Sabtu, 24 Oktober 2026
02:18 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Insiden Jindandao

Bagikan:

Insiden Jindandao mengacu pada pemberontakan oleh sebuah organisasi rahasia Tiongkok bernama Jindandao (金丹道), yang bangkit dalam pemberontakan di Mongolia Dalam pada November 1891 dan membantai 150.000-500.000 orang Mongol sebelum ditumpas oleh pasukan pemerintah pada akhir Desember.[1][2][3] Pemberontakan ini menghancurkan komunitas Mongol di perbatasan tenggara dan memaksa banyak orang Mongol mengungsi di panji-panji utara.[4] Pembantaian ini kemudian dijuluki insiden oleh para pejabat Tiongkok.

Latar belakang

Daerah yang terlibat adalah Liga Josutu dan Juu Uda di Mongolia Dalam pada masa Dinasti Qing Manchu. Mereka menetap di ujung selatan negeri Mongol dan menghadapi banjir yang menghancurkan di kolonisasi Tiongkok. Meskipun migran awal jumlahnya tidak signifikan dan dengan cepat berasimilasi dengan masyarakat Mongol, para petani Tionghoa dari Hebei utara kemudian menetap secara massal dan mengalahkan jumlah penduduk asli Mongol. Pertanian skala besar membuat bangsa Mongol tidak dapat melanjutkan pastoralisme. Bangsa Mongol menjadi petani pertanian dan mengadopsi sistem kepemilikan tanah Tiongkok.[4]

Kehadiran banyak orang Tionghoa di Mongolia Dalam menghasilkan sistem administrasi yang kompleks. Orang Tionghoa berada di bawah yurisdiksi prefektur dan kabupaten Tiongkok, yang dibentuk sebagai daerah kantong di negeri Mongol. Panji-panji Mongol secara nominal mempertahankan kepemilikan tanah dan tanpa henti memperebutkan berbagai hak atas para pemukim Tionghoa. Ketika Dinasti Qing secara bertahap kehilangan kemampuan untuk menjaga ketertiban sosial, orang-orang Tionghoa mulai menantang pemerintahan orang Mongol minoritas. Para penyewa Tionghoa menunda atau bahkan menolak pembayaran pajak tanah, dan menghalangi survei tanah oleh pihak berwenang Mongol dengan kekerasan.[4] Konflik utama lain antara penduduk asli dan imigran meliputi akses terhadap sumber-sumber daya alam. Orang Mongol dengan tegas melarang orang Tionghoa menebang pepohonan di tanah orang Mongol terutama karena alasan agama. Para pelanggar dihukum berat oleh petugas panji, yang memicu permusuhan Tionghoa terhadap orang Mongol.[2]

Sedikit yang diketahui tentang Jindandao (secara harfiah berarti Jalan Eliksir Emas). Juga dikenal sebagai Serban Merah (Улаан малгайтан), Jindandao adalah sebuah perkumpulan rahasia dan dianggap sebagai cabang dari sekte Seroja Putih, yang sebelumnya bangkit dalam pemberontakan di berbagai waktu di Tiongkok. Sekte lain yang terlibat bernama Zaili, yang merupakan sebuah sekte keagamaan yang populer di Tiongkok Utara dan memiliki hubungan yang nyata dengan sekte Seroja Putih.[5]

Referensi

  1. ↑
  2. 1 2 Paul Hyer, The Chin-tan-tao Movement -- A Chinese Revolt in Mongolia (1891), Altaica, pp. 105--112, 1977.
  3. ↑ Inner Mongolian People's Party
  4. 1 2 3 Borjigin Burensain, The Complex Structure of Ethnic Conflict in the Frontier: Through the Debates around the ‘Jindandao Incident’ in 1891, Inner Asia, Vol. 6, No.1, pp. 41-60, 2004.
  5. ↑ Richard Shek, The Revolt of the Zaili, Jindan Sect in Rehe (Jehol), 1891, Modern China, Vol. 6, pp. 161-196, 1980. online edition
Sejarah
Awal
(1616–1683)
Kejayaan Qing
(1683–1839)
Akhir
(1840–1912)
Pangeran Qing

Pangeran Qing

Bendera Qing
Pemerintahan
Militer
Wilayah khusus
Istana &
mausoleum
Masyarakat &
budaya
Traktat
Mata uang
Uang logam
Uang kertas
Topik lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan