Minggu, 08 November 2026
06:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Tampubolon

Tampubolon

salah satu marga Batak Toba

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Simbolon atau Siboro. Ketiganya merupakan marga yang berbeda tanpa hubungan kekerabatan.
Tampubolon
250px-Tugu_Tuan_Sihubil_%26_Sapala_Tua_Tampuk_Nabolon_02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tugu Tuan Sihubil dan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon di Sibolahotang, Balige, Toba.
Aksara Batakᯖᯔ᯲ᯇᯮᯅᯬᯞᯬᯉ᯲
(Surat Batak Toba)
Nama margaTampubolon
Nama/penulisan alternatif
Artitampuk + na + bolon
(tangkai daun/buah yang besar)
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadibanua
5Sibagot ni Pohan
6Tuan Sihubil
7Tampubolon
Nama lengkap tokohRaja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon)
Nama istri
Nama anak (putra)
  • 1. Raja Mataniari
  • 2. Raja Niapul
  • 3. Raja Siboro
Genealogi
Induk margaTuan Sihubil
KlanTuan Sihubil
Marga sekerabat
Turunan
Mataniari binsarSitorus
Padan
Asal
SukuBatak
EtnisBatak Toba
Daerah asalBalige, Toba
Persebaran dengan populasi signifikan

Tampubolon (Surat Batak: ᯖᯔ᯲ᯇᯮᯅᯬᯞᯬᯉ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba. Leluhur marga Tampubolon adalah Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon, anak tunggal dari Tuan Sihubil yang berasal dari daerah Balige, Toba.

Etimologi

Secara etimologi, nama Tampubolon dalam bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata tampuk na, dan bolon yang memiliki arti tangkai daun atau buah yang besar. Hal tersebut mengacu kepada:

  • Kata tampuk dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai tangkai daun atau buah,
  • Kata Bolon dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai besar maupun agung.

Tarombo (Silsilah)

Berikut merupakan tarombo (silsilah) marga Tampubolon:

Tuan Sihubil
Boru Pasaribu
Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon)
1. Boru Sitorus
2. Boru Sitorus
3. Boru Sitorus
Raja Bungabunga /
Raja Parmahan (Silalahi)
(Anak angkat)
Raja Mataniari
1. Boru Siahaan
2. Boru Sitorus
3. Boru Pasaribu Habeahan
Raja Niapul
(Tampubolon)
Boru Sitorus Pane
Raja Siboro
(Tampubolon)
1. Boru Sitorus
2. Boru Nainggolan Parhusip
Ompu Rudang NabolonOmpu Sidomdom
(Baringbing)
Boru Siahaan
Simangan Dalan
(Baringbing)
Boru Sianturi
Ginjang Niporhas
(Baringbing)
Boru Siahaan
Sondiraja
(Silaen)
Boru Sitorus Pane
Badiaraja
(Sitompul)
Alang Pardosi
(Pohan di Barus)
Raja Unduk
(Karokaro Barus)
Tuan Sumandar
Boru Sitorus Pane
Raja SitandukRaja Martahuluk
(Sibulele)
Boru Sitorus Pane
Sariburaja
(Lumban Atas)
1. Boru Sitorus
2. Boru Simanjuntak
Raja SihajutUlubalang HobolBona NiaekTangka NamoraSangkar Toba
Boru Simangunsong
Giot RajaGiot Nabegu
Boru Pasaribu
Giot Paruma
Boru Sitorus
Giot Datu
Raja Marburak
(Sibolahotang)
1. Boru Tambunan
2. Boru Samosir
Raja Pangahut
(Sitampulak)

Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon yang menjadi leluhur dari marga Tampubolon, beliau menikah dengan tiga wanita yang sama-sama Boru Sitorus, yang salah satunya merupakan putri dari Toga Raja Sitorus. Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon memiliki tiga orang putra, yaitu: (1) Raja Mataniari, (2) Raja Niapul, dan (3) Raja Siboro.

Raja Mataniari

Raja Mataniari yang menikah pertama dengan Sanggul Haomasan Boru Siahaan, putri dari Raja Sitolngo Siahaan dan memperoleh 4 orang putra dan 4 putri, yaitu: (1) Ompu Rudang Nabolon yang terkenal dengan kesaktiannya sehingga beliau tidak mempunyai keturunannya, (2) Ompu Sidomdom, (3) Simangan Dalan yang menikahi Boru Sianturi, dan (4) Ginjang Diporhas, dan keempat putri dari Raja Mataniari adapun sebagai Berikut: (1) Siboru Hataoloan yang menikah dengan Gaja Mauli Nainggolan Sibatuara; (2) Si Boru Hutumurlan yang Menikah dengan Ompu Raja Ijolo Sianturi Simataniari; (3) Si Boru Tapongan Uli Yang Menikah dengan Tuan Mulanijolma Simbolon; dan (4) Si Boru Ari belum diketahui marga suaminya. Dewasa ini, keturunan dari tiga anak Raja Mataniari (Ompu Sidomdom, Simangan Dalan, dan Ginjang Niporhas) cenderung menggunakan marga Baringbing pada nama mereka. Hal tersebut bermula dari tradisi menggunakan balung/jengger ayam jantan (dalam bahasa Batak Toba: baringbing) di tengah tanduk kerbau sebagai penghias di bagian depan atas rumah. Penggunaan marga Baringbing masih belum lazim dipraktikkan sebelum paruh kedua abad ke-20, kala itu hanya sebagian kalangan yang menggunakan marga tersebut, maupun menyematkan kedua marga seperti Tampubolon Baringbing. Namun memasuki abad ke-20 hingga dewasa ini penggunaan marga Baringbing kian semarak dilakukan oleh ketiga keturunan anak Raja Mataniari tersebut. Kemudian Raja Mataniari menikah kedua kali dengan Boru Sitorus dan memperoleh 2 orang putra, yaitu: (1) Sondiraja yang keturunannya menggunakan marga Silaen dan (2) Badia Raja yang mulai parpadanan (ikrar janji) antara marga Tampubolon dan Sitompul, Badia Raja pun diangkat menjadi anak dari Raja Sitompul. Dimasa Tua Raja Mataniari, Raja Mataniari menikah untuk ketiga kalinya dengan Boru Pasaribu Habeahan dari melalui pernikahan ketiga tersebut, Raja Mataniari memperoleh dua putra, yaitu: (1) Alang Pardosi Keturunan dari Alang Pardosi menggunakan marga persatuan keturunan kakek buyutnya, yaitu Pohan, bersama dengan keturunan Sibagot ni Pohan lainnya yang telah terlebih dulu bermukim di Barus. Dengan demikian marga Pohan yang ada di Barus tidak seluruhnya merupakan keturunan langsung dari Alang Pardosi. Alang Pardosi juga diyakini sebagai Raja yang memerintah di Kerajaan Barus. (2) Raja Unduk, keturunan dari Raja Unduk dipercaya berkelana dari Barus menuju Tanah Karo dan membuka kampung di Barusjahe. Keturunannya juga dipercayai sebagai Orang Karo yang menggunakan marga Barus/Karokaro Barus dewasa ini.

Raja Niapul

Raja Niapul menikah dengan Boru Sitorus Pane dan memperoleh dua orang putra, yaitu: (1) Tuan Sumandar dan (2) Raja Sitanduk. Tuan Sumandar memperoleh dua orang putra, yaitu: (1) Raja Sihajut dan (2) Ulubalang Hobol. Raja Sitanduk yang memperoleh dua orang putra yaitu: Raja Sihajut memperoleh dua putra, yaitu: (1) Raja Marburak (keturunannya disebut sebagai Tampubolon Sibolahotang) dan (2) Raja Pangahut (keturunannya disebut sebagai Tampubolon Sitampulak)

Raja Siboro

Raja Siboro menikah dengan Boru Sitorus dan Boru Nainggolan Parhusip dan memperoleh 2 orang putra dan seorang putri, yaitu: (1) Raja Martahuluk dan (2) Sariburaja dan putri tunggal dari Raja Siboro yang dinikahi Tuan Pagaraji Tambunan. Raja Martahuluk (Keturunannya disebut 'Tampubolon Sibulele) yang menikahi Boru Sitorus Pane dan memperoleh tiga orang putra dan tiga orang putri, yaitu: (1) Bona Niaek, (2) Tangka Namora, dan (3) Sangkar Toba yang menikahi Boru Simangunsong, Raja Martahuluk sendiri memiliki tiga orang putri adapun urutannya sebagai berikut: (1) Siboru Nahean yang dinikahi Raja Souason Hutagaol; (2) Siboru Nagolu yang dinikahi Ompu Morga Aritonang Simaremare; dan (3) Siboru Marjarojak yang dinikahi Ompu Sibalanga Bosi Nainggolan Lumbanraja. Sariburaja (Tampubolon Lumban Atas) Menikah dengan Boru Simanjuntak dan Boru Sitorus serta memiliki 4 Orang Putra Yaitu: (1) Giot Raja, (2) Giot Nabegu menikah dengan Boru Pasaribu, (3) Giot Paruma menikah dengan Boru Sitorus, dan (4) Giot Datu

Kekerabatan

Seluruh keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) memiliki hubungan erat dengan satu sama lain; mereka memegang teguh ikatan persaudaraan untuk tidak menikah antar satu dengan yang lain.

Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon menikah dengan Boru Sitorus, oleh sebab itu hula-hula (mataniari binsar) dari seluruh marga Tampubolon adalah marga Sitorus.

Kekerabatan dengan marga Silalahi Parmahan

Marga Tampubolon memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan marga Silalahi Parmahan karena Raja Bungabunga/Raja Parmahan Silalahi yang merupakan cucu dari Raja Silahisabungan telah diangkat oleh Tuan Sihubil sebagai anak angkat dan menjadikannya sebagai adik dari Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon. Oleh sebab itu keturunan dari Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon dan Raja Bungabunga/Raja Parmahan Silalahi memegang teguh persaudaraan tersebut hingga saat ini.

Kekerabatan dengan marga Sitompul

Marga Tampubolon juga memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Sitompul. Hubungan tersebut menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) bermula ketika Badiaraja (cucu Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon/Anak Raja Mataniari) memiliki konflik dengan saudaranya Sondiraja sehingga menyebabkan Badiaraja pergi meninggalkan kampung asalnya Balige ke arah selatan tepatnya di kawasan Silindung. Di sana Badiaraja dengan menggunakan nama Raja Somundur berhasil membunuh babi hutan yang telah menewaskan Ompu Hobol Batu, yakni anak tunggal Toga Sitompul. Badiaraja kemudian direstui oleh ibu Ompu Hobol Batu sebagai pewaris harta peninggalan oleh Ompu Hobol Batu beserta kedua istri Ompu Hobol Batu yang tengah mengandung. Badiaraja juga berikrar akan menganggap dirinya sebagai pengganti Ompu Hobol Batu dan keturunannya-pun akan menggunakan marga Sitompul. Kedua istri Ompu Hobol Batu yang telah menjadi Istri Badiaraja kemudian melahirkan masing-masing satu anak yang dibuahi oleh Ompu Hobol Batu, dan setelah menikah dengan Badiaraja kembali mengandung dan juga melahirkan masing-masing satu anak bagi Badiaraja. Keempat anak tersebut adalah:

  1. Sabar Dilaut (Sitompul Lumbantoruan)
    - anak Ompu Hobol Batu
  2. Handang Dilaut (Sitompul Lumbandolok)
    - anak Ompu Hobol Batu
  3. Sabuk Nabegu (Sitompul Siringkiron)
    - anak Badiaraja
  4. Lintong Ditao (Sitompul Sibangebange)
    - anak Badiaraja

Namun sesuai dengan ikrar Badiaraja yang berjanji akan menjadi pengganti Ompu Hobolbatu, keempat anak tersebut beserta seluruh keturunannya menggunakan marga Sitompul. Semasa hidupnya juga Badiaraja berpesan kepada keempat anaknya Badia Raja agar menjunjung tinggi marga Sitompul, dan tidak membedabedakan yang mana sebenarnya berdarah Sitompul dan yang mana berdarah Tampubolon.

Di masa tuanya, Badiaraja berdamai dengan Sondiraja dan mereka mengadakan tanda persaudaraan dengan makan dan menggigit bersama perut (boltok) daging babi. Sejak saat itu hingga sekarang ini hubungan kekerabatan antara marga Tampubolon dan Marga Sitompul dipegang teguh oleh keturunan kedua marga, dan juga disebut hubungan kedua marga tersebut sebagai marsaboltok atau satu perut Bahasa Batak Toba.

Tokoh

Beberapa tokoh bermarga Tampubolon, di antaranya adalah:

Beberapa tokoh marga Tampubolon yang menggunakan nama Baringbing dan Silaen sebagai nama marganya, di antaranya adalah:

Galeri

  • Tugu Raja Niapul Tampubolon di desa Sibolahotang
    Tugu Raja Niapul Tampubolon di desa Sibolahotang
  • Tugu Raja Niapul Tampubolon di desa Sibolahotang
    Tugu Raja Niapul Tampubolon di desa Sibolahotang
  • Prasasti peresmian Tugu Raja Niapul Tampubolon
    Prasasti peresmian Tugu Raja Niapul Tampubolon
  • Prasasti peresmian Tugu Raja Niapul Tampubolon
    Prasasti peresmian Tugu Raja Niapul Tampubolon

Referensi

  • Hutagalung, W.M. (1991), Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, hlm. 223–225{{citation}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
  • Siahaan, Amanihut N.; Pardede, H. (1957), Sejarah perkembangan Marga - Marga Batak{{citation}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
  • Radjagukguk, Bostang (2014), Sitompul, hlm. 9–11

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan