]

Makna

Alasan di balik keutamaan ibu jari dibandingkan jari-jari lainnya telah diperdebatkan sejak zaman kuno.[4] Makrobius, seorang cendekiawan dari provinsi Romawi, mengamati bahwa nama ibu jari (pollex) diturunkan dari kata Latin untuk kekuasaan atau kekuatan (polleo).[4] Penjelasan lainnya didasarkan pada ketidakcocokan ibu jari untuk dihiasi cincin, sehingga menjadikannya lebih unggul secara moral dibandingkan jari-jari lainnya.[4] Laktantius menekankan kegunaan dan fungsionalitas ibu jari, beserta kekuatan dan ukurannya.[4] Menurut Fulgentius, ibu jari yang terancung memiliki keselarasan dengan organ lain yang dianggap bersifat apotropaik, dan seperti organ-organ tersebut, ibu jari dipandang mampu menolak kejahatan.[4]

Roma Kuno

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Oktober 2012)

Gestur secara pasti yang dijelaskan oleh frasa pollice verso tidak begitu jelas. Dari catatan sejarah, arkeologi, dan literatur, belum dapat dipastikan apakah ibu jari diacungkan ke atas, diarahkan ke bawah, dipegang secara horizontal, atau disembunyikan di dalam kepalan tangan untuk menunjukkan penilaian positif maupun negatif.[5][6][7] Horasius pernah menulis tentang gestur yang menggunakan kedua ibu jari untuk memberi tepuk tangan pada suatu acara olahraga, meskipun makna pastinya tidak begitu jelas.[4] Menurut Encyclopædia Romana, Corbeill, yang memberikan pembahasan paling mendalam mengenai topik ini, menerjemahkan frasa pollices premere karya Plinius yang Tua sebagai "menekan ibu jari".[4] Menurut kesimpulannya, gestur pengampunan terdiri dari penekanan ibu jari di atas jari telunjuk dari kepalan tangan yang tertutup, sedangkan gestur negatif yang menandakan kematian, yang disebut infesto pollice oleh Kuintilianus, terdiri dari "ibu jari tegak yang mengarah ke atas".[4] Definisi pollex dalam kamus bahasa Latin karya Lewis dan Short mengikuti kesimpulan Corbeill tersebut.[4]

Yuvenalis menggunakan istilah verso pollice dalam karya Satirae:

Quondam hi cornicines et municipalis harenae
perpetui comites notaeque per oppida buccae
munera nunc edunt et, verso pollice vulgus
cum iubet, occidunt populariter
...[8]

Dahulu orang-orang ini adalah peniup tanduk, penampil setia arena tingkat daerah,
pipi kembung mereka dikenal di setiap desa;
kini mereka menggelar pertunjukannya sendiri, dan meraih pujian dengan membunuh
siapa pun yang diperintahkan rakyat lewat putaran ibu jari.[9]

Prudentius menyebutkan gestur ibu jari (converso pollice) yang digunakan oleh seorang Perawan Vestal yang menikmati pembantaian:

inde ad consessum caveae pudor almus et expers sanguinis it pietas hominum visura cruentos congressus mortesque et vulnera vendita pastu spectatura sacris oculis. sedet illa verendis vittarum insignis phaleris fruiturque lanistis. o tenerum mitemque animum! consurgit ad ictus et, quotiens victor ferrum iugulo inserit, illa delicias ait esse suas, pectusque iacentis virgo modesta iubet converso pollice rumpi, ne lateat pars ulla animae vitalibus imis altius inpresso dum palpitat ense secutor.

Lalu menuju tempat duduk di amfiteater, berlalulah sosok kesucian yang memberi kehidupan dan kesalehan tanpa cela ini [sang Perawan Vestal], untuk menyaksikan pertarungan berdarah serta kematian manusia, dan memandang dengan mata suci pada luka-luka yang diderita demi sesuap nasi. Di sana ia duduk anggun berhiaskan ikat kepala yang megah, menikmati apa yang disajikan para pelatih. Betapa lembut dan murni hatinya! Ia bangkit setiap kali ada tebasan, dan setiap kali sang pemenang menghunjamkan pedang ke leher korbannya, ia menyebutnya sebagai kesayangannya; perawan yang bersahaja itu dengan putaran ibu jarinya memerintahkan untuk merobek dada musuh yang terkapar, agar tiada sisa nyawa yang bersembunyi di lubuk jiwanya saat sang petarung menggeliat dalam kesakitan maut di bawah tancapan pedang yang kian dalam.[10]

Dalam budaya populer

Gagasan mengenai isyarat ibu jari pollice verso mulai dikenal luas oleh publik modern melalui sebuah lukisan tahun 1872 karya pelukis sejarah asal Prancis, Jean-Léon Gérôme, yang berjudul Pollice Verso (biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Thumbs Down). Lukisan kanvas berukuran besar ini menggambarkan para Perawan Vestal yang memberikan isyarat kepada seorang murmillo bahwa mereka menjatuhkan hukuman mati pada gladiator yang kalah di arena. Lukisan tersebut dibeli dari Gérôme oleh pengusaha toko serba ada asal Amerika Serikat, Alexander Turney Stewart, yang kemudian memamerkannya di Kota New York, dan kini disimpan di Museum Seni Phoenix di Arizona.

250px-Pollice_Verso--pamphlet--Paris--1879.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Halaman judul beserta ilustrasi dari "Pollice Verso": To the Lovers of Truth in Classic Art, This is Most Respectfully Addressed, 1879

Lukisan ini dengan cepat memicu kontroversi mengenai keakuratan penggunaan gestur jempol ke bawah oleh penonton di Koloseum sebagaimana digambarkan oleh Gérôme. Sebuah pamflet setebal 26 halaman yang diterbitkan pada tahun 1879, berjudul "Pollice Verso": To the Lovers of Truth in Classic Art, This is Most Respectfully Addressed, memuat ulang bukti-bukti yang mendukung dan menentang keakuratan lukisan tersebut, termasuk surat tertanggal 8 Desember 1878 dari Gérôme sendiri.[11] Lukisan karya Gérôme ini memopulerkan gagasan bahwa jempol ke atas berarti memberikan kehidupan, sedangkan jempol ke bawah berarti hukuman mati bagi gladiator yang kalah. Gestur tersebut digunakan dalam banyak film tentang Roma Kuno, termasuk film tahun 2000, Gladiator, saat kaisar Romawi Komodus mengacungkan jempol ke atas untuk mengampuni nyawa pahlawan dalam film tersebut, Maximus.[12]

Pollice Verso juga merupakan judul lukisan kontroversial tahun 1904 tentang Penyaliban Yesus karya seniman Australia, Norman Lindsay,[13] yang menggambarkan Kristus yang ditolak oleh orang-orang pagan tanpa busana.

Referensi

  1. ↑ Koerner, Brendan (28 Maret 2003). "What does a "thumbs up" mean in Iraq?". Slate Magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 Januari 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Where Does the 'Thumbs-Up' Gesture Really Come From?, Time
  3. ↑ "Desmond Morris On Symbolic Gestures". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-03.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Pollice Verso". penelope.uchicago.edu. Diakses tanggal 2025-12-17.
  5. ↑ James Grout: The Gladiator and the Thumb, part of the Encyclopædia Romana
  6. ↑ Desmond Morris, Peter Collett, Peter Marsh, and Marie O'Shaughnessy, 1979 Webified by Bernd Wechner: Gestures: Their Origin and Meanings, The Thumb Up
  7. ↑ "DID THE ROMANS TURN THUMBS DOWN ON GLADIATORS?". www.news.ku.edu.
  8. ↑ Yuvenalis, Satirae 3.34-37
  9. ↑ Yuvenalis Satirae, diterjemahkan oleh George Gilbert Ramsay (1839–1921)
  10. ↑ Prudentius. Reply to Symmachus, Book II, dalam Prudentius Volume II, diterjemahkan oleh H. J. Thomson, Loeb Classical Library 398, hlm. 93-95.
  11. ↑ "Pollice Verso": To the Lovers of Truth in Classic Art, This is Most Respectfully Addressed, pamflet tertanggal 10 April 1879, Paris.
  12. ↑ Spier, Christine (2010-08-06). "Thumbs Up or Thumbs Down? Looking at Gérôme's "Pollice Verso"". blogs.getty.edu/iris. Diakses tanggal 2019-06-09.
  13. ↑ "National Gallery of Australia".

Bacaan lanjutan

  • Anthony Corbeill. "Thumbs in Ancient Rome: Pollex as Index" dalam Memoirs of the American Academy in Rome 42, 1997, hlm. 61–81.
  • Anthony Corbeill. Nature Embodied: Gesture in Ancient Rome, Princeton University Press, 2004. 978-0-691-07494-8
  • Desmond Morris. Gestures: Their Origin and Distribution, 1979.

Pranala luar

Gestur ramah tamah
Gestur penghormatan
Pemberian hormat
Gestur perayaan
Menghitung jari
Gestur cabul/kasar
Ejekan
Gerakan kepala
Gestur lainnya
Artikel terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan