Netralitas artikel ini dipertanyakan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Jangan hapus pesan ini sampai kondisi untuk melakukannya terpenuhi. (Juli 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Artikel ini memiliki bagian pembuka yang terlalu panjang. Silakan membaca pedoman mengenai panjang bagian pembuka dan bantu merangkum bagian pembuka artikel ini. (Juli 2026) |
| Orientasi seksual |
|---|
|
Orientasi seksual |
|
Hewan non-manusia |
Orientasi seksual adalah pola ketertarikan romantis dan/atau ketertarikan seksual pribadi yang menerus kepada lawan jenis atau lawan gender, sesama jenis atau sesama gender, pada kedua jenis kelamin, maupun pada lebih dari satu gender.
Meski dalam definisi orientasi seksual yang menyebutkan sebagai "-dan/atau keterlibatan dengan ketertarikan romantis", definisi yang menggabungkan unsur romantis ini sering dinilai tumpang tindih dan membingungkan dengan terminologi orientasi romantis. Hubungan antara ketertarikan seksual dan ketertarikan romantis sendiri masih dalam perdebatan, dan belum sepenuhnya dipahami.[1][2]
Dalam pengkategorian seseorang sebagai orientasi seksual aseksual, tolok ukur penentu aseksualitas hanya memandang penilaian kekuatan ketertarikan seksual tanpa menggabungkan dengan penilaian ketertarikan romantis. Orientasi romantis sering dianggap sebagai ukuran ketertarikan yang lebih berguna untuk aseksual.[3][4] Romantis memiliki ukuran dimensinya sendiri yang mempunyai definisi berbeda atau berkonteks tunggal mengenai kasih sayang atau cinta tanpa melibatkan "ketertarikan seksual".
Pola-pola orientasi seksual tersebut umumnya dikategorikan sebagai heteroseksualitas, homoseksualitas, dan biseksualitas.[5][6][7] Sementara itu, aseksualitas terkadang diidentifikasikan sebagai kategori keempat.[8][9] Kategori tersebut merupakan aspek-aspek dari identitas seksual, klasifikasi, dan terminologi yang lebih bernuansa.[7]
Menurut Asosiasi Psikologis Amerika, orientasi seksual "juga merujuk pada rasa identitas diri seseorang yang didasarkan pada ketertarikan tersebut, perilaku-perilaku yang terkait dengannya, serta keanggotaan dalam suatu komunitas bersama dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa".[10][11] Androfilia dan ginefilia adalah istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku untuk menggambarkan orientasi seksual sebagai alternatif dari konseptualisasi gender biner. Androfilia menggambarkan ketertarikan seksual terhadap maskulinitas; sedangkan ginefilia mernggambarkan ketertarikan seksual terhadap femininitas.[12] Istilah "preferensi seksual" sebagian besar beririsan dengan orientasi seksual, akan tetapi kedua hal tersebut umumnya dapat dibedakan dalam penelitian psikologi.[13] Individu yang mengidentifikasi diri mereka sebagai biseksual bisa saja lebih memilih untuk berpasangan dengan salah satu jenis kelamin dibandingkan dengan jenis kelamin lain.
Preferensi seksual umumnya juga menunjukan pilihan secara sukarela pada derajat tertentu,[13][14][15] sedangkan orientasi seksual bukan merupakan pilihan.[16][17][18] Namun, ini membuat pertentangan serta tumpang tindih dengan teori fluiditas seksual (oleh Lisa M. Diamond), dimana bisa terjadinya satu atau lebih perubahan dalam seksualitas atau identitas seksual (kadang-kadang dikenal sebagai identitas orientasi seksual). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang mungkin mengalami perubahan dalam orientasi seksual mereka, dan ini lebih mungkin terjadi pada wanita daripada pria.[19] Ini berarti ketertarikan seksual seseorang tidak selalu tetap dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan internal seperti perkembangan emosional dan psikologis. Fluiditas seksual menekankan bahwa orientasi seksual tidak selalu bersifat tetap atau biner, tetapi dapat lebih dinamis dan fleksibel. Perkembangan psikologis atau mental juga memainkan peran penting dalam fluditas identitas orientasi seksual.[20]
Meski belum ada satu teori pun mengenai penyebab orientasi seksual yang mendapat dukungan luas, para ilmuwan lebih tertarik pada teori-teori biologis.[21][16][22] Terdapat lebih banyak bukti yang mendukung penyebab-penyebab biologis dan non-sosial dari orientasi seksual, dibandingkan dengan penyebab sosial, khususnya pada laki-laki.[21][23][24] Hipotesis utama yang banyak didukung ialah hipotesis yang melibatkan lingkungan pranatal, terkhususnya efek organisasional hormon-hormon pada otak janin.[21][22] Tidak ada bukti substantif yang menunjukan bahwa pola asuh ataupun pengalaman masa kecil berperan dalam perkembangan orientasi seksual.[21][25] Para ilmuwan percaya bahwa itu disebabkan oleh interaksi kompleks dari pengaruh genetik, hormonal.[16][26][27] Namun, bukti ilmiah terbaru menjawab hipotesis genetik sejak awal 1990. Pada penelitian dengan 500.000 individu atau 100 kali lebih besar dari penelitian genetik sebelumnya, faktor genetik dan kromosom sebagai penyebab tunggal terbantahkan.[28][29]
Penelitian beberapa dekade menunjukkan bahwa orientasi seksual seseorang dapat berada dalam suatu kontinum.[30] Ujung satu spektrumnya adalah ketertarikan eksklusif pada lawan jenis, serta ujung spektrum lain adalah ketertarikan eksklusif pada sesama jenis. Orientasi seksual suatu individu dapat berada di titik manapun dalam spektrum tersebut.[30][31] Namun, dalam perkembangan penelitian terbaru konsep kontinum ini lemah, terlalu sederhana, dan terbantahkan.[32][29]
Orientasi seksual dipelajari terutama dalam bidang biologi, anatomi pada perilakunya, antropologi, dan psikologi (termasuk seksologi). Orientasi seksual juga merupakan bidang subjek dalam sosiologi, sejarah (termasuk perspektif konstruktivisme sosial), dan hukum.[33]
Penelitian perilaku
Pada perilaku identitas seksual homoseksualitas, perkembangan penelitian menemukan hubungan psikopatologi dengan orientasi non-hetero atau atraktif eksklusif untuk jenis kelamin yang sama (berbenturan anatomis), menunjukan berisiko memiliki gangguan masalah kejiwaan pengendalian impuls saraf otak khususnya bagian seksual.[34] Penelitian lain menunjukkan bahwa orientasi non-hetero merupakan populasi yang berisiko tinggi untuk infeksi Hepatitis A.[35] Perilaku gangguan perilaku seksual kompulsif telah diidentifikasi sebagai korelasi risiko seksual di antara homoseksual dan biseksual ke HIV/AIDS.[36] Di Amerika, homoseksual atau non-hetero juga merupakan angka pengidap HIV/AIDS paling paling tinggi,[37][38] dengan jumlah lebih tinggi 2 sampai 3 kali lipat angka penularan heteroseksual[37][38] atau 70%.[39]
Diagnosis
Diagnosis dikenal sebagai homoseksual yang disalahartikan sebagai adanya respons fisiologis homoseksualitas, bernama HOCD.[40] Orang yang diketahui tidak ingin menjadi homoseksual atau menyadari sesuatu hal buruk tentang homoseksualnya,[41] hingga rasa bersalah.[42][43] Ada beberapa data yang menjelaskan "tidak sesuai dengan yang diinginkan individu tersebut",[44] serta data lain juga mengatakan yang sudah menjadi homoseksual merasa "tidak nyaman".[45]
Awal istilah
Istilah orientasi seksual di perkenalan oleh John Money, salah satu ilmuwan pertama yang mempelajari pengalaman psikologis dari kebingungan seksual. Dikenal juga sebagai pedofilia dan Pro-pedofilia sebagai orientasi seksual, dan eksperimen sunat penuh anak terhadap pengembangan gender yang kemudian bunuh diri pada umur 38 tahun akibat trauma perlakuannya.[46]
Lihat pula
- Biologi dan orientasi seksual
- Sejarah diagnosis orientasi homoseksual
- Orientasi seksual ego-distonik
- Kontinum heteroseksual-homoseksual
- Skala Kinsey
- Aromantisisme
- Aseksualitas
- Biseksualitas
- Fluiditas seksual
- Gender biner
- Heteroseksualitas
- Homofobia
- Homoseksualitas
Referensi
- ↑ L. M, Diamond (2003). "What does sexual orientation orient? A biobehavioral model distinguishing romantic love and sexual desire". Psychological Review. 110 (1): 173–192. doi:10.1037/0033-295X.110.1.173. ISSN 1939-1471. PMID 12529061.
- ↑ Houdenhove, Ellen Van; Gijs, Luk; T'Sjoen, Guy; Enzlin, Paul (April 21, 2014). "Asexuality: A Multidimensional Approach". The Journal of Sex Research. 52 (6): 669–678. doi:10.1080/00224499.2014.898015. ISSN 0022-4499. PMID 24750031. S2CID 35875780.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Richards, Christina; Barker, Meg (2013). Sexuality and Gender for Mental Health Professionals: A Practical Guide. SAGE. hlm. 124–127. ISBN 1-4462-9313-0. Diakses tanggal Juli 3, 2014.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cerankowski, Karli June; Milks, Megan (2014). Asexualities: Feminist and Queer Perspectives. Routledge. hlm. 89–93. ISBN 1-134-69253-6. Diakses tanggal Juli 3, 2014.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Sexual Orientation & Homosexuality". American Psychological Association. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-02-16. Diakses tanggal Februari 6, 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Sexual Orientation". American Psychiatric Association. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-22. Diakses tanggal Januari 1, 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Definitions Related to Sexual Orientation and Gender Diversity in APA Documents" (PDF). American Psychological Association. 2015. hlm. 6. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-01-22. Diakses tanggal Februari 6, 2020. Sexual orientation refers to the sex of those to whom one is sexually and romantically attracted. [...] [It is] one's enduring sexual attraction to male partners, female partners, or both. Sexual orientation may be heterosexual, same-sex (gay or lesbian), or bisexual. [...] A person may be attracted to men, women, both, neither, or to people who are genderqueer, androgynous, or have other gender identities. Individuals may identify as lesbian, gay, heterosexual, bisexual, queer, pansexual, or asexual, among others. [...] Categories of sexual orientation typically have included attraction to members of one's own sex (gay men or lesbians), attraction to members of the other sex (heterosexuals), and attraction to members of both sexes (bisexuals). While these categories continue to be widely used, research has suggested that sexual orientation does not always appear in such definable categories and instead occurs on a continuum [...]. Some people identify as pansexual or queer in terms of their sexual orientation, which means they define their sexual orientation outside of the gender binary of 'male' and 'female' only.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Marshall Cavendish Corporation, ed. (2009). "Asexuality". Sex and Society. Vol. 2. Marshall Cavendish. hlm. 82–83. ISBN 978-0-7614-7905-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-10-16. Diakses tanggal Februari 2, 2013.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bogaert, AF (April 2015). "Asexuality: What It Is and Why It Matters". The Journal of Sex Research. 52 (4): 362–379. doi:10.1080/00224499.2015.1015713. PMID 25897566. S2CID 23720993.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Sexual Orientation & Homosexuality". American Psychological Association. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-02-16. Diakses tanggal Februari 6, 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Case No. S147999 in the Supreme Court of the State of California, In re Marriage Cases Judicial Council Coordination Proceeding No. 4365(...) – APA California Amicus Brief — As Filed" (PDF). p. 33 n. 60 (p. 55 per Adobe Acrobat Reader);citation per id., Brief, p. 6 n. 4 (p. 28 per Adobe Acrobat Reader). hlm. 30. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-01-18. Diakses tanggal Maret 13, 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Schmidt J (2010). Migrating Genders: Westernisation, Migration, and Samoan Fa'afafine, p. 45 Ashgate Publishing, Ltd., ISBN978-1-4094-0273-2
- 1 2 "Avoiding Heterosexual Bias in Language" (PDF). American Psychological Association. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-08-13. Diakses tanggal Juli 19, 2011.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Friedman, Lawrence Meir (1990). The republic of choice: law, authority, and culture. Harvard University Press. hlm. 92. ISBN 978-0-674-76260-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-02-17. Diakses tanggal 8 Januari 2012.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Heuer, Gottfried (2011). Sexual revolutions: psychoanalysis, history and the father. Taylor & Francis. hlm. 49. ISBN 978-0-415-57043-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-02-17. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Frankowski BL; American Academy of Pediatrics Committee on Adolescence (Juni 2004). "Sexual orientation and adolescents". Pediatrics. 113 (6): 1827–32. doi:10.1542/peds.113.6.1827. PMID 15173519. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-03-20.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gloria Kersey-Matusiak (2012). Delivering Culturally Competent Nursing Care. Springer Publishing Company. hlm. 169. ISBN 978-0-8261-9381-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-11-30. Diakses tanggal Februari 10, 2016. Most health and mental health organizations do not view sexual orientation as a 'choice.'
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lamanna, Mary Ann; Riedmann, Agnes; Stewart, Susan D (2014). Marriages, Families, and Relationships: Making Choices in a Diverse Society. Cengage Learning. hlm. 82. ISBN 978-1-305-17689-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-11-30. Diakses tanggal Februari 11, 2016. The reason some individuals develop a gay sexual identity has not been definitively established – nor do we yet understand the development of heterosexuality. The American Psychological Association (APA) takes the position that a variety of factors impact a person's sexuality. The most recent literature from the APA says that sexual orientation is not a choice that can be changed at will, and that sexual orientation is most likely the result of a complex interaction of environmental, cognitive and biological factors...is shaped at an early age...[and evidence suggests] biological, including genetic or inborn hormonal factors, play a significant role in a person's sexuality (American Psychological Association 2010).
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑
- Bailey, J. Michael; Vasey, Paul; Diamond, Lisa; Breedlove, S. Marc; Vilain, Eric; Epprecht, Marc (2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (2): 45–101. doi:10.1177/1529100616637616. PMID 27113562. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-02. Diakses tanggal 2022-07-19. Sexual fluidity is situation-dependent flexibility in a person's sexual responsiveness, which makes it possible for some individuals to experience desires for either men or women under certain circumstances regardless of their overall sexual orientation.... We expect that in all cultures the vast majority of individuals are sexually predisposed exclusively to the other sex (i.e., heterosexual) and that only a minority of individuals are sexually predisposed (whether exclusively or non-exclusively) to the same sex.
- Seth J. Schwartz; Koen Luyckx; Vivian L. Vignoles (2011). Handbook of Identity Theory and Research. Springer Science & Business Media. hlm. 652. ISBN 978-1441979889. Diakses tanggal Februari 18, 2016. Modern scholarship examining the stability of sexual orientation also seems to support our conceptualizations of sexual orientation, sexual orientation identity, and sexual identity (e.g., Diamond, 2003a; Horowitz & Necomb, 2001; Rosario, Schrimshaw, Hunter, & Braun, 2006, see Savin-Williams, Chapter 28, this volume). Specifically, some dimensions of sexual identity, such as relationships, emotions, behaviors, values, group affiliation, and norms, appear to be relatively fluid; by contrast, sexual orientation [i.e., an individual's patterns of sexual, romantic, and affectional arousal and desire for other persons based on those persons' gender and sex characteristics (APA Task Force on Appropriate Therapeutic Responses to Sexual orientation, 2009)] has been suggested to be stable for a majority of people across the lifespan (Bell, Weinberg, & Hammersmith, 1981; Ellis & Ames, 1987; Haldeman, 1991; Money, 1987).
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dennis Coon; John O. Mitterer (2012). Introduction to Psychology: Gateways to Mind and Behavior with Concept Maps and Reviews. Cengage Learning. hlm. 372. ISBN 978-1111833633. Diakses tanggal Februari 18, 2016. Sexual orientation is a deep part of personal identity and is usually quite stable. Starting with their earliest erotic feelings, most people remember being attracted to either the opposite sex or the same sex. [...] The fact that sexual orientation is usually quite stable doesn't rule out the possibility that for some people sexual behavior may change during the course of a lifetime.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - American Psychological Association (2012). "Guidelines for Psychological Practice With Lesbian, Gay, and Bisexual Clients" (PDF). American Psychologist. 67 (1): 10–42. doi:10.1037/a0024659. PMID 21875169. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2019-06-16. Diakses tanggal Juni 23, 2019. [S]ome research indicates that sexual orientation is fluid for some people; this may be especially true for women (e.g., Diamond, 2007; Golden, 1987; Peplau & Garnets, 2000). [...] Therapeutic efforts to change sexual orientation have increased and become more visible in recent years (Beckstead & Morrow, 2004). Therapeutic interventions intended to change, modify, or manage unwanted nonheterosexual orientations are referred to as "sexual orientation change efforts" (SOCE; APA, 2009b). [...] Reviews of the literature, spanning several decades, have consistently found that efforts to change sexual orientation were ineffective (APA, 2009b; Drescher, 2001; Haldeman, 1994; T. F. Murphy, 1992).
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Eric Anderson; Mark McCormack (2016). "Measuring and Surveying Bisexuality". The Changing Dynamics of Bisexual Men's Lives. Springer Science & Business Media. hlm. 47. ISBN 978-3-319-29412-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal Juni 22, 2019. [R]esearch suggests that women's sexual orientation is slightly more likely to change than men's (Baumeister 2000; Kinnish et al. 2005). The notion that sexual orientation can change over time is known as sexual fluidity. Even if sexual fluidity exists for some women, it does not mean that the majority of women will change sexual orientations as they age – rather, sexuality is stable over time for the majority of people.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- ↑ Savin-Williams, R.C.; Joyner, K.; Rieger, G. (2012). "Prevalence and stability of self-reported sexual orientation identity during young adulthood". Archives of Sexual Behavior. 41 (1): 1–8. doi:10.1007/s10508-012-9913-y. PMID 22302504. S2CID 43225099.
- 1 2 3 4 Bailey JM, Vasey PL, Diamond LM, Breedlove SM, Vilain E, Epprecht M (2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (21): 45–101. doi:10.1177/1529100616637616. PMID 27113562.
- 1 2 Bogaert, Anthony F.; Skorska, Malvina N. (2020-03-01). "A short review of biological research on the development of sexual orientation". Hormones and Behavior. 119: 104659. doi:10.1016/j.yhbeh.2019.104659. ISSN 0018-506X. PMID 31911036.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link) - ↑ LeVay, Simon (2017). Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation. Oxford University Press. ISBN 9780199752966. OL 26246092M – via Open Library.
- ↑ Balthazart, Jacques (2012). The Biology of Homosexuality. Oxford University Press. ISBN 9780199838820. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-01-26. Diakses tanggal 27 Juli 2019.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Submission to the Church of England's Listening Exercise on Human Sexuality". The Royal College of Psychiatrists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-10-16. Diakses tanggal 13 Juni 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mary Ann Lamanna; Agnes Riedmann; Susan D Stewart (2014). Marriages, Families, and Relationships: Making Choices in a Diverse Society. Cengage Learning. hlm. 82. ISBN 978-1305176898. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-03. Diakses tanggal Februari 11, 2016. The reason some individuals develop a gay sexual identity has not been definitively established – nor do we yet understand the development of heterosexuality. The American Psychological Association (APA) takes the position that a variety of factors impact a person's sexuality. The most recent literature from the APA says that sexual orientation is not a choice that can be changed at will, and that sexual orientation is most likely the result of a complex interaction of environmental, cognitive and biological factors...is shaped at an early age...[and evidence suggests] biological, including genetic or inborn hormonal factors, play a significant role in a person's sexuality (American Psychological Association 2010).
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gail Wiscarz Stuart (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Elsevier Health Sciences. hlm. 502. ISBN 978-0323294126. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-03. Diakses tanggal Februari 11, 2016. No conclusive evidence supports any one specific cause of homosexuality; however, most researchers agree that biological and social factors influence the development of sexual orientation.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ganna, Andrea; Verweij, Karin J. H.; Nivard, Michel G.; Maier, Robert; Wedow, Robbee; Busch, Alexander S.; Abdellaoui, Abdel; Guo, Shengru; Sathirapongsasuti, J. Fah (2019-08-30). "Large-scale GWAS reveals insights into the genetic architecture of same-sex sexual behavior". Science (dalam bahasa Inggris). 365 (6456): eaat7693. doi:10.1126/science.aat7693. ISSN 0036-8075. PMC 7082777. PMID 31467194.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Format PMC (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link) - 1 2 "There is no 'gay gene.' There is no 'straight gene.' Sexuality is just complex, study confirms". PBS NewsHour (dalam bahasa American English). 2019-08-29. Diakses tanggal 2022-09-02.
- 1 2 "Sexual Orientation & Homosexuality". American Psychological Association. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-02-16. Diakses tanggal Februari 6, 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Sexual orientation, homosexuality and bisexuality". American Psychological Association. 2008 [2008]. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-08. Diakses tanggal Agustus 10, 2013.
{{cite web}}: Parameter tidak dikenal|lastupdateinformation=diabaikanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑
- Ganna A, Verweij KJ, Nivard MG, Maier R, Wedow R, Busch AS, et al. (Agustus 2019). "Large-scale GWAS reveals insights into the genetic architecture of same-sex sexual behavior". Science. 365 (6456): eaat7693. doi:10.1126/science.aat7693. PMC 7082777. PMID 31467194.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link) - "Genetics of Sexual Behavior". Genetics of Sexual Behavior. geneticsexbehavior.info. 28 Februari 2018. Diakses tanggal 30 Agustus 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ganna A, Verweij KJ, Nivard MG, Maier R, Wedow R, Busch AS, et al. (Agustus 2019). "Large-scale GWAS reveals insights into the genetic architecture of same-sex sexual behavior". Science. 365 (6456): eaat7693. doi:10.1126/science.aat7693. PMC 7082777. PMID 31467194.
- ↑ Cruz, David B. (1999). "Controlling Desires: Sexual Orientation Conversion and the Limits of Knowledge and Law" (PDF). Southern California Law Review. 72 (5): 1297–400. PMID 12731502. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-09-19. Diakses tanggal 2015-05-21.
- ↑ Bőthe, Beáta; Bartók, Réka; Tóth-Király, István; C. Reid, Rory; D. Griffiths, Mark (2018). "Hypersexuality, Gender, and Sexual Orientation: A Large-Scale Psychometric Survey Study". Archives of Sexual Behavior. 47 (8): 2265–2276. doi:10.1007/s10508-018-1201-z.
- ↑ Àngel, Gasch-Gallén; Ibáñez-Tomás, Eduardo (2021). "sexual practices and the risk of Hepatitis A in men who have sex with men in Spain. Journal of Nursing Management". Journal of Nursing Management. 29 (1): 32–42. doi:10.1111/jonm.13179.
- ↑ Yeagley, Emily; Hickok, Andrew; A Bauermeister, José (2014). "Hypersexual behavior and HIV sex risk among young gay and bisexual men". Journal of Sex Research. 51 (8): 882–92. doi:10.1080/00224499.2013.818615.
- 1 2 "HIV in the United States and Dependent Areas | Statistics Overview | Statistics Center | HIV/AIDS | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 2022-03-31. Diakses tanggal 2022-08-30.
- 1 2 "Basic Statistics | HIV Basics | HIV/AIDS | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 2022-06-21. Diakses tanggal 2022-08-30.
- ↑ June 02, Content Source: HIV govDate last updated:; 2021 (2021-06-02). "U.S. Statistics". HIV.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-30.
{{cite web}}:|first=memiliki nama generik;|last2=memiliki nama numerikPemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link) - ↑ "Homosexual OCD Symptoms and HOCD Treatment Options". Center for Treatment of Anxiety & Mood Disorders (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Bhatia, Manjeet S.; Kaur, Jaswinder (2015-1). "Homosexual Obsessive Compulsive Disorder (HOCD): A Rare Case Report". Journal of Clinical and Diagnostic Research : JCDR. 9 (1): VD01–VD02. doi:10.7860/JCDR/2015/10773.5377. ISSN 2249-782X. PMC 4347158. PMID 25738067.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date= - ↑ Coimbra-Gomes, Elvis; Motschenbacher, Heiko (2019). "Language, normativity, and sexual orientation obsessive-compulsive disorder (SO-OCD): A corpus-assisted discourse analysis". Language in Society. 48 (4): 565. ISSN 0047-4045.
- ↑ "HOCD: What It Is, Signs, & Treatments". Choosing Therapy (dalam bahasa American English).
- ↑ "Sexual Orientation OCD (HOCD) • Treatment • CalOCD" (dalam bahasa American English). 2019-05-28.
- ↑ Igartua, Karine J. (Musim gugur 2015). "[Distinguishing normal identity formation process for sexual minorities from obsessive compulsive disorder with sexual orientation obsessions]". Sante Mentale Au Quebec. 40 (3): 129–144. ISSN 0383-6320. PMID 26966852.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Slatz, Anna (2022-01-24). "John Money: The Pro-Pedophile Pervert Who Invented "Gender"". Reduxx (dalam bahasa Inggris (Britania)).
| |||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
