Selasa, 03 November 2026
07:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Pemberontakan Seroja Putih

Pemberontakan Seroja Putih

Bagikan:
Untuk Revolusi Lotus Putih abad ke-14, lihat Pemberontakan Serban Merah.
250px-Battle_portrait_of_the_White_Lotus_Church_Uprising.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambaran pertempuran dalam Pemberontakan Sekte Seroja Putih

Pemberontakan Seroja Putih atau Pemberontakan Lotus Putih (Hanzi:川楚白蓮教起义; Pinyin:Chuān chŭ bái lián jiào qǐ yì, 1796–1804) adalah sebuah pemberontakan yang diprakarsai oleh para pengikut gerakan Lotus Putih pada masa Dinasti Qing di Tiongkok. Pemberontakan dimulai pada tahun 1794, ketika kelompok besar para pemberontak mengklaim afiliasi-afiliasi Lotus Putih bangkit di wilayah pegunungan yang memisahkan Provinsi Sichuan dari Provinsi Hubei dan Shaanxi.[1] Pendahuluan yang lebih kecil menuju pemberontakan utama pecah pada tahun 1774, di bawah kepemimpinan ahli seni bela diri dan penyembuhan herbal Wang Lun di Provinsi Shandong di Tiongkok utara.

Meskipun pemberontakan akhirnya dihancurkan oleh pemerintah Qing pada tahun 1804, pemberontakan ini menandai titik balik dalam sejarah Dinasti Qing. Kekuasaan Qing melemah dan kemakmuran berkurang pada abad ke-19. Pemberontakan diperkirakan telah menewaskan sekitar 100.000 pemberontak.[2][3]

Para pemimpin pemberontak

Sejarah

Pemberontakan Wang Lun

Pada tahun 1774, salah satu cabang dari sekte White Lotus, yaitu Eight Trigrams, muncul dalam bentuk ajaran dan praktik meditasi rahasia di provinsi Shandong, tidak jauh dari Beijing (Zhili) dekat kota Linqing.[4] Pemimpinnya, Wang Lun, seorang herbalis dan ahli bela diri, memimpin pemberontakan yang berhasil merebut tiga kota kecil dan mengepung kota besar Linqing, yang merupakan lokasi strategis di rute transportasi Kanal Besar Utara-Selatan.

Wang Lun kemungkinan gagal karena ia tidak berusaha untuk mendapatkan dukungan publik yang luas. Ia tidak membagikan harta rampasan atau pasokan makanan, juga tidak menjanjikan pengurangan beban pajak. Karena tidak mampu membangun basis dukungan, ia terpaksa segera melarikan diri dari ketiga kota yang diserangnya untuk menghindari pasukan pemerintah. Meskipun ia melewati wilayah yang dihuni oleh hampir satu juta petani, pasukannya tidak pernah melebihi 4.000 tentara, banyak di antaranya dipaksa untuk bergabung.

Referensi

  1. ↑ Spence, Jonathan (2013). The Search for Modern China (Edisi Third). New York: W. W. Norton. hlm. 111–112.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ http://necrometrics.com/wars18c.htm
  3. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-04-12. Diakses tanggal 2018-04-25.
  4. ↑ Spence, Jonathan D. (1991). The Search for Modern China. W.W. Norton Company. ISBN 978-0-393-30780-1.
Sejarah
Awal
(1616–1683)
Kejayaan Qing
(1683–1839)
Akhir
(1840–1912)
Pangeran Qing

Pangeran Qing

Bendera Qing
Pemerintahan
Militer
Wilayah khusus
Istana &
mausoleum
Masyarakat &
budaya
Traktat
Mata uang
Uang logam
Uang kertas
Topik lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan