Senin, 26 Oktober 2026
09:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Han Siong Kong

pendiri Keluarga Han dari Lasem

Bagikan:
Ini adalah nama Tionghoa; marganya adalah Han (marga).
Han Siong Kong
Lahir1673 (1673)
Meninggal1743 (umur 69–70)
Rajegwesi (sekarang Bojonegoro), Jawa, Indonesia
Masa aktifAwal abad ke-18
Dikenal karenaPendiri marga Han dari Lasem
AnakNgabehi Soero Pernollo

Han Bwee Kong, Kapitan Cina
Han Tjoe Kong
Han Kien Kong

Han Hing Kong
KeluargaAdipati Soero Adinegoro (cucu)

Raden Soero Adiwikromo (cucu)
Han Chan Piet, Mayor Cina (cucu)

Han Kik Ko, Mayor Cina (cucu)

Han Siong Kong (Hanzi sederhana:韩松公; Hanzi tradisional:韓松公; Pinyin:Hánsōnggōng, nama setelah meninggal: Chundu)[1] (1673-1743) dikenal sebagai leluhur Keluarga Han dari Lasem, salah-satu dinasti Cabang Atas tertua di Indonesia, yang berperan penting sebagai birokrat pemerintahan dan tuan tanah di Hindia Belanda dalam sejarah Indonesia.[1][2][3]

Sejarah

Ia dilahirkan di Tianbao, Zhangzhou, Provinsi Fujian, Dinasti Qing. Han berasal dari nenek moyang keturunan Sarjana-bangsawan. Leluhurnya yang pertama diketahui adalah Han Zhaode, seorang jenderal dalam ketentaraan panglima perang Tan Goan-kong (meninggal 711), yang membuka Provinsi Fujian pada periode Dinasti Tang (618-907). Keluarga Han Siong Kong berasal dari cabang silsilah keturunan Han Hong, yang mendapat gelar Lulusan Metropolitan (Huìshì) dalam ujian Kekaisaran tahun 1121, kemudian diangkat sebagai Sekretaris di Kementerian Pendapatan Dalam Negeri selama Dinasti Song (960-1279). Selama Era Jiajing (1522-1566), atas prakarsa dari Han Shifeng dari Tianbao, cukup banyak anggota keluarga Han bergabung bersama berdoa di makam Han Hong dan menyusun silsilah yang dibentuk kembali pada tahun 1647 dan kemudian dilanjutkan di Indonesia.[1]

Sekitar tahun 1700an, Han Siong Kong meninggalkan negeri asalnya dan menetap di Lasem, sebuah pelabuhan di pantai utara pulau Jawa. Istri Han Siong Kong yang tidak disebutkan namanya diduga adalah wanita asal Lasem, bukan keturunan Cina.[4] Han memiliki lima putra dan empat putri. Dua putranya, Ngabehi Soero Pernollo dan Han Bwee Kong, Kapitein der Chinezen, memiliki peranan penting dalam membangun dan memperkuat kekuasaan kolonial Belanda di Jawa Timur.

Menurut Genealogi Surabaya, putra sulungnya, Han Tjien Kong, yang ganti nama menjadi Soero Pernollo adalah seorang mualaf, sementara yang lain, Tjoe Kong, Kien Kong, Hing Kong dan Bwee Kong, mempertahankan agama leluhur mereka. Mereka yang muslim menunjukkan kecenderungan untuk menikahi gadis-gadis Jawa, sementara yang lain mengambil istri dari Peranakan. Terlepas dari pilihan agama mereka yang berbeda, kelima saudara itu memelihara hubungan dekat satu sama lain. Namun pemecahan terlihat jelas dalam silsilah keluarga mereka. Keluarga muslim, yang cepat bergabung dengan elit lokal, menyusun silsilah mereka sendiri seperti yang dilakukan para Priyayi, sementara yang Peranakan masih menggunakan nama-nama Cina, yang terdaftar dalam silsilah yang terpisah.[1]

Kematian

Han Siong Kong meninggal pada tahun 1743 di Rajegwesi (sekarang Bojonegoro) dan dimakamkan di Binangun, dekat Lasem. Legenda setempat mengatakan bahwa selama upacara pemakaman Han, terjadi badai petir. Akhirnya, anak-anak Han menggeletakkan saja peti mati ayah mereka dalam hutan karena mencari perlindungan dari badai. Kemudian peti mati itu dikuburkan oleh kekuatan misterius. Roh Han Siong Kong yang marah membalas dendam dengan mengutuk anak-anaknya dan keturunan mereka yang berani menetap di Lasem,[1] bagi laki-laki akan bangkrut bila berbisnis, yang perempuan tak akan punya keturunan.[4] Akibatnya tidak ada keturunannya yang berani melintasi Lasem.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 Lombard, Salmon Claudine (1991). "The Han Family of East Java. Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries)". Archipel (dalam bahasa Inggris). 41: 53–87. doi:10.3406/arch.1991.2711.
  2. ↑ Setyautama, Sam (2008). Tokoh-tokoh etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 78–79. ISBN 9789799101259. Diakses tanggal 16 Januari 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Dobbin, Christine (2013). Asian Entrepreneurial Minorities: Conjoint Communities in the Making of the World Economy, 1570-1940 (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9781136786938.
  4. 1 2 "Kutukan Abadi Han Wee Sing Untuk Keturunannya". Okezone.com. 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-05-01.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan