Porong | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Dari atas ke bawah: Terminal Porong; Candi Pari; Lumpur Lapindo | |||||
| Koordinat: 7°32′23″S 112°41′08″E / 7.53965991°S 112.68565269°E / -7.53965991; 112.68565269 | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Sidoarjo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Feri Prasetiya Budi, S.STP., M.HP. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 70.455 jiwa | ||||
| Kode pos | 61274 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.15.04 | ||||
| Kode BPS | 3515040 | ||||
| Luas | 30,71 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 16 | ||||
| |||||
Porong adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Porong merupakan pusat ekonomi Sidoarjo bagian selatan dan merupakan pintu masuk utama kabupaten dari arah Pasuruan dan Malang. Porong dilintasi jalur-jalur penting menuju ibu kota Sidoarjo dan Kota Surabaya di utara seperti jalan nasional, jalan arteri, hingga Jalan Tol Surabaya-Gempol yang terdapat Exit Tol Porong.[1][2] Pusat kecamatan ini merupakan kota kecil yang ramai dan terdapat fasilitas penunjang seperti Pasar Porong, Terminal Porong, Stasiun Porong, serta berbagai taman kota seperti Taman APKASI dan Taman Dwarakerta.[3] Porong juga merupakan lokasi Pusdik Sabhara Polri yang juga dilengkapi dengan rumah sakit.
Porong dikenal luas sebagai pusat dari tragedi banjir lumpur panas Sidoarjo atau lebih dikenal sebagai "Lumpur Lapindo" pada tahun 2006 dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. Peristiwa ini awalnya terjadi akibat pengeboran yang dilakukan oleh perusahaan migas PT Lapindo Brantas. Pengeboran tersebut menyebabkan semburan lumpur yang muncul terus menerus dari dalam tanah dan menenggelamkan pemukiman dan persawahan. Akibatnya, ribuan penduduk dari berbagai desa mengungsi ke tempat lain.[4] Beberapa desa dan kelurahan di Porong dan sekitarnya kemudian dihapus dari peta akibat kekosongan penduduk. Sekarang di sekitar area lumpur dibangun tanggul dan dapat dikunjungi oleh masyarakat.[5]
Porong merupakan lokasi bersejarah dengan banyaknya peninggalan dari masa lalu, terutama dari zaman Hindu-Buddha seperti Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Pamotan. Di antara beberapa candi tersebut, yang paling terkenal adalah Candi Pari karena struktur bangunannya masih berdiri tegak sehingga sekarang menjadi salah satu ikon pariwisata dari Kabupaten Sidoarjo. Candi Pari sendiri merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit dari abad ke-14 yang terletak di Desa Candipari.[6] Pada masa kolonial Belanda, Porong merupakan pusat dari Kawedanan Porong yaitu daerah pembantu bupati Sidoarjo yang membawahi beberapa kecamatan di Sidoarjo selatan yaitu Kecamatan Porong, Jabon, Tanggulangin, Krembung, dan Tulangan.[7]
Geografi

Porong adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sidoarjo bagian selatan dan memiliki geografi berupa dataran rendah. Nama Porong juga dipakai sebagai nama sungai utama yang melintasi kecamatan ini yaitu Kali Porong. Kali Porong adalah sungai besar yang menjadi pembatas Kabupaten Sidoarjo dengan Kabupaten Pasuruan. Sungai ini merupakan lanjutan dari Sungai Brantas dan berakhir di Selat Madura. Wilayah Porong memanjang hingga Desa Plumbon di sebelah timur yang dikelilingi oleh kawasan tambak. Beberapa desa dan areal persawahan di Porong tenggelam akibat bencana lumpur Lapindo yang terjadi di 2006 dan saat ini masih belum pulih. Sekarang semburan lumpur tersebut sekelilingnya telah ditanggul sehingga tidak meluber ke wilayah sekitarnya.
Batas wilayah Kecamatan Porong adalah sebagai berikut:[8]
| Utara | Kecamatan Tanggulangin |
|---|---|
| Timur | Kecamatan Jabon |
| Selatan | |
| Barat | Kecamatan Krembung |
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Porong terdiri dari 12 desa dan 3 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
| No. | Nama Kelurahan / Desa | Tipe | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Candipari | Desa | Candipari | [8] |
| 2 | Gedang | Kelurahan | Gedang | [8] |
| 3 | Glagaharum | Desa | Glagah, Kwaron, Mrisen | [8] |
| 4 | Juwetkenongo | Kelurahan | Juwet, Kenongo, Gondang | [8] |
| 5 | Kebakalan | Desa | Kebakalan | [8] |
| 6 | Kebonagung | Desa | Kebonagung, Balongsari, Kendal, Kluwih, Macanmati | [8] |
| 7 | Kedungboto | Desa | Kedungboto, Kedungturi | [8] |
| 8 | Kedungsolo | Desa | Kedungsolo, Kedungkampil | [8] |
| 9 | Kesambi | Desa | Simomulyo, Simorejo | [8] |
| 10 | Lajuk | Desa | Lajuk, Pandokan, Pojok | [8] |
| 11 | Pamotan | Desa | Pamotan Barat, Pamotan Timur, Bringin | [8] |
| 12 | Pesawahan | Desa | Pesawahan, Bendungan, Kedungbulus | [8] |
| 13 | Plumbon | Desa | Plumbon, Kalikendil, Kedondong, Tuyono | [8] |
| 14 | Porong | Kelurahan | Porong, Gempol Sampurno, Manggung, Sawahan, Tanggulrejo | [8] |
| 15 | Wunut | Desa | Wunut, Kesamben, Kesamben Kidul | [8] |
Penggabungan desa / kelurahan
Sebelum terjadi peristiwa lumpur Lapindo, Kecamatan Porong memiliki jumlah desa dan kelurahan yang lebih banyak dari sekarang. Namun, karena terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran dan pemerintahan desa / kelurahan tidak berjalan semestinya, maka desa dan kelurahan berikut ini dihapus dan wilayahnya digabung ke desa tetangga:[9]
| No. | Nama Kelurahan / Desa | Tipe | Keterangan | Nama Dusun |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Jatirejo | Kelurahan | Digabungkan dengan Kelurahan Gedang | |
| 2 | Mindi | Kelurahan | Digabungkan dengan Kelurahan Porong | |
| 3 | Renokenongo | Desa | Digabungkan dengan Desa Glagaharum | Balongnongo, Reno, Renomencil, Sengon, Wangkal |
| 4 | Siring | Kelurahan | Digabungkan dengan Kelurahan Gedang |
Lumpur panas Lapindo

Pada 29 Mei 2006, terjadi bencana besar berupa munculnya semburan lumpur panas dari dalam tanah yang disebabkan oleh eksplorasi migas oleh PT Lapindo Brantas. Semburan lumpur panas muncul pertama kali di area persawahan Kelurahan Siring yang jaraknya kurang lebih 150 meter barat daya dari sumur Banjar Panji-1. Dengan cepat semburan meluas hingga menenggelamkan beberapa desa dan areal persawahan di Kecamatan Porong dan sekitarnya.[4] Beberapa lumpur dialirkan ke Kali Porong sehingga sekarang terbentuk sedimentasi di muara sungai seperti Pulau Lusi.[10] Warga yang terdampak kemudian direlokasi ke berbagai desa, salah satunya di Perumahan Renojoyo di Desa Kedungsolo yang mengambil nama dari salah satu desa yang tenggelam yaitu Renokenongo.[11] Banyak desa yang tidak lagi dihuni sehingga dihapus dari peta. Desa dan kelurahan yang dihapus mencakup Renokenongo, Siring, Jatirejo, dan Mindi serta ditambah desa-desa dari kecamatan lainnya.[12]
Kuliner

Ote-ote Porong
Ote-ote Porong adalah kudapan khas dari Porong. Kuliner ini memiliki kemiripan dengan ote-ote pada umumnya, tetapi berbeda isian. Biasanya ote-ote berisi sayuran seperti kubis dan wortel yang kemudian dicampur dengan adonan tepung terigu dan digoreng. Sedangkan ote-ote Porong berisi daging, tiram, rumput laut, dan daun bawang. Untuk daging sendiri, terdapat pilihan daging ayam dan babi. Ote-ote Porong juga ukurannya lebih besar dari ote-ote biasanya dan harganya lebih mahal. Ote-ote Porong berasal dari pendatang Tionghoa yang menetap di Porong dan dijual bersama menu khas Tionghoa lainnya. Sekarang kudapan ini sudah menyebar ke berbagai tempat seperti Surabaya hingga kota-kota lainnya.[13][14]
Tempat terkenal


- Pasar Porong
- Terminal Porong
- Stasiun Porong
- Tanggul Lumpur Lapindo
- Pusat Pendidikan Samapta Bhayangkara Polri (Pusdiksabhara)
- Lapas Kelas I Surabaya

Pariwisata
- Candi Pari
- Candi Sumur
- Candi Pamotan
- Candi Lemah Duwur
- Kolam renang Candipari
- Taman Apkasi
- Taman Dwarakerta
Fasilitas kesehatan
- RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong
- Puskesmas Porong
- Puskesmas Kedungsolo
Galeri
Galeri sejarah
- Kantor pos dan telegraf Porong
- Candi Pari
- Sebuah jalan di Porong
Galeri lainnya
- Suasana belakang Pasar Porong
- Trans Jatim di Terminal Porong
- Delman di Terminal Porong
Referensi
- ↑ "Jalan Nasional Porong Terkendala". KOMPAS. 2018-05-22.
- ↑ "ARTERI PORONG TERUS DIKEBUT". KOMINFO JATIM. 2011-08-02.
- ↑ Vega Dwi Arista (2022-04-10). "Stan Pasar Baru Porong Masih Diisi 70 Pedagang". RADAR SIDOARJO.
- 1 2 Aminiyah Shevita, Artono (2025). "RELOKASI WARGA TERDAMPAK LUMPUR LAPINDO DI DESA JATIREJO 2006-2012". Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah. 16 (2). Universitas Negeri Surabaya.
- ↑ Muhammad Rafi Putra Zulkarnain (2023-04-29). "Wisata Lumpur Lapindo di Sidoarjo". TABLOID MATA HATI.
- ↑ Suparno (2022-04-04). "Ini Asal-usul Candi Pari dan Sumur Warisan Majapahit di Sidoarjo". DETIK JATIM.
- ↑ [Administratieve indeling van Java en Madoera] - sheet 3 (Oost Java). Leiden University Libraries Digital Collections. 1936.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kabupaten Sidoarjo Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Sidoarjo. 2025-02-28.
- ↑ "Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.1.1-6117 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau" (PDF).
- ↑ Sintya Risyulianita Masella, Nugroho Hari Purnomo (2020). "ANALISIS ARAH PERKEMBANGAN DAN PREDIKSI LUAS WILAYAH PULAU LUSI KABUPATEN SIDOARJO". Swara Bhumi. 2 (1). Universitas Negeri Surabaya.
- ↑ "Pemulihan Kehidupan Korban Lumpur Lapindo di Desa Renokenongo". PRASETYA ONLINE. 2017-05-08.
- ↑ Vega Dwi Arista (2023-06-09). "Empat Desa Terdampak Lumpur Bakal Digabung". RADAR SIDOARJO.
- ↑ "Sentuhan Oriental OTE-OTE Porong". Universitas Ciputra. 2014-09-23.
- ↑ Alifiah Nurahma (2024-08-11). "Keajaiban Rasa Ote-ote Porong: Kuliner Legendaris yang Menggugah Selera". LINGKARAN.
| Kecamatan | ||
|---|---|---|
| Kelurahan | |
|---|---|
| Desa | |
