Minggu, 20 September 2026
12:11 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Ong Hok Ham

sejarawan dan akademisi Indonesia

Ong Hok Ham
Lahir(1933-05-01)1 Mei 1933
Meninggal31 Agustus 2007(2007-08-31) (umur 74)
Nama lainOnghokham
AlmamaterUniversitas Indonesia  · Universitas Yale
Dikenal karenaSejarawan
Karier ilmiah
BidangSejarah
Tempat kerjaUniversitas Indonesia
Disertasi The Residency of Madiun ; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century  (1975)
Ini adalah nama Tionghoa; marganya adalah Ong.
Ong Hok Ham
Hanzi: 王福涵
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Wáng Fúhán
- Wade-Giles: Wang Fu-han

Ong Hok Ham (1 Mei 1933 – 30 Agustus 2007)[1][2][3] biasa dipanggil Hans di rumah dan sekolah[4] adalah seorang sejarawan berlatar belakang Tionghoa-Indonesia yang dianggap sebagai salah satu sejarawan terkemuka di bidang sejarah Indonesia pada masa pendudukan Belanda. Ia terutama fokus pada peristiwa yang terjadi di Jawa selama periode tersebut, dan ia pun menulis sejumlah karya mengenai hal tersebut.

Biografi

Berasal dari Surabaya, Jawa Timur yang hingga Indonesia merdeka pada tahun 1945 masih merupakan bagian dari Hindia Belanda, Ong Hok Ham tinggal di kota tersebut hingga berusia 25 tahun. Keluarga Ong berasal dari kelas menengah atas, tetapi melalui nenek dari ibunya, Han Loen Nio, Ong juga merupakan keturunan dari keluarga Han dari Lasem, bagian dari Cabang Atas di Hindia Belanda.[5][6] Sehingga Ong juga merupakan keturunan dari Han Bwee Kong, Kapitan Cina (1727 – 1778), dan Han Siong Kong (1673 – 1743).[5][6] Seperti keluarga Tionghoa Peranakan yang lain, Ong tumbuh di tengah budaya Tionghoa, Jawa, dan Belanda.[5]

Ibu Ong bernama Lies (Tan Siang Tjia), kependekan dari "Elisabeth" dan ayah Ong bernama Klass (Ong Thwan Hian). Ong memiliki kakak laki-laki dan kakak perempuan bernama Liem Hok Gwan (Freddy) dan Liem Sian Lien (Olga) hasil pernikahan Lies dengan Liem Yoe Tik (Setjadiningrat). Lies dan Klass memiliki anak Ong dan adiknya yang bernama Ong Hok Hay (dipanggil Hokkie) lahir pada 1936.[4]

Pada tahun 1939-1942 Ong belajar di Sekolah Belanda. Sekolahnya terputus karena pendudukan Jepang. Saat Surabaya dibom oleh Jepang pada 9 Februari 1942, keluarga Ong mengungsi ke Malang, di rumah Koppo yang berlokasi dekat pusat kota di Jalan Celaket (sekarang bernama Jalan Urip Sumoharjo).

Pada tahun 1958, Ong pindah ke Bandung, Jawa Barat, di mana ia kemudian bersekolah dan mulai bekerja sebagai penulis. Pada tahun 1968, ia menyelesaikan skripsi bertopik Hindia Belanda periode 1939-1942. Pada tahun 1975, ia mendapat gelar Ph.D di bidang Sejarah dari Universitas Yale dengan disertasi berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century.

Ia juga menjadi kontributor rutin untuk majalah Tempo. Koleksi tulisannya untuk majalah tersebut mulai tahun 1976 hingga 2001 kemudian diterbitkan dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang pada tahun 2002.[7]

Ia pun menulis serangkaian buku lain, terutama koleksi esai dan artikel, termasuk Runtuhnya Hindia Belanda, Negara dan Rakyat, dan Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong—Refleksi Historis Nusantara.

Koleksi berbahasa Inggris dari tulisannya, The Thugs, the Curtain Thief, and the Sugar Lord,[8] juga diterbitkan pada tahun 2003. Buku tersebut menceritakan kekuasaan, politik, dan budaya di Jawa selama masa pendudukan Belanda di Indonesia.

Pada tahun 1989, ia pensiun dari pekerjaannya sebagai profesor sejarah di Universitas Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Lembaga Studi Sejarah Indonesia di universitas tersebut.

Ong Hok Ham, seorang Buddha, divonis menderita stroke pada tahun 2001, dan akhirnya meninggal enam tahun kemudian di Rumah Sakit Kanker Dharmais pada usia 74 tahun.

Catatan

  1. Reeve, David (2007). "Ong Hok Ham, 1933–2007". Inside Indonesia. 90. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Juli 2008. Diakses tanggal 2 Februari 2010.
  2. "Onghokham dies at 74". The Jakarta Post. 31 Agustus 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Oktober 2007. Diakses tanggal 2 Februari 2010.
  3. Alhaziri, Wasmi (15 September 2007). "Ong Hok Ham, 1933–2007". Radio Netherlands Worldwide. Diakses tanggal 2 Februari 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)[pranala nonaktif permanen]
  4. 1 2 Reeve, David (2024). Tetap Jadi Onghokham: Sejarah Seorang Sejarawan, Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). ISBN 978-623-134-246-1. Retrieved 31 Desember 2024
  5. 1 2 3 Walker, John H.; Banks, Glenn; Sakai, Minako (2009). The Politics of the Periphery in Indonesia: Social and Geographical Perspectives. Singapore: NUS Press. hlm. 257–258. ISBN 978-9971694791. Diakses tanggal 11 Maret 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 Salmon, Claudine (1991). "The Han Family of East Java. Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries)". Archipel. 41 (1): 53–87. doi:10.3406/arch.1991.2711. Diakses tanggal 11 Maret 2016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Sakti, Rangga Eka (2020-05-30). ""Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang": Resep Sejarah ala Ong Hok Ham". kompas.id. Diakses tanggal 2025-04-30.
  8. Onghokham (2003). The thugs, the curtain thief, and the sugar lord: power, politics, and culture in colonial Java. Jakarta: Metafor Publishing. ISBN 978-979-3019-11-6.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan