Minggu, 20 September 2026
10:57 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Pemelajaran semiterbimbing

Bagian dari seri
Pembelajaran mesin
dan penggalian data
Ilustrasi Jaringan saraf tiruan
Diagnostik model

Pemelajaran semiterbimbing atau pemelajaran semiterawasi (bahasa Inggris: semi-supervised learning) adalah sebuah paradigma dalam pemelajaran mesin yang menjadi lebih relevan dan signifikan dengan munculnya model bahasa besar (LLM), terutama karena LLM membutuhkan jumlah data yang besar untuk melatihnya. Paradigma ini ditandai dengan penggunaan kombinasi antara sejumlah kecil data yang dilabeli manual dan sejumlah besar data tanpa label (digunakan secara eksklusif dalam pemelajaran tak terawasi). Dengan kata lain, nilai keluaran yang diinginkan hanya diberikan untuk sebagian kecil data pelatihan, sedangkan data yang tersisa tidak berlabel atau berlabel tanpa presisi. Secara intuitif, konsep ini dapat diibaratkan sebagai ujian. Dengan data yang berlabel, seperti soal contoh yang dikerjakan oleh guru sebagai bantuan dalam menyelesaikan rangkaian masalah lainnya. Dalam konteks transduktif, masalah yang belum terselesaikan ini berperan sebagai pertanyaan dalam ujian. Dalam konteks induktif, masalah ini menjadi latihan sejenis yang akan muncul dalam ujian. Secara teknis, masalah ini dapat dilihat sebagai klasterisasi dan kemudian memberi label pada klaster dengan data yang berlabel, mendorong batas keputusan menjauh dari wilayah berkepadatan tinggi, atau mempelajari manifold satu dimensi yang mendasari di mana data berada.

Masalah

330px-Task-guidance.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kecenderungan suatu tugas untuk menggunakan metode terawasi vs. tak terawasi. Penempatan nama tugas melewati batas lingkaran disengaja. Ini menunjukkan bahwa pembagian klasik untuk tugas-tugas imajinatif (kiri) yang menggunakan metode tak terawasi menjadi kabur dalam skema pembelajaran saat ini.

Pengadaan data berlabel untuk sebuah tugas pemelajaran sering kali memerlukan agen manusia yang terampil (misalnya, untuk mentranskripsikan segmen audio) atau eksperimen fisik (misalnya, menentukan struktur 3D suatu protein atau menentukan apakah ada minyak di lokasi tertentu). Biaya yang terkait dengan proses pelabelan dapat membuat himpunan pelatihan yang berlabel sepenuhnya menjadi tidak mungkin dilakukan. Di sisi lain, pengadaan data tanpa label relatif lebih murah. Dalam situasi seperti itu, pemelajaran semi-terawasi dapat memiliki nilai praktis yang besar. Pemelajaran semi-terawasi juga menarik secara teoretis dalam pemelajaran mesin dan sebagai model pemelajaran manusia.

Teknik

250px-Example_of_unlabeled_data_in_semisupervised_learning.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Contoh pengaruh data tanpa label dalam pemelajaran semi-terawasi. Panel atas menunjukkan batas keputusan yang mungkin dipilih setelah melihat hanya satu contoh positif (lingkaran putih) dan satu contoh negatif (lingkaran hitam). Panel bawah menunjukkan batas keputusan yang mungkin dipilih jika, selain dua contoh berlabel, diberikan kumpulan data tanpa label (lingkaran abu-abu).

Secara lebih formal, pemelajaran semi-terawasi mengasumsikan sebuah himpunan l {\displaystyle l} {\displaystyle l} yang independen dan terdistribusi secara identik, contohnya x 1 , … , x l ∈ X {\displaystyle x_{1},\dots ,x_{l}\in X} {\displaystyle x_{1},\dots ,x_{l}\in X} dengan label y 1 , … , y l ∈ Y {\displaystyle y_{1},\dots ,y_{l}\in Y} {\displaystyle y_{1},\dots ,y_{l}\in Y}, dan dengan u {\displaystyle u} {\displaystyle u} contoh tanpa label x l + 1 , … , x l + u ∈ X {\displaystyle x_{l+1},\dots ,x_{l+u}\in X} {\displaystyle x_{l+1},\dots ,x_{l+u}\in X} diolah. Pemelajaran semi-terawasi menggabungkan informasi ini untuk melampaui kinerja yang dapat diperoleh dari klasifikasi, baik dengan membuang data tanpa label dan melakukan pemelajaran terawasi, atau dengan membuang label dan melakukan pembelajaran tanpa terawasi.

Pemelajaran semi-terawasi dapat merujuk, baik kepada pembelajaran transduktif atau pemelajaran induktif.[1] Tujuan dari pemelajaran transduktif adalah untuk menyimpulkan label yang benar untuk data tanpa label x l + 1 , … , x l + u {\displaystyle x_{l+1},\dots ,x_{l+u}} {\displaystyle x_{l+1},\dots ,x_{l+u}} yang diberikan saja. Sedangkan tujuan dari pemelajaran induktif adalah untuk menyimpulkan pemetaan yang benar dari X {\displaystyle X} {\displaystyle X} ke Y {\displaystyle Y} {\displaystyle Y}.

Tidak perlu (dan menurut Prinsip vapnik, tidak bijaksana) untuk melakukan pemelajaran transduktif dengan cara menyimpulkan aturan klasifikasi di seluruh ruang input. Namun, dalam praktiknya, algoritma yang secara formal dirancang untuk transduksi atau induksi sering digunakan secara bergantian.

Lihat juga

Referensi

  1. Semi-Supervised Learning Literature Survey, Page 5, 2007, CiteSeerX 10.1.1.99.9681{{citation}}: Kutipan menggunakan parameter usang |citeseerx=

Sumber

Pranala luar

Templat:Komputasi terdeferensialkan

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan